Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KOORDINASI

SINTESIS SENYAWA KOODINASI MENGANDUNG BESI DAN ANALISA SENYAWA


MENGGUNAKAN METODE REDOX

Disusun Oleh:
Ni Ketut Prihatin

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
2017
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KOORDINASI

Judul : SINTESIS SENYAWA KOODINASI MENGANDUNG BESI DAN ANALISA


SENYAWA MENGGUNAKAN METODE REDOX

Nama : Ni Ketut Prihatin


NIM : 652016028
Partner :
1. Maria Endah Retno P / 652016028
2. Gavrila Debora M / 652016022
3. Yemima Kristiani / 652016027
Pertemuan Ke- :2

Salatiga, 26 Oktober 2017

Menyetujui,

Laboran Asisten
SINTESIS SENYAWA KOODINASI MENGANDUNG BESI DAN ANALISA SENYAWA MENGGUNAKAN
METODE REDOX
Maria Endah Retno P 1, Gavrila Debora M2, Yemima Kristiani3
1
Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga,
Jawa Tengah 50711

652016028@student.uksw.edu

ABSTRACT

PENDAHULUAN

Ion dari unsur transisi terdapat dalam larutan encer sebagai ion kompleks. Pada praktikum
ini dilakukan sintesis dari garam kompleks dan analisa garam kompleks dengan tujuan untuk
menentukan % yield garam kompleks, konsentrasi KMnO4 baku, kadar oksalat dalam garam
kompleks dan kadar besi dalam garam kompleks (Riyanto, 2017).

Senyawa koordinasi adalah senyawa yang mengandung satu atau lebih ion kompleks
dengan sejumlah kecil molekul atau ion di seputar atom atau ion logam pusat, biasanya dari logam
golongan transisi (Chang, 2005). Senyawa kompleks merupakan senyawa yang molekul-molekulnya
tersusun dari gabungan dua molekul atau lebih molekul yang sudah jenuh. Pembuatan dari
kompleks-kompleks logam biasanya dilakukan dengan molekul-molekul atau ion-ion tertentu
(Vogel, 1990). Ion oksalat merupakan ligan yang istimewa karena mampu membentuk senyawa
kompleks dengan berbagai ion logam transisi menghasilkan senyawa dengan sifat dan karakter
yang bervariasi. Ion oksalat memiliki empat atom donor namun hanya dua atom yang
menjadikannya sebagai ligan bidentat yang berikatan dengan ion logam membentuk senyawa
kompleks mono, bis dan tris oksalat. Ion oksalat juga dapat berfungsi sebagai ligan jembatan yang
menghubungkan lebih dari satu inti ion logam transisi, baik ion logam yang sejenis maupun berbeda
jenis sehingga membentuk kompleks polimer berdimensi satu, dua, bahkan tiga (Kurnia,2006).

Dalam analisa volumetri zat yang akan dianalisa dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang
konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari biuret dalam bentuk larutan (Khopkar, 1990). Analisa
volumetri merupakan metode dari analisa kuantitatif yang bertujuan untuk menentukan banyaknya
suatu zat dalam volume tertentu. Reaksi-reaksi dalam volumetri terdiri dari reaksi netralisasi, reaksi
pengendapan atau pembentukan senyawa kompleks, reaksi redoks (Underwood, 1994).
Reduksi–oksidasi adalah proses perpindahan elektron dari suatu oksidator ke reduktor. Reaksi
reduksi adalah reaksi penangkapan elektron atau reaksi terjadinya penurunan bilangan oksidasi.
Sedangkan reaksi oksidasi adalah pelepasan elektron atau reaksi terjadinya kenaikan bilangan
oksidasi. Jadi, reaksi redoks adalah reaksi penerimaan elektron dan pelepasan elektron atau reaksi
penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi. Jika suatu logam dimasukkan ke dalam larutan yang
mengandung ion logam lain, ada kemungkinan terjadi reaksi redoks, misalnya: Ni(s) + Cu2+(l) Ni2+
+ Cu(s) Artinya logam Ni dioksidasi menjadi Ni2+ dan Cu2+ di reduksi menjadi logam Cu. Demikian
pula peristiwa redoks tersebut terjadi pada logam lain seperti besi. Sepotong besi yang tertutup
lapisan air yang mengandung oksigen akan mengalami korosi (Arsyad, 2001).
Titrasi redoks merupakan analisis titrimetri yang didasarkan pada reaksi redoks. Pada titrasi
redoks, sampel yang dianalisis dititrasi dengan suatu indikator yang bersifat sebagai reduktor atau
oksidator, tergantung sifat dari analit sampel dan reaksi yang diharapkan terjadi dalam analisis. Titik
ekuivalen pada titrasi redoks tercapai saat jumlah ekuivalen dari oksidator telah setara dengan
jumlah ekuivalen dari reduktor. Bebrapa contoh dari titrasi redoks antara lain adalah titrasi
permanganometri dan titrasi iodometri/iodimetri. Titrasi iodometri menggunakan larutan iodium
(I2) yang merupakan suatu oksidator sebagai larutan standar. Larutan iodium dengan konsentrasi
tertentu dan jumlah berlebih ditambahkan ke dalam sampel, sehingga terjadi reaksi antara sampel
dengan iodium. Selanjutnya sisa iodium yang berlebih dihiung dengan cara mentitrasinya dengan
larutan standar yang berfungsi sebagai reduktor (Karyadi, 1994).
Logam besi mudah larut dalam asam-asam mineral encer. Dengan asam basa non oksidator
akan larut menjadi ion besi (II) sedangkan jika udara atau digunakan asam-asam oksidator akan
dihasilkan besi (III) (Besi, 2012). Besi (III) klorida anhidrat bersifat higroskopis, membentuk hidrogen
klorida terhidrasi di udara lembab. Ketika dilarutkan dalam air, besi (III) klorida mengalami hidrolisis
dan melepaskan panas dengan reaksi eksotermik. Besi (III) klorida anhidrat adalah asam lewis yang
cukup kuat dan digunakan sebagai katalis dalam sintesis senyawa organik.
Unsur ini larut dalam asam klorida encer, dan semua besi(III) yang diproduksi selama proses
pelarutan direduksi menjadi besi (II). Oksidasi dari ion klorida oleh permanganat berjalan lambat
pada suhu ruangan. Namun demikian, dengan kehadiran besi, oksidasi akan berjalan lebih cepat.
Meskipun besi (II) adalah agen pereduksi yang lebih kuat daripada ion klorida, ion yang belakangan
disebut ini teroksidasi secara bersamaan dengan besi. (Abdillah, 2012).
Kalium permanganat digunakan sebagai agen pengoksidasi. Reagen ini tidak membutuhkan
indikator kecuali untuk larutan yang amat encer. Satu tetes permanganat 0,1 N memeberikan
warna merah muda yang jelas pada volume dari larutan yang biasa digunakan dalam sebuah titran,
warna ini dipergunakan untuk mengidentifikasi reagen tersebut. Permanganat bereaksi secara
cepat dengan banyak agen pereduksi atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi.
KMnO4 sebelum dipergunakan dalam proses permanganometri, harus distandarisasi terlebih
dahulu. Untuk menstandarisasi larutan KMnO4 ini, dapat digunakan zat reduktor seperti asam
oksalat ( H2C2O4 ), natrium oksalat ( Na2C2O4 ), dan lain-lain ( Harjadi, 1993 ).
Titrasi permanganometri merupakan salah satu tutrasi oksidasi reaksi dengan menggunakan
garam kalium permanganat (KMnO4) sebagai larutan standarnya. Akan tetapi kalium permanganat
bukan merupakan bahan kimia standar primer. Hal ini dikarenakan permanganat selalu bercampur
dengan oksidanya. Keadaan bahan kimia tersebut semakin meningkat dengan terbentuknya oksida
mangan. Adanya bahan pereduksi tersebut dihindari, karena keberadaanya dapat mengkatalis
proses atau dekompososisi larutan permanganat (selama pendiaman/penyimpanan).
Reaksi yang terjadi:
4MnO4- + 2H2O → 4MnO2 + 4H+
Reaksi atau dekomposisi ini dikatalis oleh adanya mangan oksida. Sehingga permanganat tidak
stabil dalam keadaan ion Mn2+.
4MnO4- + Mn2+ +2H2O → 5MnO2 + 4H+
Pada kondisi asam reaksi ini berlangsung lambat, dan pada kondisi netral sangat cepat (Widodo,
2010).
Faktor – faaktor yang dapat menyebabkan penurunan yang besar dari kekuatan larutan
baku tersebut, aantara lain dengan pemanasan daan penyaringan untuk menghilangkan zat-zat
yang mudah dioksidasi (Gholib, 2007).

EKSPERIMEN

Alat dan Bahan

Alat : Gelas beker, erlenmeyer, kaca arloji, neraca, spatula, pipet ukur, pilius, buret, statif,
bunsen, korek api, kertas saring

Bahan : Besi(III) chloride hexahydrate, potassium oxalatemonohydrate, potassium permanganate


(KMnO4 ), asam oksalat, H2SO4 6 M, aseton, aquades

Prosedur Kerja

Bagian I Sintesis dari Garam Komples mengandung Besi


1. Ditimbang 10 gram asam oxalate dihydrate dalam gelas beaker dan dilarutkan dengan 20
ml aquades
2. Dipanaskan larutan, diaduk hingga asam oxalate larut sempurna
3. Sementara larutan asam oksalat dipanaskan, dibuat larutan FeCl3 . 6H2O. Ditimbang 5,30
gram FeCl3 . 6H2O
4. Dilarutkan besi(III) chloride hexahydrate dalam 15 mL air.
5. Disaring larutan besi(III) chloride hexahydrate kedalam larutan asam oxalate panas.
6. Ditutup gelas beaker dan disimpan selama 1 minggu.
7. Disaring kristal yang terbentuk
8. Dibilas kristal menggunakan 15 mL dari larutan alkohol-air (1:1).
9. Dituang 10 mL aseton sebanyak agar kristal dapat kering dengan cepat.
10.Ditimbang kristal kering dan dihitung % yield

Pada percobaan selanjutnya (1 minggu kemudian), kristal hijau akan terbentuk. Perlakukan kristal
tersebut dengan cara :

1. Disaring larutan dengan kertas saring


2. Dicuci kristal menggunakan larutan filtrat
3. Dibilas kristal menggunakan 15 mL dari larutan alkohol-air (1:1).
4. Dituangkan larutan ini perlahan-lahan sehingga semua kristal tercuci.
5. Dituang 10 mL aseton sebanyak tiga kali agar kristal dapat kering dengan cepat.
6. Dioven, desikator, dan ditimbang kristal kering

Blanko

1. Diambil 10ml aquades dan ditambah 10 ml H2SO4 6M


2. Dipanaskan dengan suhu maksimal 70 oC
3. Dititrasi dengan KMnO4 0,05 M
4. Dilakukan titrasi secara duplo

Standarisasi KMnO4 0,05 M

1. Diambil 0,1 gram Natrium Oksalate kemudian dilarutkan dalam 100 ml aquades
2. Diambil 10 ml Natrium Oksalat, ditambah 10 ml H2SO4 6 M dikocok, dipanaskan maksimal
70 oC
3. Dititrasi dengan KMnO4 0,05 M
4. Dilakukan secara duplo

Penentuan jumlah Oksalat dalam Garam Kompleks

1. Ditimbang 0,1 g garam kompleks dilarutkan dalam 100ml aquades dalam labu ukur
2. Diambil 10ml larutan garam kompleks, ditambah 10 mL H2SO4 6M tambah kira-kira 75
ml akuades
3. Dipanaskan larutan maksimal 70% ºC
4. Dititrasi dengan KMnO4 0,05 M, dilakukan secara duplo

Menentukan jumlah ion Besi dalam Garam Kompleks


1. Diambil 10 ml larutan B, ditambah 10 mL H2SO4 6M, dipanaskan
2. Ditambah KMnO4 0,05 M sampai berubah warna
3. Dicatat berapa tetes KMnO4 yang ditambahkan.
4. Ditambahkan 1 g zinc, ditunggu sampai zinc tidak bereaksi lalu disaring
5. Hasil filtrat dipanaskan
6. Dititrasi dengan KMnO4 0,05 M
7. Diulangi percobaan secara duplo

HASIL DAN DISKUSI

Massa kristal = (Massa kertas saring+ kristal) – (Massa kertas saring)

= 52,46 gram - 50,56 gram

= 1,9 gram

I. Blanko II. Standarisasi KMnO4 0,05 M


Akuades + H2SO4 Natrium Oksalat + H2SO4
I II I II
Volume awal 0 0,1 Volume awal 0,2 1,2
Volume akhir 0,1 0,2 Volume akhir 1,2 2,2
Volume 0,1 0,1 Volume 1 1
ditambahkan ditambahkan
Rata-rata 0,1 Rata-rata 1

III. Penentuan jumlah oksalat dalam IV. Penentuan jumlah ion besi
garam kompleks dalam garam kompleks
I II I II

Volume awal 2,2 2,9 Volume awal 3,8 3,9

Volume akhir 2,9 3,5 Volume akhir 3,9 4

Volume 0,7 0,6 Volume 0,1 0,1


ditambahkan ditambahkan
Rata-rata 0,65 Rata-rata 0,1

Standarisai KMnO4
5 C2O42- (aq) + 2 MnO4- (aq) + 16 H+ (aq) → 10 CO2 (g) + 2 Mn2+ (aq) + 8 H2O (l)

Volume total = volume standarisasi-volume blanko


= 1 ml – 0,1 ml
= 0,9 ml
0,1 𝑔𝑟𝑎𝑚
Mol Na2C2O4 = 134 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑚𝑜𝑙 = 7,46 × 10−4 𝑚𝑜𝑙
Mol C2O42- = Mol Na2C2O4 = 7,46 x 10-4 mol
Mol MnO4- yang digunakan = 2/5 x mol Mol C2O42-
= 0,4 x 7,46 x 10-4 mol
= 2,984 x 10-4 mol
Mol KMnO4 yang digunakan = Mol MnO4-
= 2,984 x 10-4 mol
2,984 ×10−4 𝑚𝑜𝑙
Molaritas KMnO4 = 0,9 ×10−3 𝐿
= 0,33 M

Penentuan yield
Perbandingan jumlah mol FeCl3●6H2O dan K3Fe(C2O4)3●3H2O adalah 1:1, sehingga:
Mol FeCl3●6H2O = mol K3Fe(C2O4)3●3H2O
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐹𝑒𝐶𝑙3 ●6𝐻2 𝑂
Mol FeCl3●6H2O = 𝑀𝑊 𝐹𝑒𝐶𝑙3 ●6𝐻2 𝑂
5,30 𝑔𝑟𝑎𝑚
=
270,3 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙

= 0,0196 mol
Mol K3Fe(C2O4)3●3H2O = Mol FeCl3●6H2O
= 0,0196 mol
Massa teoritis = Mol K25Fe(C2O4)4●3H2O x MW K25Fe(C2O4)4●3H2O
= 0,0196 mol x 613,5331gram/mol
= 12,025 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑟𝑖𝑠𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚
% yield = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
× 100%
1,9 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100%
12,025 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 15,8 %

Penentuan kadar oksalat


5 C2O42- (aq) + 2 MnO4- (aq) + 16 H+ (aq) → 10 CO2 (g) + 2 Mn2+ (aq) + 8 H2O (l)

Massa garam kompleks = 0,1 gram


Volume KMnO4 yang digunakan = 0,55 ml
Molaritas KMnO4 = 0,33 M
Mol KMnO4 = Molaritas KMnO4 x volume KMnO4
= 0,33M x (0,55 x 10-3) L
= 1,82 x 10-4 mol
Mol MnO4- = Mol KMnO4
= 1,82 x 10-4 mol
Mol C2O42- = 5/2 x Mol KMnO4
= 2,5 x (1,82 x 10-4) mol
= 4,5 x 10-4 mol
Massa C2O42- = Mol C2O42- x MW C2O42-
Penentuan kadar besi
5 Fe2+ (aq) + MnO4- (aq) + 8 H+ (aq) → 5 Fe3+ (aq) + Mn2+ (aq) + 4 H2O (l)

Massa garam kompleks = 0,1 gram


Volume KMnO4 yang digunakan = 0,1 ml
Molaritas KMnO4 = 0,33 M
Mol KMnO4 = Molaritas KMnO4 x volume KMnO4
= 0,33 M x (0,1 x 10-3) L
= 3,3 x 10-5 mol
Mol MnO4- = Mol KMnO4
= 3,3 x 10-5 mol
Mol Fe3+ = 5/1 x Mol KMnO4
= 5 x 3,3 x 10-5 mol
= 16,5 x 10-5 mol
Massa Fe3+ = mol Fe3+ x MW Fe3+
= (16,5 x 10-5) mol x 55,85 gram/mol
= 9,22 x 10-3 gram
9,22 ×10−3 𝑔𝑟𝑎𝑚
% massa Fe3+ = 0,1 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 9,22%
Pada percobaan ini dilakukan sintesis senyawa koordinasi mengandung besi dan analisa
senyawa menggunakan metode redox. Dalam pembuatan garam kompleks, tujuan larutan
disimpan selama seminggu dikarenakan agar kristal yang didapatkan maksimal. Setelah itu disaring
dan dibilas dengan alkohol : aquades (1:1) dan aseton. Pembilasan menggunakan aseton bertujuan
agar kristal cepat kering. Diperoleh massa kristal sebesar 1,62 gram.
Dalam titrasi blanko tidak berisi analit sehingga digunakan H2SO4 dengan aquades sebagai
titer blanko dan KMnO4 sebagai titran. Tujuan dari titrasi blanko ini agar mengurangi kesalahan
yang disebabkan oleh pelarut dan pereaksi. Pada suatu larutan tidak diberi indikator apapun karena
pereaksi mampu bertindak sebaga indikator sehingga dapat langsung dititrasi dengan larutan
KMnO4. Diperoleh volume rata-rata KMnO4 sebesar 0,1 ml.
Pada standarisasi, larutan natrium oksalat dalam H2SO4 dan aquades adalah sebagai titran
dimana nantinya larutan tersebt dititrasi dengan KMnO4. Sebelum titrasi, larutan dipanaskan
terlebih dahulu pada suhu kurang lebih 70 oC agar natrium oksalat dapat larut sempurna. Diperoleh
volume titrasi rata-rata sebesar 1 mL dengan konsentrasi KMnO4 sebesar 39,6 %.
Untuk menentukan oksalat dalam garam kompleks melibatkan titrasi oksidasi-reduksi atau
redoks (Kurnia, 2006). Dilakukan pengenceran garam kompleks dengan menimbang 0,1 gram
garam kompleks yang nantinya dilarutkan dalam 100 ml aquades, diambil 10 ml larutan hasil
pengenceran kemudian ditambah dengan 10 ml H2SO4 6M. Larutan kemudian dipanaskan pada
suhu kurang lebih 70 0C dengan tujuan agar reaksi berjalan cepat antara KMnO4 dengan Asam
Oksalat pada suhu kamar. Hasil yang didapat sebesar 0,65 ml. Dapat ditentukan kadar oksalat
dalam sampel sebesar 39,6 %.
Besi dalam garam kompleks sebagai besi (III), besi akan direduksi oleh besi (II) dan
kemudian dioksidasi KMnO4 menjadi iron(III) (Besi,2012). Sama halnya dengan langkah kerja
sebelumnya, tujuan dari pemanasan adalah mempercepat reaksi. Fungsi penambahan larutan
KMnO4 3% adalah untuk menghilangkan ion oksalat (Riyanto,2016). Penambahan dilakukan hingga
larutan berubah warna menjadi ungu. Kelebihan zinc disaring dengan cepat karena besi (II) mudah
teroksidasi menjadi besi (III) di udara bebas (Riyanto,2016). Setelah pemanasan, larutan dititrasi
menggunakan larutan KMnO4. Diperoleh hasil titasi sebesar 0,2 ml dan kandungan Fe3+ dalam
senyawa garam kompleks sebanyak 9,22 %.

Dari perhitungan yang sudah dilakukan didapatkan


- % massa C2O42- = 39,6 %
- % massa Fe3+ = 9,22 %
Diasumsikan garam kompleks sebanyak 100 gram.
1
- Mol C2O42- = 39,6 𝑔𝑟𝑎𝑚 × 88,02 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙 = 0,449 𝑚𝑜𝑙
1
- Mol Fe3+ = 9,22 𝑔𝑟𝑎𝑚 × 55,85 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙 = 0,165 𝑚𝑜𝑙
Masing-masing nilai mol dibagi dengan nilai mol yang terkecil. Mol terkecil dimiliki Fe3+ yaitu
sebesar 0,1945 mol.
0,449 𝑚𝑜𝑙
- Mol C2O42- = = 2,72 ~ 3  nilai z
0,165 𝑚𝑜𝑙
0,165 𝑚𝑜𝑙
- Mol Fe3+ = 0,165 𝑚𝑜𝑙
=1  nilai y

Dari perhitungan tersebut didapat bahwa nilai y = 1 dan z = 3. Sehingga koefisien yang belum
diketahui adalah x. Koefisien x dapat ditentukan dengan menetralkan senyawa garam kompleks
(bermuatan nol, 0). Nilai yang didapat adalah 3.
y FeCl3●6H2O + reagen berlebih  KxFey(C2O4)z●3H2O + produk lain
FeCl3 dianggap sebagai pereaksi pembatas. Dan reaksi disetarakan sehingga menjadi:
FeCl3●6H2O + reagen berlebih  K3Fe(C2O4)3●3H2O + produk lain

KESIMPULAN

Pada praktikum ini, dapat disimpulkan % yield kristal yang terbentuk sebesar 15,8 %.
Molaritas dari KMnO4 adalah sebesar 0,33 M. Jumlah oksalat dalam garam kompleks sebesar 39,6
%. Jumlah kadar besi dalam garam kompleks sebesar 9,22 %. Rumus empiris dari garam kompleks
yang terbentuk adalah K3Fe(C2O4)3●3H2O.

DAFTAR PUSTAKA
Abdillah, Indah. 2012. Titrasi Permanganometri. http://catatankimia.com/. Diakses pada tanggal
15 November 2017.

Arsyad, M Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Besi” (III). http://Id. Wikipedia. Org/ Diakses pada tanggal 15 November 2017

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Gholib Ibnu Gandjar, Abdul Rahman. Kimia Analisis Farmasi. Pustaka Pelajar: Jakarta. 2007

Karyadi, Benny. 1994. Kimia 2. Balai Pustaka, Jakarta.

Kurnia, Kiki Adi. 2006. Sintesis Senyawa Kompleks K[Cr(C2O4)2(H2O)2].2H2O dan [N(n-
C4H9)4][CrFe(C2O4)3].H2O.Ju rnal Kimia Indonesia. Vol.1 (1) h 7-12

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analisa. Jakarta. Universitas Indonesia Pers

Riyanto, Cucun Alep. 2017. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Koordinasi (KM-221). Salatiga: UKSW.

Underwood, A.L. 2002. Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga, Jakarta

Widodo, Didik Setiyo dan Retno Anindi Lusiana. 2010. Kimia Analisis Kuantitatif. Yogyakarta: Graha
Ilmu.

Anda mungkin juga menyukai