Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan karunia-Nya makalah ini dapat terselesaikan sesuai dengan apa yang diharapkan. Makalah
berjudul “Kriteria Penetapan Audit” ini adalah suatu pembahasan dalam rangka memperdalam
pemahaman mengenai mata kuliah Audit Kinerja, yang sangat diperlukan khususnya dalam
dunia akuntansi.
Demikian makalah ini penulis selesaikan dengan sebaik-baiknya, namun tidak ada
gading yang tak retak. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini kedepannya.
Terima kasih dan semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya
dan dapat memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.

Medan, 3 November 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

COVER
PENGANTAR ......................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI............................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 3
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................................. 3
1.3 Tujuan ................................................................................................................................ 3
1.4 Manfaat .............................................................................................................................. 4
BAB 2 PEMBAHASAN .......................................................................................................... 5
2.1 Pengertian Kriteria Audit ................................................................................................... 5
2.2 Penggunaan Kriteria Audit ............................................................................................... 11
2.3 Manfaat Kriteria Audit...................................................................................................... 12
2.4 Karakteristik Kriteria Audit .............................................................................................. 12
2.5 Langkah-langkah Menentukan Kriteria Audit .................................................................. 13
2.6 Hubungan antara Auditor dengan Auditee dalam Menentukan Kriteria Audit ................ 15
BAB 3 PENUTUP .................................................................................................................. 18
3.1 Simpulan ........................................................................................................................... 18
3.2 Saran ................................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 19

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keunikan dari audit kinerja–yang juga merupakan tantangan terberat bagi auditor–
adalah dalam menetapkan kriteria. Dalam audit laporan keuangan kriterianya sudah baku,
yaitu Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Hal ini berbeda dari audit kinerja, di mana
kriterianya bersifat spesifik untuk setiap tujuan audit. Dalam hal auditee telah memiliki
kriteria pengukuran keberhasilan, auditor harus menguji kriteria tersebut. Dalam kondisi
auditor belum memiliki kriteria pengukuran keberhasilan, auditor harus membangun
kriteria tersebut.
Mengingat kriteria merupakan ukuran yang digunakan untuk menilai tingkat
keberhasilan kinerja entitas yang audit, maka kelemahan dalam penetapan kriteria akan
sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan audit dan pemberian rekomendasi kepada
auditee. Oleh karena itu, auditor perlu memilih kriteria yang tepat untuk menilai pekerjaan
auditee sekaligus mengomunikasikannya dengan auditee.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dalam makalah ini akan lebih dibahas
mengenai kriteria audit, khususnya dalam hal pengertian kriteria audit, penggunaan
kriteria audit, manfaat kriteria audit, karakteristik kriteria audit, langkah-langkah dalam
menentukan kriteria audit, dan hubungan antara auditor dengan auditee dalam menentukan
kriteria audit.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian kriteria audit?
1.2.2 Bagaimana penggunaan kriteria audit?
1.2.3 Apa manfaat kriteria audit?
1.2.4 Apa karakteristik kriteria audit?
1.2.5 Apa langkah-langkah dalam menentukan kriteria audit?
1.2.6 Bagaimana hubungan antara auditor dengan auditee dalam menentukan kriteria
audit?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian kriteria audit.
1.3.2 Untuk mengetahui penggunaan kriteria audit.

3
1.3.3 Untuk mengetahui manfaat kriteria audit.
1.3.4 Untuk mengetahui karakteristik kriteria audit.
1.3.5 Untuk mengetahui langkah-langkah dalam menentukan kriteria audit.
1.3.6 Untuk mengetahui hubungan antara auditor dengan auditee dalam menentukan
kriteria audit.

1.4 Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu manfaat bagi penulis
dan manfaat bagi pembaca. Manfaat bagi penulis adalah
1.4.1.1 melatih kemampuan analisis,
1.4.1.2 menambah kemampuan menulis makalah.
Manfaat makalah ini bagi pembaca adalah
1.4.2.1 sebagai bahan referensi untuk pembaca,
1.4.2.2 sebagai bahan kajian bagi penulisan yang relevan.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kriteria Audit


Kriteria adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu. Audit
adalah sebuah proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti kejadian
ekonomi secara objektif mengenai kebijakan serta aktivitas ekonomi untuk menentukan
tingkat kecocokan/kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria yang telah ditetapkan dan
menyampaikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan.
Jadi, kriteria audit adalah standar, ukuran, harapan, dan praktik terbaik yang
seharusnya dilakukan atau dihasilkan oleh entitas yang diaudit. Auditor dapat
menggunakan dua pendekatan untuk menetapkan kriteria, yaitu kriteria proses dan kriteria
hasil.
Untuk membedakan kedua pendekatan tersebut, kita dapat menggunakan dua
pertanyaan berikut:
1. Apakah auditee telah bekerja dengan cara yang benar?
Jawaban pertanyaan ini mengarah pada penggunaan sumber daya dan proses kerja
auditee.
2. Apakah auditee telah mencapai hasil yang benar?
Jawaban pertanyaan ini mengarah pada hasil kerja auditee.
Penilaian proses dan hasil hanya dapat dilakukan dengan baik apabila sudah tersedia
standarnya, yaitu standar proses kerja termasuk input-nya dan standar output-nya.
Penetapan kriteria proses dan kriteria hasil dikaitkan dengan tujuan audit sebagai
berikut.
1. Pada audit kinerja, kriteria proses berkaitan dengan cara kerja dan sumber daya yang
seharusnya digunakan dalam proses pekerjaan. Kriteria hasil berkaitan dengan
tercapainya 3E (Ekonomi, Efisiensi, dan Efektivitas) sesuai dengan standar yang
ditetapkan.

5
Ekonomi Efisiensi Efektivitas

Sumber Daya Program Output Outcome/Hasi


Input Fungsi Barang l
Manusia Pengiriman Jasa Pencapaian
Keuangan barang dan Pendapatan sasaran dan
Peralatan jasa Peraturan tujuan
Bahan Perolehan Kepuasan
Fasilitas pendapatan klien
Informasi Peraturan Efek dan
Energi Fungsi dampak
Tanah pendukung program

a. Ekonomi
Untuk menilai ekonomi (kehematan) kita dapat menggunakan kriteria proses
dan/atau kriteria hasil. Kriteria proses adalah standar yang dapat digunakan oleh
auditor untuk menilai apakah pengadaan sumber daya (input) dan proses kerja
sudah dilakukan oleh auditee secara memadai di bidang-bidang kegiatan yang
diperiksa. Kriteria hasil adalah standar yang digunakan oleh auditor untuk menilai
apakah barang, jasa, atau perubahan yang dihasilkan oleh auditee sudah memadai
di bidang-bidang kegiatan yang diperiksa.
Contoh perumusan kriteria proses dan kriteria hasil dalam penilaian ekonomi:

Hal yang Dinilai Kriteria Proses Kriteria Hasil


Kebutuhan sumber  Persyaratan jenis dan jumlah Sumber daya yang
daya seharusnya sumber daya yang diperlukan dihasilkan harus sesuai
dibatasi dan ditentukan dengan jelas. dengan persyaratan yang
dikaitkan hanya  Kewajaran cara penyediaan ditentukan sebelumnya.
untuk kegiatan sumber daya dinilai secara
yang relevan objektif.
dengan pencapaian  Kebutuhan sumber daya
tujuan yang ditelaah secara teratur.
ditentukan.  Kebutuhan sumber daya
ditentukan sedemikian rupa
sehingga dapat dipenuhi
dengan cara yang hemat.
 Spesifikasi sumber daya
disesuaikan dengan pekerjaan

6
yang membutuhkan sumber
daya tersebut.
 Program pemeliharaan
perlengkapan dikaitkan dengan
kebutuhan pelayanan yang
diharapkan.
 Pemilihan di antara berbagai
alternatif jenis sumber daya
didasarkan pada analisis biaya
dan manfaat.
Sumber daya  Diadakan analisis untuk Sumber daya diadakan
seharusnya mendapatkan pilihan sumber dengan memerhatikan
diadakan secara daya yang memadai. kehematan pada jumlah,
hemat ditinjau dari  Proses pengadaan dimulai pada mutu, dan waktu yang
jumlah, mutu, dan waktu yang tepat untuk tepat.
waktu yang tepat. menjamin tersedianya jumlah
yang dibutuhkan pada saat
diperlukan.
 Tanggung jawab setiap langkah
dalam proses pengadaan
digambarkan secara jelas.
Pengendalian dan  Didasarkan pada analisis  Tingkat persediaan
penyimpanan kebutuhan persediaan. harus sesuai dengan
persediaan harus  Diadakan analisis mengenai standard dan
hemat. jumlah, ukuran, dan tempat berdasarkan analisis
penyimpanan yang menjamin penggunaan.
kelancaran pelayanan dengan  Jumlah, ukuran,
biaya murah. tempat, dan fasilitas
 Didasarkan pada analisis cara penyimpanan harus
distribusi yang pantas. sesuai dengan standar
biaya dan
berdasarkan analisis
kebutuhan pelayanan.

7
Perbaikan dan  Program pemeliharaan  Biaya perbaikan dan
pemeliharaan dikaitkan dengan kebutuhan pemeliharaan harus
sarana harus hemat kerja. sesuai dengan standar
 Ditetapkan standar biaya dan standar
pelaksanaan dan biaya pelaksanaan yang
pemeliharaan. telah ditetapkan.
 Diadakan analisis kebutuhan  Fasilitas perbaikan
fasilitas perbaikan dan dan pemeliharaan
pemeliharaan. harus sesuai dengan
 Diadakan analisis apakah standar biaya.
perbaikan dan pemeliharaaan  Keputusan perbaikan
lebih murah dikerjakan sendiri dan pemeliharaan
atau dengan outsourcing. apakah dikerjakan
 Diadakan analisis apakah sendiri atau
peralatan membutuhkan outsourcing harus
perbaikan, penggantian, atau sesuai dengan hasil
penghapusan. analisis yang
memadai.
 Keputusan tentang
alternatif
memperbaiki,
mengganti, atau
menghapus harus
sesuai dengan analisis
yang memadai.
Prosedur  Pilihan antara menahan atau  Bahan yang usang
penggunaan bahan membuang sisa bahan ditelaah seharusnya tidak ada
seharusnya ditaati secara teratur. di bidang yang
untuk menjamin  Biaya pengurusan sisa bahan ditelaah.
agar bahan tidak diidentifikasi dan dihitung  Bahan yang dibuang
disalahgunakan. dengan tepat. ditentukan
Sisa bahan berdasarkan hasil
seharusnya

8
menghasilkan analisis yang
manfaat yang memadai.
maksimal bagi
pemilik.
b. Efisiensi
Ukuran efisiensi juga dibagi menjadi efisiensi proses dan efisiensi hasil.
Contoh kriteria proses dan kriteria hasil dalam menilai efisiensi:
Kriteria Proses Kriteria Hasil
 Organisasi disusun agar para Hasil seharusnya memadai, dikaitkan
pegawainya dapat bekerja tanpa dengan standar petunjuk efisiensi yang
overlapping dan dengan penundaan telah ditentukan.
seminimal mungkin.
 Produksi dijadwalkan dan
direncanakan dengan tepat untuk
mengurangi
keterlambatan/penundaan, kapasitas
menganggur, pemborosan waktu,
dan penumpukan pekerjaan.
 Metode dan prosedur kerja
disederhanakan.
 Analisis penggantian peralatan
untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan.
 Pekerjaan direncanakan untuk
tingkatan skala yang tepat.
 Pekerjaan direncanakan agar sumber
daya sesuai dengan perkiraan beban
kerja.
 Rencana penghematan tenaga,
modal, dan perlengkapan digunaka
secara tepat untuk meningkatkan
produktivitas.

9
 Teknik penelitian diterapkan bila
melibatkan keputusan yang rumit.
 Pegawai dilatih, dimotivasi, dan
diberikan peralatan kerja yang
memadai.
c. Efektivitas
Pengukuran efektivitas dapat dilakukan berdasarkan kriteria proses dan kriteria
hasil.
Contoh perumusan kriteria proses dan kriteria hasil dalam menilai efektivitas:
Kriteria Proses Kriteria Hasil
 Sasaran operasional dan pengaruh Output program sesuai dengan tujuan
hasil atau tujuan program harus yang telah ditetapkan dan dampak yang
ditetapkan setepat mungkin. diinginkan.
 Ukuran sasaran operasional dan
pengaruh hasil atau tujuan program
seharusnya dapat diidentifikasi.
 Prosedur untuk mengukur efektivitas
operasionall dan efektivitas program
harus mencerminkan pernyataan
seni dan biaya yang dibenarkan.
 Hasil pengukuran efektivitas harus
dilaporkan kepada penanggung
jawab atau pembuat keputusan
mengenai operasi dan program.
 Penilaian efektivitas operasional dan
efektivitas program seharusnya
digunakan untuk meningkatkan
efektivitas.
2. Pada audit keuangan, kriteria proses berkaitan dengan standar, cara kerja, dan
pengguanaan sumber daya untuk menghasilkan informasi yang benar dalam rangka
pengambilan keputusan. Kriteria hasil diwujudkan dalam bentuk informasi yang benar
dan dapat dipercaya sebagai bahan pengambilan keputusan.

10
3. Pada audit kepatuhan, kriteria proses berkaitan dengan penggunaan cara-cara dan
penggunaan sumber daya yang dapat menjamin terpenuhinya ketaatan atas kriteria
hasil.
Meskipun dalam setiap tujuan audit kita dapat menggunakan dua jenis kriteria
audit, yaitu kriteria proses dan kriteria hasil, dalam praktiknya penerapan kriteria proses
dan kriteria hasil dalam audit dilakukan sesuai kebutuhan. Artinya, dapat digunakan salah
satu dan dapat pula secara bersamaan.

2.2 Penggunaan Kriteria Proses dan/atau Kriteria Hasil


Berikut ini adalah beberapa panduan dalam menentukan kapan sebaiknya kriteria
proses atau kriteria hasil digunakan untuk menilai kinerja auditee.
1. Apabila auditee mempunyai kriteria yang jelas atau hasil yang ingin dicapai,
penelaahan kegiatan melalui kriteria hasil tampaknya lebih efektif jika dibandingkan
dengan melalui proses.
2. Apabila hasil dinyatakan dalam bentuk kualitatif dan tidak dinyatakan secara jelas
dalam bentuk kuantitatif, auditor sebaiknya menggunakan kriteria proses.
3. Dalam hal auditee tidak memiliki proses atau cara yang baik untuk mencapai hasil
yang diinginkan, auditor akan lebih banyak menekankan audit pada kriteria hasil
dibandingkan dengan kriteria proses. Asumsi yang digunakan adalah apabila hasil
baik maka proses yang baik, walaupun sebetulnya hasil yang baik juga dapat diperoleh
dari faktor keberuntungan. Kadang kala ada pula proses kerja yang di atas kertas baik
tetapi hasilnya tidak memenuhi harapan.
4. Kriteria audit dapat dituangkan dalam bentuk model pengelolaan yang baik (model of
good management). Kriteria dalam model pengelolaan yang baik ini memuat hal-hal
yang harus ada atau dilakukan auditee terkait dengan tujuan audit yang telah
ditentukan. Model pengelolaan yang baik merupakan suatu rangkaian kriteria yang
komprehensif karena memuat baik kriteria proses maupun kriteria hasil yang sesuai
dengan tujuan audit.

11
2.3 Manfaat Kriteria Audit
Sebagai patokan dalam melakukan penilaian, suatu kriteria audit dapat
memberikan manfaat bagi auditor sebagai berikut.
1. Sebagai dasar komunikasi antara tim audit dengan manajemen entitas yang diaudit
mengenai sifat audit. Tim audit akan membuat kesepakatan dengan auditee mengenai
kriteria serta diterima atau tidaknya temuan yang didasarkan pada kriteria tersebut.
2. Sebagai alat untuk mengaitkan tujuan dengan program audit selama tahap pengujian
terinci.
3. Sebagai dasar dalam pengumpulan data dan menyediakan dasar penetapan prosedur
pengumpulan data.
4. Sebagai dasar penetapan temuan serta menambah struktur dan bentuk observasi audit.

2.4 Karakteristik Kriteria Audit


Kriteria yang tepat adalah kriteria yang sesuai dengan karakteristik khusus dari
entitas yang diaudit. Auditor harus meyakini bahwa kriteria yang digunakan sesuai untuk
menilai dan mengevaluasi kegiatan audit yang dilakukan. Karakteristik kriteria yang baik
mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Dapat dipercaya. Kriteria yang dapat dipercaya akan menghasilkan simpulan yang
sama ketika kriteria tersebut digunakan oleh auditor lainnya dalam keadaan dan
lingkungan yang sama.
2. Objektif. Kriteria yang objektif berarti bebas dari segala bias, baik dari auditor
maupun manajemen.
3. Berguna. Kriteria yang berguna artinya kriteria tersebut akan menghasilkan temuan
dan simpulan yang berguna bagi pengguna informasi (auditee).
4. Dapat dimengerti. Kriteria yang dapat dimengerti berarti kriteria tersebut secara jelas
dinyatakan dan tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda secara signifikan.
5. Dapat dipertimbangkan. Kriteria yang dapat diperbandingkan berarti konsisten
dengan kriteria yang telah digunakan dalam audit kinerja maupun kegiatan audit yang
telah dilakukan sebelumnya.
6. Kelengkapan. Kelengkapan kriteria mengacu pada pengembangan yang signifikan
atas kriteria-kriteria tertentu yang sesuai untuk menilai suatu kinerja.
7. Dapat diterima. Kriteria yang dapat diterima berarti kriteria tersebut dapat diterima
oleh semua pihak baik lembaga yang diaudit, pemerintah, maupun masyarakat umum

12
lainnya. Semakin tinggi tingkat diterimanya suatu kriteria maka semakin efektif audit
kinerja yang dilakukan.
Untuk mendapatkan kriteria yang objektif, proses penetapan kriteria harus
dilakukan dengan pertimbangan yang baik dan professional. Untuk itu sebaiknya auditor
memiliki pemahaman umum mengenai area yang akan diaudit; motif, dan dasar hukum
dari tujuan program/kegiatan pemerintah; harapan stakeholder dan pendapat ahli; serta
praktik dan pengalaman dari program/kegiatan pemerintah yang serupa.

2.5 Langkah-langkah dalam Menentukan Kriteria Audit


Penetapan kriteria audit dimulai dengan pertimbangan atas hal-hal di bawah ini.
1. Menilai Ketepatan Karakteristik Kriteria Audit
Kriteria audit haruslah tepat sesuai dengan entitas yang diaudit. Untuk menilai
ketepatan kriteria audit, auditor perlu mempertimbangkan karakteristik kriteria audit
seperti yang telah dijelaskan di atas.
2. Menentukan Sumber Kriteria Audit
Dalam audit yang mencakup aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, kriteria
audit kemungkinan tidak tersedia dan tidak terkodifikasi pada auditee. Dengan
demikian, auditor menghadapi kesulitan dalam menetapkan kriteria yang akan
digunakan sebagai dasar penilaiannya. Apabila auditee belum mempunyai kriteria
audit, auditor perlu menentukan kriteria audit. Kriteria audit dapat diperoleh dari
undang-undang, peraturan, dan standar yang dikembangkan oleh asosiasi profesi atau
lembaga ahli. Jika sumber tersebut tidak tersedia, auditor dapat mengandalkan pada
data kinerja organisasi lain, baik di dalam maupun di luar sekot pemerintahan, yang
mempunyai aktivitas atau operasi serupa; best practice yang ditentukan melalui
benchmarking atau konsultasi; dan standar yang dikembangkan oleh auditor melalui
analisis tugas atau aktivitas.
Apabila standar sudah tersedia untuk auditee, auditor perlu terlebih dahulu
menguji apakah standar itu wajar dan ada kaitannya dengan tujuan audit, sebelum
standar tersebut digunakan sebagai kriteria audit. Apabila auditor menggunakan kriteria
yang bersumber dari auditee, sebaiknya mereka lebih berhati-hati. Ada kemungkinan
informasi tersebut kurang objektif karena auditee akan memengaruhi auditor agar
mereka menentukan kriteria yang hanya dapat menghasilkan temuan positif.
Namun demikian, harus diakui pula bahwa auditee mempunyai pengetahuan
yang luas di bidangnya, baik dalam melaksanakan pekerjaan maupun dalam

13
menentukan hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu, informasi dari auditee akan
sangat bermanfaat sebagai bahan kriteria audit. Auditor sebaiknya lebih menaruh
perhatian pada auditee sebagai sumber informasi dibandingkan dengan sumber-sumber
lainnya karena dari auditee akan diperoleh banyak informasi yang berkaitan dengan
standar pelaksanaan pekerjaan, termasuk standar input dan standar hasil kegiatan yang
ingin dicapai. Informasi ini sangat baik untuk digunakan sebagai kriteria audit.
Beberapa sumber informasi lainnya yang dapat digunakan sebagai referensi
dalam menentukan kriteria audit adalah sebagai berikut.
1. Tim audit lainnya yang pernah memeriksa kegiatan yang sama.
2. Produk-produk kerja yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
3. Undang-undang dan kebijakan entitas yang diaudit.
4. Pernyataan para ahli atau akademisi.
5. Laporan-laporan yang disusun oleh entitas yang diaudit dan auditor yang pernah
memeriksa program atau kegiatan yang sama.
6. Pendapat dari pimpinan tertinggi entitas yang diaudit.
7. Kebijakan pemerintah, pengarahan menteri/pimpinan lembaga, pedoman kerja, dan
sebagainya.
8. Informasi yang berasal dari auditee, terutama dalam hal penetapan standar input,
standar proses kerja, dan standar output.
3. Mengembangkan Kriteria Audit
Untuk mendapatkan kriteria yang memenuhi syarat-syarat di atas, auditor harus
mengembangkan kriteria audit. Auditor dapat memulai dari pernyataan kriteria yang
bersifat umum atau luas sampai dengan pernyataan kriteria yang lebih khusus/spesifik,
yang dapat menuntun auditor untuk menilai tercapainya ekonomi, efisiensi, atau
efektivitas pelaksanaan dan hasil pekerjaan auditee. Semakin umum kriteria yang
digunakan oleh auditor, maka hasil penilaiannya akan semakin bersifat kualitatif dan
subjektif. Pengembangan kriteria yang lebih spesifik mempunyai manfaat yang besar
karena terdapat kepastian bahwa semua kriteria yang dipakai akan berkaitan dengan
tujuan audit.
Contoh berikut menggambarkan cara pengembangan kriteria yang berkaitan
dengan kriteria penilaian unsur ekonomi dalam perencanaan pengadaan dan
penggunaan sumber daya. Dalam arti luas, kriteria ekonomi dapat dirumuskan dengan
pernyataan berikut.

14
1. Sumber daya seharusnya diadakan dalam jumlah dan mutu yang dibutuhkan
dengan harga serendah mungkin. Dalam pernyataan ini pihak yang diperiksa
diharuskan mempunyai rencana kebutuhan dan rencana pengadaan sumber daya,
termasuk penetepan standar harga sumber daya yang akan diadakan. Pernyataan itu
masih cukup umum dan luas. Oleh karena itu, perlu dikembangkan lebih lanjut
sehingga menjadi lebih spesifik ke dalam beberapa pernyataan berikut.
2. Kriteria ini masih dapat dibuat lebih spesifik, seperti pada kriteria “kebutuhan
sumber daya seharusnya dibatasi dan hanya berkaitan dengan kegiatan dalam
rangka mencapai tujuan program” menjadi sebagai berikut.
a. Auditee seharusnya menentukan spesifikasi ciri-ciri sumber daya yang
dibutuhkan.
b. Auditee seharusnya menentukan pilihan sumber daya dalam memenuhi
kebutuhan.
c. Auditee seharusnya menganalisis alternatif sumber daya yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan.
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa semakin spesifik kriteria yang
dikembangkan, semakin mudah memahami dan mengimplementasikannya.
4. Mengomunikasikan Kriteria dengan Auditee
Kriteria yang akan digunakan sebagai alat penilaian harus didiskusikan secara
langsung dan sedini mungkin dengan auditee. Hal ini bertujuan agar auditee dapat
mengetahui, bahkan bila perlu menyetujui, penggunaannya sebagai tolok ukur dan
untuk menghindarkan penolakan atas hasil penilaian di kemudian hari.

2.6 Hubungan antara Auditor dan Auditee dalam Menentukan Kriteria


Hubungan antara auditor dan auditee dalam menentukan dan mengembangkan
kriteria audit cukup penting, namun auditor harus menyadari pengaruh negatifnya.
Berdiskusi dengan auditee memberikan kesempatan bagi auditor untuk menguji
objektivitas kriteria yang akan dipakai. Oleh karena itu, auditor harus memerhatikan
kepentingan auditee, sepanjang kepentingan tersebut tidak mengarah pada kepentingan
pribadi yang memengaruhi penilaian hasil audit. Auditor harus dapat meyakinkan auditee
tentang objektivitas kriteria yang digunakan dalam penilaian dan menunjuk sumber yang
berwenang.
Jika terjadi ketidaksepakatan antara auditor dan auditee mengenai kriteria atau
tanggung jawab manajemen, hal ini harus diungkapkan dalam kertas kerja audit disertai

15
dengan penjelasan mengapa auditor yakin bahwa manajemen bertanggung jawab atas hal
tersebut dan/atau mengapa auditor menggunakan kriteria tersebut. Banyak terjadi
kesalahpahaman antara auditor dan auditee yang disebabkan oleh penentuan dasar
penilaian yang kurang tepat. Kesalahpahaman ini sebetulnya dapat dihindari apabila
auditor dan auditee mendiskusikan kriteria audit yang akan dipakai sebelum audit
berakhir.
Pada Kotak 10.1 disajikan suatu kasus yang menggambarkan ketidaksepahaman
antara auditor dan auditee dalam penetapan kriteria audit. Dalam kasus ini, Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai auditor menggunakan kriteria unuk mengukur
perhitungan susut jaringan (losses) sebesar 9,8 persen, sedangkan PT PLN sebagai auditee
menggunakan patokan sebesar 12,58 persen sehingga terdapat selisih atau koreksi sebesar
2,78 persen (senilai Rp 1,87 triliun).
Apabila auditor tidak memperoleh pendapat atau pandangan yang sah dari auditee,
mereka dapat mengalami kesulitan pada saat pelaporan, di mana kemungkinan temuannya
akan disanggah oleh auditee. Dalam keadaan tertentu, memang auditor tidak perlu selalu
menyesuaikan kriterianya dengan keinginan auditee jika dirasakan bahwa kriterianya telah
mempunyai dukungan yang kuat untuk dipertahankan. Kesalahpahaman antara auditor dan
auditee dapat menjadi lebih serius jika diskusi tidak dilakukan secara berhati-hati. Hal ini
dapat mengakibatkan kurang lancarnya pelaksanaan tugas audit.

Kotak 10.1 Contoh Ketidaksepahaman antara Auditor dan Auditee dalam Penetapan
Kriteria Audit

BPK TAK AUDIT ULANG SUBSIDI LISTRIK


Oleh Diena Lestari

Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan tidak akan mengaudit ulang subsidi listrik 2005 dan laporan keuangan
PT PLN pada 2005.

“BPK sudah menggunakan peraturan dan ketentuan yang berlaku untuk mengaudit subsidi listrik 2005
berikut laporan keuangan dari BUMN tersebut,” tutur Kepala Biro Humas BPK, Gunarwanto, di Jakarta
kemarin.

Menurut dia, hasil audit BPK atas subsidi listrik 2005 ditemukan bahwa subsidi hasil pemeriksaan sebesar
Rp 10,6 triliun, sedangkan PT PLN menghitung kebutuhan subsidi listrik sebesar Rp 12,5 triliun.

16
Dia mengatakan plafon subsidi listrik dari pemerintah sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Perubahan 2005 sebesar Rp 12,5 triliun. Dengan demikian, paparnya, nilai subsidi listrik dalam
laporan keuangan PT PLN tahun baku 2006 harus dikoreksi karena berkurang sebesar Rp 1,87 triliun.

“Atas pengurangan tersebut, PT PLN menderita rugi usaha sebsar Rp 501,6 miliar.”

Gunarwanto menambahkan pada pemeriksaan atas subsidi listrik 2005, BPK menggunakan perhitungan
susut jaringan (losses) sesuai dengan surat Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi No.
3530/43/600.3/2005 pada 31 Oktober 2005.

Surat tersebut berisi tentang tata cara perhitungan pembayaran subsidi listrik tahun anggaran 2005. Pada
Pasal 4, katanya, ditentukan bahwa besaran maksimal perhitungan losses sesuai dengan surat Dirjen LPE
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pernyataan dari BPK tersebut dikeluarkan karena belum lama ini sesuai rapat kerja dengan Komisi VII DPR,
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, meminta agar BPK melakukan audit ulang
atas laporan keuangan PT PLN tahun baku 2005. “Audit BPK berdasarkan angka losses 12,58%, padahal
semestinya di angka 9,8%.”

Menurut dia, patokan losses 9,8% yang digunakan BPK adalah target 2005 yang ditetapkan pada 2004.
Padahal, ujarnya, angka 12,58% adalah realisasi losses PLN pada 2005. Purnomo menyatakan dengan
menggunakan losses 12,58%, maka laporan keuangan PT PLN akan menjadi baik dan menarik dana asing
untuk mendanai program pembangkit listrik 10.000MW (crash program).

“Memang PLN cukup berhasil mendapatkan obligasi internasional senilai US$1 miliar pada tahun lalu, tapi
jika dapat dilakukan re-audit oleh BPK, maka akan semakin banyak menarik pendanaan,” katanya

Sumber: Bisnis Indonesia, 8 Juni 2007.

17
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Dari keseluruhan uraian di bab ini, dapat diketahui bahwa kriteria audit sangat
penting bagi auditor maupun auditee. Kriteria yang digunakan oleh auditor harus
dikomunikasikan dengan auditee untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman.
Penetapan kriteria audit ini akan memudahkan auditor untuk mengidentifikasi jenis dan
sumber bukti audit.

3.2 Saran
Makalah ini telah membahas konsep mengenai penetapan kriteria audit. Sebagai
sebuah usulan, makalah ini tentu memiliki banyak kelemahan, terlepas dari berbagai klaim
mengenai keberhasilan yang dibuat oleh penulis. Oleh karena itu, diskusi dan
pengembangan gagasan yang diusulkan oleh pembaca sangat penulis harapkan agar dapat
menjadi masukan yang dapat semakin menyempurnakan pembuatan makalah ini
kedepannya.

18
Daftar Pustaka

Chandra, Dimas. 2013. “Penetapan Kriteria Audit”. https://dimaschandraa.wordpress.com,


diunduh pada 3 November 2018, pukul 15.13 WIB
Nicho, Eka. 2014. “Pengertian Audit”. http://nichonotes.blogspot.com, diunduh pada 3
November 2018, pukul 17.11 WIB
Rai, I Gusti Agung. 2010. Audit Kinerja pada Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat
Yulianto, Eko. 2013. “Kriteria Audit Kinerja Sektor Publik”. https://www.academia.edu,
diunduh pada 3 November 2018, pukul 19.10 WIB

19