Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS MAKANAN DAN KONTAMINAN

ANALISIS UJI KUALITATIF TERHADAP SENYAWA RHODAMIN

Rabu, 17 Oktober 2018

Disusun oleh:

260110160082 Gina Sabila Pembahasan, kesimpulan


260110160083 Deka Aulia Septa Alat, bahan, prosedur
260110160086 Riska Nurul Hidayah Tujuan, prinsip, reaksi, edit
260110160087 Frita Karisma Data pengamatan
260110160088 Kiki Ikrima Pembahasan, kesimpulan
260110160103 Luthfi Hargo Siwi Teori dasar

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2018
Analisis Uji Kualitatif Terhadap Senyawa Rhodamin

I. Tujuan
Melakukan analisis uji kualitatif untuk keberadaan senyawa Rhodamin.

II. Prinsip
2.1 Partisi
Pemisahan dimana analit terpisah karena afinitas terhadap fase cair
dan fase cair (Wulandari, 2011).
2.2 Penyerapan
Pada benang wol terjadi pemecahan ikatan sistina menjadi sistein
dengan bantuan pemanasan maka akan mempercepat reaksi sehingga
Rhodamin B dapat menyerap kedalam benang wol (Utami dan
Suhendi, 2009).

III. Reaksi

(Utami dan Suhendi, 2009).


IV. Teori Dasar
Secara luas aditif pangan telah ada lebih dari 2.500 jenis yang digunakan
untuk preservative (pengawet) dan pewarna (dye). Zat-zat aditif ini digunakan
untuk mempertinggi nilai pangan sebagai konsekuensi dari industrialisasi dan
perkembangan proses teknologi pangan. Oleh karena itu produsen berlomba
menawarkan aneka produknya dengan tampilan yang menarik dan warna-warni.
Akan tetapi, penggunaan pewarna sintetis dalam sebuah produk harus dilakukan
sesuai dengan peraturan yang berlaku, hal ini dilakukan agar tidak merugikan
kesehatan konsumen. Kerupuk merupakan produk kering yang dibuat dari tapioka
atau tepung lain dengan menggunakan bahan yang sesuai dengan jenis makanan
lainnya. Kerupuk biasanya digunakan sebagai makanan ringan dan juga jajanan
bagi anak-anak sekolah, biasanya para pedangan sering menggunakan bahan
tambahan rhodamin dikarenakan warna yang lebih menarik bisa menarik
perhatian pembeli (Moutinho, 2007).
Rhodamin adalah zat pewarna berupa kristal yang tidak berbau dan
berwarna hijau atau ungu kemerahan yang beredar di pasar untuk industri sebagai
zat pewarna tekstil. Dengan mengkomsumsi rhodamin yang cukup besar dan
berulang-ulang akan menyebabkan iritasi pada saluran penapasan, iritasi pada
kulit, iritasi pada mata, ritasi pada pencernaan, keracunan, gangguan fungsi hati
dan kanker hati. Penelitian yang sudah dilakukan oleh Mudjajanto dari Institut
Pertanian Bogor (IPB), menemukan zat pewarna rhodamin pada produk makanan
industri rumah tangga seperti kerupuk, sirup, cendol, manisan, sosis, minuman
ringan, ikan asap dan kue-kue lainnya. Beberapa produsen yang menjual makanan
dan minuman yang menggunakan zat pewarna rhodamin yang dilarang tersebut
memiliki warna yang cerah, praktis digunakan, harganya relatif murah, serta
tersedia dalam kemasan kecil dipasaran untuk memungkinkan masyarakat umum
membelinya (Dawile, 2013).
Salah satu aspek yang diawasi dalam profil keamanan pangan jajanan yaitu
penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang tidak memenuhi syarat
termasuk bahan tambahan memang jelas-jelas dilarang, seperti pewarna, pemanis
dan bahan pengawet. Pelarangan juga menyangkut dosis penggunaan bahan
tambahan makanan yang melampaui ambang batas maksimum yang telah
ditentukan. Hal ini jelas diatur oleh pemerintah dalam Permenkes RI No.
772/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Pangan yang diperkuat oleh
Permenkes No. 1168/Menkes/1999 serta undang-undang keamanan pangan yaitu
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 (BPOM RI, 2011).
Zat warna Rhodamin B dan Methanyl Yellow adalah salah satu zat
pewarna yang dilarang untuk makanan dan dinyatakan sebagai bahan berbahaya
menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang
zat warna yang dinyatakan berbahaya dan dilarang di Indonesia. Dalam keputusan
Ditjen POM No. 00386/C/SK/II/90 tentang perubahan laporan Permenkes No.
239/Menkes/Per/V/1985 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai
bahan berbahaya (Rahayu, 2016).
Rhodamin adalah zat pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil
dan kertas, zat pewarna sintetis ini sangat berbahaya apabila terhirup, mengenai
mata dan kulit, serta tertelan. Pengaruh buruk bagi kesehatan antara lain
menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni menjadi berwarna
merah atau merah muda. Pada kondisi yang lebih akut dapat menganggu fungsi
hati dan menimbulkan kanker hati (Wijaya, 2011). Namun demikian, bila terpapar
Rhodamin dalam jumlah besar maka dalam waktu singkat akan terjadi gejala akut
keracunan Rhodamin (Paulina,2011).
Methanyl Yellow adalah zat pewarna sintetis berwarna kuning yang
digunakan pada industri cat dan tekstil. Zat pewarna sintetis ini sangat berbahaya
bila terhirup, terkena kulit dan mata, ataupun tertelan. Dampak kesehatan yang
terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi mata, dan
kanker. Apabila tertelan dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare,
panas, dan tekanan darah rendah. Akibat lebih lanjut dapat menimbulkan kanker
kandung kemih (Hendayana, 2006).
V. Alat dan Bahan
5.1 Alat
a. Beaker glass
b. Bunsen
c. Chamber
d. Corong
e. Erlenmeyer
f. Gelas ukur
g. Kertas whattman
5.2 Bahan
a. Amonia (2%, 10%, pekat)
b. Asam sulfat
c. Asam asetat 10%
d. Aquades
e. Benang wol
f. Etanol
g. Eter (pa)
h. HCl
i. Isopropanol
j. Naoh 10%
k. N-Heksan
l. Pewarna rodhamin b
m. Sampel (kerupuk pink)
n. Silika Gel
VI. Metode
6.1 Pembuatan wool dari bulu domba
Sejumlah bulu domba direndam dalam n-heksan. Kemudian
didiamkan hingga kerig.
6.2 Pembuatan larutan rhodamin b 0,1%
Ditimbang pewarna rhodamin B sebanyak 10 gram lalu dilarutkan
dalam 10 ml etanol 95%.
6.3 Preparasi Sampel
Sampel sebanyak 3 gram dimasukkan ke dalam Erlenmeyer,
direndam dalam 10 ml larutan ammonia 2% (yang dilarutkan dalam
etanol 70%) selama 30 menit. Kemudian larutan kembali direndam
dengan 5 ml amonia 2% dan dibiarkan selama 15 menit. Larutan
disaring dengan kertas saring dan dipindahkan kedalam beaker glass,
kemudian dipanaskan. Residu dari penguapan dilarutkan dalam 6 ml
air yang mengandung asam (larutan asam dibuat dengan
mencampurkan 4 ml air : 2 ml asam asetat 10%). Wool dimasukkan
kedalam larutan asam dan didihkan hingga 20 menit, pewarna akan
mewarnai benang wool, kemudian wool diangkat dan dicuci dengan
air. Wool dimasukkan ke dalam larutan basa yaitu 10 ml ammonia
10% (yang dilarutkan dalam etanol 70%) dan didihkan. Wool akan
melepaskan pewarna, pewarna akan masuk ke dalam larutan basa.
Larutan basa yang didapat selanjutnya dipekatkan kemudian akan
digunakan sebagai cuplikan sampel pada analisis kromatografi lapis
tipis.
6.4 Analisis Rhodamin B dengan KLT
Identifikasi Rhodamin B, sampel ditotolkan pada plat KLT
dengan menggunakan pipa kapiler pada jarak 1 cm dari bagian
bawah plat, jarak antara noda adalah 1,25 cm, kemudian dibiarkan
beberapa saat hingga mengering. Kertas yang telah mengandung
cuplikan dimasukkan ke dalam chamber yang lebih terdahulu telah
dijenuhkan dengan fase gerak berupa (butanol: asam asetat: air,
4:1:1). Dibiarkan hingga terelusi sempurna, kemudian diangkat dan
dikeringkan. Diamati warna secara visual, 254, dan 366 jika terdapat
bercak berwarna hampir sama dan nilai Rf yang hampir mendekati
maka sampel dikatakan positif mengandung Rhodamin B.

VII. Data Pengamatan


7.1 Pembuatan Wool dari bul domba
No Perlakuan Hasil Gambar
1 Sejumlah bulu domba Didapatkan bulu domba
direndam dalam n-heksan, yang telah dikeringkan
kemudian biarkan dan
keringkan
7.2 Pembuatan Baku Rhodamin B 1 %
No Perlakuan Hasil Gambar
1 10 mg pewarna Rhodamin Didapatkan larutan baku
B ditimbang. Kemudian Rhodamin 1 %
dilarutkan dengan 10 ml
etanol 95 %

7.3 Preparasi Sampel


No Perlakuan Hasil Gambar
1 Sampel sebanyak 3 gram  3 gram sampel
dimasukkan ke dalam dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer, direndam Erlenmeyer dan
dalam 10 ml larutan rendam dalam 10 ml
ammonia 2 % selama 30 larutan ammonia 2
menit %, diamkan selama
30 menit. Larutan
berwarna pink
 Ditambahkan 5 ml
larutan ammonia 2 %
dan diamkan selama
15 menit

2 Larutan disaring dengan Larutan telah disaring


kertas saring dan dan didapatkan filtrat
pindahkan ke dalam bening agak pink,
beaker glass. Kemudian kemudian panaskan
panaskan di atas penangas
air
3 Residu dilarutkan dan Didapatkan residu
diuapkan dalam 6 ml air berwarna pink dan
yang mengandung asam dilarutkan dalam 6 ml air
(lautan asam dibuat yang mengandung asam.
dengan mencampurkan 4 Larutan berwarna merah
ml air : 2 ml asam asetat muda
10 %)
4 Wool dimasukkan ke Wool telah dimasukkan
dalam larutan asam dan dalam larutan asam, wool
dididihkan hingga 30 berubah warna menjadi
menit. Pewarna akan merah muda
mewarnai benang wool,
kemudian wool diangkat
dan dicuci dengan air

5 Wool dimasukkan dalam Wool telah dipanaskan.


larutan basa yaitu 10 ml Larutan berwana merah
ammonia 10 % dan muda dan benang wool
didihkan diatas penangas memudar warnanya
air
6 Pewarna akan dilepaskan Cuplikan dipekatkan
oleh wool. Pewarna masuk dengan cara dipanaskan
ke lapisan basa. Larutan kembali
basa terebut kemudian di
pekatkan yang akan
digunakan untuk cuplikan
sampel pada analisis KLT
7.4 Analisis rhodamin B dengan KLT
No Perlakuan Hasil Gambar
1 Sampel ditotolkan pada Sampel telah ditotolkan
plat KLT dengan pada plat KLT berwarna
menggunakan pipa kapiler putih. Baku ditotolkan
pada jarak 1 cm dan pada plat KLT berwarna
bagian bawah plat , jarak merah terang, setelah itu
antara noda adalah 1,25 di biarkan mengering
cm kemudian di biarkan
beberapa saat hingga
mengering
2 Kertas yang telah Chamber telah
mengandung cuplikan dijenuhkan dengan fase
dimasukkan ke dalam gerak, kemudian plat
chumber yang telah KLT di masukkan ke
terlebih dahulu di dalam chumber
jenuhkan dengan fase
gerak berupa (Butanol :
asam asetat : air ; 4 : 1 : 1)

3 Di biarkan hingga terelusi Baku telah terelusi


sempurna, kemudian di sempurna sedangkan
angkat dan dikeringkan. sampel tidak terelusi.
Diamati warna secara Maka sampel dinyatakan
visual 254 dan 366 nm. tidak mengandung
Jika terdapat bercak Rhodamin B.
berwarna hampir sama Dengan Rf baku
dengan nilai Rf yang Rhodamin B adalah
hamper mendekati maka 0,896
sampel dinyatakan
mengandung Rhodamin B
VIII. Perhitungan
8.1 Pembuatan ammonia 10 % dan 2 % dengan pengenceran dari
25 %
 25 % . x = 10 % . 100 mL
x = 40 mL ammonia 25 % di add 100 mL etanol
 25 % . x = 2 % . 100 mL

x = 8 mL ammonia 25 % di add 100 mL etanol

8.2 Pembuatan asam asetat 10 % dengan pengenceran dari 100 %


100 % . x = 10 % . 100 mL
x = 10 mL asam asetat 100 % di add 100 mL etanol

8.3 Pembuatan Baku Rhodamin 1 % dalam 10 ml


1
x 10 mL = 0,1 gram = 100 mg
100

8.4 Rf baku Rhodamin B


5,2
= 0,896
5,8

IX. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian kualitatif terhadap sampel
kerupuk yang kemungkinan mengandung rhodamin B. Analisis kualitatif
merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies dan/atau
senyawa-senyawa yang ada di salam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif
berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang
dituju dalam suatu sampel.
Pewarna termasuk zat tambahan pangan yang bertujuan untuk
memperbaiki penampilan dari makanan atau minuman agar lebih menarik
perhatian. Menurut PerKBPOM No. 2 tahun 2013 ada beberapa pewarna yang
sering disalahgunakan, yaitu methanil yellow, amaranth, auramine, dan rhodamin
B. Rhodamin B sering disalahgunakan sebagai pewarna untuk makanan, padahal
fungsi yang sebenarnya dari Rhodamin B adalah sebagai pewarna sintetik.
Penyalahgunaan ini dikarenakan dua hal, yaitu kurangnya wawasan
masyarakat mengenai pewarna yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk
pangan beserta bahayanya. Selain itu, karena harga pewarna untuk tekstil lebih
murah dibanding pewarna untuk pangan. Penggunaan Rhodamin B dalam jangka
Panjang bisa mengakibatkan berbagai masalah kesehatan yang serius, seperti
iritasi saluran pernapasan, iritasi saluran pencernaan, iritasi mata, gangguan hati,
kanker hati, bahkan ganggguan fungsi otak. Pada praktikum ini dilakukan analisis
kualitatif terhadap rhodamin B pada sampel kerupuk.
Rhodamin tergolong bukan bahan tambahan pangan, yang artinya tidak
diperbolehkan ada dalam pangan berapapun kadarnya. Oleh karena itu, analisis
untuk rhodamin cukup dengan analisis kualitatif. Analisis kualitatif bertujuan
untuk mengetahui ada atau tidaknya rhodamin dalam sampel yang diuji.
Metode yang digunakan pada analisis kualitatif rhodamin ini adalah
dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Nilai Rf sampel dan baku
rhodamin akan dibandingkan. Apabila nilai Rf keduanya sama, maka sampel
positif mengandung rhodamin. Begitu pula sebaliknya.
Hal yang menjadi titik kritis pada analisis Bukan Bahan Tambahan
Makanan (BBTM) pada makanan adalah saat preparasi. Preparasi dilakukan untuk
memisahkan zat yang hendak dianalisis dengan zat lainnya. Apabila saat preparasi
tidak berhasil mengekstraksi bahan yang akan dianalisis, maka hasil dari analisis
akan negatif palsu atau dengan kata lain sampel sebenarnya mengandung
Rhodamin B tetapi hasil analisis menunjukkan negatif.
Preparasi dari sampel dilakukan dengan menggerus kerupuk sampai halus
dan melarutkannya dalam ammonia 2% (yang dilarutkan dalam etanol 70%). Hal
ini karena berdasarkan kelarutannya, rhodamin mudah larut di dalam etanol.
Untuk memaksimalkan penarikan rhodamin b dari kerupuk maka campuran
didiamkan terlebih dahulu selama 20 menit. Setelah itu disaring untuk
memisahkan antara kerupuk dengan fasa cair. Pada proses ini dapat terlihat bahwa
cairan berwarna merah pucat, bukan berwarna merah terang sebagaimana
rhodamin pada umumnya. Hal ini dapat berarti dua hal, yaitu kadar rhodamin
yang kecil atau sampel tidak mengandung rhodamin.
Etanol merupakan pelarut universal yang artinya dapat melarutkan banyak
zat. Oleh karena itu saat kerupuk dilarutkan dalam ammonia 2% yang dilarutkan
dalam etanol 70%, banyak zat lain dari kerupuk yang ikut tertarik. Maka
selanjutnya dilakukan ekstraksi dengan menggunakan benang wool. Benang wool
didapat dari bulu domba yang telah direndam dalam n-heksana. Perendaman ini
bertujuan untuk membebaskan bulu domba dari asam lemak yang dikandungnya.
Sebelum diekstraksi dengan menggunakan benang wool, larutan
dipekatkan terlebih dahulu untuk menguapkan pelarut. Setelah itu ditambah
dengan air yang diasamkan. Kemudian, benang wool dimasukkan dan dipanaskan.
Pada proses ini rhodamin di dalam larutan akan tertarik ke dalam wool. Proses ini
berlangsung selektif yang artinya hanya rhodamin yang dapat tertarik ke benang
wool.
Proses penarikan rhodamin ke dalam wool terjadi dipercepat dengan
adanya panas. Pada wool terdapat ikatan sistina, yaitu ikatan antara sulfur dengan
sulfur pada asam amino yang membentuk wool. Rhodamin dengan bantuan
pemanasan akan bereaksi dan memecah ikatan tersebut, lalu membentuk
kompleks sehingga rhodamin berada di dalam wool.
Untuk pengujian dengan KLT maka diperlukan sampel berupa larutan.
Oleh karena itu, rhodamin di dalam wool ditarik kembali dengan ammonia yang
dilarutkan dalam etanol. Larutan yang didapat kemudian dianalisis menggunakan
kromatografi lapis tipis (KLT).
Uji Kualitatif Rhodamin ini dilakukan dengan menggunakan Kromatografi
Lapis Tipis atau KLT. Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis
kualitatif dari suatu sampel yang ingin di deteksi dengan memisahkan komponen-
komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Kromatografi lapis tipis
adalah metode pemisahan fisika-kimia dengan fase gerak (larutan pengembang
yang cocok) dan fase diam (bahan berbutir) yang diletakkan pada penyangga
berupa plat gelas atau lapisan yang cocok. Pemisahan terjadi selama perambatan
kapiler (pengembangan) lalu hasil pengembangan di deteksi. Zat yang memiliki
kepolaran yang sama dengan fase diam akan cenderung tertahan dan nilai Rf-nya
paling kecil. Prinsip Kromatografi lapis tipis adalah memisahkan komponen-
komponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam di bawah
gerakan pelarut pengembang.
Pada identifikasi Rhodamin dalam sampel makanan menggunakan KLT ,
fase gerak yang digunakan adalah pelarut campuran yaitu n-butanol: asam asetat:
air dengan perbandingan 4:1:1 . Penggunaan fase gerak dengan pelarut campuran
ini didasarkan atas dasar tingkat kepolaran dimana n butanol memiliki sifat non
polar, asam asetat memiliki sifat semi polar , dan air memiliki sifat polar.
Sebelumnya, dilakukan proses penjenuhan chamber dengan fase gerak
yang terdiri dari pelarut campuran berdasarkan perbedaan kepolaran hingga jenuh.
Selanjutnya dilakukan persiapan plat KLT dibagi 2 bagian, dimana jarak antara
penotolan dari tepi bawah 1 cm dan jarak antar spot 1.25 cm. Setelah itu plat KLT
yang telah ditotolkan (baku standar Rhodamin dan sampel kerupuk) dimasukkan
ke dalam chamber dan diamati hingga nodanya terelusi . Setelah itu diamati
secara visual.
Dari hasil identifikasi dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis
(KLT) yang dapat diperoleh adalah nilai Rf (Retardation Factor) . Rf merupakan
nilai dari jarak relatif pada pelarut. Nilai Rf dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑠𝑝𝑜𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑓𝑎𝑠𝑒 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘

Nilai Rf standar Rhodamin sebesar 0,896. Dari hasil pengujian tersebut


diperoleh nilai Rf sebagai berikut : jarak yang ditempuh spot untuk baku standar
sebesar 5,2 cm dan jarak yang ditempuh oleh fase gerak pada plat KLT sebesar
5,8 cm, maka nilai Rf untuk baku standar Rhodamin sebesar 0,896. Sedangkan
untuk sampel kerupuk yang telah ditotolkan pada plat klt tidak dapat diidentifikasi
nilai Rf. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Penotolan sampel yang tidak tepat dikarenakan sampel dari larutan
basa tidak dipekatkan, sehingga waktu melakukan identifikasi noda
atau spot yang terbentuk tidak dapat diamati.
2. Kesamaan sifat antar sampel dengan fase gerak . Sampel yang
mengandung Rhodamin memiliki sifat polar , fase gerak yang
digunakan merupakan pelarut campuran yang pemilihannya
berdasarkan tingkat kepolaran . Ini dapat mengakibatkan
sampelnya terbawa oleh fase gerak yang memiliki sifat yang sama
atas dasar prinsip “like dissolve like”.
Secara keseluruhan hasil dari uji kualitatif pewarna rhodamin B untuk
berbagai sampel kerupuk yang telah dianalisis menunjukkan hasil yang negatif.
Artinya tidak adanya senyawa rhodamin B dalam sampel yang telah dianalisis.

X. Kesimpulan

Penentuan Senyawa Rhodamin dalam sampel makanan (kerupuk) dapat


dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis
Tipis. Hasil yang didapatkan yaitu tidak adanya senyawa Rhodamin B dalam
sampel (kerupuk). Hal ini dapat ditunjukkan dengan nilai Rf baku Rhodamin
standar yaitu 0,896 sedangkan untuk nilai Rf sampel (kerupuk) tidak dapat
diidentifikasi.
DAFTAR PUSTAKA

BPOM RI. 2011. Laporan Tahunan. Jakarta : BPOM RI.


Dawile, S., 2013. Analisis Pewarna Rhodamin B pada Kerupuk yang Beredar di
Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi. UNSRAT Vol. 2 No. 03.
Hendayana, S. 2006. Kimia Pemisahan Metode Kromatografi dan Elektroforesis
Modern. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Moutinho, ILD Bertges, LC and Assis, RVC. 2007. Prolonged use of the food dye
tartrazine (FD&C yellow No 5) and its effects on the gastric mucosa of
Wistar rats. Braz. J. Biol. 67(1): 141-145.
Paulina, V., 2011. Identifikasi dan Penetapan Kadar Rhodamin B pada Jajanan
Kue Berwarna Merah Muda yang Beredar di Kota Manado. Jurnal Ilmiah
Sains. Vol. 11 No. 2.
Rahayu, M., 2016. Identifikasi Zat Pewarna Rhodamin B Dan Methanyl Yellow
Dalam Geplak Yang Beredar Di Beberapa Toko Oleh-Oleh Di Kota
Yogyakarta Tahun 2016. Jurnal Teknologi Labolatorium. Vol.5, No.1.
Utami, Wahyu dan Suhendi, Andi. 2009. ANALISIS RHODAMIN B DALAM
JAJANAN PASAR DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS
TIPIS. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, 10(2); 148 – 155.
Wijaya, D. 2011. Waspadai Zat Aditif dalam Makananmu. Yogyakarta: Buku
Biru.
Wulandari, Lestyo. 2011. Kromatografi Lapis Tipis. Jember: PT. Taman Kampus
Presindo.