Anda di halaman 1dari 16

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman

2.1.1. Kebutuhan rasa aman dan nyaman pada pasien gawat darurat

Rasa aman didefinisikan oleh Maslow dalam Potter & Perry (2006)

sebagai sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh

ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan lingkungannya yang mereka

tempati. Abraham Maslow dalam Potter&Perry, 2006 juga mengemukakan bahwa

pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok yang harus terpenuhi

yang digambarkan ke dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid dan prioritas

pemenuhan kebutuhan ini dimulai dari tingkatan yang paling bawah. Lima tingkat

kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow yang dijabarkan

sebagai berikut:

1. Kebutuhan biologis

2. Kebutuhan rasa aman.

Kebutuhan rasa aman ini meliputi kebutuhan untuk dilindungi, jauh dari

sumber bahaya, baik berupa ancaman fisik maupun psikologi.

3. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki

Kebutuhan akan rasa cinta, dicintai dan menyayangi dapat di miliki setiap

orang karena setiap orang membutuhkan untuk dapat berinteraksi dengan

orang lain dan kebutuhan untuk dapat merasa memiliki.

4. Kebutuhan akan penghargaan


9

Kebutuhan akan penghargaan yang dimiliki seseorang dapat berupa

pemberian apresiasi dan reward atas prestasi yang berhasil dilakukan,

kecakapan dalam melaksanakan kompetensi serta berupa dukungan dan

pengakuan lain atas prestasinya.

5. Kebutuhan aktualisasi diri

Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan secara estitika atau dalam

menampilkan diri, kebutuhan kognitif, kompetensi dan menyadari akan

potensi dirinya. Kebutuhan ini muncul dan akan menjadi tuntutan

seseorang apabila kebutuhan dasar yang lain seperti psikologis, rasa aman

dan kebutuhan penghargaaan telah terpenuhi. Kebutuhan akan aktualisasi

ini akan menjadi prioritas jika ketiga kebutuhan yang lain sudah mampu

dipenuhi oleh individu.

Kebutuhan rasa aman pasien menjadi prioritas pelayanan di rumah sakit

Sanglah. Hal ini sesuai dengan predikat RSUP Sanglah sebagai rumah sakit yang

telah terakreditasi Joint Commission Acreditation (RSUPS, 2012). The Joint

CommisionInternational, 2016 mengembangkan akreditasi rumah sakit dimana

indikator utamanya adalah International Patient Safety Goals (IPSG) atau

Sasaran Keselamatan Pasien (SKP). Keselamatan pasien (Patient Safety) rumah

sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.

Sistem tersebut meliputi penilaian risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang

berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis pasien, kemampuan

belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk

meminimalkan timbulnya risiko (DepKes, 2008).


10

Potter & Perry (2006) mengungkapkan kenyamanan / rasa nyaman adalah

suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan

ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari),

kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan tentang sesuatu

yang melebihi masalah dan nyeri). Kenyamanan mesti dipandang secara holistik

yang mencakup empat aspek yaitu:

1. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.

2. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan

sosial.

3. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri

sendiri yang meliputi harga diri, seksualitas, dan makna kehidupan).

4. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman

eksternal manusia seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna dan unsur

alamiah lainnya.

Perubahan kenyamanan adalah dimana individu mengalami sensasi yang

tidak menyenangkan dan berespon terhadap rangsangan yang berbahaya (Linda

Jual,2000). Nyeri merupakan perasaan dan pengalaman emosional yang timbul

dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensional atau gambaran adanya

kerusakan (NANDA,2005). Kebutuhan rasa nyaman yang paling sering yang

menyebabkan pasien datang ke unit gawat darurat adalah rasa nyeri. RSUP

Sanglah menempatkan kebutuhan penanganan rasa nyeri sebagai kebutuhan

penting yang harus ditangani segera. Pengkajian nyeri termuat dalam pengkajian

keperawatan sebagai pengkajian dalam penanganan pasien gawat darurat dalam


11

secondary survey setelah dilakukan penanganan primary survey (airway,

breathing, circulation, disability). Kebutuhan penanganan nyeri juga telah

dibuatkan standar operasional prosedur tersendiri sebagai pedoman dalam

penanganan nyeri yang berlaku dirumah sakit (RSUPS, 2012).

2.1.2. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman

Hirarki Abraham Maslow dalam Potter & Perry, 2006 menyebutkan

bahwa kebutuhan rasa aman meliputi kebutuhan untuk di lindungi, jauh dari

sumber bahaya, baik berupa ancaman fisik maupun psikologi. Hal ini sesuai

dengan tujuan pembentukan Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit/KKP-RS.

Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit/KKP-RS (2008) mendefinisikan bahwa

keselamatan (safety) adalah bebas dari bahaya atau risiko (hazard). Keselamatan

pasien (patient safety) adalah pasien bebas dari harm/cedera yang tidak

seharusnya terjadi atau bebas dari harm yang potensial akan terjadi (penyakit,

cedera fisik/sosial/psikologis, cacat, kematian dan lain-lain), terkait dengan

pelayanan kesehatan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1691/ Menkes/ Per/

VIII/2011, keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah

sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi pengkajian risiko,

identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien,

pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak

lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan

mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan

suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.


12

2.1.3. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemenuhan Kebutuhan

Rasa Aman dan Nyaman

Potter & Perry, 2006 menyebutkan bahwa keamanan adalah kondisi bebas

dari cedera fisik dan psikologis . Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang

atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan. Pemenuhan kebutuhan

keamanan dan keselamatan dilakukan untuk menjaga tubuh bebas dari kecelakaan

baik pada pasien, perawat, atau petugas lainnya yang bekerja untuk pemenuhan

kebutuhan tersebut. Faktor yang mempengaruhi keamanan dan keselamatan

meliputi:

1. Emosi

Kondisi psikis dengan kecemasan, depresi, dan marah akan mudah

mempengaruhi keamanan dan kenyamanan

2. Status Mobilisasi

Status fisik dengan keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot, dan

kesadaran menurun memudahkan terjadinya resiko cedera

3. Gangguan Persepsi Sensori

Adanya gangguan persepsi sensori akan mempengaruhi adaptasi

terhadaprangsangan yang berbahaya seperti gangguan penciuman dan

penglihatan

4. Keadaan Imunitas

Daya tahan tubuh kurang memudahkan terserang penyakit

5. Tingkat Kesadaran
13

Tingkat kesadaran yang menurun, pasien koma menyebabkan

responterhadap rangsangan, paralisis, disorientasi, dan kurang tidur.

6. Informasi atau Komunikasi

Gangguan komunikasi dapat menimbulkan informasi tidak diterima

dengan baik.

7. Gangguan Tingkat Pengetahuan

Kesadaran akan terjadi gangguan keselamatan dan keamanan dapat

diprediksi sebelumnya.

8. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional

Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan anafilaktik syok

9. Status nutrisi

Keadaan kurang nutrisi dapat menimbulkan kelemahan dan mudah

menimbulkan penyakit, demikian sebaliknya dapat beresiko terhadap

penyakit tertentu.

10. Usia

Pembedaan perkembangan yang ditemukan diantara kelompok usia anak-

anak dan lansia mempengaruhi reaksi terhadap nyeri

11. Jenis Kelamin

Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam

merespon nyeri dan tingkat kenyamanannya.

12. Kebudayaan

Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara individu

mengatasi nyeri.
14

2.2. Kecerdasan Emosional perawat

Kecerdasan emosi merupakan kemampuan emosi yang meliputi

kemampuan untuk mengendalikan diri, memiliki daya tahan ketika menghadapi

suatu masalah, mampu mengendalikan impuls, memotivasi diri, mampu mengatur

suasana hati, kemampuan berempati dan membina hubungan dengan orang lain

(Goleman, 2009) dalam (Foster et al, 2017). Salovey dan Mayer, 1997 dalam

Foster et.al, 2017 mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut

Emotional Question (EQ) sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang

melibatkan kemampuanseseorang untuk dapat memantau perasaan sosial yang

melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan

menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Emosional berasal dari emosi, yang merupakan bahasa latin, yaitu

emovere, yang berarti bergerak menjauh. Makna dari emosi ini memberi indikasi

bahwa individu memiliki kecenderungan untuk bertindak merupakan hal mutlak

dalam emosi. Daniel Goleman (2002) mengemukakan bahwa kondisi emosi

merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan

psikologis serta memiliki kecenderungan untuk bertindak. Emosi didasarkan pada

suatu dorongan untuk bertindak, yang dilakukan sebagai bentuk rangsangan dari

ekternal individu, sebagai contoh emosi gembira yang berdampak pada perubahan

suasana hati (mood) seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, dan

emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990

oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari
15

University of New Hampshire, untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional

yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan

kecerdasan emosional atau yang sering disebut Emotional Question (EQ) sebagai

himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan seseorang

untuk dapat memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang

lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk

membimbing pikiran dan tindakan (Shapiro, 1999). Golomen merujuk tentang

kecerdasan emosional kepada upaya untuk mengenali, memahami dan

mewujudkan emosi dalam porsi yang tepat. Hal lain yang juga sangat penting

dalam kecerdasan emosional ini adalah upaya untuk mengelola emosi agar

terkendali dan dapat di manfaatkan untuk memecahkan masalah kehidupan

terutama yang terkait dengan hubungan antar manusia (Rostiana, 2010).

2.2.1. Komponen Kecerdasan Emosional

Goleman mengutip Salovey (2004) menempatkan kecerdasan pribadi

Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya

dan memperluas kemampuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :

1. Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali

perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari

kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri

sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri.


16

Menurut Mayer (Goleman, 2002) kesadaran diri adalah waspada terhadap

suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka

individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi.

Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun

merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga

individu mudah menguasai emosi.

2. Mengelola Emosi

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani

perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai

keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap

terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan,

yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan

kita (Goleman, 2002). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk

menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau

ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan

untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

3. Memotivasi Diri Sendiri

Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang

berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan

mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang

positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.


17

4. Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut

Goleman (2002) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau

peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki

kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang

tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain

sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap

perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu

membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuaikan diri

secara emosional, lebih populer, lebih mudah bergaul, dan lebih peka

(Goleman, 2002). Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang

tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus

menerus merasa frustasi (Goleman, 2002). Seseorang yang mampu membaca

emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu

terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya

sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca

perasaan orang lain.

5. Membina Hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang

menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi

(Goleman, 2002). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan

dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk


18

mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan

serta kemauan orang lain. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan

membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil

dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain.

Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang

menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002).

Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan

petunjuk positif bagaimana mampu membina hubungan dengan orang lain.

Wilson, 2014 menyatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan fitur

yang telah diidentifikasi sebagai hal yang penting dalam keperawatan. Perawat

yang cerdas emosi adalah salah satu yang dapat bekerja secara harmonis dengan

kedua pikiran mereka dan perasaan. Perawat perlu memahami sifat emosional

keperawatan, memiliki keterampilan emosional dalam rangka untuk memberikan

asuhan keperawatan yang kompeten dan mengembangkan kecerdasan emosional

dalam rangka menghadapi lingkungan kerja. Penelitian penggunaan kecerdasan

emosional oleh perawat telah menemukan korelasi positif antara tingkat

kecerdasan emosional, kesejahteraan staf dan penampilan kerja dan performance.

Codier et al, (2008) dalam penelitian mereka staf perawat di lingkungan klinis,

bahwa tingkat tinggi kecerdasan emosional yang berkorelasi dengan tingkat

kinerja yang tinggi.

Rochester et al, (2005) mengidentifikasi kecerdasan emosional sebagai

faktor signifikan dalam praktek keperawatan. Mikolajczak et al, (2007)

menemukan bahwa orang-orang dengan tingkat tinggi kecerdasan emosional


19

mengalami tingkat yang lebih rendah dari penyakit somatik dan kelelahan ketika

dihadapkan dengan situasi stres dan emosional menantang. Tingkat kecerdasan

emosional keperawatan dan staf kesehatan lainnya telah ditemukan berdampak

pada kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan mereka dengan cara yang

kompeten dan juga pada kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri. Sebuah

studi oleh Birks et al, (2009) menemukan bahwa mereka dengan skor kecerdasan

emosional yang tinggi menunjukkan kemampuan yang lebih dan kemauan untuk

menggunakan jaringan dukungan sosial, lebih percaya diri dalam kemampuan

mereka untuk mengatasi stres dan meningkatkan keterampilan manajemen

organisasi dan waktu.

Meningkatkan keterampilan kecerdasan emosional membantu perawat

untuk mengatasi tuntutan emosional dari lingkungan kesehatan yang dapat

menjadi stres dan melelahkan dan menyebabkan kelelahan (Bakr & Safaan,2012).

2.3. Komunikasi

Komunikasi adalah suatu pertukaran pikiran, perasaan, pendapat dan

Kinerja keperawatan yang efektif terkait dengan kecerdasan emosional karena

berbagai alasan telah dilaporkan . Salah satu alasan tersebut adalah bahwa emosi

sangat penting untuk menciptakan dan memelihara lingkungan kerja. Kemampuan

perawat untuk membangun hubungan dengan pasien, mengelola emosi mereka

sendiri, dan berempati dengan pasien adalah penting untuk memberikan kualitas

pelayanan pemberian nasehat yang terjadi antara dua orang atau lebih yang

bekerja sama (Nursalam 2008). Komunikasi juga merupakan suatu seni untuk
20

menyusun dan mengantarkan suatu pesan dengan cara yang mudah sehingga

orang lain dapat mengerti dan menerima maksud dan tujuan pemberi pesan.

Proses komunikasi meliputi pengirim (sender), pesan (message), saluran

(channel), penerima (receiver), dan respon (response).Pengirim adalah seorang

atau kelompok yang ingin mengirimkan suatu pesan kepada yang lain. Pesan

adalah informasi atau perasaan yang akan dikirimkan dan isi serta konteks pesan.

Saluran adalah metode yang dipilih untuk menyampaikan pesan, termasuk apakah

pesan diucapkan atau tertulis, pilihan kata-kata atau bahasa, dan pilihan bahasa

tubuh yang menyertainya. Penerima disebut juga decoder adalah orang yang

menerima pesan, menginterpretasikannya (decode), dan mengambil keputusan

mengenai bagaimana berespons. Sedangkan respons penerima adalah umpan balik

yang memungkinkan pengirim mengetahui apakah pesan telah diterima dan

diinterpretasikan dengan benar. Umpan balik adalah pesan yang dikembalikan

oleh penerima terhadap pengirim.kegagalan untuk mendapatkan respon atau

umpan balik dapat menyebabkan komunikasi tidak efektif. Umpan balik juga

dapat berupa verbal dan nonverbal.

2.3.1. Komunikasi dalam bidang keperawatan

Kehidupan sehari-hari perawat atau lebih spesifik dalam perannya,

seorang perawat tidak lepas dari keberadaannya dengan orang lain (Rosmawati,

2010). Hubungan yang baik akan membantu perawat dalam menjalankan

tugasnya, baik kepada teman sejawat, tim kesehatan lain maupun kepada klien

atau keluarga klien. Kepentingan perawat dalam mendapat dan menyampailan

laporan yang lengkap dari teman sejawat (perawat) yang jaga dinas sebelumnya,
21

menerima order atau menyampaikan perkembangan klien kepeda tim kesehatan

lain serta menyampaikan informasi yang jelas dan jujur kepada klien dan keluarga

klien adalah contoh betapa pentingnya komunikasi yang efektif bagi perawat

dalam menjalankan tugasnya. Adapun beberapa tujuan komunikasi yaitu (1)

Supaya pesan yang kita sampaikan kepada orang lain dapat dimengerti, (2)

memahami orang lain, yang menjadi partner kita dalam berkomunikasi, (3)

gagasan yang kita sampaikan dapat diterima orang lain tanpa adanya deviasi

makna dari pesan yang disampaikan, (4) menggerakkan orang lain untuk

melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan si pengirim pesan. Komunikasi yang

dilakukan perawat bertujuan agar pelayanan keperawatan yang diberikan dapat

efektif. Kemampuan komunikasi yang efektif ini merupakan ketrampilan yang

harus dimiliki perawat profesional.

2.3.2. Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar,

bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati,2003).

Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak

saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar

dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien,

sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan

pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003).

Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus

direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan


22

sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia

dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003).

Komunikasi seorang perawat dengan pasien pada umumnya menggunakan

komunikasi yang berjenjang yakni komunikasi intrapersonal, interpersonal dan

komunal/kelompok (Poter dan Ferry, 1993). Komunikasi pada tindakan atau

intervensi keperawatan umumnya berbentuk komunikasi interpersonal langsung

dengan jenis verbal maupun non verbal. Kemampuan interaktif dibutuhkan

perawat kesehatan dengan pasien mempunyai karakter spesial . Setiap komunikasi

agar mencapai tujuan diperlukan suatu metode sehingga pencapaian tujuan dapat

optimal yaitu kesembuhan pasien dari sakit yang dideritanya. Bila harapan pasien

untuk sembuh lambat dan bahkan tidak terjadi seorang perawat secara moral

sering kali merasa ikut bersalah. Perasaan yang sering kali muncul dalam diri

seorang perawat yang baik dan profesional, menunjukkan bahwa komunikasi

dalam keperawatan mempunyai kekhususan yakni menyangkut kelangsungan

kehidupan seorang manusia. Sunarto (2000), menegaskan bahwa perawat

hendaknya tidak dapat bersikap masa bodoh dan tidak peduli terhadap pasien.

Seseorang perawat yang tidak care dengan pasien adalah menyalahi etika profesi.

Seorang perawat yang tidak menjalankan profesinya secara profesional akan

merugikan orang lain/pasien, unit kerjanya dan juga dirinya sendiri. Manfaat

komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama

antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.

Mengidentifikasi, mengungkap perasaan, mengkaji masalah dan evaluasi tindakan

yang dilakukan oleh perawat (Indrawati, 2003).


23

Menurut Arwani (2003) Beberapa hal yang dianggap mempunyai

kontribusi terhadap kemampuan seseorang dalam menerapkan komunikasi

terapeutik terdiri atas (1) tingkat pendidikan seseorang dimana semakin tinggi

status pendidikan seseorang maka semakin mudah untuk menerapkan kaedah-

kaedah yang ada dalam fase-fase komunikasi terapeutik. (2) masa kerja seseorang.

Semakin lama masa kerja seseorang maka akan semakin banyak pengalaman yang

dia dapatkan dalam berinteraksi dengan pasien. (3) pengetahuan. Bahwa semakin

banyak pengetahuan yang didapat seorang perawat baik melalui pendidikan

formal maupun nonformal maka akan menambah kemampuannya untuk

melakukan pendekatan komunikasi terapeutik. (4) Kondisi Psikologis.

Komunikasi terapeutik akan dapat berjalan dengan baik apabila penyampai pesan

berada dalam kondisi psikologis yang wajar, sehingga penyampaian pesannya pun

berjalan lebih bersifat terapeutik. (5) Tampilan sikap dan prilaku seseorang akan

mempengaruhi efektifitas penyampaian pesan secara terapeutik sehingga lebih

mampu menempatkan diri secara terapeutik. (6) Kondisi ruang saat

berkomunikasi akan sangat member warna terhadap teknis dan pencapaiaan

tujuan komunikasi terapeutik yang dilakukan. (7) Makna pesan dalam

komunikasi, semakin jelas makna yang terkandung dalam komunikasi maka akan

semakin jelas makna terapeutik yang sedang disampaikan oleh perawat, namun

sebaliknya terhadap makna pesan yang tidak jelas akan menimbulkan keraguan

pada pasien.