Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Perencanaan Audit

Perencanaan audit adalah total lamanya waktu yang dibutuhkan oleh auditor untuk melakukan
perencanaan audit awal sampai pada pengembangan rencana audit dan program audit
menyeluruh Variabel ini diukur dengan menggunakan jam perencanaan audit. Keberhasilan
penyelesaian perikatan audit sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan audit yang dibuat oleh
auditor.

Menurut Standar pekerjaan lapangan pertama Profesional Akuntan Publik (SPAP) mensyaratkan
adanya perencanaan yang memadai yaitu:

”Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya.” (IAI, 2001).

Menurut Sukrisno Agoes dalam bukunya “Auditing”, menerangkan bahwa:

“Perencanaan dan supervise berlangsung terus menerus selama audit, auditor sebagai
penanggung jawab akhir atas audit dapat mendelegasikan sebagian fungsi perencanaan dan
supervise auditnya dalam kantor akuntannya (asisten)”.

Menurut Standar Auditing 316 dalam Standar Profesional Akuntan Publik (Ikatan Akuntan
Indonesia, 2001) mensyaratkan agar

“audit dirancang untuk memberikan keyakinan memadai atas pendeteksian salah saji yang
material dalam laporan keuangan”.

Menurut SA Seksi 326 (PSA No. 07), Paragraf Audit No. 20 menyatakan bahwa:

“ Auditor pada hakikatnya harus dirumuskan dalam jangka waktu dan biaya yang wajar “.

Prosedur Perencanaan Audit


Prosedur yang dapat dipertimbangkan oleh auditor dalam perencanaan dan supervise biasanya
mencakup review terhadap catatan auditor yang berkaitan dengan satuan usaha dan diskusi
dengan staf lain dalam kantor akuntan dan pegawai satuan usaha tersebut. Contoh prosedur
tersebut meliputi :

1. Mereview arsip korespondensi, kertas kerja, arsip permanent, laporan keuangan, dan
laporan audit tahun lalu.
2. Membahas masalah-masalah yang berdampak terhadap audit dengan staf kantor akuntan
yang bertanggung jawab atas jasa non audit bagi satuan usaha.
3. Mengajukan pertanyaan tentang perkembangan bisnis saat ini yang berdampak terhadap
satuan usaha.
4. d. Membaca laporan keuangan interim tahun berjalan.
5. Membicarakan type, luas, dan waktu audit dengan manajemen, dewan komisaris, atau
komite audit.
6. Mempetimbangkan dampak diterapkanya pernyataan standar akuntansi dan standar
auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, terutama yang baru.
7. Mengkoordinasikan bantuan dari pegawai satuan usaha dalam penyiapan data.
8. Menentukan luasnya keterlibatan, jika ada, konsultan, spesialis, dan auditor intern
9. Membuat jadwal pekerjaan audit (time schedule)
10. Menentukan dan mengkoordinasikan kebutuhan staf audit.
11. Melaksanakan diskusi dengan pihak pemberi tugas untuk memperoleh tambahan
informasi tentang tujuan audit yang akan dilaksanakan sehingga auditor dapat
mengantisipasi dan memberikan perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan yang
dipandang perlu.

Isi dari Audit Plan mencakup


1. Hal-hal mengenai klien
Pengetahuan tentang bisnis klien, membantu auditor dalam :
a. Mengindentifikasi bidang yang memerlukan pertimbangan khusus.
b. Menilai kondisi yang didalamnya data akuntansi yang dihasilkan, diolah, direview dan
dikumpulkan dalam organisasi.
c. Menilai kewajaran estimasi, seperti penilaian atas persediaan, depresiasi, penyisihan
piutang ragu-ragu, persentase penyelesaian kontrak jangka panjang.
d. Menilai kewajaran representasi manajemen
e. Mempertimbangkan kesesuaian prinsip akuntansi yang diterapkan dan kecukupan
pengungkapannya.

2. Hal–hal yang mempengaruhi klien


Bisa didapat dari majalah–majalah ekonomi / surat kabar, antara lain : Business News, Ekonomi
Keuangan Indonesia. Contoh : adanya peraturan-peraturan baru yang dapat mempengaruhi klien.

3. Rencana kerja auditor, hal–hal penting antara lain:


a.Staffing
b. Waktu pemeriksaan,
1. Waktu dimulainya suatu pemeriksaan
2. Berapa lama waktu pemeriksaan
3. Dead Line
4. Budget, baik dalam jumlah jam kerja maupun biaya pemeriksaan

c. Jenis jasa yang diberikan


1. General Audit
2. Special Audit.
3. Bantuan Adminstrasi
4. Menyusun Neraca / Laba Rugi
5. Perpajakan

Hal–hal tambahan :
b. Bantuan–bantuan yang dapat diberikan klien.
1. Mengisi formulir konfirmasi piutang, utang
2. Membuat schedule-schedule
c. Time Schedule

Elemen-elemen Perencanaan Audit


Ruang lingkup dari perencanaan pemeriksaan ini adalah bervariasi sesuai dengan besarnya dan
kompleksitas permasalahan objek yang diperiksa dan pengetahuan mengenai jenis usaha objek
yang diperiksa. Adapun elemen-elemen perencanaan audit menurut Arens and Loebbecke
(2000:219) adalah :
1. Praplan
2. Memperoleh latar belakang informasi
3. Memperoleh informasi tentang kewajiban sah/tentang undang-undang klien
4. Melaksanakan prosedur menurut penelitian persiapan
5. Materialitas yang diset dan auditor bisa mengambil risiko dan tidak bisa dipisahkan
6. Memahami struktur pengawasan intern dan menilai risiko kendali
7. Mengembangkan program audit dan rencana audit.

Perencanaan Awal
Beberapa hal penting yang terdapat dalam perencanaan awal ini adalah menyangkut informasi
mengenai alasan klien untuk diaudit, menerima atau menolak klien baru maupun klien lama,
mengidentifikasi alasan klien untuk diaudit, menentukan staf untuk penugasan dan memperoleh
surat penugasan. Perencanaan awal itu terdiri dari hal-hal berikut ini :

o Menyelidiki klien baru


Menyelidiki klien baru adalah hal yang penting bagi auditor sebelum mereka memutuskan untuk
menerima atau menolak klien tersebut. Hal itu dilakukan dengan cara mengevaluasi prospek
klien dalam lingkungan usaha, stabilitas keuangan dan hubungan klien dengan kantor akuntan
terdahulu. Auditor pengganti diwajibkan untuk berhubungan dengan auditor sebelumnya dan
harus mendapatkan izin dari klien sebelum komunikasi dilakukan.

o Melanjutkan klien lama


Untuk melanjutkan klien lama juga harus di evaluasi untuk memutuskan apakah diterima atau
tidak dapat dilanjutkan, penyebab tidak bisa dilanjutkannya pemeriksaan karena perselisihan
sebelumnya, jika terjadi tuntutan hukum terhadap Kantor Akuntan Publik oleh klien.

o Mengidentifikasi alasan klien untuk diaudit


Dua faktor utama yang mempengaruhi bahan bukti audit yang akan dikumpulkan adalah siapa
pemakai laporan dan maksud penggunaan laporan. Auditor mungkin akan mengumpulkan lebih
banyak bahan bukti audit jika laporan digunakan secara luas.

o Staf untuk penugasan


Menentukan staf yang pantes untuk penugasan adalah penting untuk memenuhi standar auditing
yang telah ditetapkan dan meningkatkan efisiensi audit. Pertimbangan yang mempengaruhi
penyusunan staf adalah orang-orang yang diserahi tugas harus akrab dengan bidang usaha klien.

o Memperoleh surat penugasan


Tujuan dibuatnya surat penugasan adalah untuk mengurangi salah pengertian sehingga harus
dibuat secara tertulis. Surat penugasan adalah kesepakatan antara KAP dengan klien, isi dari
surat tersebut adalah menyatakan batasan dari penugasan, batas waktu, bantuan akan diberikan
atau daftar rincian yang perlu disiapkan untuk auditor, serta honorariuran.

Memperoleh informasi mengenai latar belakang klien


Auditor harus memiliki tentang ciri-ciri lingkungan kegiatan perusahaan klien yang akan diaudit
yang berguna sebagai acuan dalam menentukan surat penugasan atau perlu tidaknya prosedur-
prosedur audit khusus. Hal-hal yang harus dilakukan untuk memperoleh informasi sehingga
dapat memahami latar belakang klien adalah dengan cara : meninjau lokasi pabrik dan kantor,
menelaah kebijakan-kebijakan penting perusahaan, mengidentifikasi pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa serta mengevaluasi kebutuhan akan spesialis dari luar.

Memperoleh informasi mengenai kewajiban hukum klien


Faktor-faktor yang menyangkut lingkungan hukum industri klien mempunyai dampak besar
terhadap hasil audit. Pengetahuan auditor untuk menafsirkan fakta yang berkaitan selama
pekerjaan berlangsung akan meyakinkan bahwa pengungkapan yang semestinya telah
dilaksanakan dalam laporan keuangan. Dalam hal ini dokumen-dokumen hukum yang penting
untuk diperiksa oleh auditor adalah Akta Pendirian Perusahaan, anggaran dasar perusahaan,
masalah rapat dewan komisaris, para pemegang saham, komite audit dan para pejabat eksekutif
termasuk didalamnya adalah ringkasan pokok mengenai keputusan yang dibuat oleh direksi dan
pemegang saham serta dokumen mengenai kontrak penjualan maupun pembelian.

Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan


Melakukan analisis ini sangat penting artinya karena dengan demikian keseluruhan kegiatan
pemeiksaan dapat tergambar didalamnya. Prosedur analitis ini diantaranya : Memahami bidang
usaha klien, penetapan kemampuan satuan usaha untuk menjaga kelangsungan hidupnya,
indikasi adanya kemungkinan kekeliruan dalam laporan keuangan dan mengurangi pengujian
yang terinci.

Menentukan materialitas dan menetapkan risiko audit yang dapat diterima.


Besarnya salah saji dalam informasi akuntansi dapat membuat pertimbangan pengambilan
keputusan terpengaruh. Tanggung jawab auditor adalah menetapkan apakah suatu laporan
keuangan terdapat salah saji material, apabila auditor berpendapat adanya salah saji yang
material ia harus memberitahukan hal ini pada klien, sehingga koreksi dapat dilakukan. Jika
klien menolak untuk mengoreksi laporan keuangan tersebut maka auditor dapat memberikan
pendapat dengan pengecualian.

Ada lima langkah dalam menetapkan materialitas dua langkah pertama diperlukan untuk
merencanakan luas pengujian, sedangkan tiga langkah berikutnya untuk mengevaluasi hasil atau
melaksanakan pengujian audit, langkah-langkah tersebut adalah:
1. Menentukan pertimbangan awal mengenai materialitas
2. Mengalokasikan pertimbangan awal mengenai materialitas kedalam segmen.
3. Mengestimasikan total salah saji dalam segmen
4. Mengestimasikan salah saji gabungan.
5. Membandingkan estimasi gabungan dengan pertimbangan awal mengenai materialitas.
Mengembangkan rencana dan program audit menyeluruh
Untuk melaporkan serta memberikan pendapat yang tepat maka auditor harus melakukan
wawancara, melakukan pemeriksaan dan meneliti keaslian bukti-bukti. Guna mempermudah
pelaksanaan maka auditor harus menyusun program yang direncanakan secara logis untuk
prosedur-prosedur audit bagi setiap pemeriksaan. Program pemeriksaan juga merupakan suatu
alat pengendalian dimana pemeriksa dapat menyesuaikan pemeriksaannya dengan anggaran dan
jadwal yang telah ditetapkan dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dalam hal ini
Ikatan Akuntansi Indonesia (2001:311.3) menyatakan bahwa:

“Dalam perencanaan auditnya, auditor harus mempertimbangkan sifat, luas, dan saat pekerjaan
yang harus dilaksanakan dan harus membuat suatu program audit secara tertulis. Program
audit membantu auditor dalam memberikan perintah kepada asisten mengenai pekerjaan yang
harus dilakukan. Bentuk program audit dan tingkat kerinciannya sangat bervariasi”.

Proses Audit
Proses audit adalah metodologi penyelenggaraan audit yang jelas untuk membantu auditor dalam
mengumpulkan bahan bukti pendukung yang kompeten. Ada empat tahap dalam proses audit,
keempat tahap tersebut digambarkan sebagai berikut : Gambar

Empat tahap Audit

Sumber : Arens and Loebbecke, yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf ( 1996:132)