Anda di halaman 1dari 3

SAATNYA INDUSTRI FARMASI DI INDONESIA BANGKIT

Salah satu sektor yang menjadi indokator suatu negara dapat dikatakan maju adalah kemampuan
mengatasi masalah kesehatan. Indonesia saat ini masih berada jauh di bawah standar negara yang
dikatakan sehat versi WHO. Dapat dilihat dari tingkat morbiditas (kesakitan) dan mortilitas
(kematian) yang tinggi di Indonesia.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sampai saat ini belum terlalu
maksimal. Jika kita memperhatikan media saat ini, pembahasan utama berkutat pada masalah
ekonomi dan politik. Karena memang ini yang memiliki nilai jual tinggi. Untuk masalah kesehatan,
berita yang muncul di media hanyalah dampak buruk dari upaya kesehatan yang kurang baik.

Kasus busung lapar, malpraktek, peredaran makanan berformalin, obat-obatan ilegal dan masih
banyak lagi. Problem kesehatan sudah seharusnya mendapat perhatian lebih agar Indonesia dapat
bersaing dengan negara maju.

Padahal sektor kesehatan memiliki peran vital dalam upaya Human security. Tetapi, pemerintah
kita seolah lebih mengutamakan Investment Security daripada Human Security. Bahasa simple-nya,
mungkin pemerintah lebih rela kehilangan satu nyawa daripada kehilangan satu dolar.

Membahas masalah kesehatan, maka salah satu sektor industri yang menunjang hal tersebut
adalah sektor industri farmasi. Penelitian di bidang farmasi saat ini masih sangat kurang. Upaya
pemerintah untuk mengembangkan penelitian dalam bidang farmasi selalu diserahkan kepada
pihak universitas dalam hal ini sektor pendidikan. Bahkan pihak asing-pun terkadang ikut
mengintervensi penelitian kefarmasian di Indonesia. Sehingga perkembangannya terkesan
prematur, tidak sistematis dan discontinued.

Upaya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan sangat minim kita lihat. Padahal
permasalahan ini menurut saya sangat penting. Bentuk nyata dari ketidakseriusan pemerintah
dalam mengatasi hal ini adalah kurang kondusifnya laboratorium penelitian milik pemerintah.
Seharusnya peran dari sebuah laboratorium bukan hanya sebagai media eksplorasi dan edukasi.
Tapi dapat juga sebagai media bereksperimen dan berinovasi menemukan sesuatu yang baru.

Hal senada juga dikemukakan oleh Dirut PT. Kimia Farma, Tbk. Syamsul Arifin.
Menurutnya,"Bahan sintetik kimia obat-obatan hampir 90% masih kita impor sehingga menjadi
kendala. Selain itu banyak penelitian yang berbasis kimia maupun bioteknologi saat ini masih
terbatas pada skala perguruan tinggi dan belum dikembangkan di dunia industri."

Pemerintah masih belum berani berekspektasi terlalu tinggi dalam bidang farmasi di Indonesia.
Hal ini dikarenakan banyaknya saingan negara maju yang perkembangan industri farmasinya
sudah sangat pesat. Padahal potensi Indonesia sebagai negara kepulauan sangat memungkinkan
untuk memajukan industri ini.

Harus diakui, dalam hal teknologi kita kalah telak dari industri farmasi yang ada di negara-negara
maju seperti Jerman, Jepang dan Amerika. Tapi, hal ini bukanlah penghalang bangkitnya sektor
industri farmasi di Indonesia. Kita masih memiliki beragam kekayaan alam yang dapat dijadikan
bahan penelitian industri farmasi.

Saat ini, industri farmasi di Indonesia hanya berkutat pada sektor pengembangan obat alam/obat
herbal saja. Jarang bahkan tidak ada penelitian yang intensif untuk mengembangkan obat sintetis
yang aman dari bahan alam Indonesia. Saat ini, kita seperti di suapi oleh pihak asing yang setiap
detiknya selalu saja ada inovasi baru dalam bidang kefarmasian. Apakah Indonesia hanya bisa
menjadi konsumen tetap mereka?

Dalam pandangan saya, lesunya industri farmasi di Indonesia dikarenakan beberapa hal berikut.
Pertama, kondisi sosial politik masyarakat yang selalu bergejolak sehingga faktor Human Security
menjadi dikesampingkan. Pemerintah sibuk mengurusi masalah pemilu dan manuver politik apa
yang diperlukan untuk menang di 2014. Padahal tidak ada yang akan memilih jika semua rakyat
Indonesia tidak cukup sehat untuk datang ke TPS (tempat pemungutan suara) saat pemilu nanti.

Faktor kedua yang menghambat industri farmasi di Indonesia adalah kurangnya teknologi yang
mendukung. Bisa dikatakan hampir sebagian besar penelitian terhambat karena masalah
instrument yang kurang memadai. Tak heran jika banyak peneliti luar yang mengambil alih bahan
penelitian dari negeri kita ke negaranya. Maka, hasil penelitiannya nanti tidak dapat kita nikmati
seluruhnya.

Sebab ketiga adalah pemikiran yang ingin memarginalkan bidang farmasi dari kesehatan secara
umum. Sehingga, masalah kesehatan yang terjadi di Indonesia saat ini seolah bukan karena
industri farmasi yang sedang loyo. Padahal industri farmasi yang memegang peranan dalam
pengembangan obat-obatan. Jika industri ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka
Indonesia akan terus menjadi pengikut(budak) dari negara maju yang dapat dengan mudah
menggenggam industri farmasi di dunia.
ANALISA :
Untuk itu, perlu dilakukan upaya yang intensif dari pemerintah dan para praktisi kefarmasian
untuk memajukan industri farmasi di Indonesia. Langkah kongkret yang dapat di ambil adalah
dengan berani bersaing dalam hal komoditas farmasi dengan negara luar. Kita memiliki
kelebihan dalam bidang obat-obatan herbal, maka fokuskanlah penelitian tentang itu.

Keterbatasan teknologi farmasi seharusnya bisa segera diatasi. Dengan keadaan perekonomian
Indonesia yang sedang subur, untuk membeli beberapa teknologi dari luar sangat bijaksana,
dibandingkan harus melakukan impor bahan sintetik dari luar terus menerus. Terlebih lagi saat
ini siswa-siswi SMK telah mampu merakit mobil sendiri. Semoga kedepannya alat-alat
kefarmasian mampu mereka produksi juga.

Pemerintah seharusnya dapat menjadi fasilitator dan berani berekspektasi lebih dalam bidang
kefarmasian. Jika Indonesia mampu bersaing dalam industri farmasi, maka satu langkah besar
untuk menjadi negara maju dapat kita lakukan. Jangan selalu sibuk berkutat pada permasalahan
sosial, politik dan ekonomi saja.

Butuh partisipasi semua pihak dalam memajukan sektor kesehatan di Indonesia. Pemerintah,
praktisi kesehatan, masyarakat dan mahasiswa harus dapat bergerak sinergis sehingga dapat
meningkatkan Human Resource di Indonesia.