Anda di halaman 1dari 7

BAB I

Pendahuluan

Latar belakang

Pengertian realisme, secara etimologi berasal dari bahasa latin, res yang artinya benada atau
sesuatu. Secara umum realisme ini dapat diartikan sebagai upaya melihat segala sesuatu
sebagaimana adanya tanpa idealisasi, sepakulasi, atau idolisasi. Ia berupaya untuk menerima
fakta-fakta apa adanya betapapun tidak menyenangkan.

Dengan demikian, apabila dikaitkan dengan konsteks hukum, realisme itu bermakna sebagai
pandagan yang mencoba melihat hukum sebagaimana adanya tanpa idealiasi dan spekulasi atas
hukum yang bekerja dan yang berlaku. Pandangan yang mengusahakan menerima fakta-fakta
apa adanya mengenai hukum.

Tokoh yang terkenal dalam aliran ini adalah hakim agung Oliver Wendell Holmes, Jerome Frank
dan Karl Llewellyn. Kaum realis tersebut mendasarkan pemikirannya pada suatu konsepsi
radikal mengenai proses peradilan. Menurut mereka hukmitu lebih layak disebut sebagai
pembuat hukum daripada menemukanya. Hakim harus selalu melakukan pilihan, asas mana yang
akan diutamakan dan pihak mana yang akan dimenangkan. Aliran realis selalu menekankan pada
hakikat manussiawi dari tindakan tersebut

Holmes mengatakan bahwa kewajiban hukum hanyalah merupakan suatu dugaan bahwa apabila
seseorang berbuat atau tidak berbuat, maka dia akan menderita sesuai dengan keputusan suatu
pendailan. Lebih jauh Karl Llewellyn menekankan pada fungsi lembaga-lembaga hukum.

Pokok-pokok pendekatan kaum realis antara lain: hukum adalah alat untuk mencapai tujuan-
tujuan sosial dan hendaknya konsepsi hukum itu menyinggung hukum yang berubah-ubah dan
hukum yang diciptakan oleh pengadilan.

1.1. Rumusan masalah

Bagaimana mahzab Realisme hukum?

Bagaimana Konsep pemikiran realisme hukum?


1.2. Tujuan masalah

Mengetahui mahzab Realisme hukum

Mengetahui Konsep pemikiran realisme hukum


BAB II
Pembahasan

Realisme Hukum

Aliran Pragmatic Legal Realism dipelopori oleh Roscoe Pound konsep hukumnya ( Law as a tool
of social engineering ) sub aliran positivisme hukum Wiliam James dan Dewey mempengaruhi
lahirnya aliran ini. Titik tolaknya pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumberhukum.
Menurut Liewellyn, aliran realism adalah merupakan bukan aliran dalam filsafat hukum,tetapi
merupakan suatu gerakan ‘movement’ dalam cara berfikir tentang hukum.

Awal mula Realisme dari gerakan critical legal studies, yang semula merupakan keluh kesah dari
beberapa pemikir hukum di Amerika Serikat yang kritis, tanpa disangka ternyata begitu cepat
gerakan ini nenemukan jati dirinya dan telah menjadi suatu aliran tersendiri dalam teori dan
filsafat hukum. Dan ternyata pula bahwa gerakan ini berkembang begitu cepat ke berbagai
negara dengan kritikan dan buah pikirnya yang cukup segar dan elegan.

Sebagaimana biasanya suatu aliran dalarn filsafat hukurn, maka aliran realisme hukum juga lahir
dengan dilatarbelakangi oleh berbagai faktor hukum dan nonhukum, yaitu faktor-faktor sebagai
berikut:

Faktor perkembangan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan

Faktor perkembangan sosial dan politik.

Walaupun begitu, sebenarnya aliran pragmatism dari William James dan John Dewey itu sendiri
sangat berpengaruh terhadap ajaran dari Roscoe Pound dan berpengaruh juga terhadap ajaran
dari Oliver Wendell Holmes meskipun tidak sekuat pengaruhnya terhadap ajaran dari Roscoe
Pound.

Pengaruh dari aliran fragmatisme dalam filsafat sangat terasa dalam aliran realisme hukum.
Sebagaimana diketahui bahwa kala itu (awal abad ke-20), dalam dunia filsafat sangat
berkembang ajaran pragmatisme ini, antara lain yang dikembangkan dan dianut oleh William
James dan John Dewey. Bahkan, dapat dikatakan bahwa pragmatisme sebenarnya merupakan
landasan filsafat terhadap aliran realisme hukum. Dalam tulisan–tulisan dari para penganut dan
inspirator aliran realisme hukum, seperti tulisan d.ari Benjamin Cardozo atau Oliver Wendell
Holmes, sangat jelas kelihatan pengaruh dari ajaran pragmatisme hukum ini.

Hubungan antara aliran realisme hukurn dan aliran sosiologi hukum ini sangat unik. Di satu
pihak, beberapa fondasi dari aliran sosiologi hukum mempunyai kemiripan atau overlapping,
tetapi di lain pihak dalam beberapa hal, kedua aliran tersebut justru saling berseberangan. Roscoe
Pound, yang merupakan penganut aliran sociological jurisprudence, merupakan, salah satu
pengritik terhadap aiiran realisme hukum. Akan tetapi, yang jelas, sesuai dengan namanya, aliran
realisme hukum lebih aktual dan memiliki program-program yang lebih nyata dibandingkan
dengan aliran sociological jurisprudence (hukum yang baik haruslah hukum yang sesuai dengan
hukum yang hidup di antara masyarakat. Aliran ini secara tegas memisahkan antara hukum
positif dengan (the positive law) dengan hukum yang hidup (the living law).

Bagaimanapun juga, hukum mengatur kepentingan masyarakat. Karena itu, tentu saja, peranan
hukum dalam’masyarakat yang teratur seharusnya cukup penting. Tidak bisa dibayangkan betapa
kaeaunya masyarakat jika hukurn tidak berperan. Masyarakat tanpa hukum akan merupakan
segerombolan serigala, di mana yang kuat akan memangsa yang lemah, sebagaimana pernah
disetir oleh ahli pikir terkemuka, yaitu Thomas Hobbes beberapa ratus tahun yang silam. Homo
Homini Lupus. Dan, yang kalah bersaing dan fidak bisa beradaptasi dengan perkembangan alam
akan tersisih dan dibiarkan tersisih, sebagaimana disebut oleh Charles Darwin dalam teori seleksi
alamnya (natural selection), di mana yang kuat yang akan survive (the fittest of survival). Karena
itu, intervensi hukurn untuk mengatur kekuasaan dan masyarakat merupakan conditio sine qua
non (syarat mutlak), Dalam hal ini, hukum akan bertugas untuk mengatur dan membatasi
bagaimana kekuasaan manusia tersebut dijalankan sehingga tidak menggilas orang’lain yang
tidak punya kekuasaan.

Dunia akan kacau seandainya hukum tidak ada, tidak berfungsi atau kurang berfungsi. Ini adalah
suatu kebenaran yang telah terbukti dan diakui bahkan sebelum manusia mengenal peradaban
sekalipun. Mengapa masyarakat Amerika Serikat sampai membenarkan pengiriman putra-putra
bangsanya untuk bergerilya dan mempertaruhkan nyawanya di hutan tropis dan rawa – rawa
dalarn Perang Vietnam pada awal dekade 1960-an, Mengapa kerusakan lingkungan terjadi di
mana-mana, Dan yang lebih penting lagi, mengapa semua masalah tersebut dan luluh lantak
seperti itu terjadi pada abad ke-20 ini, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi sedang
mengkiaim dirinya berada di puncak kemajuannya di atas menara gading itu, Semua ini
memperlihatkan.dengan jelas betapa ilmu hukum dan ilmu sosial serta ilmu budaya sudah gagal
dan lumpuh sehingga sudah tidak dapat menjalankan fungsinya lagi sebagai pelindung dan
pemanfaat terhadap peradaban dan eksistensi manusia di bumi ini.

Karena itu, dalam bidang ilmu nonsains, bahkan juga kemudian dalam ilmu sains itu sendiri,
terdapat gejolak – gejolak dalam bentuk pembangkangan, yang semakin lama tensinya semakin
tinggi. Gejolak tersebut yang kemudian mengkristal menjadi protes yand akhirnya melahirkan
aliran baru dengan cara pandang baru terhadap dunia, manusia, dan masyarakat dengan berbagai
atributnya itu. Karena sains juga mempunyai watak “anarkis”, maka pada awal mulanya setiap
pembangkangan dianggap sebagai konsekuensi dari perkembangan sains sehingga
pembangkangan tersebut dianggap wajar-wajar saja.

Dalam pandangan penganut Realisme, hukum adalah hasil dari kekuatan-kekuatan sosial dan
control social. Beberapa cirri realisme yang terpenting diantaranya:

Tidak ada mazhab realis; realisme adalah gerakan dari pemikiran dan kerja tangan hukum.

Realisme adalah konsepsi hukumyang terus berubah dan alat untuk tujuan-tujuan social,
sehingga tiap bagian harus diuji tujuan dan akibatnya.

Realisme menganggap adanya pemisahan sementara antara hukum yang ada dan harusnya ada,
untuk tujuan-tujuan studi.

Realisme tidak percaya pada ketentuan-ketentuan dan konsepsi-konsepsi hukum, sepanjang


ketentuan-ketentuan dan konsepsi hukum menggambarkan apa yang sebebarnya dilakukan oleh
pengadilan-pengadilan dan orang-orang.

Realisme menekankan evolusi tiap bagian hukum dengan mengingatkan akibatnya.

2.1. Konsep Pemikiran Realisme Hukum

Paham realisme hukum memandang hukum sebagaimana seorang advokat memandang hukum.
Bagi seorang advokat, yang terpenting dalam memandang hukum adalah bagaimana.
memprediksikan hasil dari suatu proses hukum dan bagaimana masa depan dari kaidah hukum
tersebut. Karena itu, agar dapat memprediksikan secara akurat atas hasil dari suatu putusan
hukum, seorang advokat haruslah juga mempertimbangkan putusan-putusan hukum pada masa
lalu untuk kemudian memprediksi putusan pada masa yang akan datang.

Para penganut aliran critical legal studies telah pula bergerak lebih jauh dari aliran realisme
hukurn dengan mencoba menganalisisnya dari segi teoretikal-sosial terhadap politik hukum.
Dalarn hal ini yang dilakukannya adalah dengan menganalisis peranan dari mitos “hukurn yang
netral” yang melegitimasi setiap konsep hukum, dan dengan menganalisis bagaimana sistern
hukurn mentransformasi fenomena sosial yang sarat dengan unsur politik ke dalam simbol-
simbol operasional yang sudah dipolitisasi tersebut. Yang jelas, aliran critical legal studies
dengan tegas menolak upaya-upaya dari ajaran realisme hukum dalam hal upaya aliran realisme
hukum untuk memformulasi kembali unsur “netralitas” dari sistern hukum.

Seperti telah dijelaskan bahwa aliran realisme hukum ini oleh para pelopornya sendiri lebih suka
dianggap sebagai hanya. sebuah gerakan sehingga mereka. menyebutnya sebagai “gerakan”
realisme hukum (legal realism movement). Nama populer untuk aliran tersebut memang
“realisme hukum” (legal realism) meskipun terhadap aliran ini pernah juga diajukan nama lain
seperti: Functional Jurisprudence. Experimental Jurisprudence. Legal Pragmatism. Legal
Observationism. Legal Actualism. Legal Modesty Legal Discriptionism. Scientific
Jurisprudence. Constructive Scepticism.

Sebenranya realime sebagai suatu gerakan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu Realisme
Amerika dan Realisme Skandinavia. Menurut Friedmann, persamaan Realisme Skandinavia
dengan Realisme Amerika adalah semata-mata verbal.

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Realisme hukum muncul karena adanya keputusasaan yang dirasakan oleh masyarakat atas
ketidakmampuan hukum yang ada untuk menjawab segala rasa keadilan yang diperlukan oleh
masyarakat. Banyaknya disparitas putusan serta tumpulnya hukum yang tidak mampu
menjangkau orang yang memiliki harta melimpah menyebabkan masyarakat menolak adanya
hukum secara formil yang menggeneralisirkan setiap kasus yang ada. Realisme hukum menolak
adanya preseden dan hal ini adalah pemikiran yang wajar karena disertai dengan alasan-alasan
yang kuat.

Anda mungkin juga menyukai