Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan-Sedang

STATUS PASIEN
Identitas Pasien
Nama lengkap : An. KA
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat lahir : Dungingi
Tanggal Lahir: 31 Juni 2016
Usia : 02 Tahun 04 Bulan
Agama : Islam
Alamat: Dungingi
Tanggal masuk : 27 Oktober 2018

Identitas Orang Tua

Nama Orang Tua Ibu Ayah

Nama Ny. N Tn. S

Umur 38 tahun 36 tahun

Pendidikan SMA SD

Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Karyawan Swasta

Alamat :

Hubungan dengan orang tua : anak kandung.

1
Anamnesis

Keluhan utama : Mencret sejak 1 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke UGD RSUD Otanaha dengan keluhan mencret sejak 1 hari
SMRS. Mencret sebanyak lebih dari 5x sehari, kurang lebih seperempat gelas aqua setiap
mencret, konsistensi cair dan terdapat ampas berwarna kekuningan, tidak terdapat darah
dan tidak ada lendir. Sebelum mencret penderita juga mengalami muntah lebih dari 5x
sebanyak kurang lebih seperempat gelas aqua tiap muntah. muntah terutama setelah
makan minum dan muntah berisikan makanan dan cairan, muntah tidak menyembur.
Anak terlihat menangis dan tampak kehausan, terlihat dari lebih sering minum. Menurut
Ibu pasien, anaknya juga mengalami demam sejak mencret muncul. Demam terus
menerus, muncul mendadak, langsung tinggi dan demam tidak disertai dengan kejang.
Penderita masih bisa BAK dengan lancar, sehari 3 kali BAK. Riwayat kejang disangkal.
Gejala mimisan atau gusi berdarah disangkal. Dirumah tidak ada yang menderita demam
berdarah. Keluhan nyeri telinga disangkal. Nyeri saat buang air kecil disangkal, nyeri saat
menelan disangkal, nyeri perut disangkal.

Riwayat Pengobatan
Sebelum masuk kerumah sakit pasien sudah berobat ke klinik tetapi tidak ada
perubahan.

Riwayat penyakit dahulu


Sebelumnya pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini. Riwayat asma
disangkal. Riwayat batuk lama disangkal. Riwayat trauma disangkal

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada yang menderita penyakit serupa. Riwayat alergi disangkal, riwayat
asma dan TBC disangkal.

2
Riwayat Imunisasi

(+) BCG usia 1 bulan


(+) DPT, 3 kali
(+) Polio, 4 kali
(+) Hep. B, 3 kali
(+) Campak 1 kali
Kesan: Imunisasi dasar pasien lengkap di bidan

Pemeriksaan Fisik
Tanggal / jam : 27 Oktober 2018, jam 21.30 WITA

Pemeriksaan umum
Kesadaran : Compos Mentis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Tanda-tanda vital :
- Denyut nadi : 120 x/menit, teraba kuat, reguler
- Frekuensi nafas : 28 x/menit,
- Suhu : 38,3 °C
Antropometri
- Panjang badan : 90 cm
- Berat badan : 12 kg
- Lingkar kepala : 0 s/d 1 SD (normal)
- BB/U : -2 s/d 0 SD (normal)
- TB/U : 0 s/d 2 SD (normal)
- BB/TB : -1 s/d 0 SD (normal)
Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia

3
4
Pemeriksaan Fisik
Kepala
 Bentuk dan ukuran : Normocephali, ubun-ubun besar datar terbuka
 Mata : Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-, hiperemis -/-,
 Telinga : Normotia +/+, liang telinga lapang +/+, sekret -/-
 Hidung : Septum deviasi (-), sekret +/+ bening cair
 Tenggorokan : Faring hiperemis (-)
 Mulut : Bentuk normal, mukosa mulut basah, bibir kering (-),
 Leher :Tidak tampak pembesaran kelenjar getah bening
 Thoraks
1. Paru

Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris dalam keadaan statis maupun


dinamis, retraksi sela iga (-)
Palpasi : vocal fremitus tidak dilakukan, massa (-).
Perkusi : Sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : Suara napas bronkovesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

2. Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis teraba pada sela iga 4 linea midklavikularis kiri
Perkusi : pekak
Auskultasi : BJ I/II murni reguler, murmur (-), gallop (-)

 Abdomen
Inspeksi : Datar, tidak tampak massa.

Auskultasi : Bising usus (+), normoperistaltik.

Palpasi : massa (-), hepar lien teraba (-), nyeri tekan (-).
Perkusi : Timpani di seluruh lapang perut.

Extremitas (lengan & tungkai)


Akral hangat, capillary refill time < 2 detik.
 Tonus : Normotonus.
 Sendi : Dapat digerakkan dengan normal.

5
 Akral Dingin : Negative
 Sianosis : Negative

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium 27 Oktober 2018
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal

Hematologi darah rutin

Hemoglobin 11,0 g/dl 11,5-18,0

Hematokrit 34 % 37- 54

Eritrosit 5,70 106 /µL 3,80 – 6,50

Leukosit 15.800 /µL 4600-10.200

Trombosit 325,000 /µL 150.000-400.000

RESUME
An. K usia 2 tahun 3 bulan 28 hari, mencret sejak 1 hari sebelum masuk rumah
sakit. Mencret 5x/hari, Sebanyak ± seperempat gelas aqua tiap mencret, konsistensi cair,
ampas (+) kuning, Lendir (+), Darah (-). Muntah(+) 5x SMRS, muntah makanan dan
cairan. Demam (+) sejak mencret muncul, terus menerus, muncul mendadak, langsung
tinggi. Anak tampak rewel. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum anak
tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis, denyut nadi 120 kali/menit, frekuensi
nafas 28x/menit, suhu 38,3 °C. Pada antopometri di dapatkan berat badan 12 kg, panjang
badan 90 cm, dengan status gizi lebih dengan hasil curva pertumbuhan anak sesuai WHO
Lingkar kepala 0 s/d 1 SD (normal),BB/U 0 s/d 2 SD (normal),TB/U 0 s/d 2 SD (normal),
BB/TB-1 s/d 0 SD (normal). Pada pemeriksaan fisik kepala, mata, hidung, mulut, THT,
cor, pulmo, abdomen dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.
Diagnosa Kerja
 Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang

Diagnosis Banding

6
 Disentri

 Diare Kronik

 Diare persisten

Rencana penatalaksanaan:
 Anak rewel, sulit untuk diberikan minum, dan muntah-muntah usaha rehidrasi
oral gagal)
o Berikan cairan IV(RL) sebanyak 840 cc/5 jam (70 cc/kgbb/5jam) = 42
tpm (makro)
o Lakukan observasi selama 30 menit.
o Dilanjutkan Infus RL (Maintenance) sebanyak 1100 cc/hari, (1100 cc/96)
= 11 tpm (makro).
• Paracetamol 4 x 120 mg
• Ondansetron IV 2 x 1,2 mg
• zinc tab (20mg)
• Lacto-B 2 x 1 sachet/hari
• Konsul dokter anak

PROGNOSIS
1. Ad Vitam : dubia ad bonam
2. Ad Fungsionam : dubia ad bonam
3. Ad Sanationam : dubia ad bonam

FOLLOW UP
28 Oktober 2018
S: demam (+) dirasakan meninggi, mencret sebanyak lebih dari 5x sehari, mual (+),
muntah lebih dari 5 x, batuk (-), pilek (+), BAK lancar, nafsu makan berkurang, minum
banyak.
O: ku: tss, kes: cm, n: 120x/men, nafas: 28x/men, s: 38,3 °C, BB: 12 kg
Kepala: normosefali, UUB menutup

7
Mata: CA-/-, SI-/-, pupil isokor +/+, RC +/+, tiddak hiperemis -/-
Hidung : sekret +/+, septum deviasi (-)
Mulut : mukosa lembab(+)
Abdomen : I: datar
A: BU(+), normoperistaltik
P: pembesaran hepar(-), lien(-)
P: Timpani (+)
Ekstremitas : akral hangat, sianosis (-), CRT< 2 detik
A: Diare akut
P : Obsevasin, Lanjutkan terapi

29 Oktober 2018
S: demam (-), pilek (+), mencret 3 kali , napsu makan masih kurang,minum banyak BAK
lancar, muntah 1 kali.
O: ku: tss, kes: cm, n: 120x/men, nafas: 28x/men, s: 37,0 °C
Kepala: normosefali, UUB menutup
Mata: CA-/-, SI-/-, pupil isokor +/+, RC +/+
Hidung : sekret +/+, septum deviasi (-)
Mulut : mukosa lembab(+)
Abdomen : I: datar
A: BU(+), normoperistaltik
P: pembesaran hepar(-), lien(-)
P: Timpani
Ekstremitas : akral hangat, sianosis (-), CRT< 2 detik
A: Diare akut dengan perbaikan
P: Observasi, Lanjutkan terapi

30 Oktober 2018S:
S: demam (-), pilek berkurang, BAB 1 kali sudah mulai lembek, BAK lancar, muntah (-),
nafsu makan sudah mau sedikit-sedikit, minum banyak.
O: ku: tss, kes: cm, n: 120x/men, nafas: 28x/men, s: 36,5 °C

8
Kepala: normosefali, UUB menutup
Mata: CA-/-, SI-/-, pupil isokor +/+, RC +/+
Hidung : sekret +/+, septum deviasi (-)
Mulut : mukosa lembab(+)
Abdomen : I: datar
A: BU(+), normoperistaltik
P: pembesaran hepar(-), lien(-)
P: Timpani
Ekstremitas : akral hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik
A: Diare akut dengan perbaikan
P: Rawat Jalan, zinc tab (20mg), Lacto-B 2 x 1 sachet/hari

9
TINJAUAN PUSTAKA
DIARE AKUT PADA ANAK

Definisi
Diare akut adalah buang air besar lembek /cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering biasanya (biasanya dalam sehari 3 kali atau lebih) dan
berlangsung kurang dari 7 hari.

Epidemiologi
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembag
termasuk di indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan
tertinggi pada anak, terutama usia dibawah 5 tahun. Di dunia, sebanyak 6 juta anak
meninggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di
negara berkembang. Sebagai gambaran 17% kematian anak didunia disebabkan oleh
diare sedangkan di indonesia, hasil Riskesdas 2007 diperoleh bahwa diare masih
merupakan penyebab kematian bayi yag terbanyak yaitu 42% dibanding pneumonia 24%,
untuk golongan 1-4 tahun penyebab kematian karena diare 25,2% dibanding pneumonia
15,5%.

Etiologi
1. Faktor infeksi enteral (infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab utama diare)
 Infeksi bakteri : vibrio, E. coli, salmonella, shigella, campylo
bacter,yersinia, aeromonas, dan sebagainya
 Infeksi virus : rotavirus, astrovirus, enteric adenovirus,coronavirus,
cytomegalovirus, herpes simplex virus.
 Infeksi parasit : cacing (ascaris), protozoa (entamoeba histolytica,giardia
lamblia, tricomonas hominis dan jamur (candida albicans)
2. Faktor Malabsorpsi
 defisiensi disakarida
 malabsorbsi glukosa-galaktosa

10
 cystic fibrosis
 cholestosis
 penyakit celiac
3. Faktor makanan
Makanan besi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Lain-lain
 Infeksi nongastrointestinal
 Alergi susu sapi
 Penyakit chorn
 Defisiensi imun
 Colitis ulserosa
 Gangguan motilitas usus
 Pellagra

PATOFISIOLOGI

Faktor Resiko Terjadinya Diare

Faktor resiko yang meningkatkan transmisi enteropatogen :


1. Tidak cukup tersedianya air bersih
2. Tercemarnya air oleh tinja
3. Tidak ada / kurangnya sarana MCK
4. Higiene per orangan dan penyediaan makanan tidak higieni
5. Cara penyapihan bayi yang tidak baik (terlalu cepat disapih, terlalu cepat diberi
susu botol dan terlalu cepat diberi makanan padat)
6. Beberapa faktor resiko pada pejamu (host) yang dapat meningkatkan kerentanan
pejamu terhadap enteropatogen di antaranya adalah :
a. Malnutrisi
b. BBLR
c. Imunodefisien
d. Imunodepresi

11
e. Rendahnya kadar asam lambung
f. Peningkatan motilitas usus
g. Faktor genetik

Patogenesis

Mekanisme dasar timbulnya diare ialah :


1. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
ostomik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dalam elektrolit
ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus
untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan diare timbul karena
terdapat peningkatan isi rongga usus.

3. Gangguan motilitas usus


Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap
makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare
pula.

Patogenesa Diare Karena Virus

Virus yang terbanyak menyebabkan diare adalah rotavirus. Garis besarnya


patogenesisnya adalah sebagai berikut :
Virus masuk ke dalam traktus digestivus bersama makanan dan minuman,
kemudian berkembang biak di dalam usus. Setelah itu virus masuk ke dalam epitel usus
halus dan menyebabkan kerusakan di bagian apikal vili usus halus. Sel epitel usus halus
bagian apikal akan diganti oleh sel dari bagian kripta yang belum matang, yang berbentuk
kuboid atau gepeng. Akibatnya sel epitel ini tidak dapat berfungsi untuk menyerap air

12
dan makanan. Sebagai akibatnya akan terjadi diare osmotik. Vili usus halus kemudian
akan memendek sehingga kemampuannya untuk menyerap dan mencerna makanan pun
akan berkurang. Pada saat ini biasanya diare mulai timbul, setelah itu sel retikulum akan
melebar dan kemudian akan terjadi infiltrasi sel limfoid dari lamina propia, untuk
mengatasi infeksi sampai terjadinya penyembuhan.

Patogenesa Diare Karena Bakteri

Bakteri masuk ke dalam traktus digestivus, kemudian berkembang biak di


dalamnya. Bakteri kemudian mengeluarkan toksin yang akan merangsang epitel usus
sehingga terjadi peningkatan aktivitas enzim adenil siklase (bila toksin bersifat tahan
panas / labil toksin / LT) atau enzim guanil siklase (bila toksin bersifat tahan panas /
stabil / ST). sebagai akibat peningkatan aktivitas enzim – enzim ini akan terjadi
peningkatan cAMP (cyclic adenosine monophospate) atau cGMP (cyclic guanosine
monophospate) yang mempunyai kemampuan merangsang sekresi kloride, netrium dan
air dalam sel ke lumen usus serta menghambat absorbsi natrium, kloride dan air dari
lumen usus ke dalam sel. Hal ini akan menyebabkan peninggian tekanan osmotik di
dalam lumen (hiperosmolar). Kemudian akan terjadi hiperperistaltik usus untuk
mengeluarkan cairan yang berlebihan dalam lumen usus, sehingga cairan dapat dialirkan
dari lumen usus halus ke lumen usus besar (colon). Dan bila kemampuan penyerapan
colon berkurang, atau sekresi cairan melebihi kapasitas penyerapan colon, maka akan
terjadi diare.

Manifestasi kinis
Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainnya bila
terjadi komplikasi ekstra intestinal termasuk manifestasi neurologik. Gejala
gastrointestinal bisa berupa diare, kram perut dan muntah. Sedangkan manifestasi
sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya.
Pederita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion
natrium, klorida dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada

13
muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini bisa menyebabkan
dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemi. Dehidrasi merupakan keadaan yang
berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian
bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat
berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik (hipernatremik), atau dehidrasi hipotonik.
Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan sedang, atau dehidrasi
berat.
Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat dehidrasi.
Panas badan umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri perut yang
lebih hebat dan tenesmus yang terjadi pada perut bagian bawah serta rektum
menunjukkan terkenannya usus besar.

Komplikasi Diare
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
1. Kehilangan cairan (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena output air lebih banyak dari pada input air. Klasifikasi
tingkat dehidrasi anak dengan diare yaitu :
Kriteria Dehidrasi menurut WHO 2009

Penilaian Dehidrasi Menurut MTBS

14
2. Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis)
Metabolik asidosis terjadi karena :
a. Kehilangan Na-bikarbonat bersama feses
b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak yang tidak sempurna
sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh.
c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan.
d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat
dikeluarkan oleh ginjal.
e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraselular ke dalam cairan intraselular.

Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernapasan,


pernapasan bersifat cepat, teratur dan dalam yang disebut pernapasan kuszmaull.
Pernapasan ini merupakan homeostasis respiratorik yaitu usaha dari tubuh untuk
mempertahankan pH darah.

3. Hipoglikemia
Pada anak-anak dengan gizi baik/cukup, hipoglikemia ini jarang terjadi, lebih
sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita KEP. Hal ini terjadi karena :
a. Penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu
b. Adanya gangguan absorbsi glukosa.
Gejala hipoglikemia dapat muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40
mg% pada bayi dan 50 mg% pada anak-anak. Gejala hipoglikemia tersebut berupa:
lemas, apatis, peka rangsang, tremor, pucat, berkeringat, syok, kejang sampai koma.

4. Gangguan gizi
Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya
penurunan berat badan dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena :
a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare dan/atau
muntahnya akan bertambah berat.
b. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengenceran.

15
c. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik
karena adanya hiperperistaltik.

5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan
sirkulasi darah berupa rejatan (shock) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang
dan terjadi hipoksia dan asidosis bertambah berat. Kemudian dapat mengakibatkan
perdarahan di otak yang menimbulkan turunnya kesadaran (soporokomatusa) dan bila
tidak segera ditangani penderita dapat meninggal.

Kriteria Diagnosis
a. Anamnesis
 Lama diare berlangsung, frekuensi diare dalam sehari, warna dan konsistensi
tinja, lendir dan atau darah dalam tinja
 Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air kecil
terakhir, demam, sesak, kejang, kembung
 Jumlah cairan yang masuk selama diare
 Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi
makanan yang tidak biasa
 Penderita diare disekitarnya dan sumber air minum

b. Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum, kesadaran, dan tanda vital
 Tanda utama: keadaan umum gelisah/cengeng atau lemah/letargi/koma, rasa
haus, turgor kulit abdomen menurun
 Tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir,
mulu, dan lidah
 Berat badan
 Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti napas cepat
dan dalam (asidosos metabolik), kembung (hipokalemia), kejang (hipo atau
hipernatremia)

16
 Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria berikut:
 Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan)
 Tidak ditemukan tanda utama dan tandda tambahan
 Keadaan umum baik, sadar
 Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada,
mukosa mulut dan bibir basah
 Turgor abdomen baik, bising usus normal
 Akral hangat

 Dehidrasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)


 Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda
tambahan
 Keadaan umum gelisah atau cengeng
 Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata kurang,
mukosa mulut dan bibir sedikit kering
 Turgor kurang, akral hangat
 Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
 Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih tanda
tambahan
 Keadaan umum lemah, letargi, atau koma
 Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada,
mukosa mulut dan bibir sangat kering
 Turgor sangat kurang dan akral dingin

c. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak
diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab
dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada
penderita dengan dehidrasi berat. Contoh : pemeriksaan darah lengkap, kultur
urine dan tinja pada sepsis atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium
yang kadang-kadang diperlukan pada saat diare akut :

17
Darah: darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur
dan kepekaan terhadap antibiotika.
Feses :
PH asam  diare osmotic
Leukosit > 5 / LPB  disentri
Hal yang dinilai pada pemeriksaan feses:
- Makroskopis : konsistensi, warna, lendir, darah, bau
- Mikroskopis : leukosit, eritrosit, parasit, bakteri
Bentuk klinis diare berdasarkan penyebabnya :

Pengobatan Diare
Terapi tanpa dehidrasi :
Cairan rehidrasi oralit dengan menggunakan New Oralit diberikan 5-10 mL/kgBB
setiap diare cair atau berdasarkan usia, umur <1 tahun sebanyak 50-100 mL, umur 1-5
tahun sebanyak 100-200 mL dan umur diatas 5 tahun semaunya. Dapat diberikan cairan
rumah tangga sesuai kemauan anak. ASI harus tetap diberikan.

Dehidrasi ringan sedang :


Cairan rehidrasi oral (CRO) hiperosmolar diberikan sebanyak 75 mL/kgBB dalam
3 jam untuk mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi dan sebanyak 5-10 mL/kgBB
setiap diare cair. Rehidrasi parenteral (intravena) diberikan bila anak muntah setiap diberi

18
minum walaupun telah diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui
pipanasogastrik. Cairan intravena yang diberikan adalah ringer laktat atau KaEN 3B atau
NaCl dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan berat badan. Status hidrasi dievaluasi
secara berkala. BB 3-10 kg : 200 mL/kgBB/hari, BB 10-15 kg :175 mL/kgBB/hari, BB
>15 kg : 135 mL/kgBB/hari.

Dehidrasi berat :
Diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat atau ringer asetat 100
mL/kgBB dengan cara pemberian : Umur <12 bulan 30 mL/kgBB dalam 1 jam pertama,
dilanjutkan 70 mL/kgBB dalam 5 jam berikutnya. Umur >12 bulan 30 mL/kgBB dalam
30 menit pertama, dilanjutkan 70 mL/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya. Masukan cairan
peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat minum, dimulai dengan 5 mL/kgBB
selama proses rehidrasi.

Pemberian ASI / makanan


Pemberian ASI / makanan selama serangan diare bertujuan untuk memberikan gizi
pada penderita terutama bertujuan agar anak tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan.

Pemberian Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Lebih dari 90
macam enzim dalam tubuh memerlukan zinc sebagai kofaktornya, termasuk enzim
superoksida dismutase. Enzim ini berfungsi untuk metabolisme radikal bebas
superoksida sehingga kadar radikal bebas ini dalam tubuh berkurang. Pada proses
inflamasi, kadar radikal bebas superoksida meningkat, sehingga dapat merusak berbagai
jenis jaringan termasuk jaringan epitel dalam usus. Zinc yang ada dalam tubuh akan
hilang dalam jumlah besar pada saat seorang anak menderita diare. Dengan demikian
sangat diperlukan pengganti zinc yang hilang dalam proses kesembuhan seorang anak
dan untuk menjaga kesehatannya di bulan-bulan mendatang. Mulai tahun 2004, WHO-
UNICEF merekomendasikan suplemen Zinc untuk terapi diare karena suplementasi zinc
telah terbukti menurunkan jumlah hari lamanya seorang anak menderita sakit,

19
menurunkan tingkat keparahan penyakit tersebut, serta menurunkan kemungkinan anak
kembali mengalami diare 2-3 bulan berikutnya.
Banyak uji klinik yang melaporkan bahwa suplemen Zinc sangat bermanfaat untuk
membantu penyembuhan diare. Zinc sebaiknya diberikan sampai 10-14 hari, walaupun
diarenya sudah sembuh.
Adapun cara pemberian Tablet Zinc yaitu :
 Untuk bayi usia di bawah 6 bulan berikan setengah tablet zinc (10mg) sekali
sehari selama sepuluh hari berturut-turut.
 Untuk anak usia 6 bulan ke atas berikan satu tablet zinc (20 mg) sekali sehari
selama sepuluh hari berturut-turut.
 Larutkan tablet tersebut dengan sedikit (beberapa tetes)air matang atau ASI dalam
sendok teh.
 Jangan mencampur tablet zinc dengan oralit
 Tablet harus diberikan selama sepuluh hari penuh (walaupun diare telah berhenti
sebelum 10 hari)
 Apabila anak muntah sekitar setelah jam setelah pemberian tablet zinc, berikan
lagi tablet zinc dengan cara memberikan potongan lebih kecil dan berikan
beberapa kali hingga satu dosis penuh.
 Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus,tetap berikan
tablet zinc segera setelah anak dapat minum atau makan.

Pemberian Probiotik
Probiotik adalah suatu suplemen makanan, yang mengandung bakteri atau jamur
yang tumbuh sebagai flora normal dalam saluran pencernaan manusia, yang bila
diberikan sesuai indikasi dan dalam jumlah adekuat diharapkan dapat memberikan
keuntungan bagi kesehatan dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik
didalam lumen saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh
bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus. Dengan mencermati penomena
tersebut bakteri probiotik dapat dipakai dengan cara untuk pencegahan dan pengobatan
diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain,
speudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian antibiotika

20
yang tidak rasional (antibiotik asociated diarrhea ) dan travellers’s diarrhea. Terdapat
banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana diare akut pada anak.
Hasil meta analisa Van Niel dkk menyatakan lactobacillus aman dan efektif dalam
pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya diare kira-kira 2/3
lamanya diare, dan menurunkan frekuensi diare pada hari ke dua pemberian sebanyak 1-2
kali. Kemungkinan mekanisme efekprobiotik dalam pengobatan diare adalah : Perubahan
lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa patogen,
kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen pada anterosit, modifikasi toksin atau
reseptor toksin, efektrofik pada mukosa usus dan imunno modulasi. Terdapat berbagai
macam jenis probiotik yang hingga saat ini sering digunakan sebagai suplemen.
Golongan yang paling banyak digunakan adalah Lactic Acid Bacteria (LAB). Golongan
LAB dapat mengubah gula dan karbohidrat menjadi asam laktat, yang berfungsi
menurunkan kadar pH saluran gastrointestinal, sehingga menghambat pertumbuhan
bakteri patogen. Contoh strain golongan LAB adalah Lactobacillus dan Bifidobacterium.
Sejak dipublikasikan pertama kali oleh seorang peneliti Rusia, Eli Metchnikoff, pada
awal abad 20, penelitian tentang probiotik hingga saat ini banyak dilakukan untuk
menguji kemanfaatannya pada populasi anak. Produk komersial yang mengandung
probiotik sebagai suplemen banyak tersedia di pasaran. Kemanfaatan probiotik terutama
banyak dilihat dari aspek pencegahan dan terapi penyakit, terutama penyakit alergi dan
infeksi. Penggunaan probiotik untuk diare pada anak merupakan fokus studi yang paling
banyak dilakukan dalam penilaian kemanfaatan probiotik. Secara teoritis, probiotik dapat
mengurangi keparahan diare melalui efek kompetisi dengan patogen, imunomodulator,
meningkatkan sekresi IgA mukosa usus, dan mengurangi kejadian intoleransi laktosa.
Pemberian probiotik terlihat bermanfaat dalam tatalaksana diare akut. Meta-analisis
yang dilakukan oleh Szajewska et al menunjukkan bahwa pemberian suplemen
Lactobacillus mengurangi durasi diare akut sehari lebih cepat dibandingkan plasebo (95%
CI) dengan level of evidence 1a. Efektivitasnya terutama lebih baik pada mereka dengan
etiologi rotavirus, yang merupakan penyebab terbanyak diare akut pada anak.

21
Pemberian Antibiotik
Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh
karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). Antibiotik hanya diperlukan pada
sebagian kecil penderita diare misalnya kholera shigella, karena penyebab terbesar dari
diare pada anak adalah virus (Rotavirus). Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan
karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi
kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gajala yang berat
serta berulang atau menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir yang jelas atau
segala sepsis.

Pencegahan Diare
Penatalaksanaan kasus yang benar, yang terdiri dari upaya rehidrasi oral dan
pemberian makanan dapat mengurangi efek buruk diare yang meliputi dehidrasi,
kekurangan gizi dan resiko kematian. Cara-cara lain juga dibutuhkan, untuk mengurangi
insidensi diare, yaitu intervensi yang selain mengurangi penyebaran mikroorganisme
penyebab diare juga meningkatkan resistensi anak terhadap infeksi kuman ini.
Sejumlah intervensi telah diusulkan untuk mencegah diare pada anak, kebanyakan
meliputi cara yang berhubungan dengan cara pemberian makanan kepada bayi,
kebersihan perseorangan, kebersihan makanan, penyediaan air bersih, pembuangan tinja
yang aman dan imunisasi. Ada 7 cara diidentifikasi sebagai sasaran untuk promosi, yaitu:
1. Pemberian ASI
2. Perbaikan makanan pendamping ASI
3. Penggunaan air bersih untuk kebersihan dan untuk minum
4. Cuci tangan
5. Penggunaan jamban
6. Pembuangan tinja bayi yang aman
7. Imunisasi campak.

Penderita yang dirawat inap harus ditempatkan pada tindakan pencegahan enterik,
termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita, penggunaan jas
panjang bila ada kemungkinan pencemaran dan sarung tangan bila menyentuh bahan

22
yang terinfeksi. Penderita dan keluarganya harus dididik mengenai cara penularan
enteropatogen dan cara-cara mengurangi penularan.

KESIMPULAN

Diare akut adalah pengeluaran feses yang lebih dari 3 kali sehari dengan adanya air
pada tinja dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare dapat menyebabkan dehidrasi baik
ringan sedang maupun berat. Penatalaksanaan pada penderita diare yang disertai
dehidrasi haruslah sesuai dengan tingkat keparahan dehidrasi pasien. Apabila
penatalaksanaan sesuai maka prognosisnya pun akan baik.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman, R.E et.all. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th edition. International


Edition. Saunders 2004. p 1239-1241.
2. Ganna, Herry. Melinda, Heda. Ilmu Kesehatan Anak Pedoman Diagnosis dan
Terapi. Edisi 3. Bandung : 2005.
3. Diare Akut. Subagyo B, Santoso NB. Gastroenterologi-Hepatologi. IDAI, Jakarta,
2015.
4. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I,
Editor A. H. Markum dkk, BP FKUI. Jakarta, 1996 : 448 – 446.
5. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI : Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak,
Jilid I, Editor Husein Alatas dan Rusepno Hasan, BP FKUI, Jakarta, 1985 : 283 :
312.
6. Gastroenterologi Anak Praktis : Editor Suharyono, Aswitha Boediarso, EM.
Halimun, BP FKUI, Jakarta, 1988 : 51 – 69.

24