Anda di halaman 1dari 31

Curiculum vitae

 Nama : DR.Dr.Setyo Handryastuti, SpA(K)


 Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 27-1-1968
 Pendidikan :
 Dokter umum : FKUI 1991
 Dokter spesialis anak : FKUI 2002
 Dokterr konsultan neurologi anak : FKUI 2008
 Doktor : FKUI 2013
 Pekerjaan :
 Staf Divisi Neurologi, Departemen IKA FKUI-RSCM
Deteksi dini problem
perilaku/belajar pada anak

Setyo Handryastuti
Divisi Neurologi
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
FKUI-RS Cipto Mangunkusumo
Pendahuluan

 Laporan dari orang tua/guru


 Hiperaktif, kurang konsentrasi, bicara belum
lancar, tidak mau bermain dengan teman/lebih
banyak main sendiri, sulit belajar membaca.
 Hal yang normal atau suatu kelainan ?
 Kadang sulit ditentukan mengingat anak masih
dalam taraf perkembangan
 Mudahnya “label” dari guru/orangtua murid
Perkembangan balita pra-sekolah

 Tahap eksplorasi dengan rasa ingin tahu yang besar.


 Tahapan perkembangan belum optimal.
 Motorik kasar : selalu ingin bergerak.
 Motorik halus : memakai baju/sepatu,memegang
pinsil/crayon belum optimal.
 Banyak bertanya,bernyanyi, meniru kata-
kata,berteriak.
 Belum bisa mengatasi konflik dengan teman.
 Rentang perhatian/atensi belum lama.
 Perlu difasilitasi dengan stimulasi yang sesuai
HIPERAKTIF
Hiperaktif

 Suka jalan-jalan di kelas, lari keluar


kelas dan bermain, tidak betah duduk di
bangku, usil/suka mengganggu teman.
 Dilabel : “nakal”
 Perilaku anak ditentukan :
 Pola asuh : permisif atau tidak
 Stimulasi keluarga & lingkungan
 Sifat anak itu sendiri : aktif/pendiam/biasa
 Abnormalitas zat kimia/neurotransmiter
otak
 Variasi normal, ADHD, bagian dari
gejala ASD
Variasi normal

 Perilaku tenang jika ada hal-hal yang menarik


perhatiannya.
 Hanya pada tempat/keadaan tertentu (perilaku
di sekolah beda dengan di rumah).
 Rasa ingin tahu besar.
 Perkembangan motorik lebih cepat dari anak
seusianya
 Bosan dengan pelajaran/suasana kelas  usil,
jalan-jalan
 Modifikasi cara belajar dan suasana kelas
Variasi normal

 Bisa pada anak dengan pola asuh yang permisif


(tidak ada batasan).
 Tidak jelas aturan mana boleh/tidak boleh, tidak
konsisten
 Anak berbuat hal yang salah tidak ditegur
 Terlalu banyak larangan.
 Anak merasa terkekang
 Salurkan hiperaktifitas dengan kegiatan positif :
kegiatan yang diminati, berenang, main sepeda,
main bola, memanjat, monkey bar, menerapkan
aturan, beri kebebasan anak.
Attention-Deficit /
Hyperactivity Disorder (ADHD)
Hiperaktif dan/ atau Impulsif
 ≥ 6 gejala hiperaktif-impulsif anak sampai
16 tahun, atau
 ≥ 5 gejala hiperaktif-impulsif remaja 17
tahun sampai dewasa

 Sudah berlangsung minimal 6 bulan


 Tidak sesuai dengan tahapan perkembangan
Attention-Deficit /
Hyperactivity Disorder (ADHD)
Hiperaktif dan Impulsif, anak sering
1. Bermain jari, menepuk dengan tangan atau kaki,
bergerak saat duduk.
2. Berdiri dari kursi.
3. Lari, memanjat, gelisah.
4. Tidak dapat bermain sendiri atau bersama dengan
tenang.
5. ”On the go" seperti didorong motor.
6. Bicara terlalu banyak.
7. Menjawab sebelum pertanyaan selesai.
8. Tidak sabar menunggu giliran.
9. Menginterupsi atau mengganggu orang lain.
Attention-Deficit /
Hyperactivity Disorder (ADHD)
Keadaan berikut harus terpenuhi:
 Gejala mulai sebelum umur 12 tahun
 Gejala terlihat di dua atau lebih tempat.
 Gejala mengganggu kualitas sosial, sekolah,
dan pekerjaan.
 Gejala bukan karena skizoprenia atau
psikosis lain.
 Gejala bukan lebih merupakan gejala
gangguan mental lain misalnya Mood
Disorder, Anxiety Disorder, Dissociative
Disorder, Personality Disorder).
Penampakkan ADHD

Terutama
Terutama
Kombinasi Hiperaktif-
Inatensi
Impulsif
Gejala inatensi Gejala inatensi, Gejala
dan hiperaktif- tetapi tidak hiperaktif-
impulsif cukup gejala impulsif, tetapi
hiperaktif- tidak cukup
impulsif gejala inatensi

Because symptoms can change over time, the presentation


may change over time as well.
KURANG KONSENTRASI/
KURANG FOKUS
Kurang konsentrasi

 Perhatian mudah beralih.


 Jika guru bercerita/menerangkan sesuatu seperti
tidak mendengar.
 Diajarkan sesuatu bisa menangkap, kemudian lupa
lagi.
 Sulit mempelajari sesuatu hal.
 Tidak tertarik dengan apa yang diajarkan guru.
 Tidak perduli ada guru di depan, asyik sendiri.
 Di sekolah tidak bisa mengerjakan tugas, di
rumah/lingkungan yang tenang bisa.
 Dilabel : “lamban/kurang pintar/tidak patuh”
 Pelampiasan : mengobrol, usil, sibuk sendiri, perilaku
semaunya sendiri.
 Mengurangi performa akademis
Kurang konsentrasi

 Variasi normal
 Anak dengan kecerdasan di atas rata-rata.
 Anak dengan taraf kecerdasan yang kurang
 ADHD tipe inatensi.
 Auditory processing disorder (APD)
 Autism Spectrum Disorder
Variasi normal

 Rentang perhatian masih singkat (tergantung


umur).
 Anak bosan dengan kegiatan di kelas (tidak
menarik).
 Anak kelelahan/sedang sakit.
 Anak tidak dibiasakan sarapan sebelum sekolah.
 Jika kegiatan/cara menyampaikan
menarik/sesuatu hal yang baru  ada atensi.
 Fluktuatif.
Kecerdasan di atas rata-rata

 Tidak tertarik dengan hal-hal yang diajarkan,


karena terlalu mudah/anak sudah menguasai
hal-hal yang diajarkan.
 Atensi membaik jika ada hal-hal baru yang
belum pernah dipelajari/lebih menantang.
 Anak asyik dengan suatu hal yang sedang
diminatinya sehingga tidak tertarik dengan hal-
hal yang diajarkan guru.
 Seperti tidak memperhatikan, tapi jika ditanya
bisa menjawab/menerangkan.
 Anak dengan IQ diatas superior, sindrom
Asperger (anak pandai dengan problem interaksi
sosial)
 Anak diajarkan hal yang diminati/lebih
menantang/penyesuaian kelas.
Kecerdasan dibawah rata-rata

 Kurang atensi/konsentrasi karena tidak mengerti


dengan apa yang diajarkan.
 Lebih lambat dalam mempelajari/menangkap hal
yang diterangkan.
 Mudah lupa dengan apa yang sudah diajarkan.
 Terdapat keterlambatan perkembangan yang lain
: berjalan, bicara
 Kurang konsentrasi merata di semua topik
pelajaran.
 Terapi remedial/penyesuaian kelas.
 Memerlukan kelas dengan jumlah murid sedikit
Attention-Deficit / Hyperactivity
Disorder (ADHD)
 Inatensi:
 ≥ 6 gejala inatensi untuk anak sampai 16
tahun,
 ≥ 5 gejala inatensi untuk remaja 17 tahun
dan dewasa

 Sudah berlangsung minimal 6 bulan


 Tidak sesuai dengan tahapan perkembangan
Attention-Deficit / Hyperactivity
Disorder (ADHD)
Inatensi, anak sering:
1. Gagal memperhatikan detail dan membuat kesalahan
karena ceroboh
2. Sulit memberi atensi saat mengerjakan tugas atau
bermain.
3. Seperti tidak mendengarkan.
4. Tidak mengikuti instruksi dan tugas tidak selesai
5. Sulit mengorganisasi tugas dan aktivitas.
6. Menghindari dan tidak menyukai, dan menolak
mengerjakan tugas yang memerlukan berpikir dalam
waktu lama
7. Kehilangan benda-benda.
8. Perhatiannya mudah terpecah, terdistraksi.
9. Pelupa dalam aktivitas sehari-hari.
Attention-Deficit /
Hyperactivity Disorder (ADHD)
Keadaan berikut harus terpenuhi:
 Gejala mulai sebelum umur 12 tahun
 Gejala terlihat di dua atau lebih tempat.
 Gejala mengganggu kualitas sosial, sekolah,
dan pekerjaan.
 Gejala bukan karena skizoprenia atau
psikosis lain.
 Gejala bukan lebih merupakan gejala
gangguan mental lain misalnya Mood
Disorder, Anxiety Disorder, Dissociative
Disorder, Personality Disorder).
ADHD tipe inatensi

 Gejala hiperaktifitas tidak menonjol/minimal.


 Perhatian mudah teralih oleh hal-hal kecil.
 Harus diingatkan hal-hal yang harus dikerjakan.
 Kerap ketinggalan alat-alat sekolah.
 Sering lupa mengerjakan tugas.
 Atensi membaik jika ada perhatian/perlakuan
khusus : diingatkan guru, duduk di deretan
paling depan.
 Baik di rumah maupun di sekolah
memperlihatkan gejala yang sama.
 Terapi perilaku, jika tidak mengurangi gejala
diberikan obat.
Auditory processing disorder

 Gangguan pemrosesan input pendengaran.


 Otak tidak dapat memproses dari apa yang
didengar menjadi suatu tindakan/perbuatan.
 Tidak dapat memilah mana suara yang perlu
diperhatikan/mana yang diabaikan.
 Tidak dapat mengolah kata/kalimat yang
didengar menjadi suatu pengertian.
 Sulit memahami perintah yang kompleks.
 Anak sulit konsentrasi/tidak dapat menangkap
pelajaran di tempat yang bising (suasana kelas)
 Anak bisa mengerjakan tugas dengan baik di
rumah atau di lingkungan yang tenang.
Auditory processing disorder

 Sulit memusatkan perhatian dan mengingat


sesuatu yang diberikan secara verbal.
 Ada problem perilaku lain
 Mempunyai masalah dalam membaca, mengeja,
perbendaharaan kata, mencongak.
 Perlu evaluasi menyeluruh oleh spesialis THT
anak.
 Terapi khusus oleh ahli patologi bicara, dr THT
dan memerlukan alat khusus untuk menyaring
suara-suara yang tidak perlu/dapat diabaikan.
Autism Spectrum Disorder (ASD)
1. Defisit komunikasi sosial dan interaksi
sosial

 Defisit sosial-emosional timbal balik


 Defisit komunikasi nonverbal
 Defisit memulai, memelihara, dan mengerti
hubungan dan interaksi dengan orang lain

 American Psychiatric Association. Diagnostic and


statistical manual of mental disorders: DSM-V.
Washington, DC: Amer Psychiatric Publishing;
2013.
Autism Spectrum Disorder (ASD)
2. Perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas
dan repetitif

 Gerak, penggunaan benda, atau bicara stereotipik dan


repetitif
 Selalu mau yang sama, melakukan rutinitas yang sama,
perilaku verbal dan nonverbal yang merupakan ritual
 Minat terbatas dan terfiksasi yang abnormal dalam
intensitas dan fokus
 Hiper atau hipo reaktif terhadap input sensoris, atau minat
tidak wajar terhadap aspek sensoris lingkungan

 American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical


manual of mental disorders: DSM-V. Washington, DC: Amer
Psychiatric Publishing; 2013.
DISLEKSIA
Disleksia

 Termasuk problem belajar (language-based


learning disability)
 Kesulitan dalam membaca, mengeja, menulis
 Problem bukan pada taraf kecerdasan.
 Gejala bervariasi sesuai usia.
 Pra-sekolah :
 Keterlambatan bicara.
 Kesulitan belajar kata-kata baru.
 Kesulitan melabel benda, hanya berkata : “yang
ini/itu”
 Sulit mengingat nama tempat dan orang
 Sekolah :
 Kesulitan reading-comprehension
Disleksia

 Sekolah dasar :
 Membaca/menulis huruf terbalik-balik : d
dengan b, w dengan m
 Kesulitan mengeja, belajar membaca
 Kesulitan menghubungkan antara bunyi
suara dengan huruf.
 Tidak dapat membedakan : kiri/kanan,
atas/bawah, sebelum/sesudah
 Sulit membedakan kata-kata yang mirip
sapi/pasi, ibu/itu.
 Kesulitan dalam memecah kata menjadi
suku kata, atau menggabungkan suku kata
menjadi kata/kata menjadi kalimat.
KESIMPULAN

 Paham perkembangan normal seorang anak.


 Setiap anak berbeda dengan problem yang
berbeda.
 Perilaku anak ditentukan oleh sifat, genetik,
lingkungan, pola asuh dan stimulasi.
 Jika ada sesuatu yang berbeda pada
anak/murid lakukan observasi , perhatikan
faktor-faktor penentu serta lakukan evaluasi
menyeluruh.
 Jangan terlalu cepat memberikan label pada
seorang anak
 Rujuk ke profesional
TERIMA KASIH