Anda di halaman 1dari 25

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

1. Kerangka Penelitian

Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran

Pengetahuan Sikap Remaja Tentang Bahaya Merokok di Desa Sei Mencirim kec.

Sunggal Kab. Deli Serdang. Berdasarkan tinjauan teoritis maka kerangka konsep

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Pengetahuan Remaja tentang


bahaya merokok

Remaja

Sikap Remaja tentang bahaya


merokok

3.1. Skema diatas menunujukan pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya

merokok di Desa Sei Mencirim kec. Sunggal Kab. Deli Serdang.

Universitas Sumatera Utara


2.Defenisi operasional

Tabel 1. Kerangka Konsep

No Variabel Defenisi Alat Ukur Skala Hasil Ukur

. Operasional Ukur

1. Pengetahuan Pemahaman Kuesioner Ordinal 1. 9-28= Pengetahuan


responden tentang Baik
remaja
rokok, kandungan 2.10-18= Pengetahuan
tentang
rokok dan bahaya Cukup
bahaya rokok bagi 2. 1-9= Pengetahuan
kesehatan yang Kurang
merokok
didapat dari
berbagai
informasi.
2. Sikap Tanggapan atau Kuesioner Ordinal 1. 29-56= Sikap
respon, penilaian Positif
remaja
remaja terhadap 2. 1-28= Sikap
tentang
bahaya rokok. Negatif
bahaya

merokok

Universitas Sumatera Utara


BAB 4

METODE PENELITIAN

1. Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif

yang bertujuan mengidentifikasi Gambaran Pengetahuan Sikap Remaja Tentang

Bahaya Merokok di Desa Sei Mencirim kecamatan Sunggal Kabupaten Deli

Serdang.

2. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling

2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja pria usia 10-18 tahun

di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

berjumlah 265 orang pada tahun 2010, pada penelitian ini peneliti mengambil

populasi remaja Usia sekolah

2.2 Sampel Penelitian

Sampel Penelitian adalah sebagian dari keseluruhan objek yang

diteliti dan dianggap mewakili seluruh anggota kelompok populasi

(Notoatmodjo,1993) dalam Setiadi,2007). Dengan kata lain sampel adalah

elemen-elemen populasi yang di pilih berdasarkan kemampuan mewakilinya

(Setiadi,2007). Menurut Arikunto (2006), apabila subjeknya kurang dari 100,

lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian

populasi. Tetapi jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15%

atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari:

Universitas Sumatera Utara


a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana

b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini

menyangkut banyak sedikitnya data

Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian

yang resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik.

Adapun kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini :

a. Kriteria inklusi (kriteria yang layak diteliti)

Adalah karakteristik umum subjek peneliti dari suatu populasi target dan

terjangkau yang akan diteliti. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah

remaja perokok yang berusia 10-18 tahun serta bisa menulis dan

membaca, dan juga bersedia menjadi responden.

b. Kriteria ekslusi (kriteria yang tidak layak diteliti)

Adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria

inklusi dan studi karena berbagai sebab. Teori ekslusi dalam penelitian ini

Remaja perokok yang tidak bersekolah, tidak bisa membaca dan menulis,

serta yang tidak bersedia menjadi responden.

Adapun sampel penelitian ini adalah sebagian remaja usia 10-18

tahun di Desa Sei Mencirim kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Tahun 2011 yaitu sebanyak 27 orang.

Universitas Sumatera Utara


2.3 Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dengan cara cluster

sampling. Cluster sampling berarti pengelompokan berdasarkan wilayah atau

lokasi populasi. Teknik sampling yang digunakan jika objek yang akan

diteliti sangat luas. Sampling ini bisa dipakai dalam 2 situasi yaitu alasan

jarak dan biaya serta peneliti tidak mengetahui alamat dari populasi secara

pasti (Setiadi, 2007).

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal

Kabupaten Deli Serdang. Alasan peneliti memilih tempat ini karena belum pernah

ada penelitian yang dilakukan sebelumnya di Desa Sei Mencirim tersebut

mengenai Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja dengan bahaya Rokok.

Waktu Penelitian di mulai dari bulan Juni sampai Juli tahun 2011.

4. Pertimbangan Etik

Setiap peneliti yang menggunakan subjek manusia harus mengikuti aturan

etik dalam hal ini adalah adanya persetujuan. Etika yang perlu dituliskan pada

penelitian ini antara lain adalah: Informed Consent (lembar persetujuan),

anonimity (tanpa nama), confidentiality (kerahasiaan) (Setiadi, 2007).

Pertimbangan etik dalam penelitian ini bertujuan untuk melindungi hak-hak

subjektif untuk menjamin kerahasiaan identitas responden dan kemungkinan

terjadi ancaman terhadap responden. Sebelum pelaksanaan penelitian , responden

Universitas Sumatera Utara


diberikan penjelasan mengenai manfaat dan tujuan penelitian, selanjutnya

responden diminta menjadi sampel dalam penelitian ini, kemudian responden

membaca surat memahamiisi surat persetujuan terlebih dahulu sebagai kesediaan

menjadi responden. Responden mempunyai hak untuk memutuskan apakah ia

bersedia menjadi subjek atau tidak tanpa adanya sanksi apapun dan tidak

menimbulkan penderitaan bagi responden. Responden dilindungi dari semua

kemungkinan dan berbagai resiko yang timbul akibat penelitian ini merahasiakan

identitas responden, serta tidak mencampuri hal-hal yang bersifat pribadi.

5. Instrumen Penelitian

5.1 Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti menggunakan

alat pengumpul data berupa kuisioner yang disusun sendiri oleh peneliti

dengan berpedoman pada konsep tinjauan pustaka. Instrumen terdiri dari dua

bagian yaitu pertama Pengetahuan Remaja mengenai bahaya rokok,

pertanyaan untuk bagian ke dua ini sebanyak 14 pertanyaan, dengan total skor

sebanyak 28. Apabila responden menjawab “benar” di beri skor 2, responden

menjawab “salah” diberi skor 1, Skala pengukuran yang digunakan adalah

ordinal.

Berdasarkan rumus statistika menurut Sudjana (2005):

P = Rentang
Banyak Kelas

Universitas Sumatera Utara


Dimana P merupakan panjang kelas, dengan rentang (selisih nilai

tertinggi dan nilai terendah) sebesar 28 dan banyak kelas adalah 3 kelas

(Baik, cukup, kurang). Maka di dapat panjang kelas yaitu 9,3. dengan

menggunakan P = 9, maka batas interval sikap remaja sebagai berikut:

19 – 28 = Pengetahuan Baik

10 – 18 = Pengetahuan Cukup

1–9 = Pengetahuan Kurang

Bagian kedua Sikap Remaja tentang bahaya merokok terhadap responden

di gunakan skala ukur likert. Kuisioner Sikap terdiri dari 14 pertanyaan. Bila

responden menjawab “Sangat Setuju” akan mendapat skor 4, bila menjawab

“Setuju” akan mendapat skor 3, bila menjawab “Kurang Setuju” akan

mendapat skor 2, bila responden menjawab “Tidak Setuju” akan mendapat

skor 1. Skala pengukuran yang digunakan adalah ordinal. Berdasarkan rumus

statistika menurut Sudjana (2005):

P = Rentang
Banyak Kelas

Dimana P merupakan panjang kelas, dengan rentang (selisih nilai

tertinggi dan nilai terendah) sebesar 56 dan banyak kelas adalah 2 kelas

(positif dan negatif). Maka di dapat panjang kelas yaitu 28. dengan

menggunakan P = 28, maka batas interval sikap remaja sebagai berikut:

29 – 56 = Sikap Positif

1 – 28 = Sikap Negatif

Universitas Sumatera Utara


5.2 Validitas Pengukuran validitas-realibilitas

5.2.1 Validitas Instrumen Penelitian

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

kevalidan atau kesahihan suatu intrumen. Suatu intrumen yang valid atau

sahid mempunyai validitas tinggi, dan juga sebaliknya (Arikunto, 2006).

Instrumen dikatakan valid jika konten isi instrumen itu mampu mengukur

yang seharusnya diukur menurut situasi dan kondisi tertentu. Secara

sederhana dapat dikatakan bahwa instrumen dianggap valid jika instrumen itu

dapat dijadikan alat ukur. Validitas intrumen pada penelitian ini dilakukan

oleh yang ahli di Departemen keperawatan komunitas USU.

Penelitian ini menggunakan uji validitas dengan memenuhi dua hal

penting yang harus yang harus dipenuhi dalam menentukan validitas

pengukuran. Menurut Nursalam (2008), instrumen penelitian harus (1)

relevansi isi, yaitu isi instrumen harus disesuaikan dengan tujuan penelitian

(tujuan khusus) agar dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur. Pada

penelitian ini, peneliti telah berusaha menyesuaikan instrumen penelitian

dengan tujuan khusus penelitian. 2) Relevan sasaran subjek dan cara

pengukuran, yaitu Instrumen yang disusun harus dapat dipertimbangkan

kepada siapa pertanyaan-pertanyaan itu diberikan. Pada penelitian ini, peneliti

mengajukan instrumen penelitian kepada remaja-remaja yang berusia 10-18

tahun di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.

5.2.2 Realibilitas Instrumen Penelitian

Universitas Sumatera Utara


Kuesioner penelitian disusun sendiri oleh peneliti sehingga penting

dilakukan uji reliabilitas yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar

kemampuan alat ukur dapat mengukur secara konsisten sasaran yang akan

diukur. Realibilitas yang digunakan adalah reabilitas konsistensi internal

karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya pemberian instrumen hanya

sekali dengan bentuk instrumen kepada satu subjek studi dan apabila

digunakan berulang kali memberikan hasil yang sama. Dengan uji formula

Cronbach Alpha harus > 0,7 agar dianggap reliabel maka kuesioner ini layak

digunakan (Polit & Hungler, 2005).

Pengujian reliabilitas kuisioner gambaran pangetahuan dan sikap remaja

tentang bahaya rokok didesa Payagelih kecamatan sunggal Kabupaten Deli

Serdang dilakukan pada 10 orang remaja dengan kriteria responden yang

sama dan diambil dari luar sampel penelitian., hasil uji reliabilitas untuk

kuesioner gambaran pangetahuan dan sikap remaja tentang bahaya adalah

0,73 dengan demikian instrumen ini layak di gunakan.

6. Pengumpulan Data

Prosedur awal penelitian adalah dengan mengajukan permohonan izin

pelaksanaan penelitian pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara,

kemudian izin diperoleh dikirimkan kepada Kepala Desa Sei Mencirim

Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli serdang.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara peneliti langsung mendatangi

remaja yang berkumpul di balai desa, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan

Universitas Sumatera Utara


penelitian serta memberikan surat izin penelitian serta izin penelitian kepada

responden dan membagikan kuisioner untuk diisi. setelah pertemuan tersebut

peneliti menunggu hasil pengisian kuisioner sambil menjelaskan hal-hal mana

yang belum bisa dimengerti. Setelah kuisioner terisi peneliti kembali mendatangi

langsung remaja yang sedang berkumpul dan seluruh data tersebut selanjutnya

dilakukan proses analisa data.

7. Analisa Data

Setelah semua data terkumpul, dilakukan analisa data dengan memeriksa

kembali semua data satu persatu yakni nama, identitas serta data responden,

untuk pengukuran hubungan pengetahuan dan sikap remaja dengan bahaya rokok,

maka peneliti melakukan analisa melalui beberapa tahap yaitu: Editing yaitu

dilakukan pengecekan data yang telah terkumpul,bila terdapat kekurangan dalam

pengumpulan data maka akan diperbaiki dalam penelitian. Cording yaitu

memberikan kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudahkan

waktu mengadakan tabulasi dan analisa. Analisa yaitu menganalisa data yang

telah terkumpul dari hasil pengukuran pengetahuan remaja tentang bahaya rokok

dan sikap remaja tentang bahaya rokok. Peneliti menentukan persentase jawaban

dari setiap responden. Selanjutnya peneliti memasukkan data ke dalam komputer

dan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan teknik komputerisasi yang

menggunakan program statistika. Dari pengelolahan data statistik deskriptif hasil

analisa data disajian dalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk melihat

Universitas Sumatera Utara


pengetahuan remaja tentang bahaya merokok dan sikap remaja tentang bahaya

merokok di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.

Universitas Sumatera Utara


BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Pada Bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang gambaran

pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya merokok, melalui proses

pengumpulan data yang dilakukan pada tanggal 13 Oktober sampai dengan 13

Desember 2011 di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli

Serdang.

1.1 Demografi Responden

Responden pada penelitian ini adalah remaja di Desa Sei Mencirim

Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang yang berjumlah 27 responden.

adapun karakteristik responden meliputi umur, jenis kelamin dan sumber

informasi yang disajikan dalam bentuk tabel 2.

Tabel 2 Distribusi frekuensi dan persentase data demografi responden tentang


gambaran pengetahuan dan sikap remaja tenatng bahaya merokok di
Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang
(N=27).

No Data Demografi Frekuensi %


1 Umur
10 – 13 2 7,4
14 – 16 16 59,3
17 – 19 9 33,3
2 Jenis Kelamin
Laki-laki 24 88,9
Perempuan 3 11,1
3 Pendidikan
SD 2 7,4
SMP 15 55,6

Universitas Sumatera Utara


SMA/SMK 10 37

4 Sumber Informasi
Media Elektronik 47 15 55,6
Media Cetak 8 29,6
Petugas Kesehatan 2 7,4
Orang lain 2 7,4

Hasil penelitian menunjukkan bahwa data demografi responden sebagian

besar berada pada rentang umur 14 – 16 tahun (remaja tengah) sebanyak 16

orang (59,3%), sebagian besar remaja berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar

23 orang (85,2%), sebagian besar remaja memperoleh informasi tentang

bahaya merokok dari media elektronik sebanyak 15 orang (55,6%) dan

sebagian besar remaja memiliki berpendidikan SMP yaitu sebanyak 15 orang

(55,6%).

1.2 Gambaran pengetahuan remaja tentang bahaya rokok di Desa Sei

Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap gambaran

pengetahuan remaja tentang bahaya merokok di Desa Sei Mencirim Kecamatan

Sunggal Kabupaten Deli Serdang adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Distribusi frekuensi dan persentase gambaran pengetahuan dan sikap


remaja tentang bahaya rokok berdasarkan pernyataan pengetahuan.
Jawaban Responden
No. Pernyataan Benar Salah
f % F %
1 Merokok dapat menyebabkan radang ringan 17 63 10 37
hingga penumpukan lendir pada di
tenggorokkan.
2 Merokok merupakan penyebab utama terjadinya 15 55,6 12 44

Universitas Sumatera Utara


penyakit obstruksi (penyumbatan) paru menahun
3 Merokok merupakan penyebab utama terjadinya 5 18,5 22 81
penyakit asma.
4 Kandungan yang terdapat dalam rokok dapat 21 77,8 6 22
mengganggu kesehatan
5 Rokok memberikan efek ketergantungan karena 17 63,0 10 37
didalam rokok terdapat nikotin
6 Merokok dapat menyebabkan peningkatan 11 40,7 16 59
tekanan darah dan denyut jantung
7 Merokok dapat mengganggu kesehatan orang 16 59,3 11 41
disekitarnya.
8 Mereka yang merupakan seorang perokok akan 4 14,8 23 85
melahirkan bayi-bayi dengan berat badan rendah
9 Mereka yang merupakan seorang perokok akan 14 51,9 13 48
merasa cepat lelah ketika melakukan aktivitas
fisik seperti olah raga.
10 Kemauan untuk berhenti merokok dapat 9 33,3 18 67
diwujudkan pada diri sendiri untuk berhenti
merokok dan mencari pengganti yang lebih
positif dari pada rokok
11 Lingkungan dan pergaulan dapat mempengaruhi 13 48,1 14 51,9
perilaku merokok
12 Asap rokok penyebab utama penyakit kangker 16 59,3 11 40,7
paru
13 Tembakau yang terkandung pada rokok dapat 6 22,2 21 77.8
maningkatkan asam lambung
14 Seorang perokok akan mengalami hipertensi dan 5 18,5 22 81.5
peningkatan kadar lemak

Berdasarkan hasil penelitian gambaran pengetahuan remaja tentang

bahaya rokok di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli

Serdang didapatkan 7 pernyataan dimana responden menjawab “salah” lebih

dari 50% yaitu pada pernyataan nomor 3, 6, 8, 10, 11, 13 dan 14. Pada

pernyataan nomor 3 sebanyak 22 responden (81%) yang menjawab “salah” dan

hanya 5 responden (18,5) yang menjawab dengan “benar”, untuk pernyataan

nomor 6 sebanyak 16 responden (59%) menjawab “salah” dan hanya 11(40,7)

Universitas Sumatera Utara


responden menjawab dengan “benar”, untuk pernyataan nomor 8 sebanyak 23

responden (85%) menjawab “salah” dan 4 responden (14,8%) menjawab

dengan “benar”, untuk pernyataan nomor 10 sebanyak 18 responden (67%)

menjawab “salah” dan hanya 10 responden (33,3%) menjawab dengan “benar”,

untuk pernyataan nomor 11 sebanyak 14 responden (51,9%) menjawab “salah”

dan 13 responden (48,1%) menjawab dengan “benar”, pada pernyataan nomor

13 sebanyak 21 responden (77,8%) menjawab “salah” dan 6 responden

(22,2%) menjawab dengan “benar”, dan pada pernyataan pada nomor 14

sebanyak 22 responden (81,5%) menjawab dengan “salah” dan hanya 5

responden (18,5%) yang menjawab “benar”.

Tabel 4. Distribusi frekuensi dan persentase gambaran pengetahuan remaja


tentang bahaya rokok berdasarkan kuesioner pernyataan pengetahuan
(N=27).

Pengetahuan Responden Frekuensi Persentase


Baik 20 74
Cukup 7 26
Kurang 0 0

Pada tabel 4 dapat dilihat hasil penelitian gambaran pengetahuan remaja

tentang bahaya rokok didapatkan bahwa 20 (74%) responden memiliki

pengetahuan yang baik tentang bahaya merokok, 7 (26%) responden memiliki

pengetahuan yang cukup tentang bahaya merokok, sedangkan 0% responden

atau tidak ada responden yang memiliki pengetahuan kurang tentang bahaya

merokok.

Universitas Sumatera Utara


5.1.3 Gambaran sikap remaja tentang bahaya rokok di Desa Sei Mencirim

Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap gambaran sikap

remaja tentang bahaya merokok di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal

Kabupaten Deli Serdang adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Distribusi frekuensi dan persentase gambaran pengetahuan dan sikap


remaja tentang bahaya rokok berdasarkan pernyataan sikap.
Jawaban Responden
Sangat Kurang Tidak
No Pernyataan Setuju
Setuju Setuju Setuju
f % f % f % f %
1 Menurut anda bahaya merokok 4 15 12 44 5 19 6 22
terhadap remaja yang terutama
adalah fisiknya
2 Menurut anda rokok pada dasarnya 4 15 14 52 3 11 6 22
merupakan pabrik bahan kimia
berbahaya
3 Menurut anda nikotin yang 2 7,4 16 56 6 22 3 11
menyebabkan ketergantungan.
4 Menurut anda efek merokok tidak 0 0 0 0 7 26 20 74
hanya mempengaruhi kesehatan
perokok saja, tetapi juga
mempengaruhi kesehatan orang
sekitarnya yang tidak merokok
5 Menurut anda merokok dapat 2 7,41 13 48,1 8 29,6 4 14,8
meningkatkan risiko dua kali lebih
besar untuk mengalami serangan
jantung.
6 Menurut anda merokok dapat 1 3,7 15 56 8 30 3 11
meningkatkan risiko dua kali lebih
besar untuk mengalami stroke
7 Menurut anda merokok dapat 2 7,4 12 44 11 41 2 7,4
meningkatkan risiko mengalami
serangan jantung dua kali lebih

Universitas Sumatera Utara


besar pada mereka yang mengalami
tekanan darah tinggi atau kadar
kolesterol tinggi.
8 Menurut anda merokok dapat 0 0 6 22 19 70 2 7,4
meningkatkan risiko 10 kali lebih
besar untuk mengalami serangan
jantung bagi wanita pengsguna pil
KB
9 Menurut anda merokok dapat 1 3,7 13 48 7 26 6 22
meningkatkan risiko lima kali lebih
besar menderita kerusakan jaringan
anggota yang rentan
10 Menurut anda merokok dapat 3 11 20 74 2 7,4 2 7,4
berbahaya terhadap kerusakan paru-
paru
11 Menurut anda merokok terdapat 2 7,41 11 40,7 8 29,6 6 22,2
kadar nikotin, karbon monoksida,
serta zat-zat lain yang lebih tinggi
dalam darah mereka akan
memperparah penyakit yang sedang
diderita
12 Menurut anda anak-anak yang 0 0 0 0 8 29,6 19 70,4
orang tuannya merokok akan
mengalami batuk, pilek, dan radang
tenggorokan
13 Menurut anda, wanita hamil yang 1 3,7 12 44,4 9 33,3 5 18,5
merokok beresiko mendapatkan
bayi mereka lahir kurus, cacat, dan
kematian.
14 Jika suami perokok, maka asap 0 0 0 0 11 40,7 16 59,3
rokok yang dihirup oleh istrinya
akan mempengaruhi bayi dalam
kandungan

Berdasarkan hasil penelitan gambaran sikap remaja tentang bahaya

rokok di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

didapatkan sebanyak 5 pernyataan dimana lebih dari 50% responden yang

merasa “tidak setuju” dengan pernyataan tersebut yaitu pada pernyataan nomor

4, 12 dan 14. pada pernyataan nomor 4 sebanyak 20 responden (74 %) yang

Universitas Sumatera Utara


“tidak setuju” dan tidak ada satupun responden yang “sangat setuju” dengan

pernyataan tersebut. Pada pernyataan nomor 12 sebanyak 19 responden

(70,4%) yang merasa “tidak setuju” dan tidak ada responden pun yang “sangat

setuju” dengan pernyataan tersebut. Sedangkan pada pernyataan nomor 14

sebanyak 16 responden (59,3%) yang merasa tidak “sangat setuju” dengan

pernyataan tersebut dan tidak ada satupun responden yang merasa “sangat

setuju” dengan pernyataan tersebut.

Tabel 6. Distribusi frekuensi dan persentase gambaran sikap remaja tentang


bahaya rokok berdasarkan kuesioner pernyataan sikap (N=27).

Sikap Responden Frekuensi Persentase


Positif 18 67
Negatif 9 33

Pada tabel 6 dapat dilihat hasil penelitian gambaran sikap remaja tentang

bahaya merokok didapatkan 18 (67%) responden memiliki sikap positif

terhadap bahaya merokok sedangkan hanya 9 (33%) responden yang memiliki

sikap negatif terhadap bahaya merokok.

2. Pembahasan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, pembahasan dilakukan untuk

memenuhi tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan

remaja tentang bahaya merokok Di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal

Kabupaten Deli Serdang tahun 2011.

2.1 Demografi Responden

Universitas Sumatera Utara


Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 14-

16 tahun yaitu sebanyak 16 (59,3) dan 9 (33,3%) responden berusia 17-19

tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Natalia dan

Kadhita (2004) yang menyatakan bahwa perokok aktif di Indonesia yang

sekitar 13,2% nya adalah remaja yang berusia 15-19 tahun. Soetjiningsih

(2010) mengatakan bahwa masalah perilaku yang terjadi pada masa remaja

yaitu seperti merokok, perilaku seksual yang menyimpang, infeksi menular

seksual, penyalahgunaan obat dan bunuh diri. Namun penelitian ini

bertentangan dengan pendapat Aditama (2011) yang mengatakan bahwa

mayoritas remaja yang berusia 15-19 tahun telah menjadi perokok.

Mayoritas responden merupakan lelaki yaitu sebanyak 24 (88,9%)

responden dan minoritas responden merupakan perempuan yaitu sebanyak 3

(11,1%) . Sebuah penelitian di Amerika Serikat mendapatkan bahwa pada

semua etnis kecuali orang Amerika keturunan Afrika, angka kejadian merokok

pada remaja lebih tinggi dari angka kejadian merokok pada dewasa. Remaja

wanita perokok jumlahnya lebih kecil dari remaja laki-laki perokok

(Soetjiningsih, 2010).

Mayoritas responden yang merupakan perokok berpendidikan SMP

yaitu sebanyak 15 responden (88,9%) dan hanya 2 (7,4%) responden yang

berpendidikan SD. Mardiya (2011) mengatakan bahwa secara garis besar

faktor-faktor yang menyebabkan remaja merokok diantaranya seperti kurang

mampu mengatasi stress, putus sekolah, sosial ekonomi rendah, tingkat

Universitas Sumatera Utara


pendidikan orang tua yang rendah serta tahun-tahun transisi antara sekolah

dasar dan sekolah menengah (usia 11-16 tahun).

Mayoritas responden memperoleh informasi dari media elektronik yaitu

sebanyak 15 (55,6) responden dan minoritas responden memperoleh informasi

dari petugas kesehatan dan orang lain yaitu sebanyak 2 (7,4%). Sesuai dengan

pendapat Soetjiningsih (2010), Reklame tembakau diperkirakan mempunyai

pengaruh lebih kuat dari pada pengaruh orang tua atau teman sebaya, mungkin

karena mempengaruhi persepsi remaja terhadap penampilan dan bahaya

merokok. Mu’tadin (2002) mengatakan melihat iklan di media massa dan

elektonik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang

kejantanan atau glaumor, membuat remaja sering kali terpicu untuk mengikuti

perilaku seperti yang ada di dalam iklan tersebut. Namun informasi juga dapat

mempengaruhi sikap remaja terhadap bahaya merokok. Sesuai pendapat

Aditama (2011) yang mengatakan bahwa dengan makin luasnya informasi

tentang pengaruh buruk merokok bagi kesehatan, maka tidak sedikit orang

yang berusaha berhenti merokok.

2.2 Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Merokok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki

pengetahuan baik sebanyak 74% dan minoritas responden memiliki

pengetahuan yang cukup yaitu sebanyak 26% responden. Hal ini sesuai dengan

teori yang menyatakan bahwa kebiasaan merokok pada remaja dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain karena masa perkembangan anak

Universitas Sumatera Utara


yang mencari identitas diri dan selalu ingin mencoba hal yang baru yang ada di

lingkunggannya (Depkes, 2010).

Pemerintah melalui Departemen kesehatan, Dinas Kesehatan , rumah

sakit, puskesmas dan sarana kesehatan lainnya telah berupaya melakukan

promosi kesehatan. Demikian juga yang dilakukan oleh pihak swasta, antara

lain larangan merokok ditempat-tempat umum (Depkes, 2010). Oleh sebab itu

pendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula.

Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dipendidikan formal, akan

tetapi juga diperoleh pada pendidikan non formal (Notoatmodjo, 2007).

Responden yang berpengetahuan cukup sebanyak 26%. Hal ini

dikarenakan pengetahuan responden hanya berada pada tingkat tahu, hal ini

sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa pengetahuan

dibagi menjadi 6 tingkatan yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis

dan evaluasi. Dimana tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling

rendah , yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Remaja merokok bukan karena remaja tidak tahu tentang bahaya

merokok. Namun banyak remaja yang telah tahu bahaya merokok namun tetap

tidak berhenti untuk merokok. Kebiasaan remaja yang sulit dihindari ialah

merokok, karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Kebiasaan merokok pada

remaja dapat dipengaruhi oleh bayak faktor,antara lain karena selalu ingin

mencoba hal baru yang ada dilingkunganya (Aryani, 2010).

Universitas Sumatera Utara


Pada dasarnya remaja mengetahui tentang bahaya merokok terhadap

kesehatan dan remaja memiliki keinginan untuk berhenti merokok. Hanya saja,

di pihak lain disadari bahwa sering kali tidak mudah bagi seorang perokok

apalagi rokok berat untuk dapat menghentikan kebiasaannya ini (Aditama,

2011).

2.3 Sikap Remaja Tentang Bahaya Merokok

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas respoden yang

bersikap positif sebanyak 18 responden (67%), hal ini menunjukkan bahwa

banyak responden telah memiliki sikap yang cukup baik tentang bahaya

merokok, mulai dari efek dari rokok itu sendiri seperti, serangan jantung,

kerusakan paru-paru dan pada remaja dapat mengakibatkan kerusakan fisik.

Hal ini sesuai dengan pendapat Soamole (2004) yang menyatakan bahwa sikap

remaja terhadap rokok tidak begitu saja muncul pada para remaja, mungkin

sikap yang dimiliki oleh para remaja itu disebabkan oleh hasil evaluasi

terhadap orang yang merokok yang akhirnya membentuk sebuah pengalaman

baru yang mewarnai perasaannya yang akhirnya ikut menentukan

kecenderungan berperilaku bahwa remaja itu akan ikut merokok atau

menghindari dari aktivitas merokok.

Penelitian ini juga menunjukkan sikap remaja tentang bahaya rokok

yang memiliki sikap negatif sebanyak 9 responden (33%), hal ini menunjukkan

bahwa sikap responden masih kurang seperti didapatkan pada 5 pernyataan

dimana lebih dari (50%) responden merasa “tidak setuju”. Pernyataan ini juga

Universitas Sumatera Utara


didukung oleh penelitian yang di lakukan oleh Cristinawaty (2009), Faktor-

faktor yang mempengaruhi remaja merokok bukan hanya sikap saja, tetapi

banyak faktor lain, selain disebabkan faktor-faktor dalam diri juga disebabkan

oleh lingkungan dimana pada remaja mulai mengalami krisis aspek psikososial

yang masa perkembangannya yaitu masa sedang mencari jati dirinya.

Sikap turut mempengaruhi kebiasaan merokok pada remaja, namun

selain sikap remaja, faktor lain juga mempengaruhi yang mana remaja adalah

masa peralihan antara anak-anak dan dewasa sehingga sering kali dikatakan

masa perkembangan yang sedang mencari jati diri. Dari hasil pemikirannya,

jika remaja mengganggap dirinya sudah dewasa yang pantas untuk merokok,

maka remaja tersebut tidak merokok.

Banyak remaja yang mengetahui bahaya merokok namun tidak

mengubah sikap remaja terhadap rokok dan bukan membuat remaja

meninggalkan kebiasaan merokok tersebut. Banyak remaja yang menggunakan

rokok untuk mengurangai perasaan negatif, misalnya bila hal ia marah, cemas,

atau gelisah. Rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan

rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang

lebih tidak enak (Aryani, 2010).

Universitas Sumatera Utara


BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan dan sikap

remaja tentang bahaya merokok Di desa Sei Mencirim Kecamatan sunggal

Kabupaten Deli Serdang 2011 dapat disimpulkan bahwa:

1.1 Remaja yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 20

responden (74%), yang memiliki pengetahuan yang cukup yaitu

sebanyak 7 responden (26%) dan dari 27 renponden tidak ada yang

memiliki pengetahuan yang kurang. Sehingga dapat disimpilkan bahwa

mayoritas remaja di Desa Sei Mencirim memiliki pengetahuan yang baik.

1.2 Remaja yang memiliki sikap yang positif yaitu sebayak 18 reaponden

(67%), yang memiliki sikap yang negatif sebanyak 9 responden (33%)

dan dari 27 responden memiliki sikap positif. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa mayoritas remaja di Desa Sei Mencirim memiliki

sikap yang positif.

2. Saran

Setelah dilakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan dan sikap

remaja tentang bahaya merokok Di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal

Kabupaten Deli serdang 2011 dapat disimpulkan bahwa:

2.1 Bagi Desa

Universitas Sumatera Utara


Sebagai bahan masukkan dan informasi kepada warga desa dalam

mengetahui kondisi remaja yang merokok didesa tersebut yang memiliki

Pengetahuan dan sikap remaja tentang gambaran yang baik dan positif

terhadap bahaya merokok di Desa Sei Mencirim Kecamatan Sunggal

Kabupaten Deli Serdang sehingga diharapkan kepada tempat penelitian

untuk mendukung remaja menghentikan kebiasaan merokok seperti

meningkatkan himbauan dilarang merokok dan meningkatkan

pengawasan terhadap remaja tersebut.

2.2 Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti faktor-

faktor yang dapat mempengaruhi remaja untuk merokok dengan

menggunakan metode destributif Korelasi dan responden yang lebih

banyak.

2.4 Bagi Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan khususnya yang bekerja di pelayanan

masyarakat harus tetap efektif dan aktif dalam memberikan penyuluhan

dan pendidikan kesehatan untuk mempertahankan pengetahuan dan sikap

remaja tentang bahaya merokok.

Universitas Sumatera Utara