Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR REAKSI ANORGANIK


OKSIDASI REDUKSI : PENGARUH ASAM BASA PADA
LOGAM

OLEH :

KELOMPOK : 6

ANGGOTA : 1. HAFZHATUL HUSNA

2. FINNY RAHMATANIA

3. SERLI SUKMA YULI

4. RIZKI ANGGI SUHAIRAH NASUTION

DOSEN : MIFTAHUL KHAIR,S.Si,M.Sc,Ph.D

ASISTEN : 1. AULIA RAHMAN

2. MUTIA NURUL

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNVERSITAS NEGERI PADANG


2018
Oksidasi Reduksi: Pengaruh Asam basa pada logam

A. Tujuan

Untuk mempelajari pengaruh asam dan basa terhadap logam

B. Waktu dan tempat

Hari / tanggal : Rabu / 07 Maret 2018


Waktu : 07 – 9.40 Wib
Tempat : LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK, FMIPA UNP

C. Dasar teori
 Asam
Asam adalah spesi yang dapat mendonorkan proton (donor proton). Asam kuat
mendonorkan semua protonnya. Mineral asam seperti HCl, HNO3, dan H3PO4 adalah
asam-asam kuat. Asam dapat bertindak sebagai agen pengoksidasi. H+ adalah agen
pengoksidasi (dan tereduksi menjadi H2).
 Logam
Logam cenderung membentuk kation (ion positif) baik didalam larutan maupun
senyawa. Logam padat bereaksi dengan asam membentuk kation dan melepas satu
atau lebih elektron.
M(s) →Mn+(aq) + ne
elektron yang dilepaskan ditangkap oleh agen pengoksidasi (H+, NO3 - , SO42- ) dan
melepaskan gas. Deret aktivitas logam terlihat pada Table 4.1 Deret unsur pada atas
(kiri) dapat mereduksi unsur-unsur yang ada dibawahnya (kanan). Jadi, kalium (K)
adalah agen pereduksi yang paling kuat yang dapat mengganti semua logam di bawah
(kanan) dalam deret aktivitas, berdasarkan reaksi: nK(s) + Mn+(aq) → nK+(aq) + M(s)
dan sebaliknya, semua logam yang berada di atas (kiri) hidrogen dapat menggantikan
asam (sebagai contoh diganti dengan H+) dan semua logam di bawah (kanan) hydrogen
akan bereaksi dengan asam pengoksidasi.
 Alkali
Alkali merupakan basa kuat dengan rumus M(OH)n, dimana M adalah logam alkali
(seperti Na, K) atau logam alkali tanah (seperti Ca, Mg), dan nilai n adalah 1 (untuk
alkali) atau 2 (untuk alkali tanah). Beberapa logam bereaksi dengan larutan alkali. Reaksi
alkali menunjukkan sifat “semi logam” dari unsur-unsurnya. Sifat semi logam adalah
gabungan antara sifat logam dan non-logam. Dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa
oksida logam bereaksi dengan asam dan basa. Oksida Logam – oksida logam tersebut
disebut dengan oksida amfoter. Unusr yang mempunyai oksida amfoter juga dapat
bereaksi dengan alkali dan asam untuk menghasilkan gas H2. Zink juga dapat bereaksi
degan asam dan basa dengan cara yang sama, tetapi lambat dan relative susah untuk
melihat keberadaan gas H2 yang dihasilkan. Untuk membuktikan bahwa zink telah larut,
tambahkan ion sulfida untuk menghasilkan endapan zink sulfida.
(T et al., 2017)
Reaksi setengah-sel yang melibatkan hilangnya elektron disebut reaksi oksidasi
(oxidation reaction). Istilah “oksidasi” pada awalnya digunakan oleh kimiawan untuk
menjelaskan kombinasi unsur dengan oksigen. Namun, istilah tersebut sekarang
memiliki arti yang lebih luas, termasuk untuk reaksi-reaksi yang tidak melibatkan
oksigen. Reaksi setengah-sel yang melibatkan penangkapan elektron disebut reaksi
reduksi (reduction reaction). Dalam pembentukan kalsium oksida, kalium teroksidasi.
Kalium bertindak sebagai suatu zat pereduksi (reducing agent) karena memberikan
elektron kepada oksigen dan menyebabkan oksigen tereduksi. Oksigen terduksi dan
bertingkat sebagai zat pengoksidasi (oxidizing agent) karena menerima elektron dari
kalsium yang menyebabkan kalium teroksidasi. Perhatikan bahwa tingkat oksidasi dalam
reaksi redoks harus sama dengan tingkat reduksi yaitu, jumlah elektron yang hilang oleh
zat pereduksi harus sama dengan jumlah elektron yang diterima oleh zat pengoksidasi.
Suatu jenis reaksi redoks yang umum adalah reaksi antara logam dengan asam,
ditulliskan sebagai
Logam + asam garam + molekul hidrogen (Chang, 2004 : 100).
Kedua reaksi ini selalu terjadi secara bersamaan, serentak artinya ada spesies yang
teroksidasi dan spesies lainnya tereduksi; oleh karena itu lebih tepat dinyatakan sebagai
reaksi reduksi-oksidasi atau disingkat reaksi redoks. Sebagai contoh apabila sebatang
tembaga dicelupkan ke dalam larutan perak nitrat, maka lapisan putih mengkilat akan
terjadi pada permukaan batang tembaga dan larutan berubah menjadi biru. Hal ini
bilangan ksidasi tembaga naik dari nol menjadi +2 dan bilangan ksidasi perak turun dari
+1 menjadi nol, tembaga mengalami oksidasi perak dan mengalami reduksi. Walaupun
setengah reaksi tersebut sesungguhnya tidak pernah ada dalam arti berdiri sendiri, namun
pemahaman ini menjadi justru sangat penting dan merupakan langkah awal untuk
menuyusun kelengkapan reaksi redoks secara utuh, termasuk penyetaraan koefisien
reaksi yang bersangkutan. Penyetaraan koefisien yang menyangkut jenis atom dan
muatan listrik suatu persamaan reaksi redoks sering merupakan problem yang cukup
rumit (Sugiyarto,2004).
Pada umumnya, tiap reaksi reduksi-oksidasi dapat dianggap sebagai jumlah tahap
oksidasi dan reduksi. Harus ditekankan bahwa tahap-tahap individu ini tak dapat
berlangsung sendiri; tiap tahap oksidasi harus disertai suatu tahap reduksi dan
sebaliknya. Tahap reduksi ataupun oksidasi, yang melibatkan pelepasan ataupun
pengambilan elektron sering disebut reaksi setengah sel (atau lebih sederhana sel-
setengah) karena dari gabungan mereka dapat disusun sel galvani (baterai). Semua reaksi
oksidasi-reduksi yang digunakan berlangsung dalam satu arah tertentu, misalnya Fe 3+
dapat direduksi oleh Sn2+, tetapi reaksi kebalikannya, oksidasi Fe2+ dan Sn4+ tidak akan
terjadi. Inilah sebabnya digunakan tanda panah tunggal dalam semua reaksi, termasuk
proses setengah-sel juga. Namun jika diperiksa satu reaksi setengah-sel secara tersendiri,
dapatlah dikatakan bahwa biasanya reaksi ini reversibel. Jadi sementara Fe 3+ dapat
direduksi (misalnya oleh Sn2+) menjadi Fe2+, demikian pula Fe2+ dapat dioksidasi
menjadi Fe3+ dengan zat yang sesuai (misalnya MnO4-) menjadi Fe2+. Sangatlah logis
untuk menyatakan reaksi-reaksi setengah sel ini sebagai kesetimbangan kima yang juga
melibatkan elektron misalnya
Fe3+ + e- Fe2+
(Svehla,1985 : 109-110).
Tingginya kemasaman tanah sulfat masam merupakan permasalahan utama yang muncul
untuk pertanaman padi, agar tanaman padi tumbuh optimal diperlukan penggenangan
tanah pada beberapa fase pertumbuhan vegetatifnya. Da lain sisi upaya penggenangan
secara tidak langsung akan mendorong terjadinya reduksi besi yaitu berubanya Fe3+
menjadi Fe2+. Pada kondisi tergenang ketersedian oksigen menjadi sangat terbatas karena
laju difusi oksigen dapat berjalan 10.000 kali lebih lalmbat dari pada kondisi aerob
sedangkan oksigen diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan aktivitasnya,
akibatnya Fe3+ direduksi untuk dijadikan sebagai akseptor elektron oleh bakteri pereduksi
besi agar didapatkan energi untuk kelangsungan hidupnya. Pada kondisi tereduksi
mikroorganisme akan menggunakan Fe3+sebagai penerima elektron sehingga konsentrasi
Fe2+meningkat. Berikut adalah reaksi reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ dengan bantuan bahan
organik :
Fe(OH)3 + ¼CH2O + 2H+ Fe2+ + ¼CO2 + ¼H2O
Fe2O3 + ½CH2O + 4H+ 2Fe2+ + ½CO2 + H2O
Pada kondisi oksidatif (kering) Fe2O3 (hematite) berada dalam kondisi yang lebih stabil,
penggenangan (kondisi reduktif) menyebabkan Fe 2O3 tereduksi menjadi Fe2+ yang lebih
bersifat meracun bagi tanaman. Rendahnya larutan posfat (P) di tanah sulfat masam juga
dihubungkan dengan tingginya kelarutan besi pada tanah ini, kelarutan posfat pada tanah
sulfat masam sangat ditentukan oleh keberadaan besi (Fahmi, 2008).
Salah satu zat yang terdapat dalam air yang dapat mengganggu kesehatan manusia baik
dari konsentrasi ataupun dari segi psikologis adalah Fe, dimana Fe dalam air dapat
menyebabkan air berubah menjadi kekuningan. Fe dalam air dapat bersumber dari :
proses oksidasi yaitu adanya bakteri besi (Crenothrix) yang mempunyai kemampuan
untuk mengoksidasi Ferro (Fe2+) menjadi Ferri (Fe3+), korosif atau perkaratan dari besi
yang terdapat dalam air atau sistem perpipaan yang membuat kandungan Fe bertambah,
dan mineral-mineral yang terkandung di dalam tanah (Abidin, 2008 ).
Pemberian arus searah ke dalam larutan menyebabkan terjadi proses reduksi pada katoda
dan oksidasi pada anoda. Agar proses ini dapat berlangsung diperukan pengaturan
potensial yang diberikan. Agar terjadi pengendapan maka diperlukan data-data berupa
harga potensial reduksi pada logam-logam yang terlibat dalam proses tersebut. Sebagai
contoh potensial reduksi dari besi (Fe3+/ Fe2+) adalah 0,771 volt ; Fe2+/Fe adalah -440
volt ; Zn2+/Zn adalah -0,763 volt ; Cr6+/ Cr3+ adalah 1,3600 volt ; Cr3+/Cr adalah -0,744
volt ; Pb2+/Pb adalah -0,126 volt ; dan Cu2+/Cu adalah 0,337 volt. Logam dengan
potensial reduksi besar akan terendapkan di katoda terlebih dahulu. Pada potensial
tertentu (2,5-4 volt) logam-logam berat dalam limbah dapat tereduksi pada logam besi
yang digunakan sebagai katoda (Marwati, 2009 ).
Kadang-kadang oksidator dan reduktor dalam suatu reaksi merupakan unsur yang sama,
seperti contoh berikut :
Pb + PbO2 + 2H2SO4 2PbSO4 + 2H2O
Reaksi di atas, oksidatirnya Pb4+ dari PbO dan reduktornya logam Pb, baik reduktor
maupun oksidator berubah menjadi Pb2+ dalam PbSO4. Reaksi ini terjadi dalam
akumulator mobil yang sedang menghasilkan arus listrik. Bila aki tersebut “sudah habis”
berarti sudah terlalu banyak yang berubah menjadi PbSO4, maka perlu untuk di-charge
dengan memaksakan reaksi di atas berjalan ke arah sebaliknya, yaitu sebagai berikut :
2PbSO4 + 2H2O Pb + PbO2 + 2H2SO4
Reaksi di atas juga merupakan reaksi redoks, baik oksidator maupun reduktornya
merupakan unsur yang sama yaitu Pb2+ yang direduksi menjadi Pb0, sedang Pb2+ sebagai
reduktor dioksidasi menjadi Pb4+. Reaksi demikian dinamakan oksidator dan reduktor zat
yang sama pula dinamakan reaksi disproposionisasi atau auto oksidasi-reduksi
(Tim Dosen, 2016).
Dalam sel galvanik, listrik dihasilkan lewat reaksi kimia spontan. Oksidasi pada
anoda dan reduksi pada katoda berlangsung secara terpisah, dan elektron mengalir lewat
rangkaian eksternal. Kedua bagian ini dari sel galvanik adalah setengah-sel, dan reaksi
pada elektroda adalah reaksi setengah-sel. Jembatan garam memungkinkan ion mengalir
diantara setengah-sel. Arus listrik mengalir dari anoda ke katoda karena ada selisih
energi potensial listrik diantara kedua elektroda. Aliran arus listrik ini analog dengan air
yang jatuh dari air tejun karena ada selisih energi potensial gravitasi, atau aliran gas dari
wilayah bertekanan tinggi ke wilayah bertekanan rendah. Dalam percobaan selisih
potensial listrik diantara anoda dan katoda di ukur dengan voltmeter dan angkanya
(dalam volt) disebut voltase sel. Namun, dua istilah lain, gaya elektromotif atau emf (E)
dan potensial sel juga digunakan untuk menyatakan voltase sel. Voltase suatu sel
bergantung tidak hanya pada jenis elektroda dan ion-ionnya, tetapi juga pada konsentrasi
ion di sel bekerja mana Notasi konvensional untuk menyatakan sel galvanik ialah
diagram sel (Chang,2004).
D. Alat dan Bahan

Alat :
 Tabung Reaksi
 Rak Tabung reaksi
 Paku besi
 Pipet pencet
 Gelas kimia
Bahan:
 Logam Fe, Zn, Cu
 Larutan Na2S2O3
 Larutan HNO2 5M
 Larytan HCl 5M

E. Prosedur Percobaan
1. Siapkan spotong kecil logam Fe, Zn, dan Cu. Brsihkan logam tersbut
menggunakan sabut baja (ampelas) dan tempatkan sample tersebut ke dalam tabung-
tabung scara berpisah.
2. Tambahkan 3 ml larutan HCl 5M kedalam tabung tes dan catat perubahan yang
terjadi pada table lembar kerja dan tulis prsamaan reaksinya.
3. Jika tidak terjadi, panaskan tabung-tabung t es tersebut secara hati-hati dan catat
prubahan yang terjadi
4. ulangi langkah-langkah tersebut untuk logam-logam lain
5. ulangi cara krja pada langkah 1-4 dengan menggunakan larutan HNO3 5M
sebagai pengganti larutan HCl. Catat semua pengamatan dan tulis pula persamaan
reaksinya.
6. ulangi cara kerja pada langkah 1-4 dengan menggunakan larutan HCl. Catat hasil
pengamatan.
7. Ke dalam tabung tersebut , tambahkan 2 ml Na2S2O3 amati perubahan yang
terjadi.
F. TABEL PENGMATAN

Asam Logam Pengamatan Persamaan Reaksi


Dingin Panas
HCl Zn Timbul gas H2 brwarna putih. Zn (s) + 2HCl
Zn larut dalam HCl dan (aq)  ZnCl2 (s) +
mnghasilkan panas, (+) H2 (g)

Fe(paku) Timbul gas H2 tapi raksi lebih Fe (s) + 2HCl


lambat. Larutan brwarna hijau (aq)  Fe2+ + 2Cl-
bning. (s) +H2 (g)

Cu Tidak bereaksi Cu tidak larut, Cu (s) + 2HCl


larutan (aq)  CuCl (s)
berubah +H2 (g)
menjadi
kuning bening
HNO3 Zn Larut, tapi lebih lambat dari 3Zn (s) +8HNO3
dngan menggunakan HCl. Ada (aq)  3Zn 2+ +
sedikit gelembung gel-gel 2NO + 6NO3- +
menghasilkan panas , larutan 4H2O (g)
brwarna orange bening.
Fe Bereaksi lebih cepat dari HCl. Fe (s) +HNO3 (aq)
Terdapat gelembung gas.  F3+ +NO
Larutan berwarna coklat +2H2O (g)
kehitaman.
Cu Bereaksi sangat lambat ada gas Cu (s) + HNO3
berwarna coklat kekuningan (aq)  Cu(NO3)2
dan larutan brwarna biru muda (s) + H2 (g)
bening.

Logam Pengamatan dan Persamaan Reaksi


Pngaruh alkali Pengaruh Sulfida
Zn Zn + NaOH  terdapat endapan Zn +NaOH
seperti gelatin putih, +Na2S2O3 tidak
bereaksi
Fe Fe +NaOH  terdapat endapan putih, Fe + NaOH
+Na2S2O3 tidak
bereaksi
Cu Cu + NaOH  terdapat endapan biru Cu + NaOh +
tembaga(II) hidroksida. Na2S2O3 tidak bereaksi
Bila dipanaskan endapan diubah
menjadi tembaga(II) oksida hitam.

Persamaan Reaksi :
Zn (s) + 2HCl (aq)  ZnCl2 (s) + H2 (g) ↑
Fe (s) + 2HCl (aq)  Fe2+ + 2Cl- (s) +H2 (g) ↑
Cu (s) + 2HCl (aq)  CuCl (s) +H2 (g) ↑
3Zn (s) +8HNO3 (aq)  3Zn 2+ + 2NO + 6NO3- + 4H2O (g) ↑
Fe (s) +HNO3 (aq)  F3+ +NO +2H2O (g) ↑
Cu (s) + HNO3 (aq)  Cu(NO3)2 (s) + H2 (g) ↑
Zn2+ (s) + S2- (aq) -> ZnS(s)
Cu2+ (s) + S2- (aq) -> CuS (s)
Fe(s) +2OH- (aq)  Fe(OH)2 ↓
Cu2+ (s) +2OH- (aq)  Cu(OH)2 ↓
Zn(s) +2OH- (aq) ↔Zn(OH)2 ↓

G. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini membahas tentang pengaruh asam dan basa pada logam.
Asam merupakan spesi yang mendonorkan proton, sedangkan basa merupakan spesi yang
menerima proton. Keterkaitan asam dengan logam yaitu, logam cenderung membentuk kation
dan menjadi agen pengoksidasi dari H+. Ada lima logam yang akan diuji pengaruhnya
terhadap asam dan basa. Kelima logam tersebut adalah Zn, Fe/Paku, Cu, Al, dan Pb.

Pada pengujian kelima logam tersebut, ada empat larutan yang akan digunakan.
Larutan tersebut adalah HCl, HNO3, NaOH, dan H2S. Pada pengujian dengan asam tepatnya
pada pengujian dengan HCl didapatkan hasil bahwa Zn, Fe, dan Al bereaksi pada keadaan
dingin. Sedangkan Cu dan Pb baru dapat bereaksi ketika HCl dipanaskan. Hal ini
dikarenakan Cu dan Pb tidak dapat bereaksi atau mengalami oksidasi pada suhu kamar. Pada
pengujian dengan HNO3, Zn, Fe dan Cu dapat bereaksi pada suhu dingin, sedangkan Al dan
Pb dapat bereaksi pada suhu panas atau dilakukannya pemanasan. Pada penambahan HNO 3
dapat dilakukan di dalam ruangan terbuka. Hanya saja pada pemanasan harus dilakukan di
fume hood, karena aroma yang menyengat yang dihasilkan oleh HNO3 yang dipanaskan.

Kemudian pada pengujian dengan NaOH didapatkan hasil bahwa hanya Zn yang
dapat bereaksi dengan basa. Dapat dideteksi keberadaan gas H 2, hanya saja tidak terlalu
terlihat. Oleh karena itu, diuji dengan menggunakan larutan H2S apakah nantinya akan
berikatan dengan sulfida.
Selanjutnya pada pengujian Na2S, tujuan penambahan Na2S yaitu untuk menguji
apakah logam tersebut bereaksi dan menghasilkan gas H2. Pada penambahan Na2S
didapatkan uji positif pada
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zaenal., Ferizal Masra, dan Imam Santosa. 2008. Pengaruh Kombinasi Resin
(Mangan zeolit) dengan Pasir dalam Menurunkan Kadar Fe (Besi) pada Air. Jurnal
Kesehatan. Vol. 1, No. 2. Hal. 165-166

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Fahmi, Arifin., dan Eko Hanudin. 2008. Pengaruh Kondisi Redoks Terhadap Stabilitas
Kompleks Organik-Besi pada Tanah Sulfat Masam. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Vol.
8, No. 1. Hal. 49-50
Marwati, Siti., Regina Tutuk Padmaningrum, dan Marfuatun. 2009. Pemanfaatan Ion Logam
Berat Tembaga (II), Kromium (III), Timbal (II), dan Seng (II) dalam Limbah Cair Industri
Electroplating Untuk Pelapisan Logam Besi. Jurnal Penelitian Saintek. Vol. 14, No. 1. Hal.
22
Sugiyarto, Kristian H. 2004. Kimia Anorganik I. Yogyakarta: JICA
Svehla, G. 1985. Vogel : Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Yogyakarta :
PT. Kalman Media Pustaka
Tim Dosen Kimia Dasar. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Dasar Lanjut. Makassar: FMIPA
UNM
T, L., K, K., Fauziah, R., Si, M., Laelasari, E., & Pd, S. (2017). P enuntun P raktikum.
PADANG : FMIPA UNP.