Anda di halaman 1dari 85

Harmonika Hidayah

(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Karuniakan Kami HidayahMu


Untuk
Kami Terapkan dalam Hidup &
Kehidupan Kami

“Rabbana Laa Tuzigh quluubana ba'da idzhadaytana wahablana


min ladunka rahmatan, innaka anta al-wahhaab".

Atinya :
"Wahai Tuhan kami, janganlah engkau condongkan hati kami
kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami,
dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi-Mu,
sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS Ali Imran,
3 : 08).

Do’a yang selalu kita baca usai mengerjakan shalat


lima waktu atau do’a yang dibaca kapan saja ini kiranya
cukup lengkap dan sempurna. Isinya menegaskan tentang
harapan si pemohon agar dirinya terhindar dari kenyataan
negatif (kebathilan), seraya berharap Rahmat yang ia
merupakan puncak karunia Allah Swt dan hanya orang-
orang beruntung mendapatkannya. Menariknya do’a ini

1
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

adalah tentang harapan agar terhindarnya seseorang dari


kebathilan dipintakan ketika ia telah diberi petunjuk oleh
Allah berupa agama yang benar, “… setelah Engkau
berikan petunjuk (Iman dan Islam) kepada kami, … “ baru
kemudian mengajukan karunia puncak seorang hamba,
yakni Rahmat Allah Swt.
Terlepas dari makna yang luas dan mendalam, tiga
kata kunci do’a di atas akan dibahas pada tulisan singkat
ini. Tiga kata yang dimaksud adalah “Kesesatan”,
“Petunjuk”, dan “Rahmat”. Pertama kesesatan
(kebathilan). Para ulama selalu berpesan kepada kita agar
seseorang berhasil menepis kebathilan kunci utamanya
adalah petunjuk; Iman dan Islam. Keduanya merupakan
kenikmatan tiada tara dalam hidup ini. Apabila iman
tertanam dalam diri kita masing-masing dan Islam
mewarnai gerak langkah sehari-hari (sistem sosial), maka
InsyaAllah kita akan terhindar dari kesesatan, lalu menuju
Karunia luar biasa, yakni Rahmat Allah Swt.
Namun, oleh karena beberapa kenyataan yang selama
ini biasa-biasa saja dan bahkan merugi, benarkah petunjuk
itu (baca’; iman dan Islam) tetap sudi menemani kita
hingga hari ini dan bahkan detik ini. Apakah ia bahagia
menyertai diri yang masih begini-begini saja, Iman yang
hanya terkadang memancar di ruang atau kegiatan ritual

2
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

saja dan bahkan mungkin terabaikan sama sekali.


Kemudian lagi, akankah pernak-pernik hidayah itu betah
menemani hamba yang jarang bersyukur. Jangan-jangan ia
sudah lama ingin pamit untuk tidak kembali pada diri
seorang muslim selamanya. Sungguh, jangan sampai hal
demikian benar-benar terjadi. Oleh karena itu, alangkah
baiknya kita mau bercermin kepada proses perjalanan
baginda Rasulullah Saw, seorang Nabi dan Rasul juga
seorang manusia biasa.
ketika Muhammad bin Abdullah muda belia,
manajemen diri bukanlah barang baru, kejujuran bukan
pula sesuatu yang aneh, hidup prihatin bukan pula
perkara asing, kepedulian akan kesejahteraan sesama
tidaklah sekedar hafalan dan logika, tapi semua itu
menjadi bagian dalam proses yang mengantarkannya
kepada hidayah Allah Swt. Berhari-hari, berbulan-bulan,
dan bahkan bertahun-tahun baginda Rasul Saw
melakukan evaluasi dan refleksi mendalam terhadap
kenyataan diri dan masyarakat. Dan kegiatan yang
sebagiannya beliau lakukan di Gua Hira itu bukanlah
sekali, tapi berkali-kali hingga kemudian beliau resmi
dilantik menjadi nabi, lalu diangkat menjadi Rasul Allah.
Allah Zat yang Maha Benar.

3
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Pasca pelantikan itu baginda Nabi Saw terus menerus


ditaburi nikmat “petunjuk” berupa Iman dan Islam serta
Ihsan di bawah panji-panji Al-Qur'an al-karim, “... bahwa
Al-Qur'an adalah kitab petunjuk (QS 2 :185)”, termasuk yang
menyertai dirinya berupa kematangan diri atau bahasa
masyhurnya adalah Sunnah beliau yang ia pula
merupakan cerminan kandungan Al-Qur'an. Sebagaimana
ungkapan istri beliau Aisyah Radliallahu ‘Anha, “Bahwa
Akhlak (sikap dan tingkah laku) Baginda Nabi
Muhammad Saw adalah Al-Qur'an”. Dan hal ini telah pula
ditegaskan melalui kenyataan sejarah tentang bagaimana
baginda Nabi Saw selalu mengacu kepada Petunjuk Allah
(tentu sebab bimbingNya) lalu berhasil dalam hidup dan
pergaulan, terutama berdakwah di tengah masyarakat
Arab (Quraisy) yang kosmopolit juga Jahiliyyah itu. Dari
sini dapat kita cermati bahwa sesungguhnya peta masa
depan seseorang dalam meraih nikmat petunjuk (Iman
dan Islam) termasuk di dalamnya keberhasilan hidup di
dunia dan di akhirat tiada lain kecuali melalui Al-Qur’an
al-Karim. Al-Quran yang dapat kita pahami secara Qauli
(Teks Al-Quran 30 juz) dan secara Kauny (Konteks/realitas
yang mengitari hidup dan kehidupan manusia, alam dan
lingkungan sosial). Dan teladan baginda Rasul Saw terkait
perolehan petunjuk dan kesuksesan hidup ini bisa kita

4
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

baca dan cerna dalam literatur sejarah yang dapat kita


temukan di berbagai Perpustakaan, khususnya
perpustakaan Islam dan toko-toko buku termasuk
pengajian agama.
Semoga kualitas Iman dan Islam (Petunjuk) selalu
terjaga berkat kesungguhan kita untuk menjaganya.
Karena jika tidak, mungkin saja (Wallahu A’lam) petunjuk
(Iman dan Islam), umumnya disebut Al-Quran, sedikit
demi sedikit (esensinya) akan diangkat oleh Allah Swt
untuk kemudian dikembalikan ke asalnya (Lauh
Mahfudz). Lalu yang tinggal hanyalah tulisan di atas
kertas bersampul indah, Islam kamuflase tanpa adanya
kekuatan nilai dalam sistem sosial. Itulah al-Qur’an yang
mulai asing oleh kita. Sekali lagi, bagaimana iman yang
kini aplikasinya masih sederhana ini terus menerus kita
pupuk untuk dapat kontak atau lebih dekat dengan Allah
Swt. Selama hayat masih dikandung badan, di situ pula
upaya peningkatan iman dan Islam berlandaskan nilai Al
Quran selalu terbuka.
Kemudian bagaimana rumus dan gambaran
sederhananya tentang penerapan petunjuk (Iman dan
Islam) oleh kita masing-masing (baca; berkelompok) dalam
kehidupan keagamaan sehari-hari adalah sebagai berikut :

5
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Dasar :
Nilai Langit (petunjuk) untuk di bumi,
maka bumikanlah nilai langit itu!

Dalam prakteknya, ...


Muncul 3 (Tiga) Paradigma (baik secara sadar atau tidak)

Islam tekstual = Islam langit;


Maka, nilai Al-Quran bergelayutan di awang-awang
(baik penyampaian juga penerapannya secara anarkhis
atau cara Damai).

Islam Kontekstual-Anarkhis;
Maka, Islam membumi tapi kering nilai Al-Quran
(maksudnya kering dari nilai Islam Rahmatan lil alamin,
baik dalam proses dan hasilnya).

Islam Kontekstual;
Maka, Islam membumi basah dengan nilai Al-Quran
(Islam Rahmatan lil ‘Alamin, baik dalam proses juga
hasilnya)

6
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Tanya bertanya,
Iman Tiga Dimensi

Masih tentang Iman, namun lebih spesifik (Fokus dan


agak rinci). Jika seseorang bertanya kepada kita berapa
jumlah Rukun Iman, maka jawabnya mudah saja, Rukun
Iman itu ada enam; Iman kepada Allah Swt., iman kepada
Malaikat-malaikat-Nya, iman kepada Rasul-rasul-Nya,
iman kepada Kitab-kitab-Nya, iman kepada Hari Akhir,
dan iman kepada Qadla dan Qadar Allah. Lalu, jika
diminta menyebutkan bagaimana mengimani enam point
tersebut maka kita menjawabnya, silahkan belajar kepada
para guru yang berkeyakinan Ahlussunnah Waljama’ah.
Jadi, berapa jumlah, apa dan bagaimana rukun iman itu
serta mempelajarinya cukup mudah untuk menyebutkan
dan menjelaskannya. Namun dari mana datangnya iman,
membuat kita jadi berpikir.
Sembari berpikir, suatu bait syair lagu (Nasyid) yang
cukup populer mungkin membawa sedikit titik terang
dalam menjawab pertanyaan tadi, “Iman tak dapat

7
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

diwarisi, dari seorang ayah yang bertakwa”, kisah Nabi


Nuh memperkuat syair lagu tersebut. Berangkat dari syair
ini, pertanyaan pun semakin berkembang, benarkah iman
tak dapat diwarisi? bukankah status sebagai muslim
sampai hari ini dikarenakan kita adalah anak seorang
muslim? Sebagaimana ungkapan Abi Al-Laits yang
dikomentari oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani (1815-1897
M), Qathr al-Ghaits Fii Syarh Masail Abi Al-Laits, iman
merupakan hidayah Allah Swt. Dari hidayah itu kemudian
hamba-Nya menegaskan dalam hati atas apa yang dibawa
oleh baginda Rasulullah Saw kemudian mengikrarkannya
dengan lisan. Pertanyaan tetap berlanjut.
Lalu, apakah iman hanya cukup diucapkan dengan
lisan (ucapan) saja ataukah cukup diyakini dalam hati,
ataukah keduanya sekaligus? Syeikh Muhammad Amin Al
Kurdy, perintis Tarekat An-Naqsyabandiyah Mesir (w.
1914 M), Tanwir al-Qulub Fii Mu’amalah ‘Allam al-Ghuyub,
Daar Al-Fikr, 1994, hal 109-114 menyebutkan;: “Apabila
iman diucapkan dengan lisan, hal demikian terkait
prosedur di dunia, sementara iman dengan hati terkait
urusan akhirat. Apabila seseorang mengucapkan iman
dengan lisan tanpa diyakini dengan hati, maka ia telah
beriman menurut pandangan manusia, tapi tidak menurut
Allah, dan ia termasuk penghuni neraka. Sementara

8
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

apabila iman ia yakini dalam hati dan tidak diucapkan


dengan lisan, meski tanpa uzur, maka ia tampak
mengingkari iman menurut pandangan manusia tapi
sebenarnya beriman menurut Allah. Dan ia termasuk
penghuni surga. Lantas, apabila iman tidak ia ucapkan
dengan lisan dan tidak pula diyakini dalam hati, maka ia
mengingkari iman menurut pandangan manusia juga
menurut Allah. Sebaliknya, dan ini adalah utama apabila
iman ia ucapkan dengan lisan dan ia yakini dalam hati,
maka lengkaplah sudah bahwa ia beriman menurut
pandangan manusia juga menurut Allah Swt.“ Jawaban
yang terakhir ini menegaskan agar kita tidak termasuk
orang-orang munafik yang mengucapkan iman dengan
lisan, tapi mengingkarinya dalam hati. Masih ada satu
pertanyaan lagi, di manakah posisi iman kita saat ini?
Syeikh Nawawi Al-Bantani (Riyadl Al-Badi’ah),
mengungkapkan bahwa Iman terbagi tiga macam. Pertama,
iman yang bersifat taklid (Taqlidy). Yaitu seseorang yakin
akan keesaan Allah, dst karena mengikuti (taqlid)
ungkapan atau bimbingan ustadz/para ulama, tanpa harus
dibuktikan. Mudahnya, ia akan mengikuti “apa kata
ulama”. Biasanya orang seperti ini adalah orang awam
(tidak ahli) di bidang ilmu agama.

9
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Kedua, iman yang bersifat argumentatif atau


membutuhkan dalil-dalil (Istidlaly). Yaitu mereka yang
tidak hanya cukup beriman begitu saja tapi perlu
membuktikannya dalam bentuk tanda-tanda atau
argumentasi yang jelas. Misalkan adanya sang pencipta
dapat diketahui dari adanya penciptaan. Atau dibalik, be-
narkah dari penciptaan yang ada membuktikan adanya
sang Pencipta.
Biasanya iman seperti ini dimiliki oleh orang-orang
awam (kurang ahli atau juga ahli dibidang ilmu agama)
yang menalarkan pikirannya untuk sebuah keyakinan.
Termasuk sarjana agama yang mengum-pulkan
argumentasi ilmiah atas keyakinannya.
Ketiga, Iman yang bersifat hakiki. Yaitu percaya akan
keesaan Allah Swt. dst, tidak terikat oleh dalil-dalil atau
disebabkan oleh apapun. Bahasa mudahnya, pokoknya
saya yakin. Dan saya tidak tahu mengapa saya yakin. Dan
keyakinan saya tak terpengaruh oleh keadaan apapun.
Biasanya, iman taqlidy dan istidlaly tadi dalam
prakteknya masih terpengaruh oleh keadaan pribadi dan
lingkungan termasuk adanya pembuktian dalil. Misalnya,
ada orang yang baru mendapatkan kesenangan, imannya
langsung naik. Tanda-tandanya terlihat dari sikap
bersyukur, dll. Atau mungkin pula seseorang yang sedang

10
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

mendapatkan kesusahan, imannya langsung nge-drop.


karena adanya kesusahan ia menjadi lupa dan mengatakan
Tuhan tidak adil.
Atau lebih seru, ada orang yang mendapatkan
kesenangan, awalnya bersyukur dan yakin itu semua
karunia Allah Swt. namun, lama-kelamaan ia menjadi lupa
dan mulai berlaku sombong. Begitu pula mereka yang
mendapatkan kesusahan, awalnya baik-baik saja, karena
keyakinannya saat itu menekankan bahwa orang yang
sedang diuji adalah calon kekasih Allah, tapi lama-
kelamaan jenuh dan kesal disebabkan badai tetap saja
belum berlalu. Masih banyak lagi contoh nyata lainnya
dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi lain halnya dengan iman hakiki. Baik dalam
keadaan senang atau pun susah, sebentar ataupun lama,
sedikitpun tidak menggoyahkan kadar kualitas imannya.
Oleh karena itu, bagi seseorang yang sedang dalam posisi
taklidy atau istidlaly selayaknya melirik iman hakiki ini.
Mengingat, saat ini dan pada masa-masa yang akan datang
umat Islam ditantang untuk lebih maju. Maju dan Mulia
menurut pandangan Allah, juga manusia.
Di sinilah kita berharap agar kebanyakan Umat Islam
menduduki posisi iman hakiki. Berharap hidayah Allah,

11
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

dan mengindahkan pesan orang tua dulu-dulu, “kuatkan


tauhidmu, kuatkan akidahmu”.

12
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Karena Ihsan,
Iman & Islam Jadi Utuh

Kita selalu mengatakan bahwa shalat memiliki fungsi


utama dalam hidup seorang muslim/muslimah, mencegah
perbuatan keji dan mungkar, meski kenyataannya
kemudian kita masih dan selalu saja terjebak ke dalam
prilaku-prilaku yang tidak baik dan tercela. Mulai dari hal-
hal terkecil sampai hal-hal yang besar. Misalkan saja kita
rutin melakukan ibadah ritual tapi sayangnya tiada nilai di
sana. Kita rajin melaksanakan shalat tapi untuk bersyukur
saja berat melakukannya. Kita mungkin termasuk orang
yang gemar menolong, tapi sayangnya masih saja
menceritakan kebaikan tersebut kepada orang lain dengan
rasa bangga, meski seolah tanpa merasakannya.
Melihat beberapa contoh di atas, masih maukah kita
terjebak ke dalam ibadah ritual atau sosial tanpa nilai dan
kualitas ibadah? Jangan-jangan perbuatan keji dan
mungkar tetap menjadi catatan perilaku sehari-hari. Di
sinilah pentingnya ihsan dalam agama.

13
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Pengertian ihsan yang mudah untuk kita cerna adalah


seperti yang digambarkan oleh baginda Rasulullah Saw.
berikut. “Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-
Nya, tetapi jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya
Dia melihat kamu”. (H.R Bukhari). Dengan kata lain, ihsan
berarti suasana hati dan perilaku seseorang yang
senantiasa merasa dekat dengan Allah.
Para ulama memberikan dua syarat agar seseorang
dapat menghadirkan Allah Swt. dalam sanubarinya, kapan
dan di mana pun ia berada. Yaitu, bersihnya hati (nurani)
dari noda dan dosa plus ikhlas beribadah semata-mata
karena Allah Swt. Awalnya, mungkin kita dapat bercermin
dari shalat. Karena ibadah yang istimewa ini menegaskan
bahwa hati adalah media utama dalam setiap syarat dan
rukun shalat.
Shalat mengandung tiga dimensi rukun. Pertama,
rukun yang berkaitan dengan ucapan atau pelafalan
(qauly). Seperti takbiratul ihram, membaca surah al-
Fatihah, dan lain-lain. Kedua, rukun yang berkaitan dengan
gerakan (fi’ly). Misalnya ruku’ dengan cara membungkuk,
seperti yang kita maklumi, sujud, duduk tahiyyat akhir
dan lain-lain. Dan ketiga, rukun yang berkaitan dengan
keadaan hati (qalby), yakni niat. Dimensi terakhir ini
memiliki peluang dinamika sungguh luar biasa. Karena

14
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

salurannya sungguh panjang nan jauh. Lain halnya rukun


qauly dan fi’ly tadi. Lafadz takbiratul ihram, tetap berbunyi
“Allahu Akbar”. Sementara Sujud tetap seperti tuntunan
awalnya, menempelkan dahi ke sajadah dengan ditopang
oleh kedua telapak tangan, lutut dan ujung telapak kaki.
Tidak ada yang berubah dari dua dimensi rukun tersebut.
Sedangkan rukun qalby (niat, pasrah) memiliki dinamika
luar biasa, kaya makna, sehingga kualitas shalat tidak saja
diukur dari gerakan dan ucapan, tapi juga keadaan hati.
Karena hati adalah media yang menghadirkan Allah Swt.
Untuk itu, bagaimana dengan shalat kita dapat melatih
hati untuk benar-benar pasrah kepada Allah Swt dan
dapat menghadirkan-Nya dalam diri. Dengan demikian
kita akan menuju dan mencapai kedudukan ihsan. Karena
ihsan merupakan suatu tingkatan di mana seseorang
melaksanakan syariat yang dijiwai dengan hakikat syariat
itu sendiri.
Lantas, persoalan yang lebih penting saat ini adalah
bagaimana kemampuan menghadirkan Allah Swt dalam
Shalat tadi (ihsan) dapat merambah kepada praktek
ibadah lainnya? Misalkan, hadirnya Allah dalam diri
seorang pegawai atau karyawan tatkala ia sedang berada
di ruang kerja, ihsan bertetangga, ihsan pada diri seorang
pedagang tatkala berbisnis, dan ihsan dalam segala profesi

15
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

lainnya. Sehingga jika ada upaya seseorang mendapatkan


ihsan, ia tidak hanya menemukan ihsan di ruang ibadah
seperti shalat saja, tapi juga di ruang-ruang ibadah lain
dalam kehidupan nyata ini. Sehingga kita benar-benar
menjadi Insan kamil. Yakni manusia utuh yang bernaung
di bawah iman, Islam dan ihsan.
Oh ya, tentang shalat ia dapat menjadi media awal
bagi seseorang untuk dapat menghadirkan Allah dalam
bongkahan hatinya yang paling dalam untuk kemudian
mewarnai rentang kehidupannya di dunia (baik di dunia,
Hasanah fi ad-Dunya) menuju keabadian kelak (baik pula di
akhirat, Hasanah fi al-Akhirah).

16
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Isra’ Mi’raj,
Temukan Kedamaian Dalam Diri

Isra Mi’raj tidak hanya untuk baginda Rasulullah


Saw. saja, tapi juga untuk ummat manusia.
Apa pesan dari peristiwa itu?
Tulisan ini akan menghantarkan Anda kepada
perenungan & hikmah.

17
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Kira-kira 1400-an tahun lebih lalu, tepatnya 27 Rajab


sebelum hijrah (demikian perhitungan yang populer),
terjadi peristiwa luar biasa pada diri putra Abdullah, Mu-
hammad Saw. Buah dari peristiwa itu sebenarnya bukan
saja untuk pribadinya saja, melainkan pula untuk umat
manusia secara keseluruhan. Peristiwa itu disebut Isra dan
Mi’raj.
Di kampung-kampung atau di Majelis-majelis
tertentu biasanya kita memperingati peristiwa ini dengan
mendengarkan ceramah agama atau pembacaan kitab
yang menceritakan perjalanan suprarasional itu. Seperti
kitab Qishshah al-Mi’raj (Cerita tentang Mi’raj), dll.
Diceritakan, Isra Mi'raj terbagi ke dalam 2 tahap peristiwa.
Pertama. Isra, yaitu Nabi Muhammad Saw.
"diberangkatkan/diperjalankan di malam hari" oleh Allah
Swt. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kedua. Mi'raj,
yaitu Nabi Muhammad Saw dinaikkan ke langit tujuh,
sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat
tertinggi. Bagi umat Islam, kenyataan itu merupakan
peristiwa yang sangat berharga, karena saat itulah baginda
Nabi Saw dan ummatnya menerima perintah shalat lima
waktu, menariknya tidak ada Nabi dan Rasul sebelum
beliau mendapatkan tiket perjalanan menuju Sidratul
Muntaha.

18
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Meski Isra Mi’raj merupakan mukjizat luar biasa


bagi kenabian Muhammad Saw., namun pada peristiwa
itu dibeberkan pula berbagai hal yang membuat beliau
merasa sedih. Mungkin akibat terbukanya tabir rahasia
yang selama hidupnya berupa misteri sehingga beliau pun
menjadi enggan untuk kembali ke dunia. Lebih tepatnya
beliau sedih tatkala dibukakan tabir atau skenario besar
dari kehidupan fana ini yang terkadang, bahkan sering,
menjadi tempat pertumpahan darah sesama manusia;
penipuan, perselisihan, penindasan dan cara hidup hina
lainnya hanya karena hal sepele atau sebab kefanaan yang
dianggap abadi dan membahagiakan itu. Selain itu,
ditambah lagi pengalaman beliau bertemu Allah, dengan
kata lain, “betapa nikmatnya bertemu Allah, apalah dunia
fana itu”. Gambaran sederhana keadaan Mi’raj nabi Saw
itu seperti orang dewasa melihat si anak kecil. Seorang
dewasa menyaksikan dua orang anak kecil sedang berebut
mainan. Akibat saling rebutan ini si anak kecil pun
berkelahi, cakar-cakaran dan saling melukai satu sama
lain, penuh dendam tak berkesudahan. Berangkat dari
kejadian ini tentu sebagai orang dewasa merenung
sekaligus menilai, “Betapa naifnya anak-anak kecil itu,
hanya berebut mainan mereka pun saling merusak dan
menyakiti”. Demikian sudah ditetapkan melalui Firman

19
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Allah di dalam Al-Quran bahwa “dunia bagaikan arena


permainan” atau dalam lirik sebuah lagu “dunia ini
panggung sandiwara”, hanya saja kita mau mengambil
peran yang mana.
Bagaimana detil kisah Perjalanan Isra’ dan Mi’raj
Nabi Saw tidak perlu diulas kembali pada tulisan singkat
ini, karena kita sudah maklum adanya. Tapi pada
kesempatan ini pula penulis mencoba untuk mengajak
pembaca memaknai peristiwa penting tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Mandat utama peristiwa itu adalah
shalat. Kini bagaimana kita memaknai shalat itu dalam
kehidupan sosial. Langkah pertama tentu dengan meniru
sahabat Abu Bakar ra., yang tidak terjebak dalam
perdebatan sengit, Apakah Isra’ Mi’raj itu masuk akal atau
tidak, tapi cukup mempercayai dan membenarkan akan
kebenaran peristiwa tersebut. Kemudian yang lebih
penting adalah “apa” yang dapat kita petik dari peristiwa
itu, inilah langkah kedua. Langkah kedua ini dapat Anda
lakukan, salah satu caranya adalah tatkala tiba malam 27
rajab 1428 H (pada malam yang sama pada tahun
berikutnya), atau waktu yang tidak berjauhan dengan
tanggal tersebut, sambil duduk bersandar di kursi sofa
sembari memegang secarik kertas lalu berkonsentrasi

20
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

dengan memejamkan mata sejenak sambil menghirup


nafas dalam-dalam.
Ini sebagai permulaan cara menanamkan konsentrasi
diri. Dan cara seperti ini dapat pula Anda lakukan dengan
duduk bersila di atas sajadah. Atau agar terlihat santai
tapi serius bisa Anda lakukan dengan posisi yang Anda
senangi, asal Anda dapat menghayati butiran-butiran
hikmah atau bahasa lain sentilan beberapa ayat pada
Surah al-Isra’.
Patut dipahami bahwa untuk mewarnai penghayatan
Isra Mi’raj seseorang tidak hanya merenungi ayat-ayat
surah al-Isra’ saja, tapi bisa melebarkan sayap penghayatan
kepada kandungan surah-surah yang lain. Karena dalam
surah al-Isra’ sendiri ditegaskan bahwa Al-Qur’an menjadi
petunjuk ke jalan yang lurus … (baca Qs. al-Isra’ ayat 9).
Ayat ini mengindikasikan bahwa seluruh Al-Qur’an adalah
pesan Isra’ Mi’raj untuk kita semua.
Hanya saja sebagai langkah awal dalam moment
bersejarah ini, kita awali dari butiran-butiran ayat pada
surah al-Isra’ terlebih dahulu. Memang ayat pertama surah
ini menegaskan peristiwa tersebut, tapi kemudian berbeda
dengan ayat kedua. Oleh karena itu, sebagai catatan pada
saat penghayatan kita tidak membaca surat al-Isra’ secara
berurutan dari ayat 1 sampai dengan 111. Apalagi jika kita

21
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

membaca ayat pada surah ini secara berurutan


menggunakan terjemahan berbahasa Indonesia, maka
akan muncul pertanyaan mengapa ayat pertama tidak ada
kaitannya dengan ayat kedua. Kita akan menemukan
kesulitan pemahaman jika membaca secara sistematis,
kecuali bagi ahli Al-Qur’an yang memahami ilmu
Munasabah ayat (korelasi antar ayat). Jadi, kita akan
menggunakan cara dengan mengambil butiran dari
beberapa ayat pada surah ini, berkaitan dengan beberapa
kasus dari kehidupan kita. Dalam bahasa lain, kita
hidupkan makna ayat tersebut dalam kenyataan kita hari
ini. Meskipun dengan cara sederhana.
Pembaca yang dirahmati Allah. Terdapat beberapa
point penting pada surah al-Isra’ kaitannya dengan
mentalitas pribadi dan sikap sosial yang dapat menjadi
renungan kita bersama. Point-point ini bisa kita tulis
dalam secarik kertas (seperti anjuran di atas tadi),
kemudian kita pegang saat duduk di sofa, atau di atas
sajadah, lalu mulailah kita luangkan waktu senggang
dengan membaca satu persatu ayat di bawah ini, diselingi
renungan mendalam sebagai peleburan diri bersama ayat-
ayat-Nya. Pejamkan mata, Hayati secara khusyu’ (ikhlas)
Barakallhu laka….
Bismillahirrahmanirrahim …Untukku wahai ……

22
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

1. Sudahkah aku menyadari bahwa tiap-tiap


orang memikul dosanya masing-masing.(QS 17 :
13-22),
2. Sampai hari ini, sudahkah aku berbakti
kepada kedua orang tuaku? Atau masihkah aku
akan menjaganya selama hayat dikandung badan?
(QS 17 : 23-25)
3. Sudahkah aku memiliki jiwa sosial,
membantu kaum kerabat, orang-orang miskin,
serta berlaku hemat dalam hidup? (QS 17 : 26-30).
4. Bagi aku yang memelihara anak yatim,
adakah harta anak-anak yatim termakan olehku
atau sudahkah harta yang dititipkan kepadaku itu
berbuah manfaat untuk mereka? (QS 17 : 34),
5. Sudahkah aku berlaku jujur dalam
berdagang? (QS 17 : 35),
6. Sudahkah aku memiliki ilmu atas apa yang
aku lakukan? (Qs 17 : 36)
7. Sampai detik ini masihkah aku bersikap
sombong dengan apa yang aku kuasai dan miliki?
(QS : 37),
8. Sudahkah aku menyadari bahwa orang-
orang kafir itu tidak dapat memahami Al Quran?
(QS : 45 48).

23
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

9. dan seterusnya ….

Demikian beberapa ayat yang dapat menjadi titik


tolak renungan kita dalam menghayati peristiwa Isra
Mi’raj tahun ini. Semua kesadaran, lalu keinginan untuk
memperbaiki kelalaian yang diperoleh dari renungan di
atas adalah cermin dari orang yang berhasil melakukan
shalat secara baik. Semoga ini menjadi langkah awal
sederhana yang bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya.
Maha Benar Allah dengan segala firman Nya.

24
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

25
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Investasi Akhirat

Hidup di dunia adalah perjalanan menuju akhirat.


Sama halnya ketika kita hidup di alam rahim yang
merupakan perjalanan menuju dunia. Jangan tanyakan
akhirat itu seperti apa, cukup bercermin dari alam rahim.
Saat itu kita pun belum mengerti seperti apakah
kehidupan dunia ini. Bahkan, kita yang sudah lama hidup
di dunia ini belum tentu mampu memberikan satu
gambaran utuh tentang kehidupan dunia. Untuk itu,
agama membantu kita mengerti akan esensi kehidupan
dunia dan tujuannya serta mengabarkan, meski sangat
sedikit, tentang kehidupan akhirat.
Pembaca budiman, selama menjalani peran sebagai
hamba Allah (manusia), Islam dapat kita ibaratkan sebagai
sebuah kendaraan. Dan kendaraan yang menyelamatkan
itu disiapkan bagi manusia khususnya dan makhluk selain
manusia umumnya. Hanya saja, manusia diberi peran
lebih berupa amanah sebagai khalifah Allah di muka
bumi.

26
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Ketika kita hendak memiliki dan menjalankan


kendaraan itu, cukup dengan dua kalimah syahadat. Kini,
yang patut kita perhatikan, Iman, Islam dan muslim
adalah kesatuan tak terpisahkan. Ia akan menjadi
kenangan terindah dalam menelusuri tour kehidupan
yang penuh tantangan ini. Perjalanan menuju keabadian
itu kita narasikan saja sesuai cara berpikir manusia.
Jalan tol yang lurus, Shiratal Mustaqim adalah jalan
menuju akhirat. Kira-kira demikian. Persimpangan jalan
tak terelakkan. Di sisi kanan jalan terdapat tempat
persinggahan berupa kebaikan-kebaikan (Al-Khairat).
Sementara di sisi kiri terdapat tempat persinggahan
berupa keburukan-keburukan (As-Sayyiat). Nah, saat ini
masing-masing dari kita telah memiliki kendaraan. Soal
mesinnya seperti apa, jok kendaraan, ban dan roda yang
bagaimana, tidak menjadi masalah, asal kendaraan itu
adalah Islam.
Tour kehidupan secara resmi telah dimulai (Sejak aqil
baligh). Mulailah pula kita menghidupkan mesin
kendaraan. Roda pun berputar melaju ke jalanan yang
banyak persimpangan dan tempat persinggahan tadi.
Persimpangan dan persinggahan itu adalah milik dua
perusahaan besar. Ada yang bernama PT Keburukan
Multiguna dan adapula bernama PT Kebaikan Multiguna.

27
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Dua perusahaan ini menyediakan tempat investasi bagi


perjalanan tour kehidupan dunia sekaligus investasi untuk
tujuan akhir, akhirat.
Dua perusahaan besar itu memiliki berjuta-juta anak
cabang yang tersebar di pinggir kiri dan kanan jalan yang
kita lewati. Otomatis, PT Keburukan Multiguna
menyediakan bermacam-macam outlet, toko dan café-café.
Misalkan Kafe kemunafikan, Outlet kriminal, toko super
rakus dan lain-lain. Selain itu, kita juga ditawarkan menu
oleh pelayan café, berupa kopi kedengkian dan kemalasan.
sebotol kecurangan dan sekantong penipuan, dan lain-lain.
Sementara di tempat-tempat persinggahan itu terdapat
saudara-saudara kita yang ingin menumpang, sebab
kendaraan mereka rusak parah. Rusak parah akibat
mampir ke persingggahan milik PT Keburukan Multiguna
tadi.
Pastinya, semua tempat persinggahan itu akan kita
lewati dalam tour ini. Soal singgah atau tidaknya adalah
pilihan kita sebagai pemilik kendaraan. Konsekwensi
sederhannya, apabila kita memberikan tumpangan kepada
saudara kita itu, mungkin saja sesekali kita menuruti
permintaannya untuk mampir atau ikut berbelok ke
persimpangan yang jauh. Atau mungkin kendaraan kita
ikut rusak sebab betapa beban bawaan berupa barang–

28
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

barang tadi merusak jok, ban dan bahkan mesin


kendaraan.
Sebenarnya, kendaraan yang kita kendarai itu sangat
cocok dan tepat apabila singgah di café-café atau di outlet-
outlet milik PT Kebaikan Multiguna. Di sana terdapat
masjid dan Mushalla, ruang untuk bersedekah, café haji,
toko taqwa, outlet pengajian agama, dan lain-lain.
Mengingat perjalanan yang sangat jauh itu membutuhkan
bekal kebenaran dan amal shaleh. Pertanyaannya adalah
dengan apa kita memilih tawaran singgah dari outlet-oulet
tadi? Pilih keburukan atau kebaikan? Jawabnya adalah
“dengan Iman”. Iman yang berkualitas. Tidak hanya
terucap dibibir saja, berisi dalam kepala, tapi menyatu
secara utuh dan dominan dalam diri seorang muslim.
Ketika iman menjadi landasan, maka tempat persinggahan
kita adalah café-cefe kebaikan. Supir muslim yang bersama
kendaraan islam itu singgah di café milik PT Kebaikan
Multiguna.
Tapi jangan heran, banyak pula kendaraan Islam
bersupir muslim singgah di Café seberang jalan merek PT
Keburukan Multiguna. Banyak yang beragama Islam, tapi
karena lemahnya iman, tak heran tempat mampirnya
nggak karu-karuan. Yang patut kita syukuri adalah
kenyataan akhir-akhir ini, banyak di antara umat Islam

29
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

mampirnya di café-café milik kebaikan Multiguna. Outlet


pengajian agama, café haji dan lain-lain.
Jika dibandingkan, antara PT Keburukan Multiguna
dan PT Kebaikan Multiguna, ummat Islam saat ini lebih
banyak memilih untuk singgah di café milik PT Kebaikan
Multiguna. Alhamdulillah. Meski demikian, masih ada
persinggahan (amal perbuatan) yang tidak mengandung
nilai investasi kebaikan, dan bahkan ada yang merugi. Hal
ini dikarenakan tidak ada atau lemahnya iman sembari
amal perbuatan yang tidak mengandung nilai ibadah.
Kaum muslimin sangat banyak berkerumun di outlet
pengajian, café haji dan lain-lain. Semoga mereka
membawa nilai iman sebagai investasi perjalanan di dunia
dan di akherat kelak. Bukan gaya hidup religius yang
hampa dari nilai-nilai ibadah.

30
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

31
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

FITRAH DIRI

Apa makna fitrah sesungguhnya


dan apa fungsi fitrah dalam diri seorang muslim.
Lantas, apa alasan kita untuk tetap mempertahankannya?

Fitri atau Fitrah adalah kata yang cukub akrab


terdengar di telinga kita, ia biasanya digunakan sebagai
nama seseorang misalnya Fitriani atau Fitri (kata Fitri saja),
termasuk hari perayaan Islam yang setiap tahunnya kita
peringati, Hari Raya Idul Fitri. Dan hari yang disebut juga
hari kemenangan ini diartikan sebagai menang dari
berbagai tantangan kehidupan, baik yang berkaitan
dengan penghambaan diri kepada Allah Swt., (Ibadah
ritual) maupun hubungan di antara sesama kita (ibadah
sosial), dengan kata lain kembali kepada fitrah. Mudah-
mudahan, semua bentuk ibadah yang kita jalani selama
ini, khususnya di bulan Ramadlan mendapatkan berkah
dan ampunan Allah Swt.
Selain tentang nama seseorang dan nama hari besar
Islam, sebenarnya apa Fitri itu? Secara garis besar para

32
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Ulama mengungkapkan ada tiga makna kata fitri atau


fitrah. Pertama, asal kejadian. Fitrah dengan arti asal
kejadian, dihubungkan dengan pernyataan seluruh
manusia tatkala mereka berada di alam arwah. Saat itu kita
mengakui ketuhanan Allah Swt.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi
(tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka, dan Allah
mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman),
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab, “Betul
(Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan
demikian itu, Kata Allah) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap
ini.” (QS. al-A’raf, 7 : 172).

Kedua, kesucian. Fitrah dengan arti kesucian terdapat


dalam hadits yang menyebutkan bahwa semua bayi
terlahir dalam keadaan fitrah, suci. Dan bayi tersebut oleh
kedua orang tuanyalah dapat dijadikan sebagai pemeluk
Kristen, Yahudi, atau ataupun Majusi (H.R. Bukhari
Muslim). Makna fitrah di sini dapat pula diartikan sebagai
potensi manusia. Kedua orang tua sebagai faktor
lingkungan atau eksternal. Demikian penegasan teori
konvergensi dalam dunia pendidikan. Jadi, “potensi atau
fitrah” dapat pula diartikan kesucian.

33
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Ketiga, agama yang benar. Fitrah dengan arti agama


yang benar, yakni Allah Swt. Sebagian para penafsir Al-
Qur’an menghubungkan makna ini dengan bunyi ayat,
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah); (tetaplah atas) Allah yang telah menciptakan manusia
fitrah. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama
yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS.
Ar-Ruum, 30 : 30)
Dalam bahasa mudahnya, fitrah di sini adalah agama
Islam. Jadi, agama yang benar dan sesuai dengan fitrah
manusia adalah agama Islam.
Dari tiga uraian di atas, jelas sudah kata fitrah
mengandung kesimpulan “Benar-benar kembali pada asal
kejadian sebagai manusia suci yang beragama benar,
Islam. Dalam bahasa tegasnya berasal dari kesucian,
kembali kepada kesucian.
Kemudian, fitrah yang kita miliki ini hendaklah
berfungsi secara baik untuk kebaikan pula. Kebaikan
berupa keteguhan beragama yang berhubungan dengan
Allah Swt., dan kebaikan berupa komitmen sikap dan
tingkah laku yang baik nan mulia yang berhubungan
dengan sesama manusia. “Hablumminallah Wa
hablumminannas.” Hal ini tentu untuk menjaga koridor kita
sebagai Hamba Allah Swt. dan khalifah Allah di muka

34
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

bumi. Lalu, tatkala dalam perjalanannya kita dicengkeram


oleh hambatan dan tantangan berupa noda dan dosa,
maka untuk menjaga titik keseimbangan dalam hidup ini
segeralah kembali kepada fitrah.
Semoga kita mendapatkan fitrah sesungguhnya.
Yang ditandai dengan berlanjutnya kualitas ibadah yang
pernah kita jalani selama ini dan terlaksananya komitmen
agar fitrah yang dianugrahkan Allah Swt. itu tetap terjaga,
kapan dan di mana pun kita berada karena belum tentu
kita bertemu lagi dengan kesempatan hidup di masa yang
akan datang.

35
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Ilmu & Amal

Jika terjadi kesalahan, biasanya yang disalahkan,


kalau bukan sistem berarti pelaku sistem/SDM.
Padahal, agama memadukan keduanya bukan
untuk dipisah-pisahkan.

Saat ini, saya atau mungkin juga Anda hampir


sepakat bahwa selalu saja ada hal-hal yang tidak beres
(kurang sempurna) dalam hidup dan kehidupan kita.
Entah itu masalah pribadi, keluarga, lingkungan kerja atau
pun lingkungan sosial kita. Entah itu masalah ekonomi,
kekuasaan, apalagi kemiskinan. Kenyataan ini,
ketidakberesan atau kurang sempurnanya sesuatu itu
menurut pandangan orang bijak adalah perkara lumrah
dalam dinamika hidup seseorang atau suatu masyarakat.
Namun, jadi masalah ketika perkara lumrah itu lepas dari
teori keseimbangan menurut koridor kepantasan
(proporsional). Terlalu tidak beres atau terlalu tidak
sempurna.

36
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Oleh karena itu, agar tidak terlalu bermasalah, maka


tepatlah bahwa keseimbangan dan keharmonisan menjadi
nilai universal bagi kita sebagai pemegang amanah Allah
untuk menjalani dan mengatur kehidupan ini. Termasuk
keseimbangan antara ilmu dan amal. Teori dan praktek.
Nilai dan perbuatan. Jabatan dan kebijakan. Status dan
tindakan.

Allah SWT berfirman :


"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung)
ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan
sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan
mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah : "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran."

Ayat ini secara tidak langsung mengisyaratkan agar


manusia memiliki sikap dan melakukan apa yang ia
ketahui dan tidak serampangan dalam melaksanakan
suatu tindakan. Artinya, apabila ia berilmu maka
amalkanlah ilmu, beramal dengan ilmu. Selain itu, ayat di
atas juga mengisyaratkan agar kita yang berakal
hendaklah berilmu dan senantiasa belajar.

37
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Terkait beramal, sedikit ada koreksi. Seseorang biasa


menyebutkan, “Saya telah beramal dengan memberikan
sedekah kepada Fakir Miskin”, padahal ibadah yang kita
maksudkan itu adalah "beramal shaleh". Jadi, ibadah
bukanlah sekedar amal, tapi amal shaleh. Beramal, Kata
“amal” sebenarnya memiliki pengertian; perbuatan,
tingkah laku, peran, sepak terjang atau tugas. Anda
mengerjakan tugas kantor, menyetir mobil atau sepeda
motor, bahkan sedang mengangkat telepon, itu semua
disebut beramal. Apabila melakukan sesuatu yang tidak
melanggar syari’at, lalu diniatkan karena Allah, maka
demikian itu disebut amal ibadah. Baiklah, Kita tinggalkan
dulu soal amal ibadah dan kembali melihat ayat di atas.
Ayat 9 pada surah Az-Zumar (39) di atas paling tidak
menegaskan bahwa agar manusia ini sempurna dalam
menjalani kehidupannya, maka satu prinsip hidup yang
patut kita pegang adalah "Berilmu amaliah, beramal
ilmiah."
Adapun ilmu apa saja yang boleh dan tidak untuk
diamalkan, atau amal apa saja yang menuntut kita untuk
berilmu ada pembahasannya tersendiri dalam buku-buku
yang berkaitan dengan menuntut ilmu dan beramal.
Tulisan ini hanya mencoba untuk mengingatkan kita
kembali akan semangat tentang berilmu dan beramal.

38
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Secara kasat mata, saat ini banyak ilmu yang harus kita
amalkan justru jarang kita lakukan. Demikian pula
sebaliknya, banyak amal atau perbuatan yang kita
lakukan, tapi jarang yang dapat kita pertanggungjawabkan
dengan ilmu (secara ilmiah). Beberapa jabatan yang
berkaitan dengan peran misalnya, kita selalu melihat
orang-orang yang memerankan status dan jabatan adalah
mereka yang tidak tepat untuk memerankan dan
memegang jabatan itu, atau bahasa lain mereka yang
bukan ahlinya. Di sinilah orang tersebut mengabaikan
kenyataan beramal ilmiah. Kenyataan ini bisa
menghinggapi siapa saja, apakah ia seorang manajer,
pimpinan, kepala bagian, guru, orang tua, ustad, para da'i
bahkan status disebut ulama sekalipun.
Kemudian, banyak juga di antara kita yang ilmunya
segudang, tapi tidak berperan apapun, atau ada yang
beralasan tidak diberi kesempatan untuk beramal. Maka ia
sama halnya dengan mengabaikan separuh ayat di atas.
Bisa dikatakan ia tidak menempatkan sesuatu pada
tempatnya, alias tidak menempatkan ilmu untuk
diamalkan.
Siapapun yang berada di salah satu dari dua contoh
di atas, patut mengingat kembali sabda baginda Nabi Saw
sebagai berikut, "Apabila diserahkan suatu perkara kepada

39
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran atau


kegagalan (kiamat) (HR. Bukhari)." Hadits ini bisa kita
jadikan sebagai teguran bagi orang yang melakukan peran
tanpa ilmu, atau orang yang memiliki ilmu tapi tidak
mengamalkannya.
Apakah saya atau Anda sebagai pengilmu yang
diminta untuk beramal atau pengamal yang diminta untuk
memiliki ilmu? Semoga kita mulai menyadari untuk
berpijak kepada dua hal tersebut, memiliki ilmu dan mau
mengamalkannya.
InsyaAllah, dengan tekad berilmu amaliah dan
beramal ilmiah ini kita tidak mudah untuk menyalahkan
sistem, meski ia merupakan ciptaan manusia jua. Asalkan
sistem yang diciptakan oleh manusia itu pula berdasarkan
ilmu, termasuk melaksanakannya.
Subhanakkalhumma Wabihamdika ...

40
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

41
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Memilih,
Antara Keinginan & Kebutuhan

Memilih sekolah ibarat memilih menu makanan. Karena-


gizi dan saripati didalamnya ikut menentukan
menjadi apa anak kita di masa mendatang.

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan


kepada beberapa pilihan, meski sekecil apapun bentuknya.
Gampangnya, “Hidup adalah Pilihan, apapun itu dalam
kehidupan pandailah kita untuk memilih”. Misalkan saja
di saat akan berangkat tidur, sambil memejamkan mata,
paling tidak kita harus menentukan, “Pukul berapakah
saya akan bangun esok hari?” Apabila secara rutin kita
bangun pada pukul 05.00 pagi, setelah melalui beberapa
pertimbangan, maka kita telah memilih waktu tersebut
sebagai jadwal rutin bangun tidur. Jadi, dapat ditegaskan
bahwa dalam menentukan pilihan, kita selalu melakukan
pertimbangan yang menghasilkan kenderungan untuk
memilih, “Manakah yang menjadi pilihan kita?”.

42
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Point penting yang perlu kita ingat di saat memilih


adalah menurut siapakah pilihan itu, lalu apakah alasan
kita memilihnya. Apakah karena keinginan ataukah sebab
kebutuhan. Dua pertanyaan ini penting untuk dijawab,
karena ia ikut menentukan seperti apa langkah-langkah
yang akan kita lakukan, misalnya sekolah. Tahun ajaran
baru selalu saja tiba. Saat itulah para orang tua yang
memiliki anak usia sekolah sibuk mencari informasi
tentang sekolah mana yang akan diikuti anaknya tercinta.
Jika demikian, maka patut kita perhatikan apakah di
saat menjatuhkan pilihan nantinya itu menurut keinginan
ataukah kebutuhan. Keinginan orang tua ataukah
kebutuhan anak. Keinginan anak ataukah Kebutuhan
orang tua. Keinginan anak dan orang tua ataukah
kebutuhan anak dan orang tua. Biasanya, sebagai orang
tua kita merasa mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan
oleh sang anak, meski pada kenyataannya sering terbukti
salah. Untuk itu, hal ini patut kita perhatikan dengan cara
seksama terutama di saat mencoba menyelami apa yang
sebenarnya dibutuhkan sang anak, sembari melihat
kemampuan apa (potensi scientific dan skill) yang ia
miliki. Dan penilaian ini tentunya berangkat dari
kebutuhan, bukan keinginan. Misalkan di saat mau
mendaftarkan si anak, jangan sampai kita memilih sekolah

43
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

hanya karena gengsi (sekolah Pavorit dan mahal), bukan


kecocokan untuk si anak dalam berkembang dan
menggapai prestasi. Kemudian, jangan sampai si anak
salah dalam menangkap maksud pilihan itu, misalkan ia
beranggapan bahwa sekolah adalah sebagai tempat
bergaul layaknya di mall-mall. Jika demikian, maka tak
ayal sekolah jadi ajang pamer kemewahan milik orang tua.
Dan sebenarnya sekolah adalah sarana mengembangkan
potensi diri agar layak sebagai khalifah Allah pemegang
amanah.
Seperti diketahui bahwa “keinginan” selalu
menjebak kita kepada nafsu, perilaku kelewat batas,
sementara dasar pilihan yang berangkat dari “kebutuhan”
akan mengajak kita untuk melihat kenyataan, pilihan
realistis. Oleh karena itu, memilih sekolah sebaiknya
berangkat dari kesadaran orang tua dan anak yang
berdasarkan kepada kebutuhan juga kemampuan, bukan
mengikuti trend yang sedang berkembang (keinginan).
Dikarenakan pula agama tidak menganjurkan “keinginan
(nafsu)” sebagai pijakan dasar dalam menentukan pilihan,
melainkan dasar kebutuhan (kemampuan).

Peran Orang Tua

44
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Nabi SAW pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan


dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya-lah ikut
menentukan apakah anaknya itu akan menjadi seorang Yahudi
atau seorang Nasrani.” (Al-Hadits).
Kita sepakat bahwa peran orang tua cukup besar
dalam menentukan masa depan anak. Hanya saja cara kita
menentukan masa depan mereka berbeda. Jika visi
pendidikan umumnya untuk kesuksesan dunia, maka
agama lebih dari itu, kesuksesan dunia dan akhirat. Oleh
karena itu visi pendidikan menurut agama dapat menjadi
cara dalam menentukan bagaimana tumbuhkembangnya
anak nantinya.
Berangkat dari visi berbasiskan potensi anak dan
peran orang tua, maka hal selanjutnya yang patut kita
perhatikan adalah perlunya dialog antara orang tua dan
anak (Hal ini dilakukan tatkala anak telah layak untuk
diajak berdialog). Hal ini tentunya berdasarkan
kebutuhan, karena antara lingkungan pertumbuhan dan
perkembangan anak saat ini dan lingkungan orang tua di
masa lalu terjadi dinamika masing-masing, yang belum
tentu harus sama. Oleh karena itu pula perlunya sikap
moderat dalam menentukan langkah-langkah menuju
pilihan yang tepat. Biasanya hal pertama yang seyogyanya
dilakukan adalah membuat kriteria sekolah yang ingin

45
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

dituju. Misalkan, apakah akan memilih sekolah yang


bermetode pembelajaran dengan disiplin tinggi. Atau
sebaliknya, sekolah dengan metode belajar yang lebih
moderat, sepenuhnya menyerahkan kepada kreativitas
anak sementara guru hanya sebagai pendamping. Untuk
hal seperti ini baiknya kita membuat daftar maksimal 4
sekolah, sekolah yang paling mendekati kriteria yang
diinginkan. Agar mudah, kita tidak memasukkan terlalu
banyak pilihan sekolah, karena malah tidak akan membuat
pilihan menjadi sesuatu yang fokus.
Selanjutnya, kita mengajak anak melakukan hunting
ke-4 sekolah yang dimaksud sambil berdiskusi tentang
kelebihan dan kekurangan masing-masing sekolah.
Dengan demikian dapat diketahui sekolah mana yang
paling menarik minat anak.Meski kita telah melakukan hal
di atas, sebagai orang tua jangan menganggap remeh akan
kemampuan anak, karena pada saat usia pra sekolah anak
mengalami perkembangan fisik dan mental yang sangat
pesat. Untuk itu, ciptakan diskusi yang menyenangkan
sehingga akhirnya sekolah yang menjadi pilihan anak
tidak jauh berbeda dengan apa yang kita inginkan. Di
sinilah peran orang tua dalam mengarahkan masa depan
anak.

46
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Kemudian, pada saat kita telah membuat pilihan


sekolah mana yang akan diikuti anak nantinya, buatlah
kesepakatan sukarela dengan anak bahwa sekolah yang
akan diikuti itu adalah murni pilihan anak. Dengan
demikian anak akan merasa bangga karena diberi
kesempatan melakukan hal penting dalam hidupnya. Di
sisi lain anak akan lebih bertanggung jawab karena merasa
sekolah yang dimasukinya adalah pilihannya sendiri. Dan
yang paling utama, pertimbangan dan pilihan tersebut
berdasarkan kebutuhan, bukan semata karena keinginan.

47
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Kualitas Halal
di antara Kualitas Hidup

“Bagaimana Cari Yang Halal, Yang Haram


Saja Susah”

Demikian ungkapan yang pernah terdengar di telinga kita.


Bahkan ia menjadi lirik sebuah lagu
oleh penyanyi dangdut, Rhoma Irama.

Bagi Anda yang mampu dan biasa mencari yang halal,


lirik lagunya akan berbeda.

“Mengapa Cari Yang Haram, Yang Halal Saja


Banyak Macamnya”

Saat mendengar kata “halal”, biasanya yang


tergambar dalam benak kita adalah makanan, atau bahasa
lain adalah rezeki. Hal ini senada pula dengan seruan para
Dai yang sering kita dengar terkait meraih sesuatu yang
halal meski yang dimaksud rezeki bukanlah makanan
semata.
Bunyi ayat-Nya antara lain.

48
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Hai sekalian manusia (untuk seluruh manusia di muka bumi),


makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan jangalah kamu mengikuti langkah-langkah Syaithan, karena
sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(QS. Al Baqarah (2) : 168).

Ada yang berpendapat bahwa perintah makan pada


ayat di atas lebih dari sekedar makanan. Ia memiliki
makna “Apa saja yang dimanfaatkan oleh manusia”. Tapi
saya hanya memfokuskan pada makna perintah makanlah
makanan. Seruan makan yang kita anggap sepele ini
sebenarnya menjadi penting oleh teori-teori sosial. Sebuah
teori mengatakan bahwa kemakmuran ekonomi
merupakan sesuatu yang vital bagi bidang kehidupan
lainnya. Apalagi teori ini dibenarkan oleh pernyataan
seorang bapak enam orang anak. Ia berkata “Bagaimana
saya akan menyekolahkan anak-anak, makan saja susah”.
Artinya kemakmuran ekonomi menjadi titik tolah meraih
sesuatu yang lebih baik di bidang lainnya, seperti
pendidikan, kesehatan, teknologi dan lain sebagainya.
Pertanyaannya mengapa Allah menyeru hamba-Nya untuk
memakan makanan yang halal lagi baik. Tambah lagi
mengapa untuk urusan makan saja masih diingatkan
untuk tidak mengikuti jejak musuh kita sepanjang masa
itu. Jawabnya cukup mudah, karena akan berbeda

49
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

kenyataannya jika manusia tidak memakan makanan halal


lagi baik, apalagi meniru jejak langkah setan yang jauh
dari kebenaran.
Saya tidak akan melampirkan betapa dahsyatnya
bencana nasional akibat ulah tangan manusia. Tangan
manusia yang selalu berebut makanan. Namun semoga
sudah cukup dengan kita mengamati keperihan hidup
yang selalu kita temukan digang-gang sempit, pinggiran
jalan, kolong jembatan dan tetangga kita yang mereka
semua itu adalah korban dari rebutan makanan manusia
rakus, tentu dengan cara yang tidak halal. Jadi tulisan ini
tidak dimaksudkan untuk menggugat kenyataan rebutan
makanan yang haram dan remang-remang itu, tapi cukup
dengan melihat keadaan sekitar sebagai kritik bersama.
Lalu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak pembaca
budiman untuk melihat kepada sesuatu yang baik tapi
sempat terabaikan, yaitu kenyataan orang-orang yang
menjalani seruan memakan makanan yang halal lagi baik.
Makanan dan Rezeki yang halal menjadi fokus tulisan ini.
Imam Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) membagi
kualitas halal menjadi empat tingkatan. Hal ini ia beri
istilah empat tingkatan orang yang berhati-hati dengan
sesuatu yang diharamkan. Pertama, berhati-hatinya orang
biasa (awam), yaitu meninggalkan segala sesuatu yang

50
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

haram menurut fatwa ulama Fikih. Jika melanggar ia dicap


fasik atau disebut maksiat dan sifat adilnya dicabut. Kedua,
berhati-hatinya orang shaleh (shalihun), yaitu menghindari
sesuatu yang syubhat atau tidak ada kejelasan apakah
perkara itu halal atau haram. Apalagi yang haram. Ketiga,
berhati-hatinya orang yang bertakwa (muttaqun), yaitu
menghindari sesuatu yang dihalalkan meski tidak
mengandung syubhat karena khawatir membuat ia terlena
dengan sesuatu yang halal itu dan sesuatu itu tidak baik
menurut mereka. Seperti sibuk menumpuk harta untuk
kesenangan duniawi. Dan yang Keempat, berhati-hatinya
orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran
Rasul (shiddiqun). Jika sesuatu yang halal itu membuat ia
berpaling dari Allah atau niat untuk bertakwa kepada-
Nya, seperti berdagang yang membuat ia lupa dengan
ridla dan Rahmat Allah, maka hal itu ia hindari (namun,
dengan berdagang, kaya, seseorang malah semakin ingat
dan takut kepada Allah, ini yang lebih baik). Di manakah
kita di antara empat tingkatan tersebut?
Anggap saja pada tingkatan pertama. Tapi perlu kita
perhatikan, meskipun secara hukum fikih sesuatu yang
kita lakukan adalah benar, tapi belum tentu memiliki nilai
lebih. Oleh karena itu, dalam standart minimum kita
diwajibkan zakat dan disunnahkan bersedekah sebagai

51
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

upaya penyucian jiwa dan harta. Melihat hal ini


tampaknya sulit mencapai tingkat Shiddiqun, menjaga diri
agar di saat memperoleh rezeki dan bertransaksi tidak
membuat kita berpaling dari Allah Swt. Namun, yang
penting saat ini adalah mari secara bersama-sama kita
mulai pada tingkatan kedua, berhati-hati kepada sesuatu
yang syubhat.
Dengan naik pada tingkat Shalihun ini semoga hasil
yang halal tidak sekedar memenuhi standarisasi prosedur
hukum, tapi juga menimbang keadaan orang lain yang
terlibat dalam proses menggapai hasil tersebut. Misalnya
mereka yang terlibat dalam proses perolehan rezeki,
seperti asisten, pekerja/buruh, pembantu dan orang-orang
lain yang terlibat di dalamnya. Mengingat hal ini berkaitan
dengan kualitas hidup dan keluarga kita sebagai umat
terbaik Muhammad SAW.
Oleh karena makanan merupakan salah satu faktor
penentu kualitas hidup, maka makanan yang halal lagi
baik (halal dan bergizi) menjadi menu penting dalam
membina kehidupan berkualitas. Mengingat makanan
yang kita makan sebagiannya mengalir dalam darah,
menyebar ke seluruh tubuh, menjadi daging, syaraf dan
lain-lain, ikut menentukan kualitas pikir, sikap dan
tingkah laku kita.

52
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Meski demikian muncul satu pertanyaan tentang


kaitannya sesuatu yang halal dengan kualitas. Bukankah
gizi dan nutrisi justru terlihat nyata dalam melahirkan
orang-orang berkualitas. Lihatlah peradaban dunia saat ini
dipimpin oleh mereka yang makanannya bergizi dan
bernutrisi baik. Bukankah demikian sudah cukup sebagai
bukti. Melihat alasan ini memang benar adanya, namun
tidak secara total. Karena kenyataan menunjukkan banyak
orang sukses, sehat badannya, kuat fisiknya malah menjadi
perusak lingkungan dan kehidupan orang lain. Jika gizi
dan nutrisi, pakaian dan kendaraan, atau apapun yang
dihasilkan dari sesuatu yang rendah nilainya, maka cukup
sulit membina kehidupan bermutu dan melahirkan
manusia-manusia berkualitas seperti sosok baginda Nabi
Muhammad Saw. yang memiliki sifat Shiddiq, Amanah,
Tabligh, dan Fathanah. Dengan alasan ini pula muncul
satu slogan “Ingin hidup dan menjadikan manusia
berkualitas, awalilah dari cara kita memperoleh makanan”
Makanan atau hasil yang halal nan berkualitas. Semoga.
Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.

53
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Gugat Musibah

Saat Anda lahir kehidupan ini dalam kondisi


tak menentu. Musibah datang silih berganti.
Orang tidak bersalah ikut menderita dan
bersedih hati. Sikap rela dan sabar menjadi
penghibur hati. Padahal mereka bukanlah
santapan jiwa semata.
Lalu seperti apa rela dan sabar itu?

Saat ngobrol santai di Warung Pak Jon, seorang


teman, katakanlah ia Ahmad, mulai membuka
pembicaraan yang agak sedikit serius. Ia bertanya,
“Mengapa hidup ini selalu ada musibah? Terkadang ia
malah diberikan kepada orang yang tidak bersalah”
Sebelum ada yang menjawab, saya klarifikasi
penggalan kalimat terakhir, “diberikan”, diberikan oleh
siapa?” “Oleh Allah dong!” Jawab Ahmad penuh
semangat.
Saya agak ragu dengan tuduhan ini. Mana mungkin
Allah menimpakan Musibah. Kalau begitu sungguh kejam

54
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Tuhan yang kita sembah itu. Sambil berpikir santai saya


teringat dengan istilah “Sunnatullah”, hukum
keseimbangan. Saya pun mencoba untuk membuktikan
bahwa melalui sunnatullah pertanyaan kawan karib saya
ini terjawab.
“Ahmad, saya pikir kita harus mengerti apa itu
sunnatullah. Karena proses kehidupan ini menggunakan
hukum keseimbangan. Maksud saya bagaimana dalam
hidup kita selalu menjaga keseimbangan.” “Saya setuju
itu!”, Iskandar nyeletuk, meskipun ia belum mengerti arah
pembicaraan saya. Iskandar meneruskan, “Makanya di
awal tadi Ahmad sudah bertanya mengapa orang tidak
bersalah tetap saja mendapat cobaan. Bahkan orang
beriman dan bertakwa ikut serta, bukankah mereka itu
seharusnya mendapatkan kemudahan dan kebahagiaan,
demikian baru dikatakan seimbang”
Saya merenung sejenak. Lalu, secara spontan saya
pun tertawa sambil ngledek, “Apa benar mereka beriman
dan bertakwa. Jangan gara-gara melihat rumah orang yang
memakai sorban ikut kebanjiran, kita mengatakan, hai,
orang beriman itu sedang tertimpa musibah.” ”Ah, bisa
aja kamu.” Sambut Ahmad yang saat itu kebetulan
memakai sorban.

55
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Tapi saya tetap akan menjawab gugatan teman saya


ini. Meski belum mampu, dengan agak serius dan
bersungguh-sungguh saya pun berkata kepadanya.
“Ahmad, demikianlah tugas manusia, kita diberi ladang
berupa hamparan bumi untuk dikelola. Di dalamnya
terdapat hukum keseimbangan (sunnatullah). Tugas kita
adalah menciptakan kemaslahatan, karena kemaslahatan
adalah wujud dari keseimbangan.”
Iskandar yang konsent terhadap masalah
kemanusiaan mulai tertarik berbagi pengalaman ”Sikap
optimis ini terlalu ideal kawan. Saat lahir, kita sudah
mendapatkan kehidupan ini dalam kondisi berat sebelah.
Penindasan hak asasi, ketidakadilan ekonomi, sosial,
politik dan lain-lain menjadi peristiwa sehari-hari”
Saya pun melanjutkannya, ”Ya!... saya setuju dan
memang demikian faktanya. Dan lagi, masih banyak di
antara kita, termasuk saya dulu, yang memiliki pandangan
keliru tentang amal shaleh, kaitannya dengan beragama
secara kaffah. Misalnya kita bersedekah karena bersyukur
atas pemberian rezeki oleh Allah, sekaligus berharap
pahala dari-Nya. Namun saat melakukan kegiatan sehari-
hari, kita sebagai pejabat, kontraktor, pebisnis, pedagang,
politisi, dan lain-lain misalnya, malah menambah jumlah
masyarakat miskin. Di manakah kebaikan sedekah, dan

56
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

kepada siapa tugas memakmurkan ekonomi? Karena para


buruh tak ingin berpikir lagi untuk hidup senang karena
kesempatan menuju harapan dilindas pemilik modal.
Lebih parah lagi, di antara kita ada yang bersedekah
karena merasa lebih baik dari yang diberi. Padahal
sedekah itu tidak bertujuan merilis siapa yang lebih dan
yang tidak, melainkan menekankan agar kita tetap
menjaga titik keseimbangan. Tidak perlu berbangga
dengan kelebihan, karena kelebihan (seseorang) yang tidak
bisa menutupi kekurangan (orang lain) akan mendekatkan
diri kepada petaka. Dan lagi, jangan sampai menjadikan
sedekah sebagai ceremony orang kaya yang diperlihatkan
kuat dan paling shaleh kepada orang miskin yang
dianggap lemah”
Ahmad mendengarkan ungkapan saya ini secara
serius, sementara Iskandar manggut-manggut. “Intinya?,”
sambung Iskandar, “Baik kaya kepada miskin, orang hebat
kepada tidak hebat, mampu kepada belum mampu dan
sebaliknya, hendaklah saling bahu membahu dan
bergandeng tangan demi mencapai kemaslahatan,
bukankah begitu?” Ucap Ahmad menjelaskan.
“Ya” jawab saya. “Salah satu contoh kenikmatan ini
adalah kesempatan hidup layak bagi siapapun. Karena
apapun yang terjadi di dunia ini adalah tugas kita bersama

57
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

sebagai wakil Tuhan (khalifah Allah). entah itu pejabat,


pebisnis, aparat, guru, atau masyarakat biasa” Saya merasa
jawaban untuk pertanyaan Ahmad di atas mulai jelas.
”Oleh karena itu Ahmad,” Kata saya dengan nada
meyakinkan, ”Dapat disimpulkan bahwa kenikmatan
bumi dan segala isinya yang dari Allah ini adalah
tanggungjawab manusia. Baik kebaikan maupun
kerusakan di dalamnya adalah tanggungjawab kita.”
Pendapat ini saya perkuat dengan Firman Allah dalam Al-
Quran surat An-Nisa ayat 79 yang artinya :

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa
saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu
sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap
manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Ayat ini untuk
semua manusia, baca Shafwah At Tafasir –Pen)

Maksud ayat ini kemudian ditegaskan lagi dalam


surat Asy-Syuura (42) ayat 30 sebagai berikut:

”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah


disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (Ayat ini
memberi peluang keampunan. -Pen).

58
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Alhamdulillah, teman saya pun menyepakati jawaban


ini. Ia tidak menyalahkan Allah lagi, melainkan
menggugat manusia. Lalu ia kembali bertanya, “Tapi
mengapa setelah kita berdoa dan minta ampunan tetap
saja musibah itu terjadi? Jawab saya, ”Apabila perkara
buruk sudah menjadi masalah umum, maka masyarakat
umumlah yang menerima akibatnya. Tidak mengenal
orang beriman atau tidak. Oleh karena itu, orang beriman
jangan tinggal diam”. (Lihat tanbih al-Ghafilin)
Kemudian saya mengambil jawaban lain yang
mengambil sisi positif dari musibah yang telah terjadi.
Saya teringat hadits Nabi Saw yang pernah dikutip oleh
Hujjatul Islam imam Al-Ghazali (450-505 H) yang ia
tuangkan dalam bukunya “Rindu Tanpa Akhir” (Terjemah,
Serambi). Saya bacakan untuk Ahmad.
”Rasulullah Saw pernah bersabda : ”Jika Allah
mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya cobaan.
Jika ia sabar, maka Allah akan memilihnya. Dan jika ia rela
(menerima cobaan itu), maka Allah akan menyucikannya.” (Dari
jalur Ali bin Abi Thalib).

Iskandar tampak senyum-senyum saja, ini berarti


saya dipersilahkan melanjutkan penjelasan. Tapi Ahmad
seketika bertanya.

59
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

“Apa maksudnya rela dan bersabar?” Tanya Ahmad.


Saya pun kaget tatkala ia mulai mencari esensi dari dua
kata ini. Dan saya pun memang ingin menjelaskannya.
“Pengertian rela dan sabar ini tidak sekedar berlapang
dada saat tertimpa cobaan dan sabar dengan berpangku
tangan, melainkan rela yang berwujud sikap proaktif dan
sabar setahap demi setahap dalam memperbaiki keadaan.”
Jelas saya. “Karena musibah terjadi akibat ulah tangan
manusia, maka bukan tugas Allah untuk memperbaiki
keadaan, melainkan urusan kita semua, entah itu para ahli,
orang pintar dan cerdas serta praktisi lapangan atau pun
orang bingung sekalipun”
Iskandar menyela, “Bisa dikatakan “rela dan sabar”
yang dimaksud tidak hanya memiliki makna psikologis,
namun juga upaya-upaya kongkrit dalam mencari jalan
keluar, bukan?!.”
Kemudian saya menegaskan, “Saat tertimpa
musibah, sementara itu kita ingin berada dalam barisan
hamba yang dicintai oleh-Nya, maka milikilah sikap positif
dan sabar dengan tetap berpijak kepada sunnatullah
menuju jalan keluar terbaik. Tidak sekedar berdoa dan
minta ampunan. Maksud saya, apabila kita tertimpa
musibah dan mengucapkan Inna Lillahi Wainna Ilaihi
Raaji’un, bukan berarti doa kesadaran saja, tapi doa usaha

60
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

yang mencoba untuk menata ulang kehidupan yang sudah


carut marut untuk kembali kepada sunnatullah, hukum
keseimbangan.” Demikian penjelasan akhir dari saya
kepada Ahmad.
Ia pun agak sedikit puas sambil berkata : “Ya…
paling tidak, sikap rela dan sabar menjadikan seorang
muslim tahan uji dalam kondisi apapun, namun bukan
berarti kita minta musibah lho ya...” Serentak kita
menyahut, “ Ya iya…” Subhanakallahumma Wabihamdik

61
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Pilih Sukses
YANG SEPERTI APA?

Pengertian sukses banyak macamnya.


Sukses bagaimana yang kita cari?

Tatkala kita di tanya apa yang dimaksud dengan


sukses, jawaban umumnya cukup beragam, di antaranya
sukses adalah keberhasilan. Yang lain, sukses adalah
tercapainya tujuan. Kedua jawaban ini (atau jawaban
lainnya) patut kita berikan apresiasi dan tak perlu
menyatakan ada yang keliru di antara jawaban tersebut.
Karena yang keliru adalah tidak adanya jawaban.
Pertanyaan selanjutnya, apa yang dimaksud orang
sukses dalam hidup? Jawaban pun juga beragam. Sekali
lagi, jawaban-jawaban yang muncul itu tidak ada yang
keliru. Hanya saja, mungkin kurang tepat. Bagi kita yang
pernah merasakan kesulitan ekonomi, atau sejak dini
dididik mencari uang misalnya, maka jawab yang muncul
sukses sama dengan banyak uang, alias kaya. Pengertian

62
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

sukses seperti ini nampaknya kurang diterima oleh


beberapa kalangan. Hal ini kita akui adanya. namun, kita
patut menengok ayat ke-155 surah al-Baqarah yang
menandakan adanya kecenderungan karakter manusia
akan harta dan kekayaan. “Dan sungguh akan kami berikan
cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Indikasi dari ayat tersebut; “pada dasarnya”
keinginan manusia adalah adanya ketenangan dalam diri
(rasa aman), rasa kenyang, dan banyak harta. Menariknya,
cobaan justru berawal dari keinginan semacam itu. Oleh
karena itu, ayat ini kemudian dapat menjadi rumus
bagaimana cara seseorang menyikapi hidup.
Apabila ada sesuatu yang kita inginkan, maka
cobaan yang menerpa takkan jauh dari hal itu. Jika kita
ingin kaya, maka cobaannya adalah kemiskinan; sulit
mencari uang, dan paling tidak harus bersusah payah
mendapatkan uang. Seperti bait syair lagu dari Iwan Fals,
“Keinginan adalah awal dari penderitaan”. Demikian
bukanlah perkara buruk. Kenyataan hidup ini memanglah
demikian. Hanya yang perlu kita antisipasi adalah jangan
sampai cobaan yang menjadi bagian dari dinamika hidup
itu menjadi malapetaka.

63
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Biasanya malapetaka ini muncul tatkala setiap dari


kita keliru dalam memaknai sukses; Sukses adalah berhasil
mencapai tujuan; berhasil dengan cara apapun, termasuk
menganiaya orang lain, curang dan sebagainya. Tujuannya
adalah bersenang-senang dalam hidup, berfoya-foya
sembari angkuh dan lain-lain. Pandangan keliru semacam
ini juga tidak tepat menurut nilai agama. Jadi, untuk
menghindari petaka ini, sebaiknya kita menggali konsep-
konsep jitu yang berkaitan dengan yang namanya sukses.
Satu hal yang patut kita tekankan bahwa sukses tidak
hanya memiliki pengertian berhasil atau tercapainya
tujuan. Ia lebih dari itu.
Sebelum pada jawaban penulis, ada satu pandangan
menarik tentang sukses hidup. “Sukses adalah sebuah
proses, hasilnya adalah kaya. Namun kekayaan itu sendiri
bukanlah tujuan, karena yang paling penting adalah
prosesnya. Fokus utama yang kita lakukan setiap hari
sebenarnya bukanlah mengejar kesuksesan, namun
mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Setiap hari
menebar manfaat, karena manfaat adalah akar
kepercayaan. Kepercayaan adalah akar kepemimpinan,
dan kepemimpinan adalah cara mengendalikan orang lain.
Setiap orang memiliki uang, dengan demikian
Kepemimpinan juga mengendalikan uang. Sebagai

64
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

catatan, bila Kita secara konsisten senantiasa fokus pada


manfaat untuk orang lain setiap harinya, maka setiap hari
itu pula kita akan menerima ganjaran dan semoga ridla
Allah ikut di dalamnya.”
Pendapat seperti ini dapat kita katakan sebagai satu
tawaran yang melegakan. Namun, pendapat ini perlu
dikembangkan menjadi tawaran pengertian yang tepat.
Yaitu pendapat yang mengatakan bahwa sukses adalah
berhasil meraih kebahagiaan dan ketenangan hati. Meski
tawaran ini terkesan sufistik, namun bukan berarti materi
menghalangi seseorang mencapai makna sukses yang
hakiki ini. Pada kenyataannya ada orang yang merasakan
kebahagiaan dan ketenangan hati adalah mereka yang
kaya akan harta dan mereka tidak khawatir akan rasa
takut, lapar dan menjadi miskin. Atau seorang pejabat
merasa bahagia dan tenang dalam menjalani tugas jabatan
yang ia dapatkan secara bersih dan layak, sementara ia
tidak khawatir akan kehilangan jabatan tersebut. Inilah
yang kemudian dapat kita katakan, kekayaan atau jabatan
itu mengandung nilai Barokah, Rahmat dan Ridla Allah
Swt.
Barokah artinya manfaat lebih yang bersifat ilahiyah
untuk orang lain. Rahmat artinya kebaikan yang dimiliki,
seperti kesehatan, jabatan, harta, dan lain-lain yang

65
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

melahirkan kebaikan dan kasih sayang sesama manusia.


Dan Ridla Allah artinya mendapatkan Cinta dari Allah
Swt. Sehingga dapat kita katakan, sukses adalah berhasil
meraih kebahagiaan dan ketenangan hati, yang disinari
oleh Barokah, Rahmat dan Ridla Allah Swt. Semoga kita
menjadi orang sukses. Amin.

66
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

67
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Tolong Menolong Untuk Beradab

Perjanjian Hudaibiyah adalah masa menuju kemenangan,


tatanan masyarakat yang lebih baik.
Di sana diterapkan sikap saling tolong menolong menuju
keadaban dengan memperhatikan kebajikan dan menghindari
kemungkaran serta menjadikan takwa sebagai sistem control.

Di sela-sela kesibukan saya bekerja di salah satu


media cetak di Jakarta pesawat telpon yang berada di
sudut ruangan berdering. Segera panggilan itu saya
terima. “Assalamu’alaikum”, terdengar suara sayup entah
dari siapa. “Wa’alaikumsalam Warahmah”, jawab saya.
Setelah mengenalkan diri dan menanyakan kabar,
penelpon tadi pun mulai mengisahkan apa yang ingin ia
sampaikan. Apa yang ia sampaikan itu saya kisahkan
kembali ke hadapan pembaca budiman.
“Saat mulai membaca terjemah Al-Quran surat Al-
Maidah, saya berhenti pada ayat kedua. Sambil
mengkerutkan dahi, saya pun penasaran dengan ayat
pertama dan kedua ini. Bunyi ayatnya sebagai berikut :”

68
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji


itu (janji setia prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian
yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya).
Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan
dibacakan kepadamu.
(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan
berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.
Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut
yang dikehendakiNya.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
melanggar syi’ar-syiar Allah (segala amalan yang
dilakukan dalam rangka ibadah haji dan tempat-tempat
mengerjakannya). Dan jangan melanggar bulan-bulan
haram (zulqa’dah, Zulhjjah, Muharram dan Rajab). Jangan
mengganggu) binatang-binatang “hadya” (binatang
sebagai denda karena meninggalkan salah satu rukun haji,
baca dikitab Fikih-Pen) dan binatang-binatang Qalaid
(binatang yang ditandai untuk “hadyu”), dan jangan
(pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi
baitullah sedang mereka mencari karunia dan kePenhaan
dari TuhanNya dan apabila kamu telah menyelesaikan
ibadah haji, maka bolehlah berburu, dan jangalah sekali-
kali kebencianmu kepada suatu kaum karena menghalang-
halangi kamu dari masjidil haram, mendorongmu berbuat

69
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

aniaya (kepada mereka). Dan tolong menolonglah kamu


dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah
amat berat siksaan Nya. (Al Maidah (5) : 1-2)
“Saya”, kata penelpon tadi yang ia adalah teman
saya, sebut saja ia Ahmad “memahami bahwa ayat ini
membicarakan tentang haji yang juga menggambarkan
tata sistem masyarakat beradab. Bagaimana kita sebagai
individu bertanggungjawab kepada Allah Swt dan kita
sebagai makhluk sosial ikut membina kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan berkemanusiaan yang
baik.”
Saya balik bertanya, “Bagaimana Anda dapat
memahami ayat ini seperti yang Anda ungkapkan tadi?”
Ahmad meneruskan ceritanya. “Ada nilai yang saya bidik
pada ayat ini. Selain hukum boleh dan tidak boleh, Allah
berpesan kepada hamba-Nya untuk saling tolong
menolong dalam kebajikan dan takwa dan jangan tolong
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
Mendengar analisa Ahmad, saya pun berpikir apa
yang dimaksud “kebajikan dan takwa” dan apa yang
dimaksud “pelanggaran dan perbuatan dosa” itu. Pikir
punya pikir, saya harus merujuk kepada kitab tafsir dan

70
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

saya pun meraih buku tafsir karya Muhammad Ali Ash


Shabuni yang berjudul Shafwah At Tafasir jilid 1. Ahli tafsir
dan pengkaji ilmu al-Qur’an terkenal dari Mekah ini
menjelaskan bahwa “Dan tolong menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”
maksudnya saling tolong menolonglah dalam melakukan
kebaikan dan setiap amalan yang bisa mendekatkan diri
kepada Allah serta meninggalkan kemungkaran.
Walaupun saya tidak menangkap secara detil
maksud Ash-Shabuni karena ia tidak mencontohkan
maksud ayat ini, saya masih bisa menangkap gambaran
umum tentang kemungkaran yang menjauhkan diri dari
Allah dan amalan yang bisa mendekatkan diri kepada-
Nya. Saya jadi sedikit lebih paham atas apa yang
dimaksudkan teman saya ini. Namun saya tetap bertanya,
seperti apa bentuknya dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Apalagi jika ayat ini diajak berdialog dengan masa kini.
Mendengar masalah ini, saya terus jadi penasaran. Sambil
memegang kitab Tafsir tadi, saya pun bertanya dengan
Ahmad yang masih on line di pesawat telpon “lalu,
maksud detilnya tentang ayat tadi?”.
Ia melanjutkan. “Saya pun menoleh kepada setting
(latar belakang keadaan) sosial di saat ayat ini turun.

71
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Karena ayat ini turun setelah terjadinya perjanjian


Hudaibiyah, saya pun membuka buku “Sejarah
Muhammad SAW” karya M. Husein Haikal. Kisah di
dalam buku tersebut menghidupkan pikiran dan hati saya
tentang apa yang diinginkan dari ayat ini. Ada beberapa
latar belakang terjadinya perjanjian Hudaibiyah. Di
antaranya masyarakat muslim yang sudah enam tahun
berada di Madinah dan rindu ingin hijrah ke Mekkah
menunaikan ibadah haji dan umrah. Kemudian keinginan
mereka itu di larang oleh kafir Quraisy dll.
Singkat cerita terjadilah perjanjian antara pihak
kaum muslimin di Madinah dengan masyarakat kafir
Quraisy di Mekkah. Catatan, pada masa ini pula Nabi
mengumumkan ibadah haji yang juga diwajibkan dalam
agama-agama orang Arab sebelum itu. Karena panjangnya
cerita ini, saya hanya mengambil kesimpulan umum
bahwa perjanjian Hudaibiyah adalah suatu kemenangan
yang nyata sekali. Perjanjian yang berisikan hasil politik
yang bijaksana dan pandangan yang jauh, yang besar
sekali pengaruhnya terhadap masa depan Islam dan masa
depan masyarakat Arab.
Semua Quraisy mencurahkan perhatiannya pada
perluasan perdagangannya, dengan harapan kalau-kalau
semua kerugian yang dialaminya selama perang antara

72
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Muslimin dengan Quraisy dan ketika jalur perdagangan


ke Syam tertutup dan perdagangannya terancam akan
mengalami kehancuran, dapat ditarik kembali. Sebaliknya
Nabi Saw, mencurahkan perhatinnya pada soal kelanjutan
menyampaikan dakwah ajaranya kepada seluruh umat
manusia di segenap pelosok dunia. Pandangannya
diarahkan dalam langkah mencapai sukses untuk
ketentraman umat Muslimin di seluruh semenanjung.
Masa ini adalah masa menuju kemenangan berupa tatanan
masyarakat yang lebih baik. Di masa ini pula diumumkan
kewajiban haji. Ayat ini turun pada masa ini. Dan dari sini
pula haji dengan prosesi ibadahnya mencerminkan tata
sistem yang lebih baik, beradab. Bisa dimaknai saling
tolong menolonglah kalian menuju keadaban dengan
memperhatikan kebajikan dan menghindari kemungkaran
serta menjadikan takwa sebagai sistem control.”
Ahmad tetap melanjutkan pandangannya, “Takwa
yang saya pahami sebagai sistem control individu dan
sosial di dalamnya terdapat nilai kepercayaan kepada hal
ghaib, kepada apa yang diturunkan untuk dijadikan
petunjuk (Al Quran dan kitab-kitab sebelumnya), yakin
akan hari akhir, mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebagian harta menuju kemenangan (Al Baqarah 2-5).”

73
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Lalu dengan nada sedikit lebih prihatin, Ahmad


mengevaluasi diri. “Saya jadi berpikir, bagaimana saya
dapat melatih diri di saat menunaikan ibadah haji nantinya
untuk kemudiannya menciptakan masyarakat yang
beradab, bukan hanya kesalehan individu, bukan hanya
cerita bagaimana Masjidil Haram sedang direnovasi oleh
50 kontraktor hebat, bukan cerita megahnya lokasi jumrah
‘Aqobah yang akan dibangun lima lantai, bukan bangga
dengan ONH plus, tapi saya mengambil pesan universal
akan dua ayat ini dengan berkaca dari sejarah
dibelakangnya.”
Kemudian saya berkomentar, “Walaupun kita belum
berangkat haji, maksud ayat ini tidak harus ditemukan di
Masjidil Haram, tapi bagaimana kita menerapkan atau
mendapatkannya di lingkungan sekitar kita berupa sikap
saling tolong menolong meraih perdamaian, ketentraman
dan kemakmuran yang diwakili oleh kata keadaban atau
beradab. Terima kasih Anda telah menceritakan kisah
berharga ini”
lantas ia pun pamit dan mengucapkan
Assalamu’alaikum ...
Ternyata teman saya tadi Jama’ah calon haji.

74
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

75
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Sabar,
dari Sikap jadi Tindakan

Kita biasanya memperingati tahun baru hijriyyah.


Hikmah yang biasa kita petik dari momentum setahun
sekali itu adalah peran hijrah Rasulullah SAW menuju tata
sistem masyarakat yang lebih baik. Untuk menciptakan
kembali secara substansial keadaan masyarakat seperti
masa Rasulullah kita tidak perlu minder. Rasulullah juga
manusia, hanya saja beliau menerima wahyu sedangkan
kita ilham. Dan yang lebih penting untuk kita sadari
bahwa manusia adalah khalifah Allah, wakil Tuhan di
bumi. Untuk itu kita patut optimis.
Namun, sebelum membicarakan khalifah Allah,
manusia yang menjadi wakil tuhan, perlu kita perjelas
siapa dan seperti apa manusia yang dimaksud itu. jangan-
jangan kita tidak termasuk kategori khalifah Allah. Dalam
Al-Quran, secara garis besar kata yang memiliki arti
manusia ada dua, Basyar dan Insan (bentuk tunggal dari
An Naas). Dua kata ini memiliki arti yang sama, tapi

76
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

makna yang berbeda. Kata Basyar yang sering


diungkapkan Al-Quran lebih memberi makna manusia
secara biologis. Maksudnya, Si Fulan yang terdiri dari dua
pasang mata, dua pasang telinga, dua pasang tangan, dua
pasang kaki, dua lubang hidung dan lain-lain. Sedangkan
Insan, selain ia adalah basyar yang memiliki jasmani, Insan
terdiri dari dua unsur lainnya yaitu “Akal” dan ruh. Jadi,
di antara kita ada sosok manusia (Basyar) yang hidup
hanya memenuhi kebutuhan biologis. Dan ada juga
manusia (insan) yang dapat memfungsikan tiga unsur tadi
sekaligus. Untuk itu, kita sepakat bahwa manusia yang
dimaksud khalifah Allah itu adalah Insan.
Tatkala kita melihat bangsa Indonesia, diri dan
keluarga kita saat ini, banyak hal yang membuat kita
semakin prihatin. Bangsa ini jauh dari kebenaran.
Kebenaran yang dimaksud adalah ketidakadilan dalam
berbagai sektor, baik ekonomi, hak politik, struktur sosial
maupun tradisi masyarakat dan lain-lain. Untuk itu kita
masih merugi. Selayaknya kita menoleh kepada ayat
kedua dan ketiga surat Al ‘Ashr (103).

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada


dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya

77
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi


kesabaran (QS. Al Ashr (103) : 1-3).”

Kali ini saya hanya menegaskan tentang maksud


Watawashaubi Al haqqi watashaubi As-Shabri. Syekh Nawawi
Al-Bantani menjelaskan dalam tafsirnya Marah Labid Tafsir
An-Nawawi, saling menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran ialah
saling menyeru pada setiap sesuatu (ilmu dan perbuatan)
yang sesuai dengan syari’at dan saling menyeru agar tetap
sabar dalam menjalankan perintah dan larangan Allah
Swt.
Penafsiran Syekh Nawawi ini masih umum. Di sini ia
menjelaskan syari’at menjadi tolok ukur kebenaran. Hanya
saja kita tidak mudah merujuk apakah sesuatu ini sesuai
atau tidak sesuai dengan syari’at. Karena garis syari’at
wujudnya universal dan bentuk hakikinya hanya Allah
yang mengetahui. Kemudian, Ash-Shabuni
mengungkapkan pula (Shafwah At Tafasir), yaitu berwasiat
antara satu sama lain dengan kebenaran (kebaikan
menyeluruh) dan saling menasehati dengan kesabaran
terhadap bencana dan musibah, berperilaku patuh dan
taat, serta meninggalkan sesuatu yang diharamkan.

78
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Penafsiran oleh kedua mufassir ini hampir mirip.


Pesan yang bisa ditangkap adalah ada dua sisi yang perlu
dimiliki manusia agar tidak merugi. Sisi vertikal dan
horizontal. Iman dan Amal Shalih. Saling menasehati pada
kebenaran dan bersikap sabar. Lebih lanjut, ulasan
menarik dari Ash-Shabuni adalah dari sudut pandang
keindahan bahasa dari ayat ini, “sabar” sesungguhnya
termasuk dari bagian kebenaran. Jadi, salah satu
komponen menuju kebenaran adalah sabar. Dari ayat ini
juga menunjukkan bahwa sabar memiliki keutamaan luar
biasa. Lantas, seperti apa sabar itu?
Di saat mengalami musibah, baik langsung atau
tidak langsung, seperti bencana alam atau penindasan
ekonomi, sebagai sikap menghibur diri, biasanya kita
selalu mengatakan; Allah beserta orang-orang yang
sabar/orang-orang yang menahan diri, Innallaha Ma’a
Ashabirin. Untuk itu bersabarlah. Namun, sebenarnya
sabar seperti apa yang kita butuhkan pada saat kondisi
seperti itu. Sabar seperti apa di saat tindak kriminal dari
pembunuhan sampai mahalnya biaya pendidikan, bahkan
harga sembako melambung tinggi menjadi menu kita
sehari-hari? jika kita artikan sabar sebagai sisi horizontal,
dan sisi ini kuat kaitannya dengan hal-hal teknis, maka
sabar tidak hanya sikap tapi juga tindakan. Tidak hanya

79
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

menahan diri dari tindakan tercela, tapi menahan diri


untuk kuat melakukan perubahan yang lebih baik.
Ketimpangan sosial memang selalu menjadi keadaan
yang sulit kita hindari. Ini semua muaranya dari manusia
(masyarakat dan pemerintah) yang tak mampu menjaga
keseimbangan dirinya yang terdiri dari tiga unsur tadi
(Jasmani, Akal dan Rohani). Nah, sudah saatnya kita lagi-
lagi bercermin kembali, siapapun kita, seperti apa cara
berpikir kita, apapun status dan jabatan kita, apapun tugas
dan tindakan kita, mari dudukkan sesuatu pada
tempatnya, bersikaplah adil. Bersabarlah untuk bisa adil
dan bersabarlah untuk tidak bergeser pada posisi yang
tidak semestinya. Inilah hakikat sabar yang semestiya.
Jika tidak, ketimpangan dan ketidakseimbangan
berkelana merusak tata sistem kehidupan kita. maka tak
layak kita sekedar berucap sabarlah dengan malapetaka
ini, sementara kita tidak mengembalikan segala sesuatu
kepada fitrahnya (sistem social menurut agama). Sikap
sabar ini patut kita wujudkan dalam bentuk aksi
perubahan. Barulah kemudian kita layak menjalankan
amanah-Nya menjadi pemimpin di muka bumi. Mari
bertindak dengan Kesabaran yang tepat, menuju
Kebenaran yang dikehendaki Ilahi. Apalagi kita selalu
mendambakan tata sistem masyarakat yang lebih baik.

80
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

81
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

BAHAN BACAAN

Al-Bantani, Nawawi , Qathr al-Ghaits Fii Syarah Masail Abi al-Laits,


Maktabah Muhammad bin Ahmad bin Nabhan wa Awladihi,
Surabaya-Indonesia

_________________, Riyadl Al-Badi’ah,

_________________, Marah Labid Tafsir An-Nawawi, Tafsir Munir li


Ma’alim at-Tanzil, Daar al-Kutub al-Islamiyah,

Al-Kurdy, Muhammad Amin, Tanwir al-Qulub Fii Mu’amalah


‘Allam al-Ghuyub, Daar al-Fikr, 1994

As-Shabuni, Muhammad Ali, Shafwah at-Tafasir, Daar Ash-


Shabuni, 1997, Cet ke-1

Haikal, Muhammad Husein. Sejarah Hidup Muhammad (terjemah


Ali Audah), Jakarta, PT Tintamas Indonesia, 2005, September, cet
Ke- 30

Rakhmat, Jalaluddin, Islam dan Pluralisme, Akhlak Quran menyikapi


Perbedaan, Jakarta, PT Serambi Ilmu Semesta, 2006, September,
Cet ke 1.

82
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

83
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

TENTANG PENULIS

Selesai menamatkan Sekolah Dasar di


kampung halamannya, Pulau Buru, Tanjung Balai
Karimun, Daus (panggilan akrabnya) hijrah
menimba ilmu ke Pulau Jawa, tepatnya di PonPes
Madrasatul Quran Tebuireng Jombang Jawa Timur
dan menyelesaikan pendidikan formalnya MTs
pada 1997, lalu melanjutkan MA di Pon Pes Al-
Asy’ari Keras Diwek Jombang Jawa Timur, selesai
tahun 2000. Kemudian ikutan kuliah di Insitut
PTIQ Jakarta, Fakultas Syari’ah, selesai tahun
2005.
Selama menjadi mahasiswa, suami Hena Nur
Syifa ini aktif di beberapa organisasi mahasiswa,
baik intra maupun ekstra kampus. Kemudian
beberapa organisasi lainnya. Pernah menjabat
Ketua PMII Komisariat kebayoran lama 2002-2003,
Ketua umum Cabang PMII Jakarta Selatan 2004-
2005. Koord Litbang Forum Mahasiswa Kepri
(FORMAKRI) di Jakarta. Pengurus Litbang BEM
Institut PTIQ Jakarta, Dll

84
Harmonika Hidayah
(Upaya Meraih Karunia Petunjuk)

Usai menyelesaikan kuliah Strata 1, Daus


ikutan lagi sekolah pascasarjana (2005) pada
institusi yang sama, mengambil konsentrasi
Manajemen Pendidikan Islam. Selain sekolah, Ayah
Zahwa Nur Azkia ini bekerja sebagai wartawan
pada Majalah khalifah dan sebagai Tim Peneliti
Lembaga Penelitian PTIQ 2007-2009.

85