Anda di halaman 1dari 4

TITRASI IODOMETRI

I. Tujuan
Dapat menerapkan titrasi iodometri untuk menentukan kadar Cu dalam larutan CuSO4
II. Latar Belakang
Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetaapkan
senyawa-senyawa yang mempuyai potensial oksidasi yang lebih besar daripada iodium-
iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO4.5H2O. Pada iodometri,
sampel yang bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodida berlebihan dan akan
menghasilkan iodiumyang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat (Ibnu, dan
Abdul Rohman, 2012)
Sistem redoks Iodin (triiodida)-iodida,
I3- + 2e- 3I-
mempunyai potensial standar sebesar +0,54 V. karena itu iodin adalah sebuah agen
pengoksidasi yang jauh lebih lemah daripada kalium permanganat, senyawa serium (IV), dan
kalium dikromat. Di lain pihak ion iodida adalah agen pereduksi yang termasuk kuat, lebih kuat,
sebagai contoh, daripada ion Fe(II). Dalam proses-proses analitis, iodin dipergunakan sebagai
sebuah agen pengoksidasi (iodimetri), dan ion iodida dipergunakan sebagai sebuah agen
pereduksi (iodometri) (Underwood, dan Day, 2002, hlm. 296).
III. Langkah Kerja
1. Standarisasi Na2S2O3
Menigisi buret dengan larutan Na2S2O3. Timbang 0,125 gram KIO3 kemudian
masukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL. Tambahkan aquades 15 mL, goyangkan
sampai KIO3 larut. Tambahkan 15 mL larutan KI 15% dan 2 tetes H2SO4 2M. Titrasi
dengan Na2S2O3 sampai larutan berwarna agak muda, kemudian tambahkan 1 tetes
indikator kanji. Titrasi dengan Na2S2O3 sampai larutan menjadi bening. Lakukan
secara duplo.
2. Penentuan Kadar Cu
Menigisi buret dengan larutan Na2S2O3. Timbang 0,125 gram KIO3 kemudian
masukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL. Tambahkan aquades 15 mL, goyangkan
sampai KIO3 larut. Tambahkan 15 mL CuSO4, 15 mL larutan KI 15% dan 2 tetes
H2SO4 2M. Titrasi dengan Na2S2O3 sampai larutan berwarna agak muda, kemudian
tambahkan 1 tetes indikator kanji. Titrasi dengan Na2S2O3 sampai larutan menjadi
bening. Lakukan secara duplo.

IV. Perhitungan
A. Standarisasi Na2S2O3
 Berat KIO3 rata-rata
Berat KIO3 (simplo)  Berat KIO3 (duplo)
Berat KIO3 (rata - rata) 
2
0,1258 gram  0,1256 gram
  0,1257 gram
2

 Molaritas KIO3
Berat KIO3 (rata - rata) 0,1257 gram
214,0064 gram/mol
Molaritas KIO3  Berat Molekul KIO3   0,03916 mol/liter
Volume KIO3 10 3 L
15 mL x
1 mL

 Volume titrasi Na2S2O3 rata-rata


Volume Na2S2O3 (simplo)  Volume Na2S2O3 (duplo)
Volume Na2S2O3 (rata - rata) 
2
4,2mL  7 mL
  5,6mL
2

 Molaritas Na2S2O3
MNa2S2O3 x VNa2S2O3 (rata - rata)  MKIO3 x VKIO3
MNa2S2O3 x 5,6 mL  0,03916 mol/liter x 15 mL
0,03916 mol/liter x 15 mL
MNa2S2O3 
5,6 mL
MNa2S2O3  0,10489 mol/liter

B. Penentuan Kadar Cu
1. Molaritas CuSO4 2. W CuSO4
MCuSO4 x VCuSO4  MNa2S2O3 x VNa2S2O3 (rata - rata) M x Mr CuSO4 x V
W CuSO4 
MCuSO4 x 15 mL  0,10489 mol/liter x 9,05 mL 1000
0,06328 M x 159,5 g/mol x 15 mL.1L
0,10489 mol/liter x 9,05 mL W CuSO4 
MNa2S2O3  1000 mL
15 mL
W CuSO4  0,1514 gram
MNa2S2O3  0,06328 mol/liter

3. Volume titrasi Na2S2O3 rata-rata 4. W Cu2+


Volume Na2S2O3 (rata - rata) V.M (Na2S2O3)
W Cu2   xBe
Volume Na2S2O3 (simplo)  Volume Na2S2O3 (duplo) VCuSO4
 9,05 mL x 0,10489 M
2 W Cu2   x63,5
15 mL
8,2mL  9,9mL
  9,05mL W Cu2   4,0185mg
2
W Cu2   0,0040185 gram

5. Kadar Cu2+
WCu2  )
% kadar Cu  x100%
WCuSO 4
0,0040185 gram
% kadar Cu  x100%
0,1514 gram
% kadar Cu  2,6542%

V. Pembahasan

percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar Cu dalam larutan CuSO4 dengan
menggunakan metode iodometri. Pada percobaan ini dilakukan dua langkah yaitu standarisasi
Na2S2O3 dan penentuan kadar Cu dalam larutan.
Tujuan dari standarisasi yaitu untuk menentukan konsentrasi Natrium tiosulfat secara akurat,
karna akan berpengaruh dalam proses perhitungan. Pada standarisasi larutan tiosulfat didapatkan
bahwa perubahan warna yang terjadi dari oranye kekuning pucat baru kemudian ditambahkan
kanji sehingga terjadi perubahan warna ke biru dan dititrasi sampai tak berwarna, akan tetapi
kami mengubahnya cara ini dengan menambahkan secara langsung kanji sebanyak 1 tetes
kedalam larutan standarisasi dan pengujian sampel dan diperoleh hasil yang sama ini
membuktikan bahwa sebenarnya penambahan sebahagian penitar pada larutan titran untuk
memunculkan warna kuning pucat itu tidak berpengaruh didalam perhitungan. Pada percobaan
ini menggunakan larutan standar primer KIO3 untuk menstandarisasikan larutan Na2S2O3.
Standarisasi ini dilakukan karena konsentrasi natrium tiosulfat belum diketahui. Indikator yang
digunakan adalah indicator kanji. Pemilihan indicator kanji ini karna kanji dapat membentuk
senyawa absorbs dengan iodium yang dititrasi dengan natrium tiosulfat. Sedangkan fungsi dari
penambahan KI adalah garam pengoksida iodide secara kuantitatif menjadi iodium dalam larutan
berasam.Setelah KI bereaksi dengan larutan asam ,larutan tidak dibiarkan untuk waktu yang
cukup lama untuk berhubungan dengan udara,KI ini harus bebas dari iodat karena zat ini akan
bereaksi dengan larutan berasam untuk membebaskan iodium. Kemudian larutan tersebut
dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3. Setelah dititrasi sampai larutan berwarna kuning
mudah,kemudian larutan ditambahkan indicator kanji sebanyak 1 tetes sehingga larutan berubah
menjadi warna biru.

Titrasi dilakukan sebanyak 2 kalli agar diperoleh hasil yang lebih akurat. Selama titrasi
berlangsung dilakukakan pengocokan. Volume rata-rata titran yang diperoleh adalah 9.05 ml.
kadar Cu yang diperoleh berdasarkan perhitungan adalah 2,6542%

VI. Kesimpulan
Dari praktikum diperoleh kadar Cu berdasarkan perhitungan sebanyak 2,6542%

VII. Daftar Pustaka


Buku penuntun praktikum lab. kimia analisis kuantitatif