Anda di halaman 1dari 31

8

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pendidikan Sekolah

1. Pengertian Pendidikan Sekolah

Jika kita bertanya, apakah dan kapankah pendidikan itu mulai ada

maka sebenarnya kita dapat menjawab secara tegas, bahwa pendidikan itu

mulai ada sejak adanya makhluk manusia yang pertama. Kata “pendidikan

sekolah” merupakan kata majemuk, jika dipisah, menjadi kata pendidikan dan

sekolah. Pendidikan menurut kamus berarti “proses pengubahan sikap dan tata

laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia

melalui upaya peng-ajaran dan latihan; proses, perbuatan, cara mendidik” 1

Sedangkan sekolah berarti “bangunan atau lembaga untuk belajar dan

mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran” 2

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud

pendidikan sekolah adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang

atau kelompok orang untuk mendewasakan manusia dengan pengajaran yang

dilakukan pada suatu lembaga pendidikan dan berperan untuk pembelajaran

serta pengajaran. Selain itu pendidikan juga mengandung “ajaran-ajaran

1
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Perdekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), h. 10.
2
Wikepedia Bahasa Indonesia, (On Line), http.www.geoogle.com (28 Mei 2009)
9

tentang nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang ideal, yang bersumber

dari Al-qur’an dan As Sunah”3.

Satu hal yang penjelasan pengertiannya perlu dipertegas adalah

tentang pengertian pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas

muatan pendidikan dalam suatu proses kegiatan belajar mengajar.


a.
Menurut Amir Daien Indrakusuma:

Pendidikan adalah “suatu usaha yang sadar yang teratur dan


sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tang-gung
jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat
sesuai dengan cita-cita pendidikan”4
b.
Menurut Soegarda Poerbacaraka:

Pendidikan adalah “Segala usaha dan perbuatan dari generasi tua


untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya
serta keterampilannya kepada generasi untuk melakukan fungsi
hidupnya dalam pergaulan bersama sebaik-baiknya”5
c.
Menurut Dr. Zakiah Drajat:

Pendidikan adalah membantu anak didik didalam


perkembangannya dari daya-dayanya dan didalam penetapan nilai-
nilai.6

Berdasar penjelasan di atas dapat dikemukakan pengertian pendidikan

sekolah adalah usaha yang diselenggarakan secara sengaja untuk pencapaian

tujuan pendidikan pada suatu lembaga pendidikan melalui kegiatan belajar

mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan.

3
Tim Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, Dasar-Dasar Kependidikan Islam,
(Surabaya: Karya Aditama, 1996) h. 1.
4
Amir Daien Indrakusuma, Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 27.
5
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta Selatan: Gaya Media Pratama, 2005) h. 11.
6
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 34.
10

Secara berjenjang artinya ”tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang

ditetapkan bedasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan

bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran”.7 Jenjang

pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar (SD), Pendidikan Menengah,

Perguruan Tinggi (PT). Adapun yang dimaksud berkesinambungan adalah

bahwa proses belajar mengajar pada masing-masing jenjang mengikuti asas

berkesinambungan dari strata satu ke strata dua, dari yang rendah ke tingkat

yang lebih tinggi dari dasar ke tingkat menengah dan perguruan tinggi serta

berlangsung seumur hidup.

Tugas sekolah sangat penting dalam menyiapkan anak-anak untuk

kehidupan masyarakat, sekolah bukan semata-mata sebagai konsumen, tetapi

juga ia sebagai produsen dan pemberi jasa yang sangat erat hubungannya

dengan pembangunan, pembangunan tidak mungkin berhasil tanpa didukung

oleh tersediannya tenaga kerja yang memadai sebagai produk pendidikan.

Dalam hal ini jenis pendidikan dapat dibedakan menjadi dua bagian :

a. Pendidikan Sekolah (formal)

Pendidikan sekolah adalah jenis pendidikan yang berjenjang, berstruktur

dan berkesinambungan, sampai dengan pendidikan tinggi. Jenis

pendidikan sekolah mencakup pendidikan umum, pendidikan kejuruan,

pendidikan kedinasan, pendidikan keaamaan, dan pendidikan Angkatan

Bersenjata Republik Indonesia. Pendidikan umum mempersiapkan peserta

didik menguasai kemampuan dasar untuk melanjutkan pendidikan atau

7
Suharsimi Arikunto, Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h. 22.
11

memasuki lapangan kerja dan sekaligus memberikan bekal untuk

melanjutkan pendidikannya ke pendidikan kejuruan yang lebih tinggi.

Pendidikan keagamaan meningkatkan kemampuan peserta didik agar

dapat menjalankan tugas keagamaan. Pendidikan Angkatan Bersenjata

Republik Indonesia mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan

peserta didik dalam menjalankan tugasnya.


b.
Pendidikan Luar Sekolah (informal)

Pendidikan luar sekolah adalah jenis pendidikan yang tidak selalu terikat

oleh jenjang dan struktur persekolahan tetapi dapat berkesinambungan.

Pendidikan luar sekolah menyediakan program pendidikan yang

memungkinkan terjadinya perkembangan peserta didik dalam bidang

sosial, keagamaan, budaya, ketrampilan, dan keahlian. Dengan pendidikan

ini setiap warga negara dapat memperluas wawasan pemikiran dan

peningkatan kualitas pribadinya dengan menerapkan landasan belajar

seumur hidup. Pendidikan luar sekolah dapat dibedakan menjadi

pendidikan ketrampilan, pendidikan perluasan wawasan, dan pendidikan

keluarga. Pendidikan ketrampilan mempersiapkan peserta didik untuk

memiliki kemampuan melaksanakan suatu jenis pekerjaan tertentu.

Pendidikan perluasan wawasan memungkinkan peserta didik memiliki

pemikiran yang lebih luas. Pendidikan keluarga memberikan pengetahuan

dan ketrampilan dasar, agama dan kepercayaan, nilai moral, norma sosial

dan pandangan hidup yang diperlukan peserta didik untuk dapat berperan

dalam keluarga dan dalam masyarakat.


12

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Sekolah

a. Dasar penyelenggaraan pendidikan sekolah

Dasar penyelenggaraan pendidikan sekolah perlu dikemukakan

pada pembahasan ini untuk memperjelas kedudukan pendidikan sekolah itu

dalam sistem pendidikan Nasional.

Penyelenggaraan pendidikan sekolah didasarkan kepada Undang-

Undang Dasar 1945, sebagaimana terdapat pada bab III pasal 4 (2003)

sebagai berikut:
(1)
Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta
tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik
dengan sistem terbuka dan multi makna
(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
(4)
Pendidikan diberikan dengan memberi ketauladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
(5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya
membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
(6)
Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu layanan pendidikan.8

Undang-undang yang mengatur sistem pendidikan nasional (UU

Sisdiknas, menjelaskan secara terperinci sebagai berikut:

HAK WARGA NEGARA UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN

Pasal 5
(1).
Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu

8
Undang-Undang Repulik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Bab IV : 3)
13

Pasal 6
(1).
Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas
tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.9

Dari dasar penyelenggaraan pendidikan sekolah di atas dapat

dikemukakan bahwa pendidikan sekolah merupakan pendidikan formal

dalam sistem pendidikan nasional yang diperuntukkan bagi seluruh warga

negara Indonesia tanpa adanya perbedaan tertentu. Seluruh warga negara

Indonesia tanpa kecuali, mempunyai hak yang sama untuk memperoleh

pendidikan dalam wadah pendidikan sekolah secara nasional.

b. Tujuan pendidikan sekolah

Setelah diketahui dasar penyelengaraan pendidikan sekolah

sebagaimana disebutkan di atas, selanjutnya perlu dikemukakan tujuan

pendidikan sekolah. Dalam kontek ini penulis mengemukakan tujuan

pendidikan sekolah dalam bentuk suatu tujuan pendidikan nasional sebagai

suatu rujukan tujuan penyelenggaraan pendidikan sekolah di Indonesia.

Tujuan pendidikan sekolah menurut Ketetapan MPRS no. II tahun 1960

ialah “mendidik anak ke arah terbentuknya manusia yang berjiwa Pancasila

dan bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat Sosialis

Indonesia yang adil dan makmur material dan spiritual.10

Pendidikan memiliki tujuan membentuk manusia susila yang cakap

dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang

kesejahteraan masyarakat dan tanah air.11

9
Ibid., (Bab IV : 5-6)
10
Indrkusuma, Ilmu...., Op. Cit., h. 78
11
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001),
h. 57.
14

Melihat tujuan pendidikan Nasional tersebut, tampaknya memiliki

suatu kompleksitas. Kompleksitas tujuan pendidikan Nasional itu karena

menyentuh dimensi-dimensi tidak hanya material saja, melainkan juga

spiritual. Tujuan tersebut menyangkut dimensi pengetahuan (kognitif),

sikap (afektif), dan dimensi ketrampilan (psikomotorik).

Pencapaian tujuan pendidikan sekolah tersebut diupayakan secara

maksimal dapat dilakukan. Hal ini karena pencapaian tujuan pendidikan

sekolah merupakan target dari setiap proses pendidikan di sekolah. Out put

suatu sekolah termasuk juga lembaga pendidikannya, dinilai berhasil

apabila tiga ranah (domein) di atas bisa tercapai secara maksimal.

Kompleksitas tujuan pendidikan sekolah membuat kompleknya


pengajaran di sekolah. Pengajaran di sekolah yang ditujukan kepada siswa
harus bersifat mendidik (membangun manusia seutuhnya), pengajaran
bukan hanya berperan dalam pembinan intelektual (penambahan
pengetahuan serta melatih kerja akal) dan bukan hanya mementingkan
nilai praktis (pragmatis) yang berupa pelatihan ketrampilan kerja, tetapi
jasa sekolah hendaknya sampai pada pengembangan kepribadian siswa
yang mencakup pula pembentukan kognitif (kehendak) dan pembentukan
afektif (yang berpuncak pada pengamalan nilai hidup yang luhur).
Penjelasan ini menunjukkan bahwa pendidikan sekolah itu mem-
punyai nilai afilitas yang sangat intens terhadap sikap (afektif). Dalam
pengertian manusia Indonesia seutuhnya di atas merupakan puncak dari
tujuan pendidikan Nasional, yaitu manusia yang berpengetahuan, bermoral
(akhlak) dan trampil.
3. Kurikulum Pendidikan Sekolah

Kurikulum menurut Crow and Crow adalah “rancangan pengajaran

yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis, sebagai

syarat untuk mennyeleseikan suatu program pendidikan tertentu”. 12 Ruang

lingkup pembelajaran di sekolah tergantung pada sempit dan luasnya

12
Abuddin Nata, Filsafat..., Op. Cit., h. 175.
15

kurikulum yang digunakan. Terdapat tiga jenis kurikulum yakni, ”kurikulum

yang berpusat pada mata pelajaran atau disiplin ilmu (subject-centered

curriculum), yang berpusat pada anak (child-centered curriculum), dan pada

masyarakat (community-centered, society-centered, atau life-centered

curriculum)”13 dalam kenyataan yang berpusat pada anaklah yang paling

populer.

Pada pendidikan sekolah kurikulum ini memegang peranan yang

sangat penting bagi pembelajaran siswa. Dalam kontek ini Kurikulum sekolah

dapat dipandang sebagai bagian kehidupan anak di bawah bimbingan sekolah,

yang diatur secara khusus untuk tujuan tertentu. Kurikulum itu merupakan

lingkungan yang khusus tempat anak belajar yang diarahkan menurut minat

dan kesanggupan anak ke arah partisipasi anak yang efektif dalam kehidupan

anak dalam masyarakat dan negara. Kurikulum membantu anak memperkaya

hidupnya dengan memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang

berguna. Kurikulum pada pendidikan sekolah diberlakukan secara umum dan

nasional, sebagai manifestasi dari upaya pencapaian tujuan pendidikan yang

telah dirumuskan secara nasional pula, sebagaimana dikemukakan dalam

Undang-Undang “Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada

standar nasional pendidikan untik mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.14

Isi kurikulum pendidikan sekolah pada setiap jenis, jalur dan jenjang

pendidikan wajib memuat “pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan

13
Nasution, Sosiologi Pendidikan...., (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 148.
14
Undang-Undang (Sisdiknas), Op. Cit., (Bab X : 36)
16

Kewarganegaraan”.15 Dalam hal yang berkaitan dengan kurikulum ini, pada

tingkat sekolah dasar, kurikulum setidaknya memuat pelajaran tentang:

a. Pendidikan Pancasila.
b. Pendidikan agama.
c. Pendidikan Kewarganegaraan.
d. Bahasa Indonesia.
e. Membaca dan menulis.
f. Matematika (termasuk berhitung).
g. Pengantar sains dan teknologi.
h. Ilmu Bumi.
i. Sejarah Nasional dan sejarah umum.
j. Kerajinan tangan dan kesenian.
k. Pendidikan jasmani dan kesehatan.
l. Menggambar, serta
m.
Bahasa Indonesia16

Menyimak kandungan kurikulum sebagaimana penjelasan ini dapat

dimengerti bahwa materi pendidikan sekolah sekurang-kurangnya telah

memuat tiga ranah pendidikan sebagaimana kesimpulan tentang tujuan

pendidikan di atas, yaitu ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Dengan

demikian dapat dimengerti bahwa kurikulum pendidikan berusaha diarahkan

untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional sebagaimana di atas.

4. Ranah Pendidikan Sekolah


a.
Ranah Pengetahuan (Kognitif)

Istilah Cognitif berasal dari kata cognittion yang padanannya

knowing, berarti mengetahui. Dalam arti yang luas ”kognitif adalah

perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan”.17 Dimensi

pengetahuan (kognitif) ini merupakan bagian yang sangat penting dan

15
Undang-Undang (Sisdiknas), Op. Cit., (Bab IX :39) (2)
16
Ibid., (Bab X : 37)
17
Syah, Psikologi Pendidikan...., Op. Cit., h. 66.
17

umum diperhatikan oleh masyarakat pendidikan. Bahkan banyak orang

yang memasuki lembaga pendidikan hanya memperhatikan masalah aspek

ini saja, tanpa memperhatikan sisi lain dari pendidikan. Dalam hal ini

sekurang-kurangnya ada dua macam kecakapan kognitif siswa yang amat

perlu dikembangkan segera khususnya oleh guru, yakni “1) strategi belajar

memahami isi materi pelajaran. 2) strategi menyakini arti penting isi

materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang

terkandung dalam materi pelajaran tersebut”18. Walaupun diakui bahwa

tujuan pendidikan yang juga menjadi tujuan belajar itu meliputi tiga aspek,

yaitu aspek kognitif, aspek afektif, aspek psikomotorik, namun sudah

sejak lama orang ternyata orang pada umumnya mengutamakan aspek

kognitif. Bahkan kadang-kadang kadang terdapat praktek yang

menunjukkan seakan aspek kognitif sajalah yang perlu dikembangkan.

Ranah kognitif ini mengarahkan agar para siswa mempunyai suatu

pandangan yang luas terhadap setiap fenomena atau obyek ilmu

pengetahuan. Operasionalnya para siswa mampu memahami, menerap-

kan, menganalisis, mengsintesakan setiap fakta ilmu pengetahuan dan

yang paling utama mampu memberikan penilaian yang jujur pada setiap

fakta ilmiah berdasarkan nilai-nilai ilmu pengetahuan “tanpa ranah

koqnitif sulit dibayangkan seorang siswa dapat berfikir” 19 selanjutnya

tanpa kemampuan berfikir mustahil siswa tersebut dapat memahami dan

menyakini faedah materi-materi pelajaran yang disajikan kepadanya.


b.
Ranah Sikap (Afektif)
18
Ibid., h. 85.
19
Ibid., h. 84.
18

Pada ranah kognitif sudah digambarkan tentang kelakuan yang

harus dimiliki. Salah satunya adalah kemampuan mengevaluasi atau

kemampuan memilih alternatif-alternatif tertentu berdasarkan etika ilmiah.

Secara lebih transparan lagi ialah bahwa pendidikan sekolah itu

mengarahkan agar siswa mempunyai sikap (afektif) yang baik terhadap

fenomena ilmiah maupun fenomena kehidupan “keberhasilan

Pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan membuahkan kecakapan

kognitif, tetapi juga menghasilkan kecakapan ranah afektif”20

Kemauan menerima merupakan suatu harapan untuk mem-

perhatikan suatu gejala atau stimuli tertentu misalnya bersedia

mendengarkan musik, membaca buku, bersedia bergaul dengan ras yang

berbeda dan sebagainya.

Kemauan menanggapi menunjukkan pada partisipasi aktif dalam

suatu kegiatan tertentu seperti ikut mengumpulkan dana untuk korban

musibah, mentaati peraturan-peraturan, bersedia menolong orang lain dan

sebagainya.

Berkeyakinan itu berkaitan dengan kesediaan menerima sistem

nilai tertentu pada setiap individu. Seperti halnya menunjukkan adanya

kepercayaan kepada sesuatu, bersikap ilmiah, adanya kesungguhan dalam

berkarya dan sebagainya.

Penerapan karya atau pengorganisasian nilai berkenaan dengan

penerimaan berbagai sistem nilai yang berbeda-beda dan diintegrasikan

kepada nilai yang lebih tinggi, seperti menyadari adanya hak dan tanggung

20
Ibid., h. 86.
19

jawab untuk kesejahteraan bersama, bertanggung jawab terhadap sesuatu

pekerjaan tertentu untuk menyelamatkan kehidupan keluarga, menerima

kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

Ketekunan dan ketelitian atau mewatak. Pada tingkat ini suatu

sistem nilai sudah menyatu dengan pribadinya dalam arti semua tingkah

lakunya diwarnai oleh keyakinan nilai tersebut seperti selalu bersikap

obyektif, konsekwen terhadap perbuatannya, jujur, bersedia berkorban dan

sebagainya.
c.
Ranah Ketrampilan (Psikomotorik)

Ketrampilan dibutuhkan oleh setiap warga masyarakat untuk

mendukung pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan pada saat

sekarang ini justru ada kecenderungan yang lebih menonjol yaitu bahwa

pendidikan dinilai sebagai suatu investasi modal. Dalam masyarakat saat

ini, pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebagai pemenuhan kebutuhan

terhadap perolehan pengetahuan dan keterampilan dalam konteks waktu

sekarang. Lebih dari itu, pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi

baik modal atau kapital dan manusia. Dalam menumbuhkan sikap mental,

perilaku dan pribadi anak didik, guru harus lebih bijak dan hati-hati dalam

pendekatannya, karena interaksi belajar dan mengajar guru akan

senantiasa diobservasi, dilihat, didengar, ditiru semua perilakunya oleh

para siswanya, dari observasi inilah akan ”menumbuhkan proses

penghayatan pada setiap diri siswa untuk kemudian diamalkan”.21

21
Sadirman, Interaksi dan Motivasi...., Op. Cit., h. 28.
20

Oleh karena itu nilai ketrampilan itu sangat penting pada

pendidikan sekolah, sebab ketrampilan inilah yang nantinya akan

mendukung pencapaian pemenuhan pandangan tentang investasi dalam

pendidikan.

Perilaku psikomotor ini dapat dikemukakan dalam empat hal yang

penting yaitu:

1). Gerakan anggota badan seperti gerakan bahu dan kaki.

2). Gerakan yang benar-benar terorganisasi secara rapi, misalnya antara

gerak tangan dan jari.

3). Komunikasi tanpa verbal, misalnya berupa ekspresi muka, cetusan hati

atau gerakan badan yang penuh arti.


4).
Perilaku berbahasa, dalam arti peningkatan prilaku secara halus,

misalnya prilaku lemah lembut22

Pada keterangan yang lain mengemukakan jenis perilaku motorik

ini menyangkut:

1). Persepsi

2). Kesiapan untuk melakukan suatu tindakan (set)

3). Respon terbimbing

4). Mekanisme

5). Reaksi kompleks

6). Adaptasi

7). Originasi
22
Rusyan, A. Tabrani & S., Yani Daryani, Penuntun Belajar yang Sukses, (Jakarta: Nine Karya
Jaya, 1984), h. 8.
21

Persepsi, berkaitan dengan penggunaan indra dalam melakukan

kegiatan misalnya kemampuan menggunakan alat dengan penyesuaian

segala resikonya.

Kesiapan melakukan suatu tindakan, berhubungan dengan kesiapan

mental dan emosi untuk melakukan setiap kegiatan.

Respon terbimbing berhubungan dengan tindakan melakukan

peniruan, misalnya ketrampilan untuk coba-coba salah dan sebagainya.

Mekanisme, merupakan kemampuan untuk merespon sesuatu

dengan cepat dan tepat yang menunjukkan suatu kemahiran tertentu.

Gerakan yang dilakukan tepat tanpa petunjuk terlebih dahulu, namun bisa

dilakukan dengan tepat sesuai dengan harapan yang dituju.

Reaksi kompleks, berkenaan dengan kemampuan gerakan motorik

yang bersifat memadukan berbagai ketrampilan yang tidak dikuasai melalui

mekanisme.

Adaptasi, kemahiran melakukan gerakan yang dimodifikasi secara

otomatis sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Sehingga gerakan

mampu keluar secara spontan dan menyesuaikan.

Original, kemampuan seseorang untuk menunjukkan penciptaan

sesuatu yang baru menyesuaikan dengan situasi yang berkembang,

misalnya mampu pada penciptaan tarian sendiri, dalam hal ini tentu bagi

yang mempelajari tarian.

B. Pembentukan Akhlak Siswa

1. Pengertian Pembentukan Akhlak Siswa


22

Budi pekerti atau akhlak adalah satu-satunya aspek yang fundamental

dalam kehidupan. Baik kehidupan sebagai orang seorang, mapun bagi

kehidupan masyarakat. Kata pembentukan akhlak siswa merupakan kata

majemuk, maka untuk mendapatkan pengertian yang jelas tentang kata itu

penulis perlu menjelaskan satu persatu. Pembentukan berarti “proses,

perbuatan, cara membentuk”23, akhlak berarti “budi pekerti, ke-lakuan”24

sedangkan siswa sebagaimana sudah maklum adalah “murid”.25

Dari keterangan di atas dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud

pembentukan akhlak siswa adalah proses atau cara membentuk budi pekerti

siswa. Budi pekerti dalam pengertian akhlak, yaitu akhlak kepada guru,

kepada orang tua, teman lainnya, dan dalam belajar.

Pada pembahasan ini, yang perlu dipertegas lagi pengertiannya adalah

tentang akhlak. Untuk itu di bawah ini penulis kemukakan pendapat para ahli

mengenai akhlak, yaitu:


1.
Akhlak ialah “menangnya keinginan dari beberapa keinginan manusia

dengan langsung berturut-turut”26. Maka seseorang dermawan ialah orang

yang menguasai keinginan memberi, dan keinginan ini selalu ada padanya

bila terdapat keadaan yang menariknya kecuali didalam keadaan yang luar

biasa; dan orang kikir ialah orang yang dikuasai oleh suka harta, dan

mengutamakannya lebih dari membelanjakannya.

2. Menurut Imam Ghazali


23
Moeliono, et.al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h. 104.
24
Ibid., h. 15
25
Ibid., h. 849
26
Ahmad Amin, Al Akhlaq, Bulan Bintang, Jakarta: 1986. 62
23

rs¹ W u¬ whs¢ La~¦ ²A Rd}´ ahn¾ u|³AR Ófn¬A


Ù¦ uàày¨ ξ U R aàb¾ Ñl|¬A
uàå๠WR W rk¦ Ù¬A uª a¶ ry§ Î
“Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu

timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan

pertimbangan pikiran (lebih dulu)”.27

Dari keterangan berdasar pendapat para ahli di atas dapat dikemukakan

bahwa pengertian akhlak adalah keseluruhan kepribadian muslim yang

dilakukan secara langsung dan berturut-turut hingga menjadi sifat yang

tertanam dalam jiwa yang memudahkan setiap perbuatan baik.

Dengan demikian yang dimaksud dengan pembentukan akhlak siswa

adalah proses membentuk kepribadian muslim bagi para siswa hingga para

siswa dapat melakukannya secara langsung dan berturut-turut dan menjadi

sifat yang tertanam dalam jiwa yang memudahkan setiap perbuatan.

2. Pentingnya Pembentukan Akhlak

Siswa adalah generasi akan datang yang akan memanggul masa depan

bangsa. Namun demikian, para siswa selalu berada dalam ancaman masalah

yang menghantui masa depannya. Kasus perkelahian pelajar, kasus narkotika

dan obat-obat terlarang, seks bebas dan sebagainya banyak merenggut cita-cita

para siswa menuju masa depannya yang cerah.

Oleh karena itulah perlu adanya pembentukan akhlak yang baik

sehingga masa depan kehidupan ini bisa terjamin. Orientasi akhlak adalah

27
Muwahid Shulhan, Akhlak/Tasawuf, (Tulungagung, Unit Penerbitan Fakultas Tarbiyah IAIN
Sunan Ampel, 1991), h. 2)
24

“pribadi”, sedangkan pribadi bersumberkan pada hati. “Hati adalah sentral.

Sentral dan kendali bagi setiap aktivitas kehidupan umat manusia. Manakala

hati telah lumpuh, tidak sehat, maka akan lumpuh pulalah segenap sektor

kehidupan umat” dan begitu juga sebaliknya.

Oleh karena akhlak itu penting sekali bagi kehidupan manusia, maka

Rasulullah saw. diutus untuk misi perbaikan akhlak. Dalam sebuah sabdanya

Nabi menyatakan:

Ùqhy¢ H AWR Q Ò¼ ²A Ö¬ a½ Íåt ² Ôx~¢


amàå®A Íl³W Èyl¾ Èål¬A Ùål½ Èål¬A L w³R La±

Rasulullah saw. bersabda: “sesungguhnya aku diutus untuk me-nyempurnakan

akhlak yang baik” (HR. Baihaqy).

Tampaknya pendidikan nasional pun juga mengembangkan orientasi

tujuan pendidikan pada sasaran akhlak. Hal ini dapat dipahami dari bunyi

tujuan pendidikan Nasional yang mengarahkan pada pem-bentukan “manusia

Indonesia seutuhnya”. Keutuhan manusia Indonesia apabila secara lahir batin

sudah terpenuhi. Jika secara lahir manusia Indonesia sudah memiliki

pengetahuan dan ketrampilan yang memadahi bagi kehidupannya dan secara

batiniah manusia Indonesia mempunyai sifat dan sikap yang sebaik-baiknya

menurut ukuran budaya maupun agama yang berkembang, maka di situlah

pencapaian tujuan pendidikan Indonesia dapat dikatakan tercapai. Namun jika

masih terpenuhi sebagian saja sehingga menunjukkan wajah bopeng dari

pencapaian tujuan pendidikan nasional, berarti pencapaian tujuan nasional

telah gagal.
25

Dari sini tampak bahwa pendidikan nasional mempunyai pandangan

bahwa pembentukan akhlak bagi para siswa itu penting sekali. Sebab tanpa

adanya pembentukan akhlak yang jelas, pencapaian tujuan pendidikan

nasional akan terhambat. Dalam hal ini Al Ghazali mangatakan ”jika anak

menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka anak iyu menjadi baik,

sebaliknya jika anak itu dibiasakan melakukan hal buruk dan jahat, maka anak

itu akan berakhlak jelek”.28

Pentingnya pembentukan akhlak ini karena akhlak berkaitan dengan

hati sebagaimana dikemukakan di atas, serta ”pengembangan daya akal

membawa manusia kepada kemajuan tehnolgi dan kesenangan hidupnya

didunia ini sedangkan pengembangan daya hati atau qalbu membawa hidup

bahagia di akhirat kelak”.29

Di sinilah letak pentingnya pembentukan akhlak, yaitu karena tanpa

adanya pembentukan melalui pendidikan, kecenderungan buruk pada hati

nurani manusia akan lebih menonjol. Fitrah manusia yang baik tanpa adanya

upaya pembentukan akhlak yang baik maka fitrah akan mengarah kepada

keburukan. Sebaliknya upaya melalui pendidikan untuk mendidik fitrah

manusia menjadi baik, akan mengarahkan pada akhlak yang baik atau

akhlakul karimah.

3. Aspek-aspek Akhlak
a.
Aspek akhlak dalam ibadah

28
Nata, Filsafat Pendidikan...., Op. Cit., h. 212.
29
Kaelany, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Jakarta Bumi Aksara, 2005), h. 242
26

Kiranya sudah tidak asing lagi bagi umat Islam, bahwa tujuan

dijadikannya manusia adalah untuk mengabdi (menyembah) kepada Allah,

sebagaimana firman-Nya dalam surah Ad-Dzariyaat ayat 56, yaitu:

(۵ ٦:Ta¹Rc¬A ) ãNäWâdâbä~áy㬠åá²ãA áÓä®


ã²äAáW åáÎãj¬äA âÔäqálá¼ aááW

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

menyembah-Ku”30.

Berdasarkan ayat ini, ibadah oleh para ulama dikelompokkan dalam

dua cakupan yaitu ibadah dalam bentuk ritual (mahdhah) dan ibadah

dalam bentuk sosial (muamalah). Dalam kontek ini Jalaluddin

mengemukakan:

Pengertian ibadah adalah sama dengan pengertian syariat Islam.


Seperti syariat Islam, kita membagi cakupan ibadah menjadi dua
kategori:
(1) Ibadah yang merupakan upacara-upacara tertentu untuk
mendekatkan diri kepada Allah, seperti salat, zikir, dan shaum; dan
(2)
Ibadah yang mencakup hubungan antarmanusia dalam rangka
mengabdi kepada Allah.31

Ibadah pertama, ibadah mahdhah, sebut saja dengan istilah ibadah,

oleh Allah sudah diberi ketentuan secara khusus. Katsier menjelaskan

pengertian ibadah sebagai berikut: “ibadat berarti me-nurut dengan

perasaan rendah diri, mengabdi merasa abdi, hamba yang penuh dengan

30
Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: YPP/Penafsir
Al Qur’an, 1986), h. 56.
31
Jalaludin Rahmat, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1993) h. 46.
27

tunduk/ibadat menurut istilah agama menghimpun rasa kecintaan dan

merendah serta takut”32.

Pertama ibadah shalat; shalat merupakan bagian dari ibadah ritual

yang paling utama. dalam ajaran Islam keutamaan shalat ini lebih dari

yang lain sehingga ukuran kebaikan amal seseorang adalah dari kualitas

ibadah shalatnya, sebagaimana sabda Nabi sebagai berikut:

ri a³ Ȭ Öl½ Ôvl½ N a¦ U Ò}¬A uàayq¬A M w¹


db~¬A È¢ ³ av¹ a LWA
(p³ W ²A Ù¦ ) Èlm¾ rài a³ ds¦ T ds¦ NA W Èlm¾

Awal mula yang dihisab (amal) seorang hamba pada hari qiamat adalah

shalatnya, jika baik shalatnya maka baiklah seluruh amal lainnya, jika

buruk shalatnya maka buruk pulalah amal lainnya (hadits dalam kitab

Ausat).

Oleh karena begitu pentingnya shalat, Islam telah menentukan

waktu shalat secara khusus. Kesediaan seseorang mentaati batas-batas

shalat sebagai pertanda akhlak baik seseorang dalam mentaati ibadah.

( :Àasn¬A ) aë´ äwâ±


äwáå aë¢ aátã« áÎäyãnã äÀwâm¬äA áÙlá¾
äÔá® áa« áU æwláå}¬A åáN ãA…

“… Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktu-

waktunya atas orang-orang yang beriman”33.

32
Ibnu Katsier, Tafsir Ilmu Katsier, (Surabaya: Bina Imu, 1992), h. 25.
33
Depag RI, Al Qur’an…, Op. Cit., h. 138.
28

Ketertiban dalam shalat dan kesungguhan dalam melaksanakannya

adalah bagian dari akhlak yang baik kepada Tuhan. Hal ini karena shalat

merupakan “ekspresi untuk mengagungkan Tuhan dan mema-jukan

permohonan yang cara-caranya sudah ditentukan, mengikat insan muslim

kepada agama Islam kepada agama Islam”34 .

Kedua ibadah zakat; Zakat dalam agama Islam adalah “kewajiban

individual atau fardhu’ain bagi setiap umatnya dengan syarat tertentu” 35.

Ibadah zakai ini selain merupakan ibadah mahdhah juga merupakan

ibadah muamalah, sebab zakat harus menyentuh dimensi sosial.

Ketiga ibadah puasa (shaum); ibadah puasa (shaum) merupakan

bagian dari ibadah yang berhukum fardhu’ain, sehingga harus dilaku-kan

secara individual. “Puasa menguatkan kemauan, membebaskan manusia

dari passi dan memurnikan spiritualitas dengan penolakan atau menahan

diri”36.

Puasa ini mendidik manusia menjadi disiplin dan taat kepada nilai-

nilai, selain itu puasa mengajarkan pada diri manusia untuk berbuat

sesuatu dengan ikhlas didasari oleh ketulusan hati yang sesungguhnya. Ini

adalah sumber akhlak yang sangat potensial untuk membentuk

kepribadian yang baik.

34
Marcel A. Boisard, L’ Humanisme De L’Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), h. 64.
35
Depag RI, Al Qur’an…, Op. Cit., h. 1.
36
Boisard, L’ Humanisme…, Op. Cit., h. 65.
29

Keempat dzikir dan do’a. Do’a yang penulis maksudkan adalah

kebiasaan atau upaya “menyeru, memohon, dan mengharap sesuatu dari

Allah Yang Maha Pencipta”37 .

Berdo’a ini sangat penting bagi umat, untuk menunjukkan bahwa

manusia selalu berhubungan dengan Allah sebagai Tuhan dan sekaligus

juga untuk menunjukkan bahwa pada diri manusia selalu membutuhkan

Allah sebagai Tuhan yang berkehendak terhadap umatNya.

Ketaatan, ketertiban, kesungguhan dalam pengamalan ibadah

terhadap Tuhan merupakan wujud akhlak yang baik dalam hal ibadah.

Lebih dari itu pelaksanaan dengan tulus ikhlas adalah kunci dari

kebajikan ibadah. Maka itu selain taat, tertib, sungguh-sungguh seseorang

harus ikhlas dalam beribadah.

b. Aspek akhlak dalam muamalah

Ibadah sosial (muamalah) dalam ajaran Islam merupakan aspek

yang sangat penting. Dalam hal ini Islam memandang silaturrahim sebagai

dimensi mahapenting ajaran Allah. Silaturrahim adalah perintah Allah

yang kedua setelah takwa.

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian

tanpa ada bantuan orang lain. Maka itu dalam diri manusia atau umat

Islam harus ditanamkan akhlak yang baik dalam hidup bermasyarakat,

37
Ali Usman & A.A. Dahlan & MD. Dahlan, Hadits Qudsi Pola Pembinaan Akhlak Muslim,
(Bandung, Diponegoro, 1992) h. 403.
30

sehingga dapat mewujudkan pola kehidupan yang harmonis pada ke-

hidupan sosial masyarakat.

Aspek ibadah yang berhubungan dengan permasalahan sosial

(muamalah) tentu sangat luas. Penulis mengidentifikasi pada beberapa hal,

diantaranya adalah aspek akhlak pada guru, orang tua, teman dan belajar.

Pertama aspek akhlak pada guru; Guru adalah orang yang paling

berjasa kepada siswanya. Pada prinsipnya setiap guru hanya wajib dalam

bertanggung jawab atas terselenggeranya proses belajar mengajar vak atau

bidang studi pengaganya namun disamping itu institusional (jenjang

lembaga pendidikan tempatnya bertugas), dan tujuan nasional. Al hasil

tanggung jawab guru tidak hanya terbatas pada kecakapan-kecakapan

tertententu yang dikuasai para siswa, tetapi lebih jauh lagi yakni mencapai

tujuan-tujuan ideal.

Tujuan ideal meliputi:

1) Tujuan pengembangan pribadi pada siswa sebagai individu

mandiri,

2) Tujuan pengembangan pribadi para siswa sebagai warga

dunia dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam hal ini peran penting guru tidak bisa digantikan oleh sispapun

sekalipun oleh teknologi yang mutahir. “Guru memegang peranan strategis

terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan

kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan”.38

38
Syah, Psikologi Pendidikan...., Op. Cit., h. 239.
31

Menghormati guru, menghargai jasa-jasa guru adalah kewajiban

bagi para siswa. penghormatan siswa kepada guru dapat dilakukan dengan

cara membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjun-jung tinggi

perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama.

Kedua aspek akhlak kepada orang tua; Orang tua yang penulis

maksud adalah ibu bapak. Ibu bapak ini dalam ajaran Islam secara

langsung di nash oleh al-Qur’an agar dihormati dan dihargai. Al-Qur’an

surah Luqman ayat 14, sebagai berikut:

âÈâ¬aá}ã¦áW ìÎä¨áW Ùælá¾ aënä¨áW


âÈàâåâA âÈätálámᶠãÈä¹ád㬠Aáwã¢
áNaáàsä® ã²äA aánäyáå½áWáW
( :Namq¬) âräyã}ám¬äA åáÙá¬ãA
áËä¹ád㬠Aáwã¬áW Ù㬠ärâkä¥A ãNáA
ãÎäyá aá¾ Ùã¦
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu39.

Ayat al-Qur’an ini merupakan perintah Allah yang mutlak harus

ditaati oleh umat Islam. Masih banyak al-Qur’an maupun hadits Nabi

yang memerintahkan agar anak-anak itu menghormati dan menghargai

orang tua setinggi-tingginya mengingat pengorbanan orang tua.

Ketiga aspek akhlak kepada teman; Bagi para siswa yang tidak

dapat dihindarkan dalam hidupnya adalah teman, teman bermain maupun


39
Depag RI, Al Qur’an…, Op. Cit., h. 654.
32

teman belajar bersama. Teman-teman ini adalah orang yang banyak

berpengaruh bagi kehidupan para siswa.

Terhadap teman bermain maupun teman belajar siswa harus

mempunyai akhlak yang baik, tidak saling bertengkar, berkelahi, atau

permusuhan yang lainnya. Gejala akhir-akhir ini tentang perkelahian

pelajar harus dihindarkan sendiri oleh para siswa. perkelahian pelajar

menghambat sosialisasi siswa dalam kehidupan kemasyarakatan.

Keempat aspek dalam belajar; Pengertian belajar menyangkut

dimensi yang sangat luas. Dalam hal ini dikemukakan elemen-elemen

yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar sebagai berikut:

(a). Belajar merupakan perubahan dalam tingkah laku,


(b). Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan
pengalaman,
(c). Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus bersifat relatif
mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang
cukup panjang,
(d). Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut
berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti :
perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berfikir,
ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, atupun sikap.40

Dalam keterangannya yang terperinci Purwanto mengemukakan

bahwa belajar berkaitan dengan “kematangan, penye-suaian diri/adaptasi,

menghafal/mengingat, pengertian, berpikir, dan latihan”. Dengan

demikian dalam belajar siswa harus mempunyai tatacara bahkan

tatakrama tersendiri. Misalnya menjaga kesehatan, menghargai buku,

pendapat orang lain, bahkan harus disiplin.41


40
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Rosdakarya,
2004), h. 85.
41
Ibid., h. 86.
33

C. Korelasi Pendidikan Sekolah dengan Pembentukan Akhlak Siswa

Penulis telah membahas dua fenomena, yaitu tentang pendidikan sekolah

dengan berbagai aspeknya serta pembentukan akhlak siswa. Dari pembahasan

tersebut dapat digambarkan bahwa pendidikan sekolah mempunyai hubungan

(korelasi) yang positif dengan pembentukan akhlak.

Korelasi pendidikan sekolah dengan pembentukan akhlak siswa ini

terutama dapat dipahami dari tujuan pendidikan sekolah yang mengacu pada nilai-

nilai akhlakul karimah. Lebih dari itu kurikulum pendidikan sekolah pun juga

mengarah kepada pembentukan akhlak pada siswa.

Kurikulum pendidikan sekolah yang dikonsepkan untuk memenuhi tujuan

pendidikan Nasional menyangkut tiga ranah pendidikan (kognitif, afektif, dan

psikomotor) itu mempunyai kecenderungan positif pada pembentukan akhlak bagi

para siswa. Di bawah ini penulis kemukakan hubungan tersebut dalam analisa

sebagai berikut:
1.
Korelasi pendidikan kognitif di sekolah dengan pembentukan akhlak siswa

Ranah kognitif dalam pendidikan berkorelasi dengan pembentukan

akhlak. Ini karena ranah kognitif mengajarkan pada siswa tentang nilai-nilai

ilmu pengetahuan yang apresiatif. Artinya ranah kognitif ini mengarahkan atau

mengajarkan kepada para siswa agar bisa menjadi ilmuwan yang taat dengan

nilai-nilai ilmiah.

Perilaku kognitif sebagaimana tersebut di muka menunjukkan bahwa

tujuan pendidikan dalam ranah kognitif ini berkaitan dengan nilai-nilai moral
34

atau akhlak. Hal ini sejalan dengan tujuan khusus pendidikan, dimana lebih

mengedepankan pada nilai-nilai sebagai berikut :

1. Pembinaan Akhlak

2. Menyiapkan anak didik untuk hidup didunia dan di akhirat

3. Penguasaan ilmu
4.
Ketrampilan bekerja dalam masyarakat42

Proses sebagaimana dikemukakan di atas merupakan proses yang sarat

nilai dalam arti sejak pemilihan masalah ilmiah harus dipilih yang secara

normatif bisa diterima oleh masyarakat atau tidak melanggar nilai-nilai yang

diterima masyarakat. Di sini dapat dikemukakan suatu pengertian bahwa ilmu

pengetahuan ataupun perilaku kognitif harus berpegang pada nilai-nilai moral

atau akhlak.

Korelasi pendidikan kognitif bersifat kontributif, dalam pengertian

bahwa perilaku kognitif ini memberikan kontribusi kepada pembentukan

akhlak yang baik bagi para siswa. Kontribusinya terletak pada indikator yang

ingin dicapai dari pendidikan kognitif itu.

2. Korelasi pendidikan afektif di sekolah dengan pembentukan akhlak siswa

Pendidikan afektif yang mengajarkan tentang nilai-nilai sikap, jelas

sekali berkorelasi dengan pembentukan akhlak bagi para siswa. aspek-aspek

perilaku afektif sebagaimana dikemukakan di atas, sangat mendukung bagi

pengembangan akhlak. Maka itu pendidikan nasional menurut Undang-

Undang Sistem Pendidikan Nasional “berfungsi mengembangkan kemampuan

42
Nata, Filsafat Pendidikan...., Op. Cit., h. 107.
35

dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa”.43

Pendidikan pada dasarnya bersifat afektif, maka dari itu pengajaran

yang tidak bernilai afektif tidak bisa disebut dengan istilah pendidikan. Ini

sesuai dengan nlai-nilai akhlak yang memang mengandung nilai-nilai afektif.

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa korelasi pendidikan

afektif dengan pembentukan akhlak siswa ini terletak pada karakteristik

indikator pendidikan afektif yang mengedepankan aspek sikap. Adapun

akhlak tidak bisa lepas dengan masalah sikap, sebab pada pendidikan akhlak

yang diutamakan adalah sikapnya yang baik sesuai dengan nilai-nilai akhlakul

karimah.

3. Korelasi pendidikan psikomotorik dengan pembentukan akhlak siswa

Pendidikan akhlak pada dasarnya juga mengarahkan agar para siswa

itu mempunyai suatu ketrampilan yang mumpuni pada segala bidang. Dari

sini penulis memandang bahwa pendidikan psikomotorik ini juga berkorelasi

dengan pembentukan akhlak siswa.

Korelasi pendidikan psikomotorik dengan pembentkan akhlak terdapat

pada kontribusi pendidikan psikomotorik dalam mengarahkan siswa untuk

berketramnpilan yang sesuai dengan nilai-nilai kognitif dan afektif. Sebab

dalam pendidikan ketiga ranah pendidikan itu tidak berdiri sendiri-sendiri,

melainkan secara bersama-sama dikembangkan bagi para siswa.

43
Undang-undang Sisdiknas, Op. Cit., (Bab II : 3)
36

D. Kerangka Pemikiran

Kerangka penelitian sangat diperlukan pada penelitian yang menganalisis

permasalahan korelasi suatu fenomena tertentu. Pengertian kerangka pemikiran

ini tidak banyak disinggung oleh para ahli, hanya saja Sudjana mengemukakan

secara praktis yaitu “nyatakan/konsepsikan hubungan antara variabel (bebas dan

terikat) berdasarkan teori…susun (kalau bisa) suatu model/diagram yang

menyatakan alur hubungan variabel di atas”.44

F.N. Kerlinger menerangkan ”Variabel sebagai sebuah konsep (gejala

bervariasi) seperti halnya laki-laki dalam konsep jenis kelamin”. 45 Dalam rangka

menunjukkan korelasi antara variabel satu dengan yang lain pada penelitian ini,

maka penulis kemukakan diagram hubungan antar variabel sebagai berikut:

44
Nana Sudjana, Tuntutan Penyusunan Karya Ilmiah, (Bandung: Sinar Baru, 1988), h. 14.
45
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), h. 94.
37

DIAGRAM

HUBUNGAN ANTAR VARIABEL

Pendidikan Kognitif
KORELASI
PENDIDIKAN
SEKOLAH DENGAN Pembentukan
Pendidikan Afektif
PEMBENTUKAN Akhak Siswa
AKHLAK SISWA

Pendidikan psikomotorik

V. BEBAS V. ANTARA V. TERIKAT

E. Asumsi

Asumsi biasa disebut dengan istilah anggapan dasar atau postulat,

anggapan-anggapan semacam ini perlu dirumuskan secara jelas. Asumsi adalah

“sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyidik” 46,

sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai

hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti didalam melaksanakan

penelitiannya

Adapun asumsi penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Intensitas pendidikan kognitif berkorelasi dengan pembentukan akhlak siswa.

2. Intensitas pendidikan afektif berkorelasi dengan pembentukan akhlak siswa.

46
Ibid., h. 58.
38

3. Intensitas pendidikan psikomotorik berkorelasi dengan pembentukan akhlak

siswa.

4. Hasil angket yang diperoleh dari responden dianggap sesuai dengan keadaan

yang sebenarnya.

A. Hipotesis

Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih

perlu dibuktikan kenyataannya atau “jawaban sementara terhadap masalah

penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris”. 47

Hipotesis penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:


1.
Ada korelasi positif yang signifikan pendidikan kognitif dengan pembentukan

akhlak siswa di MTsN Aryojeding Rejotangan Tulungagung.


2.
Ada korelasi positif yang signifikan pendidikan afektif dengan pembentukan

akhlak siswa di MTsN Aryojeding Rejotangan Tulungagung.


3.
Ada korelasi positif yang signifikan pendidikan psikomotorik dengan

pembentukan akhlak siswa di MTsN Aryojeding Rejotangan Tulungagung.


4.
Ada korelasi positif yang signifikan pendidikan sekolah dengan pembentukan

akhlak siswa di MTsN Aryojeding Rejotangan Tulungagung.

47
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan...., (Jakarta: Rajawali, 1986), h. 75.