Anda di halaman 1dari 5

4.

FILM ( Radiochromic film)


Film radiokromat merupakan film yang langsung berubah warna ketika terpapar radiasi
pengion dan tidak memerlukan proses kimia maupun fisik. Film radiokromatik terdiri
dari berbagai macam jenis dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan radiologi (kV foton)
maupun radioterapi (MV foton, electron, proton).
 Prinsip kerja
Film radiokromatik memiliki dua jenis prinsip reaksi dasar utama. Pertama,
radiasileucodyes yang bersifat sensitive. Kedua, mengubah molekul foto
monomer yang tidak berwarna menjadi berwarna melalui perubahan kimia.

Gambar tersebut merupakan gambar radiasileuco menjadi senyawa berwarna.


Pada reaksi tersebut ikatan rangkap dari senyawa memiliki kemampuan untuk
menyerap foton dari cahaya tampak sehingga dapat menghasilkan senyawa
yang berwarna.
Gambar selanjutnya ialah gambar reaksi perubahan monomer menjadi pilimer.
Beberapa senyawa kimia organik akan mengalami fotopolimerisasi apabila
disinari dengan sinar UV menjadi bentuk kristal yang sangat banyak. Reaksi
perubahan monomer menjadi polimer dapat terjadi apabila ada perubahan secara
thermal, fotokimia maupun apabila terkena iradiasi gama. Respon pada film
radiokromat dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain suhu, kelembaban da
sinar UV. Suhu dan kelembaban saat penyimpanan, pembacaan maupun saat
penyinaran kadang dapat menyebabkan kesalahan dalam pembacaan dosis.
Selain itu, kebanyakan film radiokromat sensitif terhadap radiasi UV karena
dapat mengubah warna film secara spontan. Oleh karena itu, penanganan yang
baik dan tepat akan dapat mengeliminasi paparan sinar UV.

 Kelebihan dan Kekurangan


Kelebihan dari film kromatik ini ialah dapat membedakan jenis radiasi yang
mengenainya dan mempunyai rentang pengukuran energy yang lebih besar, lebih
praktis dalam hal pemrosesan film, tidak memerlukan pemrosesan secara kimia.
Sedangkan kekurangannya adalah untuk mengetahui dosis yang telah
mengenainya harus diroses secara khusus dan membutuhkan peralatan tambahan
untuk membaca tingkat kehitaman filn, yaiut densitometer.

5. Dosimeter Termoluminensi (TLD)

Dosimeter ini sangat menyerupai dosimeter film badge, hanya detektor yang digunakan
adalah kristal anorganik thermoluminensi, misalnya bahan LiF. Proses yang terjadi pada
detektor ini apabila dikenai radiasi sama halnya dengan proses detektor sintilasi.
Perbedaannya adalah bahwa cahaya tampak baru akan dipancarkan, setelah kristal
dipanaskan. Proses ini disebut proses termoluminensi. Senyawa lain yang sering
digunakan untuk TLD adalah CaSO4, CaF2 yang mengandung bahan pengotor Mn.
 Prinsip Kerja dan Komponen

Sebagaimana diketahui bahwa beberapa bahan memiliki kemampuan untuk


menyimpan energi radiasi pengion yang diterimanya. Jika bahan tersebut mendapat
rangsangan berupa energi panas yang cukup maka akan dipancarkan cahaya tampak
dengan intensitas sebanding dengan energi total yang diserap oleh bahan tersebut. Materi-
materi yang memiliki sifat tersebut disebut fosfor. Selain bahan-bahan yang telah
disebutkan di atas, bahan-bahan lain yang termasuk bahan fosfor, antara lain: NaCl,
LiB4O7.

Radiasi ionisasi yang memasuki detektor akan berinteraksi dengan kristal


termoluminensi, menyebabkan elektron yang berada dalam pita valensi berpindah ke pita
konduksi. Elektron-elektron ini tidak dapat kembali pada keadaan semula, yaitu pada pita
valensi karena elektron ini sengaja “dijebak” oleh pita energi. Apabila kristal dipanaskan,
elektron akan kembali pada pita valensi dengan melepaskan/memancarkan foton cahaya.
Jumlah elektron yang tereksitasi/berpindah dari pita valensi ke pita konduksi sebanding
dengan jumlah dosis radiasi yang mengenai detektor.

Pemanasan pada TLD menyebabkan TLD itu memancarkan cahaya tampak yang
ditangkap oleh foto katoda sehingga terjadi pelepasan elektron dari permukaan foto
katoda itu. Elektron-elektron yang dilepaskan ini selanjutnya diarahkan ke tabung
pengganda elektron yang di dalamnya terdapat dinoda-dinoda. Setiap kali elektron
menumbuk dinoda akan menyebabkan terlepasnya elektron-elektron lain dari dinoda
tersebut. Dengan demikian terjadi pelipatgandaan jumlah elektron di dalam tabung
pengganda elektron. Elektron-elektron itu dapat menghasilkan pulsa listrik yang akan
diproses lebih lanjut oleh sistem rangkaian alat pencacah sehingga diperoleh data hasil
cacahan radiasi dari TLD.

Panas yang diberikan sama dengan energi yang diperlukan untuk men”jebak”
elektron-elektron dalam pita konduksi. Pada umumnya, banyaknya puncak cahaya dalam
hasil pembacaan menunjukan tempattempat yang berbeda , sesuai dengan tingkat
energinya dalam pita konduksi yang menangkap elektron. Jumlah total cahaya itu
merupakan total energi yang dilepaskan oleh seluruh elektron untuk kembali pada pita
valensinya, yang sebanding energi radiasi yang masuk ke dalam detektor. Sedangkan
intensitas cahaya sebanding dengan dosis radiasinya. Dosis radiasi dapat ditentukan
dengan menghitung jumlah foton cahaya yang dipancarkan. Secara praktek, perhitungan
dosis dapat dilakukan oleh penentuan daerah spektrum foton cahaya yang dipancarkan
oleh bahan TLD.

Alat yang digunakan untuk memproses dosimeter ini adalah TLD reader. Sistem
pembacaan TLD secara garis besar terdiri dari planchet, PMT dan elekrometer. Planchet
berfungsi untuk meletakkan dan memanaskan materi TLD, PMT berfungsi menangkap
cahaya luminisensi dan mengubah menjadi sinyal listrik, dan memperkuat sinyal akhir.
Sinyal hasil pembacaan TLD disebut kurva pancar atau “glow curve”. Kurva pancar
diperoleh dengan memberikan panas dengan laju kenaikan panas secara konstan sampai
suhu tertentu, dan kurva digambarkan sebagai fungsi suhu.

 Kelebihan dan kekurangan TLD

Kelebihan TLD dibandingkan dengan film badge adalah terletak pada tingkat
ketelitiannya. Selain itu, ukuran kristal TLD relatif lebih kecil dan setelah diproses kristal
TLD tersebut dapat digunakan lagi. Kekurangannya adalah: biaya awalnya mahal, dan
data dosis akan hilang setelah proses pembacaan.

6. GEL Dosimetry
Dosimeter gel dibuat dari bahan kimia yang sensitive terhadap radiasi. Setelah
mengalami penyinaran radiasi pengion akan terjadi perubahan dasar dalam hal sifat
sebagai fungsi dari dosis radiasi yang diserap. Terdapat dua tipe dosimeter gel yaitu
fricke gel dosimeter dan polimer gel dosimeter. Fricke dan polimer gel dosimeter
biasanya dievaluasi atau 'read-out' menggunakan magnetic resonance imaging (MRI),
tomografi komputer optik (CT), CT x-ray atau ultrasound.
 Fricke gel dosimeter
sifat relaksasi resonansi magnetik nuklir (NMR) dari larutan Fricke atau sulfida
sulfat yang diiradiasi menunjukkan bahwa perubahan yang disebabkan radiasi, di
mana ion besi (Fe2+) diubah menjadi ion besi (Fe3+), dapat dikuantifikasi
menggunakan pengukuran relaksasi NMR. larutan dosimetri Fricke yang tersebar
di seluruh matriks gel dapat digunakan untuk memperoleh informasi dosis spasial
tiga dimensi (3D) menggunakan magnetic resonance imaging (MRI). Hal ini
kemudian menunjukkan bahwa dosimeter gel Fricke yang diiradiasi tidak
mempertahankan distribusi dosis yang stabil secara spasial karena difusi ion
dalam dosimeter yang diiradiasi.

 Polimer gel dosimeter


Dosimeter polimer gel rentan terhadap penghambatan oksigen atmosfer dari
proses polimerisasi. Akibatnya, dosimeter gel ini harus diproduksi di lingkungan
yang bebas oksigen, seperti dalam kotak sarung tangan yang dipompa dengan gas
nitrogen.

 Kelebihan dan kekurangan


Kelebihan yang dimiliki dosimetri gel adalah resolusi spasial tinggi dalam
mencatat dan menyimpan informasi deposisi, dapat memproduksi dalam anatomis
setara phatom, dapat menyerap dosis sama dengan air/tisu. Sedangkan
kekurangnnya adalah secara klinis belum diadopsi secara luas, untuk pembacaan
tidak sesalu tersedia.