Anda di halaman 1dari 15

Evaluasi Program Pengawasan Sarana Pengolahan Air Limbah

Rumah Tangga Pusat Kesehatan Masyarakat

Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang

Periode Agustus 2015 hingga Desember 2016

Elcha

Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran Kristen Krida Wacana

elchaleonard@yahoo.com

Abstrak

Derajat kesehatan dipengaruhi empat faktor yaitu perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan
keturunan, dimana lingkungan memiliki pengaruh yang paling besar. Hal ini mendorong pemerintah
mencanangkan program wajib kesehatan lingkungan, salah satunya cakupan pengawasan sarana
pengolahan air limbah rumah tangga. Air limbah domestik dapat mengganggu lingkungan dan
kesehatan masyarakat terutama sebagai sarana penyebaran penyakit berbasis air sehingga setiap
rumah hendaknya mempunyai sarana pengolahan air limbah rumah tangga yang memenuhi
persyaratan kesehatan. Indonesia menduduki peringkat ketiga terburuk di Asia Tenggara dalam
penanganan pengolahan limbah cair rumah tangga. Menurut WHO/UNICEF, 60% penduduk pedesaan
di Indonesia kekurangan akses sanitasi termasuk SPAL Rumah Tangga. Data Riskesdas tahun 2013
menunjukan pada umumnya penduduk Indonesia membuang air limbah rumah tangga langsung ke got
(46,7%) dan pada provinsi Jawa Barat sebanyak 60,3%, serta pada Kabupaten Karawang sebanyak
47,5%. Salah satu program kesehatan lingkungan di Puskesmas Tirtajaya adalah program pengawasan
sarana pembuangan air limbah rumah tangga yang belum diketahui tingkat keberhasilannya pada
periode Agustus 2015 sampai Juli 2016. Materi yang dievaluasi berupa catatan bulanan data dasar
penyehatan lingkungan dengan membandingkan cakupan terhadap tolak ukur menggunakan
pendekatan sistem. Dari hasil evaluasi didapatkan masalah dari keluaran yaitu Cakupan Pengawasan
SPAL Rumah Tangga 62,92% dari target 80% dan cakupan SPAL Rumah Tangga yang Memenuhi
Syarat 30,45% dari target 80%. Penyebab masalah tersebut adalah tenaga tidak sesuai kompetensi,
sarana prasarana penyuluhan yang belum lengkap, belum terbentuknya kader, kerjasama lintas
program dan sektor belum optimal serta belum dilakukan penyuluhan. Penyelesian masalah adalah
tenaga sanitarian harus kompeten terhadap bidangnya, melakukan pembinaan dan pelatihan kader,
mempersiapkan sarana prasarana penyuluhan, melakukan kerjasama lintas program dan sektor, dan
melakukan penyuluhan secara berkala, serta mengembangkan pola perilaku masyarakat yang sesuai
dengan kesehatan lingkungan berdasarkan sanitasi total berbasis masyarakat oleh petugas dan kader
kesehatan lingkungan

Kata kunci : Evaluasi program, kesehatan lingkungan, SPAL rumah tangga, Puskesmas Tirtajaya.

1
Latar belakang memasak, mandi, cuci, dan kakus. Air
Pembangunan di bidang kesehatan limbah domestik mengandung bahan
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, organik tinggi dan bakteri berbahaya bagi
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi kehidupan. Apabila air limbah domestik
setiap orang, agar terwujudnya derajat yang tidak diolah meresap ke dalam tanah
kesehatan masyarakat yang optimal atau masuk ke dalam sungai maka unsur
ditandai oleh penduduknya yang hidup tersebut akan mencemari air tanah dan
dengan perilaku dan lingkungan yang mengakibatkan menurunnya kualitas air di
sehat.1 badan air penerima seperti sungai serta
Menurut Hendrik L. Blum, derajat dapat mengganggu kesehatan penduduk
kesehatan seseorang ataupun masyarakat yang memanfaatkan air limbah. Hal ini
dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu kemudian dapat berdampak terhadap
perilaku 30%, lingkungan 45%, pelayanan penurunan derajat kesehatan masyarakat
kesehatan 20% dan keturunan 5%. Status dan peningkatan angka kematian akibat
kesehatan akan tercapai secara optimal bila penyakit infeksi.6
keempat faktor tersebut mempunyai Waterborne disease adalah kuman
kondisi yang optimal pula. 2,3 patogen yang terminum oleh manusia,
Lingkungan menjadi salah satu faktor seperti kolera dan diare. Menurut WHO,
determinan terbesar yang mempengaruhi kematian yang disebabkan waterborne
kesehatan. Faktor lingkungan yang disease mencapai 3.400.000 jiwa/tahun,
berpengaruh adalah: perumahan, dari semua kematian yang berakar pada
pembuangan kotoran manusia (tinja), buruknya kualitas air dan sanitasi dimana
penyediaan air bersih, pembuangan diare merupakan penyebab kematian
sampah, pembuangan air kotor (limbah) terbesar yaitu 1.400.000 jiwa/tahun.7
dan lain sebagainya. 1,4,5 Diare merupakan penyakit berbasis
Berdasarkan Kantor Kementerian lingkungan dan sangat berhubungan
dan Lingkungan Hidup, 60% pencemar dengan sanitasi lingkungan yang yang
badan air di daerah perkotaan adalah air buruk terutama dalam hal pengelolaan air
limbah domestik. Air limbah domestik limbah. Diare juga termasuk dalam daftar
adalah air limbah yang berasal dari usaha 10 besar penyakit hampir di seluruh
dan atau kegiatan pemukiman, rumah Puskesmas di Indonesia.4,5 Jumlah kasus
makan, perkantoran, perniagaan, diare yang didapatkan dari Dinas
apartemen, dan asrama, seperti air bekas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2014

1
sebesar 48969 kasus.8 WHO/UNICEF mengatakan bahwa 60%
Sarana Pengolahan Air Limbah (SPAL) penduduk pedesaan di Indonesia
Rumah Tangga merupakan sarana untuk kekurangan akses sanitasi termasuk SPAL
pembuangan air limbah rumah tangga.3 Rumah Tangga sehingga limbah cair
Setiap perumahan hendaknya mempunyai rumah tangga langsung dibuang ke tanah
sarana pengolahan air limbah (SPAL) dan sungai.
Rumah Tangga yang memenuhi Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
persyaratan kesehatan sehingga (RISKESDAS) tahun 2013 oleh
penghuninya dapat hidup dengan nyaman Kementrian Kesehatan RI menunjukan
bebas dari tempat perindukan vektor.9 bahwa 46,7% penduduk Indonesia
Berdasarkan data dari WHO/ UNICEF langsung membuang air limbah rumah
dalam Joint Monitoring Programme for tangga (limbah cair dari kamar mandi,
Water Supply and Sanitation (JMP) tahun tempat cuci, maupun dapur) langsung ke
2015 selama periode MDGs diperkirakan got, 17,2% tanpa penampungan, 15,5%
terjadi peningkatan perbaikan sanitasi dari menggunakan penampungan tertutup di
54% menjadi 68% secara global. Target pekarangan dilengkapi dengan SPAL
global MDGs adalah 77% yang berarti Rumah Tangga, 13,2% menggunakan
pencapaian masih kurang 9% (700 juta penampungan terbuka di pekarangan, dan
orang). Pada tahun 2015 diperkirakan 7,4% menggunakan penampungan di luar
sekitar 2,4 milyar orang di dunia masih pekarangan.11
menggunakan sarana sanitasi yang buruk. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
Sebesar 40% terdapat di Asia Selatan. Saat Provinsi Jawa Barat tahun 2013
ini dihadapi orang-orang yang didapatkan bahwa 17,4% rumah tangga di
menggunakan fasilitas sanitasi yang buruk provinsi Jawa Barat membuang limbah
di Sahara Afrika dua kali lebih banyak di cair rumah tangga pada SPAL atau tertutup
banding dengan Asia Timur. Sedangkan di perkarangan, sedangkan yang terbanyak
Asia Tenggara sendiri menempati urutan membuang limbah cair rumah tangga
ke empat sebagai negara yang langsung ke got/sungai (60,3%). Di
mengunakan sanitasi yang buruk di dunia. Kabupaten Karawang sendiri didapatkan
10
rincian bahwa sebanyak 6,38% rumah
Pada tahun 2006 Indonesia menduduki tangga membuang langsung limbah
peringkat ketiga terburuk di Asia Tenggara cairnya di tanah atau tanpa penampungan,
dalam penanganan SPAL rumah tangga. sebanyak 10,7% rumah tangga membuang

1
limbah cairnya pada penampungan di luar 4. Di Indonesia terdapat 60%
pekarangan, dan hanya 14,8% rumah penduduk pedesaan kekurangan
tangga yang memiliki SPAL, sisanya akses sanitasi termasuk SPAL
sebanyak 20,7% rumah tangga membuang Rumah Tangga sehingga limbah
limbah cairnya pada penampungan terbuka cair rumah tangga langsung
di lapangan dan yang terbanyak dibuang ke tanah dan sungai.
5. Pada umumnya rumah tangga di
membuang langsung limbah cair rumah
Indonesia membuang limbah
tangga ke got/sungai yaitu sebanyak
cairnya langsung ke got (46,7%)
47,5%.12
dan tanpa penampungan (17,2%).
Berdasarkan hal target pengawasan
Hanya sekitar 15,5% yang
program SPAL, maka dilakukan evaluasi
menggunakan penampungan
program yang sudah dijalankan,
tertutup di pekarangan dengan
mengetahui tingkat pencapaian program
dilengkapi sarana pengelolaan air
pengawasan SPAL Rumah Tangga, dan
limbah (SPAL), 13,2%
menindak lanjuti upaya perbaikan
menggunakan penampungan
lingkungan berkaitan SPAL Rumah
terbuka di pekarangan, dan 7,4%
Tangga di Puskesmas Tirtajaya periode
penampungannya di luar
Agustus 2015 sampai dengan Juli 2016.13
pekarangan.
Rumusan masalah
6. Di Kabupaten Karawang 6,38%
1. Berdasarkan data Kementrian dan
rumah tangga membuang langsung
Lingkungan Hidup, 60% sumber
limbah cairnya di tanah atau tanpa
pencemaran air di daerah perkotaan
penampungan, hanya 14,8% rumah
berasal dari limbah cair domestik.
tangga yang memiliki SPAL dan
2. Kematian yang disebabkan oleh
yang terbanyak membuang
karena waterborne disease
langsung limbah cair rumah tangga
mencapai 3.400.000 jiwa/tahun,
ke got/sungai yaitu sebanyak
dan diare merupakan penyebab
47,5%.
kematian terbesar yaitu 1.400.000
7. Belum diketahui tingkat
jiwa/tahun.
keberhasilan cakupan program
3. Menurut WHO/UNICEF tahun
pengawasan SPAL Rumah Tangga
2015, pencapaian perbaikan
di Puskesmas Tirtajaya, periode
sanitasi sebesar 68%, berarti masih
Agustus 2015 sampai dengan Juli
kurang 9% dari target global
2016.
MDGs yaitu sebesar 77%.

1
Tujuan 1. Pendataan jumlah SPAL rumah
A. Tujuan Umum
tangga yang ada
Menyelesaikan permasalahan yang ada
2. Jumlah penduduk yang
pada program pengawasan SPAL Rumah
menggunakan SPAL rumah tangga
Tangga di wilayah kerja Puskesmas
3. Jumlah SPAL rumah tangga yang
Tirtajaya pada periode Juni 2015 hingga
memenuhi syarat kesehatan
Mei 2016.
B. Tujuan Khusus 4. Program pengawasan/inspeksi
SPAL rumah tangga
1. Diketahuinya jumlah SPAL Rumah
5. Pencatatan dan Pelaporan
Tangga di wilayah kerja Puskesmas
Penyuluhan tentang SPAL rumah
Tirtajaya pada periode Agustus 2015
tangga
hingga Juli 2016.
2. Diketahuinya cakupan pengawasan
SPAL Rumah Tangga di wilayah kerja Metode
Puskesmas Tirtajaya pada periode Evaluasi dilakukan dengan cara melakukan
Agustus 2015 hingga Juli 2016. pengumpulan data, pengolahan data,
3. Diketahuinya penyuluhan tentang analisis data dan intepretasi data, program
sarana SPAL dan program pengawasan Pengawasan SPAL Rumah Tangga di
SPAL di wilayah kerja Puskesmas Puskesmas Tirtajaya periode Agustus 2015
Tirtajaya pada periode Agustus 2015 hingga Juli 2016. Data dibandingkan
hingga Juli 2016. dengan tolok ukur yang telah ditentukan
4. Diketahuinya cakupan SPAL Rumah dengan menggunakan pendekatan sistem
Tangga yang memenuhi syarat di sehingga ditemukan masalah pada
wilayah kerja Puskesmas Tirtajaya Program Pengawasan SPAL Rumah
pada periode Agustus 2015 hingga Juli Tangga. Usulan dan saran diberikan
2016. berdasarkan penyebab dari masing-masing
Materi unsur keluaran sebagai pemecahan
Materi yang dievaluasi dalam program masalah dengan menggunakan pendekatan
Pengawasan SPAL Rumah Tangga di sistem.
wilayah kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas
(UPTD) Puskesmas Tirtajaya, Kabupaten Sumber Data
Karawang, Jawa Barat, periode Agustus Sumber data dalam evaluasi ini berupa
2015 hingga Juli 2016, yang terdiri dari: data sekunder yang berasal dari
wawancara, laporan bulanan Puskesmas

1
Tirtajaya dan Dinas Kesehatan Karawang, Catatan Data Dasar Penyehatan
periode Agustus 2015 hingga Juli 2016. Lingkungan, UPTD Puskesmas
Tirtajaya, Kecamatan Tirtajaya periode
Data Sekunder : Juni 2015 hingga Mei 2016.

Masalah Menurut Variabel Keluaran :

No Variabel Tolok Ukur Pencapaian(%) Masalah


(%) (%)
1. Cakupan pengawasan SPAL Rumah 80 62,92 (+) 21,3
Tangga

30,45 (+) 61,9


2. Cakupan SPAL Rumah Tangga 80
Memenuhi Syarat

Masalah Menurut Variabel Masukan


N Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah
o

1 Tenaga  Tersedianya 1 orang tenaga  Hanya 1 orang (+)


. (Man) sanitarian sebagai koordinator sebagai koordinator
dan pelaksana program sekaligus pelaksana
pengawasan SPAL Rumah program
Tangga yang terampil di pengawasan SPAL
bidangnya (lulusan Akademi Rumah Tangga serta
Kesehatan Lingkungan dan belum memiliki
memiliki sertifikasi sertifikasi pelatihan
pelatihan). khususnya dalam
 Tersedianya kader di masing- Program Kesehatan
masing desa untuk bidang Lingkungan.
 Belum ada kader
Kesehatan Lingkungan.
kesehatan (+)
lingkungan terlatih
untuk membantu

1
kegiatan
pengawasan SPAL
Rumah Tangga.

2 Sarana  Leaflet  Tidak ada (+)


. (Material)  Lembar balik  Tidak ada (+)
 Poster  Tidak ada
 Infocus  Ada (+)
 Layar  Ada (-)
 Formulir inspeksi  Ada
(-)
 Alat tulis  Ada
 Buku pedoman kesehatan  Ada (-)
lingkungan (-)
 Sarana transportasi (-)
 Ada

(-)
3 Metode  Pemetaan SPAL Rumah  Tidak ada pemetaan (+)
. (Method) Tangga yang dilakukan satu tentang jumlah
kali dalam setahun. Data rumah yang tidak
yang dipetakan berupa memiliki SPAL, dan
jumlah SPAL Rumah Tangga jumlah SPAL yang
yang ada, jumlah SPAL tidak memenuhi
Rumah Tangga yang syarat. (+)
 Belum diadakannya
diperiksa, jumlah SPAL
penyuluhan secara
Rumah Tangga diperiksa
berkala, di dalam
yang memenuhi syarat.
ataupun luar
 Mengadakan penyuluhan
gedung, bekerja
secara berkala, di dalam
sama dengan
ataupun luar gedung, bekerja
program Promosi
sama dengan program
Kesehatan
Promosi Kesehatan.
 Inspeksi hanya
 Inspeksi SPAL rumah tangga
dilakukan 4x dalam
2 kali dalam seminggu oleh
sebulan oleh
petugas kesehatan lingkungan
petugas kesehatan
dan kader kesehatan
lingkungan
lingkungan.  Belum diadakannya

1
 Melatih kader kesehatan pelatihan untuk
lingkungan minimal 3 bulan kader kesehatan
sekali lingkungan

4 Dana  Terdapatnya laporan  Tidak adanya (+)


. (Money) penggunaan Dana APBD dan perinciaan laporan
Dana Bantuan Operasional penggunaan Dana
Kesehatan dalam Puskesmas APBD dan Dana
Tirtajaya secara terperinci. Bantuan
Operasional
Kesehatan dalam
Puskesmas
Tirtajaya.

Masalah Menurut Variabel Proses :

No Variabel Tolok Ukur Pencapaian


1. Perencanaan  Pemeriksaan atau inspeksi  Pemeriksaan SPAL
SPAL Rumah Tangga Rumah Tangga
dilakukan 2 kali dalam dilakukan hanya 4 kali
seminggu oleh petugas dalam sebulan oleh
kesehatan lingkungan dan pengkoordinasi sekaligus
kader kesehatan lingkungan pelaksana program
 Perencanaan penyuluhan
kesehatan lingkungan.
dilakukan 24 kali pertahun  Tidak ada data tertulis
yang dilaksanakan oleh dilakukannya kegiatan
petugas kesehatan lingkungan ini
melalui lintas program dan  Belum dilakukan
lintas sektor pembinaan kader
 Pembinaan kader kesehatan kesehatan lingkungan
lingkungan minimal 3 bulan
sekali pada bulan Januari,
April, Oktober.

1
2. Pelaksanaan  Penyuluhan dilakukan 24 kali  Tidak ada data tertulis
per tahun (2 kali/bulan) yang dilakukannya kegiatan
dilaksanakan oleh petugas ini.
kesehatan lingkungan melalui  Belum dilakukan
pembinaan SPAL Rumah
lintas program dan lintas
sektor. Tangga terhadap kader
 Pembinaan SPAL Rumah kesehatan lingkungan .
Tangga kepada kader
kesehatan lingkungan minimal
tiga bulan sekali.

3. Pengawasan  Adanya pengawasan dalam  Kurang adanya


pencatatan dan pelaporan yang pengawasan dalam
dapat dipercaya dan sesuai pencatatan dan pelaporan
dengan waktu yang ditentukan yang dapat dipercaya
akan dapat digunakan sebagai sehingga sulit digunakan
masukan dalam perencanaan sebagai masukan dalam
program SPAL Rumah Tangga perencanaan program
selanjutnya. SPAL Rumah Tangga
selanjutnya.

Perumusan Masalah SPAL Rumah Tangga serta belum


Masalah Menurut Keluaran (Masalah
memiliki sertifikasi pelatihan khususnya
Sebenarnya)
a. Cakupan pengawasan SPAL Rumah dalam Program Kesehatan Lingkungan.
Tangga dengan besar masalah 21,3% Belum ada kader kesehatan lingkungan
b. Cakupan SPAL Rumah Tangga
terlatih untuk membantu kegiatan
Memenuhi Syarat dengan besar
pengawasan SPAL Rumah Tangga.
masalah 61,9%
Cakupan pengawasan SPAL Rumah
Sarana (Material):
Tangga dengan besar masalah 21,3%
Tidak lengkapnya sarana yang digunakan
Penyebab
untuk membantu program SPAL Rumah
Masukan
Tangga terutama dalam hal penyuluhan,
Tenaga:
seperti tidak adanya leaflet, lembar balik,
Hanya 1 orang sebagai koordinator
dan poster.
sekaligus pelaksana program pengawasan

1
Tidak tersedia sarana transportasi yang Kepala Puskesmas meminta kepada Dinas
dapat mencakup seluruh wilayah kerja dari Kesehatan Kabupaten Karawang
Puskesmas sebagai sarana saat pendataan (membuat SOP) untuk mengadakan
SPAL di setiap desa. pelatihan - pelatihan mengenai kesehatan
Proses lingkungan bagi petugas kesehatan
Pelaksanaan: lingkungan.
Membentuk kader kesehatan lingkungan
Pemeriksaan SPAL Rumah Tangga
terlatih untuk membantu kegiatan
dilakukan hanya 4 kali dalam sebulan oleh
pengawasan SPAL Rumah Tangga
pengkoordinasi sekaligus pelaksana
program kesehatan lingkungan. Material:
Menyediakan sarana penyuluhan berupa
Tidak ada pemetaan tentang jumlah rumah
leaflet, poster yang informatif dan
yang tidak memiliki SPAL dan jumlah
didistribusikan secara merata kepada desa-
SPAL yang tidak memenuhi syarat
desa yang berada dalam wilayah kerja
Tidak ada data tertulis tentang kegiatan
Puskesmas
penyuluhan yang dilaksanakan oleh
Menyediakan sarana transportasi yang
petugas kesehatan lingkungan melalui
tepat sehingga inspeksi dapat mencakup
pembinaan kader minimal 3 bulan sekali
seluruh wilayah kerja Puskesmas
Pengorganisasian: Proses
Pelaksanaan:
Belum terdapat koordinasi yang jelas
Pemeriksaan SPAL Rumah Tangga
untuk kerjasama lintas program dan lintas
dilakukan 2 kali dalam seminggu oleh
sektor.
pengkoordinasi sekaligus pelaksana
program kesehatan lingkungan.
Pengawasan: Melakukan pembinaan dan pelatihan
Kurang adanya pengawasan dalam tehadap kader-kader sanitarian dari tiap
pencatatan dan pelaporan terutama dalam desa sehingga dapat melakukan inspeksi,
bagian laporan penyuluhan dan laporan dan pencatatan tentang SPAL Rumah
keuangan sehingga sulit digunakan sebagai Tangga.
Melakukan pemetaan tentang jumlah
masukan dalam perencanaan program
rumah yang tidak memiliki SPAL dan
SPAL Rumah Tangga selanjutnya.
jumlah SPAL yang tidak memenuhi syarat
Melakukan kegiatan penyuluhan SPAL
Penyelesaian masalah:.
Rumah Tangga dan membuat data tertulis
Masukan
Mengembangkan pola perilaku masyarakat
Tenaga:
yang sesuai dengan kesehatan lingkungan

1
berdasarkan sanitasi total berbasis Hanya 1 orang sebagai koordinator
masyarakat oleh petugas kesehatan sekaligus pelaksana program pengawasan
lingkungan dan kader kesehatan SPAL Rumah Tangga serta tidak memiliki
lingkungan sebagai salah satu cara untuk kemampuan akademik sesuai dengan
memutuskan rantai penularan penyakit Program Kesehatan Lingkungan.
Belum ada kader terlatih untuk membantu
berbasis lingkungan terutama terkait
kegiatan pengawasan SPAL Rumah
dengan air.
Tangga.
Pengorganisasian:
Meningkatkan koordinasi lintas sektoral Sarana (Material):
Tidak lengkapnya sarana yang digunakan
dan lintas program. Dengan cara, meminta
untuk membantu program SPAL Rumah
bantuan Kepala Puskesmas untuk
Tangga terutama dalam hal penyuluhan,
mendorong kerjasama dengan program
seperti tidak adanya leaflet, lembar balik,
lain untuk membantu dalam melakukan
dan poster.
kegiatan inspeksi dan penyuluhan dengan
Proses
kader yang dilatih. Pelaksanaan:
Kerjasama dengan sektor lainnya seperti Pemeriksaan SPAL Rumah Tangga
Pemerintah Daerah, Badan Lingkungan dilakukan hanya 4 kali dalam sebulan oleh
Hidup, Lembaga Swadaya Masyarakat pengkoordinasi sekaligus pelaksana
yang bergerak di bidang lingkungan dalam program kesehatan lingkungan.
Belum dilakukannya penyuluhan secara
bentuk dana untuk pembangunan SPAL
rutin dengan melibatkan lintas program
yang sehat di RT.
ataupun lintas sektor.
Pengawasan: Belum dilakukan pembinaan dan pelatihan
Perlu adanya pengawasan dalam
mengenai SPAL Rumah Tangga terhadap
pencatatan dan pelaporan yang lebih teliti
kader setempat secara berkala.
terutama dalam bidang penyuluhan
Pengorganisasian:
sehingga hasil dapat digunakan sebagai
Struktur organisasi puskesmas sudah jelas,
masukan dalam perencanaan program
namun belum adanya koordinasi yang jelas
SPAL Rumah Tangga selanjutnya.
di lintas program dan lintas sektoral.
Cakupan SPAL Rumah Tangga
Penyelesaian masalah:
Memenuhi Syarat dengan besar
Tenaga:
masalah 61,9% Kepala Puskesmas meminta kepada Dinas
Penyebab masalah: Kesehatan Kabupaten Karawang
Tenaga: (membuat SOP) untuk mengadakan

1
pelatihan – pelatihan mengenai kesehatan berbasis lingkungan terutama terkait
lingkungan bagi petugas kesehatan dengan air.
lingkungan
Pengorganisasian:
Membentuk kader untuk membantu
Meningkatkan koordinasi lintas program
melakukan penyuluhan tentang SPAL
dan sektoral dengan meminta bantuan
Rumah Tangga dan dapat membina
Kepala Puskesmas untuk mendorong
masyarakat untuk memperbaiki
kerjasama dengan program lain seperti
pembentukan SPAL rumah tangga yang
program Promosi Kesehatan. Untuk lintas
tepat serta memenuhi syarat.
sektoral meminta kerja sama dengan Dinas
Material: Pekerjaan Umum Kabupaten Karawang.
Menyediakan alat-alat untuk penyuluhan
Pengawasan :
seperti leaflet, lembar balik, dan poster
Perlu adanya pengawasan dalam
dan didistribusikan kepada kader untuk
pencatatan dan pelaporan yang lebih teliti
dapat digunakan sebagai pembinaan
terutama dalam bidang penyuluhan
terhadap masyarakat.
sehingga hasil dapat digunakan sebagai
Proses masukan dalam perencanaan program
Pelaksanaan:
SPAL Rumah Tangga selanjutnya.
Pemeriksaan SPAL Rumah Tangga
dilakukan 2 kali dalam seminggu oleh Kesimpulan
pengkoordinasi sekaligus pelaksana Dari hasil evaluasi program dengan
program kesehatan lingkungan pendekatan sistem dapat diambil
Melakukan penyuluhan secara berkala
kesimpulan bahwa program pengawasan
yang melibatkan lintas program dan lintas
SPAL Rumah Tangga di Puskesmas
sektoral.
Tirtajaya, Kabupaten Karawang pada
Membina/mengadakan pelatihan tehadap
periode Agustus 2015 sampai dengan
kader-kader sanitarian dari tiap desa
Agustus 2016 dikatakan belum berjalan
sehingga dapat melakukan penyuluhan
dengan baik melihat kepada angka
tentang SPAL Rumah Tangga.
Mengembangkan pola perilaku masyarakat keberhasilan program sebagai berikut:
yang sesuai dengan kesehatan lingkungan • Jumlah SPAL Rumah Tangga yang
berdasarkan sanitasi total berbasis ada 12.917 SPAL
masyarakat oleh petugas kesehatan • Cakupan pengawasan SPAL
lingkungan dan kader kesehatan Rumah Tangga sebesar 62,92% dengan
lingkungan sebagai salah satu cara untuk besar masalah 21,3%.
memutuskan rantai penularan penyakit • Cakupan SPAL Rumah Tangga

1
yang memenuhi syarat sebesar 30,45% 5. Melakukan pemberdayaan
dengan besar masalah 61,9%. masyarakat untuk membentuk dan
mengadakan pelatihan terhadap
Saran
kader-kader sanitarian dari tiap
Saran kepada Kepala Puskesmas
desa sehingga dapat melakukan
Tirtajaya
penyuluhan dan membantu
1. Mengajukan pelatihan kepada
pencatatan serta inspeksi SPAL
Dinas Kesehatan untuk petugas
Rumah Tangga di masing-masing
kesehatan lingkungan
2. Meningkatkan koordinasi lintas desa.
6. Mengembangkan pola perilaku
sektoral dan lintas program. Lintas
masyarakat yang sesuai dengan
program yang dimaksud dengan
kesehatan lingkungan berdasarkan
program Promosi Kesehatan.
sanitasi total berbasis masyarakat
Lintas sektor dengan Pemerintah
oleh petugas kesehatan lingkungan
Daerah, Dinas Pekerjaan Umum,
dan kader kesehatan lingkungan
Badan Lingkungan Hidup dan
sebagai salah satu cara untuk
Lembaga Swadaya Masyarakat
memutuskan rantai penularan
yang bergerak dalam bidang
penyakit berbasis lingkungan
kesehatan lingkungan
3. Melakukan penyuluhan yang terutama terkait dengan air.
intensif kepada masyarakat tentang
pentingnya memiliki Sarana Daftar Pustaka
Pengolahan Air Limbah (SPAL)
Rumah Tangga yang memenuhi 1. Indawati, Thamrin, Abidin Z.
syarat sehingga diharapkan dapat Evaluasi Program Kesehatan
menambah pengetahuan dan Lingkungan di Puskesmas Siak
mengubah sikap serta perilaku Hulu II Kabupaten Kampar Tahun
masyarakat. Penyuluhan harus 2012. Jurnal Ilmu Lingkungan.
bersifat lintas sektoral dan lintas 2014 : 8 (2).
program. 2. L.A. Dewi, R. Dwina. Evaluasi
4. Dalam 3 bulan menyiapkan leaflet,
Penyediaan Air Bersih Dan Sanitasi
lembar balik, poster untuk sarana
Lingkungan Sebagai Dasar Usulan
penyuluhan baik perorangan
Perencanaan Perbaikan (Studi
maupun penyuluhan kelompok.
Kasus : Kecamatan Cileunyi,
Kabupaten Bandung). Program

1
Studi Teknik Lingkungan ITB. 13/5229/9628/laporan-pencapaian-
Bandung : 2005. tujuan-pembangunan-milenium-di-
3. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa indonesia-
Barat. Pedoman Instrumen 2011__20130517105523__3790__
Penilaian Kinerja Puskesmas 0.pdf pada tanggal 23 September
Provinsi Jawa Barat. Cetakan I. 2016.
Jawa Barat. 2006. 8. Badan Pusat Statistik. Jawa Barat
4. Azwar A. Pengantar Administrasi Dalam Angka 2015. Diunduh dari :
Kesehatan. Edisi Ketiga. Jakarta: http://pusdalisbang.jabarprov.go.id/
Binarupa Aksara. 2010. pusdalisbang/berkas/jabardalamang
5. Ross I, Mukumbuta N. Fatal ka/54Jawa-Barat-Dalam-Angka-
neglect: How health systems are 2015.pdf pada tanggal 23
failing to comphrehensively September 2016
address child mortality. London: 9. Direktorat Jendral Pengendalian
Water Aid. 2009. Diunduh dari Penyakit dan Penyehatan
http://www.wateraid.org/~/media/P Lingkungan. Pedoman Teknis
ublications/how-health-systems- Pengelolaan Limbah Cair Rumah
fail-child-mortality.pdf pada Tangga. Jakarta: Departemen
tanggal 23 September 2016. Kesehatan RI. 2007.
6. Departemen Pemukiman dan 10. WHO dan UNICEF. 25 Progress on
Prasarana Wilayah. Pedoman Sanitation and Drinking Water.
pengelolaan air limbah perkotaan. 2015
Jakarta : Direktorat Jenderal Tata 11. Badan Penelitian dan
Perkotaan dan Tata Pedesaan ; Pengembangan Kesehatan RI. Riset
2003. Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013.
7. Badan Perencanaan Pembangungan Jakarta: Kementerian Kesehatan
Nasional (Bappenas). Laporan RI. 2013. Diunduh dari
Pencapaian Tujuan Pembangunan http://terbitan.litbang.depkes.go.id/
Milenium di Indonesia 2011. penerbitan/index.php/blp/catalog/b
Jakarta: Kementrian Perencanaan ook/64 pada tanggal 23 September
Pembangunan Nasional. 2012. 2016
Diunduh dari : 12. Badan Penelitian dan
http://www.bappenas.go.id/files/19 Pengembangan Kesehatan RI.

1
Buku 2 Riskesdas dalam angka
Provinsi Jawa Barat 2013. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI. 2013.
Diunduh dari
http://terbitan.litbang.depkes.go.id/
penerbitan/index.php/blp/catalog/b
ook/153 pada tanggal 23
September 2016
13. UPTD Puskesmas Tirtajaya.
Catatan Bulanan Pemeriksaan
Penyehatan Lingkungan
Puskesmas Tirtajaya.