Anda di halaman 1dari 5

Teori Dasar : Teori Pendukung :

 TEORI SIGNAL  TEORI AGENSI


 TEORI LEGITIMASI

Iklim Organisasi (X1)

Kepemilikan Manajerial (X2) (+)

Nilai Perusahaan (Y)

Kepemilikan Institusional
(X3)

Dewan Komisaris Independen


(X4)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Penelitian


Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori sinyal dengan teori pendukungnya yaitu
teori agensi dan teori legitimasi. Teori sinyal menyatakan bahwa manajer atau perusahaan secara
kualitatif memiliki kelebihan informasi dibandingkan dengan pihak luar menggunakan ukuran-
ukuran atau fasilitas tertentu yang menyiratkan kualitas perusahaannya (Gumanti, 2009).
Informasi yang terdapat pada laporan keuangan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para
investor maupun calon investor dalam mengambil keputusan. Informasi yang diterima oleh
investor terlebih dahulu diterjemahkan sebagai sinyal yang baik (good news) atau sinyal yang
buruk (bad news). Informasi yang lengkap, akurat serta tepat waktu sangat dibutuhkan yang
mendukung investor dalam mengambil keputusan secara rasional sehingga hasil yang diperoleh
sesuai dengan apa yang diharapkan. Perusahaan akan mengungkapkan informasi jika informasi
tersebut akan meningkatkan nilai perusahaan. Jadi perusahaan cenderung akan mengungkapkan
informasi yang diharapkan akan memaksimalkan nilai perusahaannya, yang kemudian akan
meningkatkan harga saham perusahaan tersebut. Jika pemegang saham atau investor tidak
mencoba mencari informasi, mereka tidak mampu mengambil manfaat dengan maksimal.

Good Corporate Governance di dalam meningkatkan nilai perusahaan, tidak terlepas dari
adanya masalah keagenan. Masalah keagenan yang terjadi jika pihak-pihak yang saling bekerja
sama memiliki tujuan dan pembagian kerja yang berbeda. Secara khusus teori keagenan
membahas tentang adanya hubungan keagenan, dimana suatu pihak tertentu mendelegasikan
pekerjaan kepada pihak lain yang melakukan pekerjaan. Menurut Nuswandari (2009), teori
keagenan ditekankan untuk mengatasi dua permasalahan yang dapat terjadi dalam hubungan
keagenan.
Pengaruh komponen Good Corporate Governance pada Nilai Perusahaan

Teori keagenan dapat menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam


perusahaan akan berprilaku, karena pada dasarnya mereka memiliki kepentingan yang berbeda.
Perbedaan kepentingan antara agen dan prinsipal dapat menimbulkan konflik. Konflik
kepentingan yang muncul disebut konflik keagenan. Pada dasarnya, konflik keagenan terjadi
karena adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Kecurangan timbul
akibat dari lemahnya peran dewan komisaris. Adanya prinsip-prinsip corporate governance
seperti transparency, accountability, responsibility dan fairness yang dilakukan oleh perusahaan
dapat membuat mekanisme corporate governance meminimalisir konflik kepentingan antara
manajer dan para pemegang saham perusahaan. Adanya transparansi dan pengawasan yang baik
dapat mencegah manajer dalam melakukan tindakan oportinistik. System yang baik akan
memberikan perlindungan efektif kepada para pemegang saham untuk memperoleh kembali
investasinya dengan wajar, tepat dan efisien, serta memastikan bahwa manajemen bertindak
sebaiknya untuk kepentingan perusahaan.

Berdasarkan teori keagena, adanya corporate governance, manajer dapat diawasi


dengan baik dan agency cost dapat dikurangi. Secara teoritis, jika praktik Good Corporate
Governance berjalan dnegan efektif dan efisien maka seluruh proses aktivitas perusahaan akan
berjalan dengan baik yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai perusahaan, mengurangi risiko
yang mungkin dilakukan oleh individu dengan keputusan yang menguntungkan diri sendiri.
Good Corporate Governance juga dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan
modalnya yang juga akan berdampak pada nilai perusahaan. Pada penelitian ini, Good Corporate
Governance diukur melalui kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan dewa
komisaris independen, dengan penjabarannya masing-masing adalah sebagai berikut.

1) Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajerial pada Nilai Perusahaan

Pemahaman terhadap kepemilikan perusahaan sangat penting terkait pengendalian


operasional perusahaan. Struktur kepemilikan dipandang sebagai suatu mekanisme untuk
mengurangi konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Struktur kepemilikan
juga dipercaya dapat berpengaruh pada jalannya perusahaan yang akhirnya dapat mengurangi
masalah keagenan adalah dengan memperbesar kepemilikan saham oleh manajemen. Hal
tersebut didasarkan pada logika bahwa peningkatan proporsi saham yang dimiliki manajer
akan menurunkan kecenderungan manajer untuk melakukan tindakan yang berlebihan.
Adanya proporsi kepemilikan yang cukup tinggi maka manajer akan merasa ikut memiliki
perusahaan sehingga akan berusaha semaksimal mungkin melakukan tindakan-tindakan yang
dapat memaksimalkan kemakmurannya. Hal ini akan mempersatukan kepentingan manajer
dengan pemegang saham yang tentunya akan menimbulkan dampat positif bagi kinerja
perusahaan dan meningkatkan nilai perusahaan.

Adanya pengaruh positif kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan sejalan


dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanti dan Mildawati (2014) yang menyatakan
bahwa adanya kepemilikan manajerial, kepentingan manajer dan pemegang saham bisa
dipersatukan sehingga mampu untuk mengatasi biaya keagenan dan meningkatkan nilai
perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:

H2: Kepemilikan Manajerial berpengaruh Positif pada Nilai Perusahaan.

2) Pengaruh Struktur Kepemilikan Institusional pada Nilai Perusahaan

Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi oleh institusi akan memudahkan


pengendalian terhadap perusahaan, sehingga akan berdampak pada peningkatan kinerja
perusahaan. Pada umumnya, kepemilikan institusional bertindak sebagai pihak yang
memonitor perusahaan dan pada khususnya memonitor manajer dalam mengelola
perusahaan. Investor institusional akan memantau secara professional perkembangan
investasi yang ditanamkan pada perusahaan dan memiliki tingkat pengendalian yang tinggi
terhadap tindakan manajemen. Hal ini memperkecil potensi manajemen untuk melakukan
kecurangan, dengan demikian maka dapat menyelaraskan kepentingan manajemen dan
kepentingan stakeholders lainnya untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Adanya pengaruh positif kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan sejalan


dengan penelitian yang dilakukan oleh Wida dan Suartana (2014) serta Muyati dan Suardhika
(2014) yang menyatakan bahwa dengan adanya kepemilikan institusional dapat membatasi
perilaku oportunistik maanger dan kepemilikan institusi juga dapat memantau keputusan
manajer dengan efektif sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Maka hipotesis pada
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
H3: Kepemilikan Istitusional berpengaruh Positif pada Nilai Perusahaan

3) Pengaruh Dewan Komisaris Independen pada Nilai Perusahaan

Fama dan Jensen (1983) berpendapat bahwa komisaris independen dapat bertindak
sebagai penengah dalam perselisihan yang terjadi diantara para manajer internal dan
mengawasi kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen. Semakin
tinggi proporsi dewan komisaris independen makan semakin ketat pula kegiatan monitoring
yang dilakukan. Oleh karena itu, masalah benturan kepentingan antar para manajer internal
seperti penyalahgunaan asset perusahaan dan manipulasi transaksi perusahaan dapat
dimonitor secara efektif. Dengan demikian, biaya keagenan perusahaan akan semakin kecil
sehingga perusahaan akan semakin efisien yang pada akhirnya juga mampu meningkatkan
nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Hariati dan Rihatiningtyas (2015) serta
Dianawati dan siti (2016) menemukan bahwa dewan komisais berpengaruh positif terhadap
nilai perusahaan karena dewan komisaris dianggap mampu untuk mengemban tugas.
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan, dapat dibuat hipotesis sebagai berikut.

H4: Dewan Komisaris Independen berpengaruh Positif pada Nilai Perusahaan