Anda di halaman 1dari 5

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

KSM THT-KL
RSUD Dr. MOEWARDI

REPOSISI FRAKTUR OS NASAL


(ICD 10 CM: )
1. Pengertian (Definisi) Tindakan melakukan pengembalian dari fragmen tulang nasal yang
mengalami patah tulang kembali ke kedudukan semula

2. Indikasi 1. Deformitas
3. Kontraindikasi 1. Tidak ada kontra indikasi operasi fraktur nasal
4. Persiapan Terdiri atas persiapan pasien, bahan dan alat, serta petugas
A. Pasien
1. Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan
operasi yang akan dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan
tandatangan persetujuan dan permohonan dari penderita untuk
dilakukan operasi (Informed consent).
2. Ijin operasi
3. Ijin pembiusan
4. Konsul: Anestesi
5. Konsul: Kesehatan Anak, Penyakit Dalam, Kardiologi atau
bagian lain (atas indikasi)
6. Pemeriksaan laboratorium:
 Pemeriksaan darah lengkap
 PT dan APTT
 Atas indikasi: SGOT, SGPT, ureum dan creatinin darah,
gula darah sewaktu
7. Pemeriksaan radiologi
 Foto toraks
 Foto radiologi os nasal
8. Puasa 6 jam sebelum operasi
9. Antibiotika profilaksis, Cefazolin atau kombinasi Clindamycin
dan Garamycin, dosis menyesuaikan untuk profilaksis.

B. Bahan dan Alat


1. Bahan
 Larutan Betadine 100 ml
 Alkohol 70% 25 ml
 Kassa steril 1 pack (@5 lembar)
 Benang silk 2-0 1 pack
 Ephineprine
 Lidocaine
2. Alat
 Lampu kepala
 Mesin suction dan selang suction
 Reduksi tertutup : untuk reduksi tertutup adalah elevator
Boies atau Ballenger, forcep Asch dan Walsham.
C. Petugas
1. Dokter Spesialis THT-KL yang mempunyai kewenangan
klinis
2. PPDS Sp.1 THT-KL yang mempunyai kewenangan klinis
sesuai tingkat kompetensi pendidikannya
3. Perawat kamar operasi THT-KL yang mempunyai
kewenangan klinis
4. Dokter Spesialis Anestesi yang mempunyai kewenangan
klinis.
5. Prosedur Reduksi Tertutup
1. Antibiotik profilaksis intravena diberikan 30 menit sebelum
operasi
2. Identifikasi
3. Sign in
4. Time out
5. Posisi pasien terlentang, dikerjakan di kamar operasi dengan anestesi
general atau lokal.
6. Disinfeksi lapangan operasi dengan larutan hibitan-alkohol 70%
1:1000.
7. Lapangan operasi dipersempit dengan linen steril
8. Jarak antara tepi rongga hidung ke sudut nasofrontal diukur, kemudian
instrumen dimasukkan sampai batas kurang 1 cm dari pengukuran tadi.
9. Fragmen yang depresi diangkat dengan elevator dalam arah
berlawanan dari tenaga yang menyebabkan fraktur, biasanya kearah
antero-lateral.
10. Reposisi fraktur nasal dapat dilakukan dengan forsep Walsam,
11. Jangan terlalu ditekan (dibawah tulang hidung yang tebal dekat sutura
nasofrontal) karena daerah ini jarang terjadi fraktur, lagipula bisa
menyebabkan robekan mukosa dan perdarahan.
12. Reduksi disempurnakan dengan melakukan ‘molding’ fragmen sisa
dengan menggunakan jari.
13. Pada kasus fraktur dislokasi piramid bilateral, reduksi septum nasal
yang tidak adekuat menyebabkan reposisi hidung luar tidak
memuaskan.
14. Stabilisasi septum dengan splints Silastic, pasang tampon pada tiap
lubang hidung dengan sofratul.
15. Splints dengan menggunakan gips kupu-kupu. Tampon dilepas pada
hari ke 3 paska reposisi.
16. Operasi selesai
17. Sign out

Reduksi Terbuka
1. Antibiotik profilaksis intravena diberikan 30 menit sebelum
operasi
2. Identifikasi
3. Sign in
4. Time out
5. Penderita dalam anestesi umum dengan pipa orotrakheal, posisi
telentang dengan kepala sedikit ekstensi .
6. Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan Hibitane dalam alkohol
70% 1: 1000, seluruh wajah terlihat .
7. Persempit lapangan operasi dengan menggunakan kain steril
8. Insisi pada kulit ada beberapa pilihan, melalui bekas laserasi yang sudah
terjadi, insisi “H”, insisi bilateral Z, Vertikal midline, insisi bentuk “W”.
9. Insisi diperdalam sampai perios dan perdarahan yang terjadi dirawat.
10. Perios diinsisi , dengan rasparatorium kecil fragmen tulang
dibebaskan.
11. Dilakukan pengeboran fragmen tulang dengan mata bor diameter 1
mm, tiap pengeboran lindungi dengan rasparatorium dan disemprot
dengan aquadest steril.
12. Lakukan reposisi dan fiksasi antara kedua fragmen tulang dengan
menggunakan kawat 03 atau 05, sesuaikan dengan kondisi fragmen
tulang.
13. Pada fraktur komunitif dapat dipertimbangkan penggunaaan bone
graft.
14. Luka diirigasi dengan larutan garam faali.
15. Luka operasi dijahit lapis demi lapis, perios, lemak subkutan dijahit
dengan vicryl atau dexon 03, kulit dijahit dengan dermalon 05.
16. Operasi selesai
17. Sign out

6. Pasca Prosedur 1. Medikamentosa


Tindakkan  Infus Ringer Laktat / Dekstrose 5 % 1 : 4 dilanjutkan selama 1
hari

 Antibiotika profilaksis diteruskan setiap 8 jam , sampai 3 kali


pemberian atau di lanjutkan dengan antibiotik lini 1

 Analgetika dan anti perdarahan diberikan kalau perlu

2. Evaluasi outcome:
 Tidak ada risiko obstruksi napas yang dapat berisiko
mengancam kematian
 Tidak ada perdarahan
 Luka operasi tidak infeksi
 Tidak ada dehidrasi
 Perhatikan posisi tidur , jangan sampai daerah operasi tertekan.
 Rawat luka pada hari ke 2 - 3 , angkat jahitan hari ke-7.
3. Diet:
 Penderita sadar betul boleh minum sedikit , sedikit

 Bila 8 jam kemudian tidak apa apa boleh makan bubur ( lanjutkan
1 minggu )

4. Follow up :
 Tampon hidung dilepas hari 3-4

 Splint septum dilepas hari 10

 Gips kupu-kupu dilepas minggu ke-3

 Kontrol tiap bulan selama 3 bulan


7. Tingkat rekomendasi -
8. Kompetensi
9. Kompetensi Merah Kuning Hijau Biru
PPDS** Diagnosis
Pengelolaan
Medis
Prosedur

10. Tingkat evidens*** -


11. Penelaah kritis KELOMPOK STUDI PLASTIK DAN REKONSTRUKSI
PERHATI-KL
12. Indikator medis Reposisi fraktur tanpa komplikasi bisa selesai dalam 60 menit
dengan reduksi tertutup.
13. Kepustakaan 1. Bailey BMW, Manisali M.Face, Jaws, Mouth and Teeth. In Ellis BW,
Brown SP eds . Hamillton Bailey’s Emergency surgery 13th ed. Varghese
Co. 2000, 207-237

2. Wood RJ, Jurkiewiez MJ. Plastic and Reconstructive Surgery. In


Principle of Surgery Schwartz 8 ed., Mc Graw Hill Inc.2005, 1807- 1808
th

3. Lawrence WT, Lowerstein A. Plastic Surgery. In Norton Surgery , Basic


Science and Clinical Evidence. Springer. 2001, 2011 - 2013

4. De Jong W, Sjamsuhidayat. Buku ajar Ilmu Bedah Indonesia, 2 nd ed.


EGC. 2005,337-342

5. Bailey BJ. Nasal fracture. Head and Neck Surgery. Otolaryngol.


1993(1): 991-1006

6. Fonseca RJ, Walker RV, Nasal Fracture in: Oral and Maxillofacial
Trauma. Vol.1 1991,602-605.

7. Colton JJ,Beekhuis GJ. Management of nasal fracture. Otolaryngol Clin


North Am 1986; 19;73

8. Clyton MI, Lesser THJ. The role of radiography in the managemant of


nasal fracture. J Laryngologol Otol 1986; 100:797

9. El-Kholy A. Manipulation of fracture nose using topical local


anesthesia. J Laryngolo Otol 1989;103:580

10. Waldron J, Mitchell DB, Ford G. Reduction of fracture nasal bone;


general vs local anaesthesia. ClinOtolaryngol 1989; 14;357

11. Constantian MB, An algorithm for correcting the asymmetrical nose.


Plast Reconstr Surg 1989;83:801

Keterangan :

*Tatalaksana : Bila RS Dr.Moewardi belum dapat melakukan tatalaksana tersebut mohon di


beri keterangan (RUJUK)
**Kompetensi residen :
1. Mengenali dan menjelaskan
2. Mendiagnosis dan merujuk
3. Mendiagnosis dan memberikan tatalaksana awal dan merujuk
4. Mendiagnosis , memberikan penatalaksanaan mandiri dan tuntas.
*** Tingkat Evidens (sumber rujukan) :
I : metaanalisis dan sistimatik review dari RCT
II : design penelitian dengan kohort
III : design penelitian dengan kasus kontrol
IV : dari seri kasus

Surakarta, 12 April 2018


Komite Medik Ketua KSM/Bagian I K THT-KL

Dr. Untung Alifianto,dr., Sp.BS dr. S. Hendradewi, Sp.THT-KL(K), MSi Med, FICS
NIP.19561223 198611 1 002 NIP. 19651121 201001 2 001

Plt. Direktur RSUD Dr Moewardi


Provinsi Jawa Tengah
Wakil Direktur Umum

Dr. Suharto Wijanarko, dr., Sp.U


NIP. 19610407 198812 1 001