Anda di halaman 1dari 33

DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH 02.04.

01
RUMAH SAKIT TK IV 02.07.01 ZAINUL ARIFIN

PEDOMAN
PERSIAPAN DAN PENYERAHAN OBAT

RUMAH SAKIT TK IV 02.07.01


ZAINUL ARIFIN
BENGKULU
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Allah atas rahmat dan cinta kasih-Nya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akreditasi yang berjudul

“PERSIAPAN DAN PENYERAHAN OBAT”. Penyusunan buku ini

dimaksudkan sebagai petunjuk teknis pelaksanaan untuk memudahkan

pihak Rumah Sakit dalam melaksanakan Pelayanan Kefarmasian dan

Penggunaan Obat yang ada di Lingkungan Rumkit Tk IV 02.07.01 Zainul

Arifin. Kami mengharapkan agar seluruh Rumah Sakit di Indonesia baik

Rumah Sakit Pemerintah maupun Rumah Sakit Swasta dapat penerapkan

Pengorganisasian Instalasi Farmasi Rumah Sakit ini sebaik-baiknya yang

tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Rumah Sakit.

Penulis menyadari bahwa buku Pelayanan Kefarmasian dan

Penggunaan Obat ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang

telah menyumbangkan pikiran, tenaga bimbingan pada penulis baik

secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kesempatan ini penulis

ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah

memberikan bantuan dan dukungan yang baik secara langsung maupun

tidak langsung.

Demikian segala saran dan masukan yang bersifat membangun

dalam meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat

di Rumah Sakit kami terima dan senang hati. Perhatian dan Kerjasama

dari semua pihak sangat kami harapkan.Terima Kasih

ii
Bengkulu,
Kepala Rumah Sakit Tk. IV 02.07.01 Z Arifin

dr. Junicko Sacrifian Anoraga, Sp.THT-KL


Mayor Ckm NRP 11040000520675

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii

BAB I PENGKAJIAN RESEP ........................................................ 4


BAB II PENCAMPURAN OBAT SUNTIK ....................................... 9

iv
BAB I

PENGKAJIAN RESEP

1.1 PENDAHULUAN

Pengkajian resep dilakukan untuk menganalisa adanya masalah terkait obat,

bila ditemukan masalah terkait obat harus dikonsultasikan kepada dokter penulis

resep. Apoteker harus melakukan pengkajian resep sesuai persyaratan administrasi,

persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun

rawat jalan.

1.2 PENGKAJIAN ADMINISTRATIF

Setelah melakukan pengkajian administratif, diketahui bahwa resep sudah

melengkapi nama pasien, nama dan paraf dokter, ruangan/ poli dan stempel, dan

persyaratan resep sesuai pasien. Sedangkan beberapa hal yang belum dilengkapi

antara lain adalah berat badan pasien, umur pasien, alamat pasien dan tanggal

resep.

Nama pasien dan alamat pasien penting untuk mencegah terjadinya

kesalahan dalam pemberian obat. Berat badan dan umur pasien penting untuk

menentukan dosis obat untuk pasien tersebut (untuk obat-obat khusus). Umur dan

jenis kelamin diperlukan untuk pertanyaan lebih lanjut terkait kondisi khusus yang

mungkin ada pada pasien. Selain itu, alamat pasien akan sangat diperlukan pada

pasien yang mendapat obat dengan efek adiksi.

Tanggal resep diperlukan untuk mengetahui aktualitas dari resep. Stempel

ruangan/ poli dan nama dari dokter penting ditulis pada resep adalah untuk

keperluan konfirmasi ulang jika ada instruksi yang tidak jelas atau instruksi yang

5
dirasa perlu untuk dikomnikasikan kembali kepada dokter. Persyaratan resep askep

diperlukan untuk pengajuan claim.

1.3 PENGKAJIAN FARMASETIK

Setelah melakukan pengkajian farmasetis, diketahui bahwa resep sudah

melengkapi nama obat, kekuatan obat (khusus untuk candesartan), jumlah obat dan

signa/ aturan pakai. Sedangkan beberapa hal yang belum dilengkapi antara lain

adalah bentuk sediaan, kekuatan obat (untuk sohobion, asam folat dan calos).

Sementara untuk kajian mengenai stabilitas obat, ketersediaan obat dan aturan atau

cara dispensing akan dikaji tersendiri diluar resep.

Nama, bentuk dan jumlah perlu dituliskan dengan jelas pada resep untuk

menghindari adanya kerancuan ketika petugas UPF mengambil obat. Kekuatan obat

penting karena beberapa obat tersedia dalam berbagai kekuatan. Bentuk sediaan

sering tidak dituliskan, misalnya tablet, kapsul atau sirup. Pada saat pengambilan

obat, biasanya hanya berdasarkan signa dan bentuk sediaan yang tersedia di UPF.

Misalnya untuk sediaan sirup biasanya memakai signa c atau cth. Jika sediaan

tablet atau kapsul memakai signa tb.

Stabilitas obat penting untuk menentukan kondisi penyimpanan yang baik

untuk obat tersebut sehingga pasien mendapatkan efek terapi yang diinginkan.

Ketersediaan obat adalah ada atau tidaknya stok obat di UPF. Pada umumnya, obat

yang dituliskan pada resep sudah tersedia di apotik. Jika obat tidak ada, maka

pengambil obat akan otomatis mengganti obat dengan merek lain yang memiliki

komposisi sama. Penggantian ini berdasarkan daftar obat pada DPHO. Atauran atau

cara dispensing hanya perlu dikaji pada resep-resep yang diracik.

6
1.4 PENGKAJIAN FARMASI KLINIS

Setelah melakukan pengkajian klinik, terlihat bahwa obat yang ditulis di resep

sudah sesuai dengan formularium askes atau yang lebih dikenal dengan DPHO.

Demi melengkapi kajian farmasi klinik ini, pasien perlu ditanyakan tentang riwayat

alergi pada saat penyerahan obat. Selain itu, pada saat penyerahan obat juga perlu

disampaikan mengenai beberapa hal penting seperti efek aditif yang dimiliki obat

(jika ada) dan ESO yang serig terjadi dan perlu diwaspadai oleh pasien (jika ada).

Pengkajian farmasi klinis yang lebih lengkap akan terlihat dari DFP 2 yang

akan dibahas dibawah ini.

1.5 DOKUMEN FARMASI PENDERITA

Mekanisme kerja dari calos adalah mengikat fosfat pada makanan.

Berdasarkan mekanisme kerja tersebut, maka calos seharusnya diminum tiga puluh

menit sebelum makan agar dapat berinteraksi dengan makanan dan dapat mengikat

fosfat dari makanan tersebut. Rekomendasi yang diberikan pada dokter adalah agar

selalu menuliskan signa 30 menit sebelum makan untuk pemberian calos dengan

indikasi mengurangi asupan fosfat pada pasien. Selain itu berikan perintah dikunyah.

Sebagai tindak lanjut sebelum sempat mengkomunikasikan hal ini kepada dokter,

maka apoteker dapat memberikan informasi kepada pasien pada saat penyerahan

obat.

Beberapa hal yang menjadi kesalahan dalam penulisan resep antara lain

adalah tidak menuliskan berat badan pasien, umur pasien, alamat pasien, tanggal

resep, bentuk sediaan dan kekuatan obat (untuk sohobion, asam folat dan calos).

Hal tersebut menjadi sangat penting demi melengkapi kajian terhadap administrasi

dan farmasetis obat, yang pada akhirnya dapat memberikan efek terapi yang

7
diinginkan untuk pasien. Rekomendasi yang diberikan adalah menuliskan seluruh

aspek tersebut dengan lengkap. Sebagai tindak lanjut, apoteker dapat melakukan

komunikasi kepada dokter dan menyampaikan tujuan penting dari melengkapi resep.

8
BAB II

PENCAMPURAN OBAT SUNTIK

2.1 PENDAHULUAN

Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang

dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral.Istilah parenteral seperti yang umum

digunakan, menunjukkan pemberian lewat suntikkan.Salah satu bentuk sediaan

steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau

suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu

sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit

atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan

menggunakan alat suntik.Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini

unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam

kompartemen tubuh yang paling dalam.Sediaan parenteral memasuki pertahanan

tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga

sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan-bahan beracun

dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.

2.2 TUJUAN
a. Menyediakan panduan bagi rumah sakit/fasilitas kesehatan lainnya mengenai

kebijakan pencampuran obat suntik.

b. Menjamin agar pasien menerima obat sesuai dengan dosis yang dibutuhkan.

c. Menjamin sterilitas dan stabilitas produk.

d. Melindungi petugas dari paparan zat berbahaya.

e. Menghindari terjadinya kesalahan pemberian obat.

9
2.3 RUANG LINGKUP
Sediaan injeksi adalah sediaan steril, berupa larutan, suspensi, emulsi atau

serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan dahulu sebelum digunakan, yang

disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau

selaput lendir. Sediaan injeksi diberikan jika diinginkan kerja obat yang cepat, bila

penderita tidak dapat diajak kerja sama dengan baik, tidak sadar, tidak tahan

menerima pengobatan secara oral atau obat tidak efektif bila diberikan dengan cara

lain.

2.4 PERSYARATAN SEDIAAN INJEKSI

Kerja optimal dari larutan obat yang diberikan secara parenteral hanya akan

diperoleh jika memenuhi persyaratan, yaitu:

1. Aman

Injeksi tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau menimbulkan efek toksik.

2. Harus jernih

Injeksi yang berupa larutan harus jernih dan bebas dari partikel asing, serat dan

benang. Pada umumnya kejernihan dapat diperoleh dengan penyaringan. Alat-

alat penyaringan harus bersih dan dicuci dengan baik sehingga tidak terdapat

partikel dalam larutan. Penting untuk menyadari bahwa larutan yang jernih

diperoleh dari wadah dan tutup wadah yang bersih, steril dan tidak melepaskan

partikel.

3. Sedapat mungkin isohidris

Isohidris artinya pH larutan injeksi sama dengan pH darah dan cairan tubuh lain,

yaitu pH 7,4. Hal ini dimaksudkan agar bila diinjeksikan ke badan tidak terasa

sakit dan penyerapan obat dapat maksimal.

4. Sedapat mungkin isotonis

10
Isotonis artinya mempunyai tekanan osmosa yang sama dengan tekanan

osmosa darah dan cairan tubuh yang lain, yaitu sebanding dengan tekanan

osmosa larutan natrium klorida 0,9%. Penyuntikan larutan yang tidak isotonis ke

dalam tubuh dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Bila larutan yang

disuntikkan hipotonis (mempunyai tekanan osmosa yang lebih kecil) terhadap

cairan tubuh, maka air akan diserap masuk ke dalam sel-sel tubuh yang

akhirnya mengembang dan dapat pecah. Pada penyuntikan larutan yang

hipertonis (mempunyai tekanan osmosa yang lebih besar) terhadap cairan-

cairan tubuh, air dalam sel akan ditarik keluar, yang mengakibatkan

mengerutnya sel. Meskipun demikian, tubuh masih dapat mengimbangi

penyimpangan-penyimpangan dari isotonis ini hingga 10%. Umumnya larutan

yang hipertonis dapat ditahan tubuh dengan lebih baik daripada larutan yang

hipotonis. Zat-zat pembantu yang banyak digunakan untuk membuat larutan

isotonis adalah natrium klorida dan glukosa.

5. Tidak berwarna

Pada sediaan obat suntik tidak diperbolehkan adanya penambahan zat warna

dengan maksud untuk memberikan warna pada sediaan tersebut, kecuali bila

obatnya memang berwarna.

6. Steril

Suatu bahan dikatakan steril jika terbebas dari mikroorganisme hidup yang

patogen maupun yang tidak, baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam bentuk

tidak vegetatif (spora).

7. Bebas pirogen

11
Hal ini harus diperhatikan terutama pada pemberian injeksi dengan volume

besar, yaitu lebih dari 10 ml untuk satu kali dosis pemberian. Injeksi yang

mengandung pirogen dapat menimbulkan demam.

2.5 PENGGOLONGAN SEDIAAN INJEKSI


Menurut USP, obat suntik dibagi dalam lima jenis yang secara umum

didefinisikan sebagai berikut:

1. Obat larutan atau emulsi yang sesuai untuk obat suntik, disebut injection.

(Contoh: Insulin Injection).

2. Bubuk kering atau larutan pekat, tidak mengandung dapar, pengencer atau zat

tambahan lain dan bila ditambah pelarut lain yang sesuai dengan pemberikan

larutan yang memenuhi semua aspek persyaratan untuk obat suntik disebut

Sterile. (Contoh: Sterile Ampicillin Sodium).

3. Sediaan-sediaan seperti dijelaskan di nomor 2 kecuali bahwa mereka

mengandung satu atau lebih dapar, pengencer atau zat penambah lain disebut

for injection. (Contoh: Methicillin Sodium for Injection).

4. Padatan yang disuspensikan di dalam media cair yang sesuai dan tidak untuk

disuntikkan intravena atau ke dalam ruang spinal disebut Sterile Suspension.

(Contoh: Sterile Cortisol Suspension).

5. Padatan kering, yang bila ditambahkan pembawa yang sesuai menghasilkan

sediaan yang memenuhi semua aspek persyaratan untuk Sterile Suspension

dan yang dibedakan dengan judul Sterile for Suspension. (contoh: Sterile

Ampicillin for Suspension).

Berdasarkan cara pemberiannya, sediaan injeksi dapat digolongkan dalam

beberapa jenis, yaitu :

1. Injeksi intraderma atau intrakutan

12
Injeksi intrakutan dimasukkan langsung ke lapisan epidermis tepat dibawah

startum korneum. Umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume

yang disuntikkan sedikit (0,1-0,2 ml). Digunakan untuk tujuan diagnosa.

2. Injeksi subkutan atau hipoderma

Injeksi subkutan dimasukkan ke dalam jaringan lembut dibawah permukaan

kulit. Jumlah larutan yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. Larutan harus

sedapat mungkin isotonis dan isohidris, dimaksudkan untuk mengurangi iritasi

jaringan dan mencegah terjadinya nekrosis (mengendornya kulit).

3. Injeksi intramuskular

Injeksi intramuskular dimasukkan langsung ke otot, biasanya pada lengan atau

daerah gluteal. Sediaannya biasa berupa larutan atau suspensi dalam air atau

minyak, volume tidak lebih dari 4 ml. Penyuntikan volume besar dilakukan

dengan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.

4. Injeksi intravena

Injeksi intravena langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah, berupa larutan

isotoni atau agak hipertoni, volume 1-10 ml. Larutan injeksi intravena harus

bebas dari endapan atau partikel padat, karena dapat menyumbat kapiler dan

menyebabkan kematian. Injeksi intravena yang diberikan dalam volume besar,

umumnya lebih dari 10 ml, disebut infus. Jika volume dosis tunggal lebih dari 15

ml, injeksi intravena tidak boleh mengandung bakterisida dan jika lebih dari 10

ml harus bebas pirogen.

5. Injeksi intraarterium

Injeksi intraarterium dimasukkan langsung ke dalam pembuluh darah perifer,

digunakan jika efek obat diperlukan segera. Umumnya berupa larutan, dapat

13
mengandung cairan non iritan yang dapat bercampur dengan air, volume 1-10

ml. Tidak boleh mengandung bakterisida.

6. Injeksi intrakardial

Dimasukkan langsung ke dalam otot jantung atau ventrikulus, hanya digunakan

untuk keadaan gawat. Tidak boleh mengandung bakterisida.

7. Injeksi intratekal atau subaraknoid

Injeksi intratekal digunakan untuk menginduksi spinal atau lumbal anestesi

dengan menyuntikkan larutan ke ruang subaraknoid, biasanya volume yang

diberikan 1-2 ml. Tidak boleh mengandung bakterisida dan diracik untuk wadah

dosis tunggal.

8. Injeksi intraperitonial

Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Penyerapannya cepat, bahaya

infeksi besar sehingga jarang dipakai.

9. Injeksi intraartikulus

Injeksi intraartikulus digunakan untuk memasukkan material seperti obat anti

inflamasi langsung ke luka atau jaringan yang teriritasi. Injeksi berupa larutan

atau suspensi dalam air.

10. Injeksi subkonjungtiva

Larutan atau suspensi dalam air untuk injeksi selaput lendir bawah mata,

umumnya tidak lebih dari 1 ml.

11. Injeksi intrasisternal dan peridual

Injeksi ini disuntikkan ke intrakarnial sisternal dan lapisan dura dari spinalcord.

Keduanya merupakan prosedur yang sulit dengan peralatan yang rumit.

14
2.6 TENAGA KESEHATAN YANG DAPAT MELAKUKAN PENCAMPURAN

OBAT

Rumah Sakit Tk. IV 02.07.01 Zainul Arifin memiliki keterbatasan dalam jumlah

apoteker/asisten apoteker dalam melakukan pencampuran obat suntik. Oleh karena

itu apoteker/asisten apoteker mendelegasikan pencampuran obat suntik yang akan

digunakan pasien kepada perawat yang telah mendapatkan pelatihan pencampuran

obat dari apoteker/asisten apoteker yang dibuktikan dengan sertifikat yang diberikan

oleh Rumah Sakit Tk. IV 02.07.01 Zainul Arifin. Dengan adanya pendelegasian

tersebut diharapkan akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan

dengan mempersingkat waktu tunggu obat suntik untuk pasien sehingga obat dapat

diberikan tepat waktu. Pelatihan yang diberikan juga diharapkan dapat menghindari

terjadinya kesalahan pemberian obat dan menjamin sterilitas dan stabilitas produk

obat tersebut.

2.7 TATA LAKSANA

Pencampuran obat suntik dan penanganan sediaan sitostatika seharusnya

dilakukan oleh apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit, tetapi kenyataannya

sebagian besar masih dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain dengan sarana

dan pengetahuan yang sangat terbatas, sedangkan pekerjaan kefarmasian

tersebut memerlukan teknik khusus dengan latar belakang pengetahuan antara

lain sterilitas, sifat fisikokimia dan stabilitas obat, ketidaktercampuran obat serta

risiko bahaya pemaparan obat. Selain hal tersebut diperlukan juga sarana dan

prasarana khusus yang menunjang pekerjaan hingga tujuan sterilitas, stabilitas

dan ketercampuran obat dapat tercapai.

2.8 TEKNIK PENCAMPURAN OBAT SUNTIK


a. Penyiapan

15
Sebelum menjalankan proses pencampuran obat suntik, perlu dilakukan

langkah langkah sebagai berikut:

1) Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan

prinsip 7 BENAR (benar pasien,obat,dosis,rute,waktu pemberian, cara

pemberian, informasi dan dokumentasi)

2) Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima (nama obat, jumlah,

nomer batch,tgl kadaluarsa),serta melengkapi form permintaan.

3) Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak

jelas/tidak lengkap.

4) Menghitung kesesuaian dosis.

5) Memilih jenis pelarut yang sesuai.

6) Menghitung volume pelarut yang digunakan.

7) Membuat label obat berdasarkan: nama pasien, nomer rekam medis,

ruang perawatan, dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan,

tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluarsa campuran.

8) Membuat label pengiriman terdiri dari : nama pasien, nomer rekam

medis, ruang perawatan,jumlah paket.(contoh label pengiriman,

lampiran2)

9) Melengkapi dokumen pencampuran.

10) Memasukkan alat kesehatan, label, dan obat-obatan yang akan

dilakukan pencampuran kedalam ruang steril melalui passbox.

b. Pencampuran

Proses pencampuran obat suntik secara aseptis, mengikuti langkah –

langkah sebagai berikut:

16
1) Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

2) Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi sesuai prosedur tetap

(lampiran 3)

3) Menghidupkan Laminar Air Flow (LAF) sesuai prosedur tetap

4) Menyiapkan meja kerja LAF dengan memberi alas penyerap cairan

dalamLAF.

5) Menyiapkan kantong buangan sampah dalam LAF untuk bekas

obat.

6) Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan alkohol 70%.

7) Mengambil alat kesehatan dan obat-obatan dari pas sbox.

8) Melakukan pencampuran secara aseptis

2.9 TEKNIK MEMINDAHKAN OBAT DARI AMPUL


a. Membuka ampul larutan obat:

1) Pindahkan semua larutan obat dari leher ampul dengan mengetuk-

ngetuk bagian atas ampul atau dengan melakukan gerakan J-motion.

2) Seka bagian leher ampul dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.

3) Lilitkan kassa sekitar ampul.

4) Pegang ampul dengan posisi 45º, patahkan bagian atas ampul

dengan arah menjauhi petugas. Pegang ampul dengan posisi ini

sekitar 5 detik.

5) Berdirikan ampul.

6) Bungkus patahan ampul dengan kassa dan buang ke dalam kantong

buangan.

7) Pegang ampul dengan posisi 45º, masukkan spuit ke dalam ampul,

17
tarik seluruh larutan dari ampul,tutup needle.

8) Pegang ampul dengan posisi 45º, sesuaikan volume larutan dalam

syringe sesuai yang diinginkan dengan menyuntikkan kembali larutan

obat yang berlebih kembali ke ampul.

9) Tutup kembali needle.

10) Untuk permintaan infus Intra Vena , suntikkan larutan obat ke dalam

botol infus dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui dinding agar

tidak berbuih dan tercampur sempurna.

11) Untuk permintaan Intra Vena bolus ganti needle dengan ukuran yang

sesuai untuk penyuntikan.

12) Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi

kedalam kantong buangan tertutup.

2.10 TEKNIK MEMINDAHKAN OBAT DARI VIAL

a. Membuka vial larutan obat

1) Buka penutupvial.

2) Seka bagian karet vial dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.

3) Berdirikan vial

4) Bungkus penutup vial dengan kassa dan buang ke dalam kantong

buangan tertutup

b. Pegang vial dengan posisi 45º,masukkan spuit ke dalam vial.

c. Masukan pelarut yang sesuai ke dalam vial, gerakan perlahan- lahan

memutar untuk melarutkan obat.

d. Ganti needle dengan needle yang baru.

e. Beri tekanan negatif dengan cara menarik udara ke dalam spuit kosong

18
sesuai volume yang diinginkan.

f. Pegang vial dengan posisi 45º, tarik larutan ke dalam spuit tersebut.

g. Untuk permintaan infusintravena (iv), suntikkan larutan obat ke dalam

botol infus dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui dinding agar tidak

berbuih dan tercampur sempurna.

h. Untuk permintaan intra vena bolus ganti needle dengan ukuran yang

sesuai untuk penyuntikan.

i. Bila spuit dikirim tanpa needle, pegang spuit dengan posisi jarum ke atas

angkat jarum dan buang ke kantong buangan tertutup.

j. Pegang spuit dengan bagian terbuka keatas, tutup dengan ”luer

lockcap”.

k. Sekacap dan syringe dengan alkohol.

l. Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi

kedalam kantong buangan tertutup.

m. Memberi label yang sesuai untuk setiap spuit dan infuse yang sudah

berisi obat hasil pencampuran.

n. Membungkus dengan kantong hitam atau alumunium foil untuk obat-obat

yang harus terlindung dari cahaya.

o. Memasukkan spuit atau infuse kedalam wadah untuk pengiriman.

p. Mengeluarkan wadah yang telah berisi spuit atau infuse melalui pass

box.

q. Membuang semua bekas pencampuran obat ke dalam wadah

pembuangan khusus.

19
2.11 DOKUMENTASI

Perawat yang telah melakukan pencampuran obat akan melakukan proses

“labeling” pada obat. Proses “labeling” tersebut antara lain :

1. Menuliskan nama pasien.

2. Menuliskan tanggal lahir pasien.

3. Menuliskan nomor Rekam Medik pasien.

4. Menuliskan nama obat.

5. Menuliskan rute pemberian obat.

6. Menuliskan waktu pemberian pasien.

Dengan proses “labeling” yang dilakukan perawat tersebut diharapkan dapat

menghindari kesalahan pemberian obat kepada pasien.

Ditetapkan di Bengkulu
Pada tanggal
Kepala Rumkit Tk IV 02.07.01 Zainul Arifin

dr. Junicko Sacrifian Anoraga, Sp.THT-KL


Mayor Ckm NRP.11040000520675

20
Lampiran 1
Ketercampuran Obat Suntik

NO NAMA OBAT KETERCAMPURAN LARUTAN IV KETERANGAN


1 Acyclovir Larutan Dextrosa, Ringer's Lactat. NOTE: larutan dextrose > 10% dapat Tidak kompatibel dengan produk
menjadikan kuning larutan (tidak mempengaruhi potensi obat) darah,larutanyangmengandung protein
Jangan simpan di lemari es

2 Albumin NaCl 0.9% (lbh baik) ; kompatibel dengan a 5% dan 10% Jangan gunakan jika larutan keruh.
jika kandungan larutan5%-25% gunakan NS atau D5Wsebagai
pelarut. Jangan menggunakan SWFI

3 Amikacin Larutan Dextrosa, RL Inkompatibel dengan heparin masukkan > 1 jam sebelum Penicillin

4 Aminophylline Larutan Dextrose, RL

5 Amphotericin B (Fungizone) Lebih disukai dgn Dekstrosa 5% tidak kompatibel dengan NaCl 0.9%
jangan dicampur dengan obat lain

6 Ampicillin Paling stabil dlm NaCl 0.9% dekstrosa dapat digunakan tp tidak
dalam konsentrasi tinggi

7 Ampicillin sulbactam Dalam NaCL 0.9%lebih disukai kompatibel dengan larutanyang


mengandung Dextrose danRL

8 Calcium Gluconate Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL

9 Cefepime Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL

10 Cefotaxime Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL

11 Ceftazidime Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL

21
12 Ceftriaxone Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa

13 Chloramphenicol Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL

14 Ciprofloxacine Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa

15 Clindamycin Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL

16 Dexamethason Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa

17 Diazepam Tidak direkmonedasi untuk dilarutkan tapiNaCl0.9%dapatdigunakanuntuk


penggunaandarurat

18 Digoxin Dekstros 5% dan NaCl 0.9% Mungkin terjadi endapan

19 Dobutamine Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL


Tidak kompatibel dengan heparin

20 Dopamine Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa,RL(GunakanN5bila adaheparin)

21 Epinephrine Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa. Jangan dicampur dengan Bikarbonat

22 Fentanyl Citrate Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa

23 Fluconazole Kompatibel dgn Dextrosa 5%, 10% dan RL

24 Furosemide Kompatibel dng NaCl 0.9% Lebih disukai dgn RL Jangan dicampur dengan larutan asam

25 Ganciclovir Kompatibel dgn Dextrosa 5%, NaCl 0.9%


dan RL
26 Gentamycin Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa

27 Heparin Kompatibel dengan NaCl 0.9%, dekstrosa

22
28 Imipenem-Cilastatin NaCl 0.9% lebih disukai meskipun dekstrose dapat digunakan pada
kondisi khusus
29 Ketorolac Kompatibel dengan larutan NaCl 0.9% dan dekstrose, RL

30 Levofloxacin Kompatibel dengan larutan NaCl 0.9% dan dekstrose, RL

31 Lorazepam Lebih disukai dgn Dekstrosa 5% Kurang stabil dalam NaCl

32 MgSO4 Larutan dekstrosa dan NaCl 0.9%

33 Mannitol Biasanya tdk dilarutkan tetapi Dekstrosa 5%, NaCl telah digunakan

34 Meropenem Lebih disukai NaCl 0.9%, kurang stabil dalam dekstrose, kompatibel
dengan RL
35 Metronidazole Tdk perlu dilarutkan. Kompatibel dgn larutan dekstrosa dan NaCl 0.9% Jangan dicampur dgn obat lain

36 Midazolam Dekstrose 5%, NaCl 0.9%, RL

37 Morphine Sulphate Larutan dekstrose dan NaCl 0.9%, bila diinfus bersama dgn heparin
gunakan hanya NaCl 0.9%

38 Ondansentron Larutan dekstrosa dan NaCl 0.9% Tidak tercampur dengan obat dan
39 Penicillin G Larutan dekstrosa dan NaCl 0.9% larutan bersifat basa
40 Phenytoin NaCl 0.9% Jangan dicampur dgn obat lain

41 Piperacillin-Tazobactam Larutan dekstrosa dan NaCl 0.9% tidak tercampur dgn RL

42 Propranolol Tidak direkomendasi untuk dilarutkan tapi NaCl 0.9%dapat digunakan

43 Ranitidin Kompatibel dengan larutan NaCl 0.9% dan dekstrosa, RL

44 Sodium Bicarbonate Larutan dekstrosa dan NaCl 0.9%

45 Sodium Valproate Dekstrosa 5%, NaCl 0.9%, RL

23
46 Vancomycin Dekstrosa 5%, NaCl 0.9%, RL Tidak tercampur dengan heparin

24
Lampiran 2
Data Kelarutan Dan Stabilitas Obat Non Kemoterapi
No Golongan Nama obat Pelarut sesuai Konsentrasi dalam Stabilitas setelah pencampuran Penyimpanan
pelarut

1 Antibiotik: Amikasin D5W, NS dan RL 0,25-5 mg/ml 24 jam dalam suhu ruangan; 2 Suhu kamar; Lemari
Aminoglikosida hari dalam lemari pendingin pendingin.

Gentamisin D5W, NS 40mg/ml dalam 50- 24 jam dalam suhu ruangan Suhu kamar
200ml
Tobramisin D5W, NS Dalam 50-100 mL 24 jam dalam suhuruangan Suhu kamar
D5W,NS
2 Antibiotik: Imipenen dan Pelarut original. 5mg/ml 4 jam dalam suhu ruangan; 24 Dalam lemari pendingin;
Carbapenem silastatin jam dalam lemari pendingin BUKAN FREEZER

Meropenem SWFI, NS, 500mg/10ml; SWFI: 2 jam Dalam lemari


D5W dalam suhu ruangan; 12 pendingin; BUKAN
1g/20ml
jam
dalam lemari FREEZER
pendingin;
NS: 2 jam dalam
suhu kamar, 18
jam dalam lemari
pendingin.
D5W: 1 jam dalam
suhu kamar, 8
jam dalam lemari
pendingin

3 Antibiotik: Azitromisin SWFI, NS, D5W SWFI: 24 jam dalam suhu Suhu kamar ; Lemari
Makrolida 500mg/4.8ml; NS /D5W: kamar pendingin.
1mg/l atau 2mg/ml ; <30oC; 7 hari dalam
suhu5oC.

25
4 Antibiotik : Sefazolin SWFI; D5W SWFI:1g/5ml atau 24 jam dalam suhu kamar; 10 Terlindung dari cahaya
Sefalosporin 1g/10ml; hari dalam lemari pendingin langsung; terlindung dari suhu
generasiI (4oC). >40oC.
D5W: 1g/50ml
atau2g/50ml

5 Antibiotik : Sefuroksim NS; D5W 750mg/50ml 24 jam dalam suhu kamar; 48 Suhu kamar ; Lemari
Sefalosporin jam dalam lemari pendingin. pendingin.
generasiII
6 Antibiotik : Sefotaksim NS; D5W 1g/50ml 12-24 jam dalam suhu kamar Suhu kamar ; Lemari
Sefalosporin dan 7-10 hari dalam lemari pendingin.
generasiIII pendingin.

Seftriakson NS; D5W 10-40mg/ml ; 100mg/ml stabil 2 hari Suhu kamar ; Lemari
dalam suhu kamar 25oC pendingin.
dan
10 hari dalam lemari pendingin
5oC;
Seftizoksim NS; D5W 1g/50ml 24 jam pada suhu kamar; 96 jam Suhu kamar ; Lemari
pada lemari pendingin pendingin.

Seftazidim SWFI;NS 100mg/ml 12 jam dalam suhu ruangan; 3 Suhu kamar; Lemari
hari dalam lemari pendingin pendingin.

7 Antibiotik: Sefepime NS; D5W 40mg/ml 24 jam dalam suhu ruangan; 7 Suhu kamar ; Lemari
Sefalosporin hari dalam lemari pendingin. pendingin
Generasi IV

Sefpirom SWFI; NS (NaCl 1-2g/10-20ml 24 jam dalam suhu ruangan 25- Suhu kamar
o
0,9%) ; D5W 30 C

8 Antibiotik: Levofloksasin Larutan original. 5mg/ml 72 jam dalam suhu ruangan; 14 Hindari cahaya langsung;
Kuinolon hari dalama lemaripendingin dalam suhu kamar
dalam lemari pendingin

26
9 Antibiotik: Penicilin Ampisilin NS (NaCl 30 mg/ml 8 jam dalam NS (NaCl 0,9%) Suhu kamar ; Lemari
dalam suhu kamar 25oC, 2 pendingin.
0,9%) ;D5W
hari dalam suhu 4oC ; <1 jam
dalamD5W.

10 Antibiotik: Fosfomisin SWFI; NS (NaCl 1g/10ml 24 jam dalam suhu ruangan 25- Suhu ruangan.
30oC
golongan lain-lain 0,9%) ; D5W

Teicoplanin SWFI; 400mg/3ml jam


2 dalam ruangan Suhu ruangan.
4
11 Antifungal Amfoterisin B SWFI; D5W Dala ml 24 jam dalam WFI Harus disimpan dalam suhu
s
m 12 SWFI/Vial ;u 6 jam dalam D5W. pendingin antara2-8oC.
h
12 Antidotum Asetilsistein D5W - 24 jam. dalam suhu kamar antara 20-
u
25oC.
13 Elektrolit Kalsium D5W ; NS 1g/100mL D5W 24
2 jam JANGAN
Glukonat atau NS ; 2g/100ml 5 disimpan di KULKAS;
D5W ; NS o
Disimpan dalam suhu
C
ruangan

27
Lampiran 3
Rekonstitusi Antibiotika Untuk Pemberian Intravena

Stabilitas Dalam
No Nama Obat Rute Rekonstitusi Penyimpanan Keterangan
O
4-8 C 25 OC
1 Amikacin inj. lar. 250 IV IV infus : 500 mg diencerkan 60 hari 24 jam - Larutan dalam air dapat
mg/vial 2 ml drip dengan 100-200 ml lar. infus berwarna gelap karena
500 mg, 1 g oksidasi, tapi tidak
mempengaruhipotensinyadanb
oleh digunakan.
- Lama pemberian IV drip 1-2
jam pada bayi & 30-60 menit
padaanak.
- Infus yang bisa digunakan :
NS, RL, D5 NS, D5 ½S

2 Amoxycilin – IV Tambahkan 10 ml aqua pro inj. - 20 menit - Diberikanivpelan3–4menit


clavulanat acid inj. - Terjadi penurunan potensi
(Co-amoxiclav) IV Dalam 50 ml NS diberikan dalam pada penyimpanan, sebaiknya
- 500 mg drip waktu 30 – 40 menit segera digunakan
setelahdirekonstitusi.
- 1gr IV Tambahkan 20 ml aqua pro inj. - 20 menit

IV Dalam 100 ml NS, diberikan


drip dalam waktu 30-40 menit

28
3 Ampicilin inj.
- 500mg, IV Tambahkan 5 ml aqua pro inj. 4 jam 1 jam
(konsentrasi 100 mg/ml)

- 1 gr Tambahkan 10 ml aqua pro inj. 4 jam 1 jam


(konsentrasi 100 mg/ml)
4 Ampicillin – IV Tambahkan1,6mlaquaproinj( - 1 jam - Dapat di injeksikan secara IV
Sulbactam ((2 : 1) mengandung ampicillin 250 pelan langsung10-15menit;
(Bactesyn) inj. mg/mldansulbactam125mg/ml) - Larutan yang sudah
0,75 gr direkonstitusi tidak bisa
disimpan, karena terjadi
1,5 gr IV Tambahkan 3,2 ml aqua pro inj - 1 jam penurunanpotensi.
(mengandung ampicillin 500
mg/ml dan sulbactam mg/ml)

IV diencerkan dengan 50-100 ml NS - 8 jam


drip dengan lama pemberian 15-30
menit.
5 Cefepim inj. 500 - Pelarut lain yang bisa
mg IV Tambahkan 5 ml aqua pro inj 7 hari 24 jam digunakan adalah : NS,D5.
1 gr Tambahkan10mlaquaproinj - Larutan yang sudah
(Konsentrasiakhir100mg/ml) direkonstitusi dapat berubah
warna dari tidak berwarna
menjadi kekuningan, namun
tidak mempengaruhi
potensinyadanbolehdigunakan.

6 Cefotaxim inj. IV Tambahkan 10 ml aqua pro inj. 7 hari 24 jam - Perubahan warna serbuk/larutan
500 mg (konsentrasi 50 mg/ml) menjadi gelap, tidak boleh
digunakan lagi karena
potensinya

29
1 gr. IV Tambahkan 9,6 ml aqua pro inj. 7 hari 24 jam hilang.
(konsentrasi 100 mg/ml) - Simpan terlindung dari cahaya
dan panas.
- InjeksiIVpelan3-5menit

7 Cefuroxim inj. IV Tambahkan 8 ml aqua pro inj 48 jam 24 jam - InjekaiIVpelan3-5menit.


750 mg (konsentrasi 90 mg/ml) - Perubahan warna dari
kekuningan menjadi gelap
tergantung kondisi
1,5 gr IV Tambahkan 16 ml Aqua pro inj 48 jam 24 jam penyimpanan, tapi tidak
(konsentrasi 90 mg/ml) mempengaruhi potensi
sehingga masih boleh
digunakan.
IV Drip dalam waktu 15-60 menit, - -
drip pelarut D5, NS 100-200 ml
(konsentrasi maksimal 76mg/ml)

8 Ceftriaxon inj. - Setelah direkonstitusi


250 mg IV Tambahkan 2,4 ml aqua pro inj. 10 hari 3 hari larutan berwarna
kekuningan

500 mg IV Tambahkan 4,8 ml aqua pro inj. 10 hari 3 hari

1 gr IV Tambahkan 9,6 ml aqua pro inj. 10 hari 3 hari

9 Ceftazidim inj. 0,5 gr IV Tambahkan 5 ml aqua pro inj - Injeksi IV langsung 3-5menit
(konsentrasi 100 mg/ml) 7 hari 24 jam - Dalam penyimpanan dapat
1 gr IV Tambahkan 10 ml aqua pro inj 7 hari 24 jam terjadi perubahan warna
(konsentrasi 100 mg/ml) menjadi gelap, namun masih
2 gr IV Tambahkan 10 ml aqua pro inj 7 hari 24 jam boleh digunakan karena tidak
(konsentrasi 170 mg/ml) ada perubahan potensi.

30
IV Pelarut D5, NS dengan - -
drip konsentrasi maksimal 70 mg/ml,
10 Clindamycin inj. drip D5
Pelarut 15-30ml
dan NS, - -
Lar. 2 ml, 4 ml, IV drip Drip diberikan dalam waktu 10-60
6 ml. intermitten menit, kecepatan pemberian tidak
vial 150 mg/ml. boleh lebih dari 30 mg/menit

11 Cloxacillin inj.
- 250 mg IV pelan Tambahkan 10 ml aqua pro inj. 72 jam 24 jam

- 500 mg IV pelan Tambahkan 20 ml aqua pro inj. 72 jam 24 jam

12 Flucanazol (Diflucan) IV - - - - Tidak boleh digunakan jika


drip larutan
infus lar 200 mg/100 ml keruh atau ada endapan.
- Larutan tidak boleh dibekukan.
- Kecepatan pemberian rip
minimal1 jam/100ml.

13 Gentamycin inj. lar. 80 IM, IV Dilarutkan dalam 50 -200 ml D5 atau - - - Tidak boleh dibekukan.
mg/2ml, amp/vial drip NS selama 30 menit-2 jam
14 Meropenem inj. - IV pelan 3-5 menit atau drip
- 500 mg IV Tambahkan 10 ml aqua pro inj. 12 jam 2 jam 15-30 menit.
- Tidak boleh digunakan jika
larutan berubah warna menjadi
kuning.
- 1 gr IV Tambahkan 10 ml aqua pro inj. 12 jam 2 jam
500 mg & 1 gr IV Larutkan dalam 100 ml NS Larutkan 18 jam 2 jam
drip dalam 100 ml D5 8 Jam 1 Jam

31
1 Metronidazol (Flagyl) IV - - s/d tanggal - Infus diberikan dalam waktu
5 Infus btl. 500 mg/100 drip kadaluwarsa lebih dari 1jam.
ml - Adanya cahaya yang
berlebihan dapat menyebabkab
perubahan warna menjadi
gelap, lindungi dari sinar
matahari langsung.
1 Cefoperazone- Sulbac 5 hari 24 jam - Injeksi iv diberikan dalam
7 waktu

tam 1 gr minimal 3 menit


(mengandung 0,5 gr IV drip Encerkan dengan 20ml
Cefoperazone + Tambahkan 3,4 ml aqua pro inj. infus NS, D5 diberikan dalam
Sulbactam 0,5 gr) waktu 15 – 60 menit
IV
- 2 gr (mengandung 1 gr
Cefoperazone + Tambahkan 6,7 ml aqua pro inj.
Sulbactam 1 gr)

1 Vancomycin 500 mg IV drip - Tambahkan 9,7 ml aqua pro 14 hari 14 hari - Sangat mengiritasi jaringan
IV
8 intermitten injeksi, kemudian encerkan dan dapat menyebabkan
dengan 100 ml D5 atau NS nekrosis.
- Diberikan dalam waktu - Tidak dianjurkan untuk
diberikan im
minimal 1 jam
- Ektravasasi sebaiknya dicegah
pada pemberianIV
- Dapat diberikan IV drip
continous jumlah pelarut
disesuaikan untuk kebutuhan
24jam

32
33