Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

“Perubahan pada tingkat individu”

Oleh :

Kelas A

Kelompok 6

M. Fajar Ramadhan 200110170014

Wiwin Anggraeni 200110170018

Sarah Desyanti 200110170137

M. Akmal Ichwanudin 200110170184

Alga Dinullah 200110170185

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa ucapan beribu-ribu terima kasih
kepada semua pihak yang telah terlibat serta berkontribusi dalam penyusunan
makalah ini baik secara moril maupun materil.

Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan menjadi
bahan acuan bagi kita semua agar bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, dan kami sangat berharap adanya saran
dan kritik dari pembaca. Walaupun kami yakin tidak ada yang sempurna tapi kami
berusaha untuk sempurna.

Sumedang, 27 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................... ii
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Maksud dan tujuan ..................................................................... 2

II PEMBAHASAN
2.1 Proses keputusan inovasi ............................................................. 3
2.2 Tipe keputusan inovasi ................................................................ 4
2.3 Model proses keputusan inovasi (proses adopsi) dari
pandangan tradisional (menurut para ahli) .................................. 5
2.4 Kekurangan model tradisional .................................................... 7
2.5 Paradiga keputusan inovasi ......................................................... 8

III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... iii

ii
I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dianugerahi akal, pikiran dan perasaan untuk mengaktualisasikan
kehidupan di dunia. Mereka mengarahkan kehidupannya untuk lebih maju, sejahtera
dan makmur. Teknologi, komunikasi dan telekomunikasi salah satu aspek-aspek yang
mempebaruhi kehidupan masyarakat dan sampai diterapkan dalam kehidupannya
untuk mengikuti perkembangan zaman. Melalui inovasi manusia menjadi
berkarakteristik modern dimana proses perubahan sosial dan masyarakat tradisional
ke masyarakat yang lebih maju. Tanda masyarakat yang lebih maju antaranya bidang
ekonomi yang makmur, bidang politik yang stabil dan terpenuhinya pelayanan
kebutuhan pendidikan, kesehatan masyarakat. Inovasi dapat diterima ketika individu
tersebut mengetahui adanya inovasi kemudian yang dilanjutkan dengan pesetujuan
dari individu. Individu akan menerima inovasi jika tergantung atau sesuai dengan
nilai-nilai warga masyarakat .proses tersebut memerlukan jangka waktu yang tidak
relatif singkat sehingga individu dapat menilai gagasan baru itu sebagai pertimbangan
diterimanya atau penolakan inovasi dalam penerapannya.

Konsep dasar proses keputusan inovasi merupakan proses mental dimana


seseorang atau lembaga melewati serangkaian proses yang diperlukan, mulai dari
pengetahuan awal tentang suatu inovasi sampai membentuk sebuah sikap terhadap
inovasi tersebut, membuat keputusan apakah menerima atau menolak inovasi
tersebut, mengimplementasikan gagasan baru tersebut, dan mengkonfirmasi
keputusan ini. Seseorang akan mencari informasi pada berbagai tahap dalam proses
keputusan inovasi untuk mengurangi ketidakyakinan tentang akibat/dampak atau
hasil dari inovasi tersebut. Proses keputusan inovasi ini adalah sebuah model teoritis
dari tahapan pembuatan keputusan tentang pengadopsian suatu inovasi teknologi

1
baru. Untuk sampai menerima keputusan yang mantap perlu adanya kejelasan
informasi yang akan mengurangi ketidakpastian dan berani mengambil keputusan.
Maka dari itu kelompok kami akan membahas tentang perubahan pada tingkat
individu yang berkaitan dengan proses keputusan inovasi.

1.2 Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud proses keputusan inovasi ?

2. Apa saja tipe dari keputusan inovasi menurut para ahli ?

3. Bagaimana proses keputusan inovasi itu terjadi ?

1.3 Maksud dan tujuan

1. Memahami definisi proses keputusan inovasi

2. Mengetahui tipe dari keputusan inovasi

3. Mengerti jalannya proses keputusan inovasi

2
II

PEMBAHASAN

2.1 Proses keputusan inovasi

Menurut (Saefudin, 2008), proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui
(dialami) individu, mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan
dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau
menolak, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang
telah diambilnya. Proses keputusan inovasi bukan kegiatan yang dapat berlangsung
seketika, tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka
waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan yang baru itu
sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau menerima inovasi
dan menerapkanya. Definisi lain menyebutkan proses keputsan inovasi ialah proses
yang dilalui individu mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan
dengan keuputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau
menlak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi
yang telah diambilnya. Proses keputusan inovsdi bukan kegiatan yang dapat
berlangsung seketika, tetapi meruapakan searangkaian kegiatan yang berlangsung
dalam jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan
yang baru itu sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau
menerima inovasi dan menerapkannya. Cirri pokok keputusan inovasi dan merupakan
perbedaannya dengan tipe keputusan yang lain adalah dimulai denga adannya
ketidaktentuan tentang sesuatu.

Proses Inovasi berkaitan dengan bagaimana suatu inovasi itu terjadi, di sini
ada unsur keputusan yang mendasarinya, oleh karena itu proses inovasi dapat

3
dimaknai sebagai proses keputusan Inovasi (Innovation decision Process). Menurut
Everett M Rogers proses keputusan inovasi adalah the process through which an
individual (or other decision making unit) passes from first knowledge of an
innovation,to forming an attitude toward the innovation, to a decision to adopt or
reject, to implementation of the new idea, and to confirmation of this decision. Ciri
pokok keputusan inovasi dan merupakan perbedaannya dengan tipe keputusan yang
lain ialah dimulai dengan adanya ketidaktentuan (uncertainly) tentang sesuatu
(inovasi).

2.2 Tipe keputusan inovasi

Menurut (Ibrahim, 1988), ada beberapa tipe keputusan inovasi :

1. Keputusan inovasi opsional

Yaitu pemilihan menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang


ditentukan oleh individu atau seseorang secara mandiri tanpa tergantung atau
terpengaruh dorongan anggota system social yang lain. Meskipun dalam hal ini
individu mengambil keputusan itu berdasarkan norma system soaial atau hasil
komunikasi interpersonal dengan anggota system social yang lain. Jadi hakikat
pengertian keputusan inovasi opsional ialah individu yang berperan sebagai
pengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi.

2. Keputusan inovasi kolektif

Yaitu pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan


keputusan yang dibuat secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan antar anggota
masyarakat. Semua anggota masyarakat harus mentaati keputusan bersama yang telah
dibuatnya.

4
3. Keputusan inovasi otoritas

Yaitu pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan


keputusan yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai
kedudukan, status, wewenang atau kemampuan yang lebih tinggi dari pada anggota
yang lain dalam suatu sistem sosial. Para anggotasistem social tersebut tidak
mempunyai pengaruh atau peranan dalam membuat keputusan inovasi, melainkan
hanya melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh unit pengambil keputusan.

4. Keputusan inovasi kontingensi / contingent

Yaitu pemilihan menerima atau menolak suatu inovasi, baru dpat dilakukan
hanya setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Ciri pokok dari keputusan
inovasi kontingen ialah digunakanya dua atau lebih keputusan inivasi secara
bergantian untuk menangani suatu difusi inovasi, terserah yang mana yang akan
digunakan dapat keputusan opsional, kolektif atau otoritas.

2.3 Model proses keputusan inovasi (proses adopsi) dari pandangan tradisional
(menurut para ahli)

Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai


cara bertindak yang paling baik. Keputusan inovasi merupakan proses mental, sejak
seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima
atau menolaknya kemudian mengukuhkannya. Keputusan inovasi merupakan suatu
tipe pengambilan keputusan yang khas (Suprapto dan Fahrianoor, 2004).

Mardikanto dan Sri Sutarni (1982) mengartikan adopsi sebagai penerapan atau
penggunaan sesuatu ide, alat-alat atau teknologi baru yang disampaikan berupa pesan
komunikasi (lewat penyuluhan). Manifestasi dari bentuk adopsi ini dapat dilihat atau

5
diamati berupa tingkah laku, metoda, maupun peralatan dan teknologi yang
dipergunakan dalam kegiatan komunikasinya.

Dalam model proses adopsi, ada 5 tahap yang dilalui sebelum seseorang mengadopsi
suatu inovasi yaitu sadar (awreness), minat (interest), menilai (evaluation),
mencoba (trial) dan adopsi (adoption).

1. Tahap Sadar

Sasaran telah mengetahui informasi tetapi informasi tersebut dirasa kurang.


Pada tahap ini sasaran mulai sadar tentang adanya inovasi yang ditawarkan oleh
penyuluh. Pada tahap ini sasaran sudah maklum atau menghayati sesuatu hal yang
baru yang aneh tidak biasa (kebiasaan atau cara yang mereka lakukan kurang baik
atau mengandung kekeliruan, cara baru dapat meningkatkan hasil usaha dan
pendapatannya, cara baru dapat mengatasi kesulitan yang sering dihadapi). Hal ini
diketahuinya karena hasil berkomunikasi dengan penyuluh. Tahapan mengetahui
adanya inovasi dapat diperoleh seseorang dari mendengar, membaca atau melihat,
tetapi pengertian seseorang tersebut belum mendalam.

2. Tahap Minat

Sasaran mencari informasi atau keterangan lebih lanjut mengenai informasi


tersebut. Pada tahap ini sasaran mulai sadar tentang adanya inovasi yang ditawarkan
oleh penyuluh. Pada tahap ini sasaran mulai ingin mengetahui lebih banyak perihal
yang baru tersebut. Ia menginginkan keterangan-keterangan yang lebih terinci lagi.
Sasaran mulai bertanya-tanya.

3. Tahap Menilai

Sasaran sudah menilai dengan cara value/bandingkan inovasi terhadap


keadaan dirinya pada saat itu dan dimasa yang akan datang serta menentukan apakah

6
petani sasaran mencoba inovasi atau tidak. Pada tahap ini sasaran mulai berpikir-pikir
dan menilai keterangan-keterangan perihal yang baru itu. Juga ia menghubungkan
hal baru itu dengan keadaan sendiri (kesanggupan, resiko, modal, dll.).
Pertimbangan- pertimbangan atau penilaian terhadap inovasi dapat dilakukan dari tiga
segi, yaitu teknis, ekonomis dan sosiologis.

4. Tahap Mencoba

Sasaran sudah mencoba meskipun dalam skala kecil untuk menentukan angka
dan kesesuaian inovasi atau tidak. Pada tahap ini sasaran sudah mulai mencoba-coba
dalam luas dan jumlah yang sedikit saja. Sering juga terjadi bahwa usaha mencoba ini
tidak dilakukan sendiri, tetapi sasaran mengikuti (dalam pikiran dan percakapan-
percakapan), sepak terjang tetangga atau instansi mencoba hal baru itu (dalam
pertanaman percobaan atau demosntrasi).

5. Tahap Adopsi/Menerapkan

Sasaran menggunakan ide baru itu secara tetap dalam ruang lingkup yang
luas.

2.4 Kekurangan model tradisional

1. Proses berakhir dengan keputusan untuk mengadopsi, kenyataannya mungkin


hasilnya akhirnya menghasilkan penolakan.

2. Lima tahap tersebut tidak selalu terlaksana secara sistematis dan mungkin beberapa
terlewatkan sehingga tidak maksimal. Penilaian terjadi pada keseluruhan proses.

3. Proses itu jarang berakhir dengan adopsi.

7
8
2.5 Paradigma keputusan inovasi

Menurut (Rogers, 1983) , proses keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu
(1) tahap pengetahuan, (2) tahap bujukan, (3) tahap keputusan, (4) tahap
implementasi dan (5) tahap konfirmasi. Ke- 5 tahap proses keputusan inovasi dapat
dilihat pada bagan berikut ini:

1. Tahap Pengetahuan / Knowledge

Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan, yaitu tahap pada
saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi
inovasi tersebut. Seseorang menyadari atau membuka diri terhadap suatu inovasi
tentu dilakukan secara aktif bukan pasif. Begitupun seseorang menyadari perlunya
mengetahui inovasi biasanya berdasarkan pengamatanya tentang inovasi tersebut
sesuai dengan kebutuhan, minat atau mungkin juga kepercayaanya. Adanya inovasi
menumbuhkan kebutuhan karena kebetulan ia merasa butuh, tapi mungkin juga
terjadi karena seseorang butuh Sesutu maka untuk memenuhinya dibutuhkan inovasi.

Setelah seseorang menyadari adanya inovasi dan membuka dirinya untuk


mengetahui inovasi, maka keaktifan untuk memenuhi kebutuhan ingin tahu tantang
inovasi itu bukan hanya berlangsung pada tahap pengetahuan saja tetap juga ada
tahap yang lain bahkan sampai tahap konfirmasi masih ada keinginan untuk
mengetahui aspek-aspek tertentu dari inovasi.

2. Tahap Bujukan/ Persuation

Tahap ini berlangsung ketika seseorang atau unit pengambil keputusan yang
lain, mulai membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi.
Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama bidang kognitif,
maka pada tahap persuasi yang berperan utama bidang afektif atau perasaan.

9
Dalam tahap persuasi ini juga sangat penting peran kemampuan untuk
mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di masa dating. Perlu ada
kemampuan untuk memproyeksikan penerapan inovasi dalam pemikiran berdasarkan
kondisi dan situasi yang ada. Untuk mempermudah proses mental itu, perlu adanya
gambaran yang jelas tentang bagaimana pelaksanaan inovasi, jika mungkin sampai
pada konsekuensi inovasi.

3. Tahap Keputusan/ Decision

Pada tahap ini berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah
untuk menetapkan menerima atau menolak inovasi. Menerima inovasi berarti
sepenuhnya akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti tidak akan
menerapkan inovasi.

Menurut Rogers adoption (menerima) berarti bahwa inovasi tersebut akan


digunakan secara penuh, sedangkan menolak berarti “ not to adopt an innovation”.
Jika inovasi dapat dicobakan secara parsial, umpamanya pada keadaan suatu individu,
maka inovasi ini akan lebih cepat diterima karena biasanya individu tersebut pertama-
tama ingin mencoba dulu inovasi tersebut pada keadaannya dan setelah itu
memutuskan untuk menerima inovasi tersebut. Walaupun begitu, penolakan inovasi
dapat saja terjadi pada setiap proses keputusan inovasi ini. Rogers menyatakan ada
dua jenis penolakan, yaitu active rejection dan passive rejection.

- Active rejection, terjadi ketika suatu individu mencoba inovasi dan berfikir
akan mengadopsi inovasi tersebut namun pada akhirnya dia menolak inovasi
tersebut.

- Passive rejection, individu tersebut sama sekali tidak berfikir untuk meng-
adopsi inovasi.

10
Dalam pelaksanaan difusi inovasi antara pengetahuan, persuasi dan keputusan inovasi
berjalan bersamaan. Satu dengan yang lain saling berkaitan.

4. Tahap Implementasi/ Implementation

Pada tahap implementasi dari proses keputusan inovasi terjadi apabila


seseorang menerapkan inovasi. Sebuah inovasi dicoba untuk dipraktekkan, akan
tetapi sebuah inovasi membawa sesuatu yang baru apabila tingkat ketidakpastiannya
akan terlibat dalam difusi. Ketidakpastian dari hasil-hasil inovasi ini masih akan
menjadi masalah pada tahapan ini. Maka si pengguna akan memerlukan bantuan
teknis dari agen perubahan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dari akibatnya.
Apalagi bahwa proses keputusan inovasi ini akan berakhir. Permasalahan penerapan
inovasi akan lebih serius terjadi apabila yang mengadopsi inovasi itu adalah suatu
organisasi, karena dalam sebuah inovasi jumlah individu yang terlibat dalam proses
keputusan inovasi ini akan lebih banyak dan terdiri dari karakter yang berbeda-beda.

Penemuan kembali biasanya terjadi pada tahap implementasi ini, maka tahap
ini merupakan tahap yang sangat penting. Penemuan kembali ini adalah tingkatan di
mana sebuah inovasi diubah atau dimodifikasi oleh pengguna dalam proses adopsi
atau implementasinya. Rogers juga menjelaskan tentang perbedaan antara penemuan
dan inovasi (invention dan Innovation). Invention adalah proses di ociala-ide baru
ditemukan atau diciptakan. Sedang inovasi adalah proses penggunaan ide yang sudah
ada. Rogers juga menyatakan bahwa semakin banyak terjadi penemuan maka akan
semakin cepat sebuah inovasi dilaksanakan.

5. Tahap Konfirmasi / Confirmation

Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan


yang telah diambilnya, dan ia dapat menarik kembali keputusanya.jika memang
diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi selanjutnya.

11
Ketika Keputusan inovasi sudah dibuat, maka si penguna akan mencari
dukungan atas keputusannya ini . Menurut Rogers keputusan ini dapat menjadi
terbalik apabila si pengguna ini menyatakan ketidaksetujuan atas pesan-pesan tentang
inovasi tersebut. Akan tetapi kebanyakan cenderung untuk menjauhkan diri dari hal-
hal seperti ini dan berusaha mencari pesan-pesan yang mendukung yang memperkuat
keputusan itu. Jadi dalam tahap ini, sikap menjadi hal yang lebih krusial.
Keberlanjutan penggunaan inovasi ini akan bergantung pada dukungan dan sikap
individu .

Ketidakberlanjutan dapat terjadi selama tahap ini dan terjadi pada dua cara.
Pertama atas penolakan individu terhadap inovasi. Keputusan jenis ini dinamakan
replacement discontinuance. Yang kedua dinamakan socialment discontinuance.
Dalam hal ini individu menolak inovasi tersebut disebabkan ia merasa tidak puas atas
hasil dari inovasi tersebut. Alasan lain dari discontinuance decision ini mungkin
disebabkan inovasi tersebut tidak memenuhi kebutuhan individu. Sehingga tidak
merasa adanya keuntungan dari inovasi tersebut.

12
III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Proses keputusan inovasi adalah proses yang dilalui atau dialami oleh individu
atau unit pengambil keputusan yang lain, mulai dari pertama kali tahu adanya inovasi,
penentuan sikap menyenangi atau tidak menyenangi inovasi, penetapan keputusan
menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap
inovasi.

Adanya inovasi atau membuka diri untuk mengetahui inovasi merupakan titik
awal proses keputusan inovasi, dan hal itu dilakukan secara aktif. Orang dapat tahu
adanya inovasi baru kemudian merasa perlu untuk menerapkan inovasi
(membutuhkan inovasi), tetapi mungkin juga terjadi karena orang merasa butuh untuk
memenuhi sesuatu baru ia mencari inovasi (ingin tahu inovasi).

Ada dua macam penolakan (rejection), yaitu penolakan aktif (setelah ada
pertimbangan) dan penolakan pasif (tanpa proses pertimbangan sama sekali).

13
DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim.1988.Inovasi Pendidikan.Jakarta: Depdikbud.


Mardikanto, T.1988.Komunikasi Pembangunan.UNS Press. Surakarta.
Rogers, E. M.1983.Diffusion of Innovasion.New York: The Free Press A Divison of
Macmillan Publishing Co.Inc.
Saefudin,U.2008.Inovasi Pendidikan.Jakarta: Alfabeta.

III