Anda di halaman 1dari 33

PENGANGGARAN MODAL DAN ANALISIS RISIKO

DALAM PENGANGGARAN MODAL

Tugas Ini Untuk Memenuhi Mata Kuliah

Manajemen Keuangan

Dosen Pengampu :

Hasan Al Banna, SE.I., M.E

Disusun oleh:
Dzikri Hamzah Amin (17108020032)
Muharrudin Nur Hidayat (17108020119)
Hasna’ Nur Afifah (17108020069)
Fitri Amalia Lestari (17108020136)

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2018
ii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh


Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
segala nikmat dan karunia-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan penulisan makalah
ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat beserta salam semoga tetap tercurah
limpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW. Dalam makalah ini
kami akan membahas mengenai “Penganggaran Modal dan Analisis Risiko dalam
Penganggaran Modal”.
Penulisan makalah ini tak lain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas pada
mata kuliah Manajemen Keuangan yang diampu oleh Bapak Hasan Al Banna, SE.I., ME
yang mana beliau juga telah memberikan masukan dan referensi mengenai penulisan
makalah ini.
Tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini baik dari
segi penulisan maupun materi. Oleh karenanya, kritik dan saran yang membangun sangat
kami harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah di masa depan. Akhirnya, dengan
segala kerendahan hati, kami berharap bahwa makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi pembacanya.
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yogyakarta, 18 Oktober 2018

Penyusun,

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii

DAFTAR ISI......................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang...........................................................................................................1

B. Rumusan Masalah.......................................................................................................1

C. Tujuan.........................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................3

A. Pengertian Penganggaran Modal.............................................................................3

B. Proses Penganggaran Modal....................................................................................3

C. Macam-Macam Keputusan Penganggaran Modal...................................................6

D. Metode Penilaian Usulan Investasi..........................................................................7

E. Perbandingan Hasil Evaluasi Proyek Yang Bersifat Mutually Exclusive.................11

F. Capital Rationing Untuk Proyek Dengan Ukuran Yang Berbeda.............................15

G. Cara Mengukur Risiko Proyek.................................................................................16

H. Metode Analisis Risiko Proyek Investasi.................................................................20

I. Penerapan Pendekatan Decision Tree dalam Mengambil Keputusan Investasi.........24

BAB III PENUTUP..........................................................................................................28

A. Kesimpulan...............................................................................................................28

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................29

iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di sebagian besar perusahaan, capital budgeting adalah salah satu sumber utama
keuntungan perusahaan tersebut. Karena dengan adanya capital budgeting mereka dapat
menghitung tingkat keuntungan yang akan mereka dapatkan pada jangka panjangnya.
Penganggaran modal adalah istilah yang sering kita dengar pada saat berhubungan
dengan uang. Tapi seringkali istilah penganggaran modal disalah tafsirkan sebagai alat
untuk menghitung keuntungan saja, padahal penganggaran modal (capital budgeting)
bukan hanya sekedar itu saja.
Maka dari itu kita harus memahami betul pengertian dari penganggaran modal
(capital budgeting) agar penafsiran tidak hanya terbatas pada mencari keuntungan saja
tetapi melakukan keputusan investasi yang akan berdampak bagus pada jangka panjang
maupun jangka pendek bagi perusahaan. Di suatu perusahaan, seorang manajer keuangan
harus paham betul dengan capital budgeting ini sebab seorang manajerlah yang akan
memutuskan investasi atau penanam modal ini dapat diinvestasikan agar berdampak baik
pada perusahaan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja macam-macam keputusan penggaran modal?
2. Bagaimana metode penilaian usulan investasi?
3. Bagaimana capital rationing dan peniliaan usulan investasi dengan ukuran yang
berbeda?
4. Bagaimana cara megukur risiko proyek?
5. Apa saja metode analisis risiko proyek investasi?
6. Bagaimna penerapan decision tree dalam pengambilan keputusan investasi?

C. Tujuan
1. Mengetahui macam-macam keputusan penggaran modal?
2. Mengetahui metode penilaian usulan investasi?
3. Mengetahui capital rationing dan peniliaan usulan investasi dengan ukuran yang
berbeda?
4. Mengetahui cara megukur risiko proyek?
5. Mengetahui metode analisis risiko proyek investasi?
v
6. Mengetahui penerapan decision tree dalam pengambilan keputusan investasi?

BAB II
PEMBAHASAN

vi
A. Pengertian Penganggaran Modal

Penganggaran modal meliputi keseluruhan proses perencanaan pengeluaran uang


untuk investasi jangka panjang (lebih dari satu tahun) beserta dengan proyeksi arus kas
yang akan diterima di masa yang akan datang. Aset yang diinvestasikan bisa berupa
tangible atau intangible. Umumnya investasi yang melalui penganggaran modal
memerlukan modal berjumlah besar dan mempunyai umur yang panjang dengan arus kas
yang tersebar selama umur proyek investasi tersebut. Sehingga keputusan dalam
penganggaran modal akan memiliki dampak kepada arus kas di masa yang akan datang
dan memberikan risiko yang berhubungan dengan arus kas tersebut. Jadi penganggaran
modal turut menentukan kesuksesan dankegagalan dari suatu perusahaan.

B. Proses Penganggaran Modal

Penganggaran modal merupakan multi-faceted activity yang memiliki fase-fase


sekuensial dalam prosesnya. Berikut fase- fase dari proses penganggaran modal :
1) Strategic Planning (Perencanaan Strategis)
Sebuah perencanaan strategis merupakan desain secara keseluruhan dari
perusahaan dan menjelaskan tentang bisnis yang digeluti oleh perusahaan dan dimana
perusahaan akan memposisikan dirinya di masa depan. Perencanaan strategis
menterjemahkan tujuan perusahaan menjadi kebijakan dan perintah yang spesifik,
prioritas perusahaan, struktur perusahaan, area yang strategis dan taktis dari
pengembangan bisnis ,dan membimbing proses perencanaan dalam meraih tujuan.
Perencanaan strategis dari suatu perusahaan bisa berubah di masa depan jika feedback
dari proses penganggaran modal perlu merubah perencanaan strategis.
2) Identifikasi dari kesempatan-kesempatan investasi
Proses identifikasi ini penting dalam proses penganggaran modal karena
proposal proyek harus sesuai dengan tujuan perusahaan, visi, misi dan rencana
strategi jangka panjang. Beberapa proyek tidak selalu untuk tujuan keuntungan,
beberapa investasi dilakukan untuk tujuan menaati peraturan misalnya untuk
kesehatan dan keamanan kerja yang bertujuan untuk kelangsungan pekerjaan. Dan
beberapa investasi bertujuan untuk perbaikan atau efisiensi tetapi juga memberikan
kesempatan berkembang misalnya penyusutan biaya.
Investasi yang menguntungkan tidak lahir begitu saja, harus ada yang
mengusulkan. Karena itu perusahaan harus mencari dan mengidentifikasikan potensi
vii
dari kesempatan investasi dalam memberikan keuntungan bagi perusahaan. Dan
melalui proses penganggaran modal hanya akan dipilih kesempatan investasi yang
terbaik
Maka banyak perusahaan membuat divisi research and development (R&D)
yang secara kontinu mencari dan meneliti produk, jasa dan proses baru yang bisa
menjadi kesempatan investasi untuk memberikan keuntungan bagi perusahaan.
3) Penyeleksian awal dari proposal investasi
Pada umumnya di perusahaan akan mendapatkan banyak proposal investasi
tapi tidak akan bisa dilakukan semuanya. Maka dilakukan penyeleksian awal dari
proposal investasi yang bertujuan untuk mengisolasi proposal yang dirasa kurang
cocok dengan perusahaan. Pada tahap ini akan dilakukan analisis kuantitatif dan
judgements berdasarkan pengalaman dan perasaan intuisi.
4) Financial appraisal of projects (Analisis Proyek Secara Kuantitatif)
Proposal proyek yang lolos pada fase penyeleksian awal akan menjadi
kandidat untuk dilakukan penelitian secara finansial sehingga bisa diketahui apakah
proyek tersebut bisa memberikan value kepada perusahaan. Pada fase ini dilakukan
analisis proyek secara kuantitatif, ekonomi dan keuangan.
Analisis proyek memungkinkan menajemen untuk bisa memprediksi
ekspektasi arus kas di masa depan dari suatu proyek, menganalisis risiko yang terkait
dengan arus kas di masa depan, mengembangkan alternatif proyeksi arus kas,
memeriksa sensitifitas arus kas terhadap perubahan- perubahan yang mungkin terjadi,
melakukan simulasi arus kas dan mengestimasikan nilai tunai netto (net present value)
dari proyek. Hasil dari analisis proyek akan sangat mempengaruhi keputusan
investasi. Dimana keputusan ini akan mempengaruhi sukses atau gagalnya perusahaan
dan arah dari perusahaan di masa yang akan datang. Karena itu, analisis proyek sangat
penting dalam perusahaan.
5) Qualitative factors in project evaluation (Analisis Proyek Secara Kualitatif)
Setelah melewati fase analisis proyek, akan dilakukan pengujian secara
kualitatif untuk faktor-faktor yang akan mempengaruhi proyek. Misalnya: apakah
proyek mempengaruhi jumlah karyawan, apakah proyek mempengaruhi lingkungan,
pengaruh politik atau kebijakan pemerintah terhadap proyek, strategi yang akan
digunakan jika bahan baku langka, apakah proyek mempengaruhi hubungan dengan
perserikatan pekerja, apakah proyek akan menemui kesulitan dalam menghadapi hak

viii
paten atau nama produk untuk proyek, dan pengaruh proyek terhadap image
perusahaan.
Manajemen akan memperhitungkan faktor-faktor tersebut melalui diskusi dan
konsultasi dengan pihak-pihak yang terkait. Dalam fase ini akan diperlukan
pengalaman manajemen dan judgemental skill yang baik untuk menentukan
kelanjutan dari proyek.
6) Keputusan untuk menerima atau menolak proyek
Hasil dari analisis proyek secara kuantitatif dan kualitatif akan menjadi sumber
informasi dalam pembuatan keputusan. Para analis akan memberikan hasil analisis
beserta dengan rekomendasi kemudian manajemen dengan pengalaman yang dimiliki
juga dengan „gut feeling‟ dan judgement akan melakukan pengambilan keputusan
untuk menerima atau menolak proyek.
7) Implementasi proyek dan proses pengamatan
Setelah diterima, proyek akan diimplementasikan dan akan terus diamati untuk
mengetahui potensi gangguan yang bisa terjadi dan perbedaan yang terjadi dari
estimasi arus kas dengan arus kas yang terjadi, supaya bisa dilakukan perbaikan.
8) Post-implementation audit (Audit setelah implementasi)
Fase ini melakukan evaluasi performansi dari p1royek yang akan berkontribusi
kepada kemajuan dari pembuatan keputusan di masa yang akan datang. Hasilnya bisa
memberikan feedback yang baik dalam proses analisis proyek dan pembuatan strategi
perusahaan.

C. Macam-Macam Keputusan Penganggaran Modal

Pengelompokan keputusan penganggaran modal dibuat dengan maksud untuk


meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Proses administrasi untuk menyetujui
dan mengawasi keputusan penganggaran modal berbeda untuk proyek yang berbeda.
Dengan melakukan pengelompokan penganggaran modal, suatu perusahaan dapat
mengembangkan prosedur administrasi yang distandarisasi untuk menangani kelompok
usulan investasi tertentu.

1
Bambang Halim, Analisis Penganggaran Modal dan Analisis Risiko dengan Simulasi Monte Carlo dalam
Proyek Pembangunan Pabrik Baru pada Firma Trico Paint Factory, Tesis Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta: 2011.
ix
Ditinjau dari aspek penghematan biaya dan peningkatan pendapatan, usulan investasi
dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Penggantian (Replacement), yaitu usulan investasi untuk mengganti aset yang
sudah aus agar efisiensi produksi tetap dapat dipertahankan, misalnya mesin lama
diiganti dengan mesin baru yang lebih efisien.
2. Perluasan (expansion), yaitu usulan investasi yang dimaksudkan untuk menambah
kapasitas produksi dari lini produk yang telah ada, misalnya menambah jumlah
mesin baru yang tipenya sama dengan nesin yang telah dipakai.
3. Pertumbuhan (Growth), yaitu usulan investasi untuk mengembangkan lini produk
yang baru berbeda dengan lini produk yang sudah ada, misalnya mula-mula
perusahaan bergerak dalam bidang produksi sepatu kemudian, melakukan investasi
baru di bidang restoran.
Sementara itu, ditinjau dari tingkat ketergantungannya, usulan proyek investasi dapat
dikelompokkan menjadi empat.
1. Independent project, yaitu dua atau lebih proyek yang tidak ada keterkaitan antara
proyek yang satu dengan yang lainnya, misalnya investasi pada pabrik mobil dan
investasi pada pabrik minuman kemasan. Apabila kedua proyek tersebut layak dan
dana yang tersedia cukup, maka kedua proyek tersebut dapat dilaksanakan.
2. Mutually exclusive project, yaitu dua atau lebih usulan investasi yang mempunyai
manfaat yang sama dan jika semuanya layak, maka tidak semuanya dapat
dilaksanakan tetapi harus dipilih salah satu diantaranya yang terbaik. Misalnya,
untuk memindahkan bahan baku di dalam pabrik perusahaan dapat mempergunakan
peralatan forklip atau menggunakan ban berjalan.
3. Complement project, yaitu dua atau lebih usulan investasi yang bersifat saling
melengkapi, misalnya investasi pada gedung pertokoan dan investasi pada tempat
parkir.
4. Subtitutes project, dua usulan investasi yang bersifat saling menggantikan, misalnya
produksi sabun bubuk akan mengurangi permintaan sabun batangan.

D. Metode Penilaian Usulan Investasi

Inti dari penganggaran modal sesungguhnya merupakan inti dari semua analisis
keuangan, yaitu membuat keputusan yang akan memaksimumkan nilai perusahaan.

x
Terdapat beberapa metode untuk menilai kelayakan dari suatu usulan proyek investasi,
diantaranya:
1. Payback Period (PBP)
2. Net Present Value (NPV)
3. Internet Rate of Return (IRR)

Cash Flows dari tiga proyek yang bersifat mutually exsclusive (dalam ribuan)
Tahun A B C PVIF
0 Rp -1.500 Rp -1.500 Rp -1.500 1,000
1 150 150 300 0,909
2 1.350 300 450 0,826
3 150 450 750 0,751
4 -150 600 750 0,683
5 -600 1.875 900 0,621

Kolom terakhir dari tabel menunjukkan Present Value Interest Factor (PVIF) dengan
asumsi biaya modal (tingkat keuntungan minimum yang disyaratkan) dari proyek-proyek
tersebut adalah sama 10%. Hal ini karena ketiga proyek tersebut dianggap mempunyai
risiko yang sama.
 Payback Period
Payback period adalah periode waktu yang diperlukan untuk menutup kembali seluruh
investasi awal yang dikeluarkan dengan mempergunakan arus kas masuk yang diperoleh
dari proyek tersebut. Payback period untuk keempat proyek investasi sebagaimana
datanya disajikan pada tabel di atas adalah:
1. Proyek A, 2 tahun
2. Proyek B, 4 tahun
3. Proyek C, 3 tahun
Karena ketiga proyek tersebut bersifat mutually exsclusive maka yang dipilih adalah
proyek yang mempunyai playback period paling pendek, yaitu proyek A. Metode
playback period mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:
1. Tidak mempertimbangkan semua cash flows, akibatnya arus kas negatif yang terjadi
pada dua tahun terakhir untuk proyek A terabaikan.

xi
2. Tidak mempertimbangkan konsep nilai waktu uang, hal ini berarti arus kas yang
dihasilkan setiap tahunnya tidak didiscount, padahal arus kas tertentu pada tahun
pertama nilainya lebih besar dari arus kas yang sama pada tahun berikutnya.
Kelemahan kedua dari metode payback period dapat diatasi dengan menerapkan metode
Discounted Payback Period (DPBP). Misalnya dengan menggunakan data proyek C,
perhitungan discouned payback period-nya dapat disimak pada tabel berikut:
Tahun Cash Flows PVIF Present Value Cumulative PV
0 Rp -1.500 1,000 Rp -1.500 Rp -1.500
1 300 0,909 273 -1.227
2 450 0,826 372 -855
3 750 0,751 563 -292
4 750 0,683 512 +220
5 900 0,621 559 +779

Pada tabel tersebut tampak bahwa dengan mempergunakan arus kas yang sudah
didiskonto (discounted cash flows) investasi awal proyek C baru dapat ditutup kembali
pada tahun keempat. Dengan demikian payback period-nya menjadi lebih lama.
Net Present Value

Net Present Value, merupaka metode yang didasarkan pada arus kas yang
didiskonto (discounted cash flows). Implementasi dari metode ini, pertama harus harus
dihitung nilai sekarang dari arus kas masuk bersih yang diharapkan dari suatu proyek
investasi, didiskonto dengan biaya modal dan kemudian dikurangi dengan inveastasi
awal dari proyek tersebut. Secara matematis perhitungan NPV dapat dirumuskan sebagai
berikut:

Dengan mempergunakan data dari proyek B, dan tingkat diskonto 10%, besarnya NPV
dapat dihitung sebagaimana dapat disimak pada tabel berikut:
Tahun Cash Low PVIF PV
0 Rp -1.500 1,000 Rp -1.500
1 150 0,909 136,35
2 300 0,826 247,80
3 450 0,751 337,95
4 600 0,683 409,80
5 1.875 0,621 1.164,38
NPV Rp 796,28

xii
Dengan cara yang samadapat dihitung besarnya NPV untuk masing-masing proyek dan
hasilnya adalah sebagai berikut:
Proyek A, NPV = Rp -610,95
Proyek B, NPV = Rp 796,28
Proyek C, NPV = Rp 778,80
Menurut kriteria NPV suatu usulan proyek investasi dinyatakan layak diterima, jika
nilai NPV ≥ 0, apabila NPV < 0, maka usulan proyek investasi tidak layak dilaksanakan.
Apabila ketiga proyek tersebut bersifat independen, maka proyek B dan C adalah layak
dilaksanakan, sedangkan proyek A tidak layak dilaksanakan, akan tetapi karena proyek-
proyek tersebut bersifat mutually exclusive, mak proyek yang dipilih adalah proyek B
yang mempunyai nilai NPV paling besar.
Proyek yang memiliki nilai NPV = 0 tidak berarti proyek tersebut hanya mencapai break
event point (BEP), melainkan proyek tersebut masih memperoleh laba, hanya saja laba
yang diperoleh habis dipergunakan untuk:
1. Membayar bunga kepada kreditur yang telah meminjamkan dana untuk
membiayai proyek tersebut
2. Membayar semua keuntungan yang diharapkan (deviden) kepada pemegang
saham yang telah menginvestasikan dananya pada proyek tersebut
3. Membayar investasi awal dari proyek tersebut
Dengan demikian NPV = 0 menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh dari proyek
tersebut tidak ada yang digunakanuntuk meningkatkan nilai perusahaan, sebaliknya jika
NPV > 0, berarti nilai perusahaan meningkat sebesar NPV proyek yang bersangkutan.
Dengan demikian, metode NPV merupakan metode yang hasil penilaiannya selalu
konsisten dengan tujuan perusahaan, yaitu untuk memaksimalkan nilai perusahaan
Internal Rate of Retrun
Internal Rate of Retrun (IRR) merupakan tingkat diskonto (discount rate) yang
menghasilkan NPV = 0. Secara sistematis, perhitungan IRR dapat dirumuskan dalam
persamaan sebagai berikut:

Berdasarkan rumus di atas, data yang telah diketahui adalah arus kas bersih dan
investasi awal serta umur proyek, sedangkan IRR-nya dapat dihitung dengan cara coba-

xiii
coba (trial and error), jika arus kas tiap tahunnya tidak sama. Dengan mempergunakan
data proyek C, IRR dapat dihitung sebagaimana dapat disimak pada tabel di bawah.
Berdasarkan perhitungan IRR tersebut tampak bahwa pada tingkat diskonto 25,4%,
NPV yang dihasilkan adalah negatif sebesar (Rp -1,65). Hasil NPV ini mendekati 0
sehingga dapat diangap bahwa IRR-nya adalah mendekati 25,4%. Menurut metode IRR,
suatu proyek dinyatakan layak untuk diterima jika IRR ≥ Cost of capital dan jika
sebaliknya, maka proyek tidak layak diterima. Jika biaya modal sebesar 10%, berarti
proyek C yang mempunyai IRR sebesar 25,4% adalah layak dilaksanakan.

Tahun Cash Lows PVIF(10%) PV(10%) PVIF(25,4%) PV(25,4%)


0 Rp -1.500 1,000 Rp -1.500 1,000 Rp -1.500
1 300 0,909 272,7 0,797 239,10
2 450 0,826 371,7 0,636 286,20
3 750 0,751 563,25 0,507 380,25
4 750 0,683 512,25 0,404 303,00
5 900 0,621 558,90 0,322 289,80
NPV 778,80 Rp -1,65
`
Dengan cara yang sama dapat dihitung IRR untuk masing-masing proyek yang hasilnya
adalah sebagai berikut:
Proyek A, IRR = -200%
Proyek B, IRR = 22,8%
Proyek C, IRR = 25,4%
Untuk menghitung IRR dapat dilakukan dengan cara interpolasi. Berdasarkan contoh
pada tabel sebelumnya, maka besarnya IRR adalah:

Apabila besarnya arus kas bersih setelah pajak yang diperkirakan dihasilkan dari suatu
usulan investasi adalah sama setiap tahunnya, maka perhitungan IRR dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

xiv
Hasil dari I0 /NCF merupakan nilai Present Value Interest Factor Annuity (PVIFA) yang
ada pada tabel Present Value Annuity. Selanjutnya dengen menggunakan tabel tersebut
dapat diketahui besarnya IRR
E. Perbandingan Hasil Evaluasi Proyek Yang Bersifat Mutually Exclusive
Evaluasi Proyek, juga dikenal sebagai studi kelayakan proyek (atau studi
kelayakan bisnis pada proyek bisnis), merupakan pengkajian suatu usulan proyek (atau
bisnis), apakah dapat dilaksanakan (go project) atau tidak (no go project), dengan
berdasarkan berbagai aspek kajian. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah suatu
proyek dapat dilaksanakan dengan berhasil, sehingga dapat menghindari keterlanjuran
investasi modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan.
Sedangkan tahapan-tahapan evaluasi proyek dapat dibagi menjadi beberapa tahap
sebagai berikut:
1) Tahap Penemuan ide, yakni penelitian terhadap kebutuhan pasar dan jenis produk
dari proyek. Jika terdapat lebih dari satu ide, maka biasanya pengambil keputusan
akan dipengaruhi oleh tiga faktor: (1) intuisi bisnis dari pengambil keputusan; (2)
pengambil keputusan memahami teknis dari proyek; (3) keyakinan bahwa proyek
mampu menghasilkan laba.
2) Tahapan Penelitian; yakni meneliti beberapa alternatif proyek dengan berbagai
metode ilmiah. Dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah data berdasarkan
metode yang relevan, menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan
data dengan alat-alat analisis yang sesuai; menyimpulkan hasil sampai pada
pekerjaan membuat laporan hasil penelitian.
3) Tahap Evaluasi (Evaluasi Pendahuluan dan Evaluasi Kelayakan Proyek).
Evaluasi berarti membandingkan sesuatu berdasarkan satu atau lebih standar atau
kriteria, dimana standar atau kriteria ini dapat bersifat kuantitatif maupun
kualitatif. Hal yang diperbandingkan dalam evaluasi kelayakan proyek biasanya
adalah manfaat (benefit) dengan seluruh biaya yang akan timbul.
4) Tahap Pengurutan Usulan yang Layak. Apabila terdapat lebih dari satu usulan
rencana proyek yang dianggap layak, dan bila manajemen memiliki keterbatasan

xv
dalam menjalankan proyek-proyek tersebut, maka manajemen dapat menentukan
prioritas usulan yang layak berdasarkan kriteria-kriteria pengurutan (ranking)
yang telah ditentukan.
5) Tahap Rencana Pelaksanaan. Setelah ditentukan rencana proyek mana yang akan
dijalankan, perlu dibuat rencana kerja pelaksanaan pembangunan (konstruksi)
proyek; mulai dari penentuan jenis pekerjaan, waktu yang dibutuhkan untuk
setiap pekerjaan; jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana; ketersediaan dana dan
sumberdaya lainnya; kesiapan manajemen, dll.
6) Tahapan Pelaksanaan, yakni tahap merealisasikan konstruksi proyek tersebut.
Jika proyek selesai dikonstruksi, maka proyek dioperasionalisasikan. Dalam
operasionalisasi ini, diperlukan juga kajian-kajian untuk mengevaluasi
operasionalisasi proyek. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan sebagai feedback bagi
perusahaan untuk selalu mengkaji ualng proyek secara terus-menerus.

Merujuk pada buku teori dan praktik manajemen keuangan perusahaan karya I
Made Sudana, maka perbandingan hasil evaluasi proyek yang bersifat mutually exclusive
terdapat pada halaman 126-127. Dalam buku tersebut di paparkan rentetan dari awal
mengenai penganggaran modal yang di dalamnya termasuk perbandingan hasil evaluasi
proyek. Jadi, jika pembaca merasa kebingungan ketika membaca makalah ini dapat
langsung melihat kepada rujukannya.

Perbandingan hasil evaluasi ketiga proyek yang bersifat mutually exclusive


dengan menggunakan metode Payback Period (PBP), Net Present Value (NPV), dan
Internal Rate of Return (IRR), seperti table dibawah ini.
Metode Proyek A Proyek B Proyek C
PBP 2 tahun 4 tahun 3 tahun
NPV Rp – 610,95 Rp796,28 Rp778,80
IRR -200% 22,8% 25,4%

Dari tabel tersebut, tampak bahwa ketiga metode tersebut memberikan hasil
penilaian yang berbeda, yaitu PBP memilih proyek A, NPV memilih proyek B, dan IRR
memilih proyek C. Permasalahannya adalah proyek mana yang sebaiknya dipilih,
mengingat hasil dari masing-masing metode memilih atau memberikan saran yang
berbeda. Oleh sebab itu, perlu dikaji kelemahan dan keunggulan dari masing-masing
metode tersebut.
xvi
Metode PBP tidak mempertimbangkan konsep nilai waktu uang, hal ini
merupakan kelemahan yang mendasar dari metode tersebut. Konsep nilai waktu uang
penting dipertimbangkan dalam mengevaluasi investasi jangka Panjang, karena investasi
tersebut menghasilkan arus kas tidak secara sekaligus melainkan bertahap beberapa
tahun. Nilai sejumlah kas pada tahun pertama lebih tinggi dibandingkan nilai jumlah kas
yang sama pada tahun-tahun berikutnya.
Metode NPV dan IRR, keduanya mempertimbangkan konsep nilai waktu uang,
tetapi metode IRR tidak selalu memberikan hasil evaluasi yang konsisten dengan metode
NPV, sebagaimana tampak dalam kasus penilaian usulan investasi yang bersifat mutually
exclusive. Namun demikian dalam kondisi tertentu metode NPV dan IRR dapat
memberikan hasil evaluasi yang sama, artinya kalau menurut metode NPV memilih
proyek A, maka menurut metode IRR juga memilih proyek A. Sebagai ilustrasi dapat
dilihat gambar di bawah ini.

Berdasarkan ilustrasi tersebut jika tingkat diskonto lebih kecil dari k*, metode
NPV dan metode IRR memberikan hasil evaluasi yang berbeda, yaitu menurut metode
NPV pilih proyek Y (NPV Y > NPV X) sedangkan menurut IRR pilih proyek X (IRR X
> IRR Y). Sebaliknya jika tingkat diskonto lebih besar dari k*, kedua metode ini
menghasilkan atau memberikan evaluasi yang sama, yaitu memilih proyek X. Kalau
begitu, mana yang lebih baik diantara kedua metode tersebut? Menurut Weston dan
Copefand metode IRR lebih inferior dibandingkan dengan metode NPV. Hal ini
didasarkan beberapa alasan:
a. Asumsi tentang reinvestment rate. Berdasarkan metode NPV jika beberapa proyek
memiliki tingkat risiko yang sama, maka tingkat keuntungan yang disyaratkan dari
investasi tersebut seharusnya sama, yaitu sebesar biaya modalnya, sedangkan
xvii
menurut metode IRR tingkat keuntungan yang disyaratkan adalah sebesar IRR-nya.
Hal ini kurang sesuai dengan teori hubungan antara risiko dan pendapatan yang
diharapkan.
b. Metode IRR untuk kasus arus kas tertentu dapat menghasilkan IRR lebih dari satu
(multiple IRR). Jika hal ini terjadi, maka akan membingungkan pengambil
keputusan, IRR yang mana akan dipergunakan untuk mengevaluasi suatu usulan
investasi.
c. Metode NPV dan IRR, akan selalu memberikan kesimpulan yang sama mengenai
penolakan dan penerimaan bagi proyek-proyek yang independen. NPV
menunjukkan profitability, sedangkan IRR menunjukkan margin.
d. Metode NPV dan IRR dapat menghasilkan “konflik rangking” untuk proyek-proyek
yang mutually exclusive.
e. Dalam hal penggunaan discount rate, baik lending rate maupun borrowing rate
sebagai batasan untuk menerima atau menolak suatu proyek, NPV memberikan
jawaban yang lebih baik, dibandingkan dengan metode IRR.
Contoh:
NPV dengan
Proyek Cash Flow (Rp 1 M) IRR
discount rate 10%
C0 C1
A -1,0 +1,5 +50% +Rp 364 Juta
B +1,0 -1,5 +50% -Rp 364 Juta

a) Bila menggunakan kriteria IRR kedua proyek layak diterima.


b) Bila menggunakan kriteria NPV, yang layak diterima adalah Proyek A saja.
c) Bila ditemukan kondisi seperti ini, yang dipakai adalah kriteria NPV.
F. Capital Rationing Untuk Proyek Dengan Ukuran Yang Berbeda
Jika perusahaan mempunyai beberapa usulan proyek investasi tetapi perusahaan
tidak punya cukup dana untuk berinvestasi di semua proyek. Maka perlu ditentukan
proyek mana saja yang akan dilaksanakan. Dalam penentuan tersebut ada hal-hal yang
perlu diperhatikan untuk perbandingan antar proyek yang akan dilaksanakan.
Sebagai contoh; Perusahaan mempunyai 5 usulan proyek investasi yang
membutuhkan investasi awal yang berbeda dengan umur masing-masing 5 tahun dan
biaya modal sebesar 10%, serta arus kas bersih setiap tahun seperti table dibawah ini.

Proyek Investasi(I0) NCF PV.NCF NPV IRR PI


A Rp 400.000 Rp121.347 Rp460.000 Rp60.000 15,7% 1,15
B 250.000 74.523 282.500 32.500 14,9% 1,13
C 350.000 102.485 388.500 38.500 14,2% 1,11

xviii
D 300.000 85.470 324.000 24.000 13,1% 1,08
E 100.000 23.742 90.000 10.000 6,0% 0,90

Apabila dilihat dari nilai NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of
return) maka dapat disimpulkan empat proyek kecuali proyek E dapat dilaksanakan,
karena keempat proyek tersebut mempunyai NPV > 0 dan IRR > biaya modal (10%),
sedangkan proyek E sebaliknya.
Jika pemilihan didasakan pada metode NPV dan IRR untuk proyek yang
mempunyai ukuran yang berbeda maka urutan hasil evaluasinya tidak konsisten, yaitu
untuk proyek C dengan NPV yang lebih besar dibandingkan proyek B, tetapi IRR proyek
C lebih kecil dibandingkan proyek B. Untuk menentukan pilihan dalam kondisi seperti
ini maka sebaiknya gunakan metode Profitability Index (PI) dan tidak menggunakan
NPV.

PI = =

Dengan kata lain,


PI ≥ 1, investasi diterima (layak dilaksanakan)
PI < 1, investasi ditolak (tidak layak)

Metode profitability index juga tepat diterapkan jika perusahaan keterbatasan


dana, misalnya perusahaan hanya memiliki dana sebesar Rp 600.000. Apabila pilihan
didasarkan pada urutan hasil evaluasi, maka dana yang tersedia hanya cukup untuk
proyek A yang membutuhkan investasi awal Rp400.000 dan dengan PI tertinggi sebesar
1,15. Akan tetapi pilihan tersebut belum tentu benar karena masih ada dana yang tersisa
sebesar Rp 200.000 yang bisa diinvestasikan pada surat berharga lainnya dengan PI
sebesar 1.
Penggunaan metode PI yang benar bahwa perusahaan harus mendapatkan
kombinasi proyek dan kelebihan dana dapat memaksimumkan nilai rata-rata tertimbang
PI.

Contoh:
Jika kombinasi proyek B dan C dipilih, maka nilai rata-rata tertimbang PI adalah:
xix
PIbc= (1,13) + (1,11) = 1,12

NPV dari kombinasi proyek B dan C adalah Rp32.500 + Rp38.500 = Rp71.000, berarti
lebih besar dibandingkan NPV proyek A yaitu Rp60.000.
G. Cara Mengukur Risiko Proyek
Risiko proyek merupakan variabilitas arus kas proyek investasi dari arus kas yang
diharapkan pada proyek tersebut. Semakin besar variabilitas arus kas suatu proyek,
semakin tinggi risiko proyek tersebut, begitu juga sebaliknya. Seorang manajer keuangan
akan sulit untuk mengambil keputusan apabila faktor risiko tersebut belum dianalisis.
Hal ini karena diterima atau ditolaknya suatu investasi yang mengandung resiko perlu
diketahui besarnya aliran kas yang akan diperoleh dengan adanya resiko tersebut.
Memperhitungkan resiko maka ketidakpastian aliran kas dapat diperkirakan dengan baik,
dan akhirnya pengambilan keputusan akan lebih baik dan akurat.
Selain itu, resiko mungkin memiliki satu atau lebih penyebab yang akan
menimbulkan satu atau lebih akibat atau dampak bila tidak diperhitungkan secara
matang. Maka, untuk menentukan besar kecilnya risiko dapat diukur dengan beberapa
pendekatan, yaitu range, variance, standard deviaton, dan coefficient of variation.
1. Range
Range merupakan perbedaan Antara arus kas tertinggi dengan arus kas terendah dari
masing-masing usulan proyek investasi.
Rumus:
Range = Arus kas Tertinggi – Arus kas Terendah

2. Variance (Var)
Variance merupakan besarnya disperse atau sebaran distribusi arus kas pada masing-
masing proyek investasi.
Rumus:

Keterangan: Var =
CFxt = arus kas pada kemungkinan kondisi x periode t
E(CFt) = arus kas yang diharapkan pada periode t
Pxt = probabilitas terjadinya arus kas pada kondisi x periode t
n = jumlah kemungkinan kejadian arus kas pada periode t

3. Standard Deviation (SD)


SD juga diartikan mengukur besarnya disperse atau sebaran distribusi arus kas pada
masing-masing proyek investasi, yang diukur dengan akar variance.
Rumus:
xx
SD =
4. Coefficient of Variation (CV)
CV merupakn disperse atau sebaran relative distribusi arus kas pada masing-masing
suatu proyek, yang diukur dengan perbandingan antara standar deviasi distribusi arus kas
dengan arus kas yang diharapkan dari proyek investasi tersebut. Biasanya digunakan
untuk membandingkan dua atau lebih proyek yang memiliki standar deviasi arus kas dan
arus kas yang diharapkan berbeda-beda.
Rumus:
CV = SDt / E(CFt)

Tujuan dari adanya pengukuran tersebut adalah untuk membatasi kemungkinan-


kemungkinan dari ketidakpastian, membatasi kerugian dan ketidakpastian pada stake
holder, dan membuat langkah-langkah yang lebih mengarah pada tindakan yang proaktif
dibandingkan reaktif dalam memandang kemungkinan ancaman dan kerugian yang
besar. Sebagai contoh, untuk menjelaskan beberapa proyeksi arus kas pada satu periode
yang akan datang, anggap perusahaan mempertimbangkan dua usulan proyek investasi,
yaitu ALFA dan BETA dengan arus kas pada beberapa kondisi ekonomi.

Arus Kas Usulan Proyek Investasi pada Berbagai Kondisi Ekonomi


Usulan Investasi ALFA BETA
Kondisi Ekonomi Probabilitas Arus Kas Probabilitas Arus Kas
Resesi Berat 0,10 Rp 3.000 0,10 Rp 2.000
Resesi Sedang 0,20 3.500 0,20 3.000
Normal 0,40 4.000 0,40 4.000
Baik 0,20 4.500 0,20 5.000
Sangat Baik 0,10 5.000 0,10 6.000

Penyelesaian:
1. Range
 ALFA Range = Arus kas Tertinggi – Arus kas Terendah
= 5.000 – 3.000
= 2.000
 BETA Range = 6.000 – 2.000
= 4.000

xxi
Berdasarkan table di atas, besarnya range arus kas untuk proyek ALFA sebesar Rp
2.000.000, sedangkan untuk proyek BETA sebesar Rp 4.000.000. Hal ini menunjukkan
bahwa proyek ALFA risikonya lebih kecil dibandingkan dengan proyek BETA.

2. Variance (Var)

Var =

Langkah pertama kita cari dulu Expected Value (nilai aliran kas yang diharapkan) proyek
A dan B atau (EA dan EB).
 Proyek A (EA)
= 0,10 (3.000) = 300
= 0,20 (3.500) = 700
= 0,40 (4.000) = 1.600
= 0,20 (4.500) = 900
= 0,10 (5.000) = 500
EA = 4.000
 Proyek B (EB)
= 0,10 (2.000) = 2.000
= 0,20 (3.000) = 600
= 0,40 (4.000) = 1.600
= 0,20 (5.000) = 1.000
= 0,10 (6.000) = 600
EA = 4.000

Setelah berhasil mencari expected value kedua proyek, langkah kedua kita bisa
langsung memasukkan angka-angka ke dalam rumus sebagai berikut.
Rumus Variance:
Var =

 VarA = (3.000-4.000)2.0,10 + (3.500-4.000)2.0,20 + (4.000-4.000)2.0,40 + (4.500-


4.000)2.0,20 + (5.000-4.000)2.0,10
= 100.000 + 50.000 + 0 + 50.000 + 100.000
= 300.000

xxii
 VarB = (2.000-4.000)2.0,10 + (3.000-4.000)2.0,20 + (4.000-4.000)2.0,40 + (5.000-
4.000)2.0,20 + (6.000-4.000)2.0,10
= 400.000 + 200.000 + 0 + 200.000 + 400.000
= 1.200.000
Berdasarkan data table diatas dapat dihitung besarnya varience masing-masing
proyek investasi, dimana proyek ALFA sebesar Rp 300.000, sedangkan proyek BETA
sebesar Rp 1.200.000.

3. Standard Deviation (SD)

 SDA =

= √300.000
= 547,72
= Rp548

 SDB =
= √1.200.000
= 1.095,44
= 1.095

5. Cofficient of variation (CV)


 CVA = SDt / E(CFt)
= Rp 548/Rp 4.000
= 0,137
= 0,14
 CVB = SDt / E(CFt)
= Rp 1.095/Rp 4.000
= 0,27
Berdasarkan berbagai ukuran risiko tersebut, tampak bahwa proyek ALFA
memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan proyek BETA, itu artinya proyek
ALFA lebih baik dibandingkan dengan BETA.

xxiii
H. Metode Analisis Risiko Proyek Investasi
Analisis risiko proyek merupakan salah satu komponen yang digunakan dalam
menganalisis suatu anggaran modal, dimana analisis anggaran modal merupakan salah
satu cara untuk membuat rancangan penganggaran suatu modal perusahaan. Analisis
resiko ini juga bertujuan untuk mengetahuai seberapa besar potensi risiko yang
ditanggung dalam pelaksaan proyek investasi tersebut. Ada 3 jenis risiko suatu proyek
yang dapat diukur yaitu sebagai berikut:
1. Risiko yang berdiri sendiri (Stand-alone risk)
Yaitu risiko suatu proyek yang berdiri sendiri. Risiko ini khusus dari suatu proyek
(aktiva) tanpa dikaitkan sama sekali dengan proyek aktiva lain yang mungkin dimiliki.
Risiko yang berdiri sendiri diukur dari variabilitas tingkat pengembalian yang
diharapkan atas aktiva/proyek tersebut.
2. Risiko di dalam perusahaan (Within firm risk)
Yaitu risiko suatu proyek dilihat dari konteks perusahaan secara keseluruhan.
Risiko ini diukur tanpa mempertimbangkan diversifikasi portofolio dari pemegang
saham. Sedangkan untuk mengukurnya, risiko diukur dari variabilitas laba perusahaan
yang diabaikan oleh suatu proyek tertentu.
3. Risiko pasar atau beta (Market or Beta risk)
Yaitu risiko suatu proyek yang dilihat dari konteks investor yang memiliki
portofolio saham atau kontribusi proyek terhadap risiko suatu portofolio. Risiko proyek
yang tidak dapat dieliminasi melalui diversifikasi. Risiko ini diukur dengan koefisien
beta proyek, analisis risiko beta atau pasar juga dapat diukur dengan menggunakan
CAPM dan SML yang menyatakan hubungannya dengan risiko.
Sedangkan untuk menganalisis risiko dalam penganggaran modal terdapat 3
macam, dimana analisis tersebut masuk dalam risiko berdikari atau berdiri sendiri
(Stand-alone risk). Analisis tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas adalah salah satu pendekatan untuk mengukur seberapa
sensitive perhitungan NPV terhadap perubahan asumsi yang digunakan dalam
menghitung NPV tersebut. Sederhananya analisis ini dilakukan untuk mengetahui akibat
dari perubahan parameter-parameter produksi terhadap perubahan kinerja system
produksi dalam menghasilkan keuntungan. Sebagai contoh, perusahan DARMA
merencanakan untuk melakukan investasi sebesar Rp1.500.000 dengan umur selama 5
tahun. Proyeksi arus kas selama 5 tahun dengan asumsi kondisi ekonomi normal tetap
sebagaimana tampak pada table berikut.
xxiv
Proyeksi Arus Kas Perusahaan DARMA
Tahun 0 1-5
Penjualan Rp6.000.000
Biaya variable 3.000.000
Biaya tetap 1.791.000
Penyusustan 300.000
Laba sebelum pajak Rp 909.000
Pajak (34%) 309.000
Laba bersih Rp 600.000
Arus kas Rp 900.000
Investasi awal Rp1.500.000

Berdasarkan data tersebut arus kas perusahaan setiap tahun sama, yaitu sebesar
Arus kas = Laba bersih + Penyusutan
= Rp600.000 + Rp300.000 = Rp900.000.
Jika tingkat diskonto sebesar 15%, maka besarnya NPV proyek investasi adalah:
Rp900.000
NPV = - Rp1.500.000 + ∑ --------------
(1 + 0,15)t
= Rp1.516.800
Karena NPV positif, maka secara teoritis proyek investasi tersebut layak dilaksanakan.

Salah satu kelemahan dari analisis sensitivitas adalah masing-masing variable


dianggap tidak saling berhubungan satu sama lainnya, sementara dalam kenyataannya
sati variable dapat saling berhubungan dengan variable yang lain. Oleh karena itu pihak
manajemen perusahaan sering melakukan scenario analisis untuk mengurangi kelemahan
tersebut.

2. Analisis Skenario
Analisis skenario mengkaji sejumlah scenario yang berbeda-beda, yang mana
masing-masing scenario melibatkan berbagai faktor, dan perubahan faktor-faktor tersebut
kemudian dianalisis dampaknya terhadap perubahan NPV. Analisis skenario merupakan
teknik untuk menganalisis risiko dengan membandingkan situasi yang paling
memungkinkan atas:
a. Scenario dasar (base case scenario)--Adalah keadaan dimana untuk semua
variable masukan diberikan nilai yang paling memungkinkan.
xxv
b. Scenario terburuk (worst case scenario)--Adalah keadaan dimana untuk semua
variable masukan diberikan nilai buruk berdasarkan perkiraan yang wajar.
c. Scenario terbaik (best case scenario)--Adalah keadaan dimana untuk semua

3. Analisis Break-Even
Analisis break-even atau Break-Even Point (BEP) yang sering disebut juga
dengan cost volume profit analysis, menentukan penjualan yang diperlukan untuk
mencapai titik break-even (BEP). Dengan kata lain break-even merupakan suatu keadaan
dimana perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan ataupun
kerugian, jadi pada keadaan ini keuntungan atau kerugian sama dengan nol. Pendekatan
ini berguna untuk melengkapi pendekatan analisis sensitivitas, karena dapat menjelaskan
tentang penyimpanan peramalan. Selain itu dapat membantu manajer dalam perencanaan
keuangan, penjualan, dan produksi, sehingga dapat mengambil keputusan untuk
meminimalkan kerugian dan memaksimalkan keuntungan.

Analisis Break-Even didasarkan atas 3 hal yaitu sebagai berikut.


1. Accounting profit break-even point
Menunjukan besarnya penjualan yang menghasulkan laba bersih = 0

2. Cost Break-Even Point


Menunjukan besarnya penjualan yang menghasilkan arus kas operasi = 0

3. Financial break-even point


Menunjukan besarnya penjualan yang menghasilkan NPV = 0

xxvi
Dalam analisis risiko proyek investasi, perlu juga dilakukan analisis terhadap
kemungkinan opsi yang dapat dilakukan manajemen setelah proyek dilaksanakan,
diantaranya option to expand dan option to abandon.

I. Penerapan Pendekatan Decision Tree dalam Mengambil Keputusan Investasi

Penerapan decision tree dalam pengambilan keputusan investasi dapat diuraikan


sebagai berikut.
1. Decision Tree (Pohon keputusan)
Pohon keputusan digunakan untuk menyelesaikan sebuah masalah dengan
tiap simpul adalah keputusan dan daun adalah solusi untuk masalah tersebut.
Dalam hal ini Decision tree atau pohon keputusan merupakan bagan yang
mengorganisasikan kemungkinan arus kas yang dihasilkan suatu proyek
investasi. Kemungkinan arus kas yang dihasilkan suatu proyek dalam periode
waktu yang akan datang berhubungan dengan arus kas pada periode waktu
sebelumnya.

2. Teori Pengambilan Keputusan


Keputusan adalah pemilihan suatu pilihan dari alternatif lain yang
dianggap paling baik untuk dilakukan. Sedangkan pengambilan keputusan adalah
proses kita memilih keputusan mana yang lebih baik untuk kita ambil. Dalam
mengambil keputusan kita harus memperhatikan logika, realita, rasional, dan
pragmatis.
Teori pengambilan keputusan adalah teknik yang digunakan untuk
membantu kita dalam proses pengambilan keputusan atau proses memilih
tindakan guna memecahankan masalah dengan cara yang terbaik.
Dasar-dasar Pengambilan Keputusan :
 Intuisi
 Pengalaman
 Fakta
 Wewenang
 Rasional

Proses Pengambilan Keputusan dalam Investasi, yakni:


1) Mengidentifikasi masalah
Dengan mengidentifikasi masalah diharapkan nantinya dapat dilakukan
dengan cara menetukan fakta-fakta yang terkait dari masalah tersebut dan dalam

xxvii
pengumpulan informasi fakta tersebut jangan dicampuradukkan antara fakta
dengan opini/ pendapat yang belum diketahui kebenarannya.
2) Mencari alternatif pemecah lain
Setelah semua masalah dikaji dan terkumpul serta dapat dipahami langkah
selanjutnya yang dapat ditempuh yaitu dengam melakukan alternatif yang sudah
ada. Melaksanakan alternatif yaitu dengan menyusun alternatif yang paling
diinginkan dan hingga sampai dengan alternatif yang paling tidak diinginkan.
3) Memilih alternatif
Dalam pemilihan alternatif, alternatif yang harus dipilih adalah alternatif
yang birsifat logis, dapat dilaksanakan serta memperhitungkan akibat yang
ditimbulkan dari pelaksanaan alternatif terpilih tersebut. Untuk kelangsungan
dalam pemilihan alternatif maka harus diperhatikan langkahlangkahnya sebagai
berikut:
a) Memperhitungkan dampak positif dan negatif dari setiap alternatif yang
ada.
b) Memperhitungkan seberapa besar kemungkinan dampak dari setiap
alternatif tersebut.
c) Jadikan tujuan sebagai pedoman, dengan berpedoman tujuan sebagai
penerang langkah.

4) Pelaksanaan alternatif terpilih


Setelah semua dilalui dengan urutan yang sewajarnya langkah selanjutnya
yaitu menerapkan pelaksanaan alternatif yang dipilih, penerapan alternatif yang
dipilih nantinya akan memengaruhi hasil akhir. Oleh sebab itu maka pelaksanaan
harus sesuai dengan rencana supaya nanti dalam operasi dapat tercapai tujuan
dari diadakannya pemilihan alternatif tersebut.
5) Evaluasi alternatif
Fungsi dari diadakannya evaluasi alternatif adalah untuk mengetahui
apakah alternatif yang dipilih telah sesuai dengan rencana atau belum.

3. Decision tree dan pengambilan keputusan bertahap


Dalam beberapa kasus, pengambilan keputusan investasi sering dilakukan
secara bertahap. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kerugian
besar jika keputusan diambil secara sekaligus tanpa mempertimbangkan
perubahan situasi dan kondisi yang tengah di hadapi perusahaan.
Sebagai contoh, misalnya suatu perusahaan ingin mengembangkan mesin
penggilingan padi bertenaga surya. Sebelum produksi dilakukan, pada tahap
pertama perusahaan perlu membuat prototipe mesin tersebut dan melakukan uji
xxviii
pasar. Setelah dilakukan diskusi oleh jajaran manajemen perusahaan di prediksi
tahap awal akan memakan waktu selama satu tahun dengan investasi Rp100.000.
Diprediksi uji pemasaran akan berhasil dengan probabilitas 75% dan gagal
dengan probabilitas 25%. Setelah melakukan uji pasar, tahap kedua pada tahun
berikutnya, perusahaan mesti mengambil keputusan untuk memproduksi mesin
tersebut dan diperkirakan membutuhkan investasi Rp1.500.000, serta
diproyeksikan akan menghasilkan arus kas sebesar Rp900.000 setiap tahun
selama lima tahun.
Berdasarkan informasi tersebut digambarkan rangka seperti dibawah ini.

Gambar tersebut menunjukkan tanda kotak sebagai titik keputusan, dan


tanda lingkaran menunjukkan penerimaan informasi. Hasil dari masing-masing
keputusan terdapat kemungkinan berhasil atau gagal.
Jika perusahaan berhasil melakukan uji pasar dengan probabilitas 75%,
perusahaan melakukan investasi Rp1.500.000 dengan arus kas setiap tahun
selama lima tahun Rp900.000, dan tingkat diskonto 15%, maka besar NPV
adalah :
NPV = -Rp1.500.000 + ∑ Rp900.000/(1+0,15)t
= -Rp1.500.000 + Rp900.000 x PVIFA50,15
= -Rp1.500.000 + Rp900.000 x 3,352
= Rp1.516.800

xxix
Karena NPV positif, berarti uji pasar yang berhasil harus diikuti dengan
produksi mesin atau investasi dilaksanakan.
Jika hasil uji pasar gagal dengan probabilitas 25%, dan perusahaan tetap
melakukan investasi Rp1.500.000, arus kas yang dihasilkan setiap tahun
selama lima tahun sebesar -Rp420.000, dan tingkat diskonto yang sama 15%,
dengan cara yang sama akan diperoleh NPV = -Rp2.907.840. Karena hasilnya
negatif, maka keputusannya investasi tidak dilaksanakan.
Hasil yang diharapkan jika evaluasi dilakukan pada tahun 1 adalah:
NPV = 0,75 x Rp1.516.800 + 0,25 x Rp0
= Rp1.137.600
Hasil yang diharapkan jika evaluasi dilakukan pada tahun 0 adalah:
NPV = -Rp100.000 + Rp1.137.600/(1+0,15)1
= -Rp100.000 + Rp989.217
= Rp889.217
Karena NPV positif, berarti perusahaan harus melakukan uji pasar untuk
mengetahui prospek pasar prototype mesin penggilingan padi.

xxx
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, penganggaran modal (capital budgeting) sangatlah
penting dalam menentukan alur kas, investasi, dan penanaman saham perusahaan.
Dimana apabila perhitungan atau keputusan untuk penganggaran modal dalam suatu
perusahaan itu tepat, maka keuntungan bagi perusahaan akan meningkat sesuai dengan
perhitungannya. Sangatlah penting bagi pihak perusahaan untuk berhati-hati dalam
mengambil keputusan sesuai dengan keadaan keuangan suatu perusahaan.

1
DAFTAR PUSTAKA

BUKU:

2
Sudana, I Made. 2015. Teori & Praktek Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta:
ERLANGGA.
Afriyeni, Endang. 2012. Keputusan Investasi Jangka Panjang: Capital Budgeting.
Politeknik Negeri Padang. Padang.
Atmaja, Lukas Setia. 2008. Teori dan Praktik Manajemen Keuangan. Yogyakarta: ANDI.
Halim, Abdul. 2005. Analisis Investasi. Jakarta : Salemba Empat.

JURNAL:
Sky, Mechealin Dirgahayi. (2017). Analisis Kelayakan Investasi Dengan Capital
Budgeting terhadap Proyek. JAB, Vol. 51 (2).
Ghozali, M. Ferdi. (2017). Penggunaan Decision Tree Analysis dalam Perencanaan
Bisnis. JAB, Vol. 19 (2).
Benny, Guido. (2017). Evaluasi Proyek: Pengertian Evaluasi Proyek, Aspek-Aspeknya
Dan Metode Memperoleh Gagasan. -, Vol. 20.
Zattira, Reza dkk. (2016). Penganggaran Modal Dalam Pengambilan Keputusan
Investasi Jangka Panjang. Modus, Vol. 36.
Widodo, Sri. (2013). Beberapa Permasalahan dalam Penganggaran Modal. Modus, Vol.
25 (2).
TESIS
Halim Bambang. (2011). Analisis Penganggaran Modal dan Analisis Risiko dengan
Simulasi Monte Carlo dalam Proyek Pembangunan Pabrik Baru pada Firma Trico
Paint Factory. Tesis Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.