Anda di halaman 1dari 11

SEMINAR PENDIDIKAN IPA

Artikel Literature Review: Pengaruh Model Problem Based Learning


Terhadap Kemampuan Penalaran dan Keterampilan Proses Sains Siswa
SMP

Oleh:

Ni Luh Gede Sri Pratiwi

1723071003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


PASCA SARJANA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2018
Literature Review: Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap
Kemampuan Penalaran dan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan
penalaran formal dan keterampilan proses sains. Model pembelajaran Problem
Based Learning adalah suatu proses pembelajaran dimana siswa diharapkan
mampu memiliki pola pikir yang terbuka, refktif, aktif, dan kritis melalui kegiatan
pembelajaran yang konteksnya adalah dunia nyata. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan metode analisis. Pertama, peneliti merumuskan masalah penelitian,
kemudian dilanjutkan dengan menelusuri penelitian yang sudah ada dan relevan
untuk dianalisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan
menggunakan non tes yaitu dengan menelusuri jurnal elektronik melalui google
Cendekiawan. Dari hasil penelusuran diperoleh 15 artikel dari jurnal yang
dianggap relevan. Berdasarkan hasil analisis ternyata model pembelajaran
Problem Based Learning mampu meningkatkan kemampuan penalaran formal dan
keterampilan proses sains.

Kata Kunci: Problem Based Learning, Penalaran, Keterampilan Proses Sains

I. Pendahuluan
Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab, merupakan tujuan dari pendidikan nasional (Undang-undang
No. 20 tahun 2003). Tujuan pendidikan nasional dapat diwujudkan melalui proses
pembelajaran di sekolah. Pembelajaran di sekolah meliputi berbagai bidang ilmu
pengetahuan, salah satunya adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang ikut
memberikan kontribusi yang besar untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Untuk memfasilitasi proses pembelajaran termasuk proses pembelajaran IPA,
berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk perbaikan kualitas
pendidikan.
Pendidikan di Indonesia dituntut untuk mengutamakan proses pembelajaran
yang bermakna. Pembelajaran menjadi bermakna jika siswa dapat memahami
pembelajaran dengan menghubungkan materi dalam kehidupan sehari-hari yang
dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Mengacu pada kompetensi diatas,
selain pengetahuan, pembelajaran IPA juga harus mampu mengembangkan aspek
proses yang yang meliputi keterampilan proses sains serta kemampuan penalaran
formal siswa. Dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains (KPS) dan
kemampuan penalaran formal sangat penting dalam pembelajaran IPA.
Keterampilan proses sains mempunyai peranan penting dalam membantu peserta
didik untuk menemukan konsep dan merupakan langkah penting dalam proses
belajar mengajar khususnya dalam menemukan konsep materi IPA. Upaya untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran dapat dilakukan denan pembelajaran yang
kreatif dan inovatif. Pembelajaran inovatif mengutamakan siswa sebagi pusat
pembelajaran. Peran guru di dalam proses pembelajaran tetaplah menjadi kunci
sukses sebuah pendidikan. Salah satu model pembelajaran yang menempatkan
siswa sebagai pembelajaran adalah Problem Based Learning (PBL).

II. Kajian Pustaka


Problem Based Learning

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu menumbuhkan


pemahaman siswa tentang konsep dan menumbuhkan cara berpikir siswa.
Salah satu model pembelajaran yang mampu menumbuhkan pemahaman konsep
dan cara berpikir siswa, adalah Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL). Pembelajaran Problem Based Learning adalah seperangkat
model mengajar yang menggunakan masalah sebagai fokus untuk
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi, pengaturan diri
(Hmelo-Silver, 2004). Hmelo-Silver (2006) mempertegas bahwa PBL
mengharuskan siswa untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri.
Guru hanya berperan sebagai seorang fasilitator dalam proses pembelajaran dan
campur tangannya berkurang saat siswa semakin bertanggung jawab atas proses
belajar mereka sendiri. Pernyataan sejalan juga disampaikan oleh Ulger (2018)
bahwa PBL memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanggung jawab atas
pembelajaran mereka sendiri, dan guru menjadi fasilitator dari proses
pembelajaran.
Selain itu PBL juga dinyatakan sebagai pendekatan pengajaran yang
berpusat pada siswa yang memungkinkan siswa untuk menjadi peserta yang aktif
dalam memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, bekerja sama dalam
pembelajaran, bekerja dalam tim pada masalah atau proyek, serta mampu
mengambil tanggung jawab yang lebih banyak (Ates & Eryilmaz, 2011). Susanti,
A. E, & Suwu, S. E. (2016) berpendapat bahwa Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) adalah pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan
berpikir kritis siswa, melalui bertanya dan menjawab pertanyaan, menganalisis
serta memecahkan permasalahan baik secara kelompok maupun pribadi. Melalui
pendekatan PBL siswa belajar melalui aktivitas pemecahan masalah yang dapat
mengasah keterampilan berpikir siswa. Problem Based Learning merupakan
pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks
bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang
esensial dari materi pelajaran (Yunin Nurun Nafiah dan Wardan Suyanto, 2014).
Pernyataan tersebut juga didukung oleh Menurut Ali Mushon (2009) Problem
Based Learning adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai
langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru.
Supiandi & Hendrikus (2016) menyatakan kemampuan pemecahkan
masalah adalah proses dasar untuk mengidentifikasi masalah, mempertimbangkan
pilihan, dan membuat pilihan informasi. Problem Based Learning adalah metode
pembelajaran di mana masalah yang relevan diperkenalkan pada awal
pembelajaran dan digunakan untuk memberikan konteks dan motivasi untuk
mengikuti pembelajaran memerlukan kondisi kolaboratif atau kooperatif yang
aktif dan melibatkan belajar mandiri siswa Michael (2004) dalam (Shishigu., et al,
2016). Menutut Hidayah dan Pratiwi (2016) Problem based learning merupakan
model pembelajaran yang lebih menekankan pada pemecahan masalah atau
masalah dalam kehidupan nyata sebagai titik tolaknya, yang pada dasarnya model
pembelajaran PBL lebih menekankan bahwa siswa tidak disajikan dengan
pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri.
Tan (2003) dalam (Fitriyani., dkk, 2015) menyatakan bahwa PBL melatih
siswa untuk mengembangkan dan mendalami permasalahan dengan meningkatkan
kesadaran mereka mengenai cara yang berbeda dalam berpikir untuk penyelesaian
suatu masalah. Pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran
yang ideal yang dapat digunakan guru untuk membantu siswa menentukan solusi
untuk masalah yang dimunculkan dari dunia nyata, Strobel & Van Barneveld
dalam (Ulger, 2018). Pada prinsipn ya PBL me nekankan pada peningkatan
dan perbaikan cara belajar dengan tujuan untuk menguatkan konsep dalam situasi
nyata, mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, keterampilan
memecahkan masalah, meningkatkan keaktifan belajar siswa, mengembangkan
keterampilan membuat keputusan, menggali informasi, meningkat- kan percaya
diri, tanggung jawab, kerjasama dan komunikasi.
Berdasarkan urain di atas maka dapat kita simpulkan bahwa model
pembelajaran berbasis masalah (Probelem Based Learinng) merupakan suatu
model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran serta
mengutamakan permasalahan sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan dan
konsep melalui kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Kemampuan Penalaran
Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka
emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap
objektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi.
Kemampuan penalaran menjadi salah satu tujuan dalam pembelajaran matematika
di sekolah yaitu melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan,
mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, serta mengembangkan
kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan ide-ide melalui
lisan, tulisan, gambar, grafik, peta, diagram, dan sebagainya. Menutut Sumartini
(2015) Penalaran merupakan suatu kegiatan atau proses berpikir untuk
menarik kesimpulan atau membuat pernyataan baru yang didasarkan pada
pernyataan sebelumnya dan kebenarannya telah dibuktikan.
Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang dimiliki
peserta didik dalam proses kegiatan pembelajaran IPA yan mencerminkan
perilaku ilmuwan. Menurut Subali (2011) dalam (Supahar, dkk., 2017)
Keterampilan proses sains merupakan keterampilan kinerja yang memuat aspek
keterampilan koginitif, dimana keterampilan tersebut merupakan keterampilan
intelektual yang melatarbelakangi penguasaan keterampilan proses sains.
Kesercioglu (2104) dalam (Supahar dkk., 2017) Keterampilan proses sains
dikategorikan menjadi dua kategori. Kategori yang pertama adalah keterampilan
proses sains dasar, yang di dalamnya termasuk keterampilan yang sering
ditemui setiap harinya seperti obervasi, inferensi, prediksi, mengukur, melakukan
eksperimen, dan klasifikasi. Kategori kedua adalah keterampilan proses sains
terintegrasi yang dikembangkan dari keterampilan proses sains dasar. Sedangkan
Sandall dan Singh (2011) dalam (Supahar dkk., 2017) menyebutkan keterampilan
proses sains terintegrasi di antaranya yaitu menyusun hipotesis, generalisasi,
merekam dan mengintepretasi data menidentifikasi dan mengontrol variabel,
dan membuat keputusan. Hancer dan Yilmaz dalam ( Wirda, dkk., 2015)
menyatakan bahwa keterampilan proses sains dapat mengkonstruksi pengetahuan
siswa. Pengetahuan siswa ketika melakukan kegiatan eksperimen dapat
menumbuhkan motivasi tersendiri untuk belajar lebih baik sehingga keterampilan
proses sains dapat tercapai.
Menurut (Hafez & Masji, 2015) Keterampilan proses sains dikenal sebagai
keterampilan prosedural, eksperimental dan menyelidiki kebiasaan sains pikiran
atau kemampuan inkuiri ilmiah. Selaian itu, menurut Ozgelen (2102)
keterampilan proses sains adalah keterampilan berpikir yang digunakan oleh para
scientist untuk mengkonstruk pengetahuan guna memecahkan masalah dan
merumuskan hasil. Selanjutnya Chiappetta & Koballa, (2002) dalam Hafez &
Masji (2015) mengklasifikasikan keterampilan ilmiah dasar dan terintegrasi
sebagai berikut: mengobservasi, mengukur, menyimpulkan, hipotesis dan
mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan proses sains terpatu terdiri dari:
mengkontrol varibel, merumuskan hipotesis, menakukan percobaan,
menginterpretasi data. Pada prosesnya siswa dididik dan dilatih untuk terampil
dalam memperoleh dan mengolah informasi melalui aktivitas berpikir dengan
mengikuti prosedur (metode) ilmiah, seperti terampil melakukan pengamatan,
pengukuran, pengklasifikasian, penarikan kesimpulan, dan pengkomunikasian
hasil temuan. Menurut Siswono (2017) Karakteristik keterampilan proses sains
tersebut dikembangkan menjadi indikator dari keterampilan proses sains yakni,
menuliskan rumusan masalah, identifikasi besaran fisika, menuliskan hipotesis,
merancang alat percobaan, menentukan langkah percobaan, menggunakan alat
percobaan, berkomunikasi atau berdiskusi, menuliskan data pengamatan,
menuliskan hasil penghitungan data, menyajikan hasil percobaan, menuliskan
analisis dan pembahasan, dan menyimpulkan. Indikator tersebut memuat aspek
kognitif, psikomotorik dan afektif.

III. Metode
Pencarian literatur sistematis dilakukan untuk mengidentifikasi dan
mengambil studi empiris yang relevan dengan tinjauan ini. Beberapa dataase yang
dijadikan sebagai acuan pencarian artikel, seperti Sciencedirect dan Google
Cedekiawan. Kata kunci yang digunakan peneliti dalam penelusuran artikel
adalah “Problem Based Learning”, “Penalaran formal” dan “ keterampilan proses
sains”. Sebelum melakukan analisi jurnal, jurnal yang telah terkumpul terlebih
dahulu dikempokkan sesuai jenis jurnal meliputi tahun jurnal dan variabel yang
terkait. Penulis membatasi pencarian artikel studi yang diterbitkan dalam jurnal
dalam rentang waktu antara tahun 2006 hingga Agustus 2018. Pencarian ini
menghasilkan total 25 artikel. Selanjutnya, abstrak semua artikel 25 dibaca oleh
penulis untuk memutuskan apakah artikel tersebut dapat diambil atau tidak.
Diputuskan diambil 15 artikel yang relevan untuk digunakan.

IV. Hasil dan Pembahasan


Hasil penelitian diperoleh 25 artikel yang terkait dengan model
pembelajaran Problem Based Learning. Data hasil laporan penelitian masih
sangat luas, oleh arena itu hanya diambil 15 artikel yang relevan. Data artikel
tersebut diolah dengan cara merangkum dan menentukan inisari hasil penelitian
Problem Based Learning. Kemudian data dilaporkan kembali dengan cara
deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian Sumartini (2015) bahwa model pembelajaran problem
based leraning dapat meningkatakan penalaran matematis ssiwa. Hal ini
ditunjukkan oleh tabel hasilkemampuan penalaran selama diberikan perlaluan.
Tabel 1. Hasil Peningkatan Penalaran Matematis

Berdasarkan tabel 1 di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem


Based Learning dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa
Terdapat kenaikan yang signifikan antara kemampuan penalaran matematis
siswa setelah mendapat perlakuan. Siswa pada kelas eksperimen memperoleh
rataan yang lebih besar dari kelas kontrol.
Hasil penelitain Lufta dkk (2014) menyatakan bahwa penerapan model
pembelajaran PBL pada pembelajaran Fisika dapat menumbuhkan keterampilan
proses sains siswa SMA. Keterampilan proses sains siswa yang mengalami
pembelajaran PBL lebih baik daripada pembelajaran konvensional, hal
tersebut dibuktikan dari tabel di bawah ini.
Tabel 2. Skor Rata-Rata Keterampilan Proses Sains Kelas Eksperimen dan Kelas
Kontrol

Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem


Based Learning dapat meningkatkan keterampilan pross sains. Kelas kontrol tidak
memiliki persentase skor rata-rata keterampilan hipotesis karena tidak diberi
perlakuan yang menuntut siswa untuk berhipotesis. Hasil penelitan Wirda (2105)
menyatakan Pembelajaran dengan model Problem Based Learning (PBL) dapat
meningkatkan Keterampilan Proses Sains siswa dalam belajar secara signifikan,
pembelajaran ini dapat menciptakan pembelajaran aktif dengan pendekatan
ilmiah.
Jurnal pendukung lainnya yang masih terkait dengan Problem Based
Learning (PBL) seperti yang diungkapkan oleh (Aziz, dkk., 2014) bahwa Model
pembelajaran PBL lebih baik dari metode konvensional dalam meningkatkan
kemampuan belajar mandiri siswa. Hasil penelitian (Fitriani, dkk., 2015)
mengungkapkan ada pengaruh yang signifikan strategi pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) terhadap keterampilan metakognitif siswa. Penelitian
Merritt et al (2017) menyatakan bahawa problem based learning adalah metode
yang efektif untuk meningkatkan prestasi akademis sains siswa K-8, termasuk
retensi pengetahuan, pengembangan konseptual, dan sikap. Jurnal tersebut
mengindikasikan bahwa model pembelajaran problem based learning memiliki
peran yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi akademis sains siswa,
yang mencangkup pengetahuan, pengembangn konsep dan sikap ilmiah.

V. Simpulan
Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sudah
banyak dilakukan peneliti. Hasil analisis meta menunjukkan bahwa model
Problem Based Learning (PBL) mampu meningkatkan keterampilan proses sains
dan pelaran matematis.

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, M.S., Ahmad, N., & Samsudin. 2014. The effects of problem-based learning
on self-directed learning skills among physics undergraduates. International
Journal of Academic Research in Progressive Education and Development.
3(1). 126-137. Tersedia pada: URL: http://dx.doi.org/10.6007/IJARPED/v3-
i1/694.
Ejin, Syahroni. 2016. Pengaruh model problem based learning (PBL) terhadap
pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV SDN
Jambu Hilir Baluti 2 Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Jurnal
Pendidikan. 1(1). 65-71. Tersedia pada:
https://doi.org/10.26740/jp.v1n1.p66-72.
Fitriyani, Aloysius, & Ibrohim. 2015. Pengaruh strategi pembelajaran problem
based learning dan inkuiri terbimbing terhadap keterampilan metakognitif,
berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif siswa SMA. Jurnal Pendidikan
Sains. 3(4). 186-200. Tersedia pada: http://journal.um.ac.id/index.ph.
Hafez, A,Z., & Masji, R. 2015. Science process skills and attitudes toward science
among palestinian secondary school students. World Journal of Education.
5(1). 13-24. Tersedia pada: www.sciedu.ca/wje.
Hidayah, R., & Pratiwi. 2016. Pengaruh PBL terhadap keterampilan proses sains
dan hasil belajar kognitif IPA pada siswa SD. Jurnal Prima Edukasia. 4(2).
186-197. Tersedia pada: http://journal.uny.ac.id/index.php/jpe.
Hmelo-Silver, C. E., & Barrows, H. S. (2006). Goals and strategies of a problem-
based learning facilitator. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based
Learning. 1(1). 21-39. Tersedia pada: https://doi.org/10.7771/1541-
5015.1004.
Lutfa, a., Sugianto, & Sulhadi. 2014. Penerapan model pembelajaran pbl
(problem based learning) untuk menumbuhkan keterampilan proses sains
pada siswa SMA. Unnes Physics Education Journal. 3(2). Tersedia pada:
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej.
Merrit, J., Yeon, Peter, R. & Barbara. 2017. Problem-based learning in k–8
mathematics and science education: a literature review. Interdisciplinary
journal of problem-based learning. 11(2), Article 3. Tersedia pada :
https://doi.org/10.7771/1541-5015.1674.
Muhson, A. (2009). Peningkatan minat belajar dan pemahaman mahasiswa
melalui penerapan problem based learning. Jurnal Kependidikan: Penelitian
Inovasi Pembelajaran. 39(2). 171-182. Tersedia pada:
https://journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/view/212.
Nafiah, Y. N., & Suyanto, W. (2014). Penerapan model problem based learning
untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa.
Jurnal Pendidikan Vokasi. 4(1). 125-143. Tersedia pada:
http://dx.doi.org/10.21831/jpv.v4i1.2540.
Ozgelen, S. (2012). Students science process skills within a cognitive domain
framework. Eurasia Journal of Mathematics Science & Technology
Education. 8(4). 238-292.
Shishigu, W., Beyene, & Shiferaw. 2016. The effect of problem based learning
(pbl) instruction on students’ motivation and problem solving skills of
physics. EURASIA Journal of Mathematics Science and Technology
Education. 13(3). 857-871.
Siswono, H. 2017. Analisis pengaruh keterampilan proses sains terhadap
penguasaan konsep fisika siswa. Momentum: Physics Education Journal.
1(2). 83-90. Tersedia pada:
http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/momentum.
Sumartini, S. 2015. Peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa melalui
pembelajaran berbasis masalah. Jurnal Pendidikan Matematika. 5(1). 1-10.
Supahar, Rosana, Marina, & Deby. 2017. Performance assessment instrument of
science process skills conform the nature of science. Jurnal Cakrawala
Pendidika. 36(3). 435-445.
Supiandi, I, M., & Hendrikus. 2016. Pengaruh model problem based learning
(pbl) terhadap kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar kognitif
siswa biologi SMA. Jurnal Pendidikan Sains. 4(2). 60-64. Tersedia pada:
http://journal.um.ac.id/index.ph.
Ulger, K. 2018. The effect of problem-based learning on the creative thinking and
critical thinking disposition of students in visual arts education.
Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. 12(1). Tersedia pada:
https://doi.org/10.7771/1541-5015.1649.
Wirda, Abdul, H., & Ibnu. 2015. Penerapan pembelajaran model problem based
learning (pbl) untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan motivasi
belajar siswa pada materi alat-alat optik. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia.
3(2). 131-140. Tersedia pada: http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpsi.