Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

BAPEPAM DAN AKUNTAN PUBLIK

DI SUSUN OLEH

Kelompok 6

Muh. Takbir Tenri Gangka A31115513

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
1. Struktur BAPEPAM ?
2. Komponen BAPEPAM dan pasar modal ?
3. Kualifikasi dan registrasi akuntan publik di BAPEPAM ?
4. Keterkaitan BAPEPAM dengan auditor independen ?
5. Tanggung jawab akuntan publik terhadap BAPEPAM ?

C. Tujuan Penulisan
1. Memahami struktur BAPEPAM
2. Memahami komponen BAPEPAM dan pasar modal
3. Memahami kualifikasi dan registrasi akuntan publik di BAPEPAM
4. Memahami keterkaitan BAPEPAM dengan auditor independen
5. Memahami tanggung jawab akuntan publik terhadap BAPEPAM
BAB II

PEMBAHASAN

A. STRUKTUR DAN KOMPONEN BAPEPAM

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK)


adalah sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan Indonesia yang bertugas
membina, mengatur, dan mengawasi sehari-hari kegiatan pasar modal serta
merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
lembaga keuangan. Bapepam-LK merupakan penggabungan dari Badan Pengawas
Pasar Modal (Bapepam) dan Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan. Saat ini,
Bapepam-LK digantikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak berlakunya
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga Negara yang dibentuk


berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi
menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap
keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan baik di sektor perbankan,
pasar modal, dan sektor jasa keuangan non-bank seperti Asuransi, Dana Pensiun,
Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya. Secara lebih
lengkap, OJK adalah lembaga independen dan bebas dari campur tangan pihak lain
yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan,
pemeriksaan dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang
Nomor 21 tersebut.

Tugas pengawasan industri keuangan non-bank dan pasar modal secara


resmi beralih dari Kementerian Keuangan dan Bapepam-LK ke OJK pada 31
Desember 2012. Sedangkan pengawasan di sektor perbankan beralih ke OJK pada
31 Desember 2013 dan Lembaga Keuangan Mikro pada 2015.

OJK dibentuk dan dilandasi dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik,
yang meliputi independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparansi, dan
kewajaran. Yang mana mengingatkan pemikiran pada prinsip-prinsip tata kelola
perusahaan yang baik dan benar (Good Corporate Governance) yang terdiri dari
5 prinsip yang disingkat dengan TARIF, yaitu:
 Transparancy (keterbukaan informasi)
Yaitu Secara sederhana bisa diartikan sebagai keterbukaan untuk
menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu;
 Accuntability (akuntabilitas)
Yaitu adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem, kejelasan akan hak dan
kewajiban serta wewenang dari elemen-elemen yang ada;
 Responsibility ( pertanggungjawaban)
Yaitu kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, diantaranya
termasuk masalah pembayaran pajak, hubungan industrial, kesehatan dan
keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara
lingkunganbisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya;
 Independency (kemandirian)
Yaitu mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa
adanya benturan kepentingan dan tekanan atau intervensi dari pihak
manapun maupun yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan
 Fairness (kesetaraan atau kewajaran)
Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak
shareholders dan stakeholders sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

Visi dan Misi BAPEPAM

Visi Bapepam-LK

Menjadi otoritas pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan
profesional, yang mampu mewujudkan industri pasar modal dan lembaga
keuangan non bank sebagai penggerak perekonomian nasional yang tangguh dan
berdaya saing global.
Misi di Bidang Ekonomi

Menciptakan iklim yang kondusif bagi perusahaan dalam memperoleh


pembiayaan dan bagi pemodal dalam memilih alternatif investasi pada industri
Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank.

Misi di Bidang Kelembagaan

Mewujudkan Bapepam-LK menjadi lembaga yang melaksanakan tugas dan


fungsinya memegang teguh pada prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas,
independensi, integritas dan senantiasa mengembangkan diri menjadi lembaga
berstandar internasional.

Misi Sosial Budaya

Mewujudkan masyarakat Indonesia yang memahami dan berorientasi pasar modal


dan jasa keuangan non bank dalam membuat keputusan investasi dan pembiayaan.

Struktur Organisasi BAPEPAM


Bapepam dan Lembaga Keuangan terdiri dari 1 Ketua Badan dan
membawahi 1 Sekretariat yang bertugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan
tugas sertapembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada semua unsur
di lingkungan Badan. Selain itu, terdapat pula 12 Biro Teknis, di mana lingkup
pembinaan dan pengawasan meliputi aspek pasar modal, dana pensiun,
perasuransian, perbankan dan usaha jasa pembiayaan serta modal ventura. Biro
teknis Bapepam-LK terdiri atas:
 Biro perundang-undangan dan bantuan hukum
Bertugas melaksanakan penyusunan peraturan, penetapan sanksi,
penanganan keberatan, pemberian bantuan hukum, pemberian bantuan
dalam penyelesaian masalah antara pihak tanpa melalui jalur hukum,
melakukan litigasi, pemberian pertimbangan, saran, dan pendapat hukum
di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan serta pembinaan dan
pengawasan profesi hukum yang melakukan kegiatan di bidang Pasar
Modal.
 Biro riset dan teknologi informasi
Bertugas melaksanakan kegiatan riset dan pemanfaatan teknologi
informasi dalam upaya pengembangan di bidang pasar modal dan lembaga
keuangan.
 Biro pemeriksaan dan penyidikan
Bertugas menegakkan hukum di bidang transaksi dan lembaga Efek,
Pengelolaan Investasi, Keterbukaan Emiten, dan Perusahaan Publik serta
melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dalam rangka
penegakan hukum.
 Biro pengelolaan investasi
Bertugas melaksanakan pengembangan dan pengaturan pengelolaan
investasi, pemrosesan izin usaha, pernyataan pendaftaran dan ijin orang
perseorangan, membina dan mengawasi Pengelola Investasi, Manajer
Investasi, Wakil Manajer Investasi, dan Penasihat Investasi.
 Biro transaksi dan lembaga efek
Bertugas melaksanakan pemrosesan perijinan dan persetujuan, pembinaan,
pengawasan, dan pemeriksaan Bursa Efek, Lembaga Kliring dan
Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Biro Administrasi
Efek, Kustodian, Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, Wakil
Perantara Pedagang Efek, Wakil Penjamin Emisi Efek, dan pengawasan
transaksi Efek, serta Pengawasan Perdagangan Surat Utang Negara.
 Biro penilaian keuangan perusahaan sektor jasa
Bertugas melaksanakan penelaahan dan pemantauan keterbukaan Emiten
dan Perusahaan Publik yang bergerak di sektor jasa.
 Biro penilaian keuangan perusahaan sektor riil
Bertugas melaksanakan penelaahan, dan pemantauan keterbukaan Emiten
dan Perusahaan Publik yang bergerak di sektor riil.
 Biro standar akuntansi dan keterbukaan
Bertugas melaksanakan penyusunan dan pengembangan standar akuntansi,
standar pemeriksaan akuntansi, standar penilaian di bidang pasar modal,
standar tata kelola perusahaan, penelaahan dan penyusunan peraturan
perundang-undangan penilaian keuangan perusahaan, pengumpulan dan
analisis data dalam rangka pengembangan akuntansi dan keterbukaan,
pembinaan, pengawasan dan inspeksi profesi Akuntan dan Penilai;
Pemeringkat Efek; dan Wali Amanat yang melakukan kegiatan di pasar
modal serta pengembangan pasar modal Syariah.
 Biro pembiayaan dan penjaminan
Bertugas menyiapkan perumusan kebijakan, standardisasi, evaluasi,
pelaksanaan dan pengawasan di bidang lembaga pembiayaan dan lembaga
penjaminan.
 Biro perasuransian
Bertugas menyiapkan perumusan kebijakan standardisasi dan bimbingan
teknis, evaluasi serta pelaksanaan pengawasan di bidang perasuransian,
termasuk program Tabungan Hari Tua dan Asuransi Kesehatan bagi
Pegawai Negeri Sipil dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
 Biro dana pensiun
Bertugas menyiapkan perumusan kebijakan, standardisasi, bimbingan
teknis, pelaksanaan dan evaluasi pengawasan dana pensiun, melaksanakan
analisis, evaluasi dan pelaporan atas pengelolaan dana program pensiun
Pegawai Negeri Sipil, dan melakukan pembinaan lembaga penunjang dana
pensiun.
 Biro kepatuhan internal
Bertugas melaksanakan penelaahan dan penilaian kepatuhan pelaksanaan
tugas sekretariat dan biro di lingkungan Bapepam dan LK, serta pemberian
rekomendasi peningkatan pelaksanaan tugas.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Otoritas Jasa Keuangan merupakan lembaga Independen yang menggantikan


tugas BAPEPAM-LK yang dahulu berada dibawah Kementerian Keuangan. OJK
mulai bertugas sejak 1 Januari 2013, sehingga Bapepam-LK dibubarkan. Menurut
Pengamat Ekonomi, Seto Wardono, berpindahnya wewenang ini tidak akan
membawa dampak yang besar terhadap dunia pasar modal karena kinerja OJK
sebenarnya sama saja dengan Bapepam-LK walaupun akan membawa perubahan
dan perbedaan sedikit. UU OJK sendiri telah disahkan pada tahun 2010 lalu
yang mengamanatkan kepada OJK untuk melakukan pengawasan terhadap
lembaga keuangan baik sektor perbankan, sektor pasar modal maupun sektor non
perbankan. Pada pertengahan 2011 lalu, Kemenkeu bersama DPR melakukan
seleksi pemilihan Ketua OJK beserta Dewan Komisionernya. Sesuai amanat UU,
OJK mulai menjalankan tugas dan fungsinya melakukan pengawasan kepada pasar
modal. Untuk perbankan, pengawasan akan dilakukan mulai pada tahun 2014.

Struktur organisasi dari OJK dapat digambarkan sebagai berikut:

 ADK (Anggota Dewan Komisioner)


 SCPR (Strategic Committee dan Pusat Riset)
 DKPT (Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi)
 DKST (Departemen SSK dan Statistik Sektor Jasa Keuangan)
 DP3T (Departemen Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Terintegrasi)
 GPTI (Grup Penelitian, Pengaturan, dan Pengembangan Pengawasan
Terintegrasi)
 GPUT (Grup Penanganan APU-PPT)
 DKPS (Deputi Komisioner Penyidikan, Organisasi, dan SDM)
 DOSM (Departemen Organisasi dan SDM)
 DPJK (Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan)
 DKML (Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik)
 DMSP (Departemen Manajemen Strategis dan Perubahan)
 SKHI (Sekretariat Dewan Komisioner, Hubungan Masyarakat, dan
Internasional)
 DLOG (Departemen Logistik)
 DKIK (Deputi Komisioner Pengelolaan Sistem Informasi dan Keuangan)
 DPSI (Departemen Pengelolaan Sistem Informasi)
 DKEU (Departemen Keuangan)
 DKHK (Deputi Komisioner Hukum)
 DHUK (Departemen Hukum)
 GPHK (Grup Penelitian dan Pengembangan Hukum Sektor Jasa Keuangan)
 DKOI (Deputi Komisioner OJK Institute)
 DLAC (Departemen Learning dan Assesment Centre)
 GIKM (Grup Inovasi Keuangan Digital dan Pengembangan Keuangan
Mikro)
 DKAI (Deputi Komisioner Audit Internal dan Manajemen Risiko)
 DPAI (Departemen Audit Internal)
 DRPK (Departemen Manajemen Risiko dan Pengendalian Kualitas)
 GPAF (Grup Penanganan Anti Fraud)
 DKEP (Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen)
 DPLK (Departemen Perlindungan Konsumen)
 DLIK (Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan)
 DKB1 (Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I)
 DKB2 (Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II)
 DKB3 (Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III)
 DKB4 (Deputi Komisioner Pengawas Perbankan IV)
 DPNP (Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan)
 DPIP (Departemen Perizinan dan Informasi Perbankan)
 DPBS (Departemen Perbankan Syariah)
 DPKP (Departemen Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan)
 DPMK (Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis)
 DKIP (Departemen Pemeriksaan Khusus dan Investigasi Perbankan)
 DPB1 (Departemen Pengawasan Bank 1)
 DPB2 (Departemen Pengawasan Bank 2)
 DPB3 (Departemen Pengawasan Bank 3)
 KR (Kantor Regional)
 DKM1 (Deputi Komisioner Pengawas PM I)
 DKM2 (Deputi Komisioner Pengawas PM II)
 DPM1 (Departemen Pengawasan PM 1A)
 DPM2 (Departemen Pengawasan PM 1B)
 DPM3 (Departemen Pengawasan PM 2A)
 DPM4 (Departemen Pengawasan PM 2B)
 DKI1 (Deputi Komisioner Pengawas IKNB I)
 DKI2 (Deputi Komisioner Pengawas IKNB II)
 DPI1 (Departemen Pengawasan IKNB 1A)
 DPI2 (Departemen Pengawasan IKNB 1B)
 DPI3 (Departemen Pengawasan IKNB 2A)
 DPI4 (Departemen Pengawasan IKNB 2B)
Jika dilihat dari struktur organisasinya BAPEPAM-LK memiliki biro-biro yang
mempunyai tugas pokok dan fungsi khusus yang dikoordinasi oleh sekretariat
badan. Dalam struktur organisasi OJK, biro-biro tersebut digantikan dan
disederhanakan oleh bidang-bidang yang secara langsung diawasi oleh dewan
komisioner yang bertanggung jawab atas masing-masing bidang. Meskipun
bidang-bidang dalam OJK tidak sebanyak biro-biro dalam BAPEPAM-LK namun
fungsi dan tugas yang diembannya tetap sama. Penyederhanaan ini dilakukan
untuk meningkatkan efisiensi kinerja dan efektivitas dari fungsi-fungsi yang saling
berkaitan dan menunjang jika dikoordinasikan dalam satu bidang, sehingga
diharapkan fungsi-fungsi dari masing-masing bidang dapat terlaksana dan tercapai
dengan lebih baik.

B. KUALIFIKASI DAN REGISTRASI AKUNTAN PUBLIK DI BAPEPAM

Akuntan pasar modal mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:


 Wajib memiliki keahlian di bidang pasar modal melalui program pelatihan
yang diselenggarakan oleh organisasi profesi akuntan atau pihak lain yang
disetujui oleh organisasi profesi akuntan.
 Melakukan audit dan memberikan pendapat atas laporan keuangan
perusahaan.
 Melakukan audit sesuai standar profesional akuntan publik (SPAP) sesuai
kode etik profesi.
 Bersikap independen dalam melakukan pekerjaannya.

Pendaftaran Akuntan di BAPEPAM

Pendaftaran akuntan diatur dalam Keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-


34/PM/2003 tentang Pendaftaran Akuntan yang Melakukan Kegiatan di Pasar
Modal. Persyaratan Akuntan yang terdaftar di Bapepam-LK adalah sebagai
berikut:
1) Mempunyai izin praktik dari Menteri Keuangan.
2) Tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena
terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan.
3) Memiliki akhlak dan moral yang baik.
4) Wajib memiliki keahlian di bidang Pasar Modal, dan persyaratan keahlian
dapat dipenuhi melalui program pelatihan yang diselenggarakan oleh
organisasi profesi akuntan atau pihak lain yang disetujui oleh organisasi
profesi akuntan.
5) Sangggup secara terus-menerus mengikuti program Pendidikan Profesi
Lanjutan (PPL) di bidang akuntansi dan peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal, sekurang-kuranya lima satuan kredit profesi (SKP)
setiap tahun.
6) Sanggung melakukan pemeriksaan sesuai dengan Standar Profesional
Akuntan Publik (SPAP) dan kode etik profesi, serta senantiasa bersikap
independen.
7) Berkedudukan sebagai rekan di kantor akuntan yang memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. Kantor akuntan yang bersangkutan memiliki izin usaha kantor
akuntan dan dipimpin akuntan yang telah memiliki izin praktik dari
Menteri Keuangan.
b. Dalam melakukan pemeriksaan, akuntan menerapkan paling tidak 2
jenjang pengendalian (supervisi), yaitu rekan yang bertanggung
jawab (menandatangani laporan), dan pengawas menengah yang
melakukan pengawasan terhadap staf pelaksana.
c. Telah menjadi anggota Forum Akuntan Pasar Modal (FAPM) dari
Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP)
d. Sanggup menjalani review eksternal oleh IAI-KAP dan atau review
BAPEPAM tentang pengendalian mutu di kantor akuntan yang
bersangkutan.
e. Bagi kantor akuntan yang hanya memiliki satu orang rekan, untuk
dapat melaksanakan kegiatan di pasar modal wajib membuat surat
perjanjian kerja sama dengan kantor akuntan lain, yang mempunyai
rekan yang sudah terdaftar di Bapepam, tentang pengalihan tanggung
jawab jika akuntan yang bersangkutan berhalangan untuk
melaksanakan tugasnya.

Permohonan pendaftaran akuntan sebagai profesi penunjang pasar modal


diajukan kepada Bapepam-LK dalam rangkap dua dengan mempergunakan
formulir yang telah disediakan oleh Bapepam-LK. Permohonan pendaftaran
akuntan di Pasar Modal Indonesia harus disertai dengan dua macam dokumen,
yaitu dokumen yang menyangkut akuntan dan dokumen yang menyangkut kanotr
akuntan. Dokumen yang menyangkut akuntan meliputi:
1) Daftar riwayat hidup terbaru yang telah ditandatangani, termasuk
pengalaman kerja sebagai auditor yang dilengkapi dengan penjelasan
tentang penugasan audit yang pernah diterima;
2) Izin praktik dari Menteri Keuangan
3) Ijazah pendidikan formal di bidang akuntansi
4) NPWP
5) Sertifikat program pelatihan di bidang pasar modal
6) Surat pernyataan bermeterai bahwa akuntan tidak pernah melakukan
perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak
pidana di bidang keuangan
7) Surat pernyataan bermeterai tentang kesanggupan untuk mengikuti secara
terus menerus program Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) di bidang
akuntansi dan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal;
8) Surat pernyataan bermeterai tentang kesanggupan untuk melakukan
pemeriksaan sesuai dengan standar profesional akuntan publik dan kode
etik profesi, serta senantiasa bersikap independen dalam melakukan
tugasnya.

Dokumen yang menyangkut kantor akuntan meliputi:


1) NPWP
2) Izin usaha knator akuntan dari Menteri Keuangan bagi akuntan yang
bertindak sebagai pimpinan kantor akuntan yang bersangkutan
3) Bukti keanggotaan dalam FAPM dari IAI-KAP.
4) Surat perjanjian kerja sama dengan kantor akuntan lain, yang mempunyai
rekan yang sudah terdaftar di Bapepam, tentang pengalihan tanggung
jawab apabila akuntan yang bersangkutan berhalangan melaksanakan
tugasnya, bagi kantor akuntan yang hanya memiliki satu orang rekan
5) Bagan organisasi yang menunjukkan bahwa dalam melakukan
pemeriksaan menerapkan, sekurang-kurangnya dua jenjang pengendalian
(supervisi), yaitu nama rekan yang bertanggung jawab (menandatangani
laporan), serta nama dan jabatan pengawas menengah yang melakukan
pengawasan terhadap staf pelaksana.
6) Surat pernyataan bermeterai bahwa Kantor Akuntan bersedia untuk
menjalani review ekesternal oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan atau
review Bapepam tentang pengendalian mutu di Kantor Akuntan yang
bersangkutan;
7) Perjanjian kerja sama, apabila kantor akuntan bekerja sama dengan Kantor
Akuntan Publkik Asing (KAPA)
8) Perjanjian kerja sama, apabila kantor akuntan bekerja sama dengan
Organisasi Audit Asing (OAA).

Akuntan yang telah terdaftar di Bapepam wajib: (1) mengikuti program PPL
(Pendidikan Profesi Lanjutan) dan melaporkan kepada Bapepam secara berkala
setiap tahun selambat-lambatnya tanggal 15 Januari, (2) menyampaikan setiap
perubahan yang berkenaan dengan data dan informasi dari akuntan dan atau kantor
akuntan, termasuk data dan informasi pendaftaran kepada Bapepam.

C. KETERKAITAN BAPEPAM DAN AUDITOR INDEPENDEN

Bapepam-LK mengadopsi aturan-aturan yang memperkuat independensi


auditor dengan menerapkan peraturan Sarbanes-Oxley di Amerika Serikat.
Peraturan Bapepam-LK lebih lanjut membatasi kemungkinan auditor memberikan
jasa non-audit pada klien auditnya, dan juga termasuk pembatasan atas
penggunaan jasa KAP yang lama oleh klien dan mengharuskan adanya rotasi
partner audit untuk meningkatkan independensi. Sebuah KAP tidak independen
jika partner audit menerima kompensasi dari menjual jasa kepada klien, selain dari
audit, peninjauan, dan jasa atestasi.

Jasa-Jasa Non-Audit

Terdapat sembilan larangan oleh Bapepam-LK terkait dengan independensi.


Berikut adalah sembilan jasa yang dilarang oleh Bapepam-LK:
 Jasa pembukuan dan jasa-jasa akuntansi lainnya.
 Desain sistem infomasi keuangan dan implementasinya.
 Penaksiran atau jasa penilaian.
 Jasa aktuaria.
 Jasa audit internal.
 Fungsi manajemen dan surnber daya manusia.
 Jasa pialang atau dealer atau penasihat investasi atau jasa bankir investasi.
 Jasa hukum dan pakar yang tidak terkait dengan audit.
 Jasa-jasa lain yang tidak diizinkan.

KAP tidak dilarang untuk memberikan jasa-jasa tersebut kepada klien yang
bukan merupakan perusahaan publik serta pada perusahaan publik yang bukan
merupakan klien auditnya. Selain itu, KAP masih dapat memberikan jasa-jasa lain
yang tidak dilarang untuk klien audit yang rnerupakan perusahaan publik. Sebagai
contoh, Bapepam-LK membolehkan akuntan publik untuk memberikan jasa
konsultasi pajak untuk para klien auditnya, kecuali jasa konsultasi pajak untuk para
eksekutif perusahaan yang mengawasi pelaporan keuangan, dan jasa perencanaan
penghindaran pajak. Sebuah KAP tidak independen jika partner audit menerima
kornpensasi dari menjual jasa kepada klien, selain dari audit, peninjauan, dan jasa
atestasi.

Komite Audit

Komite audit merupakan komite di bawah dewan komisaris yang terdiri


dari sekurang-kurangnya seorang komisaris independen dan para profesional
independen dari luar perusahaan, yang bertanggung jawab termasuk membantu
para auditor tetap independen dari manajemen. Sebagai tambahan terhadap
persyaratan Bapepam-LK, komite audit juga dibutuhkan dalam BUMN dan bank.
Kebanyakan komite audit terdiri dari tiga dan terkadang lima sampai tujuh anggota
yang bukan bagian dari manajemen perusahaan. Bapepam-LK meminta agar para
anggota komite audit bersikap independen, dan perusahaan-perusahaan harus
mengungkapkan disertakan atau tidaknya, satu anggota yang merupakan pakar
keuangan. Para auditor bertanggung jawab untuk mengomunikasikan semua hal
penting yang teridentifikasi selama audit kepada komite audit.
Konflik-konflik yang Timbul dari Hubungan Kerja.

Bekerjanya seseorang bekas anggota tim audit di dalam perusahaan klien


audit bisa menimbulkan sejumlah persoalan independensi. Bapepam-LK telah
menambahkan aturan satu tahun “masa pendinginan” sebelum seorang bekas
anggota tim audit dapat bekerja pada klien di dalam sejumlah posisi kunci
manajemen. Hal ini memiliki implikasi penting untuk seorang auditor yang bekerja
untuk sebuah KAP, yang lalu menerima tawaran kerja dari klien publik untuk
posisi direktur utama (CEO), kontroler, direktur keuangan (chief financial officer),
direktur akuntansi (chief accounting officer) atau posisi setara dengan itu. KAP
tidak bisa melanjutkan audit klien tersebut, jika ada dari auditor KAP itu bekerja
pada klien dan ikut berpartisipasi di dalam berbagai kapasitasnya dalam audit
selama satu tahun, sebelum dimulainya proses audit. Hal ini tidak berdampak
terhadap kemampuan KAP untuk mengaudit, jika mantan auditornya menerima
jabatan semisal hanya asisten kontroler, atau akuntan tanpa tanggung jawab
penting.

Rotasi Partner dan KAP

Sesuai dengan aturan PMK 17/2008, aturan independensi Bapepam-LK


mensyaratkan partner audit untuk merotasi tim audit setelah 3 tahun dan KAP
setelah 6 tahun. Bapepam-LK mensyaratkan 3 tahun “rehat” setelah rotasi sebelum
mereka bisa kembali bekerja untuk klien audit yang sama.

Kepentingan Kepemilikan

Aturan Bapepam-LK tentang hubungan keuangan mengaitkan perspektif


kontrak kerja dan melarang kepemilikan dalam klien audit, oleh orang-orang yang
bisa memengaruhi audit tersebut. Aturan itu melarang kepemilikan oleh orang-
orang yang terkait audit dan keluarganya. Termasuk anggota dari tim audit, mereka
yang ada dalam posisi bisa memengaruhi kontrak kerja audit dalam hierarki
pimpinan perusahaan, partner dan manajer yang menyediakan jasa non-audit untuk
klien, dan partner di dalam kantor partner yang bertanggung jawab utama untuk
pelaksanaan audit. Aturan ini dirancang untuk menyediakan aturan yang dapat
berjalan untuk menjaga independensi, sejalan dengan kode etik akuntan publik
yang telah dipelajari sebelumnya di Pengauditan I.

D. TANGGUNG JAWAB AKUNTAN PUBLIK TERHADAP BAPEPAM

Peran akuntan publik di pasar modal adalah memeriksa laporan keuangan


dan memberikan pendapat terhadap laporan keuangan. Di pasar modal dituntut
pendapat wajar (unqualified) terhadap laporan keuangan dari perusahaan yang
akan menerbitkan saham baru (Initial Public Offering/IPO) atau yang telah
terdaftar di bursa.

Akuntan yang terdaftar di Bapepam-LK diharapkan menjadi gate keeper


dalam melindungi kepentingan publik dengan menghasilkan opini yang
berkualitas atas laporan keuangan. Akuntan berperan dalam mengungkapkan
informasi keuangan perusahaan dan memberikan pendapat mengenai kewajaran
atas data yang disajikan dalam laporan keuangan. Dalam melakukan kegiatan,
akuntan harus memperhatikan standar akuntansi keuangan yang ditetapkan oleh
IAI, praktik akuntansi, dan peraturan-peraturan yang berlaku di pasar modal.
Dalam kaitannya dengan melindungi kepentingan publik, akuntan publik
memegang peranan kunci dalam menjamin kewajaran penyajian informasi
keuangan.

Tanggung jawab akuntan tidak hanya terbatas pada kepatuhan terhadap


standar profesi, namun juga mencakup tanggung jawab hukum dan sosial. Akuntan
harus mampu menilai kewajaran laporan keuangan perusahaan dibandingkan
dengan standar akuntansi keuangan yang telah ditetapkan oleh IAI. Pada dasarnya
esensi dari pasar modal adalah full disclosure yang mencakup pengungkapan
informasi yang penting dan relevan.
Akuntan yang bergerak di pasar modal harus memahami bahwa
kepentingan publik jauh lebih besar dan harus lebih diutamakan. Adapun
kewajiban akuntan sebagai pemeriksa laporan keuangan dinyatakan secara
eksplisit dalam UU Pasar Modal yang menyatakan bahwa akuntan yang terdaftar
di Bapepam yang memeriksa laporan keuangan emiten, bursa efek, lembaga
kliring dan penjaminan (LKP), lembaga penyimpanan dan penyelesaian (LPP),
dan pihak lain yang melakukan kegiatan di bidang pasar modal wajib
menyampaikan pemberitahuan yang sifatnya rahasia kepada Bapepam jika
ditemukan adanya:
 Pelanggaran yang dilakukan terhadap ketentuan dalam UU ini dan atau
peraturan pelaksanaannya.
 Hal-hal yang dapat membahayakan keadaan keuangan lembaga yang
dimaksud atau kepentingan para nasabahnya.

Untuk menjamin kualitas informasi yang fair dan objektif, akuntan dilarang
melakukan hal-hal sebagai berikut:
 Memberikan jasa kepada pihak yang terafiliasi dengannya
 Membuat perjanjian untuk memperoleh kepentingan dalam efek atau
bagian laba dari emiten
 Memeriksa dan menyiapkan opini bagi emiten sebelum menerima
pembayaran atas jasa yang diberikan terdahulu
 Melakukan penilaian dan pemeriksaan atas pekerjaannya sendiri yang telah
dilakukan bagi emiten
 Melakukan perjanjian dengan emiten yang menyatakan bahwa pembayaran
jasanya tergantung pada pekerjaannya

Tanggung jawab akuntan di pasar modal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


 Tanggung jawab yuridis
Berkaitan dengan opini yang diberikan akuntan yang dsampaikan kepada
masyarakat, opini akuntan dan penyampaian informasi lainnya harus sesuai
dengan standar profesi dan peraturan pasar modal yang berlaku.
Pelaksanaan penugasan akuntan di pasar modal tidak terlepas dari
kemungkinan adanya tuntutan atau gugatan baik administratif, perdata,
maupun pidana.
 Tanggung jawab finansial
Dalam kaitannya dengan kemungkinan munculnya kerugian yang diderita
oleh pihak ketiga. Hal ini dapat mengakibatkan tuntutan ganti rugi dari
pihak-pihak yang merasa dirugikan tersebut.
 Tanggung jawab moral
Dalam kaitannya dengan kewajiban akuntan untuk menjunjung tinggi kode
etik akuntan serta selalu menjaga sikap mental yang independen. Hal ini
diperlukan mengingat profesi akuntan sebagai profesi yang dipercaya oleh
masyarakat sehingga harus selalu menjaga kepercayaan yang diberikan dan
menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan masyarakat.

Apabila ketiga tanggung jawab tersebut dipahami maka diharapkan profesi


akuntan yang bergerak di pasar modal selalu berhati-hati dalam bersikap dan
bertindak, sehingga akuntan tidak terjebak pada hal-hal yang dapat merugikan
akuntan yang bersangkutan dan profesi akuntan secara keseluruhan. Akuntan yang
terdaftar di Bapepam-LK mempunyai tanggungjawab untuk turut menjaga kualitas
informasi di Pasar Modal melalui pemberian opini yang berkualitas dan
independen atas laporan keuangan.

Setiap kantor akuntan publik memiliki pengendalian mutu dimana akuntan


wajib mengikuti dan menerapkan pengendalian mutu dimaksud pada setiap
penerimaan penugasan. Pengendalian mutu merupakan cerminan KAP yang
berkualitas yang menghasilkan informasi yang berkualitas. Pedoman pengendalian
mutu tersebut sekurang-kurangnya mencakup:
 Pedoman penerimaan dan penolakan klien
 Kepastian mutu dan kebijakan etika
 Pedoman manajemen risiko
 Pengendalian mutu penugasan
 Pedoman independensi
 Prosedur penugasan dan
 Penelaahan mutu

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Daftar Pustaka

Boynton, Johnson, Kell. 2004. Modern Auditing Jilid 2 Edisi Ke-Tujuh.


Yogyakarta:Erlangga

Arens, Alvin A., Elder, Randal J. dan Beasley, Mark S. 2015. Auditing dan Jasa
Assurance: Pendekatan Integrasi. Edisi Kelimabelas. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Boynton, William C., Johnson, Raymond N. dan Kell, Walter G. 2002. Modern
Auditing. Edisi Ketujuh. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai