Anda di halaman 1dari 24

BAB III

HASIL PENGKAJIAN DAN ANALISA SERTA SINTESA PERMASALAHAN


MANAJEMEN KEPERAWATAN

I. Hasil Pengkajian 5 M
A. 5 M (Man, Material & Machine, Method, Money, Market)
1. Man
 Jumlah Tenaga
Kualifikasi tenaga keperawatan di UNIT STROK berjumlah 10 orang dengan rincian
sebagai berikut:
a) Tenaga Keperawatan :
No. Kualifikasi Jumlah Prosentase
1. S1 Keperawatan - 0%
2. DIII Keperawatan 9 90%
3. DI Keperawatan 1 10 %
Jumlah 10 100%
Kesimpulan: dari data di atas sebagian besar perawat di Unit Stroke adalah berlatar
pendidikan DIII Keperawatan, perlu ditingkatkan lagi untuk bisa melanjutkan lagi ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi.

b) Tenaga Medis :
No. Kualifikasi Jumlah Prosentase
1. Dokter Spesialis Bedah Umum 3 6,8 %
2. Dokter Spesialis Bedah Ortopedi 2 4,5 %
3. Dokter Spesialis Mata 4 9%
4. Dokter Spesialis Syaraf 2 4,5 %
5. Dokter Spesialis THT 2 4,5 %
6. Dokter Spesialis Bedah Syaraf 1 2,2 %
7. Dokter Umum 7 15,9 %
8. Bedah dan IPD 4 9%
9 Dokter Spesialis paru 2 4,5 %
10 Dokter Gigi 2 4,5 %
11 Dokter Spesialis Obsgyn 3 6,8 %
12 Dokter Spesialis Anak 4 9%
13 Dokter Spesialis jantung 2 4,5 %
14 Dokter Spesialis Radiologi 3 6,8 %
15 Dokter Spesialis Anastesi 2 4,5 %
16 Dokter Spesialis Kulit dan 1 2,2 %
Rekonstrusi
Total 44 100%

 Kualitas Tenaga
Berdasarkan hasil wawancara dengan Perawat Ruangan di Unit Strok didapatkan

1
jumlah tenaga perawat pelaksana di Unit Strok RS Wava Husada Kab. Malang saat ini
adalah:
No Jenis Pelatihan yang
Nama Pendidikan Masa Kerja
. Ketenagaan pernah diikuti
1. Rifka Choiri Fauziah D3 4 Tahun Kanit BTLS, BCLS,
Keperawatan pelatihan
management
dasar stroke
2. Ira Puspitasari D3 4 Tahun Pj shift BTLS, BCLS,
Keperawatan pelatihan
management
dasar stroke
3. Yuni Nofita D3 5 Tahun Pj shift BTLS, BCLS,
Keperawatan Manajemen
dasar stroke
4. Ruli Ristoni. D3 4 tahun Pj Shift BCLS, Trauma
Keperawatan service PPGD
5 Evin Dwi D3 5 tahun PJS Kanit Manajemen
Keperawatan dasar stroke
6. Nanang Sumanto D3 4 tahun Perawat -
Keperawatan
7. Nunuk Puji Lestari D3 8 tahun Perawat -
Keperawatan
8. Andry Julianto D3 2 tahun Perawat -
Keperawatan
9. Eko Puji Rahayu, D3 8 tahun Perawat -
Keperawatan
10 Heni Fitria D1 8 tahun Asper -
Keperawatan
Kesimpulan: dari sejumlah perawat yang bekerja di Unit Stroke RS WAVA HUSADA
sudah pernah mengikuti kegiatan untuk meningkatkan skill dan kemampuan dalam bidang
medis, sehingga hal ini sangat menunjang untuk peningkatan mutu SDM, namun dari segi
kuantitas masih kurang.

 Jumlah Pasien Pada Tanggal 05 April 2015 – 07 April 2015 dan Tingkat
Ketergantungannya
Pada hasil pengkajian di Unit Stroke dalam tiga hari (Tanggal 06 April 2015 - 08 April
2015) adalah sebagai berikut:

Tabel Hasil Rekapitulasi Pasien Unit Stroke

2
Tanggal 05 April 2015 – 07 April 2015

Tanggal Jumlah Pasien/Hari Jumlah Jam


Mandiri Jumlah
Dan Bulan Total Parsial Perawatan
05 /04/15 5 4 - 9 46
06/04/15 5 4 - 9 46
07/04/15 5 4 - 9 46
Jumlah total 15 12 27 138

 Kebutuhan Jumlah Perawat


Dari hasil rekapitulasi data pasien dan tingkat ketergantungannya pada bulan
Desember dapat dihitung berapa jumlah kebutuhan tenaga keperawatan menggunakan
rumus sebagai berikut:
► Menurut Gillies (1982)
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan perhari dapat dihitung menggunakan
formula sebagai berikut:
 Jam keperawatan yang dibutuhkan klien/hari X  klien rata-rata/hari X  hari/tahun
( Hari/tahun – Hari libur masing-masing perawat) X  jam kerja tiap perawat
Tanggal 5 Februari 2015
M=
P =4x4 = 16
T =5x6 = 30
Total = 46 jam perawatan

Penkes : 15 x 9 = 135 menit = 2,25 jam


Perawatan tidak langsung = 1 jam x 9 = 9 jam

Jumlah jam perawatan per hari = 46 + 2,25 + 9 = 57,25 jam

Jumlah kebutuhan perawat per unit dalam 1 tahun : 57,25 x 365 = 10,3 =10 perawat
289 x7
Jumlah kebutuhan perawat per hari : 57,25 : 7 = 8,2 = 8 perawat
Jumlah kebutuhan perawat per shift : pagi : 47 x 8= 3,7 = 4 perawat
100
Sore : 35 x 8 = 2,8 = 3 perawat
100
Malam : 17 x 8 = 1,6 = 2 perawat
100

Tanggal 10 Februari 2015


M=

3
P =4x4 = 16
T =5x6 = 30
Total = 46 jam perawatan
penkes : 15 x 9 = 135 menit = 2,25 jam
perawatan tidak langsung = 1 jam x 9 = 9 jam
Jumlah jam perawatan per hari = 46 + 2,25 + 9 = 57,25 jam
Jumlah kebutuhan perawat per unit dalam 1 tahun : 57,25 x 365 = 10,3 =10 perawat
289 x7

Jumlah kebutuhan perawat per hari : 57,25 : 7 = 8.17 = 8 perawat


Jumlah kebutuhan perawat per shift : pagi : 47 x 8= 3,76 = 4 perawat
100
Sore : 35 x 9 = 3,15 = 3 perawat
100
Malam : 17 x 8 = 1,6 = 2 perawat
100
Tanggal 11 Februari 2015
M=
P =4x4 = 16
T =5x6 = 30
Total = 46 jam perawatan
penkes : 15 x 9 = 135 menit = 2,25 jam
perawatan tidak langsung = 1 jam x 9 = 9 jam
Jumlah jam perawatan per hari = 46 + 2,25 + 9 = 57,25 jam
Jumlah kebutuhan perawat per unit dalam 1 tahun : 57,25 x 365 = 10,3 =10 perawat
289 x7

Jumlah kebutuhan perawat per hari : 57,25 : 7 = 8.17 = 8 perawat


Jumlah kebutuhan perawat per shift : pagi : 47 x 8= 3,76 = 4 perawat
100
Sore : 35 x 9 = 3,15 = 3 perawat
100
Malam : 17 x 8 = 1,6 = 2 perawat
100

Rata-rata kebutuhan tenaga perhari : 4 + 3 + 2 = = 3 perawat


3

4
Keterangan: Prinsip dari rumus Gillies adalah:
 Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan klien per hari adalah
a. Waktu keperawatan langsung
(self care) = ½ x 4 = 2 jam
(partial care) = ¾ x 4 = 3 jam
(total care) = (1 – 1,5) x 4 = 4 – 6 jam
(intensive care) = 2 x 4 jam = 8 jam
b. Waktu keperawatan tidak langsung
RS Graha Detroit = 38 menit/klien/hari
Wolfe & Young = 60 menit/klien/hari
c. Waktu penyuluhan kesehatan lebih kurang 15 menit/hari/klien
d. Bed Occupancy Rate (BOR)
e. Jumlah hari per tahun, yaitu 365 hari
Hari libur masing-masing perawat per tahun, yaitu 76 hari {hari minggu = 52 hari, hari
hari libur nasional = 12 hari, dan cuti tahunan = 12 hari
f. Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (hari kerja efektif 6 hari
maka 40/6 = 6,6 jam per hari).

Tabel Analisa kebutuhan tenaga kerja di Unit Stroke RS WAVA HUSADA


Tgl 05 April 2015 – 07 April 2015
Keterangan
Klasifikasi tingkat : Jumlah Kebutuhan tenaga
ketergantungan klien perawat
M : Mandiri
M P T Pagi Sore Malam
05/04/2015 - 4 5 9 4 3 2
06/04/2015 - 4P : Partial5 9 4 3 2
07/04/2015 - 4 5 9 4 3 2
T : Total
Jumlah Tempat tidur Ruang IRNA D adalah 36 buah
Bed Occupancy Rate (BOR) Ruang Rawat Inap D Rumah Sakit Wava Husada periode
Juli- Desember 2014

Kategori Juli Agustus September Oktober Nopember Desember


BOR RID 62 % 74 % 84 % 84% 84% 87%

5
Berdasarkan data diatas didapatkan Rata-rata BOR dalam 6 bulan mulai bulan Juli –
Agustus adalah 79,16 % dengan demikian jumlah BOR sudah memenuhi standar
yang ada.

a) Jumlah pasien selama 3 hari

Sumber: Hasil pendataan mahasiswa kelompok 2 pada tanggal 05 April 2015 - 07 Februari
2015
Dari grafik diketahui, dari total jumlah pasien selama 3 hari sebanyak 27 orang
jumlah total pasien tingkat ketergantungan partial 12 orang dan tingkat ketergantungan total
15 orang pasien.
Jumlah tenaga yang dibutuhkan adalah: 8 + 8 + 8 =8 perawat
3
Jadi jumlah tenaga perawat yang di butuhkan perhari adalah 26 orang (berdasarkan

6
rumus Gillies)
 Pembagian perawat shift :
Shift pagi : 47% x 8 orang = 4
Shift sore : 35% x 8 orang = 3
Shift malam : 17% x 8 orang = 2
Di Unit Stroke RS WAVA HUSADA terdapat perawat shift pagi sebanyak 4 orang,
shift sore sebanyak 3 orang dan shift malam 2 orang. Berdasarkan data diatas dapat
disimpulkan bahwa jumlah perawat di Unit Stroke WAVA HUSADA pada shift pagi, sore dan
malam kurang memenuhi standar. Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan tenaga perawat di
Unit Stroke WAVA HUSADA belum terpenuhi.

Masalah yang ada pada MAN :


Jumlah tenaga perawat untuk memenuhi kebutuhan tenaga harian masih belum
mencukupi pada shift pagi, sore dan malam.

2. Material dan Machine


Dalam melaksanakan asuhan keperawatan di ruang IRNA D, tentunya harus
didukung dengan alat-alat medis maupun non medis. Adapun alat-alat yang dimiliki oleh
ruang unit stroke baik alat medis maupun non medis adalah sebagai berikut:
a. Penataan Gedung/Lokasi Dan Denah Ruangan
Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan di Unit Stroke RS Wava
Husada Kepanjen, dengan uraian denah sebagai berikut :
 Sebelah Selatan berbatasan dengan ruang IRNA D.
 Sebelah Barat berbatasan dengan ruang IRNA D.
 Sebelah Timur berbatasan dengan ruang Rekam Medis Non Aktif.
 Sebelah Utara meruapakan lahan pertanian.
 Pintu masuk berada di sebelah timur ruangan pasien dan di depan nurse
station.
Berdasarkan angket yang dibagikan pada perawat di Unit Stroke sebanyak 70 %
perawat menyatakan bahwa lokasi dan denah ruangan unit stroke tidak baik.

b. Fasilitas untuk Petugas Kesehatan


1) Nurse station
Kondisi cukup rapi dan bersih, penempatan buku-buku dan komputer teratur,
penempatan status di troli, buku-buku barang habis pakai di simpan di lemari,
terdapat locker untuk perawat, terdapat whiteboard untuk menuliskan laporan operan
per shift dan terdapat wastafel untuk cuci tangan. Nurse station utama berada di

7
bagian timur kamar pasien dan ruang kepala ruangan menjadi satu dengan ruang
pertemuan perawat.
2) Kamar mandi:
Kamar mandi cukup bersih dan lokasi berada cukup jauh dengan nurse station unit
stroke yaitu berada di sebelah selatan unit stroke.
3) Kamar ganti perawat dan dapur
Kamar ganti perawat berada di sebelah timur nurse station. Dapur berada di lantai 1
berada jauh dari nurse station.
c. Administrasi Penunjang
Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan pada Ruang Unit Stroke
Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen, administrasi penunjang untuk rekam medis
adalah Daftar comsumable dan alat-alat kesehatan, Buku injeksi, lembar observasi,
lembar visite, lembar dokumentasi, lembar asuhan keperawatan, dan buku operan.
d. Peralatan Penunjang Pelayanan Keperawatan
1) Alat Medik
Tabel Alat Medik di Ruang Unit Stroke RS.Wava Husada Kepanjen
Jenis Jumlah Baik Rusak Tercapai
Tempat seka stainless 2 2 0 100 %
Bak seka stainless 4 4 0 100 %
Bak instrument Besar/Kecil 1/4 1/4 0 100 %
Tromol K/Sedang/ Besar 2/1/1 2/1/1 0 100 %
Bengkok Kecil/Besar 1/4 1/4 0 100 %
Tempat korentang 2 2 0 100 %
Korentang 3 3 0 100 %
Comb 4 4 0 100%
Cucing 3 3 0 100%
Pinset anatomis besar/kecil 5/1 5/1 0 100%
Pinset chirurgis 5 5 0 100%
Taonge Spatel 1 1 0 100%
Gunting AJ/Kassa/Lancip 1/2/2 1/2/2 0 100%
Kocker Bengkok 2 2 0 100%
Handmess Besar 3 3 0 100%
Naldfoder 3 3 0 100%
Klem Bengkok/Lurus 2/4/2 2/4/2 0 100%
kecil/Lurus Besar
Catgut 2/0 2 2 0 100%
Jarum GT 10 12 12 0 100%
Mess no.15 1 1 0 100%
Standard infuse 4/8 4/8 0 100%
beroda/tidak beroda
Bed puteran 1/3 6/4 6/4 0 100%
Bed Remote 3 3 0 100%
Infus Pump 4 4 0 100%
Syinge Pump 4 4 0 100%

8
Suction besar/kecil 1/1 1/1 0 100%
Kasur angin 1000/2000 2/1 2/1 0 100%
Gantungan Urine Bag 11 11 0 100%
EKG 1 1 0 100%
Nebulizer 1 1 0 100%
Ambubag 1 1 0 100%
Monitor Pasien 3 3 0 100%
Bedside 12 12 0 100%
Oksigen sentral 3 3 0 100%
Manometer 12 12 0 100%
Pispot 11 11 0 100%
Manset 1 1 0 100%
Tensi meter 1 1 0 100%
Termometer 2 2 0 100%
SpO2 Digital 1 1 0 100%
Torniquet 2 2 0 100%

2) Inventaris alat rumah tangga


Tabel Inventaris Alat Rumah Tangga Ruang Unit Stroke RS. Wava Husada Kepanjen:
Jenis Jumlah Baik Rusak Tercapai
Bed penderita 12 12 0 100%
Rak Handuk/Sandal 5/5 5/5 0 100%
Almari linen 1 1 0 100%
Almari loker 1 1 0 100%
Tempat sampah 3/5/4 3/5/4 0 100%
Besar/Kecil/Injak
Gorden biru/putih 34/9 34/9 0 100%
Meja Makan Pasien 12 12 0 100%
Foot Step 4 4 0 100%
Jam Dinding 5 5 0 100%
AC 6 6 0 100%
TV 5 5 0 100%
Kursi Penunggu 14 14 0 100%
Heater 1 1 0 100%
Tempat tissue cuci 1 1 0 100%
tangan
Cermin 4 4 0 100%
Pesawat telfon 1 1 0 100%

9
Kulkas 0 0 0 0%
Lampu tidur 13 13 0 100%
Tempat pakaian kotor 4 4 0 100%
Papan berkunjung 1 1 0 100%
Filmiluminator 1 1 0 100%
Keranjang Obat 3 3 0 100%

3. METHODE
Metode yang digunakan ruang IRNA D untuk pemberian asuhan keperawatan pada
pasien adalah metode tim modifikasi, modeltim modifikasi merupakan pengembangan dari
primary nursing yang digunakan dalam keperawatan dengan melibatkan tenaga professional
dan non professional.Model tim modifikasi mirip dengan model keperawatan tim, karena
tenaga profesional dan non profesional bekerjasama dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada beberapa pasien dengan arahan kepemimpinan perawat
profesional.Model ini mirip juga dengan model primer, karena tiap 2-3 perawat bertanggung
jawab terhadap asuhan beberapa pasien sesuai dengan beban kasus, sejak pasien masuk,
pulang dan setelah pulang serta asuhan lanjutan kembali ke rumah sakit. Dalam
menerapkan model ini, 2-3 tenaga keperawatan bisa bekerjasama dalam tim, serta diberi
tanggung jawab penuh untuk mengelola 7-9pasien. Seperti pada model primer, tugas tim
keperawatan ini harus tersedia juga selama tugas gilir (shift) sore-malam dan pada hari-hari
libur, namun tanggung jawab terbesar dipegang oleh ketua Tim.
Gambaran pelaksanaan metode modifikasi tim primer di ruang IRNA D adalah
a. Perawat dibagi tugas dalam dua tim yaitu tim 1 dan tim 2. Tim 1 merawat pasien dengan
kasus bedah dan Tim 2 merawat pasien dengan kasus penyakit dalam dan anak.
b. Masing-masing perawat dialokasikan untuk ± 8 pasien.
c. masing-masing perawat bertanggung jawab atas pasien kelolaannya
d. Tidak terdapat perawat yang bertanggung jawab dalam perencanaan asuhan
keperawatan, di ruang IRNA D masih terdapat ketimpangan pelaksanaan tugas karena
perawat masih melaksanakan tugas-tugas secara fungsional. Terdapat beberapa tugas
fungsional yang dilakukan oleh perawat yang sama untuk semua pasien. Selain itu,
masih sering terjadi pertukaran pasien antara perawat satu dengan yang lainnya
sehingga perawat primer tidak sepenuhnya mengetahui kronologi perawatan pasien
kelolaannya.
e. Operan atau timbang terima
Proses timbang terima dilakukan langsung pada kamar-kamar pasien. Namun
masalah keperawatan pasien tidak disampaikan dalam timbang terima antar shift.

Timbang terima dari shift malam ke pagi

10
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
1. kedua kelompok shift sudah siap √
2 shift yang akan menyerahkan dan √
mengoperkan mempersiapkan hal-hal apa
yang harus disampaikan.
3 Ketua Tim menyampaikan kepada √
penanggung jawab shift selanjutnya
meliputi :
a. keadaan umum klien,
b. Tindak lanjut untuk dinas yang
menerima operan selanjutnya
c. Rencana kerja untuk dinas yang
menerima operan.
4 Penyampaian operan diatas harus secara √
jelas dan tidak terburu-buru
5 Ketua Tim dan anggota kedua shift dinas √
bersama-sama secara langsung melihat
keadaan klien.
Total 100%

Timbang terima dari shift pagi ke sore


No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
1. kedua kelompok shift sudah siap √
2 shift yang akan menyerahkan dan √
mengoperkan perlu mempersiapkan
hal-hal apa yang harus disampaikan.
3 Ketua tim menyampaikan kepada √
penanggung jawab shift selanjutnya
meliputi :
a. keadaan umum klien
b. Tindak lanjut untuk dinas
yang menerima operan
selanjutnya
c. Rencana kerja untuk dinas
yang menerima operan.
4 Penyampaian operan diatas harus √
secara jelas dan tidak terburu-buru
5 Perawat primer dan anggota kedua √
shift dinas bersama-sama secara
langsung melihat keadaan klien.

11
Total 100%

a. Pre, middle, dan post conference


 Pre conference dilaksanakan setiap pagi sebelum melaksanakan aktivitas
keperawatan, diikuti oleh semua perawat dan mahasiswa yang dinas pagi.
 Middle conference tidak dilakukan
 Post conference dilaksanakan sebelum pulang, tepatnya jam 13.45 WIB.
b. Koordinasi antar perawat dengan tenaga kesehatan yang lain
Proses koordinasi dengan tenaga kesehatan lain berjalan dengan baik, sebagai
contoh bila ada masalah atau keluhan segera dilaporkan ke dokter dan ditindak
lanjuti. Kolaborasi dengan tenaga farmasi adalah perawat memastikan bahwa resep
obat yang telah diresepkan telah diterima oleh pasien, dan kolaborasi telah berjalan
dengan baik. Perawat dan ahli gizi berkolaborasi dalam pemenuhan nutrisi pasien.

4. MONEY
a. Sumber Keuangan
1) Nilai kerja
Akumulatif gaji pokok berdasarkan pelatihan, pengalaman, pendidikan.
2) Insentif
Berdasarkan pelatihan, pengalaman, pendidikan, masa kerja.
b. Pendapatan
Jenis pendanaan ruangan berasal dari pasien asuransi semua golongan dan pasien umum.

5. MARKET
Pelayanan IRNA D untuk pasien BPJS semua golongan dan pasien umum

II. Pengkajian Fungsi-Fungsi Manajemen


A. Perencanaan
1. Kepala Ruang
Dalam penggunaan metode primer kepala ruang memegang peranan penting saat
merencanakan penerapan metode primer dalam memberikan asuhan keperawatan, fungsi
perencanaan kepala ruang dalam metode keperawatan primer sesuai Juknis antara lain:
Job Description Hari Pengkajian
1 2
Perencanaan

1. Membuat jadwal shift jaga √ √


2. Menunjuk Ketua tim yang bertugas di ruangan √ √
3. Mengikuti serah terima pasien shift sebelumnya √ √
4. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: √ √
gawat, transisi dan persiapan pulang bersama Ketua
tim
5. Membuat rencana untuk pengembangan untuk staff √ √
perawatan sesuai dengan kebutuhan pelayanan di
ruangan.

12
6. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan √ √
berdasar aktivitas dan kebutuhan klien bersama
ketua tim
7. Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan √ √
8. Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, √ √
patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan,
program pengobatan dan mendiskusikan dengan
dengan dokter tentang tindakan yang akan
dilakukan terhadap pasien
9. Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan √ √
Presentase 100% 100%
Rata-Rata 100%
Keterangan:
Dari hasil pengkajian selama dua hari dapat teridentifikasi bahwa capaian kepala
ruang menjalankan fungsi perencanaan dalam metode keperawatan tim modifikasi sebesar
66.66% sehingga dapat dikatakan fungsi tersebut dapat dijalankan dengan cukup baik.
Kepala ruang mampu mengatur sumber daya yang ada dibawahnya untuk dapat
mewujudkan pemberian asuhan keperawatan secara tepat, seperti telah tertatanya jadwal
shift.
2. Ketua Tim
Ketua tim merupakan ujung tombak metode tim modifikasi yang digunakan karena
ketua tim yang memainkan fungsi merencanakan asuhan keperawatan yang akan diberikan,
menurut juknis tugas ketua tim sebagai perencana antara lain:
Job Description Hari
Pengkajian
1 2
Perencanaan

1. Mengorientasikan dan melakukan kontrak dengan klien - -


dan keluarga pada awal masuk ruangan sehingga tercipta
hubungan terapeutik
2. Melakukan pengkajian pada klien baru atau melengkapi √ √
pengkajian PP sebelumnya
3. Menetapkan rencana askep berdasar analisis data - -
4. Menetapkan PA yang bertanggung jawab pada setiap shift √ √
Total Presentase 50% 50%
Rata-rata 50%
Keterangan:
Ketua tim menjalankan fungsi perencanaan dengan capaian 50% dengan
kurangmaksimal, hal ini dikarenakan tidak adanya sistem yang membuat seorang katim

13
bekerja sesuai dengan tugasnya. Perawat assosiate yang masih kurang berpengalaman
sehingga katim seringkali meng cover tugas yang seharusnya dikerjakan oleh perawat
assosiateserta beban kerja katim yang tinggi dikarenakan kategori pasien yang masih belum
dikelompokkan berdasarkan kasus per departemen. Meskipun katim di IRNA D sudah
mendapatkan pelatihan terkait manajemen namun katim belum memaksimalkan ilmu yang
didapatkan dari pelatihan untuk diterapkan ke dalam ruangan. Sehingga sistem manajemen
ruangan masih belum berjalan secara maksimal.
3. Perawat Pelaksana
Perawat pelaksana tidak mempunyai fungsi perencanaan dikarenakan perawat
pelaksana menjalankan rencana yang sudah dibuat oleh Ketua tim. Fungsi perencanaan
dapat dilakukan perawat pelaksana jika mendapatkan pendelegasian dari ketua tim, namun
yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat tetap ketua tim.

B. Pengorganisasian
a. Coordinator Pelayanan
Job Description Selalu Tidak
pernah
1. Membuat perencanaan untuk kebutuhan √
perawatan yang dibutuhkan diruangan baik dari
segi jumlah, jenis, maupun kualitas
2. Membuat perencanaan untuk pemeliharaan √
sarana dan prasarana
3. Membuat perencanaan kebutuhan tenaga di √
ruangan baik dari segi kualitas, maupun
kuantitas.
4. Membuat rencana untuk pengembangan untuk √
staff perawatan sesuai dengan kebutuhan
pelayanan di ruangan.
5. Membuat rencana dan melaksanakan orientasi √
kepada tenaga baru dan praktikan
6. Membuat perencanaan untuk jadwal pertemuan √
berkala dengan para staf di ruangan

7. Merencanakan peningkatan kenyamanan kerja √


di ruangan
8. Membuat perencanaan tentang metode √
pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan
situasi di ruangan
9. Menyusun daftar dinas √
10. Mengatur dan mengkoordinasikan kegiatan √
pelayanan di ruangan

14
11. Member orientasi kepada pasien dan keluarga √
tentang peraturan dan tata tertib serta fasilitas
yang disediakan di rumah sakit
12. Melaksanakan pertemuan berkala atau √
sewaktu-waktu dengan staff dan tenaga lain
diruangan
13. Memberi kesempatan atau izin kepada staff √
ruangan untuk mengikuti kegiatan ilmiah atau
pelatihan.
14. Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat- √
obatan sesuai kebutuhan ruangan
15. Mengatur dan mengkoordinasikan √
pemeliharaan alat agar selalu dalam keadaan
siap pakai
16. Mengelompokkan pasien dan mengatur √
penempatannya diruangan sesuai tingkat
kegawatan, infeksi, non infeksi untuk
kelancaran pemberian asuhan keperawatan
17. Mengendalikan system pencatatan dan √
pelaporan asuhan keperawatan dan kegiatan
lain secara tepat dan benar
18. Memberi motifasi kepada petugas dalam √
memelihara kebersihan lingkungan ruangan
19. Menyimpan status perawatan dalam masa √
perawatan diruangan
20. Membuat laporan harian mengenai √
pelaksanaan asuhan keperawatan diruangan.
21. Melakukan serah terima pada saat pergantian √
dinas
22. Mengendalikan dan menilai pelaksanaan √
asuhan keperawatan di ruangan
23. Melakukan penilaian kinerja staff di ruangan √
24. Mengawasi, mengendalikan, dan menilai √
pendayagunaan tenaga keperawatan, peralatan
dan obat-obatan.
25. Mengawasi dan menilai asuhan keperawatan √
sesuai prosedur ketat (SOP)
PERSENTASE 80% 20%

b. Coordinator pendidikan

15
Job Description Selalu Tidak
pernah
1. Merencanakan bimbingan mahasiswa/orientasi √
2. Mengecek kehadiran mahasiswa √
3. Membimbing mahasiswa/responsi √
4. Mendampingi mahasiswa dalam melakukan √
tindakan
5. Merencanakan pembimbing mahasiswa √
PERSENTASE 80% 20%

c. Sie nosokomial
Job Description Selalu Tidak
pernah
1. Memantau hal-hal yang berhubungan √
dengan nosokomial
2. Laporan tentang pemasangan infuse, √
kateter, NGT
PERSENTASE 100 %

d. Sie inventaris alat-alat medis, bahan habis pakai, dan linen


Job Description Selalu Tidak
pernah
1. Menginventaris alat-alat medis setiap operan √
jadwal
2. Mengecek persediaaan bahan habis pakai √

3. Inventaris alat medis setiap bulan sekali √

4. Membuat rencana kebutuhan bahan habis √


pakai
5. Melaporkan pada coordinator √

6. Menginventaris alat-alat linen setiap operan √


jadwal
7. Bila pasien pulang selimut segera diambil dan √
diletakkan di gudang
8. Menghitung inventaris linen kotor dan yang √
sudah dicuci (keluar/masuk)
PERSENTASE 87,5% 12,5%

e. Sie kebersihan, dan sarana/prasarana


Job Description Selalu Tidak pernah

16
Memelihara lingkungan/ kebersihan, sarana √
keperawatan dan keindahan lingkungan (5K)
sesuai dengan program Ka. IRNA 1. 5K terdiri
dari:
1. Kebersihan
2. Ketertiban
3. Keselamatan
4. Keamanan
5. Kenyamanan.
PERSENTASE 100 %

f. Tugas pekarya
Job Description Selalu Tidak
pernah
Memelihara kerapian dan kebersihan ruangan √
antara lain :
a. Menyapu, membongkar dan menata kembali
ruangan atau kamar penderita, membersihkan
kaca jendela/ pintu, tempat cuci tangan, meja dan
lemari penderita
b. Membersihkan, menyiapkan tempat tidur √
penderita
c. Menjaga kebersihan kamar mandi/WC √

d. Memelihara kebersihan, menyimpan kembali alat- √


alat keperawatan seperti urinal, spatum pot,
perlak, kateter, dll
e. Memelihara kebersihan, keindahan lingkungan di √
sekitar ruang perawatan
f. Membantu menjaga tata tertib ruangan/ √
lingkungan
PERSENTASE 100%

Keterangan:
Tugas dikerjakan dengan kurang baik 0-49%; baik: >49%-77%;sangat baik: > 77%
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa:
 coordinator pelayanan melakukan tugasnya
 coordinator pendidikan melakukan tugasnya
 sie nosokomial melakukan tugasnya
 sie inventaris alat melakukan tugasnya
 sie kebersihan melakukan tugasnya 100% ( sangat baik)
 pekarya melakukan tugasnya 100% (sangat baik)
Jadi dapat disimpulkan bahwa pegawai ruang IRNA D telah melaksanakan tugas
sesuai tugasnya dengan baik.

17
C. Pengendalian
1) Kepala Ruang
Tanpa adanya fungsi controling tidak mungkin suatu metode dapat berjalan sesuai dengan
yang diharapkan, pengendalian dapat dilakukan dengan pengontrolan pada SOP penting dilakukan
agar pengendalian mutu pelayanan tetap optimal, fungsi pengendalian kepala ruang dalam metode
keperawatan primer sesuai Juknis antara lain:
Job Description Hari Pengkajian
1 2
Pengendalian
Mengawasi dan berkomunikasi dengan perawat primer √ √
maupun asosiet mengenai asuhan keperawatan yang
diberikan
Supervisi: √ √
- Secara langsung dengan inspeksi, mengawasi
sendiri atau melalui laporan langsung, memperbaiki
atau mengawasi kelemahan yang ada
- Secara tidak langsung, dengan mengecek daftar √ √
hadir, memeriksa renpra dan dokumentasi
keperawatan
- Mengevaluasi intervensi yang diberikan dengan √ √
renpra yang telah disusun
- Mengevaluasi penampilan kerja perawat diruangan √ √
Presentase 100%
Keterangan:
Dari hasil pengkajian selama dua hari dapat teridentifikasi bahwa capaian kepala
ruang menjalankan fungsi pengendalian dalam metode keperawatan primer sebesar 100%
Kepala Ruang melakukan komunikasi dengan perawat pelaksana, dan asisten
perawat, mengenai asuhan keperawatan yang diberikan, secara langsung maupun tidak
langsung mengawasi dan memperbaiki kelemahan yang ada serta mengevaluasi intervensi
dan penampilan kerja perawat, kepala ruang juga melakukan penilaian kinerja, memberi
reward dan teguran sehingga dapat dikatakan fungsi tersebut dapat dijalankan dengan baik.

2) Ketua Tim
Dalam metode tim yang digunakan, Ketua tim melakukan pengendalian pada
perawat pelaksana dalam pemberian asuhan keperawatan, menurut juknis tugas ketua tim
sebagai pengawas antara lain:
Job Description Hari
Pengkajian
1 2

18
Pengendalian

1. Mengevaluasi dan membuat catatan perkembangan √ √


pasien tiap hari
2. Memonitor dokumentasi yang dilakukan PP √ √
Presentase 100%
Keterangan:
Perawat primer menjalankan fungsi pengendaliannya dengan capaian 100% dengan
sangat baik, dokumentasi memang telah terisi namun untuk korelasi dan kongruensi antara
pengkajian hingga evaluasi kurang.

D. Pengarahan
1) Kepala Ruang
Dalam penggunaan metode tim modifikasi, kepala ruang memegang peranan penting
saat memberi pengarahan pada semua staf untuk mewujudkan asuhan keperawatan yang
komperhensif dan bermutu, fungsi pengarahan kepala ruang dalam metode keperawatan
primer sesuai Juknis antara lain:
Job Description Hari Pengkajian
1 2
Pengarahan
1. Memberi pengarahan tentang penugasan kepada √ √
ketua tim
2. Memberi pujian kepada anggota tim yang √ √
melakukan tugas dengan baik
3. Memberi motivasi dalam peningkatan √ √
pengetahuan, keterampilan dan sikap
4. Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting √ √
dan berhubungan dengan askep pasien
5. Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir √ √
kegiatan
6. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan - √
dalam melaksanakan tugas
7. Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain √ √
Presentase 95%
Keterangan:
Dari hasil pengkajian selama dua hari dapat teridentifikasi bahwa capaian kepala
ruang menjalankan fungsi pengarahan dalam metode keperawatan tim modifikasi sebesar
95% sehingga dapat dikatakan fungsi tersebut dapat dijalankan dengan baik. Kepala ruang
mampu melakukan supervisi, dan diskusi serta pre konference dan post konference dan
rapat rutin untuk melakukan fungsi pengarahan dan pengawasan.

2) Ketua Tim

19
Dalam metode tim modifikasi yang digunakan, ketua tim melakukan pengarahan
pada perawat pelaksana dalam pemberian asuhan keperawatan, menurut juknis tugas ketua
tim sebagai pengawas antara lain:
Job Description Hari
Pengkajian
1 2
Pengarahan dan Pengawasan

1. Melakukan bimbingan dan evaluasi pada PP dalam √ √


melakukan tindakan sesuai SOP
2. Memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan √ √
keluarga
3. Membuat perencanaan pulang √ √
Presentase 100%
Keterangan:
Ketua tim menjalankan fungsi pengarahannya dengan capaian 100% dengan cukup
baik, namun

III. ANALISA SWOT


A. Man
Strength Opportunity
1. Sebesar 60% struktur organisasi yang 1. RS memberikan kesempatan kepada
ada sesuai dengan kemampuan perawat untuk meningkatkan
perawat. kemampuan kerja melalui
2. Sebanyak 80% perawat menyatakan pelatihan/pendidikan keperawatan.
pembagian tugas sesuai dengan 2. Ada dukungan RS terhadap
struktur organisasi yang ada. pelatihan/pendidikan keperawatan.
3. Sebanyak 100% perawat menyatakan 3. Sebanyak 85% pasien di unit stroke
kepala ruangan sudah optimal dalam dengan tingkat ketergantungan
melaksanakan tugas-tugasnya parsial dan total.
4. Jenis ketenagaan di ruangan : .
5. S-1 Kep = -
6. D-III = 9
7. D1 = 1
8. Sebanyak 60% Perawat diberi
kesempatan untuk meningkatkan
kinerja melalui pelatihan/pendidikan
9. Jumah perawat masih belum
sebanding dengan jumlah pasien.
10. Pembagian tugas yang jelas.
11. Pendapatan sesuai dengan latar
belakang pendidikan.

Weakness Threatened
1. Beban kerja perawat di ruangan terlalu 1. Adanya tuntutan tinggi dari

20
tinggi. masyarakat untuk pelayanan yang
2. Jumlah perawat masih belum lebih profesional.
sebanding dengan jumlah pasien. 2. Makin tingginya kesadaran
masyarakat akan pentingnya
kesehatan.
3. Makin tingginya kesadaran akan
hukum
4. Adanya pertanggungjawaban legal
itas bagi pasien
5. Persaingan antar RS yang semakin
kuat.

B. Material
Strength Opportunity

1. Sebanyak 90 % perawat 1. Unit stroke dapat menjadi


menyatakan bahwa alat-alat ruangan percontohan untuk
perawatan di ruangan unit penerapan MPKP.
2. Peralatan keperawatan yang
stroke sudah memadai.
2. Sebanyak 100 % perawat lengkap akan memudahkan
menyatakan peralatan di perawat dalam memberikan
ruangan unit stroke sudah pelayanan asuhan keperawatan.
3. Sebanyak 70 % perawat
lengkap untuk perawatan
menyatakan bahwa lokasi dan
pasien.
3. Sebanyak 70 % perawat denah ruangan unit stroke tidak
menyatakan jumlah alat yang baik
tersedia sudah sesuai dengan
rasio pasien di ruang unit
stroke.
4. Unit stroke merupakan satu-
satunya yang mempunyai
ruangan observasi.
5. Sebanyak 90 % perawat
menyatakan fasilitas ruangan di
unit stroke sudah lengkap untuk
perawatan pasien.

21
6. Tempat tidur dan kamar mandi
yang tedapat di ruang unit
stroke untuk pasien sudah
sesuai standar untuk
keselamatan pasien.
7. Terdapat manometer oksigen
pada setiap bed pasien.
8. Terdapat buku administrasi
penunjang yaitu : Daftar
comsumable dan alat-alat
kesehatan, Buku injeksi, lembar
observasi, lembar visite, lembar
dokumentasi, lembar asuhan
keperawatan, dan buku operan.
9. Sebanyak 100 % perawat
menyatakan semua perawat
mengerti cara menggunakan
semua alat perawatan di ruang
unit stroke.
10. Nomor-nomor barang sudah
teretera pada setiap barang.

Weakness Threatened

1. Sebanyak 60 % perawat 1. Sebelah utara terdapat rumah sakit


menyatakan tidak berencana Teja Husada yang berjarak 700-
untuk menambah peralatan 800 meter.
2. Sebelah selatan terdapat Rumah
perawatan di ruang unit stroke.
2. Sebanyak 90 % perawat Sakit Umum Kepanjen.
3. Sebelah Barat terdapat rumah
menyatakan tidak berencana
sakit Ben Mari dan Mitra Delima.
untuk merenovasi ruangan.
4. Sebelah Timur terdapat rumah
3. Untuk peralatan elektronik tidak
sakit Ramdani Husada
adanya kartu kalibrasi.
4. Berdasarkan fasilitas untuk
petugas kesehatan dari hasil
observasi didapatkan :
a. Ruang kepala ruangan jadi
satu dengan nurse statuion.
b. Kamar mandi perawat
hanya tersedia 1 kamar

22
mandi di sebelah selatan
ruang unit stroke dan di
depan IRNA D.
c. Wastafel untuk cuci tangan
tersedia satu di nurse
station.
d. Nurse station berada di
sebelah timur ruangan
pasien.

C. Methode
Strength Opportunity

 Sudah adanya penanggung jawab  Adanya mahasiswa yang praktek


PKMRS, INOS, inventerisasi, berpeluang untuk memaksimalkan
pendidikan, kebersihan lingkungan, adanya penyuluhan kesehatan.
 sudah diberlakukannya system
 Adanya mahasiswa yang praktek
operan, pre dan post conference.
membantu dalam proses
 Katim bekerja sesuai dengan
pembuatan asuhan keperawatan
tugasnya.
 Metode pemberian obat dengan 6 maupun catatan perkembangan
benar sesuai dengan semestinya.
 Sistem pendataan pasien yang
tersentral di seluruh ruangan
sehingga semua dapat mengetahui
jumlah dan nama pasien di ruangan
masing2

Weakness Threatened
 Adanya tuntutan pelayanan yang
 Kegiatan pengendalian inos belum
optimal dari konsumen
dilaksanakan secara optimal
 Sistem rotasi merupakan program
 Ronde keperawatan belum
RS, tidak berdasarkan permintaan
terlaksana dengan optimal
perawat.
 Pelaksanaan model asuhan
 perawat berpotensi melakukan
keperawatan belum berjalan
kesalahan tindakan dikarenakan
 Penyajian kasus belum dilakukan
belum terfokus dalam pelayanan
secara rutin
 Katim belum maksimal dalam ke pasien berdasarkan tim
system pengendalian asuhan
keperawatan.

23
 Perawat pelaksana belum terfokus
dalam melaksanakan system
manajemen tim
 Metode operan terlalu lama lebih
dari 1 jam.

D. Money
Strength Weakness

 Sebanyak 100% perawat  Sebanyak 100% perawat


menjawab mendapat tambahan menjawab tidak terdapat usaha
uang lembur jika bekerja koperasi ruangan di unit stroke
melebihi jam kerja  Sebanyak 90% perawat menjawab
 Sebanyak 80% perawat tidak mendapat pendapatan dari
menjawab mendapat jasa medik rumah sakit berupa LP (lauk pauk)
dari asuransi kesehatan setelah  Sebanyak 80% perawat menjawab
melakukan pelayanan tidak mendapat jasa pelayanan
 Sebanyak 60% perawat rumah sakit berupa remunerasi
menjawab Sistem administrasi  Sebanyak 40% perawat menjawab
di unit stroke sudah terpusat Jasa intensif untuk pelayanan dan
 Sebanyak 40% perawat jasa medik yang diberikan tidak
menjawab mendapat jasa dari sama untuk semua perawat
pelayanan IRNA Medis

Opportunity Threatened

 Sebanyak 90% perawat menjawab  Sebanyak 70% perawat


tidak ada alat habis pakai yang menjawab tidak ada alokasi dana
digunakan kembali untuk untuk hal yang tidak diinginkan
menghemat biaya mengenai peningkatan pelayanan
 Sebanyak 90% perawat menjawab
tidak terdapat kesempatan untuk
menambah penghasilan ruangan
dari usaha koperasi
 Sebanyak 30% perawat menjawab
Pengeluaran di tanggung oleh unit
stroke

24