Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Pemerintah telah menempuh berbagai cara untuk meningkatkan kemajuan
dalam bidang lalu lintas yang dampak positifnya dapat kita rasakan sekarang
ini, namun di sisi lain kemajuan dibidang lalu lintas juga mempunyai dampak
negatif seperti kecelakaan lalu lintas, akibat dari kecelakaan lalu lintas sangat
banyak diantaranya adalah fraktur, baik itu fraktur tertutup (closed fracture)
maupun fraktur terbuka (open fracture).

Menurut World Health Organization (WHO), kasus fraktur terjadi di dunia


kurang lebih 13 juta orang pada tahun 2008, dengan angka prevalensi sebesar
2,7%. Sementara pada tahun 2009 terdapat kurang lebih 18 juta orang
mengalami fraktur dengan angka prevalensi 4,2%. Tahun 2010 meningkat
menjadi 21 juta orang dengan angka prevalensi sebesar 3,5%. Terjadinya
fraktur tersebut termasuk didalamnya insiden kecelakaan, cedera olahraga,
bencana kebakaran, bencana alam dan lain sebagainya (Mardiono, 2010).

Riset Kesehatan Dasar 2011 menemukan ada sebanyak 45.987 peristiwa


terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8 %). Kasus
kecelakaan lalu lintas sebanyak 20.829 kasus, dan yang mengalami fraktur
sebanyak 1.770 orang (8,5 %), dari 14.127 trauma benda tajam/tumpul, yang
mengalami fraktur sebanyak 236 orang (1,7 %) (Nurcahiriah, 2014). Dan juga
hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, tercatat sebanyak 4.888 jiwa (5,8%)
mengalami fraktur (BPPK, 2013 dalam Prasetyo, 2014).

Berdasarkan laporan data di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit


Umun Daerah Ulin Banjarmasin angka kejadia fraktur dalam 3 tahun terakhir
mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2015 berjumlah 433 kasus, tahun
2016 berjumlah 455 kasus, tahun 2017 berjumlah 492 dan pada tahun 2018

1
2

dari bulan Januari-Mei berjumlah 183 kasus (Rekam Medik IGD Ulin
Banjarmasin, 2018).

Dampak yang timbul pada pasien dengan fraktur yaitu dapat mengalami
perubahan pada bagian tubuh yang terkena cedera salah satu nya adalah nyeri.
Rasa nyeri merupakan stressor yang dapat menimbulkan stress dan ketegangan
dimana individu dapat berespon secara biologis dan perilaku yang
menimbulkan respon fisik dan psikis. Respon fisik meliputi perubahan
keadaan umum, wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu badan, sikap badan, dan
apabila nafas makin berat dapat menyebabkan kolaps kardiovaskular dan
syok, sedangkan respon psikis akibat nyeri dapat merangsang respon stress
yang dapat mengurangi sistem imun dalam peradangan, serta menghambat
penyembuhan respon yang lebih parah akan mengarah pada ancaman merusak
diri sendiri (Corwin, 2009). Menurut penelitian Mandagi (2017) menunjukkan
terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, pekerjaan dan faktor yang
mempengaruhi nyeri dengan tingkat nyeri pada pasien fraktur di Ruang Bedah
Rumah Sakit Umum GMIM Bethesda Tomohon.

Berkaitan dengan penangaanan nyeri, dikenal suatu teori yang disebut the gate
control theory. Teori ini menyebutkan bahwa infuls nyeri dapat diatur atau
bahkan dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat,
infuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat
saat pertahanan ditutup, upaya penutupan pertahanan tersebut merupakan
dasar menghilangkan nyeri. Nyeri dalam penanganannya dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu dengan tindakan farmakologi melalui pemberian obat
anti nyeri atau analgetik, dan tindakan farmakologi atau keduanya. Salah satu
diantara penanganan nyeri non farmakologi dan dalam mengatasi nyeri adalah
dengan slow deep breathing. Slow deep breathing merupakan tindakan yang
disadari untuk mengatur pernapasan secara dalam dan lambat.
3

Dari hasil studi pendahuluan pada bulan Juli 2018 tentang penatalaksanaan
sebelum dan sesudah dilakukan slow deep breathing 3 dari 5 orang pasien
yang mengalami nyeri fraktur mengatakan nyeri berkurang hal itu dikarenakan
pada saat slow deep breathing akan menimbulkan perasaan rileks (perasaan
nyaman dan tenang) pada kondisi ini otak memproduksi hormon serotonin dan
endorphin yang menyebabkan intensitas nyeri berkurang. Namun dalam
pelaksanaannya slow deep breathing ini jarang bahkan tidak pernah
dilaksanakan, padahal menurut Tarwoto (2011) terapi analgetik yang
dikombinasi dengan teknik latihan slow deep breathing lebih efektif
menurunkan nyeri kepala akut pada pasien cedera kepala ringan dibandingkan
dengan hanya menggunakan terapi analgetik saja. Pada saat observasi juga
didapatkan data bahwa pada saat pasien datang di IGD RSUD Ulin
Banjarmasin langsung diberikan terapi analgetik yang di observasi selama 20-
30 menit. Pasien keluar dari ruangan IGD rata-rata memerlukan waktu sekitar
6 jam bahkan lebih, melihat dari waktu yang tersedia selama pasien menunggu
maka tindakan slow deep breathing sangat baik maupun memungkinkan
dilaksanakan di RSUD Ulin Banjarmasin.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian


tentang pengaruh slow deep breathing terhadap intensitas nyeri pada pasien
Fraktur di IGD RSUD Ulin Banjarmasin karena nyeri sangat berdampak buruk
pada pasien fraktur bahkan bisa menyebabkan syok dan penelitian ini sangat
mudah dan belum dilakukan penelitian sebelumnya untuk penanganan pada
nyeri khususnya pada fraktur.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka perumus masalah
dalam penelitian ini adalah adakah pengaruh slow deep breathing
terhadap intensitas nyeri pada pasien fraktur di IGD RSUD Ulin
Banjarmasin?.
4

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui pengaruh slow deep breathing terhadap intensitas
nyeri pada pasien fraktur di IGD RSUD Ulin Banjarmasin.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi intensitas nyeri sebelum dan sesudah diberikan
tindakan slow deep breathing pada kelompok intervensi.
1.3.2.2 Mengidentifikasi intensitas nyeri sebelum dan sesudah tanpa
diberikan tindakan slow deep breathing pada kelompok kontrol.
1.3.2.3 Menganalisis pengaruh intensitas nyeri sebelum dan sesudah
diberikan tindakan slow deep breathing pada kelompok
intervensi dan kontrol.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian diharapkan dapat memberi manfaat bagi RSUD Ulin
Banjarmasin dalam menetapkan kebijakan-kebijakan untuk klien
dengan diagnosa medis fraktur dan meningkatkan pelayanan kesehatan,
khususnya dalam menangani klien dengan nyeri pada fraktur, serta
dapat membentuk citra Rumah Sakit di masyarakat karena pasien
merasa diperhatikan dan kebutuhan rasa aman dan nyaman terpenuhi
sehingga pada akhirnya pasien merasa puas.
1.4.2 Bagi Penulis
Menambah wawasan ilmu pengetahuan, pengalaman dan
perkembangan pribadi terutama dari segi ilmiah untuk menerapkan ilmu
yang diperoleh.
1.4.3 Bagi Institusi pendidikan
Menjadi bahan referensi bagi perpustakaan dan dapat menjadi bahan
masukan mengenai slow deep breathing untuk menurunkan nyeri serta
dapat digunakan sebagai bahan masukan penelitian selanjutnya.
5

1.4.4 Bagi masyarakat


Dapat memberikan informasi kepada masyarakat atas manfaat dari
tindakan slow deep breathing untuk mengurangi nyeri pada fraktur.