Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

CHOLELITHIASIS
LONTARA 2 ATAS DEPAN ( BEDAH DIGESTIF )
RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO

Oleh :
NURHIDAYANTI M.S
R014181001

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I
KONSEP MEDIS
A. Definisi
Kandung empedu terletak di bawah lobus kanan hepar. Fungsi utamanya
adalah mengkonsentrasikan dan menyimpan empedu yang diproduksi oleh hepar.
Empedu diperlukan untuk mengemulsikan lemak-lemak. Kandung empedu
berkontraksi dan melepaskan empedu ke dalam duodenum bila makanan
berlemak masuk ke usus. Penyakit kandung empedu adalah akut atau kronis.
Bentuk akut dikarakteristikan dengan nyeri hebat dari awitan tiba-tiba. Penyakit
kronis dikarakteristikkan dengan gejala lebih ringan (sakit dangkal, dyspepsia,
sendawa, kembung, flatulens) dan durasi lebih pendek daripada gejala pada
penyakit akut (Engram, 2009).
Kolelitiasis atau koledokolitiasis merupakan adanya batu di kandung
empedu, atau pada saluran empedu yang pada umumnya komposisi utamanya
adalah kolesterol. Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu
empedu di golongkan atas 3 (tiga) golongan:
1. Batu kolesterol
Berbentuk oval, multifocal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70%
kolesterol.
2. Baru kalsium bilirubinan (pigmen coklat)
Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung
kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama.
3. Batu pigmen hitam
Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan
kaya akan zat sisa hitam yang tak terekstraksi.
(Nurarif & Kusuma, 2015)
B. Etiologi
Penyebab pasti dari kolelitiasis atau koledokolitiasis atau batu empedu
belum diketahui. Satu teori menyatakan bahwa kolesterol dapat menyebabkan
supersaturasi empedu di kandung empedu. Setelah beberapa lama, empedu yang
telah mengalami supersaturasi menjadi mengkristal dan memulai membentuk
batu. Tipe lain batu empedu adalah batu pigmen. Batu pigmen tersusun oleh
kalsium bilirubin, yang terjadi ketika bilirubin bebas berkombinasi dengan
kalsium (Nurarif & Kusuma, 2015).

C. Manifestasi Klinik
1. Sebagian bersifat asimtomatik.
2. Nyeri tekan kuadran kanan atas atau midepigastrik samar yang menjalar ke
punggung atau region bahu kanan.
3. Sebagian pasien rasa nyeri bukan bersifat kolik melainkan persisten.
4. Mual dan muntah serta demam.
5. Icterus. Obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum akan
menimbulkan gejala yang khas, yaitu getah empedu yang tidak lagi dibawa ke
dalam duodenum akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini
membuat kulit dan membrane mukosa berwarna kuning. Keadaan ini sering
disertai dengan gejala gatal-gatal pada kulit.
6. Perubahan warna urin dan feses. Eksresi pigmen empedu oleh ginjal akan
membuat urine berwarna sangat gelap. Feses yang tidak lagi diwarnai oleh
pigmen empedu akan tampak kelabu, dan biasanya pekat yang disebut “Clay-
colored”.
7. Regurgitasi gas: flatus dan sendawa.
8. Defisiensi vitamin. Obstruksi aliran empedu juga akan mengganggu absorbsi
vitamin A, D, E, K yang larut lemak. Karena itu pasien dapat memperlihatkan
gejala defisiensi vitamin-vitamin ini jika obstruksi atau sumbatan bilier
berlangsung lama. Penurunan jumlah vitamin K dapat mengganggu
pembekuan darah yang normal.
(Nurarif & Kusuma, 2015)

D. Komplikasi
Penyakit kandung empedu dapat bermanifestasi sebagai kolesistitis akut,
kolik empedu, icterus, dan pankreatitis akut (Leveno, et al., 2009). Batu empedu
mencetuskan paling sering karena kelebihan konsentrasi kolesterol dalam
empedu. Tak ada diet khusus dapat mencegah pembentukan batu empedu atau
mencegah batu kecil menjadi besar. Komplikasi utama dihubungkan dengan
kolelitiasis adalah empiema dan perfosi kandung empedu dengan peritonitis
(Engram, 2009).

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
2. Pemeriksaan radiologis
3. USG, kolesistografi oral, ERC
4. Foto polos abdomen
(Nurarif & Kusuma, 2015)

F. Penatalaksanaan
Penanganan non bedah
1. Disolusi Medis
Harus memenuhi kriteria terapi non operatif, seperti batu kolesterol
diameternya <20 mm dan batu <4 batu, fungsi kandung empedu baik, dan
duktus sistik paten.
2. Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP)
Batu di dalam saluran empedu dikeluarkan dengan basket kawat atau balon
ekstraksi melalui muara yang sudah besar menuju lumen duodenum sehingga
batu dapat keluar bersama tinja.
3. Extracorporeal Shock Wave Lithoripsy (ESWL)
Merupakan pemecahan batu dengan gelombang suara.

Penanganan bedah
1. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien dengan
kolelitiasis simtomatik. Indikasi yang paling umum untuk kosistektomi adalah
kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.
2. Kolesistektomi laparoskopik
Indikasi pembedahan karena menandakan stadium lanjut, atau kandung
empedu dengan batu besar, berdiameter lebih dari 2 cm. kelebihan yang
diperoleh pasien luka operasi kecil (2-10 mm) sehingga nyeri pasca bedah
minimal.
(Nurarif & Kusuma, 2015)
BAB II

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan
Tanda : Gelisah
2. Sirkulasi
Tanda : Takikardia, berkeringat
3. Eliminasi
Gejala : Perubahan warna urine dan feses
Tanda : Distensi abdomen, teraba massa pada kuadran kanan atas, urine gelap
dan pekat, feses warna tanah liat.
4. Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/muntah, nyeri epigastrium, tidak dapat makan,
flatus, dyspepsia
Tanda : Kegemukan, adanya penurunan berat badan
5. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar ke punggung atau bahu
kanan. Kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan. Nyeri
mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit.
Tanda : Nyeri lepas, otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan,
tanda murphy positif.
6. Pernapasan
Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan, pernapasan tertekan ditandai oleh
nafas pendek dan dangkal.
7. Keamanan
Tanda : Demam, menggigil. Ikterik, dengan kulit berkeringat dan gatal
(pruritus). Kecenderungan perdarahan (kekurangan vitamin K)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
factor biologis
3. Hipertermi berhubungan dengan penyakit
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan sirkulasi
5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit
6. Risiko kekurangan volume cairan
C. Rencana/Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut berhubungan dengan NOC : NIC :
agens cedera biologis  Kontrol nyeri Manajemen nyeri
 Tingkat nyeri  Lakukan pengkajian nyeri secara
Setelah dilakukan tindakan komprehensif termasuk lokasi,
keperawatan, diharapkan nyeri dapat karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
berkurang, dengan kriteria hasil: faktor presipitasi
 Menggunakan tindakan pengurangan  Observasi reaksi nonverbal dari
nyeri tanpa analgesik ketidaknyamanan
 Mengenali apa yang terkait dengan  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
gejala nyeri dan menemukan dukungan
 Melaporkan nyeri yang terkontrol  Kontrol lingkungan yang dapat
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi
(napas dalam, relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin)
 Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC:
kurang dari kebutuhan tubuh  Status nutrisi Manajemen nutrisi
Setelah dilakukan tindakan  Identifikasi adanya alergi atau intoleransi
keperawatan, diharapkan nutrisi makanan yang dimiliki klien
terpenuhi, dengan kriteria hasil:  Instruksikan klien mengenai kebutuhan
 Asupan makanan meningkat nutrisi
 Asupan cairan meningkat  Berikan pilihan makanan sambil
 Rasio berat badan/tinggi badan tidak menawarkan bimbingan terhadap pilihan
menyimpang dari rentang normal makanan yang lebih sehat
 Ciptakan lingkungan yang optimal pada
saat mengonsumsi makanan
 Lakukan atau bantu pasien terkait dengan
perawatan mulut sebelum makan
 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan klien
Hipertermi berhubungan dengan NOC: NIC:
penyakit  Termoregulasi Perawatan demam
Setelah dilakukan intervensi  Pantau suhu dan tanda-tanda vital lainnya
keperawatan, diharapkan panas tubuh  Monitor warna kulit dan suhu
berkurang dengan kriteria hasil:  Monitor asupan dan keluaran, sadari
 Hipertermi berkurang perubahan kehilangan cairan yang tak
 Penurunan suhu kulit dirasakan
 Tutup pasien dengan selimut atau pakaian
ringan, tergantung pada fase demam
(yaitu: memberikan selimut hangat untuk
fase dingin; menyediakan pakaian atau
linen tempat tidur ringan untuk demam
dan fase bergejolak/flush
 Dorong konsumsi cairan
 Fasilitasi istirahat, terapkan pembatasan
aktivitas: jika diperlukan
 Pantau komplikasi-komplikasi yang
berhubungan dengan demam serta tanda
dan gejala kondisi penyebab demam
 Kolaborasi pemberian antipiretik
Kerusakan integritas kulit NOC : NIC:
berhubungan dengan gangguan  Integritas jaringan: kulit & Manajemen pruritus
sirkulasi membrane mukosa  Tentukan penyebab dari terjadinya
Setelah dilakukan intervensi pruritus
keperawatan, diharapkan integritas  Lakukan pemeriksaan fisik untuk
kulit membaik, dengan kriteria hasil: mengidentifikasi terjadinya kerusakan
 Lesi pada kulit berkurang kulit
 Integritas kulit tidak terganggu  Pasang perban atau balutan pada tangan
atau siku ketika pasien tidur untuk
membatasi gerakan menggaruk yang
tidak terkontrol, sesuai dengan kebutuhan
 Berikan krim dan lotion yang
mengandung obat, sesuai dengan
kebutuhan
 Berikan antipruritic, sesuai dengan
indikasi
 Berikan kompres dingin untuk
meringankan iritasi
 Instruksikan pasien untuk menghindari
sabun mandi dan minyak yang
mengandung parfum
 Instruksikan pasien untuk tidak memakai
pakaian yang ketat dan berbahan wol atau
sintetis
 Instruksikan pasien untuk
mempertahankan potongan kuku dalam
keadaan pendek dan menggunakan
telapak tangan ketika menggosok area
kulit yang luas atau cubit kulit dengan
lembut menggunakan area diantara ibu
jari dan telunjuk untuk mengurangi rasa
gatal
Gangguan citra tubuh NOC: NIC
berhubungan dengan penyakit  Citra tubuh Peningkatan citra tubuh
Setelah dilakukan intervensi  Tentukan harapan citra diri pasien
keperawatan, diharapkan citra tubuh didasarkan pada tahap perkembangan
positif dengan kriteria hasil:  Gunakan bimbingan antisipatif
 Gambaran internal diri positif menyiapkan pasien terkait dengan
 Deskripsi bagian tubuh yang perubahan-perubahan citra tubuh yang
terkena (dampak) positif telah diprediksikan
 Kepuasan dengan penampilan  Bantu pasien untuk mendiskusikan
tubuh perubahan-perubahan (bagian tubuh)
 Sikap terhadap penggunaan disebabkan adanya penyakit atau
strategi untuk meningkatkan pembedahan dengan cara yang tepat
fungsi tubuh positif  Bantu pasien menentukan keberlanjutan
dari perubahan-perubahan actual dari
tubuh atau tingkat fungsinya
 Tentukan perubahan fisik saat ini apakah
berkontribusi pada citra diri pasien
Risiko kekurangan volume NOC: NIC:
cairan  Keseimbangan cairan Monitor cairan
Setelah dilakukan intervensi  Tentukan jumlah dan jenis intake/asupan
keperawatan diharapkan risiko cairan serta kebiasaan eliminasi
kekurangan volume cairan tidak  Tentukan factor-faktor risiko yang
terjadi dengan kriteria hasil: mungkin menyebabkan
 Tekanan darah dalam rentang ketidakseimbangan cairan
normal  Periksa isi ulang kapiler dan turgor kulit
 Denyut nadi radial dalam rentang pasien
normal  Monitor berat badan
 Asites berkurang  Monitor tekanan darah, denyut jantung,
 Turgor kulit baik dan status pernapasan
 Monitor tanda dan gejala asites
 Berikan cairan dengan tepat
WEB OF CAUTION
KOLELITIASIS

Proses degenerasi penyakit hati Penurunan fungsi hati Gangguan metabolisme Peningkatan sintesis kolesterol

Peradangan dalam, peningkatan


Penumpukan pigmen yang Batu empedu Pengendapan kolesterol sekresi kolesterol kantong empedu
tidak terkonjugasi

Kolelitiasis Obstruksi saluran empedu

Menyumbat aliran getah pankreas Konstruksi batu empedu semakin tidak teratur dan tajam Garam empedu
Bilirubin
mengalami arus mengalami arus
Peningkatan Kerusakan jaringan balik ke vaskuler balik ke vaskuler
Distensi kandung empedu Aliran balik getah
empedu (duktus enzim
kolekditus ke pancreas) SGOT dan Kolesistitis
Bagian fundus menyentuh Peningkatan Peningkatan
SGPT
bagian abdomen kartilago 0 bilirubin di darah garam empedu di
Iritasi lumen Bersifat iritatif Respon inflamasi darah
di saluran cerna dan radang
Merangsang ujung Pengeluaran
saraf eferen simpatis Inflamasi bilirubin Pengeluaran
Merangsang Permeabilitas pembuluh melalui kulit garam empedu
nervus vagal darah meningkat melalui kulit
Hasilkan substansi P Termostrat di hipotalamus
Ikterus seluruh
Menekan saraf Kebocoran cairan tubuh Gatal
Serabut saraf eferen Peningkatan suhu ke insterstitial
parasimpatis
hipotalamus
Gangguan Kerusakan
Hipertermi Cairan ke peritoneum citra tubuh integritas kulit
Penurunan
Nyeri hebat pada kuadran peristaltik
kanan atas dan nyeri tekan Konstipasi Risiko kekurangan
daerah epigastrium volume cairan
Makanan tertahan di Ketidakseimbangan nutrisi
lambung Rasa mual/muntah kurang dari kebutuhan tubuh
Nyeri akut
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2013).


Nursing intervension classification (NIC). USA: Elsevier.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Geissler, A. C. (2010). Rencana asuhan
keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan
pasien. Jakarta: EGC.
Engram, B. (2009). Rencana asuhan keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC.
Grace, P. A., & Borley, N. R. (2006). At a glance ilmu bedah. Jakarta: Erlangga.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis keperawatan: definisi &
klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.
Leveno, K. J., Cunningham, F. G., Gant, N. F., Alexander, J. M., Bloom, S. L.,
Casey, B. M., . . . Yost, N. P. (2009). Obstetri williams: panduan ringkas.
Jakarta: EGC.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing outcome
classification (NOC): measurement of health outcomes. USA: Elsevier.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa media & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: Mediaction.
Smeltzer, S. C. (2013). Keperawatan medikal bedah Brunner & Suddarth Edisi 12.
Jakarta: EGC.