Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA NY. F GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI


DENGAN MIOMA UTERI

DISUUN OLEH :
Ersa Karolin Luthfi Ummami Fauzi Arizal Lily Seftriania
Tesar Pradyka Fici Yuliana Sari Muhammad Fisqi Fadil Ulfa Muzyliyati
Ulfa Nadiati Utari Martiningsih Avwintina Brigda C Rinda Farlina
Miranda Fitra Bellinda Widiyanto Audina Safitri Deviliani
Melsi Yunanda Sella Agung Setiadi Aulia Safitri Riki Sulindra R
Elviana Nindia Sinta Dewi Rangga Hariyanto Yossy Claudia Evan Agung Tri Putra
Suci Wahyuni Ratna Sari Makhyarotil Ashfiya Destura
Lidya Yuniasih Inri Tri Handayni Deska Kurnia Sari Annisa Rosalita
Ananda Maharani Elsa Aurelia S A Siti Annisa Nurilhuda Arief Widodo
Eka Putri Fariani

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Mioma uteri atau kanker jinak yang terdapat di uterus adalah tumor jinak
yang tumbuh pada rahim. Dalam istilah kedokteranya disebut fibromioma uteri, Commented [F1]: Mioma uteri merupakan tumor jinak yang
tumbuh pada uterus.
leiomioma, atau uterine fibroid. Mioma uteri merupakan tumor kandungan yang
terbanyak pada organ reproduksi wanita. Kejadiannya lebih tinggi antara 20% –
25 % terjadi pada wanita diatas umur 35 tahun, tepatnya pada usia produktif
seorang wanita, hal ini menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan Commented [F2]: Tata bahasa nya belum mencerminkan
makalah ilmiah. Lebih kepada tulisan kliping
estrogen (Sjamsuhidajat, 2010).
Mioma uteri dapat mempengaruhi kehamilan, misalnya menyebabkan
infertilitas, bertambahnya resiko abortus, hambatan pada persalinan, inersia atau
atonia uteri, kesulitan pelepasan plasenta dan gangguan proses involusi masa
nifas (Unicef, 2013).
Berdasarkan penelitian World Health Organisation (WHO) penyebab
dari angka kematian ibu karena mioma uteri pada tahun 2010 sebanyak 22 kasus
(1,95%) dan tahun 2011 sebanyak 21 kasus (2,04%). Menurut World Health
Organization (WHO) melaporkan bahwa di dunia setiap tahunnya ada 62,5 juta
penderita tumor dalam 20 tahun terakhir ini ada 9 juta manusia meninggal
karena tumor. Dan perlu dicatat bahwa 2/3 kejadia ini terjadi 12 negara yang
sedang berkembang. Penyebab angka kematian ibu karna mioma uteri pada
tahun 2010 sebanyak 22 (1,95%) kasus dan tahun 2011 sebanyak 21 (2,04%)
kasus (Aisya, 2012).
Jumlah kejadian penyakit ini di Indonesia menempati urutan kedua
setelah kanker serviks. Jarang sekali mioma ditemukan pada wanita berumur 20
tahun, paling banyak pada umur 35- 45 tahun (kurang lebih 25%). Di Indonesia,
angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39-11,7% pada semua penderita
ginekologi yang dirawat (Sarwono, 2009). Mioma 3-9 kali lipat lebih sering
pada wanita kulit hitam dibandingkan wanita kulit putih.Data statistik
menunjukkan 60% mioma uteri terjadi pada wanita yang tidak pernah hamil
atau hamil hanya satu hasil. Survei riset kesehatan dasar menunjukan angka
prevalensi penyakit tumor atau kanker sebesar 4,3 per 1000 penduduk, banyak
terjadi pada usia 45-65 tahun. Kementrian kesehatan (Kemkes) tahun 2013
(Aisya, 2012).
Berdasarkan data Dinkes Provinsa Jawa Tengah pada tahun 2010,
berdasarkan laporan program dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
berasal dari Rumah Sakit dan Puskesmas, kasus penyakit tumor terdapat 7.345
kasus terdiri dari tumor jinak 4.678 (68%) kasus dan tumor ganas 2.667 (42%)
kasus (Dinas Kesehatan Jawa Tengah,2010).
Penyebab kejadian mioma uteri belum diketahui secara pasti, diduga
merupakan penyakit multifaktorial. Faktor penduga pertumbuhan mioma uteri
antara lain umur, paritas, faktor ras dan genetik, usia menarche, obesitas, serta
hormon estrogen dan progesteron (Djuwantono, 2004). Sebagai salah satu
pencetus mioma uteri, hormon estrogen dan progesteron dapat diperoleh melalui
alat kontrasepsi yang bersifat hormonal. Menurut Meyer de Snoo dalam teori
Cell nest atau teori genitoblast, menyatakan bahwa estrogen dapat memicu
pertumbuhan mioma uteri karena mioma uteri kaya akan reseptor estrogen
(Sarwono, 2009).
Bila pada uterus terdapat mioma, maka pemberian kontrasepsi hormonal
kombinasi maupun sekuensial akan memicu pertumbuhan mioma, karena
mioma banyak mengandung reseptor estrogen dan progesteron. Pada pemberian
kontrasepsi hormonal dengan dosis estrogen dan progesteron yang rendah tidak
terjadi pembesaran miom yang bermakna (Ali, 2002).
Pada kontrasepsi hormonal dengan progestin (progesteron saja) studi
klinis menunjukkan progesteron memfasilitasi pertumbuhan fibroid. Misalnya,
ukuran fibroid meningkat selama pengobatan dengan progesteron sintetis
(Cynthia, 2006). Progesteron merangsang pembentukan enzim sulfotransferase
di endometrium sehingga terjadi pembentukan estrogen dalam jumlah besar (Ali
2003).
Mioma uteri diklasifikasikan menurut lokasi anatomi. Paling umum
adalah subrerosa (dibawah peritonium), intramural (didalam dinding uterus)
atau submukosa (hanya 5%-10% dibawah endometrium). Baik mioma subrerosa
maupun submukosa dapat bertangkai. Sebuah variasi khusus tangkai leiomioma
adalah ekstrusi (pendorongan) retroperitoneal di antara lapisan ligamentum
latum (intra ligamentosa). (Benson & Pernoll, 2008). Pada tahun 2012 diketahui
bahwa kanker payudara merupakan penyakit kanker dengan presentase kasus
baru tertinggi yaitu sebesar 43,3 %, kedua yaitu kanker kolorektal sebesar 14,1
%, ketiga kanker leher rahim sebesar 13,9 %, keempat kanker paru sebesar
13,6%, dan kelima yaitu korpus uteri meliputi mioma uteri sebesar 8,8 %
(Infodatin, 2012). Penyebab pasti mioma uteri tidak diketahui secara pasti.
Mioma jarang sekali ditemukan sebelum usia pubertas, sangat dipengaruhi oleh
hormon reproduksi, dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif.
Umumnya mioma uteri terjadi di beberapa tempat (Anwar, 2011).
Mioma kadang-kadang mengalami proses degenerasi sehingga tampak
menyerupai kantung gestasi (anekhoik). Mioma uteri submukosum sering
menimbulkan menometroragia, dismenorea, atau keguguran berulang. Mioma
serviks jarang terjadi, diperiksakan terjadi pada 8% dari semua jenis mioma
uteri, serviks tampak membesar dan kehilangan akhogenitas normalnya
(Endjun, 2008).
Perdarahan uterus yang abnormal merupakan gejala klinis yang paling
sering terjadi dan paling penting. Gejala ini terjadi pada 30% pasien dengan
mioma uteri. Wanita dengan mioma uteri mungkin akan mengalami siklus
perdarahan haid yang teratur dan tidak teratur. Menorrhagia dan atau
metorrhagia sering terjadi pada penderita mioma uteri. Perdarahan abnormal ini
dapat menyebabkan anemia defesiensi besi (Hadibroto, 2005). Dari penelitian
yang dilakukan oleh Ran Ok et-al di Pusan St. Benedict Hospital Korea yang
dilakukan terhadap 815 kasus mioma uteri diketahui bahwa kasus mioma uteri
tebanyak terjadi pada kelompok usia 40-49 tahun dengan usia rata-rata 42,97
tahun. Keluhan utama terbanyak pada penderita mioma uteri adalah perdarahan
pervaginam abnormal (44,1%). Menurut Shukri (2009) Penderita Mioma Uteri
di RSUP H.Adam Malik Medan pada tahun 2009 dengan keluhan perdarahan
sebanyak 41.1% dan yang mengalami anemia mencapai 61.6%. sedangkan
berdasarkan Muzakir (2008) penderita mioma uteri di RSUD Arifin Achmad
Provinsi Riau yang mengalami anemia mencapai 48.64% yang rata-rata
disebabkan oleh perdarahan yang banyak (43.24%).
Oleh sebab itu diperlukan pendokumentasian tindakan keperawatan
sebagian dilakukan perawat diruangan ditemukan bahwa pendokumentasian
mengacu pada shift sebelumnya tanpa memperhatikan perkembangan pasien
yang menderita mioma uteri setelah diberikan asuhan keperawatan seperti
memasukan obat terapi dengan injeksi Ceftriaxon tidak dilakukan evaluasi pada
pasien untuk menilai hasil tindakan yang diberikan oleh perawat diruangan pada
saat dinas berlangsung. Padahal evaluasi merupakan suatu yang harus dilakukan
untuk melihat apakah obat memberikan efek yang baik pada tubuh pasien atau
tidak baik. Kemudian pendokumentasian merupakan salah satu komponen
penting setiap melakukan tindakan kepada pasien agar dapat memberikan
sumber kesaksian bagi perawat dalam bertanggungjawab dan bertanggunggugat
dalam memberikan asuhan keperawatan. Perawat mempunyai peran dalam
pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan mioma uteri secara
komprehensif.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan suatu usaha dalam
penanganan kesehatan pada penyakit mioma uteri untuk meningkatkan
kemampuan dan pemahaman serta kesehatan pada penderita mioma uteri. Usaha
ini memerlukan strategi atau metode perawatan yang tepat dan dapat dipahami
dan dilakukan pasien itu sendiri serta tujuan yang diharapkan dapat tercapai..
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah “Asuhan keperawatan pada pasien Mioma
Uteri di Ruang Ginekologi Kebidanan RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang pada
tahun 2018.

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan
masalah Mioma Uteri di Ruang Genikologi RSUD Dr Abdul Aziz Sinkawang
pada tahun 2018 mengunakan metode ilmiah proses keperawatan mulai dari
pengkajian sampai dengan pembuatan dokumentasi keperawatan.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mampu mendeskripsikan pengkajian pada pasien dengan kasus Mioma
Uteri di Ruang Genikologi RSUD Dr Abdul Aziz Singkawang
b. Mampu mendeskripsikan diagnosa pada pasien dengan kasus Mioma Uteri
di Ruang Genikologi RSUD Dr Abdul Aziz Singkawang
c. Mampu mendeskripsikan intervensi pada pasien dengan kasus Mioma
Uteri di Ruang Genikologi RSUD Dr Abdul Aziz Singkawang
d. Mampu mendeskripsikan tindakan pada pasien dengan kasus Mioma Uteri
di Ruang Genikologi RSUD Dr Abdul Aziz Singkawang
e. Mampu mendeskripsikan Evaluasi pada pasien dengan kasus Mioma Uteri
di Ruang Genikologi RSUD Dr Abdul Aziz Singkawang
f. Mampu mendeskripsikan pendokumentasian pada pasien dengan kasus
mioma uteri di Ruang Genikologi RSUD Dr Abdul Aziz Singkawang
1.4. Manfaat penulisan
1.4.1. Laporan kasus ini dapat mengaplikasikan dan menambah wawasan ilmu
pengetahuan serta kemampuan penulis dalam menerapkan asuhan
keperawatan pada pasien dengan kasus Mioma Uteri
1.4.2. Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam
menerapakan asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus Mioma Uteri
1.4.3. Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran untuk
pengembangan ilmu dalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien
dengan kasus Mioma Uteri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumpang, sehingga dalam kepustakaan dikenal dengan
istilah Fibromioma, leiomioma, atau fibroid (Nurarif, & Kusuma, 2015).
Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang bersal dari otot uterus
dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dikenal juga dengan istilah
fibromyoma, leimyma, ataupun fibroid. Mioma uterin merupakan tumor jinak
otot rahim dengan berbagai komposisi jaringan ikat berasal dari myometrium
pada uterus (Manuaba, 2010).
Mioma uteri merupakan suatu pertumbuhan jinak dari otot-otot polos,
tumor jinak otot Rahim, disertai jaringan ikat, neoplasma yang berasal dari
otot uterus yang merupakan jenis tumor uterus yang paling sering, dapat
bersifat tunggal, ganda, dapat mencapai ukuran besar, biasanya mioma uteri
banyak terdapat pada wanita dengan reproduksi terutama pada usia 35 tahun
(Chrisdiono, 2004).
Berdasarkan letaknya mioma uteri dibagi menjadi ( Nurarif &
Kusuma, 2015):
1) Mioma subkumosum : di bawah endometrium dan menonjol ke cavum
uteri
2) Mioma intramural: berada di dinding uterus diantara serabut myometrium.
3) Mioma subserosum: tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol
pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa.
2. 2. Etiologi
Etiologi yang pasti terjadi mioma uteri sampai saat ini masih belum
diketahui. Stimulasi estrogen di duga sangat berperan utuk terjadinya mioma
uteri. Hipotesis ini di dukung oleh adanya mioma uteri yang banyak
ditemukan pada usia reproduksi dan kejadiannya rendah pada usia
menopause. Hormon ovarium dipercaya berperan sebagai stimulus
pertumbuhan mioma karena adanya pertumbuhan tumor ini semakin besar,
tetapi menurun setelah menopause. Perempuan nulipara mempunyai resiko
yang tinggi untuk terjadinya mioma uteri, sedangkan perempuan multipara
mempunyai resiko relative rendah untuk terjadinya mioma uteri
(Prawirohardjo, 2011).
Mioma uteri berasal dari sel otot polos myometrium, dan dibagi
menjadi 2 faktor yaitu inisiator dan promotor. Faktor-faktor yang menginisiasi
pertumbuhan mioma masih belum diketahui dengan pasti. Mioma diketahui
berasal dari jaringn yang uniseluler. Transformasi neoplastik dari
myometrium menjadi mioma melibatkan mutasi somatic dari myometrium
normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks dan groewt faktor
lokal (Nurarif & Kusuma, 2015).
Dalam jaringan mioma uteri lebih banyak mengandung reseptor
estrogen jika dibandingkan dengan myometrium normal. Pertumbuhan mioma
uteri bervariasi pada setiap individu, bahkan diantara nodul mioma pada
uterus yang sama. Perbedaan ini berkaitan dengan jumlah reseptor estrogen
dan reseptor progesterone (Prawirohardjo, 2011).
Pengaruh-pengaruh hormon dalam pertumbuhan dalam pertumbuhan dan
perkembangan mioma:
a. Estrogen
Mioma uteri dijumpai setelah menarche, setelah terdapat pertumbuhan
tumor yang cepat selama kehamilan. Mioma uteri akan mengecil pada saat
menopause dan setelah pengangkatan ovarium. Mioma uteri banyak
ditemukan bersama dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan
sterilitas. Pada mioma reseptor estrogen dapat ditermukan sepanjang
siklus menstruasi.
b. Progesteron
Reseptor progesterone terdapat di myometrium dan mioma sepanjang
siklus menstruasi dan kehamilan. Progesteron menghambat pertumbuhan
mioma dengan cara menurunkan jumlah reseptor estrogen pada mioma.
Mioma berasal dari benih-benih multiple yang sangat kecil dan tersebar
pada myometrium.

2. 3. Manifestasi
Menurut Yatim (2005) kebanyakan mioma uteri tumbuh tanpa
menimbulkan gejala keluhan atau gejala. Pada perempuan lain mungkin
mengeluh perdarahan menstruasi lebih banyak dari biasanya, atau nyeri
sewaktu menstruasi, perasaan penuh da nada tekanan pada rongga perut, atau
keluhan anemi karena kurang darah atau nyeri pada waktu berhubungan
seksual, atau nyeri pada waktu bekerja. Perempuan lain yang mengidap
mioma mengeluh susah hamil atau mudah keguguran.
1) Perdarahan abnormal : hipermenore, menoragia, metroragia. Disebabkan
karena pengaruh ovarium sehingga terjadi hiperplasi endometrium,
permukaan endometrium yang lebih luar dari biasanya, atrofi
endometrium di atas mioma submukutan, myometrium tidak dapat
berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma di antara serabut
myometrium sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang
melaluinya dengan baik, pembesaran perut bagian bawah, uterus
membesar merata, infertilitas, perdarahan setelah bersenggama,
dismenorea, abortus berulang, poliuri, retension urine, konstipasi serta
edema tungkai dan nyeri panggul (Chelmow, 2005; Yatim, 2005).
2) Nyeri timbul karena gangguan sirkulasi yang disertai nekrosis setempat
dan peradangan. Pada mioma submukosum yang dilahirkan dapat
menyempit canalis servikalis sehingga menimbulkan dismenore
3) Terjadi penekanan pada vesika urinaria yang dapat menyebabkan poliuri,
pada uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum menyebabkan obstipasi dan
tenesmia, pada pembuluh darah dan limfe menyebabkan edema tungkai
dan nyeri panggul.
4) Mioma uteri dapat menyebabkan gangguan kontraksi ritmik uterus yang
sebenarnya diperlukan untuk mortilitas sperma di dalam uterus.
Gangguan implantasi embrio dapat terjadi pada keberadaan mioma akibat
perubahan histology endometrium dimana terjadi atrofi karena kompresi
massa tumor. Mekanisme gangguan pada fungsi reproduksi yang dapat
terjadi adalah gangguan transportasi gamet dan embrio, pengurangan
kemampuan bagi pertumbuhan uterus, perubahan aliran darah, dan
perubahan histologi endometrium.

2. 4. Patofisiologi
Ammature muscle cell nest dalam miometrium akan berproliferasi hal
tersebut diakibatkan oleh rangsangan hormon estrogen. ukuran myoma sangat
bervariasi. sangat sering ditemukan pada bagian body uterus (corporeal) tapi
dapat juga terjadi pada servik. Tumot subcutan dapat tumbuh diatas pembuluh
darah endometrium dan menyebabkan perdarahan. Bila tumbuh dengan sangat
besar tumor ini dapat menyebabkan penghambat terhadap uterus dan
menyebabkan perubahan rongga uterus. Pada beberapa keadaan tumor
subcutan berkembang menjadi bertangkai dan menonjol melalui vagina atau
cervik yang dapat menyebabkan terjadi infeksi atau ulserasi. Tumor fibroid
sangat jarang bersifat ganas, infertile mungkin terjadi akibat dari myoma yang
mengobstruksi atau menyebabkan kelainan bentuk uterus atau tuba falofii.
Myoma pada badan uterus dapat menyebabkan aborsi secara spontan, dan hal
ini menyebabkan kecilnya pembukaan cervik yang membuat bayi lahir sulit
(Norma & Mustika, 2013).

2. 5. Pathway
2. 6. Pemeriksaan penunjang
a. Tes Laboratorium
Hitung darah lengkap dan apusan darah leukosit dapat disebabkan oleh
nekrosis akibat torsi atau degenerasi. Menurunya kadar hemoglobin dan
hematokrit menunjukkan adanya kehilangan darah yang kronik.
b. Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin
Sering membantu dalam evaluasi suatu pembesaran uterus yang simetrik
menyerupai kehamilan atau terdapat bersama-sama dengan kehamilan.
c. Ultrasonografi
Apabila keberadaan massa pelvis meragukan, sonografi dapat membantu
d. Pielogram intravena
Dapat membantu dalam evaluasi diagnostik
e. Pap smear serviks
Selalu diindikasikan untuk menyingkap neoplasia serviks sebelu
histerektomi
f. Histerosal pingogram
Dianjurkan bila klien menginginkan anak lagi dikemudian hari untuk
mengevaluasi distorsi rongga uterus dan kelangsungan tuba falopi.

2. 7. Penatalaksanaan
a. Terapi medisinal (hormonal)
Saat ini pemakaian agonis Gonadotropin-releasing hormone (GnRH)
memberikan hasil untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang ditimbulkan
oleh mioma uteri. Pemberian GnRH agonis bertujuan untuk mengurangi
ukuran mioma dengan jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium.
Efek maksimal pemberian GnRH agonis baru terlihat stelah 3 bulan. Pada
3 bulan berikutnya tidak terjadi pengurangan volume mioma secara
bermakna. Terapi hormonal lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat
progresteron akan mengurangi gejala perdarahan uterus yang abnormal
namun tidak dapat mengurangi ukuran dari mioma.
b. Terapi pembedahan
Terapi pembedahan pada mioma uetri dilakukan terhadap mioma yang
menimbulkan gejala. Indikasi pembedahan pada pasien dengan mioma
uteri adalah:
1. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservasif
2. Sagkaan adanya keganasan
3. Pertumbuhan mioma pada masa menopause
4. Infertilitas karena gangguan pada cavum uetri aupun karena oklusi tuba
5. Nyeri dan penekanan yang sangat menganggu
6. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
7. Anemia akibat perdarahan
Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi maupun
histerektomi.
1. Miomektomi
Miomektomi sering dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan
fungsi reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi. Deawasa ini
ada beberapa pilihan tindakan untuk melakukan miomektomi, berdasarkan
ukuran dan lokasi dari mioma. Tindakan miomektomi dapat dilakukan
dengan laparatomi, histerektomi maupun dengan laparoskopi
2. Histerektomi
Tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus dapat dilakukan dengan
cara yaitu dengan pendekatan abdominal (laparatomi), vaginal, dan pada
beberapa kasus seara laparoskopi. Tindakan histerektomi pada pasien
dengan mioma uterimerupakan indikasi bila didapati keluhan
menorrhagia, metrorrhagia, keluahan obstruksi pada traktus urinarius dan
ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI

I. Data Anamnesa
A. Identitas Klien
1. Nama : Ny. F
2. Umur : 42 tahun
3. Alamat : Jalan Rawasari GG Kayu Manis, RT/RW
003/001,Roban, Singkawang Tengah
4. Pendidikan : SD
5. Agama : Islam
6. No. Medrek : 044662
B. Identitas Penanggung Jawab
1. Nama : Zainal Abidin
2. Umur : 45 Tahun
7. Alamat : Jalan Rawasari GG Kayu Manis, RT/RW
003/001,Roban, Singkawang Tengah
3. Pendidikan : SMP
4. Agama : Islam
5. Hubungan dengan klien : Suami
C. Keluhan utama saat pengkajian : siklus haid tidak teratur, klien mengeluh
nyeri saat haid dan darah haid yang sangat deras
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
 Alergi : Tidak ada alergi
 Imunisasi :-
 Tes Krining : USG (Mioma Uteri) terlihat ada masa di uterus
 Aktivitas : Mandiri
 Diet : Klien tidak menjalani diet khusus, nasfu
makan baik, BB 59 kg
 Terapi yang diterima saat ini:
- IVFD RL 20 tpm
- Inj. Asam Traneksamat 3x1 IV
- Inj. Ketorolac 3x30 mg IV
- Inj. Ondancentron 2x4 mg IV
- Condesartan 1x16 mg Po
- HCD 1x1 Po
2. Status Nutrisi
 SMRS
Makan nasi dan lauk pauk 3 kali dan menghabiskan 1 porsi orang
dewasa dan minum 5-6 gelas/hari, ± 1500 cc
 MRS
TKtp 3 kali/hari porsi habis dan minum ±1200 cc atau 2-4 gelas/
hari

II. Pengkajian fisik


1. Penampilan umum : Compos mentis, klien tampak cemas dan takut,
klien tampak sedikit pucat
2. Tanda-tanda vital :
TD : 140/90 mmHg
N : 90 kali/menit
RR : 19 kali/menit
S : 37 oC
3. Kulit
Turgor kulit baik, tidak ditemukan jejas, pigmen dan elastisitas kulit baik
4. Payudara
Payudara tampak simetris dan tidak ditemukan benjolan abnormal
5. Abdomen
Terdapat nyeri tekan pada abdomen bawah, terasa masa pada uterus dan
terasa benjolan pada abdomen kuadran bawah, bising usus 10x/menit
6. Eksternal genetalia
Adanya keluaran cairan berupa darah
7. Introitus
Hymen sudah robek, ada keluar darah dan nyeri saat haid
8. Urination
Terpasang selang kateter urin
9. Pemeriksaan penunjang
Labolatorium
1. GDS : 96 mg/dl
2. Bilirubin total : 0,39 mg/dl
3. Bilirubin direk : 0,08 mg/dl
4. SGOT : 15 u/l
5. SGPT : 27 u/l
6. Ureum : 26mg/dl
7. Kreatinin : 0,59 mg/dl
8. Hemoglobin : 10,7 g/dl
9. Leukosit : 21.300 /µl
10. Trombosit : 381.000/µl
11. Hematokrit : 33,7 %
12. Eritrosit : 4,21 106/µl
13. Golongan Darah: A+
14. CT : 6,30 /m
15. BT : 2,30 /m
16. HbSaG : non reaktif
17. HIV : non reaktof
10. Psikologis dan sosial
 Pengkajian psikologi
Klien tampak cemas dan takut dengan penyakitnya dan tindakan
operasi
Klien mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit mioma uteri
 Ketakutan akan pengobatan
Klien cemas dengan proses operasi yang akan dilakukan.
 Ketakutan pada nyeri
Klien mengatakan sudah ±2 tahun merasakan nyeri ini, klien
beranggapan sebagai tanda untuk menopause
 Apakah klien mengalami stress?
Klien tampak stress dengan penyakit yang dialami, dilihat dari TTV
klien cepat berubah pada saat masuk kamar OK TD: 170/110 mmHg,
sehingga operasi ditunda.
 Pengetahuan
Penyakit, terapi dan perawatan
Klien baru mengetahui penyakitnya saat periksa di poli kandungan
setelah diakukan USG
Klien mengetahui untuk menghilangkan rasa nyeri harus dioperasi dan
dilakukan perawatan di rumah sakit.
11. Pengkajian spiritual
Klien beragama islam, ibadah yang biasa klien lakukan seperti sholat lima
waktu, bedoa dan berdzikir. Klien selalu berdoa dan berdzikir untuk
kelancaran operasinya dan kesembuhan dari penyakitnya.
III. Analisa Data
Pre Operasi
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS : Agen cidera biologis : Nyeri akut
- Klien mengatakan penekanan tumor pada
nyeri uterus
P : saat bergerak dan
semakin sakit ketika
haid
Q : seperti ditusuk
R : pada perut bagian
bawah
S : dengan skala 6
T : hilang datang
- Klien mengatakan
tidurnya terganggu
karena nyeri

DO :
- Klien tampak meringis
- Klien tampak gelisah
- TTV
TD : 140/90 mmHg
N : 90 x/menit
RR : 19x/menit
S : 37ºC
DS : Perubahan status Ansietas
- Klien mengatakan kesehatan
merasa cemas dan
sedikit takut dengan
tindakan operasi yang
akan dilakukan karena
baru pertama kali

DO :
- Klien tampak sedikit
gelisah
- Klien tampak khawatir
- Terjadi peningkatan
tekanan darah
- TTV
TD : 140/90 mmHg
N : 90 x/menit
RR : 19x/menit
S : 37ºC
Post Operasi
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS : Agen cidera fisik : operasi Nyeri akut
- Klien mengatakan histerektomi
nyeri
P : saat bergerak
maupun tidak
Q : seperti diiris
R : pada bagian yang
dilakukan operasi
(perut bagian
bawah)
S : dengan skala 5
T : terus-menerus
- Klien mengatakan
tidurnya terganggu
karena nyeri

DO :
- Klien tampak meringis
- Klien tampak gelisah
- TTV
TD : 120/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,9ºC
DS : Imobilitas setelah Intoleransi aktivitas
- Klien mengatakan pembedahan
nyeri ketika bergerak

DO :
- TTV
TD : 120/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,9ºC
DS : Gejala terkait penyakit : Gangguan rasa nyaman
- Klien mengatakan nyeri
merasa kurang
nyaman dengan nyeri
yang dirasakan
- Klien mengatakan
tidurnya sedikit
terganggu karena
nyeri
- Klien mengatakan
agak risih dengan
pemasangan selang
kencing (kateter)
karena baru pertama
kali

DO :
- Klien tampak sedikit
gelisah
- TTV
TD : 120/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,9ºC
DS : Prosedur tindakan invasif : Resiko infeksi
- Klien mengatakan luka operasi histerektomi
terdapat luka pada
bagian yang dioperasi
- Klien mengatakan
tidak merasa gatal pada
luka operasi
DO :
- Luka operasi tampak
masih diperban
- Jumlah leukosit:
21.300/µl
- TTV
TD : 120/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,9ºC
IV. Rencana Asuhan Keperawatan
Pre Operasi
Diagnosa
Tujuan Intervensi Rasional Paraf
Keperawatan
Nyeri akut b.d NOC NIC
agen cidera  Pain Level, Pain Management
biologis :  Pain control,  Lakukan pengkajian nyeri secara  Untuk mengidentifikasi
penekanan  Comfort level komprehensif termasuk lokasi, nyeri
tumor pada Kriteria Hasil karakteristik, durasi, frekuensi,
uterus  Mampu mengontrol nyeri kualitas, dan faktor presipitasi
(tahu penyebab nyeri dan  Observasi reaksi nonverbal dari  Untuk mengetahui respon
mampu menggunakan ketidaknyamanan klien terhadap nyeri
teknik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri)  Gunakan teknik komunikasi  Untuk membina hubungan
 Melaporkan bahwa nyeri terapeutik untuk mengetahui saling percaya kepada
berkurang dengan pengalaman nyeri pasien klien
menggunakan manajemen  Ajarkan tentang teknik non  Untuk membantu klien
nyeri farmakologi (teknik relaksasi lebih rileks dan
 Menyatakan rasa nyaman tarik nafas dalam) mengurangi nyeri
setelah nyeri berkurang  Kolaborasi pemberian analgetik  Untuk mengurangi nyeri
untuk mengurangi nyeri
 Anjurkan klien meningkatkan  Untuk membantu
istirahat memperbaiki kesehatan
klien
 Monitor penerimaan klien tentang  Untuk mengevaluasi
manajemen nyeri (farmakologi respon klien setelah
dan nonfarmakologi) dilakukan manajemen
nyeri (farmakologi dan
nonfarmakologi)
Analgesic Administration
 Monitor tanda-tanda vital klien  Untuk mengetahui
sebelum dan sesudah pemberian perkembangan kondisi
analgesik klien
 Evaluasi efektivitas analgesik  Untuk mengetahui kondisi
klien
Ansietas b.d NOC NIC
perubahan  Anxiety Self-Control Anxiety Reduction (Penurunan
status kesehatan  Anxiety Level Kecemasan)
 Coping  Gunakan pendekatan yang  Membina hubungan saling
Kriteria Hasil menenangkan percaya kepada klien
 Klien mampu  Jelaskan semua prosedur dan apa  Mengurangi tingkat
mengungkapkan gejala yang dirasakan selama prosedur kecemasan klien
cemas  Dengarkan dengan penuh  Membuat klien merasa
 Menunjukkan teknik perhatian nyaman
untuk mengontrol cemas  Dorong klien untuk  Untuk mengidentifikasi
 Tanda-tanda vital dalam mengungkapkan perasaan dan kecemasan klien
batas normal ketakutan
 Ekspresi wajah dan bahasa  Anjurkan klien melakukan teknik  Membuat klien lebih
tubuh menunjukkan relaksasi tarik nafas dalam rileks dan mengurangi
berkurangnya kecemasan kecemasan
Post Operasi

Diagnosa
Tujuan Intervensi Rasional Paraf
Keperawatan
Nyeri akut b.d NOC NIC
agen cidera fisik:  Pain Level, Pain Management
operasi  Pain control,  Lakukan pengkajian nyeri  Untuk mengidentifikasi
histerektomi  Comfort level secara komprehensif termasuk nyeri
Kriteria Hasil lokasi, karakteristik, durasi,
 Mampu mengontrol nyeri frekuensi, kualitas, dan faktor
(tahu penyebab nyeri dan presipitasi
mampu menggunakan teknik  Observasi reaksi nonverbal dari  Untuk mengetahui
nonfarmakologi untuk ketidaknyamanan respon klien terhadap
mengurangi nyeri) nyeri
 Melaporkan bahwa nyeri  Gunakan teknik komunikasi  Untuk membina
berkurang dengan terapeutik untuk mengetahui hubungan saling percaya
menggunakan manajemen pengalaman nyeri pasien kepada klien
nyeri  Ajarkan tentang teknik non  Untuk membantu klien
 Menyatakan rasa nyaman farmakologi (teknik relaksasi lebih rileks dan
setelah nyeri berkurang tarik nafas dalam) mengurangi nyeri
 Kolaborasi pemberian analgetik  Untuk mengurangi nyeri
untuk mengurangi nyeri
 Anjurkan klien meningkatkan  Untuk membantu
istirahat memperbaiki kesehatan
klien
 Monitor penerimaan klien  Untuk mengevaluasi
tentang manajemen nyeri respon klien setelah
(farmakologi dan dilakukan manajemen
nonfarmakologi) nyeri (farmakologi dan
nonfarmakologi)
Analgesic Administration
 Monitor tanda-tanda vital klien  Untuk mengetahui
sebelum dan sesudah pemberian perkembangan kondisi
analgesik klien
 Evaluasi efektivitas analgesik  Untuk mengetahui
kondisi klien

Intoleransi NOC NIC


aktivitas b.d  Energi Conservation Activity Therapy
imobilitas  Activity Tolerance  Bantu klien untuk  Untuk melatih klien
setelah  Self Care : ADLs mengidentifikasi aktivitas yang melakukan aktivitas
pembedahan Kriteria Hasil mampu dilakukan
 Dapat melakukan aktivitas  Bantu untuk mendapatkan alat  Untuk memudahkan
fisik tanpa disertai bantuan aktivitas, seperti kursi klien melakukan
peningkatan tekanan darah, roda aktivitas
nadi, dan RR  Monitor respon klien setelah  Agar dapat mengevaluasi
 Mampu melakukan aktivitas melakukan aktivitas keadaan klien setelah
sehari-hari (ADLs) secara melakukan aktivitas
mandiri
 Tanda-tanda vital normal
 Mampu berpindah : dengan
atau tanpa bantuan alat

Gangguan rasa NOC NIC


nyaman b.d  Anxiety Anxiety Reduction (Penurunan
gejala terkait  Fear leavel Kecemasan)
penyakit : nyeri  Sleep deprivation  Gunakan pendekatan yang  Membina hubungan
 Comfort, readines for menenangkan saling percaya kepada
enchanced  Jelaskan semua prosedur dan klien
Kriteria Hasil apa yang dirasakan selama  Mengurangi tingkat
 Mampu mengontrol prosedur kecemasan klien
kecemasan  Dengarkan dengan penuh  Membuat klien merasa
 Mengontrol nyeri perhatian nyaman

 Kualitas tidur dan istirahat  Dorong klien untuk  Untuk mengidentifikasi


adekuat mengungkapkan perasaan dan kecemasan klien

 Status kenyamanan ketakutan

meningkat  Anjurkan klien melakukan  Membuat klien lebih

 Dapat mengontrol ketakutan teknik relaksasi tarik nafas rileks dan mengurangi
dalam kecemasan
Resiko infeksi NOC NIC
b.d prosedur  Immune status Infection Control (kontrol
tindakan invasif:  Knowledge: Infection control infeksi)
luka operasi  Risk control  Tingkatkan intake nutrisi  Meningkatkan daya
histerektomi Kriteria Hasil tahan tubuh
 Klien bebas dari tanda dan  Kolaborasi pemberian terapi  Sebagai terapi untuk
gejala infeksi antibiotik perlindungan terhadap
 Menunjukkan kemampuan infeksi
untuk mencegah timbulnya  Monitor tanda dan gejala infeksi  Untuk memantau tanda
infeksi dan gejala infeksi
 Jumlah leukosit dalam batas  Monitor kerentanan terhadap  Deteksi dini apabila
normal infeksi terjadi infeksi
 Menunjukkan perilaku hidup  Dorong masukkan cairan  Membantu proses
sehat metabolisme tubuh
 Anjurkan klien istirahat  Membantu relaksasi
 Ajarkan pasien dan keluarga  Meningkatkan
tanda dan gejala infeksi pengetahuan pasien dan
keluarga
 Ajarkan cara menghindari  Meminimalkan resiko
infeksi infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi  Untuk menentukan
intervensi yang dapat
dilakukan selanjutnya
dengan segera
BAB IV
HASIL PENELITIAN Commented [F3]: Hanya sampai disini? implementasinya?
Catatan perkembangan pasien? Pembahasannya? Simpulan dan
sara?

Rencana Keperawatan

Hasil analisa data menghasilkan dua diagnosa sebelum klien menjalani


operasi yaitu nyeri akut dan ansietas. Oleh karena itu perencanaan yang kami
ambil yaitu:
1. Perencanaan Keperawatan mengatasi Nyeri Akut
Pain Management
 Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi
 Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
 Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi (teknik relaksasi tarik nafas
dalam)
 Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri
 Anjurkan klien meningkatkan istirahat
 Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri (farmakologi
dan nonfarmakologi)
Analgesic Administration
 Monitor tanda-tanda vital klien sebelum dan sesudah pemberian
analgesik
 Evaluasi efektivitas analgesik
Dengan harapan kriteria hasil :
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri dan mampu
menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri)
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
c. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
2. Perencanaan Keperawatan mengatasi Ansietas
Anxiety Reduction (Penurunan Kecemasan)
 Gunakan pendekatan yang menenangkan
 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
 Dengarkan dengan penuh perhatian
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan ketakutan
 Anjurkan klien melakukan teknik relaksasi tarik nafas dalam
Dengan harapan kriteria hasil :
 Dapat melakukan aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan
darah, nadi, dan RR
 Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri
 Tanda-tanda vital normal
 Mampu berpindah : dengan atau tanpa bantuan alat
Setelah klien menjalani operasi kemudian menganalisa data menghasilkan
empat diagnosa keperawatan yaitu nyeri akut, intoleransi aktivitas, gangguan rasa
nyaman dan resiko infeksi
1. Perencanaan keperawatan mengatasi nyeri akut
Pain Management
 Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi
 Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
 Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi (teknik relaksasi tarik nafas
dalam)
 Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri
 Anjurkan klien meningkatkan istirahat
 Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri (farmakologi
dan nonfarmakologi)
Analgesic Administration
 Monitor tanda-tanda vital klien sebelum dan sesudah pemberian
analgesik
 Evaluasi efektivitas analgesic
Dengan harapan kriteria hasil :
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri dan mampu
menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri)
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
c. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
2. Perencanaan keperawatan mengatasi Intoleransi Aktivitas
Activity Therapy
 Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
 Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas, seperti kursi roda
 Monitor respon klien setelah melakukan aktivitas
Dengan harapan kriteria hasil :
a. Dapat melakukan aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan
darah, nadi, dan RR
b. Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri
c. Tanda-tanda vital normal
d. Mampu berpindah : dengan atau tanpa bantuan alat
3. Perencanaan keperawatan mengatasi gangguan rasa nyaman
Anxiety Reduction (Penurunan Kecemasan)
 Gunakan pendekatan yang menenangkan
 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
 Dengarkan dengan penuh perhatian
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan ketakutan
 Anjurkan klien melakukan teknik relaksasi tarik nafas dalam
Dengan harapan kriteria hasil :
 Mampu mengontrol kecemasan
 Mengontrol nyeri
 Kualitas tidur dan istirahat adekuat
 Status kenyamanan meningkat
 Dapat mengontrol ketakutan
4. Perencanaan keperawatan mengatasi resiko infeksi
Infection Control (kontrol infeksi)
 Tingkatkan intake nutrisi
 Kolaborasi pemberian terapi antibiotik
 Monitor tanda dan gejala infeksi
 Monitor kerentanan terhadap infeksi
 Dorong masukkan cairan
 Anjurkan klien istirahat
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
Dengan harapan kriteria hasil :
 Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
 Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
 Jumlah leukosit dalam batas normal
 Menunjukkan perilaku hidup sehat
Daftar Pustaka

Chrisdiono, A. (2004). Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC.

Manuaba, M. (2010). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC.

Norma, N., Mustika. (2013). Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta:


NuhaMedika.

Nurarif A. H. dan Kusuma H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: Mediaction.

Prawirohardjo, P. (2011). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.

Yatim, Faisal. (2005). Penyakit Kandungan, Myom, Kista, Indung Telur, Kanker
Rahim/Leher Rahim, serta Gangguan lainnya. Jakarta: Pustaka Populer Obor.