Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

HIRDROLIKA I – IL2101

MODUL IV

KEHILANGAN ENERGI DALAM SISTEM PERPIPAAN

NamaPraktikan : Liska Feby Fitriani

NIM : 15715006

Kelompok/Shift : 2 / 12.30 – 13.30

Tanggal Praktikum : 28 Oktober 2016

Tanggal Pengumpulan : 14 November 2016

PJ Modul : Athaya D.Z

Asisten : Azzahra Safira S

PROGRAM STUDI REKAYASA INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2016
I. TUJUAN

1. Menentukan headloss mayor dan minor dalam sistem perpipaan.


2. Menentukan besar nilai debit aktual yang melalui sistem perpipaan.
3. Mengetahui penerapan dan aplikasi aliran dalam perpipaan pada bidang
infrastruktur lingkungan

II. PRINSIP PERCOBAAN

Head loss adalah kehilangan energi mekanik persatuan massa fluida. Sehingga
satuan head loss adalah satuan panjang yang setara dengan satu satuan energi yang
dibutuhkan untuk memindahkan satu satuan massa fluida setinggi satu satuan panjang
yang bersesuaian. Berdasarkan lokasi timbulnya kehilangan, secara umum kehilangan
tekanan akibat gesekan atau kerugian ini dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
kerugian major dan kerugian minor. Kerugian major disebut juga kehilangan energi
primer atau kehilangan energi akibat gesekan. Kerugian major biasa terjadi pada pipa
lurus berdiameter konstan. Jadi Head loss mayor dapat dinyatakan sebagai kerugian
tekanan aliran fluida berkembang penuh melalui pipa penampang konstan. Kerugian
minor disebut kehilangan energi sekunder atau kehilangan energi akibat perubahan
penampang dan aksesoris lainnya. Misalnya terjadi pada pembesaran penampang
(expansion), pengecilan penampang (contraction), dan belokan atau tikungan.

III. TEORI DASAR

Headloss adalah kerugian energi per satuan berat fluida dalam pengaliran cairan
dalam sistem perpipaan. Atau headloss dapat didefinisikan sebagai kehilangan energi
mekanik persatuan massa fluida. Sehingga satuan Head loss adalah satuan panjang
yang setara dengan satu satuan energi yang dibutuhkan untuk memindahkan satu
satuan massa fluida setinggi satu satuan panjang yang bersesuaian. Headloss terdiri
dari :

1. Mayor Headloss (mayor losses)


Major Losses adalah kerugian pada aliran dalam pipa yang disebabkan oleh
friksi yang terjadi disepanjang aliran fluida yang mengalir terhadap dinding
pipa. Besarnya major losses ditentukan oleh fungsi f (Friction factor), V (rata-
rata kecepatan fluida), l (panjang pipa), D (diameter pipa), e (nilai kekasaran
pipa), miu (viskositas fluida), rho (densitas fluida).

𝐿 𝑉2
ℎ𝑙𝑝 = 𝑓 . .
𝐷 2𝑔

hf = head loss mayor (m)


f = koefisien gesekan
L = panjang pipa (m)
D = diameter dalam pipa (m)
v = kecepatan aliran dalam pipa (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)

Untuk aliran laminer dan turbulen terdapat rumus yang berbeda. Sebagai
patokan apakah suatu aliran itu laminer atau turbulen, dipakai bilangan
Reynolds:

dengan:
Re = bilangan Reynolds
v = kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa (m/s)
D = diameter dalam pipa (m)
ʋ = viskositas kinematik cairan (m2/s)
untuk Re < 2300, aliran bersifat laminar
untuk 2300 < Re < 4000, aliran bersifat transisi
untuk Re > 4000, aliran bersifat turbulen

a. Aliran Laminer

b. Aliran Turbulen
Untuk menghitung koefisien gesek f dapat dihitung dengan menggunakan
rumus Darcy. Untuk mengetahui nilai f harus diketahui kekasaran pipa (ε) dan
diameter pipa (d). Haaland memberikan suatu formula yang menyempurnakan
persamaan yang ditemukan oleh Colebrook untuk menentukan nilai f :
Persamaan di atas oleh Moody pada tahun 1944 digrafikkan yang terkenal
dengan nama Diagram Moody untuk gesekan pipa. Dengan diagram inilah
dapat diketahui nilai koefisien gesekan pipa (Incropera dan Witt, 1985).

2. Minor Headloss (minor losses)


Merupakan kerugian head pada fitting dan valve yang terdapat sepanjang sistem
perpipaan. Dapat dicari dengan menggunakan rumus :

𝑉2
ℎ𝑙𝑓 = 𝑘 .
2𝑔

Dalam sistem perpipaan pun dikenal dengan kehilangan tekanan akibat


aksesoris pipa. Perlengkapan pipa secara umum terdiri dari sambungan (fitting)
pipa seperti penyempitan, belokan (elbow), saringan (strainer), losses pada
bagian entrance, losses pada bagian exit, pembesaran pipa (expansion),
pengecilan pipa (contraction) percabangan (T joint; V joint), percabangan (tee)
dan katup (valve). Dalam jaringan perpipaan kehilangan tekanan ini jauh lebih
kecil daripada kehilangan akibat gesekkan di dalam pipa.

a. Kehilangan Energi Akibat Kontraksi Tiba-Tiba


Kontraksi tiba-tiba dapat membuat tekanan turun karena kehilangan energi
akibat turbulensi dan meningkatnya kecepatan..
Perhitungan kehilangan energi dihitung dengan rumus dibawah

V 2 
hc  K c  2 
 2g 
Dimana kc = koefisien kontraksi yang tergantung dari d2/d1
Kerugian yang terjadi karena perubahan penampang pipa secara mendadak
(kontraksi tiba-tiba) mempunyai koefisien kerugian (KL) = hL/(V22/2g), adalah
fungsi dari rasio A2/A1. Nilai KL berubah secara gradual dari satu kondisi
ekstrim dengan sisi masuk bertepi tajam (A2/A1= 0 dengan KL = 0.50) sampai
kondisi ekstrim lainnya tanpa adanya perubahan luas (A2/A1= 1 dengan KL =
0)
b. Kehilangan Energi Akibat Ekspansi Tiba-Tiba
Skema hgl dan egl dari kehilangan energi akibat ekspansi dapat dilihat pada
gambar dibawah ini:

Gambar 1. Skema HGL dan EGL dari kehilangan energi akibat ekspansi
(Sumber: http://cereference.com/sites/default/files/book-hydraulics/behavior-of-egl-and-hgl.gif)

Gambar 2. Skema HGL dan EGL dari kehilangan energi akibat ekspansi
(Sumber: http://cereference.com/sites/default/files/book-hydraulics/behavior-of-egl-and-hgl.gif)

Termasuk dalam kehilangan energi ini adalah pipa yag dihubungkan dengan
reservoir. Kehilangan energi terjadi pada ruas a dan b dimana garis aliran
menempel di dinding akibat terpisahnya garis aliran. Energi pulih kembali pada
titik c karena aliran jet melemah pada titik tersebut
Kehilangan energi dapat dihitung:

hE 
V1  V2 
2

2g
atau
2
 A  V2
hE  1  1  1
 A2  2 g
c. Kehilangan Energi Akibat Tikungan (Belokan)

Belokan pada pipa menghasilkan kerugian head yang lebih besar dari pada jika
lurus. Kerugian-kerugian tersebut disebabkan daerah-daerah aliran yang
terpisah didekat sisi dalam belokan (khususnya jika belokan tajam) dan aliran
sekunder yang berpusar karena ketidak seimbangan gaya-gaya sentripetal akibat
kelengkungan sumbu pipa. Ada dua macam belokan pipa, yaitu belokan
lengkung atau belokan patah (mitter atau multipiece bend).
Kelokan atau lengkungan dalam pipa, senantiasa mengimbaskan atau
menginduksikan rerugi yang lebih besar dari pada rerugi gesekan Moody karena
pemisahan aliran pada dinding dan aliran sekunder yang berpusar yang timbul
dari percepatan memusat. Rerugi lubang masuk sangat tergantung pada
geometri lubang masuk itu, dimana lubang masuk lengkungan elbow yang
ditumpulkan dengan baik mempunyai rerugi yang hampir bisa diabaikan,
dengan K hanya 0,05. Efek yang tidak diharapkan ini disebabkan oleh
pemisahan aliran total dalam pembaur bersudut besar, yang akan segera terlihat
bila kita mempelajari lapisan batas.
Kehilangan energi akibat tikungan diakibatkan meningkatnya tekanan
pada bagian luar pipa dan menurun pada bagian dalam pipa. Untuk
mengembalikan tekanan dan kecepatan pada bagian dalam pipa, menyebabkan
terjadinya pemisahan aliran.
• Kehilangan energi akibat tikungan bergantung pada jari-jari tikungan (r) dan
diameter pipa (d), 2yaitu :
v
hB  k B
2g

Gambar 3. Kehilangan Energi akibat Tikungan


(Sumber: https://mekanikafluidatm.files.wordpress.com/2012/10/aliran-dalam-pipa1.jpg )

d. Kehilangan Energi Akibat Katup (Valve)

2
Kehilangan energi akibat katup dihitung dengan : hV  KV v
2g
Kehilangan tekanan yang terjadi pada sistem perpipaan atau saluran akan
menghasilkan dampak yang sama, baik oleh bagian lurus dari pipa ditambah
dengan jumlah kesetaraan panjang pipa utama dari kehilangan tekanan yang
disebabkan oleh komponen sistem perpipaan seperti klep, sambungan T,
belokan dengan berbagai besaran sudut, pembesaran dan pengecilan pipa, pintu
masuk kedalam dan keluar dari tangki.

Jenis-jenis fitting diantaranya :

a. Contraction yaitu pipa yang mengalami pengurangan cross sectional area


secara mendadak dari saluran dengan membentuk pinggiran yang tajam.
Tekanan yang melewatinya akan bertambah besar.
b. Enlargement, pipa yang mengalami penambahan cross sectional area secara
mendadak dari saluran. Tekanan yang melewatinya akan semakin kecil.
c. Long bend, belokan panjang pada pipa dengan sudut yang melingkar dan cross sectional
area yang besar sehingga tekanannya kecil
d. Short bend, belokan pipa seperti long bend tetapi lebih pendek dan cross
sectional area yang lebih kecil sehingga tekanannya lebih besar.
e. Elbow bend, merupakan belokan pada pipa yang membentuk sudut siku-siku (90o)
dengan cross sectional area yang sangat kecil sehingga akan menimbulkan
tekanan yang sangat besar. Sesuai standar yang ada di pasaran, elbow tersedia
dalam ukuran sudut 45o dan 90o dengan flanged serta ulir sesuai dengan
kebutuhan yang akan digunakan

Gambar 1. Flanged elbow 90o

Gambar 2. Threaded tee


Penggunaan (Tee) dilakukan untuk mengalirkan aliran fluida dua arah yang
berbeda dalam satu siklus tertentu yang dipasang secara parallel
f. Entrance dan Exit
Entrance seringkali timbul pada saat perpindahan dari pipa menuju suatu
reservoir. Berdasarkan jenisnya, entrance dapat dibedakan menjadi 3 macam
yaitu reestrant, square-edge, dan well rounded.

Gambar 3. Macam-macam entrance

Exit merupakan kebalikan dari entrance. Exit timbul karena adanya perpindahan
dari reservoir menuju ke suatu pipa, sama halnya denga entrance, exit dibedakan
menjadi 3 macam, diantaranya projecting, sharp edge, dan rounded.

Projecting Rounded Sharp edge

Gambar 4. Macam-macam exit


g. Pembesaran

Pembesaran (Expansion) dalam suatu perpipaan dapat dibedakan menjadi dua


macam, yaitu pembesaran mendadak atau terjadi secara tiba-tiba yang seringkali
disebut dengan sudden expansion, ataupun pembesaran / gradual expansion.

Sudden expansion Gradual expansion


Gambar 5. Macam-macam expansion

h. Pengecilan

Pengecilan (Contraction) Sama halnya dengan ekspansion, contraction juga dapat


dibedakan menjadi dua macam, yaitu sudden contraction (pengecilan secara tiba-
tiba), dan gradual contraction (pengecilan secara bertahap).

Sudden contraction Gradual contraction

Gambar 6. Macam-macam contraction


Globe Valve dan Gate Valve

Globe Valve adalah salah satu jenis dari valve yang digunakan untuk mengatur
aliran di dalam pipa, yang terdiri dari elemen berbentuk disk yang bisa
digerakkan dan ring stasioner yang tergabung di suatu benda yang berbentuk
sphere Globe Valve digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan throttling dan
operasi yang berulang-ulang. Contohnya dapat digunakan untuk mengambil
sampel, dimana normal nya tertutup kecuali ketika sampel sedang diambil.

Gambar 7. Globe valve

Gate valve salah satu jenis dari valve yang digunakan untuk membuka dan
menutup aliran (on-off). Posisi gate valve harus benar-benar terbuka atau benar-
benar tertutup agar tidak terjadi turbulensi pada aliran sehingga pengaturan
laju aliran fluida tidak dapat dilakukan pada gate valve.
Gambar 8. Gate valve

IV. DATA DAN PERHITUNGAN

Diameter pipa
Pipa besar = 26,4 mm (biru muda)
Pipa kecil = 13,7 mm (biru tua)

Jarak antar taping


1-2 (standar elbow) = 79 cm
3-4 (pipa lurus biru tua) = 88 cm
5-6 (90o sharp bend) = 81 cm
7-8 (pelebaran) = 18,5 cm
8-9 (pipa lurus biru muda) = 85 cm
9-10 (penyempitan) = 8,5 cm
11-12 (bend 4”) = 81 cm
12-13 (bend 6”) = 93 cm
13-14 (bend 8”) = 91 cm

Massa beban : 2,5 kg

Massa air : 7,5 kg (3x massa beban)

Tawal : 26oC

Takhir : 26oC
Tabel 1. Tabel Temperatur Terhadap Densitas Air
No. Temperatur (oC) Densitas Air (kg/m3)
1 20 998,23
2 30 995,62
3 40 992,24
4 50 988,07
5 60 983,24
6 70 977,81
7 80 971,83
Sumber: Sobbich, E. Nilai Baku Konvensional Densitas Air. 2008. digilib.batan.go.id (Diakses pada 9
November 2014)

1005

1000
Densitas Air (kg/m3)

995

990

985
y = -0.4422x + 1008.8
980 R² = 0.9827
975

970
0 20 40 60 80 100
Temperatur (oC)

Grafik 1. Grafik Temperatur terhdap Densitas Air

Hubungan antara temperatur dengan densitas air digambarkan pada grafik


regresi linier dengan persamaan:

y(x) = - 0,4422x + 1008,8

Jika x sama dengan 26, maka:

y(26) = - 0,4422 (26) + 1008,8

= - 11,4972 + 1008,8

= 997,3028
Jadi, densitas air pada temperatur 26oC adalah 997,3028 kg/m3.
Perpipaan Biru Tua

Tabel 2. Tabel Perpipaan Biru Tua


No. Waktu (t) Tinggi kolom air (mm)
t1 t2 t3 tr Gate Standar Pipa 90o Sharp
Valve Elbow Lurus Bend
1 54,78 50,11 52,26 52,3833 13 190 130 237,5
2 49,08 47,32 48,93 48,4433 20 197 170 325
3 45,47 43,29 44,46 44,4067 18 279 195 355

Perpipaan Biru Muda

Tabel 3. Tabel Perpipaan Biru Muda


No. Waktu (t) Tinggi kolom air (mm)
t1 t2 t3 tr Globe Bend Bend Bend 6”
Valve 2” 4”
1 54,78 50,11 52,26 52,3833 45 140 160 170
2 49,08 47,32 48,93 48,4433 44 156 177,5 195
3 45,47 43,29 44,46 44,4067 52 172 192 210

No. Waktu (t) Tinggi kolom air (mm)


t1 t2 t3 tr Pipa Pelebaran Penyempitan
Lurus Tiba-tiba Tiba-tiba
1 54,78 50,11 52,26 52,3833 8 30 137,5
2 49,08 47,32 48,93 48,4433 10 24 155
3 45,47 43,29 44,46 44,4067 10 27,5 170

Volume air = Massa air / Massa jenis air


= 7,5 kg/ 997,3028 kg/m3
= 7,52 x 10-3
No Waktu (t) Q aktual A pipa v^2 v pipa
t1 t2 t3 tr (m^3/s) (m^2) pipa (m/s)
(m/s)
1 54.78 50.11 52.26 52.383 0.00014356 0.0001473 0.97438724 0.94943
2 49.08 47.32 48.93 48.443 0.00015524 0.0001473 1.05363429 1.11015
3 45.47 43.29 44.46 44.407 0.00016935 0.0001473 1.14940812 1.32114

No Waktu (t) Headloss Headloss minor (m) S^0.54 pipa


mayor biru tua
(m)
t1 t2 t3 tr Pipa Gate Standard 90 ͦ Sharp
lurus Valve elbow bend
1 54.78 50.11 52.26 52.38 0.13 0.1638 0.073295 0.117841 0.356048
2 49.08 47.32 48.93 48.44 0.17 0.252 0.044386 0.168523 0.411549
3 45.47 43.29 44.46 44.41 0.195 0.2268 0.103943 0.175511 0.443198

Tabel 4. Tabel Hasil Perhitungan Perpipaan Biru Tua

Waktu (t) Q aktual A pipa v pipa v^2 pipa


t1 t2 t3 tr (m^3/s) (m^2) (m/s) (m/s)
54.8 50.11 52.3 52.38333 0.00014356 0.00054711 0.26240072 0.068854135
49.1 47.32 48.9 48.44333 0.00015524 0.00054711 0.2837418 0.080509411
45.5 43.29 44.5 44.40667 0.00016935 0.00054711 0.30953352 0.095811002

No Waktu Headloss Headloss minor (m) S^0.54


(s) mayor pipa biru
(m) muda
tr Pipa Globe Bend Bend Bend Pelebaran Penyempitan
lurus valve 2" 4" 6"
1 52.3833 0.008 0.567 0.1314 0.1524 0.1612 0.028 0.1367 0.080497
2 48.4433 0.01 0.554 0.1453 0.168 0.1841 0.022 0.149 0.090806
3 44.4067 0.01 0.655 0.1613 0.1825 0.1991 0.025 0.169 0.090806

Tabel 5. Tabel Hasil Perhitungan Perpipaan Biru Muda

Untuk menghitung besar nilai Headloss pada sistem perpipaan, diperlukan besar nilai
debit aktual yang terjadi pada sistem perpipaan tersebut. Nilai debit dapat dicari dengan
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
rumus: 𝑄𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 =
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 =
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑎𝑖𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟
𝑄𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 =
𝑡 𝑎𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑥 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑎𝑖𝑟
7,5𝑘𝑔
𝑄 𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 = = 0,000143 𝑚3 /𝑠
52,38 𝑥 997,3028
Nilai debit aktual untuk setiap variasi pada perpipaan biru tua dapat dilihat pada tabel
4 dan nilai debit aktual untuk setiap variasi pada perpipaan biru muda dapat dilihat pada
tabel 5.
Untuk mencari nilai kecepatan aliran pada masing masing pipa, digunakan rumus debit
aktual dibagi luas pernampang pipa. Hasil perhitungan kecepatan terdapat pada tabel 4
dan 5. Selanjutnya, Headloss mayor didapatkan dari perbedaan tinggi pada kolom air
pipa lurus pada perpipaan biru muda dan biru tua.

Perpipaan Biru Tua


Dalam perhitungan headloss minor Gate Valve, nilai perbedaan tinggi pada pipa
lurus, tidak perlu dikalikan 12,6 karena fluida yang digunakan adalah air.

Untuk menghitung headloss standard elbow digunakan rumus:


𝐿 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑒𝑙𝑏𝑜𝑤
ℎ𝐿 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑒𝑙𝑏𝑜𝑤 = ∆ℎ 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑒𝑙𝑏𝑜𝑤 − [ ] 𝑥 ∆ℎ 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑡𝑢𝑎
𝐿 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑡𝑢𝑎
Headloss standar elbow untuk variasi 1:
0,79
ℎ𝐿 𝑆𝐸 = 0,19 − [ ] 𝑥 0,13 = 0,189 𝑚
0,88

Selanjutnya, kita mencari headloss dari 90o sharp bend dengan rumus:
𝐿 90° 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑝 𝑏𝑒𝑛𝑑
ℎ𝐿 90° 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑝 𝑏𝑒𝑛𝑑 = ∆ℎ 90° 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑝 𝑏𝑒𝑛𝑑 − [ ] 𝑥 ∆ℎ 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑡𝑢𝑎
𝐿 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑡𝑢𝑎
headloss 90o sharp bend untuk variasi 1 :
0,81
ℎ𝐿 90° 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑝 𝑏𝑒𝑛𝑑 = 0,2375 − [ ] 𝑥 0,13 = 0,117 𝑚
0,88
Lalu, kita mencari slope dari perpipaan biru tua dengan menggunakan rumus:
𝐻𝑒𝑎𝑑𝑙𝑜𝑠𝑠 𝑚𝑎𝑦𝑜𝑟
𝑆= 𝐿 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑡𝑢𝑎

dan mencari nilai S0,54 dari data yang sudah didapatkan sebelumnya.
Perpipaan Biru Muda
Pada perpipaan biru muda, headloss mayor diketahui dari perbedaan ketinggian begitu
juga dengan headloss gate valve, karena fluida yang digunakannya adalah air, maka
dalam perhitungan tidak perlu dikalikan dengan 12,6.
Pada perpipaan biru muda, terdapat 5 jenis headloss minor lainnya yang perlu dicari
yaitu headloss bend 2”, 4”, 6” penyempitan tiba-tiba dan pelebaran tiba-tiba. Kelima
jenis headloss tersebut dapat dicari dengan rumus:
𝐿𝑎𝑘𝑠𝑒𝑠𝑜𝑟𝑖𝑠 𝑥 𝐷 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑚𝑢𝑑𝑎5
ℎ𝐿 = ∆ℎ𝑎𝑘𝑠𝑒𝑠𝑜𝑟𝑖𝑠 − [ ] 𝑥 ∆ℎ 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑚𝑢𝑑𝑎
𝐿 𝑝𝑖𝑝𝑎 𝑏𝑖𝑟𝑢 𝑚𝑢𝑑𝑎 𝑥 𝐷 𝑎𝑘𝑠𝑒𝑠𝑜𝑟𝑖𝑠 5
dari rumus diatas, kita dapat mencari besar nilai masing-masing headloss minor pada
perpipaan biru muda untuk 3 variasi debit yang berbeda. Hasil perhitungan headloss
dapat dilihat pada tabel 5.

VI. DATA AKHIR

Dari hasil perhitungan pada bagian diatas, didapatkan hasil masing masing headloss
baik mayor maupun minor untuk masing-masing variasi bagi pipa biru tua dan pipa
biru muda.

No Waktu (t) Q aktual A pipa v^2v pipa


t1 t2 t3
tr (m^3/s) (m^2) (m/s)
pipa
(m/s)
1 54.78 50.11 52.26 52.383 0.00014356 0.0001473 0.97438724 0.94943
2 49.08 47.32 48.93 48.443 0.00015524 0.0001473 1.05363429 1.11015
3 45.47 43.29 44.46 44.407 0.00016935 0.0001473 1.14940812 1.32114

No Waktu (t) Headloss Headloss minor (m) S^0.54


mayor pipa biru
(m) tua
t1 t2 t3 tr Pipa Gate Standard 90 ͦ Sharp
lurus Valve elbow bend
1 54.78 50.11 52.26 52.38 0.13 0.1638 0.073295 0.117841 0.356048
2 49.08 47.32 48.93 48.44 0.17 0.252 0.044386 0.168523 0.411549
3 45.47 43.29 44.46 44.41 0.195 0.2268 0.103943 0.175511 0.443198
Tabel 5. Tabel Hasil Akhir Perhitungan Perpipaan Biru Tua
Waktu (t) Q aktual A pipa v pipa v^2 pipa
t1 t2 t3 tr (m^3/s) (m^2) (m/s) (m/s)
54.8 50.11 52.3 52.38333 0.00014356 0.00054711 0.26240072 0.068854135
49.1 47.32 48.9 48.44333 0.00015524 0.00054711 0.2837418 0.080509411
45.5 43.29 44.5 44.40667 0.00016935 0.00054711 0.30953352 0.095811002

No Waktu Headloss Headloss minor (m) S^0.54


(s) mayor pipa biru
(m) muda
tr Pipa Globe Bend Bend Bend Pelebaran Penyempitan
lurus valve 2" 4" 6"
1 52.3833 0.008 0.567 0.1314 0.1524 0.1612 0.028 0.1367 0.080497
2 48.4433 0.01 0.554 0.1453 0.168 0.1841 0.022 0.149 0.090806
3 44.4067 0.01 0.655 0.1613 0.1825 0.1991 0.025 0.169 0.090806
Tabel 6. Tabel Hasil Akhir Perhitungan Perpipaan Biru Muda

VII. ANALISIS A
Percobaan ini menggunakan hydraulic bench untuk mengukur debit aktual dan
headloss yang terjadi pada sistem perpipaan biru tua dan biru muda. Sebelum
melakukan percobaan, kita diharuskan untuk mengukur suhu fluida terlebih dahulu.
Pengukuran suhu fluida sebelum percobaan bertujuan untuk menentukan massa jenis
fluida yang digunakan.
Sesudah pengukuran, tutup globe valve pada sistem dan buka gate valve.
Tujuannya yaitu agar debit yang dihasilkan masuk ke dalam sistem perpipaan kecil /
biru tua untuk secara penuh dan dapat menghasilkan beda tinggi pada setiap titik
penghitungan beda tinggi dengan tepat. Lalu nyalakan pompa hydraulic bench, atur
debit dan biarkan air mengalir dari pompa selama 2-3 menit. Tujuan pengaliran air
selama 2-3 menit ini yaitu agar udara yang terjebak dalam perpipaan dapat keluar dan
memudahkan praktikan dalam pencatatan data perbedaan tinggi. Setelah itu, tutup gate
valve dan keluarkan udara pada piezometer agar tidak mengganggu pengambilan data.
Setelah itu buka kemmbali gate valve dan keluarkan udara pada U-tube.
Tutup gate valve dan ulangi cara pengeluaran udara dengan menggunakan globe
valve. Buka penuh valve pada hydraulic bench dan gate valve, ukur debit sebanyak 3
kali perhitungan waktu agar hasil pengukuran debit mencapai keadaan yang
sebenarnya. Catat pembacaan beda tinggi piezometer dan u-tube manometer pada
setiap aksesoris pada pipa biru tua untuk menentukan nilai headloss minor yang terjadi.
Beda tinggi yang terjadi menunjukan adanya headloss atau kehilangan energi pada titik-
titik tersebut di dalam sistem perpipaan. Tutup gate valve dan buka globe valve.
Lakukan pengukuran serupa pada aksesoris pipa biru muda. Variasikan debit sebanyak
5 kali untuk memastikan data akhir memperlihatkan data kejadian aslinya.
Terdapat beberapa kesalahan yang mampu mempengaruhi hasil percobaan
seperti perbedaan tinggi awal pada alat piezometer water manometer akibat dari
tekanan lingkungan luar sehingga ketinggiannya tidak sama, masuknya udara
membentuk gelembung udara pada perpipaan sehingga mengurangi akurasi pembacaan
saat akan mencatat perbedaan muka air pada pipa. Selain itu, fluida raksa yang keluar
dari sistem perpipaan, memengaruhi keberjalanan praktikum.

Grafik Q terhadap HL gate valve


0.3 y = 1376.8x
R² = 0.3577
0.25
Hl Gate Valve (m)

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0.00014 0.000145 0.00015 0.000155 0.00016 0.000165 0.00017 0.000175
Q (m^3/s)

Grafik 2. Grafik Debit Aktual terhadap Headloss Gate valve

Grafik Q terhadap Hl Globe Valve y = 3793.8x


R² = 0.6926
0.7

0.6
HL Globe Valve (m)

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0
0.00014 0.000145 0.00015 0.000155 0.00016 0.000165 0.00017 0.000175
Q(m^3/s)

Grafik 3. Grafik Debit Aktual terhadap Headloss Globe valve


Grafik diatas merupakan hubungan antara debit aktual terhadap head loss gate valve
pada perpipaan biru tua. Dari grafik diketahui bahwa persamaan regresi linier kedua
besaran adalah y=1376,8x; y adalah nilai dari headloss gate valve, sementara x
merupakan debit aliran.
Pada grafik 3 dibawah ini, diketahui bahwa persamaan regresi linier kedua besaran
adalah y=3793,8x; y adalah headloss pada globe valve pada perpipaan biru tua dan x
adalah debit yang terjadi. Dari grafik dapat kita lihat bahwa jumlah debit yang dialirkan
berbanding lurus dengan nilai headloss yang terjadi di gate valve dan globe valve.

GRAFIK V^2 TERHADAP HL GATE VALVE


0.3 y = 0.1894x
R² = 0.3828
0.25
HL Gate Valve (m)

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4
v^2(m/s)

Grafik 4. Grafik v2 terhadap headloss gate valve

GRAFIK V^2 TERHADAP HL GLOBE


y = 7.1781x
VALVE R² = -0.145
0.8
0.7
HL pada Globe Valve (m)

0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
v^2(m/s)

Grafik 5. Grafik v2 terhadap headloss globe valve


Pada grafik 4 dan 5 dapat dilihat bahwa kuadrat kecepatan dan headloss yang terjadi
pada gate valve dan globe valve masing-masing saling mempengaruhi secara
berbanding lurus. Nilai gradient regresi pada grafik 4 adalah 0,1894 sementara pada
grafik 5 nilai gradient regresinya 7,1781, sehingga dapat dicari nilai koefisien headloss
(K) yaitu :
𝐾 = 𝑚. 2𝑔

𝐾 = 0,1894 𝑥 2 𝑥 9,81 ; untuk pipa biru tua dan 𝐾 = 7,1781 𝑥 2 𝑥 9,81; untuk biru
muda. Sehingga didapatkan nilai koefisien gate valve = 3.71 dan globe valve = 140,67.

GRAFIK V^2 TERHADAP HL PADA BEND


2" y = 1.9549x
R² = 0.9024
0.2
HL pada Bend 2" (m)

0.15

0.1

0.05

0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
V^2 (m/s)

Grafik 6. Grafik V2 (m/s) terhadap HL pada Bend 2”

GRAFIK V^2 TERHADAP HL PADA BENDy = 1.9549x


R² = 0.9024
4"
0.2
HL pada Bend 4" (m)

0.15

0.1

0.05

0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
v^2 (m/s)

Grafik 7. Grafik V2 (m/s) terhadap HL pada Bend 4”


GRAFIK V^2 TERHADAP HL PADA BEND
y = 2.2053x
6" R² = 0.6132
0.25

HL pada Bend 6" (m)


0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
v^2 (m/s)

Grafik 8. Grafik V2 (m/s) terhadap HL pada Bend 6 ”


Pada grafik 6,8,9 terlihat grafik hubungan antara kuadrat kecepatan aliran dengan
headloss masing-masing bend pada sistem perpipaan biru muda. Nilai K untuk masing-
masing bend dapat dicari dari nilai gradient yang telah tercantumkan pada gambar.
Gradien untuk pipa bend 2” adalah 1,95, gradien untuk pipa bend 4” yaitu 1,95 dan
nilai gradien untuk pipa bend 6” adalah 2,205. Nilai koefisien K untuk bend 2 dan 4
adalah 38,26 dan untuk bend 6 adalah 43,26

GRAFIK (VK-VB)^2 TERHADAP HL


PELEBARAN y = 0.0408x
0.035 R² = -2.609

0.03
0.025
HL pelebaran

0.02
0.015
0.01
0.005
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
(vk-vb)^2

Grafik 9. Grafik (vk-vb)2 (m/s) terhadap HL pada pelebaran”


Grafik (vk-vb)^2 terhadap HL penyempitan
y = 0.2503x
0.2
R² = 0.7104
0.18
0.16

HL penyempitan (m)
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
(vk-vb)^2 (m/s)

Grafik 10. Grafik (vk-vb)2 (m/s) terhadap HL pada penyempitan (m)

Terdapat hubungan antara kuadrat selisih kecepatan yang mengalir pada sistem
perpipaan dengan nilai headloss pada gate valve dan globe valve pada grafik 9 dan 10.
Persamaan regresi linier kedua besaran pada grafik 9 adalah y=0,0408x; y adalah nilai
dari headloss pelebaran tiba-tiba , sementara x merupakan kuadrat selisih kecepatan.
Pada gambar 9, dari grafik diketahui bahwa persamaan regresi linier kedua besaran
adalah y=0,2503x; y merupakan nilai headloss pelebaran tiba-tiba pada sistem
perpipaan biru muda sementara x merupakan kuadrat selisih kecepatan.

VIII. ANALISIS B
Aplikasi yang dapat diterapkan pada bidang rekayasa infrastruktur lingkungan dari
modul kehilangan energy dalam perpipaan antara lain yaitu untuk mengukur aliran air
yang mengalir pada sistem perpipaan air bersih maupun air limbah dari kawasan
pemukiman dan menghitung energi yang dapat hilang akibat adanya pergesekan antara
fluida dengan pipa. Perhitungan hilangnya energi ini bertujuan agar desain perpipaan
yang dirancang lebih akurat dan effisien sehingga kehilangan energi dapat berkurang.
Sistem yang baik akan menguntungkan tidak hanya satu pihak. Selain itu, aplikasi
modul ini dapat memudahkan untuk perancangan saluran drainase pada suatu daerah
dalam mengairkan air genangan hujan. Aplikasi modul ini juga dapat diterapkan
sebagai perhitungan daya yang dibutuhkan pompa dalam mengalirkan air dari satu
daerah ke daerah lainnya.
IX. Kesimpulan

Nilai debit aktual yang diperoleh dari percobaan ini adalah:

Variasi Debit Aktual (m3/s)

1
0.00014356
2
0.00015524
3
0.00016935
Tabel 7. Tabel Hasil Akhir Perhitungan Debit Aktual

Nilai headloss mayor dan minor pada masing-masing perpipaan terdapat pada tabel
dibawah ini:

No Waktu (t) Headloss Headloss minor (m)


mayor
(m)
t1 t2 t3 tr Pipa Gate Standard 90 ͦ Sharp
lurus Valve elbow bend
1 54.78 50.11 52.26 52.38 0.13 0.1638 0.073295 0.117841
2 49.08 47.32 48.93 48.44 0.17 0.252 0.044386 0.168523
3 45.47 43.29 44.46 44.41 0.195 0.2268 0.103943 0.175511
Tabel 8. Tabel Hasil Akhir Perhitungan Headloss pada Perpipaan Biru Tua

No Waktu Headloss Headloss minor (m)


(s) mayor
(m)
tr Pipa Globe Bend Bend Bend Pelebaran Penyempitan
lurus valve 2" 4" 6"
1 52.3833 0.008 0.567 0.1314 0.1524 0.1612 0.028 0.1367
2 48.4433 0.01 0.554 0.1453 0.168 0.1841 0.022 0.149
3 44.4067 0.01 0.655 0.1613 0.1825 0.1991 0.025 0.169
Tabel 9. Tabel Hasil Akhir Perhitungan Headloss pada Perpipaan Biru Muda

X. Daftar Pustaka
Neto, O. Rettore dkk. 2014. Method for determining friction head loss along elastic
pipes. Berlin:Springer
Steerter, Victor L. & E. Benjamin Wylie. 1999. Mekanika Fluida Edisi Delapan jilid I.
Jakarta : Penerbit Erlangga