Anda di halaman 1dari 22

RSUD Dr.H.

BOB BAZAR, SKM


JL. LETTU ROHANI NO. 14 B, KALIANDA TELP. (0727) 322159, 322160 FAX. (0727) 322801

K A L I A N D A - 35513
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkat dan
anugerah yang telah diberikan kepada penyusun, sehingga Buku Panduan / Pedoman Sasaran
Keselamtan Pasien RS. Keluarga Husada Batam ini dapat selesai disusun.
Buku Pedoman / Panduan ini merupakan Panduan kerja bagi seluruh Staf Rumah Sakit
dalam menjalankan program Akreditasi di RS. Keluarga Husada Batam
Dalam pedoman / pedoman ini diuraikan tentang Petunjuk pelaksanaan Sasaran
Keselamatan Pasiendi RS. Keluarga Husada Batam
Tidak lupa penyusun menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas bantuan
semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Pedoman Standar Keselamatan Pasien
RS. Keluarga Husada Batam.

Tim Penyusun
SURAT KEPUTUSAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT KELUARGA HUSADA BATAM
NOMOR : /SK-DIR/RSKH/XI/2018

TENTANG

PEMBERLAKUAN PEDOMAN SASARAN KESELAMATAN PASIEN


RS. KELUARGA HUSADA BATAM

DIREKTUR RUMAH SAKIT KELUARGA HUSADA BATAM

Menimbang : a. Bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 43 Undang – Undang


Nomo 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
b. Bahwa untuk melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada
huruf a, perlu ditetapkan Keputusan Direktur tentang Pemberlakuan
Pedoman Sasaran Keselamatan Pasien di RS. Keluarga Husada
Batam.

Mengingat : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang


Kesehatan
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 129 Tahun
2008 tentang Standar Pelayanan Minimal di Rumah Sakit;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamtan Pasien Rumah
Sakit;

M EMUTUSKAN

Menetapkan :
KESATU : MENETAPKAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH
SAKIT KELUARGA HUSADA BATAM TENTANG SASARAN
KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT KELUARGA
HUSADA BATAM
KEDUA : Keputusan penentuan Pedoman Sasaran Keselamtan Pasien di RS.
Keluarga Husada Batam, sebagaimana tercantum dalam lampiran
keputusan ini;

KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila


dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Batam
Pada tanggal : 12 November 2018
Direktur Rumah Sakit Keluarga Husada Batam
dr. RATNA PALUPI INDIRASARI
NIK.197306262017122004
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR NO. ……./SK-DIR/RSKH/…/2018.................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii
BAB I. DEFINISI............................................................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................................... 2
B. Tujuan................................................................................................................ 3
BAB II. RUANG LINGKUP............................................................................................. 7
BAB III. TATA LAKSANA............................................................................................... 8
BAB IV. DOKUMENTASI................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit.Ada
lima isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah sakit yaitu :
keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan,
keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap
keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green productivity) yang
berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan keselamatan “bisnis” rumah sakit yang
terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Kelima aspek keselamatan tersebut
sangatlah penting untuk dilaksanakan disetiap rumah sakit.Namun harus diakui kegiatan
institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien.Karena itu keselamatan pasien
merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terkait dengan isu mutu
dan citra perumahsakitan.
Pelayanan kesehatan pada dasarnya adalah untuk menyelamatkan pasien. Menurut
Hiprocrates kira-kira 2400 tahun yang lalu yaitu Primum, non nocere (First, do no harm)
dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi di pelayanan kesehatan risiko pasien
cedera meningkat.
Dirumah sakit terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, banyak alat
dengan teknologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan nonprofesi yang siap memberikan
pelayanan pasien 24 jam s e c a r a terus menerus sehingga hal ini menjadi hal yang sangat
perlu diperhatikan agar tidak mengakibatkan insiden keselamatan pasien (IKP).

Keselamatan Pasien telah menjadi bagian dari kesadaran dan kebutuhan bersama
serta merupakan komitmen global dalam meningkatkan kualitas dan akuntabilitas dalam
pelayanan kesehatan, maka diperlukan gerakan nasional keselamatan pasien yang lebih
komprehensif dengan melibatkan berbagai kalangan.Karena itu diperlukan acuan yang jelas
untuk implementasinya. Buku Pedoman Sasaran Keselamatan Pasien RS Keluarga Husada
Batam ini diharapkan dapat membantu rumah sakit dalam melaksanakan kegiatan tersebut.

1.2 Tujuan Pedoman


Adapun tujuan dari Pedoman Sasaran Keselamatan Pasien ini yaitu untuk
memberikan informasi dan acuanbagi petugas atau pegawai RS Keluarga Husada Batam
dalam melaksanakan sistem keselamatan pasien rumah sakit sehingga tercipta budaya
keselamatan pasien dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan rumah sakit dengan program
keselamatan pasien rumah sakit secara sistematis dan terarah dengan adanya system
pelaporan insiden keselamatan pasien di rumah sakitsehingga timbulnya kesadaran petugas
atau pegawai RS Keluarga Husada Batam mengenai budaya keselamatan pasien.
1.3 Ruang Lingkup Pelayanan
Sasaran keselamatan pasien ini berlaku untuk seluruh pegawai RS Keluarga Husada
Batam khususnya yang terkait memberikan pelayanan langsung kepada pasien. Standar
sasaran keselamatan pasien ini dimulai saat kontak pertama dengan pasien (pendaftaran)
sampai dengan pasien keluar dari rumah sakit yang menjadi tanggung jawab semua staf atau
pegawai RS Keluarga Husada Batam
Adapun enam standar yang termasuk sasaran keselamatan pasien rumah sakit yaitu
mengenai identifikasi pasien, komunikasi pemberian informasi dan edukasi yang efektif,
mengenai obat-obat high alert yang mencakup identifikasi, lokasi, pelabelan, dan
penyimpanan obat-obat high alert, mengenai tepat lokasi, prosedur dan tepat pasien dengan
Surgical safety checklist pada pasien bedah, pengurangan infeksi dengan program Hand
Hygiene, serta assesmen ulang resiko pasien jatuh.
Sasaran keselamatan pasien yang pertama yaitu identifikasi pasien. Dengan
pemasangan gelang identitas pasien mengembangkan dua pendekatan yaitu untuk identifikasi
pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan dan untuk
kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut. Prosedur yang
dikembangkan untuk identifikasi pasien menggunakan nama pasien dan tanggal lahir pasien,
khususnya ketika akan memberikan obat, produk darah, pengambilan darah dan spesimen
lain untuk pemeriksaan klinis atau pemberian pengobatan atau operasi/tindakan lain serta
transfer/menerima pasien. Pemasangan gelang identifikasi pasien adalah proses kegiatan
identifikasi pasien dengan memasang Gelang pengenal pada pergelangan tangan yang
dominan (kanan)/ekstremitas lainnya dengan mencantumkan nama, tanggal lahir dan nomor
rekam medis pasien.
Komunikasi efektif merupakan termasuk dari program keselamatan pasien. Dengan
adanya komunikasi yang efektif dapat mengurangi kesalahan penyampaian dari seseorang ke
orang lain. Dalam rumah sakit khususnya contohnya saat perawat menyampaikan keadaan
pasien kepada dokter DPJP(Dokter Penanggung Jawab Pasien) begitu juga dengan
sebaliknya, dan juga pada seluruh staff/pegawai rumah sakit sangat pentingdalam hal
komunikasi efektif. Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah
komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation), metode
komunikasi ini digunakan pada saat perawat melakukan serah terima pasien. Komunikasi
SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk petugas kesehatan dalam
menyampaikan kondisi pasien.
Keselamatan pasien adalah prioritas utama.Terdapat banyak obat – obatan yang ada di
rumah sakit. Obat – obatan tersebut tak sedikit yang memiliki nama – nama yang hampir
mirip, serta obat – obat yang perlu diwaspadai. Obat yang perlu diwaspadai antara lain obat
yang termasuk dalam daftar kesalahan terbesar/ terbanyak dan/ atau dapat mengakibatkan
kejadian sentinel. Obat yang berisiko lebih tinggi bila terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan.Obat yang memiliki kemiripan bentuk/nama (Look A Like Sound A Like).
Pemberian obat terutama obat yang termasuk dalam daftar ObatHigh Alert.
Tepat lokasi, tepat pasien, dan tepat sasaran pada pasien bedah merupakan
keselamatan pasien yang juga perlu diperhatikan.Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan
pasien dan dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan
secara konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh operator atau orang yang akan
melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan
harus terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi operasi ditandai dilakukan pada
semua kasus termasuk sisi (laterality), multiple struktur ( jari tangan, jari kaki dan lesi), atau
multiple level (tulang belakang). Rumah Sakit wajib mengembangkan suatu pendekatan
untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien.Prosedur salah lokasi, salah
prosedur dan salah pasien pada operasi adalah sesuatu yang menghawatirkan dan tidak jarang
terjadi di rumah sakit.Rumah sakit mengembangkan suatu kebijakan dan atau prosedur yang
efektif seperti yang di gambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety
(2009).
Skp 5
Komponen utama dalam proses pelayanan pasien rawat inap dan rawat jalan adalah
asesmen pasien untuk memperoleh informasi terkait status medis pasien, begitu juga pada
pasien yang mempunyai risiko jatuh.Pengelolaan pasien risiko jatuh terutama dapat terjadi
pada pasien yang dirawat diruangan, rawat jalan dan rawat inap. Semua petugas yang bekerja
di rumah sakit harus memahami bahwa semua pasien yang dirawat inap dan rawat jalan
memiliki risiko jatuh dan semua petugas tersebut memiliki peran untuk mencegah pasien
jatuh.

1.4 Batasan Operasional


Batasan operasional pada sasaran keselamatan pasien ini meliputi hasil dari
gerakan sosialisasi yang telah di lakukan mulai dari bulan juni hingga

1.5 Landasan Hukum


1. Undang–Undang nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
a. Pasal 2 : RS diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai
kemanusiaan, etika & profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak & anti
diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien,serta mempunyai
fungsi sosial.
b. Pasal 3 ayat b : memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien,
masyarakat, lingkungan RS dan SDM di RS.
c. Pasal 29 ayat b:memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi,
& efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai standar pelayanan RS.
d. Pasal 43:
 Ayat 1 ; RS wajib menerapkan Standar Keselamatan Pasien.
 Ayat 2 ; Standar Keselamatan Pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden,
menganalisa dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan
angka KTD.
 Ayat 3 ; RS melaporkan kegiatan ayat 2 kepada komite yang membidangi
keselamatan pasien yang ditetapkan Menteri.
 Ayat 4 ; Pelaporan IKP pada ayat 2 dibuat secara anonym dan ditujukan untuk
mengoreksi system dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien.
Ketentuan lebih lanjut mengenai keselamatan pasien ayat 1 & ayat 2 tertuang dalam
Peraturan Menteri.

2. Permenkes 1691/VIII/2011 Tentang KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT

a. Pasal 5 : Rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit wajib
melaksanakan program dengan mengacu pada kebijakan nasional Komite KPRS.

b. Pasal 6 :
 Ayat 1 : Setiap rumah sakit wajib membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (TKPRS) yang ditetapkan oleh kepala rumah sakit sebagai pelaksana
kegiatankeselamatanpasien.
 Ayat 4 : TKPRS melaksanakan tugas :
 Mengembangkan program keselamatan pasien di rumah sakit sesuai dengan
kekhususan rumah sakit tersebut;
 Menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program KPRS;
 Menjalankan peran untuk melakukan motivasi, edukasi, konsultasi,
pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluasi) tentang terapan
(Implementasi) program KPRS;
 Bekerja sama dengan bagian Diklat RS untuk melakukan pelatihan internal
KPRS;
 Melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden, serta
mengembangkan solusi untuk pembelajaran;
 Memberikan masukan dan pertimbangan kepada kepala rumah sakit dalam
rangka pengambilan kebijakan KPRS; dan
 Membuat laporan kegiatan kepada kepala RS.

c. Pasal 7 Standar Keselamatan Pasien.


d. Pasal 8 Sasaran Keselamatan Pasien.
e. Pasal 9 Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien RumahSakit

3. Undang - Undang No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran


a. Pasal 2 : Praktik kedokteran dilaksanakan berasakan Pancasila dan didasarkan pada
nilai ilmiah, serta perlindungan dan keselamatan pasien.
b. Penjelasan Umum ; asas dan tujuan penyelenggaraan praktik kedokteran yang
menjadi landasan yang didasarkan pada nilai ilmiah, dan keselamatan pasien;
c. Penjelasan Pasal 2 : perlindungan dan keselamatan pasien adalah bahwa
penyelenggaraan praktek kedokteran, dengan tetap memperhatikan perlindungan dan
keselamatan pasien.
BAB II
STANDAR IDENTIFIKASI PASIEN

2.1 Pengertian Identifikasi Pasien


Identifikasi pasien adalah proses pencatatan data pasien yang benar sehingga dapat
menetapkan dan mempersamakan data tersebut dengan individu yang bersangkutansehingga
memperlancar atau mempermudah dalam pemberian pelayanan kepada pasien. Di Indonesia
nama keluarga belum di kenal begitu luas, banyak nama orang Indonesia yang terdiri lebih dari
satu atau dua kata, akan tetapi nama itu nama sebenarnya, bukan nama keluarga, maka untuk
nama orang Indonesia yang lebih dari satu atau dua kata, kata terakhir di jadikan kata tangkap
utamaatau di anggap sebagai nama keluarga.
Penerapan Standar Identifikasi pasien di RS....................... mengacu pada peningkatan
mutu pelayanan rumah sakit melalui pemberlakuan 6 (enam) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah
Sakit, identifikasi pasien sesuai dengan data pasien sendiri.Idetifikasi yang benar dapat
meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien terjaga.
Tujuan identifikasi pasien antara lainuntuk memastikan dan mengurangi tidak terjadinya
kesalahan dalam identifikasi pasien selama perawatan di Rumah sakit. Kesalahan ini dapat
berupa ; salah pasien, kesalahan prosedur, kesalahan medikasi, kesalahan transfusi, dan kesalahan
pemeriksaan diagnostik.Serta terlaksananya program keselamatan pasien secara sistematis dan
terarah.
Dalam proses identifikasi pasien RS..................... menggunakan 2 (dua) sistem
identifikasi antara lain :
1. Identifikasi secara numerical :adalah suatu cara pemberian nomor Rekam Medis
kepadapasien pada saat pasien tersebut melakukan registrasi/melakukan pendaftaran/admisi
sebagai bagian dari identitas pribadi pasien yang bersangkutan.
Keuntungan:
a. Mempermudah pencarian dokumen Rekam Medis yang baru dan atau Dokumen Rekam
Medis yang telah disimpan di filing.
b. Mempermudah identifikasi pada saat pasien registrasi/ pendaftaran.
c. Menghindari terjadinya nomor ganda.
d. Memudahkan identifikasi kepemilikan berkas Rekam Medis pada suatu penyimpanan
apabila terjadi missfile atau salah simpan.
2. Sistem identifikasi pasien secara alfabetikal atau penamaan: adalah sistem identifikasi
kepada pasien dengan namauntuk membedakan antara pasien satu dengan yang lain dan
tanggal lahir pasien.

Proses identifikasi pasien ini berlaku untuk semua staf/pegawai RS Keluarga Husada
Batam yang terkait dalam memberi layanan kepada pasien. Ketepatan mengidentifikasi pasien
dimulai pada saat kontak pertama dengan pasien (pendaftaran) sampai dengan pasien keluar
rumah sakit yang menjadi tanggungjawab semua staf/pegawai RS Keluarga Husada Batam.
Identifikasi pasien dengan pemasangan gelang identitas pasien mengembangkan dua
pendekatan yaitu untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau
pengobatan dan untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Prosedur yang dikembangkan untuk identifikasi pasien menggunakan nama pasien dan
tanggal lahir pasien, khususnya ketika akan memberikan obat, produk darah,pengambilan darah
dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis atau pemberian pengobatan atau operasi/tindakan
lain serta transfer/menerima pasien.
Pemasangan gelang identifikasi pasien adalah proses kegiatan identifikasi pasien dengan
memasang Gelang Pengenal pada pergelangan tangan yang dominan (kanan)/ekstremitas lainnya
dengan mencantumkan nama, tanggal lahir dan nomor rekam medik pasien.
1. Manfaat pemasangan gelang identifikasi pasien ini adalah :
a. Memastikan identitas pasien sesuai dengan nama, tanggal lahir dan rekam medis
pasien.
b. Memastikan pasien menerima pelayanan kesehatan dengan benar prosedur dan benar
pasien.
c. Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
2. Macam - Macam Gelang Identifikasi Pasien :
Gelang identifikasi pasien yang tersedia di RS Keluarga Husada Batam adalah sebagai
berikut:
a. Gelang berwarna Merah jambu/pink untuk pasien berjenis kelamin Perempuan.
b. Gelang berwarna biru untuk pasien berjenis kelamin laki-laki.
c. Gelang berwarna merah untuk pasien dengan alergi.
d. Gelang berwarna kuning untuk pasien dengan risiko jatuh.

2.2 Tata Laksana Identifikasi Pasien


Rumah sakit wajib melakukan identifikasi semua pasien yang mendapatkan pelayanan
disemua unit untuk mencegah salah pasien, salah obat dan salah tindakan. Identitas yang benar
yang dimaksud meliputi dua identifikasi yaitu nama lengkap/dan tanggal lahir, apabila pasien
tidak dapat menyebutkan tanggal lahir, pasien/keluarga dapat menyebutkan alamat rumah dan
petugas mencocokkan dengan rekam medis pasien. Saat pasien mendaftar untuk pemeriksaan di
rumah sakit, petugas pendaftaran menanyakan nama lengkap pasien dan mencocokkan dengan
identitas diri berupa KTP/SIM/Passport/kartu Pendaftaran rumah sakit/kartu identitas yang lain.
Pasien rawat inap identifikasi menggunakan gelang identitas pasien.Gelang identitas pasien
menggunakan tulisan yang jelas dibaca dan gelang tidak bisa dibuka setelah kancing pengunci
dipasang. Gelang identitas pasien berisi tulisan :Nama pasien yang dicetak lengkap, Tanggal
lahir : dua digital, Bulan lahir : dua digital, Tahun lahir : empat digital,Umur, Nomor Rekam
Medis sesuai nomor RM pasien. Gelang identitas bayi baru lahir berisi : nama ibu, tanggal lahir
bayi, nomor rekam medis bayi.
Gelang identitas pasien dipasang pada pergelangan tangan kanan/ektremitas lainnya atau
yang memungkinkan, untuk pasien bayi dipasang pada tangan/ektremitas lainnya.Sebelum
dilakukan pemasangan gelang, keterangan tentang nama lengkap dan tanggal lahir dan nomor
rekam medis pasien harus diperiksa. Petugas memberitahukan kepada pasien dan keluarga bahwa
demi sesuai dengan ketentuan keselamatan pasien di RS Keluarga Husada Batam,akan dipasang
gelang pengenal ini pada pergelangan tangan. Setiap petugas bila akan melakukan tindakan dan
prosedur akan mengklarifikasi identitas dengan menanyakan nama dan tanggal lahir kemudian
diverifikasi dengan gelang identitas yang terpasang. Tujuannya untuk menghindari kesalahan
pasien, prosedur atau tindakan lainnya.
Jika pasien tidak memungkinkan untuk menjawab siapa namanya maka tanyakan kepada
penjaga /wali/ keluarga terdekatnya untuk menverifikasi identitas pasien.Untuk pasien rawat
jalan yang akan di rawat inap gelang identitas dipasang di ruang rawat inap yang terlebih dahulu
dikonfirmasikan kebenaran identitiasnya kepada pasien/keluarga.
Pada kondisi darurat massal/bencana yang dapat mengancam jiwa pasien dan yang tidak
diketahui identitasnya, admisi yang bertanggung jawab atas pasien tersebut harus mengambil
langkah – langkah yang tepat untuk mengidentifikasi pasien menggunakan:
a. Laki-laki : XY dan tanggal masuk sebagai tanggal lahir. Jika pasien lebih satu maka
dibelakang huruf “XY” ditambah dengan nomor urutan pasien 1,2, 3,...dan
seterusnya.
Contoh : XY 29 Mei 2017
b. Wanita : XX dan tanggal masuk sebagai tanggal lahir. Jika pasien lebih satu maka
dibelakang huruf “XX” ditambah dengan nomor urutan pasien 1,2, 3,...dan
seterusnya.
Contoh XX 29 Mei 2017
Setelah identitas pasien yang sebenarnya dapat diketahui, gelang identitas pasien segera
diganti.Pasien yang dirawat atau dipindahkan dari satu unit ke unit lainnya harus secara benar
diidentifikasi dan telah menggunakan gelang identifikasi pasien sesuai dengan kebijakan dan
prosedur yang berlaku.Pasien yang dirawat atau dipindahkan dari satu rumah sakit ke rumas sakit
lainnya (rujuk) harus secara benar diidentifikasi dan telah menggunakan gelang identifikasi
pasien sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang berlaku.
2.2.1 Tata Laksana pemasangan dan pelepasan gelang identitas pasien
1. Gelang identitas pasien dipasangkan di pergelangan tangan/ekstremitas lainnya.
2. Perawat menjelaskan alasan pemasangan gelang dan memastikan bahwa gelang terpasang
dengan nyaman dan aman.
3. Pelepasan gelang identifikasi pasien hanya ketika proses pemulangan pasien telah selesai
atau kondisi tertentu yang mengharuskan gelang identitas dilepas misal operasi, gelang
tangan yg dilepas harus ditempelkan di rekam medis dan setelah prosedur selasai gelang
identitas harus dipasang kembali.
4. Ketika pasien dipindahkan dari satu unit ke unit lainnya, perawat yang menerima pasien
bertanggungjawab untuk menanyakan kembali identitas pasien dan mencocokan dengan
gelang identitas pasien.
5. Pasien yang dirawat atau dipindahkan dari satu rumah sakit ke rumas sakit lainnya (rujuk)
harus secara benar diidentifikasi dan telah menggunakan gelang identitas pasien sesuai
dengan kebijakan dan prosedur yang berlaku. Pelepasan Gelang identitas dilakukan oleh
perawat yang mengirim pasien setelah pasien diserahterimakan kepada pihak rumah sakit
yang dituju.

2.2.2 Tata Laksana menidentifikasi Pasien Rawat Jalan


1. Identifikasi pasien rawat jalan dan layanan penunjang dilakukan dengan
caradokter/perawat/petugas kesehatan lainnya memanggil nama pasien, setelah mendekat
pasien ditanya dengan dengan pertanyaan terbuka nama lengkap pasien, tanggal lahir.
2. Bagi pasien dengan nama dan tanggal lahir sama/lupa, maka lakukan identifikasi ketiga (3)
dengan menanyakan alamat pasien.
3. Apabila identitas pasien ke tiga juga sama maka/lupa, tanyakan identitas ke empat (4),
dengan menanyakan nama gadis ibu kandung.
4. Apabila nama identitas keempat (4) juga sama/lupa, maka tanyakan identitas kelima (5)
dengan menanyakan nomor telepon pasien.
5. Jika pasien rawat jalan tersebut akan dirujuk ke unit pelayanan kesehatan lainnya maka
pastikan identifikasi pasien sesuai prosedur dan tertulis lengkap dengan nama, tanggal lahir
pada surat rujukan.
6. Jika pasien rawat jalan itu tidak dapat mengidentifikasi dirinya sendiri maka petugas harus
memverifikasi data diri pasien dari penjaga/wali/keluarga dekat pasien.

2.2.3 Tatalaksana Mengidentifikasi pasien Rawat Inap


1. Petugas menanyakan nama lengkap dan tanggal lahir pasien sebelum memberikan
obat, sebelum pemberian darah dan produk darah, sebelum pengambilan sample darah dan
spesimen lain untuk uji klinis, sebelum melakukan pengobatan,tindakan invasive atau
prosedur lain, sebelum melakukan pemeriksaan penunjang dan pada waktu transfer pasien
ke unit layanan lain.
2. Identifikasi dilakukan secara aktif maupun pasif, yang dimaksud identifikasi aktif
adalah pasien dapat menyebutkan nama sendiri berikut tanggal dan bulan lahir, sedangkan
identifikasi pasif adalah pasien yang tidak mampu/dalam kondisi sulit untuk komunikasi,
misalnya pada pasien tidak sadar, pasien anak/bayi atau pasien yang sulit.
3. Identifikasi secara pasif dilakukan petugas dengan cara melakukan validasi nama
pasien melalui gelang identitas pada pasien rawat inap data rekam medis pasien pada
pasien rawat jalan.
4. Setelah pasien menyebutkan nama dan tanggal lahirnya, kemudian petugas
verifikasi dengan mencocokkan nama dan tanggal lahir pada :Gelang Identitas bagi pasien
rawat inap,data rekam medis pasien pasien rawat jalan, dan invoice bagi unit pelayanan
yang tidak memerlukan data rekam medis.
5. Bagi pasien dengan nama dan tanggal lahir sama/lupa, maka lakukan identifikasi
ketiga (3) dengan menanyakan alamat pasien.
6. Apabila identitas pasien ke tiga juga sama maka/lupa, tanyakan identitas ke
empat (4), dengan menanyakan nama gadis ibu kandung.
2. Apabila nama identitas keempat (4) juga sama/lupa, maka tanyakan identitas kelima (5)
dengan menanyakan nomor telepon pasien.
3. Bagi Semua permintaan pelayanan, formulir permintaan yang dikirimkan ke unit pelayanan
lain harus dipasang stiker identitas pasien.
2.2.4 Tata Laksana mengidentifikasi Pasien Pemeriksaan Laboratorium dan Rontgen
1. Identifikasi pasien yang akan melakukan pemeriksaan Laboratorium dan rontgen dilakukan
dengan cara petugas laboratorium/radiologi memanggil nama pasien, setelah mendekat
pasien ditanya dengan dengan pertanyaan terbuka nama lengkap pasien, tanggal lahir
sesuai dengan formulir pemeriksaan laboratorium/radiologi.
2. Bagi pasien dengan nama dan tanggal lahir sama/lupa, maka lakukan identifikasi ketiga (3)
dengan menanyakan alamat pasien.
3. Apabila identitas pasien ke tiga juga sama maka/lupa, tanyakan identitas ke empat (4),
dengan menanyakan nama gadis ibu kandung.
4. Apabila nama identitas keempat (4) juga sama/lupa, maka tanyakan identitas kelima (5)
dengan menanyakan nomor telepon pasien.
5. Jika pasien tidak dapat mengidentifikasi dirinya sendiri maka petugas harus memverifikasi
data diri pasien dari penjaga/wali/keluarga dekat pasien.

BAB III

STANDAR KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

3.1 Pengertian Komunikasi Efektif


Kegiatan komunikasi sudah menjadi sebagian besar kegiatan kita sehari-hari, mulai antar
teman/pribadi, kelompok, organisasi atau massa. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah
aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai
kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan
tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut.
Begitu pula dengan pelayanan rumah sakit, keberhasilan misi sebuah rumah sakit sangat
ditentukan oleh keluwesan berkomunikasi setiap petugas, perawat dan dokter. Pelayanan rumah
sakit selalu berhubungan dengan berbagai karakter dan perilaku pasien yang berkepentingan
dengan jasa perawatan sehingga petugas, perawat dan dokter harus memahami dan mengerti
bagaimana cara komunikasi yang bisa diterapkan di segala situasi.
Dalam profesi kedokteran, komunikasi dokter dengan pasien merupakan salah satu
kompetensi yang harus dikuasai dokter. Kompetensi komunikasi menentukan keberhasilan dalam
membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien. Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak
mempunyai waktu yang cukup untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya
bertanya seperlunya. Akibatnya, dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup
untuk menegakkan diagnosis dan menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari sisi
pasien, umumnya pasien merasa berada dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter sehingga
takut bertanya dan bercerita atau mengungkapkan diri. Hasilnya, pasien menerima saja apa yang
dikatakan dokter. Paradigma inilah yang harus kita perbaiki. Pasien dan dokter harus berada
dalam kedudukan setara sehingga pasien tidak merasa rendah diri dan malu untuk bisa
menceritakan sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi yang efektif
mampu mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan
selanjutnya.
Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi dari seseorang
kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa
yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi. (Komaruddin,
1994;Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994; Koontz & Weihrich, 1988).Secara etimologis, kata
efektif (effective) sering diartikan dengan mencapai hasil yang diinginkan (producing desired
result), dan menyenangkan (having a pleasing effect).
Komunikasi adalah proses kompleks, pertukaran informasi/pesan dua arah antara
sumber/sender/ transimiter dan receiver baik verbal maupun non verbal, sehingga komunikasi
juga disebut proses penyampaian pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui
suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh
penyampai pikiran-pikiran atau informasi.
Komunikasi efektif adalah komunikasi dua arah dimana antara sender dan receiver dapat
mengerti dan memahami isi pesan yang disampaikan komunikator.Sehingga yang disebut
komunikasi efektif dapat tepat waktu, akurat, jelas, dan mudah dipahami oleh penerima, dan
dapat mengurangi tingkat kesalahan (kesalahpahaman).
Tujuan adanya komunikasi efektif di rumah sakit adalah untuk membangun hubungan
antara pasien-perawat, perawat-perawat, perawat-team kesehatan lainnya sehingga terciptanya
keselamatan pasien dan menurunkan resiko kesalahan komunikasi apabila dilakukan via telpon
dan saat serah terima pasien.

3.2 Tata Laksana Komunikasi Efektif


Komunikasi efektif yang dimaksud adalah komunikasi verbal, pelaporan hasil dan serah terima pasien.
Ruang lingkup komunikasi yang efektif meliputi :
a. Komunikasi verbal hanya boleh dilakukan saat pemberian instruksi medis via telepon.
b. Melaporkan hasil tes klinis kritis yang dilakukan staf laboratorium kepada staf
keperawatan maupun staf keperawatan kepada dokter, dilakukan menggunakan prosedur
yang sama dengan instruksi via telepon dalam waktu kurang dari 30 Menit.
c. Serah terima pasien
Proses pertukaran inforamasi, tanggung jawab dan wewenang antar petugas kesehatan
mengenai informasi pasien yang harus segera diketahui sehingga pasien mendapatkan
pelayanan kesehatan berkelanjutan. Proses serah terima pasien dilaksnakan pada saat :
- pertukaran dinas,
- pasien pindah antar ruang perawatan, pindah ke unit khusus (Kamar Operasi, poli
rawat jalan).
- Penyampaian kondisi pasien antar perawat dan petugas kesehatan lainnya.
- Antar petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan, analis, ahli gizi, apoteker/asisten
apoteker dan lain-lain).
- Serah terima dengan petugas kesehatan lainnya saat melakukan kunjungan.
Komunikasi dapat dilakukan melaui verbal, lisan, tulisan dan media elektronik.Komunikasi verbal
hanya diperkenakan untuk instruksi via telepon dan tidak diperkenakan saat memberikan
instruksi secara langsung kecuali bila ada kegawatan yang harus ditangani segera oleh pemberi
instruksi.Setiap staf yang melakukan komunikasi, pelaporan hasil dan serah terima tugas harus
menggunakan teknik komunikasi SBAR (Situstion, Background, Assessment,
Recomendation).Penerima instruksi verbal harus menuliskan instruksi dengan lengkap dan
membacakan kembali (read back) dengan jelas kepada pemberi instruksi atau pemberi hasil tes
klinis.Instruksi atau hasil tes klinis yang penting kemudian dikonfirmasi kebenarannya (Repeat
Back) oleh orang yang memberi instruksi atau hasil tes kritis.
Bila proses membacakan kembali (read back) dan konfirmasi (repeat back) sudah
dilakukan dengan benar, maka penerima instruksi harus memberikan stempel read back “READ
BACK”. Instruksi verbal via telepon harus diverifikasi kebenarannya oleh pemberi instruksi
dalam waktu 1x24 jam sejak instruksi diberikan, dengan cara menandatangani instruksi yang
telah dituliskan oleh penerima instruksi di Catatan Perkembangan Pasien Terintegritasi (CPPT)
dan formulir pemberian obat dan grafik pasien.Prosedur pembacaan kembali (read back) boleh
tidak dilakukan bila kondisi tidak dimungkinkan (kegawatdaruratan seperti di IGD, Kamar
operasi ataupun VK).
Serah terima tugas harus berisi informasi data terbaru, meliputi kondisi, tindakan dan
pengobatan dan kemungkinan perubahan lainnyaa dan menggunakan formulir yang telah
distandarkan.
Hasil komunikasi verbal/instruksi via telepon, menerima hasil tes klinis yang kritis dan
serah terima pasien harus didokumentasikan secara lengkap termasuk nama yang menerima/nama
yang menghubungi. Dokumentasi dituliskan pada :
a. Bila instruksi berupa obat, tindakan lain maka dituliskan oleh penerima instruksi di
catatan integritasi.
b. Bila menerima hasil tes klinis yang penting dari staf laboratorim harus dituliskan secara
lengkap di Catatan Perkembangan Pasien Terintegritasi (CPPT).
Pedoman komunikasi efektif ini diterapkan di lingkungan RS Keluarga Husada Batam
yang ditujukan kepada :
1. Pemberi pelayanan saat memberikan informasi lisan atau melalui telepon tentang
pelayanan, jam operasional, dan proses untuk mendapatkan pelayanan dirumah sakit
kepada masyarakat.
2. Antar pemberi pelayanan didalam dan keluar rumah sakit.
3. Petugas informasi saat memberikan informasi pelayanan rumah sakit kepada pelanggan.
4. Petugas PKRS saat memberikan edukasi kepada pasien.
5. Semua karyawan saat berkomunikasi via telpon dan lisan.
Pelaksana pedoman ini adalah seluruh pemberi pelayanan di rumah sakit antara lain
dokter, perawat, petugas laboratorium, petugas radiologi, petugas informasi, pelaksana PKRS,
dan semua karyawan di rumah sakit.
BAB IV
STANDAR PENINGKATAN KEWASPADAAN OBAT BERBAHAYA
(High Alert, LASA &Elektrolit Konsentrat)

4.1 Pengertian Obat High Alert


Obat high alert adalah obat yang perlu diwaspadai antara lain: Obat yang termasuk dalam
daftar kesalahan terbesar/ terbanyak dan/atau dapat mengakibatkan kejadian sentinel.Obat yang
beresiko lebih tinggi bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Obat yang memiliki kemiripan
bentuk/nama (Look A Like Sound A Like).
Obat yang termasuk dalam high alert medication diberikan stiker “High Alert”, disimpan
pada tempat terpisah, diberi selotip merah pada sekeliling tempatnya. Obat-obat yang termasuk
kategoriLASA (Look A Like Sound A Like) harus diatur penyimpanannya, dengan diantarai 1 item
(obat) dan diberi stiker. Obat-obatan tersebut harus selalu dilakukan pengecekan dua kali sebelum
diberikan kepada pasien.
3.2 Penyimpanan Obat High Alert
Penyimpanan obat berisiko tinggi harus terpisah dan diberi label high alert warna merah.
Untuk obat opioid (narkotik) disimpan sesuai peraturan pemerintah yaitu di lemari Narkotika
dengan kunci ganda dan anak kunci disimpan oleh penangggung jawab atau petugas lain yang
dikuasakan.Sedangkan untuk obat elektrolit konsentrasi tinggi tidak boleh disimpan diruang
perawatan, igd, maupun perinatologi.Obat hanya disimpan di farmasi di area terpisah,akses
terbatas, dan diberi label/ stiker.Setiap penyimpanan , penyiapan dan pemberian obat high alert,
dilakukan dengan dua kali pengecekan oleh dua orang yang berbeda dan permintaan obat high
alert harus sesuai kompetensi dokter yang tertulis diresep.
Penyiapan dan pemberian obat konsetrasi tinggi harus dilakukan secara teliti. Awasi area
sekitar pemasangan infus, lakukan verifikasi terhadap konsentrasi obat, kecepatan pemberian dan
jalur I.V sebelum pemberian dan gunakan label merah.Untuk Elektrolit pekat hanya disimpan di
farmasi,ditempat terpisah,akses terbatas dan tidak mudah dijangkau.
Obat LASA (Look Alike Sound Alike) disimpan dengan cara ditempatkan tidak bersebelahan
dengan obat LASA padanannya/ diantarai 1 item (obat).Setiap tindakan pengenceran elektrolit
pekat dilakukan pengecekan dua kali, didokumentasikan, dikerjakan oleh petugas farmasi/
petugas kesehatan yang kompeten.
3.3 Pelabelan Obat High Alert
Agar terciptanya keamanan dan mengurangi resiko kesalahan di rumah sakit obat high alert
diberi label segi enam bertuliskan high alert dengan warna dasar merah. Pelabelan juga dilakukan
pada obat high alert yang sudah dikeluarkan dari tempat aslinya.Setiap tempat penyimpanan obat
highalert diberi selotip merah disekeliling tempat penyimpanan obat high alert yang terpisah dari
obat lainnya.Untuk Obat LASA diberi label segi enam warna dasar kuning, hijau, biru dengan
tulisan hitam bertuliskan LASA,label ditempel pada tempat penyimpanan obat.Ketentuan
Pelabelan obat LASA dilakukan sebagai berikut:
a. Apabila obat tersebut tersedia dalam 4 macam kekuatan maka:
- Kekuatan terkecil diberi penanda stiker warna kuning.
- Kekuatan kedua diberi penanda stiker warna hijau
- Kekuatan ketiga diberi penanda stiker warna biru, dan
- Kekuatan terbesar tidak diberi stiker penanda.
b. Apabila obat tersebut tersedia dalam 3 macam kekuatan maka:
- Kekuatan terkecil diberi penanda stiker warna kuning.
- Kekuatan kedua diberi penanda stiker warna hijau
- Kekuatan terbesar diberi penanda stiker warna biru.
c. Apabila obat tersebut tersedia dalam 2 macam kekuatan maka:
- Kekuatan terkecil diberi penanda stiker warna kuning.
- Kekuatan terbesar diberi penanda stiker warna biru.
BAB V
STANDAR KESELAMATAN KAMAR OPERASI

Standar keselamatan kamar operasi adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam
penyelenggaraan pelayanan medik disarana pelayanan kesehatan. Ruang operasi adalah
suatuunit khusus dirumah sakit yagberfungsisebagai daerah pelayanan yang mengutamaka
aspek hirarki zonasi sterilitas.
BAB VI
STANDAR PENGURANGAN RESIKO INFEKSI TERKAIT

Pencegahan infeksi merupakan proses fisikal, mechanical, atau kimiawi yang dapat
membantu mencegah penyebaran mikroorganisme infeksi dari orang atau pasien, klien atau
petugas kesehatan dan peralatan instrumen. Tiga kategori resiko potensial infeksi
yangmenjadi dasar pemilihan praktik atau proses pencegahan yang akan digunakan
contohnya sterilisasi instrumen medis, sarung tangan dan benda-benda lainnya sewaktu
merawat pasien kriteri tersebut yaitu:
 Kritikal yaitu bahan dan praktik ini biasanya menyangkut jaringan steril atau sistem darah
dan merupakan resiko infeksi tertinggi
 Kegagalan untuk melakukan manajemen sterilisasi, atau lebih tepat nya melakukan
desinfeksi tingkat tinggi.
Keselamatan pasien rumah sakit suatu pendekatan untuk mengurangi resiko infeksi yang
terkait dalam pelayanan kesehatan health-care associated infections yang merupakan
komplikasi yang paling sering terjadi dipelayanan kesehatan. HAIs selama ini dikenal
sebagai infeksi nosokomial atau disebut juga infeksi dirumah sakit.
HAIs adalah penyakit infeksi yang pertama muncul penyakit infeksi yang tidak berasal
dari pasien itu sendiri. Standart pengurangan resiko infeksi terkait oleh kebersihan tangan
merupakan prosedur terpenting untuk mencegah transmisi penyebab infeksi melalui orang ke
orang
PELAYANAN KESEHATAN HAND HYGIENE
program hand hygiene yang efektif. terutama pada 5 momen
 Sebelum kontak dengan pasien
 Sebelum memulai tindakan aseptik
 Setelah kontak dengan pasien
 Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien
 Setelah meninggalkan ruangan pemeriksaan pasien
BAB VII
STANDAR RESIKO PASIEN JATUH

Permasalahan pasien jatuh telah menjadi perhatian penting bagi pemerintah dalam
pelayanan pasien di RS melalui peraturan menteri kesehatan No. 1691/MENKES / PER / VII /
2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit, bab 4 pasal 8 bahwa : setiap RS wajib
mengupayakan pemenuhan sasaran keselamatan pasien. Enam sasaran keselamatan pasien dan
salah satunya adalah pengurangan risiko pasien jatuh. Dalam rangka menurunkan risiko cedera
akibat jatuh, maka petugas RS perlu melakukan asesmen dan asesmen/penilaian ulang terhadap
kategori risiko pasien jatuh dan bekerja sama dalam memberikan intervesi pencegahan pasien
jatuh,
Sebagai suatu proses untuk mencegah kejadian jatuh pada pasien, dengan cara:
1. 1.Mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko tinggi jatuh dengan menggunakan “Asesmen
Risiko Jatuh”.
2. 2.Melakukan asesmen ulang pada semua pasien setiap 24 jam
3. 3.Melakukan asesmen yang berkesinambungan terhadap pasien yang berisiko jatuh.
Pengelolaan pasien risiko jatuh terutama dapat terjadi pada pasien yang dirawat
diruangan : rawat jalan dan rawat inap. Semua petugas yang bekerja di rumah sakit harus
memahami bahwa semua pasien yang dirawat inap dan rawat jalan memiliki risiko jatuh dan
semua petugas tersebut memiliki peran untuk mencegah pasien jatuh.
1. Asesmen awal
a. Perawat akan melakukan penilaian dengan Asesmen Risiko Jatuh saat pengkajian pasien
datang berobat ke rumah sakit, kemudian mencatat hasil penilaian risiko jatuh dan langsung
melakukan tindakan intervensi /pelaksanaan risiko jatuh.
b. Penilaian risiko jatuh dlakukan pada semua pasien baik di rawat jalan, igd dan di rawat
inap pada pasien dewasa dan anak-anak.
2. Asesmen ulang
Setiap pasien akan dilakukan asesmen ulang risiko jatuh pada :
- saat pasien pindah keruangan lain
- adanya perubahan kondisi dan terapi pasien
- adanya kejadian jatuh pada pasien
- setiap 1 x 24 jam
BAB VIII
PENUTUP

a. Kesimpulan
b. Saran