Anda di halaman 1dari 5

BAB XII FENOMENA KEADILAN DALAM PENGENAAN SANKSI PERPAJAKAN

1. Pendahuluan

Pengenaan bunga 2% per bukan tanpa batas waktu dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-
Undang KUP dianggap bertentangan dengan ada kepastian hokum mengenai tenggang
waktu pengenaan bunga penagihan dan pelaksanaan UU tersebut dianggap bertentangan
dengan asas keadilan, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 27, 28D dan 28I UUD 1945.
Langkah reformasi perpajakan yang dilakukan pemerintah yang meliputi pembaruan
kebijakan dana administrasi perpajakan berhasil mendorong peningkatan penerimaan pajak
secara signifikan. Tetapi masih banyak kendala yang dihadapi, yaitu dalam bidang
administrasi pemungutan pajak, pemeriksaan pajak, keberatan pajak, keadilan pajak,
sertakepatuhanwajibpajak. Pembaruankebijakanperpajakandilaksanakanantara lain melalui
amandemen UU PPh, UU PPN &PPnBM, UU KUP, dan UU Pajak lainnya. Karena
menjadi salah satu sumber penting pembiayaan negara, maka peran penerimaan pajak
masih perlu ditingkatkan. Pelaksanaan system perpajakan harus lebih efektif dan efisien,
dan memiliki daya saing yang tinggi. Gagalnya upaya meningkatkan kepatuhan (tax
compliance) wajib pajak dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap aparatur pajak
disebabkan oleh kegagalan dalam menciptakan iklim perpajakan yang kondusif dan
kompetitif.

2. MuatanKeadilan di BidangPerpajakan

Pajak merupakan salah satu sumber utama penerimaan negara. Pemungutan pajak
ditetapkan dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Hal ini sejalan dengan Pasal 23A UUD 1945.
Dalam pelaksanaannya hal ini tidak bisa dilakukan secara semena-mena, karena harus tetap
mematuhi ketentuan lain dalam Pasal 28D UUD 1945. Sejalan dengan itu, maka dibuatlah
UU No.28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas UU No.06 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Arah dan tujuan perubahan undang-
undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) ini mengacu pada
kebijakan pokoks ebagai berikut:
a) Meningkatkan efisiensi pemungutan pajak dalam rangka mendukung penerimaan
Negara.
b) Meningkatkan pelayanan, kepastian hokum dan keadilan bagi masyarakat guna
meningkatkan daya saing dalam bidang penanaman modal, dengan tetap mendukung
pengembangan usaha kecil dan menengah.
c) Menyesuaikan diri terhadap tuntutan perkembangan social ekonomi masyarakat serta
perkembangan di bidangt eknologi informasi.
d) Meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
e) Menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan.
f) Meningkatkan penerapan prinsip self assessment secara akuntabel dan konsisten.
g) Mendukung iklim usaha kearah yang lebih kondusif dan kompetitif.

Dilaksanakannya kebijakan pokok tersebutdiharapkan dapat meningkatkan penerimaan


Negara dalam jangka menengah dan panjang. Dalam bukunya yang berjudul An Inquiry
Into The Nature And Causes of The Wealth of Nations, Adam Smith mengemukakan salah
satu dari empat prinsip yang disebut dengan Four Maxims/Four Canons dengan
menempatkan azasequility/equity di urutan teratas kemudian diikuti azascertainty,
convenience, dan efficiency.
Menurutnya pajak itu harus adil dan merata, dikenakan kepada orang-orang pribadi atau
subjek pajak, sebanding dengan kemampuannya untuk membayar (ability to pay) pajak
tersebut dan seimbang dengan manfaat atau penghasilan yang diterima dan yang
dinikmatinya dibawah perlindungan pemerintah.
Terdapat 5 prinsip dibidang perpajakan yang tertuang dalamGaris-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN), yaitu:
1. Transparan.
2. Disiplin.
3. Adil (equity).
4. Efisien.
5. Efektif.

3. Pokok Masalah dalam Pengenaan Sanksi Perpajakan

Dengan semakin bertambahnya leaning curve dari fungsionaris perpajakan, baik dari pihak
legislative maupun eksekutif dalam memasyarakatkan pembayaran undang-undang perpajakan
hasil reformasi perpajakan sejak tahun 1983. Negara tidak ada bila tidak ada masyarakat, dan
pundi-pundi Negara juga tidak akan terisi bila tidak ada yang bayar pajak.
Mari kita tinju lebih dalam dalil-dalil yang terdapat dalam UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang
perubahan ketiga atas UU No 06 tahun 1983 tentang KUP Pasal 25 ayat (9) danpasal 27 ayat (5d)
yang menyatakan:

1. Pasal 25 ayat (9) “Dalam hal keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagaian
wajib pajak dikenai sanski administrasi berupa denda 50% dari jumlah pajak
berdasarkan keputusan keberatan, dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum
mengajukan keberatan”
 Komentar : ketentuandari pasal diatas sangat merugikan hak konstitusional wajib
pajak, karena adanya sanksi yang sangat memberikan yang dijatuhkan terlebih
dahulu secara imperative, tanpa melalui proses hokum dalam proses mencari
keadilan hukum
2. Pasal 27 ayat (5d) “Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian
wajib pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% dari jumlah pajak
berdasarkan putusan banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar
sebelum mengajukan keberatan”
 Komentar :pasal ini biasa membangkrutkan atau mematisurikan wajib pajak
pemohon ibarat sudah jatuh ketimpa tangga. Denda sebesar 100% dihitung dari
pokok pajak plus bunga yang sudah ditetapkan dalam surat keputusan keberatan
pajak sehingga pengenaan denda bunga jadi berlipat-lipat
3. Pasal 13 ayat (2) jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak
kurang bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e ditambah dengan
sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% perbulan, paling lama 24 bulan dihitung
sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun
pajak sampai dengan diterbitkannya surat ketetapan pajak kurang bayar
 Komentar : implementasi pasal 25 ayat (9) UU No 28 tahun 2007 tentang
perubahan ketiga atas UU no ^ tahun 1983 tentang KUP mengandung pengenaan
denda bunga berlipat-lipat yang disebabkan pengenaan sanski atas sanksi ex
pasal 13 ayar (2) UU KUP
4. Pengejewan tahan butir 1 dan 2 UU di atas dianggap bertentangan dengan pasal 27, 28
d, dan 28 I UUD 1945 asas keadilan pajak serta keadilan social dari sila kelima
pancasila
4. Aspek Juridis dalam Pengenaan Sanksi Perpajakan
jenis-jenis sanksi perpajakan dan perihal pengenaannya.
1. Sanksi Administrasi
a. Sanksi Adrninistrasi Berupa Denda
Sanksi denda adalah jenis sanksi yang paling banyak ditemukan dalam UU perpajakan. Terkait
besarannya denda dapat ditetapkan sebesar jumlah tertentu, persentase dari jumlah tertentu, atau
suatu angka perkalian dari jumlah tertentu.
Pada sejumlah pelanggaran, sanksi denda ini akan ditambah dengan sanksi pidana. Pelanggaran
yang juga dikenai sanksi pidana ini adalah pelanggaran yang sifatnya alpa atau disengaja. Untuk
mengetahui lebih laniut, dalam tabel 1 dimuat hal-hal yang dapat menyebabkan sanksi
administrasi berupa denda, bentuk pengenaan denda, dan besarnya denda.
b. Sanksi Aministrasi Berupa Bunga
Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan atas pelanggaran yang menyebabkan utang pajak
menjadi lebih besar. Jumlah bunga dihitung berdasarkan persentase tertentu dari suatu jumlah,
mulai dari saat bunga itu menjadi hak/kewajiban sampai dengan saat diterima dibayarkan.
Terdapat beberapa perbedaan dalam menghitung bunga utang biasa dengan bunga utang paiak.
Penghitungan bunga utang pada umumnya menerapkan bunga majemuk (bunga berbunga).
Sementara, sanksi bunga dalam ketentuan pajak tidak dihitung berdasarkan bunga majemuk.
Besarnya bunga akan dihitung secara tetap dari pokok pajak yang tidak/kurang dibayar. Tetapi,
dalam hal Waiib Paiak hanya membayar sebagian atau tidak membayar sanksi bunga yang
terdapat dalam surat ketetapan pajak yang telah diterbitkan, maka sanksi bunga tersebut dapat
ditagih kembali dengan disertai bunga lagi
Perbedaan lainnya dengan bunga utang pada umumnya adalah sanksi bunga dalam ketentuan
perpajakan pada dasarnya dihitung 1 (satu) bulan penuh. Dengan kata lain, bagian dari bulan
dihitung 1 (satu) bulan penuh atau tidak dihitung secara harian. Untuk mengetahui lebih ielas
mengenai hal-hal yang dapat menyebabkan sanksi bunga dan penghitungan besarnya bunga
dalam pajak, pembaca dapat melihat dalam tabel 2
c. Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan
Jika melihat bentuknya, bisa jadi sanksi administrasi berupa kenaikan adalah sanksi yang paling
ditakuti oleh wajib Pajak. Hal ini karena bila dikenakan sanksi tersebut, jumlah pajak yang harus
dibayar bisa menjadi berlipat ganda. Sanksi berupa kenaikan pada dasarnya dihitung dengan
angka persentase tertentu dari jumlah pajak yang tidak kurang dibayar.
Jika dilihat dari penyebabnya, sanksi kenaikan biasanya dikenakan karena Wajib Pajak tidak
memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan dalam menghitung jumlah pajak terutang.
Untuk lebih jelasnya, hal-hal yang dapat menyebabkan sanksi berupa kenaikan dan besarnya
kenaikan dapat dilihat dalam tabel 3.
2. Sanksi Pidana
Kita sering mendengar isilah sanksi pidana dalam peradilan umum. Dalam perpajakan pun
dikenai adanya sanksi pidana. UU KUP menyatakan bahwa pada dasarnya, pengenaan sanksi
pidana merupakan upaya terakhir untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak.
Namun, pemerintah masih memberikan keringanan dalam pemberlakuan sanksi pidana dalam
pajak, yaitu bagi Wajib Pajak yang baru pertama kali melanggar ketentuan Pasal 38 UU KUB
tidak dikenai sanksi pidana, tetapi dikenai sanksi administrasi. Pelanggaran Pasal 38 UU KUP
adalah tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak
lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara.
Hukum pidana diterapkan karena adanya tindak pelanggaran dan tindak kejahatan. Sehubungan
dengan itu, di bidang perpajakan, tindak pelanggaran disebut dengan kealpaan, yaitu tidak
sengaja, lalai, tidak hati-hati, atau kurang mengindahkan kewajiban pajak sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Sedangkan tindak kejahatan adalah tindakan
dengan sengaja tidak mengindahkan kewajiban pajak sehingga dapat menimbulkan kerugian
pada pendapatan negara.
Meski dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tindak pidana di bidang perpajakan
tidak dapat dituntut setelah jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terlampaui.Jangka waktu ini
dihitung sejak saat terutangnya pajak, berakhirnya masa pajak, berakhirnya bagian tahun pajak,
atau berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan. Penetapan jangka waktu 10 (sepuluh) tahun ini
disesuaikan dengan daluarsa penyimpanan dokumen-dokumen perpajakan yang dijadikan dasar
penghitungan jumlah pajak yang terutang, yaitu selama 10 (sepuluh) tahun.
Dalam UU Perpajakan Indonesia, ketentuan mengenai sanksi pidana pada intinya diatur dalam
Bab VIII UU KUP sebagai hukum pajak format. Namun, dalam UU Perpajakan lainnya, dapat
juga diatur sanksi pidana. Sanksi pidana biasanya disertai dengan sanksi administrasi berupa
denda, walaupun tidak selalu ada.