Anda di halaman 1dari 23

Langkah 5: Tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Indikasi, kontraindikasi &


tujuan, terapi, prinsip bedah periodontal
2. Mahasiswa mampu memahami menjelaskan jenis jenis bedah periodontal
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan alat dan bahan bedah
periodontal
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prosedur bedah periodontal
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan kontol dan pemeliharaan
pasca bedah periodontal

Langkah 6: Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet dan lain-lain

1. Indikasi, kontraindikasi & tujuan, terapi, prinsip bedah periodontal

BEDAH PERIODONTAL

Pengertian Bedah Periodontal

Bedah periodontal merupakan bagian dari terapi periodontal dengan maksud untuk
meningkatkan akses dan pandangan (visibility) untuk scalling dan rootplanning, membuang
jaringan granulasi, dan memperbaki jaringan periodontal yang rusak sebagai faktor
predisposisisi bagi penyakit periodontal selanjutnya.

Tujuan Bedah Periodontal

Tujuan bedah periodontal diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Menyehatkan jaringan periodontal.


2. Menciptakan estetika wajah (mulut)
3. Mengeliminasi poket untuk menghilangkan retensi plak.
4. Mengembalikan fungsi alat-alat kunyah.

Indikasi Bedah Periodontal

1. Inflamasi yang persisten dengan poket sedang atau dalam


2. Keterlibatan furkasi kelas II dan III
3. Poket infrabony (dasar poket dibawah puncak alveolar) dengan atau tanpa masalah
mukosa gingival
4. Kontur tulang tidak beraturan atau crater
5. Poket yang tidak hilang setelah perawatan pertama.

Kontra Indikasi Bedah Periodontal

1. Pasien yang tidak kooperatif


2. Adanya penyakit sistemik, seperti kardiovascular, kelainan darah, kelainan hormonal,
dan kelainan neurologis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk melakukan bedah periodontal, yakni (1) adanya
pengetahuan tentang sterilisasi, (2) asistensi yang kompeten, (3) peralatan yang tersedia
lengkap, (4) disertai dengan model studi dan gambar. Sebelum dilakukan bedah periodontal,
berikut ini adalah prinsip umum bedah periodontal:

1. Persiapan pasien à mencakup informed concent, re-evaluasi terapi fase 1,


premedikasi.
2. Tersedianya alat-alat emergensi
3. Pencegahan penularan infeksi
4. Sedasi dan anestesi à menggunakan oral benzodiazepine.
5. Scalling dan rootplanning
6. Hemostatis
7. Periodontal pack ( pembalut periodontal)

Kuretase

1. Kuretase Tertutup

Kuretase tertutup terbagi menjadi 2 yaitu kuretase gingival dan kuretase subgingival.
Kuretase gingival adalah prosedur dimana dilakukan penyingkiran jaringan lunak
terinflamasi yang berada di lateral dinding poket. Sebaliknya kuretase subgingival adalah
prosedur yang dilakukan dari epitel penyatu, dimana perlekatan jaringan ikat disingkirkan
sampai ke tulang alveolar.

Daerah pengkuretan pada kuretase gingival (panah putih) dan kuretase subgingival (panah
hitam)

Prosedur kuretase mencakup penyingkiran jaringan granulasi yang terinflamasi kronis yang
berada pada dinding saku periodontal. Berbeda dengan jaringan granulasi pada keadaan yang
normal, jaringan granulasi pada dinding jaringan ikat saku periodontal mengandung daerah-
daerah yang terinflamasi kronis, disamping adanya partikel-partikel kalkulus dan koloni-
koloni bakteri. Adanya koloni bakteri tersebut akan mempengaruhi gambaran patologis dari
jaringan dan menghambat penyembuhan. Jaringan granulasi yang terinflamasi dilapisi oleh
epitel, dan bagian epitel yang penetrasi sampai ke jaringan. Adanya epitel tersebut akan
menghambat perlekatan serat-serat gingiva dan ligamen periodontal yang baru ke permukaan
sementum pada daerah tersebut.

Kuretase sebenarnya dapat menyingkirkan sebagian atau keseluruhan epitel yang


mendindingi saku (epitel saku), perluasan epitel yang penetrasi ke jaringan granulasi, dan
epitel penyatu. Kegunaan kuretase masih diperlukan terutama bila diharapkan terjadinya
perlekatan baru pada saku infraboni. Namun ada perbedaan pendapat dalam hal terjaminnya
penyingkiran epitel dinding saku dan epitel penyatu. Beberapa peneliti menemukan bahwa
dengan penskeleran dan penyerutan akar epitel dinding saku hanya terkoyak dan epitel
dinding saku serta epitel penyatu tidak tersingkirkan. Sekelompok peneliti lain menemukan
terjadinya penyingkiran epitel saku dan epitel penyatu, meskipun tidak tuntas.

Indikasi Kuretase

 Kuretase dapat dilakukan sebagai bagian dari prosedur perlekatan baru pada saku
infraboni dengan kedalaman sedang yang berada pada sisi yang aksesibel dimana
bedah “tertutup” diperhitungkan lebih menguntungkan. Namun demikian, hambatan
teknis dan aksesibilitas yang inadekuat sering menyebabkan tehnik ini
dikontraindikasikan.
 Kuretase dapat dilakukan sebagai perawatan nondefinitif (perawatan alternatif) untuk
meredakan inflamasi sebelum penyingkiran saku dengan tehnik bedah lainnya, atau
bagi pasien yang karena alasan medis, usia dan psikologis tidak mungkin
diindikasikan teknik bedah yang lebih radikal seperti bedah flep misalnya. Namun
harus diingat, bahwa pada pasien yang demikian, tujuan penyingkiran saku adalah
dikompromikan, dan prognosis menjadi kurang baik. Indikasi yang demikian hanya
berlaku apabila tehnik bedah yang sebenarnya diindikasikan tidak memungkinkan
untuk dilakukan. Baik klinisi maupun pasien harus memahami keterbatasan dari
perawatan nondefinitif ini.
 Kuretase sering juga dilakukan pada kunjungan berkala dalam rangka fase
pemeliharaan, sebagai metoda perawatan pemeliharaan pada daerah-daerah dengan
rekurensi/kambuhnya inflamasi dan pendalaman saku, terutama pada daerah dimana
telah dilakukan bedah saku.

Kuretase Terbuka (ENAP = Excisional New Attachment Prosedure)

Teknik Modifikasi Prosedur Perlekatan Baru dengan Eksisi (Modified Excisional New
Attachment Procedure/MENAP) adalah modifikasi dari teknikENAP (Ecxisional New
Attachment Procedure) yang dikembangkan oleh U.S. Naval Dental Corps (Dinas Kesehatan
Gigi angkatan Laut Amerika Serikat).Tehnik ini pada dasarnya merupakan kuretase
subgingival yang dilakukandengan menggunakan skalpel.

Indikasi

Teknik modifikasi perlekatan baru dengan eksisi diindikasikan pada:


1. Saku supraboni dengan kedalaman dangkal sampai sedang (sampai dengan 5,0 mm)
yang mempunyai zona gingiva berkeratin dengan lebar yang adekuat dan tebal.
2. Saku pada regio anterior, di mana masalah estetis diutamakan.

Kontra Indikasi

Teknik modifikasi perlekatan baru dengan eksisi tidak dapat diindikasikan apabila:

1. Lebar zona gingiva berkeratin inadekuat.

2. Adanya cacat tulang yang harus dikoreksi.

2. Jenis jenis bedah periodontal

Jenis –Jenis Bedah Periodontal

Ada 5 jenis bedah periodontal, diantaranya adalah

1. Kuretase
2. Gingivectomny (gingivoplasty)
3. Bedah periodontal
4. Bedah mucoginggival
5. Bedah prostetik

Klasifikasi bedah periodontal:

A. Bedah reduksi saku:


 Resektif: gingivektomi, flep posisi apikal dan undisplaced flap dengan atau
tanpa reseksi tulang
 Regenerative: flep dengan graft dan membran
B. Koreksi cacat anatomi/morfologi:
 Teknik bedah plastik untuk memperlebar gingiva cekat:
 Graft epitel
 Graft jaringan ikat
 Bedah estetik:
 Penutupan akar
 Pembentukan kembali papila gingiva
 Teknik bedah preprostetik:
 Crown lengthening
 Ridge augmentation
 Mendalamkan vestibulum
 Peletakkan dental implan:
 Dengan GBR
 Graft sinus

Tujuan dari fase bedah dari bedah periodontal:

 Regenerasi dari kehilangan perlekatan periodontal


 Meningkatkan prognosis gigi dan penggantiannya
 Meningkatkan estetis

Macam-macam Perawatan Bedah Periodontal secara Umum

Bedah periodontal terdiri dari bedah periodontal untuk perawatan poket dan koreksi
anatomis atau defek morfologi.

A. Teknik Bedah Periodontal untuk perawatan poket terdiri dari:

1. Reseksi (gingivektomi, apikal displaced and undispaced flap dengan atau tanpa
reseksi osseus).
2. Regenerasi (flap with graps, membranes).
B. Koreksi anatomis atau defek morfologi terdiri dari:

1. Bedah plastik (free gingival graft).


2. Bedah estetik (root coverage, re-creation of gingival papille).
3. Bedah Preprostetik (crown lengthening, ridge augmentasi, vestibular deepening).
4. Penempatan dental implant.
(Fermin A.Carranza and Henry H. Takei, 2002:720)

Tipe perawatan bedah tergantung pada bentuk lesi sebagai berikut:


1. Lesi sederhana atau supraboni, dimana semua dinding lesi terletak pada jaringan lunak
dan tidak diperumit dengan adanya masalah mukogingiva.
2. Lesi infraboni dimana dasar poket terletak diapikal dari tepi tulang oleh sebab itu, satu
atau beberapa dinding poket dibatasi oleh tulang
3. Lesi yang disertai dengan kerusakan mukogingiva seperti misalnya perlekatan otot yang
tinggi atau absennya perlekatan gingival
(J.D Manson & B.M Eley, 1993:76)
Kontraindikasi bedah periodontal secara umum
Dapat oral atau sistemik
1. Pada pasien berusia lanjut dimana gigi-geligi dapat tetap bertahan tanpa perlu melakukan
perawatan yang radikal
2. Adanya penyakit sistemik seperti penyakit kardiovaskuler yang parah, keganasan,
penyakit ginjal dan penyakit hati, penyakit darah dan gangguan pembekuan darah serta
diabetes yang tidak terkontrol dst. Di sini perlu dilakukan rujukan ke dokter yang
merawat pasien.
3. Bila skaling subgingiva dan pembersihan gigi dirumah yang menyeluruh dapat
menghilangkan dan mengontrol lesi.
4. Bila motivasi pasien kurang adekuat.
5. Bila ada infeksi akut.
6. Bila estetik pasca operasi sangat buruk sehingga mengganggu kejiwaan pasien.
7. Bila prognosa sangat buruk sehingga tanggalnya gigi tidak mungkin dicegah.
(J.D Manson & B.M Eley, 1993:76)

3. Alat dan bahan bedah periodontal

Instrumen Bedah

Bedah periodontal dicapai dengan berbagai instrumen. Instrumens bedah periodontal


diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Periosteal elevator
2. Bedah pahat
3. Excisional dan instrumen insisional
4. Bedah Kuret dan arit
5. Tang jaringan
6. Gunting dan pinset
7. Needleholder

1.Periosteal Elevator

Periosteal elevator diperlukan untuk mencerminkan dan bergerak setelah insisi flap telah
dibuat untuk bedah flap. The Woodson dan elevator Prichard adalah instrumen yang
dirancang dengan baik periosteal.

2.Bedah pahat

Bagian belakang tindakan pahat digunakan dengan gerakan tarik, sedangkan lurus pahat
digunakan dengan gerakan mendorong. The Ochsenbein pahat adalah pahat yang berguna
dengan lekukan setengah lingkaran di kedua sisi pegang instrumen yang memungkinkan
untuk melibatkan sekitar tiupan dan ke daerah interdental. The Rhodes pahat lain kembali
tindakan-populer pahat.

3. Excisional dan instrumen insisional :

• Pisau periodontal (pisau gingivektomi)

The Kirkland merupakan perwakilan dari pisau yang biasanya digunakan untuk
gingivektomi. Pisau ini dapat diperoleh baik sebagai double-berakhir atau berakhir instrumen
tunggal. Seluruh pinggiran pisau ini berbentuk ginjal adalah terdepan.

• Pisau interdental
Yhe Orbán pisau # 1-2 dan pisau Merrifield # 1, 2, 3, dan 4 adalah contoh pisau telah
memotong tepi di kedua sisi pisau dan dirancang dengan baik ganda atau tunggal berakhir
berakhir pisau.

• Pisau bedah

Bilah pisau bedah dari berbagai bentuk dan ukuran yang digunakan dalam bedah
periodontal.Pisau paling umum adalah # 12D, 15, dan 15C. Pisau # 12D adalah pisau
berbentuk paruh dengan pemotongan tepi di kedua sisi, memungkinkan operator untuk
terlibat sempit, daerah terlarang dengan kedua mendorong dan menarik gerakan
memotong. Pisau # 15 digunakan untuk flaps menipis dan tujuan umum. Pisau # 15C, versi
sempit pisau # 15, adalah udeful untuk membuat sayatan, awal scalloping-jenis. Perancangan
pisau ini memungkinkan sayatan ke bagian sempit interdental tutupnya. Semua pisau dibuang
setelah satu digunakan.

Electrosurgery (Radiosurgery) teknik dan instrumentasi.

The electrosurgery istilah atau Radiosurgery saat ini digunakan untuk mengidentifikasi teknik
bedah yang dilakukan pada jaringan lunak menggunakan dikontrol, tinggi frekuensi listrik
(radio) arus pada kisaran 1,5 ke 7,5 juta siklus per detik, atau megahertz. Ada tiga kelas
elektroda aktif: elektroda kawat tunggal untuk menggores atau excising; loop elektroda untuk
prosedur koagulasi.

Empat tipe dasar teknik electrosurgical adalah electrosection, elektrokoagulasi,


electrofulguration dan electrodesiccation.

Electrosection, juga disebut sebagai electrotomy atau acusection, digunakan untuk


menyayat, excisions, dan perencanaan jaringan. Insisi dan eksisi dilakukan dengan kawat
tunggal electodes aktif yang dapat dibengkokkan atau disesuaikan untuk menyelesaikan
semua jenis prosedur pemotongan.

Elektrokoagulasi menyediakan berbagai koagulasi atau perdarahan kontrol dengan


menggunakan elektrokoagulasi saat ini. Elektrokoagulasi dapat mencegah perdarahan atau
perdarahan pada awal masuk ke dalam jaringan lunak, tetapi tidak dapat menghentikan
pendarahan setelah darah hadir. Semua bentuk perdarahan harus dihentikan terlebih dahulu
oleh beberapa bentuk tekanan langsung (misalnya, udara, kompres, hemostat). Setelah
pendarahan berhenti sejenak, akhir menyegel dari kapiler dapat dicapai dengan aplikasi
elektrokoagulasi arus singkat. Elektroda aktif digunakan untuk koagulasi jauh bulkier dari
kawat tungsten baik digunakan untuk electrosection.

Electrosection dan elektrokoagulasi adalah prosedur yang paling sering digunakan di semua
bidang kedokteran gigi. Kedua teknik monoterminal, electrofulguration dan
electrodesiccation, tidak digunakan secara umum dalam kedokteran gigi.Aturan dasar yang
paling penting dari electrosurgery selalu menjaga ujung bergerak. Lama atau aplikasi
berulang-ulang saat ini untuk jaringan menyebabkan akumulasi panas dan kerusakan jaringan
yang tidak diinginkan, sedangkan aplikasi sela pada interval yang memadai untuk
pendinginan jaringan (kedua 5-10) mengurangi atau menghilangkan penumpukan
panas.Electrosurgery tidak dimaksudkan untuk menghancurkan jaringan; itu adalah sarana
dikontrol dari memahat atau memodifikasi jaringan lunak mulut dengan sedikit
ketidaknyamanan dan perdarahan untuk pasien.
Electrosurgery merupakan kontraindikasi untuk pasien yang telah noncompatible atau buruk
terlindung alat pacu jantung.

4.Bedah Kuret dan Sickle

Lebih besar dan lebih berat Kuret arit yang sering dibutuhkan selama operasi untuk
memindahkan paing berpengaruh saat jaringan granulasi, jaringan interdental berserat, dan
deposito subgingival ulet. The kuret Prichard dan Kirkland instrumen bedah yang Kuret
berat, sedangkan scaler bola # B2-B3 adalah sebuah arit jang berat populer. Lebih lebar, bilah
lebih berat dari instrumen-instrumen membuat mereka cocok untuk prosedur bedah.

currete kirkland #8k

Currete prichard #PR 1/2 manche

5.Tang Jaringan

Tang jaringan digunakan untuk menyimpan tutup selama menjahit. Hal ini juga digunakan
untuk posisi dan menggantikan flap setelah theflap telah dibukukan. The forcep DeBakey
adalah instrumen yang sangat efisien.

6.Gunting dan pinset

Gunting dan pinset yang digunakan dalam bedah periodontal untuk menghapus tab jaringan
selama gingivektomi, memangkas margin flaps, memperbesar menyayat di abses periodontal,
dan menghapus lampiran otot di mucogingivalsurgery. Banyak jenis yang tersedia, dan
preferensi individu menentukan pilihan. The Goldman-Fox # 16 gunting memiliki pisau,
melengkung miring dengan gerigi.

7.Needleholder
Pemegang jarum digunakan untuk menjahit flap pada posisi yang diinginkan setelah prosedur
pembedahan telah selesai. Selain jenis needleholder teratur, yang needleholder Castroviejo
digunakan untuk halus, teknik yang tepat yang dibutuhkan rilis cepat dan mudah dan pegang
benang tersebut.

ALAT DAN BAHAN KURETASE GINGIVA


1. Alat dasar
- Kaca mulut, sonde semilunar dan lurus, ekskavator, pinset, probe periodontal, neir
beiken
2. Scaler
3. Kuret
4. Rubber cusp
5. Semen spatel
6. Tampon + tempat
7. Cotton roll + tempat
8. Cotton pellet + tempat
9. Pumice + tempat
10. Periodontal pack
11. Glass plate
12. Ada juga yang menggunakan ultrasonic kuretase
13. Aquades steril + spuit
14. Alkohol 70 % + tempat
15. Betadine antiseptik
16. Pehacain 2 % ukuran 2 ml + disposible spuit 2.3 ml
17. Larutan saline
18. Untuk causatic drug bisanya menggunakan bahan sodium sulfida, alkaline sodium
hypochloride solution dan phenol.

4. Prosedur bedah periodontal

Prosedur Bedah

Prosedur bedah yang harus dilakukan yaitu:

1. Dilakukan minimal 1 bulan pasca perawatan setelah selesai evaluasi


2. Kelengkapan, seperti catatan dental atau perio, radiografi, model studi
3. Keterangan tentang riwayat medis (informed consent) seperti penyakit sistemik, alergi
dan kelainan lainnya
4. Kesadaran atau pengertian pasien tentang bedah periodontal
5. Peralatan steril, lengkap, disimpan pada tempat yang mudah di jangkau pada saat
dilakukan bedah periodontal
6. Operator selalu berada di dekat pasien, sementara untuk keperluan lain dilakukan oleh
asisten
7. Peralatan bedah setelah dipakai di cuci dan disterilkan
8. Bila operator mahasisiwa, harus ada ijin dari pengawas atau dosen perio.

Tahapan Prosedur Kuretase

Tahapan prosedur teknik kuretase adalah sebagai berikut:

1. Anestesi. Sebelum melakukan kuretase gingival atau kuretase subgingival, daerah


yang dikerjakan terlebih dulu diberi anestesi lokal.
2. Penskeleran dan penyerutan akar. Permukaan akar gigi dievaluasi untuk melihat
hasil terapi fase I. Apabila masih ada partikel kalkulus yang tertinggal atau sementum
yang lunak, penskeleran dan penyerutan akar diulangi kembali.
3. Penyingkiran epitel saku. Alat kuret, misalnya kuret universal Columbia 4R – 4L,
atau kuret Gracey no. 13 – 14 (untuk permukaan mesial) dan kuret Gracey no. 11 – 12
(untuk permukaan distal) diselipkan ke dalam saku sampai menyentuh epitel saku
dengan sisi pemotong diarahkan ke dinding jaringan lunak saku. Permukaan luar
gingival ditekan dari arah luar dengan jari dari tangan yang tidak memegang alat, lalu
dengan sapuan ke arah luar dan koronal epitel saku dikuret. Untuk penyingkiran
secara tuntas semua epitel saku dan jaringan granulasi perlu dilakukan beberapa kali
sapuan.
4. Penyingkiran epitel penyatu. Penyingkiran epitel penyatu hanya dilakukan pada
kuretase subgingival. Kuret kemudian diselipkan lebih dalam sehingga meliwati epitel
penyatu sampai ke jaringan ikat yang berada antara dasar saku dengan krista tulang
alveolar. Dengan gerakan seperti menyekop ke arah permukaan gigi jaringan ikat
tersebut disingkirkan.
5. Pembersihan daerah kerja. Daerah kerja diirigasi dengan akuades (aquadest) untuk
menyingkirkan sisa-sisa debris.
6. Pengadaptasian. Dinding saku yang telah dikuret diadaptasikan ke permukaan gigi
dengan jalan menekannya dengan jari selama beberapa menit. Namun apabila papila
interdental sebelah oral dan papilla interdental sebelah vestibular terpisah, untuk
pengadaptasiannya dilakukan penjahitan.
7. Pemasangan pembalut periodontal. Pemasangan pembalut periodontal tidak mutlak
dilakukan, tergantung kebutuhan.

Prosedur enap

Tahapan Prosedur

Tahapan prosedur dari teknik ini adalah sebagai berikut:

1. Anestesi. Sebelum pembedahan terlebih dulu diberikan anestesi local yang sesuai.
2. Pembuatan insisi pertama. Insisi pertama adalah berupa insisi bevel
kedalam/terbalik (internal/reverse beveled incision) pada permukaan vestibular dan
oral. Insisi dilakukan dengan skalpel/pisau bedah, dimulai dari tepi gingiva ke arah
apikal menuju krista tulang alveolar. Pada waktu melakukan insisi di permukaan
interproksimal harus diusahakan agar sesedikit mungkin papila interdental yang
terambil. Pada tehnik ini tidak ada pembukaan flep.
3. Pembuatan insisi kedua. Insisi kedua dilakukan mulai dari dasar saku melalui serat
krista alveolaris (dan pada permukaan proksimal melalui juga serat transeptal) ke
krista tulang alveolar.
4. Penyingkiran jaringan yang tereksisi. Jaringan yang telah tereksisi disingkirkan
dengan jalan pengkuretan.
5. Penskeleran dan penyerutan akar. Pada sementum akar yang tersingkap dilakukan
pensekeleran dan penyerutan. Dalam melakukan penskeleran dan penyerutan harus
diperhatikan agar tidak sampai menyingkirkan jaringan ikat yang melekat ke
sementum akar pada daerah 1- 2 mm koronal dari krista tulang alveolar.
6. Pembersihan daerah kerja. Daerah yang mengalami pembedahan dibilas dengan
akuades atau larutan garam fisiologis.
7. Pengadaptasian. Tepi luka pada kedua sisi dipertautkan. Apabila tepi gingiva tidak
bertaut rapat, plat tulang vestibular sedikit ditipiskan dengan jalan osteoplastik.
8. Penjahitan. Tepi luka dijahit di interproksimal dengan jahitan interdental. Luka
sedikit ditekan dari arah oral dan vestibular selama 2 – 3 menit agar bekuan darah
yang terbentuk tipis saja.
9. Pemasangan pembalut periodontal. Pembalut periodontal dipasang menutupi luka
bedah, dan dibuka seminggu kemudian.

3.2.3 Teknik dan Tahapan


Tahapan Gingivektomi secara umum adalah sebagai berikut:
1. Melalakukan perawatan fase I (initial phase terapy)
2. Menentukan kedalaman poket dengan menggunakan probe periodontal
3. Menandai poket
Untuk dapat menghilangkan seluruh dinding poket, batas apikal dari poket harus
diidentifikasi terlebih dahulu dan diberi tanda dengan menggunakan tang penanda poket
atau sonde periodontal. Beberapa tanda yang dibuat pada gingiva fasial dan lingual dapat
digunakan sebagai acuan dalam membuat insisi gingivektomi.
(Manson, 1993)
4. Insisi gingivektomi
Insisi dapat dibuat dengan bantuan beberapa buah pisau seperti misalnya; Swann-
Morton No. 12 atau 15 pada pegangan skalpel konvensional; pisau Blake yang
menggunakan blade disposable; pisau gingivektomi khusus seperti Kirkand, Orban, atau
pisau Goldman-Fox yang harus diasah setiap akan digunakan. Pemilihan jenis pisau yang
akan digunakan adalah tergantung pada operator masing-masing, namun bila
memungkinkan selalu gunakan blade yang disposable.
Insisi harus dibuat di sebelah apikal dari tanda yang sudah dibuat yaitu di apikal
dasar poket dan bersudut 45° sehingga blade dapat menembus seluruh gingiva menuju ke
dasar poket. Insisi yang kontinyu (tidak berupa insisi sabit yang terputus) dibuat
mengikuti dasar poket. Insisi yang akurat akan dapat menghilangkan dinding poket dan
membentuk kontur jaringan yang ramping; bila insisi terlalu datar akan terbentuk kontur
pascaoperasi yang kurang memuaskan. Kesalahan yang paling sering dibuat pada operasi
ini adalah insisi pada posisi koronal sehingga dinding dasar poket tetap tertinggal dan
penyakit cenderung timbul kembali. Setelah pembuatan insisi bevel, dapat dibuat insisi
horizontal di antara setiap daerah interdental dengan menggunakan blade No. 12 yang
mempunyai pegangan skalpel konvensional, untuk memisahkan sisa jaringan interdental.
(Manson, 1993)

5. Pengambilan atau pemotonagn dinding poket yang sudah diinsii


Bila insisi sudah dapat memisahkan seluruh dinding poket dari jaringan di bawahnya,
dinding poket akan dengan mudah dihilangkan dengan kuret atau skaler yang besar
misalnya skaler Cumine
6. Kuretase
Sisa jaringan fibrosa dan jaringan granulasi dapat dibersihkan seluruhnya dengan
kuret yang tajam untuk membuka permukaan akar. Di sini dibutuhkan penyedotan yang
efisien namun bila jaringan granulasi sudah dibersihkan seluruhnya perdarahan
umumnya akan sangat berkurang.
(Manson, 1993)
7. Skaling dan root planning
Permukaan akar harus diperiksa untuk melihat adanya sisa deposit kalkulus dan bila
perlu permukaan akar harus diskaling dan dilakukan root planning.
Bila perlu, gingiva dapat dirampingkan dan dibentuk ulang kembali dengan
menggunakan skalpel, gunting kecil atau diatermi. Kasa steril dapat ditempatkan di atas
luka untuk mengontrol perdarahan sehingga dapat dipasang dressing periodontal pada
daerah luka yang relatif sudah cukup kering.
(Manson, 1993)
8. Dressing periodontal
Dressing yang digunakan untuk menutupi luka mempunyai berbagai macam fungsi
sebagai berikut :
1. Untuk melindungi luka dari iritasi
2. Untuk menjaga agar daerah luka tetap dalam keadaan bersih
3. Untuk mengontrol perdarahan
4. Untuk mengontrol produksi jaringan granulasi yang berlebihan
Karena itu, dressing dapat mempercepat pemulihan dan memberikan kenyamanan
pascaoperasi.
Dressing periodontal yang ideal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Harus bersifat tidak mengiritasi dan tidak merangsang terjadinya reaksi alergi.
2. Harus dapat dipasang cekat pada gigi-geligi dan jaringan dan dapat mengalir di antara
gigi-geligi sehingga dapat tertahan cukup kuat. Waktu pengerasan yang lambat
memungkinkan dressing dimanipulasi dengan mudah.
3. Dapat mencegah akumulasi sisa makanan dan saliva.
4. Mempunyai sifat antibakteri sehingga dapat mencegah pertumbuhan bakteri.
5. Harus cukup keras sehingga tidak mudah tergeser.
6. Rasanya tidak mengganggu.
Dressing harus dipasang dengan hati-hati sehingga dapat menutupi daerah luka dan
mengisi seluruh ruang interdental. Dressing harus dimuscle trimming dengan cara
menggerakkan bibir, pipi, dan liidah dan semua kelebihan dressing pada permukaan
oklusal harus dibersihkan.
Dewasa ini sudah dipasarkan sejumlah bahan dressing yang berbahan dasar zinc-oxide
eugenol namun rasa eugenol ternyata kurang disukai oleh sebagian besar pasien dan
bahkan dilaporkan dapat merangsang terjadinya kontak alergi. Karena alasan tersebut,
sekarang ini mulai diperkenalkan bahan dressing bebas bahan eugenol misalnya Coe-
pack, Peripak, Septopak. Dressing ini cara pemasangannya cukup mudah dan dapat
ditolerir dengan baik oleh pasien.

Teknik dan Tahapan operkulektomi


1. Menentukan perluasan dan keparahan struktur jaringan yangterlibat serta komplikasi
toksisitas sistemik yang ditimbulkan.
2. Menghilangkan debris dan eksudat yang terdapat pada
permukaan operkulum dengan aliran air hangat atau
aquades steril.

3. Usap dengan antiseptik.


4. Operkulum/pericoronal flap diangkat dari gigi dengan
menggunakan scaler dan debris di bawah operkulum
dibersihkan.
5. Irigasi dengan air hangat/aquades steril.
Catatan :
a. Pada kondisi akut sebelum dilakukan pembersihan debris dapat diberikan anastesi
topikal. Pada kondisi akut juga tidak boleh dilakukan kuretase maupun surgikal.
b. Bila operkulum membengkak dan terdapat fluktuasi, lakukan insisi guna
mendapatkan drainase. Bila perlu pasang drain dan pasien diminya datang kembali
setelah 24 jam guna melepas/mengganti drainnya.
c. Jika kondisi akut, maka perawatan selanjutnya diberikan di kunjungan kedua. Pasien
diinstruksikan agar :
6. Kumur-kumur air hangat tiap 1 jam
7. Banyak istirahat
8. Makan yang banyak dan bergizi
9. Menjaga kebersihan mulutnya
a. Pemberian antibiotik dapat dilakukan jika diperlukan (bila ada gejala-gejala
konstisional dan kemungkinan adanya penyebaran infeksi). Demikian pula analgesik
dapat diberikan kepada pasien jika diperlukan.
b. Kondisi pasien kemudian dievaluasi di kunjungan berikutnya dan dapat dilanjutkan
ke tahap selanjutnya bila kondisi pasien telah membaik dan keadaan akut telah reda.
10. Cek pocket periodontal yang ada untuk mengetahui apakah tipe pocket (false pocket atau
true pocket). Lakukan probing debt pada semua sisi.
11. Anastesi daerah yang ingin dilakukan operkulektomi. Anastesi tidak perlu mencapai
sampai tulang, hanya sampai periosteal.
12. Lakukan operkulektomi (eksisi periodontal flap) dengan memotong bagian distal M3.
a. Jaringan di bagian distal M3 (retromolar pad) perlu dipotong untuk menghindari
terjadinya kekambuhan perikoronitis. Ambil seadekuat mungkin. Penjahitan
dilakukan jika trauma terlalu besar atau bleeding terlalu banyak.
b. Teknik operkulektomi yang lain dapat dilakukan secara partial thickness
mucogingival flap pada daerah lingual. Untuk daerah bukal juga dibuat insisi partial
thickness flap dengan meninggalkan selapis jaringan. Partial thickness flap adalah
flap yang dibuat dengan jalan menyingkap hanya sebagian ketebalan jaringan lunak
yakni epitel dan selapis jaringan ikat, tulang masih ditutupi jaringan ikat termasuk
periosteum. Indikasi untuk dilakukannya teknik ini adalah flap yang akan
ditempatkan ke arah apikal atau operator tidak bermaksud membuka tulang. Setelah
dilakukan flap dapat dilakukan eksisi seluruh jaringan retromolar pad kemudian
menyatukan flap bukal dan lingual dengan melakukan penjahitan.
13. Bersihkan daerah operasi dengan air hangat/aquades steril.
14. Keringkan agar periodontal pack yang akan diaplikasikan tidak mudah lepas.
15. Aplikasikan periodontal pack.
a. Penggunaan periodontal pack bukan medikasi, namun menutupi luka (dressing) agar
proses penyembuhan tidak terganggu. Dressing periodontal dulu mengandung zinc-
oxide eugenol, namun sekarang kurang disukai karena dapat mengiritasi. Karena
alasan itu, sekarang ini digunakan bahan dressing periodontal bebas eugenol. Dalam
mengaplikasikannya harus hati-hati sehingga dapat menutupi daerah luka dan
mengisi seluruh ruang interdental karena di situlah letak retensinya. Pada daerah
apikal, periodontal pack diaplikasikan jangan melebihi batas epitel bergerak dan
epitel tak bergerak dan mengikuti kontur. Pada daerah koronal jangan sampai
mengganggu oklusi. Dengan demikian, retensi periodontal pack menjadi baik.
16. Instuksikan pada pasien agar datang kembali pada kunjungan berikutnya (kalau tidak ada
keluhan, satu minggu kemudian)
17. Pada kunjungan berikutnya, pack dibuka dan dievaluasi keadaannya.

5. Kontrol dan pemeliharaan

Instruksi Untuk Pasein Pasca Bedah

1. Dilarang berkumur, meludah atau menyentuh luka selama 1 jam agar terjadi
pembekuan darah.
2. Obat harus segera di minum apabila terasa sakit atau terganggu.
3. Bila terjadi pembengkakan, perubahan warna, maka kompres dengan es selama 6-8
jam (10 menit kompres, 10 menit angkat, 10 menit kompres lagi dst). Kompres
ekstraoral pada pipi di sisi pascabedah.
4. Selama 24 jam dilarang makan makanan yang keras, padat dan merokok.
5. Tutup pembalut periodontal hingga 1 minggu pasca bedah
6. Kumur dengan air garam hangat keesokan harinya selama 4-6 hari
7. Jahitan jangan sampai dibuka sendiri oleh pasien

Operator harus mudah dihubungi.

Instruksi kepda pasien setelah bedah

Lakukan

 Konsumsi 2 tablet asetaminofen setiap 6 jam pada hari pertama


 Mengunyah pada sisi yang tidak dibedah
 Konsumsi makanan semi solid
 Aplikasi es, secara bergantian, selama 20 menit dan tidak selama 20 menit, pada
wajah diatas sisi yang dibedah pada hari pertama
 Gunakan obat kumur klorheksidin
 Jika perdarahan tidak berhenti, ambil sepotong kain dan dibentuk menjadi huruf U
dan tahan dengan jempol dan jari telunjuk, aplikasikan pada kedua sisi pack dan tahan
dengan tekanan selama 20 menit.
 Pembengkakan biasa pada prosedur bedah yang ekstensif. Akan berkurang dalam 3
atau 4 hari. Aplikasikan kompres hangat bila tetap ada.
 Jika ada masalah lain, hubungi dokter.

dilarang

 Hindari makanan panas


 Jangan merokok atau mengkonsumsi alkohol
 Hindari asam, makanan yang sangat pedas
 Jangan menyikat diatas pack
 Hindari melakukan pekerjaan berat
 Jangat mencoba menghentikan perdarahan dengan berkumur.

Perhatian pasca bedah

Hari 1: analgesik, pack dingin, kain lebab diperlukan, hindari mengganggu luka.

Setelah hari 1: rasa sakit, bengkak, perdarahan akan berkurang atau menghilang. Mulai
dengan aktivitas ringa, pack hangat diperlukan dan kontrol plak kemis direkomendasikan

Setelah 5 sampai 10 hari: buka dressing dan jahitan setelah 7 hari: lakukan pembersihan plak
supragingiva. Mulai dengan tindakan oral hygiene ringan.

Setelah 4 sampai 6 minggu: setiap dua minggu kunjungan ke dokter gigi untuk
membersihkan plak dan instruksi oral hygiene. Batas dentogingiva tidak boleh diprob atau
diinstrumentasi selama 6 sampai 8 minggu pasca bedah. Sikat gigi lembut harus digunakan
dengan lembut pada beberapa minggu pertama setelah bedah. Pasien harus mengikuti metode
Charter mengingdari penyikatan gigi yang terlalu keras.

KOMPLIKASI PASCA BEDAH

Jika komplikasi pasca bedah terjadi, mereka harus ditangani dengan perawatan yang segera
dan tepat, yang mana termasuk kontrol perdarahan, analgesik yang adekuat atau antibiotik.

Komplikasi berkaitan dengan bedah periodontal adalah:

 Perdarahan
 Rasa sakit pasca bedah
 Infeksi
 Bengkak
 Reaksi terhadap obat
 Potensi resiko lain termasuk sensitivitas akar, flep yang melunak, resorpsi akar atau
ankilosis, kehilangan krista alveolar, perforasi flep, pembentukan abses dan kontur
gingiva iregular.

Perdarahan

Perdarahan pasca bedah diawali pada saat pembedahan. Perdarahan yang segera dimulai
setelah pembedahan, dan berhenti sementera setelah bedah. Biasanya karenan pecahnya
gumpalan darah yang tidak sempurna, seperti berkaitan dengan kehilangan efek
vasokonstriktor dari anestesi. Perdarahan kedua dimulai dari 24 jam sampai 10 hari setelah
pembedahan.

Langkah untuk mengontrol perdarahan pasca bedah:

1. Langkah pertama untuk kontrol perdarahan adalah identifikasi sumber perdarahan.


Suction dilakukan dengan hati-hati dan tekanan lokal diberikan dengan spons.
2. Injeksi vasokonstriktor secukupnyadengan aplikasi tekanan membantu pembentukan
gumpalan darah.
3. Bekuan darah artifisial dapat diinduksi dengan produk kolagen mikrofibrilar selulosa
oksidasi.
4. Elektrokoagulasi dapat efektif untuk lokasi perdarahan kapiler dan arteriol kecil
5. Lokasi perdarahan arteriol besar dapat dikontrol dengan meletakkan jahitan pda
jaringan lunak. Simpul ditarik ketat untuk menutup pembuluh darah dengan kompresi
dari jaringan sekitar (gambar 43.16)

Jika perdarahan dari lokasi dalam tulang maka dapat dikontrol dengan wax tulang (beeswax
dan asam salisilat) yang menutup kanal tulang.

Perdarahan berlebih dari lesi interproksimal dan infraboni dari degranulasi inadekuat.
Jaringan granulomatous residual adalah sumber umum dari perdarahan, karena terdiri dari
kapiler besar.

Berbagai agen hemostatis topical


Agen Bahan utama
Avitene Kolagen
Collacote Kolagen
Collatape Kolagen
Collaplug Kolagen
Thrombinar Trombin
Thrombogen Trombin
Thrombostat Trombin
Gelfoam Gelatine
Beriplast Fibrin
Surgicel Selulosa

Rasa sakit pasca bedah

Keparahan dari rasa sakit pasca bedah berbeda tergantung pada tingkat ketahanan rasa sakit
pasien, lokasi, durasi, perluasan pembedahan dan kemampuan dimaan jaringan lunak dan
tulang ditangani selama bedah. Rasa sakit paska bedah dan ketidaknyamanan untuk pasien
dapat dikurangi dengan penanganan bedah dari jaringan lunak dan tulang yang mengalami
trauma.

 Tulang harus dijaga tetap lembab karena tulang yang kering menginduksi rasa sakit
yang sangat. Harus ada penutupan tulang yang baik oleh jaringan lunak selama
penjahitan. Paparan tulang tidak boleh luas.
 Dressing periodontal tidak boleh meluas dibawah batas mukogingiva atau ke
frenulum dan palatum.
 Pasien harus diinstruksikan untuk menghindari mengunyah pada lokasi yang dibedah.
 Dua tablet asetaminofen setiap 6 jam untuk 24 jam pertama. Tetapi jika rasa sakit
menetap maka tablet asetaminofen dengan kodein dapat diresepkan.
 Jika rasa sakit paska bedah berkaitan dengan infeksi yang mana biasanya dimulai
setelah 4 hari setelah pembedahan (limfadenopati lokal dan demam) kemudian harus
dirawat dengan antibiotik sistemik disertai dengan analgesik.
Pembengkakan

Pembengkakan setelah bedah sangat baik dicegah dengan pack es. Setelah terjadi
pembengkakan, pack yang hangat dan berkumur dengan larutan saline hangat dengan sering
disarankan. Secara umum berkurang pada hari ke-4 setelah pembedahan. Jika pembengkakan
menetap dan menjadi lebih parah, kemudan amoksisilin (500 mg) harus diberikan setiap 8
jam selama 1 minggu. Tidak semua pembengkakan pasca bedah disebabkan oleh inflamasi;
beberapa dapat disebabkan perdarahan ke dalam jaringan. Ini dapat terjadi setelah bedah flep
dan diikuti dengan diskolorasi bawah pipi, dagu atau mata.

PENYEMBUHAN LUKA

Unutk memastikan penyembuhan yang baik, prinsip bedah atraumatis harus diikuti termasuk:
(1) anestesi yang cukup; (2) disinfeksi permukaan; (3) instrumentasi yang tajam; (4)
penanganan jaringan atraumatis dan minimal; (5) waktu operasi singkat; (6) mencegah
kontaminasi yang tidak perlu; (7) dressing dan penjahitan yang tepat, jika diindikasikan.

Penyembuhan adalah fase dari respon inflamasi dimana mengarah pada hubungan fisiologi
dan anatomi yang baru diantara elemen tubuh yang rusak. Penyembuhan jaringan periodontal
dapat dalam bentuk penyembuhan, perlekatan baru dan regenerasi. (lebih lanjutnya akan
dijelaskan pada bab 48: bedah tulang regenerative)

Laju penyembuhan dari berbagai jaringan periodontal


Tipe jaringan Laju penyembuhan (perkiraan)
Epitel jungsional 5 hari
Epitel sulkular 7-10 hari
Epitel permukaan gingiva 10-14 hari
Jaringan ikat 21-28 hari
Tulang alveolar 4-6 minggu

Luka pada gingiva sembuh leibh cepat dengan lebih sedikit pembentukan jaringan parut
dibandingkan pada kulit. Alasan dari kurangnya pembentukan jaringan parut adalah:

a. Fibroblas gingiva tidak seperti fibroblas pada jaringan ikat lain yang menghasilkan
lebih banyak MMP13 daripada MMP1. MMP13 memiliki substantivitas yang lebih
luas dan lebih dapat menghancurkan/mengubah sejumlah protein matriks
ekstraselular. MMP1 pada sisi lain memiliki aktivitas biologis yang terbatas pada
kolagen I. Lebih besar MMP13 pada lokasi luka dianggap menghasilkan lebih banyak
perubahan dan mencegah pembentukan jaringan parut.
b. Terdapat miofibroblas yang lebih banyak pada gingiva dibandingkan pada kulit.
Fibroblas dapat berdiferensiasi membentuk miofibroblas yang lebih sintetis dibawah
pengaruh dari TGF-β. Adanya TGF-β pada daerah luka meningkatkan miofibroblas
yang telah ada yang mengakibatkan kontraksi luka yang lebih sedikit dan
pembentukan jaringan parut.
Perawatan Pasca Bedah Periodontal

v Untuk 3 jam pertama setelah operasi, hindari makanan yang panas untuk membiarkan
pack agar bisa mengeras, kurang lebih selama 24 jam pertama. Pasien dapat makan apapun,
tetapi cobalah untuk mengunyah di daerah yang tidak dilakukan tindak operasi. Lebih
disarankan untuk memakan makanan yang lembut tidak terlalu padat untuk dikunyah, seperti
bubur. Hindari makanan yang sangat pedas, dan minuman beralkohol, karena akan
menimbulkan rasa sakit.

v Tidak diperbolehkan untuk merokok. Panas dan asap rokok akan mengiritasi gusi, dan efek
imunologi dari nikotin akan menghambat penyembuhan dan mencegah tercapainya
keberhasilan dari prosedur yang dilakukan. Mungkin dengan hal ini dapat digunakan
kesempatan, untuk berhenti merokok. Selain semua risiko kesehatan lainnya, perokok
memiliki penyakit gusi lebih banyak daripada yang bukan perokok.

v Jangan sikat pack. Sikat dan floss (benang) pada daerah mulut yang tidak tertutup oleh
pack, seperti biasa dilakukan. Gunakan chlorhexidine (Peridex, PerioGard) untuk berkumur-
kumur setelah menyikat (sebagaimana resep dokter yang diberikan).

v Selama hari pertama, gunakanlah es secara perlahan di atas wajah daerah yang dioperasi.
Selain itu mengisap butiran es secara perlahan selama 24 jam pertama, hal ini dapat
bermanfaat. Metode ini akan membuat semua jaringan terasa dingin dan mengurangi
inflamasi serta pembengkakan.

v Pasien mungkin mengalami perasaan sedikit lemah atau kedinginan selama 24 jam
pertama. Sebaiknya ini tidak menyebabkan kegelisahan atau khawatir tetapi sebaiknya pasien
harus memberitahukannya pada kunjungan berikutnya. Pasien dapat mengikuti kegiatan
rutinnya sehari-hari, tetapi hindari dari pekerjaan yang berlebihan jenis apa pun. Golf, tenis,
ski, bowling, berenang, atau berjemur harus ditunda selama beberapa hari setelah operasi.

Bengkak yang tidak biasa, terutama pada daerah-daerah yang dilakukan tindakan
pembedahan yang luas. Pembengkakan biasanya dimulai 1 sampai 2 hari setelah operasi dan
secara berangsur-angsur mereda (pulih) di hari ke 3 atau ke 4. Jika hal ini terjadi, kompres
dengan menggunakan air hangat diatas daerah yang dioperasi. Jika pembengkakan semakin
menyakitkan atau menjadi lebih buruk, segera untuk menghubungi dokter gigi.

Adakalanya, mungkin terlihat darah di dalam air liur (saliva) untuk 4 atau 5 jam pertama
setelah dilakukan operasi. Hal ini biasa terjadi dan akan memperbaiki dengan sendirinya. Jika
ada perdarahan yang cukup besar di luar ini, ambil sepotong kasa, bentuk ke dalam bentuk U,
tahan dengan jari jempol dan telunjuk, menerapkannya ke kedua sisi pack, lalu ditahan di
bawah tekanan selama 20 menit . Jangan mengangkatnya sebelum 20 menit. Jika perdarahan
tidak berhenti setelah 20 menit, hubungi dokter gigi. Jangan mencoba untuk menghentikan
perdarahan dengan cara berkumur-kumur.

Setelah pack dilepaskan, gusi kemungkinan sangat besar, akan mengeluarkan darah lebih
daripada sebelum operasi. Hal ini masih dalam keadaan normal pada tahap awal
penyembuhan dan secara bertahap akan mereda (pulih). Karena itu janganlah berhenti untuk
pembersihan rongga mulut.

II.2 Instruksi Pasca Operasi Dan Komplikasi Pasca Bedah Periodontal


Setelah pack ditempatkan, cetak instruksi kemudian berikan kepada pasien untuk dibaca
sebelum dia meninggalkan kursi.

Minggu Pertama pasca operasi

Sebagaimana bedah periodontal dilakukan, tidak menimbulkan masalah yang serius pasca
operasi. Sebaiknya memberitahukan pasien untuk segera berkumur dengan chlorhexidine
glukonat 0,12% (Peridex, PerioGard) setelah tindakan bedah dilakukan dan setelah itu dua
kali sehari sampai teknik kontrol plak normal dapat dilanjutkan.

Komplikasi-komplikasi berikut ini yang mungkin akan timbul pada minggu pertama
pasca operasi :

1. Perdarahan secara terus-menerus setelah operasi. Pack dilepas, di lokasi titik


perdarahan, dan perdarahan itu dapat dihentikan dengan tekanan, bedah elektro
(electrosurgery), atau kauteri elektro (electrocautery). Setelah perdarahan dihentikan,
daerah ini dipack kembali.
2. Sensitivitas terhadap perkusi. Perluasan dari peradangan sampai ligamentum
periodontal dapat menyebabkan kepekaan terhadap perkusi. Pasien harus ditanya
mengenai kemajuan dari gejalanya. Pack harus dibuka dan gingiva diperiksa untuk
daerah yang melokalisir infeksi atau iritasi, yang mana harus dibersihkan atau di insisi
untuk drainase. Partikel pada kalkulus yang mungkin telah diabaikan, harus
dihilangkan. Menghilangkan oklusi biasanya dapat membantu. Sensitivitas terhadap
perkusi juga dapat disebabkan oleh pack yang berlebihan. Mengurangi kelebihan
biasanya dapat memperbaiki kondisi.
3. Pembengkakan. Dalam 2 hari pertama pasca operasi, beberapa pasien dapat
melaporkan adanya pembengkakan yang menyakitkan pada pipi di daerah bedah.
Pembesaran kelenjar getah bening dapat terjadi, dan suhu tubuh mungkin sedikit
meningkat. Pada daerah operasi sendiri biasanya tidak terdapat gejala. Jika terjadi
reaksi inflamasi, umumnya dapat mereda pada hari keempat pasca operasi, tanpa
mengharuskan pelepasan pack. Jika pembengkakan berlanjut dan menjadi lebih
buruk, atau dengan nyeri yang meningkat, berikan amoksisilin (500 mg) setiap 8 jam
selama 1 minggu, dan pasien juga harus diinstruksikan untuk kompres air hangat
secara intermiten, pada daerah tersebut. Antibiotik juga harus digunakan sebagai
tindakan pencegahan setelah tindakan yang berikutnya, dimulai sebelum
pengangkatan bedah.
4. Merasa lemah. Kadang-kadang, pasien melaporkan ke dokter mengalami “tidak
berdaya,” merasa lemah selama sekitar 24 jam setelah operasi. Ini merupakan reaksi
sistemik bakteremia transien yang disebabkan oleh tindakan operasi. Reaksi ini dapat
dicegah dengan premedikasi amoksisilin (500 mg) setiap 8 jam, mulai 24 jam
sebelum prosedur berikutnya dan terus menerus selama 5 hari pasca operasi.

Pelepasan Pack dan Kunjungan Kembali

Ketika pasien kembali setelah 1 minggu, pack periodontal diambil dengan memasukkan alat
bedah hoe di sepanjang margin kemudian melakukan tekanan di bagian lateral. Bagian-
bagian interproksimal dari pack ditahan dan bagian yang menempel pada permukaan gigi
dihilangkan dengan scaler. Mungkin disekeliling bagian permukaan diratakan dan harus
secara hati-hati dengan menggunakan tang halus. Seluruh daerah dibilas dengan berkumur-
kumur cairan peroksida untuk menghilangkan debris di permukaan.

Temuan pada saat pelepasan pack. Berikut ini adalah temuan yang biasa ketika pack yang
akan dilepas:

Jika kalkulus berwarna merah yang berbentuk seperti tonjolan jaringan granulasi belum
sepenuhnya dihilangkan, maka jaringan granulasi tersebut harus dihilangkan dengan kuret,
sehingga kalkulus itu dapat dihilangkan dan akar dapat segera dilakukan tindakan berikutnya.
Pengkuretan jaringan granulasi tanpa pengangkatan kalkulus dapat menyebabkan rekuren.

Setelah operasi flap, mungkin daerah tempat operasi tersebut mudah berdarah ketika disentuh
sehingga daerah itu tidak boleh diganggu.

Mukosa bagian fasial dan lingual ditutupi dengan lapisan granular dari sisa-sisa makanan
yang telah masuk di bawah pack. Hal ini mudah dihilangkan dengan cotton pellet (bulatan
kapas) yang basah. Tetapi pada permukaan akar mungkin sensitif terhadap perubahan suhu
dari cotton pellet itu.

Setiap bagian kalkulus yang sudah dilakukan tindakan penyembuhan, namun


kesembuhannya lebih dari waktu normal, maka permukaan akarnya harus diperiksa ulang
secara visual untuk memastikan bahwa tidak ada kalkulus. Hal ini dilakukan karena
terkadang warna kalkulus ini mirip dengan yang akar.

Repacking. Setelah pack akan dilepas, biasanya tidak diperlukan untuk penggantian pack.
Namun, repacking disarankan untuk pasien dengan keadaan:

(1) Ambang nyeri rendah menyebabkan ketidaknyamanan pasien ketika pack akan dibuang,

(2) Keterlibatan jaringan periodontal secara luas, atau

(3) Penyembuhan yang lambat.

Mobilitas gigi. Mobilitas gigi akan meningkat segera setelah operasi, tetapi akan menurun
pada praperawatan minggu keempat.

Prosedur Perawatan Mulut

Perawatan mulut oleh pasien antara perawatan yang pertama dan daerah yang terakhir, serta
setelah operasi selesai, sangat penting. Langkah-langkah ini harus dimulai setelah pack
dilepas dari operasi pertama.

Tidak boleh menyikat kuat selama minggu pertama setelah pack dibuka. Namun, pasien
diberitahukan bahwa akumulasi plak dan makanan mengganggu penyembuhan dan
disarankan untuk mencoba menjaga daerah operasi sebersih mungkin dengan menggunakan
sikat gigi yang lembut. Berkumur dengan obat kumur chlorhexidine atau diindikasikan
aplikasi topikal dengan aplikator yang berujung kapas untuk beberapa minggu pertama pasca
operasi, terutama dalam kasus-kasus lanjutan.
Pasien harus diberitahu bahwa (1) perdarahan gingiva kemungkinan akan terjadi lebih banyak
dari sebelum dilakukan tindakan operasi, (2) perdarahan ini adalah normal dan akan mereda
seiring berlangsungnya waktu penyembuhan, dan (3) mengikuti kebersihan mulut yang baik
dan benar.

Mengendalikan Nyeri Pasca Operasi

Sumber nyeri pasca operasi biasanya adalah dari pemanjangan pack yang berlebih ke jaringan
lunak periodontal. Kelebihan pack menyebabkan daerah lokal mengalami edema, biasanya
terlihat 1 sampai 2 hari setelah operasi. Pembuangan kelebihan pack diputuskan dalam waktu
sekitar 24 jam. Luas dan kontak yang berlebih terlalu lama dan kekeringan tulang juga
menyebabkan sakit parah.

Untuk pasien yang keadaannya sangat baik, dosis ibuprofen sebelum operasi (600-800 mg),
dilanjutkan oleh satu tablet setiap 8 jam selama 24 sampai 48 jam sangat efektif dalam
mengurangi rasa tidak nyaman setelah perawatan periodontal. Pasien disarankan untuk terus
meminum ibuprofen atau acetaminophen jika diperlukan setelahnya. Jika sakit berlanjut,
dapat ditambahkan resep acetaminophen codeine (Tylenol # 3).

Harus diperhatikan dalam menentukan atau memberikan ibuprofen untuk pasien dengan
hipertensi terkontrol oleh obat karena dapat mengganggu efektivitas obat.

Ketika nyeri pasca operasi timbul, pasien dikategorikan dalam keadaan darurat. Daerah ini
harus di anestesi oleh infiltrasi atau topikal, kemudian pack dibuka, dan luka diperiksa. Nyeri
pasca operasi yang berhubungan dengan infeksi disertai dengan limfadenopati lokal diikuti
dengan peningkatan suhu. Hal ini harus ditangani dengan antibiotik sistemik dan analgesik.

Perawatan Akar Sensitif

Hipersensitivitas pada akar adalah masalah yang relatif umum dalam perawatan periodontal.
Hal itu dapat terjadi secara spontan ketika akar menjadi terbuka sebagai akibat dari resesi
gingiva atau pembentukan poket, atau mungkin muncul setelah dilakukan scaling dan root
planing serta tindakan bedah. Hal ini diwujudkan sebagai nyeri yang disebabkan oleh suhu
dingin atau panas yang berlebih. oleh buah jeruk atau permen, atau oleh kontak dengan sikat
gigi atau dental instrumen.

Sensitivitas akar lebih sering terjadi di daerah serviks dari akar, di mana sementum ini sangat
tipis. Prosedur scaling dan root planing dapat mengikis sementum tipis, sehingga mendorong
hipersensitivitas.

Transmisi rangsangan dari permukaan dentin ke ujung saraf yang terletak di pulpa gigi atau
di daerah pulpa dari dentin, hasil dari proses odontoblastic atau dari mekanisme
hidrodinamika (perpindahan cairan dentin). Proses terakhir akan menjelaskan pentingnya
mengkilapkan desensitisasi untuk menutup tubulus dentin.

Salah satu faktor penting untuk mengurangi atau menghilangkan hipersensitivitas adalah
kontrol plak. Namun, hipersensitivitas dapat mencegah kontrol plak.

Desensitisasi Agen. Evaluasi klinis dari banyak agen adalah sulit karena (1) sulitnya dalam
mengukur dan membandingkan nyeri antara orang yang berbeda-beda, (2) hipersensitivitas
hilang dengan sendirinya setelah beberapa waktu, dan (3) agen desensitizing biasanya
memakan waktu beberapa minggu untuk bereaksi.

Pasien harus diberitahu tentang kemungkinan hipersensitivitas akar sebelum perawatan


dilakukan. Informasi berikut tentang cara mengatasi masalah ini, harus diberikan kepada
pasien adalah :

(1) Hipersensitivitas muncul sebagai akibat dari pembukaan dentin yang tak bisa dihindari,
jika kalkulus, plak dan produknya tertimbun di akar, maka harus dilakukan root planing.

(2) Hipersensitivitas perlahan-lahan akan hilang selama beberapa minggu.

(3) Kontrol plak penting bagi pengurangan hipersensitivitas.

(4) Agen desensitisasi tidak memberikan keringanan langsung tetapi harus digunakan
selama beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu untuk mendapatkan hasilnya.

Desensitizing agen dapat diterapkan oleh pasien di rumah atau oleh dokter gigi atau ahli
kesehatan gigi. Mekanisme tindakan yang paling mungkin adalah pengurangan diameter
tubulus dentin sehingga membatasi perpindahan cairan di dalamnya. Menurut Trowbridge
dan Silver, “Hal ini dapat dicapai dengan (1) pembentukan lapisan smear yang dihasilkan
oleh polesan permukaan yang terbuka. (2) aplikasi topikal untuk membentuk lapisan tak larut
di dalam tubulus, (3) impregnasi tubulus dengan plastik resin, atau (4) sealing tubulus dengan
resin plastik.

Langkah 7: Sintesa dan uji informasi

Untuk mendapatkan langkah ini, masing-masing anggota kelompok untuk


menyatukan informasi pada proses tutorial hari kedua yang akan dibantu oleh tutor.
Kepustakaan :

J.D. Manson, dkk. 1993. Buku Ajar Periodonti Edisi 2. Alih bahasa : drg. Anastasia S.
Hipokrates: Jakarta

Carranza, AF, 1984, Gilkman’s Clinical Periodontology, 7th ed, W.B. Saunders Company,
Philadelphia.

Lelyati S. Kalkulus hubungannya dengan penyakit periodontal dan penanganannya. Cermin


dunia kedokteran. 1996; n113:1 Available
from:http://www.kalbeframa.com/files/cdk/files/08113.pdf/html.

Tim Penyusun Periodonsia. Buku Praktikum Periodonsia FKG Unej

Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta : EGC

Newman, Michael G. 2006. Carranza’s Clinical Periodontology. 893-896 10th Ed, W.B
Saunders Company Philadelphia.

Wolff,Larry.2009.PeriodontalSurgery.http://www1.umn.edu/perio/dent6613/Flap_Sx.pdf