Anda di halaman 1dari 16

Tugas 5

FOUR STEP MODEL (TRANSPORTASI)


Tugas Mata Kuliah Pengantar Transportasi

Muhammad Indra Kurnia


NPM : 173410075
Kelas III B

PRODI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2018

1
Daftar Isi

COVER .................................................................................................................................... 1
Daftar Isi .................................................................................................................................. 2
Four Step Model....................................................................................................................... 3
1. Zona ............................................................................................................................. 3
Penentuan Zona atau Zonasi .................................................................................... 4
Pembagian Zona atau Zonasi ................................................................................... 4
Batas Laut Teritorial ................................................................................................ 4
Bata Kontinen Landas .............................................................................................. 5
Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ..................................................................... 5
2. Bangkitan ..................................................................................................................... 7
3. Sebaran ......................................................................................................................... 8
Intensitas tataguna tanah ........................................................................................ 10
Spatial separation ................................................................................................... 10
Spatial separation dan intensitas tataguna lahan .................................................... 10
4. Pemilihan Moda ......................................................................................................... 11
5. Pemilihan Rute ........................................................................................................... 12
6. Kesimpulan ................................................................................................................ 14
Daftar Pustaka ........................................................................................................................ 15
Pertanyaan .............................................................................................................................. 16

2
Four Step Model

1. Zona

Zona adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Yunani (bahasa Yunani ζωνη)
yang berarti sabuk, digunakan untuk berbagai keperluan, dalam bahasa Yunani
kuno/ortokoks digunakan untuk menjelaskan kawasan untuk pria dan kawasan untuk
wanita yang kemudian digunakan untuk menjelaskan :

A. Wilayah; Wilayah adalah sebuah daerah yang dikuasai atau menjadi teritorial dari
sebuah kedaulatan. Pada masa lampau, seringkali sebuah wilayah dikelilingi oleh
batas-batas kondisi fisik alam, misalnya sungai, gunung, atau laut. Sedangkan setelah
masa kolonialisme, batas-batas tersebut dibuat oleh negara yang menduduki daerah
tersebut, dan berikutnya dengan adanya negara bangsa, istilah yang lebih umum
digunakan adalah batas nasional.

B. Daerah; Daerah, dalam konteks pembagian administratif di Indonesia, adalah


kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Daerah terdiri atas
Provinsi, Kabupaten, atau Kota. Sedangkan kecamatan, desa, dan kelurahan tidaklah
dianggap sebagai suatu Daerah (daerah otonom). Daerah dipimpin oleh Kepala Daerah
(gubernur/bupati/wali kota), dan memiliki Pemerintahan Daerah serta Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.

C. Bagian; pembabakan pada setiap moment atau setiap agenda yang berfungsi
memudahkan seseorang dalam mencari informasinya atau bisa diartikan bagian adalah
separuh atau sesuatu yang dianggap penting pada suatu unsur

3
 Penentuan Zona atau Zonasi

Pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian, sesuai dengan
fungsi dan tujuan pengelolaan. Contoh :

taman nasional pembagian wilayah pengelolaan kawasan taman nasional ke dalam unit
pengelolaan, sesuai dengan peruntukannya serta kondisi dan potensi kawasannya agar
dapat diciptakan perlakuan pengelolaan yang tepat, efektif, dan efisien

 Pembagian Zona atau Zonasi

Indonesia merupaka negara kepulauan dengan posisi silangnya yang sangat


strategis. Terletak di antara dua benua dan dua samudra. Luas kepulauan Indoneia
adalah 9,8 juta km² (seluruh wilayah Indonesia), dan luas wilayah lautnya 7,9 juta km².
Posisi silang yang strategis meyebabkan Indonesia mempunyai peranan peting dalam
lalu lintas laut, tetapi posisi silang seperti ini di sampig menguntungkan juga
membahayakan bagi negara, baik dalam bidang sosial ekonomi, kebudayaan, maupun
pertahanan dan keamanan.

Indonesia membuat peraturan yang jelas dan tegas mengenai batas wilayah
perairan laut negara Republik Indonesia, agar bahaya-bahaya yang mungkin timbul
dapat dicegah. Indonesia menganut persetujuan Hukum Laut Internasional yang telah
disepakati pada tahun 1982. Berdasarkan kesepakatan tersebut wilayah perairan
Indonesia meliputi batas laut teritorial, batas landas kontinen, dan batas zona ekonomi
eksklusif.

 Batas Laut Teritorial

Batas laut teritorial adalah suatu batas laut yang ditarik dari sebuah garis dasar
dengan jarak 12 mil ke arah laut. Garis dasar adalah garis khayal yang
menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung terluar pulau di Indonesia. Laut yang
terletak di sebelah dalam garis dasar merupakan laut pedalaman. Di dalam batas laut

4
teritorial ini, Indonesia mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya. Negara lain dapat
berlayar di wilayah ini atas izin pemerintah Indonesia.

 Bata Kontinen Landas

Landas kontinen adalah dasar laut yang jika dilihat dari segi geologi maupun
geomorfologinya merupakan kelanjutan dari kontinen atau benua. Kedalaman landas
kontinen tidak lebih dari 150 meter. Batas landas kontinen diukur mulai dari garis
dasar pantai ke arah luar dengan jarak paling jauh adalah 200 mil. Kalau ada dua
negara yang berdampingan mengusai laut dalam satu landas kontien dan jaraknya
kurang dari 400 mil, batas kontinen masing-masing negara ditarik sama jauh dari garis
dasar masing-masing. Kewajiban negara ini adalah tidak mengganggu lalu lintas
pelayaran damai di dalam batas landas kontinen.

 Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

Pada tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia mengeluarkan deklarasi


yang dikenal dengan nama Deklarasi Juanda yang melahirkan Wawasan Nusantara. Di
dalam deklarasi itu ditentukan bahwa batas perairan wilayah Indonesia adalah 12 mil
dari garis dasar pantai masing-masing pulau sampai titik terluar.

Pada tanggal 21 Maret 1980 Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan batas Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indoensia sepanjang 200 mil, diukur dari garis pangkal
wilayah laut Indonesia. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) adalah wilayah laut sejauh
200 mil dari pulau terluar saat air surut. Pada zona ini Indonesia memiliki hak untuk
segala kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam permukaan laut, di dasar
laut, dan di bawah laut serta mengadakan penelitian sumber daya hayati maupun
sumber daya laut lainnya.

Berikut ini batas-batas wilayah Indonesia di Utara, Barat, Timur, dan Selatan :

Batas wilayah Indonesia di Utara : Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia


(bagian timur), tepatnya disebelah utara Pulau Kalimantan. Malaysia merupakan satu
dari tiga negara yang berbatasan langsung dengan wilayah darat Indonesia. Wilayah

5
laut Indonesia sebelah utara berbatasan langsung dengan laut lima negara, yaitu
Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filipina.

Batas wilayah Indonesia di Barat : Sebelah barat wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan perairan negara India.
Tidak ada negara yang berbatasan langsung dengan wilayah darat Indonesia disebelah
barat. Walaupun secara geografis daratan Indonesia terpisah jauh dengan daratan
India, tetapi keduanya memiliki batas-batas wilayah yang terletak dititik-titik tertentu
disekitar Samudera Hindia dan Laut Andaman. Dua pulau yang menandai perbatasan
Indonesia-India adalah Pulau Ronde di Aceh dan Pulau Nicobar di India.

Batas wilayah Indonesia di Timur : Wilayah timur Indonesia berbatasan langsung


dengan daratan Papua New Guinea dan perairan Samudera Pasifik. Indonesia dan
Papua New Guinea telah menyepakati hubungan bilateral antar kedua negara tentang
batas-batas wilayah, tidak hanya wilayah darat melainkan juga wilayah laut. Wilayah
Indonesia sebelah timur, yaitu Provinsi Papua berbatasan dengan wilayah Papua New
Guinea sebelah barat, yaitu Provinsi Barat (Fly) dan Provinsi Sepik Barat (Sandaun).

Batas wilayah Indonesia di Selatan : Indonesia sebelah selatan berbatasan langsung


dengan wilayah darat Timor Leste, perairan Australia dan Samudera Hindia. Timor
Leste adalah bekas wilayah Indonesia yang telah memisahkan diri menjadi negara
sendiri pada tahun 1999, dahulu wilayah ini dikenal dengan Provinsi Timor Timur.
Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah Provinsi yang berbatasan langsung dengan
wilayah Timor Leste, tepatnya di Kabupaten Belu. Selain itu, Indonesia juga
berbatasan dengan perairan Australia. Diawal tahun 1997, kedua negara ini telah
menyepakati batas-batas wilayah negara keduanya yang meliputi Zona Ekonomi
Ekslusif (ZEE) dan batas landas kontinen.

6
2. Bangkitan

Bagian ini merupakan tahapan permodelan yang memperkirakan jumlah


pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tataguna lahan dan jumlah pergerakan
yang tertarik ke suatu zona atau tata guna lahan. Bangkitan lalu lintas ini mencakup
lalu lintas yang meninggalkan lokasi (trip production) dan lalu lintas yang menuju ke
suatu lokasi (trip attraction). Pergerakan lalu lintas ini biasanya bertipe 3 aliran, yakni
home-based work trips (HBW), home-based other (or non-work) trips (HBO), dan
non-home –based trips (NHB). Tipe tipe lalu lintas diatas sangat dipengaruhi oleh tipe
tataguna lahan (pemukiman, perkantoran, dll) dan jumlah aktivitas dan intensitas pada
tataguna lahan tersebut. Sebagai contoh, daerah perkantoran merupakan trip
generation yang puncak frekuensi nya terjadi saat pagi dan sore saja. Selain itu, daerah
pemukiman bertipe padat seperti apartemen akan membangkitkan lalu lintas lebih
besar dibandingkan rumah di daerah pedesaan. Oleh karena itulah trip generation ini
sangat dipengaruhi tipe tata guna dan intensitas tata guna lahan tersebut.

Bangkitan lalu lintas ini mencakup:

A, Lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi (trip production)

B, Lalu lintas yang menuju ke suatu lokasi (trip attraction)

7
Bagkitan lalu lintas tergantung dari 2 aspek tataguna lahan:

a. Tipe tataguna lahan

Tipe tataguna lahan yang berbeda (pemukiman, pendidikan, dll) mempunyai


karakteristik bangkitan yang berbeda:

- jumlah arus lalu lintas

- jenis lalu lintas (pejalan kaki, truk, mobil)

- waktu yang berbeda (contoh: kantor menghasilkan lalu lintas pada pagi dan sore).

b. Jumlah aktivitas (dan intensitas) pada tataguna lahan tersebut

Semakin tinggi tingkat penggunaan sebidang tanah, semakin tinggi lalu lintas yang
dihasilkan. Salah satu ukuran intensitas aktivitas sebidang tanah adalah

kepadatannya.

3. Sebaran

Bagian ini merupakan tahapan permodelan yang memperkirakan sebaran


pergerakan yang meninggalkan suatu zona atau yang menuju suatu zona. Meskipun
demikian, trip distribution sering disebut dnegan production-attraction pairs
dibandingkan origin-destination pairs. Model distribusi ini merupakan suatu pilihan
jalan menuju destinasi yang diinginkan, biasanya direpresentasikan dalam bentuk garis
keinginan (desire line) atau dalam bentuk matriks asal tujuan (MAT). Pola distribusi
lalu lintas antara zona asal dan tujuan adalah hasil dari dua hal yang terjadi secara
bersamaan yakni lokasi dan intensiatas tata guna lah dan interaksi antara 2 buah tata
guna lahan. Tahap 2 ini juga menentukan apakah tipe penghubung tersebut terpusat
satu jalur atau tersebar. Biasanya factor paling menentukan dari trip distribution adalah
spatial separation dan biaya. Tata guna tanah cenderung menarik lalu lintas dari tempat
yang lebih dekat dibandingkan dengan tempat yang jauh.

8
Untuk Setiap Pasangan Zona (ij), Berapa Arus dari zona (i) ke zona (j);

Distribusi pergerakan dapat direpresentasikan dalam bentuk garis keinginan


(desire line) atau dalam bentuk Matriks Asal Tujuan, MAT (origin-destination
matrix/O-D matrix).

Gambar. Garis keinginan

Pola distribusi lalu lintas antara zona asal dan tujuan adalah hasil dari dua hal yang
terjadi secara bersamaan yaitu:

A, Lokasi dan intensitas tataguna lahan yang akan menghasilkan lalu lintas

B, Spatial separation (pemisahan ruang), interaksi antara 2 buah tataguna lahan


akan menghasilkan pergerakan.

9
 Intensitas tataguna tanah

Makin tinggi tingkat aktivitas suatu tataguna tanah, makin tinggi kemampuannya
menarik lalu lintas.

Contoh: Supermarket menarik lalu lintas lebih banyak dibandingkan rumah sakit
(untuk luas yang sama).

 Spatial separation

Jarak antara dua buah tataguna lahan merupakan batasan dari adanya pergerakan.
Jarak yang jauh atau biaya yang besar membuat pergerakan antara dua buah zona
menjadi lebih sulit.

 Spatial separation dan intensitas tataguna lahan

Daya tarik suatu tataguna lahan berkurang dengan meningkatnya jarak (efek spatial
separation). Tataguna tanah cenderung menarik lalu lintas dari tempat yang lebih dekat
dibandingkan dengan tempat yang jauh.

Jumlah lalu lintas antara dua buah tataguna lahan tergantung dari intensitas kedua
tataguna lahan dan spatial separation (jarak, waktu, dan biaya).

10
4. Pemilihan Moda

Setelah adanya bangkitan dan pemilihan tipe distribusi, tahapan model transportasi
selanjutnya adalah memilih bagaimana interaksi dari production dan attraction itu
dilakukan. Pemilihan moda transportasi bergantung dari tingkat ekonomi dari pemilik
tata guna lahan dan biaya transportasi dari moda angkutan. Orang dengan ekonomi
tinggi cenderung memilih mode angkutan pribadi dibandingkan mode angkutan
umum. Jika terdapat lebih dari satu moda, moda yang dipilih biasanya yang memiliki
rute terpendek, tercepat atau termurah, atau kombinasi ketiganya.

Jika terjadi interaksi antara dua tataguna tanah, seseorang akan memutuskan
bagaimana interaksi tersebut dilakukan. Biasanya interaksi tersebut mengharuskan
terjadinya perjalanan. Dalam kasus ini keputusan harus ditentukan dalam hal
pemilihan moda yang mana:

1. Pilihan pertama biasanya antara jalan kaki atau menggunakan kendaraan.


2. Jika kendaraan harus digunakan, apakah kendaraan pribadi (sepeda, sepeda
motor, mobil, dll) atau angkutan umum (bus, becak, dll).
3. Jika angkutan umum yang digunakan, jenis apa yang akan digunakan (angkot,
bus, kereta api, pesawat, dll).

Pemilihan moda transportasi sangat tergantung dari:

1. Tingkat ekonomi/income -> kepemilikan

2. Biaya transport

Orang yang mempunyai satu pilihan moda disebut dengan captive terhadap moda
tersebut. Jika terdapat lebih dari satu moda, moda yang dipilih biasanya yang
mempunyai rute terpendek, tercepat atau termurah, atau kombinasi ketiganya. Faktor
lain yang mempengaruhi adalah ketidaknyamanan dan keselamatan.

11
5. Pemilihan Rute

Setelah dipilihnya tipe moda angkutan dan jalur distribusi, maka akan timbulah
aliran volume lalu lintas. Pada tahapan ini, pengaturan akan arus lalu lintas akan
dilakukan. Bila diketahui suatu jalur distribusi memiliki beban volume yang padat,
maka planner bisa mengalihkan satu jalur lainnya ke jalur yang lain sehingga menjadi
tinggal satu jalur. Pemilihan rute baru tetap memperhitungkan alternative terpendek,
tercepat, termurah, dan juga diasumsikan bahwa pemakai jalan mempunyai informasi
cukup tentang kemacetan, kondisi jalan, dll.

Meskipun model transportasi diciptakan dengan baik, namun dalam


pelaksanaannya harus dilakukan penambahan ataupun sedikit modifikasi disesuaikan
dengan kondisi tata guna lahan yang akan diatur. Model transportasi umumnya
memiliki kelebihan :

1. Pengumpulan dan pengorganisasian survei data yang lengkap. Karena tahapan


pertama dari model ini adalah menganalisa tipe generation dimana pada tahap
tersebut kita terlebih dahulu mengetahui secara pasti bagaimana dan seberapa
banyak pemilik tata guna lahan di daerah tersebut.
2. Mampu menganalisa aspek operasional seperti volume lalu lintas, kapasitas
jalan, dan jumlah perjalanan untuk menentukan waktu perjalanan dan
keterlambatan. Karena kita telah mengetahui jumlah bangkitan
dari production dan attraction serta tipe distribusi, sehingga kita akan
mengetahui seberapa besar volume lalu lintas di suatu daerah tersebut
bergantung tipe guna lahannya. Dengan itu, kita bisa mengetahui volumenya
untuk menentukan efisiensi jalur dan meminimalisir terjadinya delay.
3. Mampu memperkirakan tipe jalur distribusi yang akan dibangun
bergantung tipe generation yang ada apakah home-based work
trips (HBW), home-based other (or non-work) trips (HBO), dan non-home –
based trips (NHB). Pada umumnya tata guna lahan bertipe home-based other
(or non-work) trips(HBO) memiliki bangkitan volume yang lebih besar
dibandingkan tipe lain sehingga perlu dipikirkan tentang jalur distribusi yang
sesuai.

12
Akan tetapi, meskipun telah digunakan cukup lama, sistem ini tetap memiliki
kelemahan. Kelemahan tersebut antara lain :

A. Model ini memiliki kemampuan terbatas dalam memprediksi penggunaan


moda angkutan publik. Hal ini disebabkan karena asumsi data yang digunakan
bersifat eksternal seperti penghasilan, kepemilikan mobil, jumlah populasi, dll.
Padahal kita juga harus memperhitungkan faktor lainnya seperti harga bahan
bakar, biaya pengoperasian angkutan pribadi, tariff parkir, dll yang
mempengaruhi keputusan pemilik tata guna lahan untuk menggunakan antara
angkutan pribadi atau moda transportasi publik
B. Model ini tidak cocok dalam mengembangkan jalur transportasi barang. Hal
ini disebabkan karena model ini cenderung hanya berfokus pada aliran mobil
pribadi berdasarkan tipe kepemilikan tata guna lahan dan menggunakan asumsi
eksternal.
C. Tipe model ini juga kurang dalam pembuatan, penerapan, serta pengontrolan
kebijakan. Karena penyusunan metode ini tidak melibatkan aspek dinamis.
Metode ini biasanya melakukan pengambilan keputusan berdasarkan
titik equilibrium dari input yang tersedia. Padahal dalam pelaksanaanya,
transportasi bersifat dinamis dimana apa yang terjadi tidaklah sesuai dengan
asumsi yang digunakan sehingga kebijakan mungkin saja terus berubah selama
transportasi bersifat dinamis ini.

13
6. Kesimpulan

Perencanaan transportasi pada dasarnya memiliki ciri yang berbeda dengan


kajian dibidang lain. Hal ini disebabkan karenaobjek penelitian suatu kajian
perencanaan transportasi cukup luasdan beragam. Oleh karena itu dalam perencanaan
transportasiperlu juga memperhtikan faktor faktor lain yang terkait. Dalamsalah satu
tahap perencanaan transportasi, permodelan bangkitanperjalanan pada dasarnya
memiliki keterkaitan yang erat dengankondisi sosio ekonomi masyarakat. Selain
faktor populasipenduduk, kondisi sosial ekonomi memiliki peran yang besardalam
mempengaruhi besarnya bangkitan berjalanan. Sedangkanuntuk pemodelan tarikan
perjalanan faktor dominan yangmempengaruhinya adalan fungi tata guna lahan yang
memilikiciri ciri tarikan yang berbeda beda untuk tiap tata guna lahan

14
Daftar Pustaka
Rezki. 2016. PERENCANAAN TRANSPORTASI PERKOTAAN. Sumatera Utara : Universitas
...............Muhammadiyah.

www.Google.com

https://id.wikipedia.org/wiki/Zona_analisis_lalu_lintas

https://portal-ilmu.com/konsep-pembangunan-infrastruktur/
https://makeyousmarter.blogspot.com/2015/09/analisis-model-4-tahap-perencanaan_15.html
https://syahriyanti.wordpress.com/2017/04/23/4-steps-model-transportation-planning/
http://azissyahban2005.blogspot.com/2012/12/konsep-perencanaan-transportasi.html

15
Pertanyaan
1. Apakah konsep Four Step Model hanya satu satunya konsep yang ada dalam
lingkup Transportasi?, coba jelaskan
2. Apakah konsep Four Step Model Transportasi cocok diterapkan di daerah
mana saja atau hanya beberapa daerah yang bisa diterapkan konsep tersebut?
3. Mengapa perencanaan pransportasi disebut bersifat dinamis?

16

Anda mungkin juga menyukai