Anda di halaman 1dari 24

TUGAS INDIVIDU

RISET KEPERAWATAN
Analisis Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Berobat Pasien (DM) Diabetes
Mellitus Tipe II Di RS Untan

DOSEN PEMBIMBING : Ns. ARINA NURFIANTI, M.Kep.

Rangga Hariyanto
I1031141045

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
BAB 1

1.1 Latar Belakang

Penyakit degeneratif telah menjadi masalah kesehatan dunia yang cukup besar.
Prevalensi dan insiden penyakit ini meningkat secara drastis di negara-negara industri baru dan
negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini ditandai dengan perubahan gaya hidup
terutama di kota-kota besar, seperti semua hampir serba otomatis, makanan makin beragam,
semakin banyak makanan yang berkalori tinggi, manis, serta mengandung banyak gula yang
menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif, salah satunya adalah penyakit
diabetes melitus (Topan dalam Wahyudi & Bejo Santoso 2014).

Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan
kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner ,Suddarth dalam dalam Wahyudi & Bejo
Santoso 2014). Penyakit DM sering disebut the great imitator, karena penyakit ini dapat
mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan bermacam keluhan. Gejala sangat bervariasi dan
secara perlahan-lahan, sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan, seperti minum
menjadi lebih banyak, buang air kecil menjadi lebih lebih sering ataupun makan menjadi lebih
sering (Tandra dalam Wahyudi & Bejo Santoso 2014).

Hasil Studi (Mihardj dalam Vera Tombokan, A. J. M Ratu & Ch. R. Tilaar 2015)
menyatakan prevalensi responden yang mempunyai riwayat DM meningkat sesuai dengan
bertambahnya usia. Prevalensi lebih banyak pada wanita dan kelompok sosio-ekonomi yang
lebih tinggi. Faktor yang berhubungan dalam pengendalian gula darah adalah usia, jenis kelamin,
dan minum atau injeksi obat diabetes. Studi ini menunjukkan sebagian besar responden belum
mengetahui ataupun menyadari apa yang seharusnya mereka lakukan untuk mengontrol penyakit
diabetes.

Menurut laporan World Health Organization (WHO), jumlah penderita diabetes melitus
di Indonesia menduduki peringkat keempat terbesar di dunia. WHO memprediksi kenaikan
jumlah penyandang diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar
21,3 juta pada tahun 2030. Senada dengan WHO, International Diabetes Federation (IDF dalam
dalam Vera Tombokan, A. J. M Ratu & Ch. R. Tilaar 2015) pada tahun 2009, memprediksi
kenaikan jumlah penyandang Diabetes mellitus dari 7,0 juta pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta
pada tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya
menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun
2030 (Anonim dalam Vera Tombokan, A. J. M Ratu & Ch. R. Tilaar 2015), Upaya pencegahan
komplikasi pada penderita diabetes melitus dapat dilakukan dengan meningkatkan kepatuhan
untuk memaksimalkan outcome terapi.

Menurut (Sarafino dalam Inda Nofriani Safitri 2013) mendefinisikan kepatuhan


(Compliance) adalah tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan
oleh dokternya atau oleh yang lain. Lutfey, Wishner dalam Inda Nofriani Safitri 2013)
mengemukakan konsep kepatuhan (Compliance) dalam konteks medis, sebagai tingkatan yang
menunjukkan perilaku pasien dalam mentaati atau mengikuti prosedur atau saran ahli medis.
(Kaplan dalam Inda Nofriani Safitri 2013) mendefinisikan kepatuhan (Compliance) yang juga
dikenal dengan ketaatan (Adherence) adalah derajat dimana pasien mengikuti anjuran klinis dari
dokter yang mengobatinya.

Ada berbagai cara tindakan dan terapi yang bisa perawat berikan kepada pasien DM
(Diabetes Melituss) salah satu tindakan yang bisa diberikan kepada pasien DM (Diabetes
Melitus) dengan cara meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien untuk mengurangi dampak
komplikasi yang cukup berat. Kepatuhan meminum obat pada pengobatan diabetes melitus
sangat penting karena dengan minum obat secara teratur teratur dapat mengontrol kadar gula
darah. Tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap pengobatan diabetes melitus akan meningkatkan
efektivitas pengobatan serta mencegah dampak buruk dari penyakit diabetes melitus, kepatuhan
minum obat dalam jangka panjang mampu menurunkan morbiditas dan mortalitas pasiennya
(Misnadiarly dalam Wahyudi & Bejo Santoso 2014).

Kepatuhan pengobatan adalah kesesuaian pasien terhadap anjuran atas medikasi yang
telah diresepkan yang terkait dengan waktu, dosis, dan frekuensi. Hubungan antara pasien,
penyedia layanan kesehatan, dan dukungan sosial merupakan faktor penentu interpersonal yang
mendasar dan terkait erat dengan kepatuhan minum obat. Salah satu faktor yang berperan dalam
kegagalan pengontrolan glukosa darah pasien diabetes melitus tipe 2 adalah faktor
ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. Faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan
pengobatan dan penyakit antara lain faktor pasien, faktor demografi, sosio ekonomi, durasi atau
lamanya penyakit, dan keparahan penyakit (Rasdianah, Martodiharjo, Andayani & Hakim 2016).
Keberhasilan proses kontrol terhadap penyakit diabetes melitus sangatlah ditentukan oleh
kepatuhan berobat yang tinggi, agar dapat mencegah segala komplikasi yang ditimbulkan oleh
penyakit diabetes melittus. Meskipun memerlukan tingkat kepatuhan pengobatan yang tinggi,
kenyataannya tingkat kepatuhan penderita dalam menjalankan program manajemen penyakit
tidak cukup baik. (Given dalam Laane, Hadi & Tungka) mengatakan bahwa tingkat kepatuhan
berobat secara umum dipengaruhi oleh beberapa factor seperti; pendidikan, pengetahuan, sikap,
motivasi, dan persepsi pasien tentang keparahan penyakit.

Faktor pendukung berjalanan nya Semua hal tersebut akan lebih dilakukan dengan adanya
dukungan dari keluarga (Garcı ́a-Pe ŕ ez, Alvarez, Dilla, Gill-Guillen, Orozco-Beltran dalam
Nurleli 2016). Keikutsertaan anggota keluarga dalam memotivasi untuk mengkonsumsi obat
secara teratur, penyediaan makanan yang sesuai dengan diet, mengingatkan untuk melakukan
latihan fisik, dan mengontrol kadar gula darah secara rutin merupakan bentuk peran aktif bagi
penatalaksanaan DM. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul
“Analisis gambaran pengetahuan dan faktor-faktor dukungan keluarga terhadap kepatuhan
berobat pasien (DM) Diabetes mellitus tipe II Di RS Untan”.
1.2 Rumusan masalah

Bagaimana gambaran pengetahuan dan faktor-faktor dukungan keluarga terhadap


kepatuhan berobat pasien (DM) Diabetes mellitus tipe II Di RS Untan

1.3 Tujuan penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1.3.1 Mendeskripsikan dan menjelaskan gambaran pengetahuan dan faktor-faktor dukungan


keluarga terhadap kepatuhan berobat pasien (DM) Diabetes mellitus tipe II Di RS
Untan.

1.3.2 Menjelaskan faktor-faktor dukungan keluarga terhadap kepatuhan berobat pasien (DM)
Diabetes Melitus tipe II Di RS Untan.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat antara lain :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian secara teoritis diharapkan dapat :
1.4.1.1 Memberikan sumbangan bagi upaya pengembangan wawasan keilmuan bidang
Psikologi, khususnya dalam bidang Psikologi Klinis.
1.4.1.2 Menambah wacana serta sumber refrensi bagi Penderita DM, ranah kesehatan, serta
kalangan dietisien.
1.4.1.3 Menambah refrensi bagi khalayak umum akan pentingnnya kesehatan dan menjaga pola
hidup.
1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan bahan masukan bagi
tenaga kesehatan, orang-orang sekitar penderita DM dan juga bagi penderita itu sendiri
dalam meningkatkan kepatuhan berobat. Urgensi dalam penelitian ini dimaksudkan agar
hasil dari penelitian mampu memberikan motivasi, mengajak para penderita DM untuk
menjaga kesehatan sehingga kualitas hidup tetap bisa dirasakan. Sedangkan untuk kalangan
akademisi dan khalayak umum semoga penelitian ini bisa memberikan gambaran tentang
pentingnya menjaga kesehatan dan pola hidup.
BAB 2
PERSPEKTIF TEORITIK DAN KAJIAN PUSTAKA

1.1 Landasan Teori


Landasan teori mengenai pandangan atau paradigma penyusun definisi yang berpengaruh
terhadap konsep dasar teorinya. mengungkapkan bahwa teori merupakan seperangkat proposisi
yang berinteraksi secara sintaksis (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan
secara logis dengan data-data lainya atas dasar yang diamati dan berfungsi sebagai wahana untuk
meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.
2.2 Definisi
Diabetes Melitus Tipe II adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan
gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau gangguan fungsi
insulin (Fatimah. 2015). Diabetes Mellitus Tipe II terjadi jika insulin hasil produksi pankreas
tidak cukup atau sel lemak sehingga terjadilah otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin,
sehingga terjadilah gangguan pengiriman gula ke sel tubuh. Diabetes Tipe II ini merupakan tipe
diabetes yang paling umum dijumpai, juga sering disebut diabetes yang dimulai pada masa
dewasa, dikenal dengan NIDDM (Noninsulin-dependent diabetes melitus). Jenis diabetes ini
mewakili 90 persen dari seluruh kasus diabetes (Sustrani,dalam Ratna & Afrida 2014).
Pada dasarnya, diabetes melitus disebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak
mencukupi atau tidak efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal. Padahal, insulin
mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa di dalam darah, yaitu (pada orang normal)
sekitar 60-120 mg/dl waktu puasa,dan di bawah 140 mg/dl pada dua jam sesudah makan
(Tjokroprawiro dalam Ratna & Afrida 2014).
2.3 Patogenesis
Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya kekurangan insulin
secara relatif maupun absolut.Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan (Fatimah, 2015),
yaitu:
a) Rusaknya sel-sel B pankreas karena pengaruh dari luar (virus,zat kimia,dll)
b) Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas
c) Desensitasi atau kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer
2.4 Faktor Resiko
Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan dengan
beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko yang dapat diubah dan
faktor lain. Menurut (American Diabetes Association (ADA) dalam Fatimah, 2015) bahwa DM
berkaitan dengan faktor risiko yang dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Faktor risiko yang tidak dapat diubah, meliputi riwayat keluarga dengan DM (first degree
relative), umur ≥45 tahun, etnik, riwayatmelahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi
>4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan
beratbadan rendah (<2,5 kg).
b) Faktor risiko yang dapatdi ubah, meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25kg/m2 atau
lingkar perut ≥80 cm pada wanita dan ≥90 cm pada laki-laki, kurangnya aktivitas fisik,
hipertensi, dislipidemi dan diet tidak sehat.
Faktor risiko lain yang terkait dengan peningkatan risiko diabetes mellitus (DM) menurut
(Fatimah, 2015) ada 8 yaitu :
1) Obesitas (kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada derajat
kegemukan dengan IMT > 23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah
menjadi 200mg%.
2) Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak tepatnya
penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi
pembuluh darah perifer
3) Riwayat keluarga Diabetes Melitus
Seorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen diabetes. Diduga
bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot
dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Mellitus
4) Dislipedimia
Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida > 250
mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (< 35
mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.
5) Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus adalah > 45 tahun.
6) Riwayat persalinan
Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan bayi > 4000 gram.
7) Faktor Genetik
DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental Penyakit ini sudah
lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko emperis dalam hal
terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika orang tua atau
saudara kandung mengalami penyakitini.
8) Alkohol dan rokok
Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan frekuensi DM
tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan peningkatan obesitas
dan pengurangan ketidak aktifan fisik, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan
perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat- baratan yang meliputi
perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam
peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu metabolisme gula darah terutama pada
penderita DM, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan
darah. Seseorang akan meningkat tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih
dari 60ml/hari yang setara dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.
2.5 Klasifikasi
Klasifikasi etiologis DM menurut (American Diabetes Association 2010 (ADA) dalam
Ndaha, 2014) , dibagi dalam 4 jenis yaitu:
a) Diabetes Melitus Tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus/IDDM
DM tipe 1 terjadi karena adanya destruksi sel beta pankreas karena sebab autoimun. Pada
DM tipeini terdapat sedikit atau tidak sama sekali sekresi insulin dapat ditentukan dengan
level protein c-peptida yang jumlahnya sedikit atau tidak terdeteksi sama sekali.
Manifestasi klinik pertama daripenyakit ini adalah ketoasidosis.
b) Diabetes Melitus Tipe 2 atau Insulin Non-dependent Diabetes Mellitus/NIDDM
Pada penderita DM tipe ini terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin tidak bisa membawa
glukosa masukke dalam jaringan karena terjadi resistensi insulin yang merupakan
turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan
perifer dan untuk menghambat produksiglukosa oleh hati. Oleh karena terjadinya
resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap kadarnya masih
tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi relatif insulin. Haltersebut dapat
mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin pada adanya glukosa bersama bahan sekresi
insulin lain sehingga sel beta pankreas akan mengalami desensitisasi terhadap adanya
glukosa. Onset DM tipe ini terjadi perlahan-lahan karena itu gejalanya asimtomatik.
Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan mengakibatkan sensitivitas reseptor
akan glukosa berkurang. DM tipeini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikas.
c) Diabetes Melitus Tipe Lain
DM tipe ini terjadi karena etiologi lain, misalnya pada defek genetik fungsi sel beta,
defek genetic kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, penyakit metabolik endokrin
lain, iatrogenik, infeksi virus, penyakit autoimun dan kelainan genetik lain.
d) Diabetes Melitus Gestasional
DM tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana intoleransi glukosa didapati pertama
kali padamasa kehamilan, biasanya pada trimester kedua dan ketiga. DM gestasional
berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal. Penderita DM gestasional
memiliki risiko lebih besar untukmenderita DM yang menetap dalam jangka waktu 5-10
tahun setelah melahirkan.
2.6 Patofisiologi
Dalam patofisiologi DM tipe 2 terdapat beberapa keadaan yang berperan yaitu (Fatimah, 2015) :
1) Resistensi insulin
2) Disfungsi sel B pancreas
Diabetes melitus tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, namun karena
sel sel sasaran insulin gagal atau tidak mampu merespon insulin secara normal.Keadaan ini lazim
disebut sebagai “resistensi insulin”.1,8 Resistensi insulinbanyak terjadi akibat dari obesitas dan
kurang nya aktivitas fisik serta penuaan.Pada penderita diabetes melitus tipe 2 dapat juga terjadi
produksi glukosa hepatik yang berlebihan namun tidak terjadi pengrusakan sel-sel B langerhans
secara autoimun seperti diabetes melitus tipe 2. Defisiensi fungsi insulin pada penderita diabetes
melitus tipe 2 hanya bersifat relatif dan tidak absolute.
Pada awal perkembangan diabetes melitus tipe 2, sel B menunjukan gangguan pada
sekresi insulin fase pertama,artinya sekresi insulin gagal mengkompensasi resistensi insulin.
Apabila tidak ditangani dengan baik,pada perkembangan selanjutnya akan terjadi kerusakan sel-
sel B pankreas. Kerusakan sel-sel B pankreas akan terjadi secara progresif seringkali akan
menyebabkan defisiensi insulin,sehingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen. Pada
penderita diabetes melitus tipe 2 memang umumnya ditemukan kedua faktor tersebut, yaitu
resistensi insulin dan defisiensi insulin.
Komplikasi
Pada DM yang tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun
komplikasi vaskuler kronik, baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Di Amerika Serikat,
DM merupakan penyebab utama dari end-stage renal disease (ESRD), nontraumatic lowering
amputation,dan adult blindness. Sejak ditemukan banyak obat untuk menurunkan glukosa darah,
terutama setelah ditemukannya insulin, angka kematian penderita diabetes akibat komplikasi
akut bisa menurun drastis. Kelangsungan hidup penderita diabetes lebih panjang dan diabetes
dapat dikontrol lebih lama. Komplikasi kronis yang dapat terjadi akibat diabetes yang tidak
terkendali menurut (Ndaha, 2014) adalah :
a) Kerusakan saraf (Neuropati)
Sistem saraf tubuh kita terdiri dari susunan sarafpusat, yaitu otak dan sumsum
tulang belakang, susunan saraf perifer di otot, kulit, dan organ lain, serta susunan saraf
otonom yang mengatur otot polos di jantung dan saluran cerna. Hal ini biasanya terjadi
setelah glukosa darah terus tinggi, tidak terkontrol dengan baik, dan berlangsung sampai
10 tahun atau lebih. Apabila glukosa darah berhasil diturunkan menjadi normal,
terkadang perbaikan saraf bisa terjadi. Namun bila dalam jangka yang lama glukosa
darah tidak berhasil diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak
dinding pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi
kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik (diabetic neuropathy).
Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf tidak bisa mengirim atau
menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim atau terlambat kirim.
Tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf dan saraf mana yang terkena. Prevalensi
Neuropati pada pasien DM tipe 1 pada populasi klinik berkisar 3% s/d 65.8% dan dalam
penelitian pada populasi berkisar 12.8% s/d 54%. Sedangkan pada pasien DM tipe 2
prevalensi neuropati pada populasi klinik berkisar 7.6% s/d 68.0% dan dalam penelitian
pada populasi berkisar 13.1% s/d 45.0%.
b) Kerusakan ginjal (Nefropati)
Ginjal manusia terdiri dari dua juta nefron dan berjuta-juta pembuluh darah kecil
yang disebut kapiler. Kapiler ini berfungsi sebagai saringan darah. Bahan yang tidak
berguna bagi tubuh akan dibuang ke urin atau kencing. Ginjal bekerja selama 24 jam
sehari untuk membersihkan darah dari racun yang masuk ke dan yang dibentuk oleh
tubuh. Bila ada nefropati atau kerusakan ginjal, racun tidak dapat dikeluarkan, sedangkan
protein yang seharusnya dipertahankan ginjal bocor ke luar. Semakin lama seseorang
terkena diabetes dan makin lama terkena tekanan darah tinggi, maka penderita makin
mudah mengalamikerusakan ginjal. Gangguan ginjal pada penderita diabetes juga terkait
dengan neuropathy atau kerusakan saraf.
c) Kerusakan mata (Retinopati)
Penyakit diabetes bisa merusak mata penderitanya dan menjadipenyebab utama
kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang disebabkan oleh diabetes, yaitu:
1) retinopati, retina mendapatkan makanan dari banyak pembuluh darah kapiler
yang sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi bisa merusak pembuluh darah
retina.
2) katarak, lensa yang biasanya jernih bening dan transparan menjadi keruh
sehingga menghambat masuknya sinar dan makin diperparah dengan adanya
glukosa darah yang tinggi.
3) glaukoma, terjadi peningkatan tekanan dalam bola mata sehingga merusak
saraf mata.
Prevalensiretinopati dengan penyakit DM tipe 1 berkisar 10.8% s/d 60.0% pada polpulasi
klinik dan 14.5% s/d 79.0% dalam penelitian pada populasi.Sedangkan pada pasien DM
tipe 2 prevalensi retinopati pada populasi klinik berkisar 10.6% s/d 47.3% dan dalam
penelitian pada populasi berkisar 10.1% s/d 55.0%.
d) Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Diabetes merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan
lemak di dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya suplai darah
ke otot jantung berkurang dan tekanan darah meningkat, sehingga kematian mendadak
bisa terjadi. Prevalensi Penyakit jantung koroner dengan penyakit DM (baik tipe 1 dan 2)
berkisar 1.0% s/d 25.2% pada polpulasi klinik dan 1.8% s/d 43.4% dalam penelitian pada
populasi. 50% dari prevalensi penyakit jantung koroner berkisar 0.5% s/d 8.7% dengan
Diabetes tipe 1 dan berkisar 9.8% s/d 22.3% dengan Diabetes tipe 2.
e) Penyakit pembuluh darah perifer
Kerusakan pembuluh darah di perifer atau ditangan dan kaki, yang dinamakan
Peripheral Vascular Disease (PVD), dapat terjadi lebih dini dan prosesnya lebih cepat
pada penderita diabetes daripada orang yang tidak mendertita diabetes. Denyut pembuluh
darah di kaki terasa lemah atau tidak terasa sama sekali. Bila diabetes berlangsung selama
10 tahun lebih, sepertiga pria dan wanita dapat mengalami kelainan ini. Dan apabila
ditemukan PVD disamping diikuti gangguan saraf atau neuropati dan infeksi atau luka
yang sukar sembuh, pasien biasanya sudah mengalami penyempitan pada pembuluh
darah jantung.
f) Gangguan pada Hai
Banyak orang beranggapan bahwa bila penderita diabetes tidak makan gula bisa
bisa mengalami kerusakan hati (liver). Anggapan ini keliru. Hati bisa terganggu akibat
penyakit diabetes itu sendiri. Dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes,
penderita diabetes lebih mudah terserang infeksi virus hepatitis B atau hepatitis C. Oleh
karena itu, penderita diabetes harus menjauhi orang yang sakit hepatitis karena mudah
tertular dan memerlukan vaksinasi untuk pencegahan hepatitis. Hepatitis kronis dan
sirosis hati (liver cirrhosis) juga mudah terjadi karena infeksi atau radang hati yang lama
atau berulang. Gangguan hati yang sering ditemukan pada penderita diabetes adalah
perlemakan hati atau fatty liver, biasanya (hampir 50%) pada penderita diabetes tipe 2
dan gemuk. Kelainan ini jangan dibiarkan karena bisa merupakan pertanda adanya
penimbunan lemak di jaringan tubuh lainnya.
g) Penyakit paru
Pasien diabetes lebih mudah terserang infeksi tuberculosis paru dibandingkan
orang biasa, sekalipun penderita bergizi baik dan secara sosioekonomi cukup. Diabetes
memperberat infeksi paru, demikian pula sakit paru akan menaikkan glukosa darah.
h) Gangguan saluran cerna
Gangguan saluran cerna pada penderita diabetes disebabkan karena kontrol
glukosa darah yang tidak baik, serta gangguan saraf otonom yang mengenai saluran
pencernaan. Gangguan ini dimulai dari rongga mulut yang mudah terkena infeksi,
gangguan rasa pengecapan sehingga mengurangi nafsu makan, sampai pada akar gigi
yang mudah terserang infeksi, dan gigi menjadi mudah tanggal serta pertumbuhan
menjadi tidak rata. Rasa sebah, mual, bahkan muntah dan diare juga bisa terjadi. Ini
adalah akibat dari gangguan saraf otonom pada lambung dan usus. Keluhan gangguan
saluran makan bisa juga timbul akibat pemakaian obat- obatan yang diminum.
i) Infeksi
Glukosa darah yang tinggi mengganggu fungsi kekebalan tubuh dalam
menghadapi masuknya virus atau kuman sehingga penderita diabetes mudah terkena
infeksi. Tempat yang mudah mengalami infeksi adalah mulut, gusi, paru-paru, kulit, kaki,
kandung kemih dan alat kelamin. Kadar glukosa darah yang tinggi juga merusak sistem
saraf sehingga mengurangi kepekaan penderita terhadap adanya infeksi.
2.7 Manifestasi klinis
Manifestasi klinis atau tanda dan gejala pada diabetes mellitus dapat dikaitkan dengan
konsekuensi metabolik defisiensi insulin (Price & Wilson, 2005). Tanda dan gejala yang khas
terjadi meliputi poliuri, polidipsi dan polifagi (Mansjoer et al., 2000).
a) Poliuri, Defisiensi insulin menyebabkan tidak dapat dipertahankannya kadar glukosa
plasma secara normal. Jika terjadi kondisi hiperglikemi melebihi ambangginjal, maka
akan menyebabkan kadar gula dalam urin menjadi tinggi (glukosuria). Glukosuria
tersebut dapat menyebabkan diuresis osmotik dan akan meningkatkan pengeluaran urin
(poliuri).
b) Polidipsi Diuresis osmotik yang terjadi akibat glukosuria yang mengakibatkan
pengeluaran cairan berlebih melalui urin akan menyebabkan timbulnya rasa haus
(polidipsi).
c) Polifagi Peningkatan pengeluaran urin menyebabkan hilangnya glukosa bersamaan
dengan keluarnya urin, sehingga akan terjadi ketidakseimbangan kalori. Hal tersebut
mengakibatkan timbulnya rasa lapar dan keinginan makan yang berlebih (polifagi) (Price
& Wilson, 2005)
Pasien DM tipe 2 mungkin sam sekali tidak memperlihatkan gejala apapun. Dan
diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di laboratorium dan melakukan tes
toleransi glukosa. Pada keadaan yang berat. Pasien tersebut mungkin menderita polidipsia,
pololiuria, lemah dan somnolen.
2.8 Diagnosis Diabetes Melitus tipe 2
Untuk mengakkan diagnosia DM tipe 2 diperlukan berbagai pemeriksaan seperti anamnesis
dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan lain sebagainya.
a) Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Biasanya ada keluhan poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang
tidak dapat dijalaskan sebabnya, lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
b) Pemeriksaan kadar glukosa darah
1) Gula darah puasa > 126 mg/dl (7.0 mmol/L), puasa artinya adalah tidak ada intake
kalori 8 jam sebelum pemeriksaan dilakukan.
2) Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dL (11.1 mmol/L).
3) Kadar tes kalori glukosa oral (TGOT) setelah makan >200mg/dl
c) Pemeriksaan glikosilat hemoglobin (HbA1c)
Selama 120 hari maka hidup hemoglobin dalam eritrosi, normalnya hemoglobin sudah
mengandung glukosa. Bila kadar glukosa meiningkat diatas normal, maka jumlah glikosit
hemoglobin juga akan meningkat. Pergantuan hemoglobin yang lamabt, nilai hemoglobin
yang tinggi menunjukan bahwa kadar glukosa darah tinggi selama 4 hingga 8 minggu.
Nilai glikosilt berkisar anatara 3,5% hingga 5.5 % (Schteingart, 2006) atau dibawah 7%
(Black & Hawks, 2015)
2.9 Panatalaksanaan
Terapi insulin dapat mencegah kerusakan endotel, menekan proses inflamasi, mengurangi
kejadian apoptosis, dan memperbaiki profil lipid. Dengan demikian secara ringkas dapat
dikatakan bahwa luaran klinis pasien yang diberikan terapi insulin akan lebih baik.Insulin,
terutama insulin analog, merupakan jenis yang baik karena memeliki profil sekresi yang sangat
mendekati pola sekresi insulin normal atau fisiologis (Gklinis dalam Hongdiyanto, Yamlean &
supriati, 2014).
Pada terapi kombinasi, pemberian obat antidiabetik oral maupun insulin selalu dimulai
dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar
glukosa darah. Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan adalah kombinasi
OHO dan insulin basal yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. Dengan pendekatan
terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis
insulin yang cukup kecil (Perkeni, dalam Hongdiyanto, Yamlean & supriati, 2014).
Dukungan Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatuka oleh kebersamaan dan kedekatan
emosional serta yang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari keluarga. Keluarga juga
didefenisikan sebagai kelompok individu yang tinggal bersama dengan atau tidak adanya
hubungan darah, pernikahan, adopsi dan tidak hanya terbatas pada keanggotaan dalam suatu
rumah tangga (Friedmen, 2010)
2.10 Tipe Keluarga
a) Keluarga inti (terkait dengan pernikahan) adalah keluarga yang terbentuk karena
pernikahan, peran sebagai orangtua atau kelahiran: terdiri atas suami, istri dan anak-anak
mereka baik secara biologis maupun adaptasi
b) Keluarga orientasi (keluarga asal) adalah unit keluarga tempat seseorang dilahirkan
c) Extended family, keluarga inti dan individu terkait lainnya (oleh hubungan darah), yang
biasanya merupakan anggota keluarga asal dari salah satu pasangan keluarga inti.
Keluarga ini terdiri atas “sanak saudara”dan dapat mencakup nenek/kakek/ bibi/ paman
dan sepupu.
2.11 Fungsi keluarga
Menurut (Friedman, 2010) terdapat 5 fungsi dasar keluarga yaitu:
a) Fungsi afektif
Fungsi mempertahankan kepribadian: menfasilitasi stabilisasi kepribadian orang dewasa,
memenuhi kebutuhan psikologi anggota keluarga
b) Fungsi social
Menfasilitasi sosialisasi primer anggota keluarga yang bertujuan untuk menjasi anggota
keluarga yang produktif dan memberikan status pada anggota keluarga.
c) Fungsi reproduksi
Mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa generasi dan untuk kelangsungan
hidup masyarakat.
d) Fungsi ekonomi
Menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi efektifnya.
e) Fungsi perawatan kesehatann
Menyediakan kebutuhan fisik, makan, pakaian dan tempat tinggal serta perawatan
kesehatan.
2.12 Penatalaksanaan DM tipe 2 dengan dukungan keluarga
Dari jurnal penelitian yang saya baca dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang
bermakna antara dukungan keluarga dengan kepatuhan penderita DM dalam menjalani
pengobatan (p value = .000). Rata-rata nilai dukungan keluarga adalah 70,46 dengan standar
deviasi 10,419. Hasil tersebut menunjukkan bahwa responden sering mendapatkan dukungan
dari keluarga baik dari aspek instrumental, informasi, penghargaan, dan emosional (Nurleli,
2016).
Menurut Coffman dalam Nurleli, 2016) menyatakan bahwa keluarga merupakan sumber
dukungan yang paling utama. Manusia membutuhkan dukungan dari sesamanya yaitu berupa
penghiburan, perhatian, penerimaan, atau bantuan dari orang lain. Dukungan yang diberikan
dapat berupa dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan penghargaan, dan
dukungan emosional (Peterson, Bredow dalam Nurleli, 2016) Dukungan dari keluarga tersebut
sangat membantu pasien DM dalam meningkatkan keyakinan akan kemampuannya untuk
melakukan perawatan diri. Disamping itu juga dapat menumbuhkan rasa aman dan nyaman yang
dapat meningkatkan motivasi. Dengan adanya dukungan keluarga sangat mendukung pasien DM
dalam mencapai kepatuhan terhadap pengobatan.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian bahwa nilai kepatuhan dalam pengobatan akan
meningkat sebesar 31% bila dukungan keluarga meningkat setiap satu satuan. Ada beberapa hal
penting yang dapat dilakukan untuk mendukung anggota keluarga yang menderita DM,
diantaranya dengan meningkatkan kesadaran diri untuk mengenali penyakitnya. Dukungan yang
lain yaitu dengan tinggal bersama dengan anggota keluarga yang sakit dan memberi bantuan,
menyediakan waktu, memberikan infomasi yang dibutuhkan, mendorong untuk terus belajar dan
mencari tambahan pengetahuan tentang DM (Mills, dalam Nurleli, 2016) .
2.13 Kepatuhan berobat dan pengobatan
Pasien diabetes melitus dalam menjalani terapi pengobatan membutuhkan kepatuhan
dalam minum obat. Kepatuhan meminum obat pada pengobatan diabetes melitus sangat penting
karena dengan minum obat secara teratur teratur dapat mengontrol kadar gula darah. Tingkat
kepatuhan yang tinggi terhadap pengobatan diabetes melitus akan meningkatkan efektivitas
pengobatan serta mencegah dampak buruk dari penyakit diabetes melitus, kepatuhan minum obat
dalam jangka panjang mampu menurunkan morbiditas dan mortalitas pasiennya (Misnadiarly
dalam wahyudi & Bejo Santoso, 2014).
Menurut (Niven dalam wahyudi & Bejo Santoso, 2014) bahwa kepatuhan minum obat
dipengaruhi faktor pengetahuan tentang manfaat dan kerugian mengikuti program pengobatan,
sikap, faktor keluarga dan tenaga kesehatan, dan pengaruh teman sebaya (kelompok), sedangkan
(Sihombing dalam wahyudi & Bejo Santoso, 2014) menyatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi kepatuhan pengobatan diabetes melitus, antara lain pemahaman dan sikap tentang
tujuan dan aturan pengobatan, harga obat, akses memperoleh obat diluar rumah sakit, perhatian
dan kepedulian keluarga, peran tenaga kesehatan (dokter dan perawat).
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara
mendalam (in-deoth interview). Studi kualitatif dapat didefinisikan sebagai metode penelitian
yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah, dimana peneliti sebagai
instrument kunci (Sugiyono,2013). Sedangkan metode deskriptif dimaksudkan untuk melihat
fenomena yang terjadi didalam suatu populasi tertentu (Notoadmojo,2010).
Pendekatan pada penelitian ini adalah pendekatan fenomenalogi. Fenomena merupakan
pendekatan filosofis untuk mempelajari fenomena dan pengalaman manusia, dengan tujuan
untuk menjelaskan pengalaman-pengalaman yang dialami manusia dalam kehidupannya.
(Saryono,2011). Tujuan pendekatan fenomena ini digunakan untuk menganalisis gambaran
analisis dukungan keluargaterhadap kepatuhan berobat pasien (DM) Diabetes Mellitus tipe II
di RS UNTAN.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


3.2.1 Tempat
Penelitian ini dilakukan di kota Pontianak Kalimantan Barat bertempat di RS Universitas
Tanjungpura Pontianak. Kemudian penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2017 –
Januari 2018.

3.2.2 Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember-Januari 2018
3.3 Populasi dan Subyek Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi target dalam penelitian ini adalah pasien DM (Diabetes Melitus) tipe 2 dan
keluarga pasien DM di RS Universitas Tanjungpura Pontianak. Populasi terjangkau pada
penelitian ini adalah pasien DM (Diabetes Melitus) tipe 2 yang terdapat atau terdata di
RS Univesitas Tanjungpura Pontianak.
3.3.2 Sampel
Subyek pada penelitian ini adalah pasien Diabetes Melitus (DM) tipe 2 di RS Universitas
Tanjungpura Pontianak dengan memperhatiakn kriteria inklusif dan eksklusif.
3.4 Kriteria Penelitian

3.4.1 Kriteria Inklusi

 Usia 35 sampai 60 tahun.


 Gula darah sewaktu >200 mmHg
 Merokok
 Bersedia menjadi responden.

3.4.2 Kriteria Eksklusi

 Usia <35 tahun dan >60 tahun.


 Gula darah sewaktu <200 mmHg
 Tidak merokok
 Tidak bersedia menjadi responden.

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian menggunakan wawancara mengenai Analisis Dukungan Keluarga


terhadap kepatuhan berobat pasien DM (Diabetes Melitus) Tipe 2 di Rs Untan. Wawancara
diawali dengan tahap orientasi dari peneliti kemudian data karakteristik responden dan
wawancara terdiri dari pertanyaan tentang analisis dukungan keluarga terhadap kepatuhan
berobat pasien DM (Diabetes Melitus Tipe 2.

\
Daftar Pustaka
Hongdiyanto,A, Yamlean,P,V,Y, & Supriati,S,H. (2014). Evaluasi Kerasionalan Pengobatan
Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pasien Rawat Inap Di Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
Tahun 2013. Jurnal Ilmiah Farmasi. Vol2. No2. ISSN 2302-2493
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/pharmacon/article/view/4775
Friedman,M,M, Bowden, V,R & Jones, E,G. (2010). Buku ajar keperawatan keluarga: Riset,
teori, dan praktik, alih bahasa, Akhir Yani S. Hamid dkk ; Ed 5. Jakarta: EGC
Wahyudin & Santoso,B. (2014). Gambaran Pengetahuan dan Dukungan Keluarga Dengan
Kepatuhan Berobat Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Payo
Selincah Kota Jambi Tahun 2014. Scientia Journal. Vol3. No2. ojs.stikesprima-
jambi.ac.id/index.php/sc/article/download/138/134
Fatimah,N,R. (2015). Diabetes Melitus tipe 2. J Majority. Vol3. No5
juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/download/615/619
Nurleli. (2016). Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Pasien Diabetes Melitus dalam
Menjalani Pengobatan Di Blud Rsuza Banda Aceh. Idea Nursing Journal. Vol4. No2. ISSN
2087-2879 www.jurnal.unsyiah.ac.id/INJ/article/viewFile/6454/5293
Tombokan,V, Rattu, A, J, M & Tilaar, R, Ch. (2015). Factors Correlated with Diabetes Mellitus
Patient Medication Adherence in Family Practice Physicians in Tomohon. JIKMU. Vol5.
No2. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jikmu/article/viewFile/7442/6986
Safitri, I, N. (2013). Kepatuhan Penderita Diabetes Mellitus Tipe II ditinjau dari Locus Of
Control. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Vol1. No2. ISSN 2301-8267
ejournal.umm.ac.id/index.php/jipt/article/viewFile/1583/1686
Rasdianah, N, Martodiharjo, S, Andayani, T, M & Hakim, L. (2016). The Description of
Medication Adherence for Patients of Diabetes Mellitus Type 2 in Public Health Center
Yogyakarta. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia. Vol5. No2. Hlm 249-257. ISSN 2252-6218
jurnal.unpad.ac.id/ijcp/article/viewFile/13488/pdf
Ndraha,S. (2014). Diabetes Melitus Tipe 2 dan Tatalaksana Terkini. MEDICINUS. Vol2. No2
http://cme.medicinus.co/file.php/1/LEADING_ARTICLE_Diabetes_Mellitus_Tipe_2_dan_tata_laksa
na_terkini.pdf.
Daud, R & Afrida. (2014). Hubungan Antara Pengetahuan Pasien Dm dengan Kepatuhan dalam
Menjalani Diet Khusus Di Rs Stella Maris Makassar. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosa.
Vol5. No4. ISSN 2302-1721 ejournal.stikesnh.ac.id/index.php/jikd/article/download/17/4/
Price, SA, Wilson, LM. (2005) Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2
Ed/6. Jakarta: EGC
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :
Umur :
Alamat :

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa setelah mendapatkan penjelasan penelitian dan


memahami informasi yang diberikan oleh peneliti serta mengetahui tujuan dan manfaat
penelitian, maka dengan ini saya secara sukarela bersedia menjadi responden dalam penelitian
yang akan dilakukan oleh Rangga Hariyanto Mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas
Tanjungpura Pontianak yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan
Perilaku Bullying Pada Remaja di Kota Pontianak Tahun 2017”. Dengan ini saya menyatakan
bersedia untuk turut berpartisipasi sebagai responden penelitian dengan sukarela dan tanpa
paksaan.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan penuh kesadaran tanpa paksaan
dari siapapun.

Pontianak, November 2017


Responden

( )
Lampiran 2
Pedoman Wawancara
A. Petunjuk umum
1. Tahap orientasi atau perkenalan.
2. Ucapkan terima kasih kepada responden atas ketersediaannya dan waktu yang telah
diluangkan untuk kegiatan wawancara.
3. Jelaskan maksud dan tujuan dari wawancara yang dilakukan peneliti.

B. Petunjuk wawancara mendalam


1. Wawancara mendalam akan dilakukan oleh peneliti.
2. Partisipan bebas menyampaikan segala pendapat, pengalaman, kritik maupun saran.
3. Pernyataan partisipan tidak bernilai benar atau salah.
4. Semua hasil wawancara akan dijamin kerahasiaannya.
5. Peneliti akan merekam hasil wawancara dengan responden untuk membantu
pencatatan hasil wawancara.

C. Identitas Responden
Nama (inisial) :
Umur :
Pendidikan :
Hari & Tanggal :
Waktu :

D. Pertanyaan saat wawancara


No Pertanyaan
1 Apakah keluarga anda memberikan dorongan untuk tetap menjaga kesehatan?
2 Apakah keluarga anda menganjurkan untuk makan dan minum tepat waktu?
3 Apakah keluarga anda mengingatkan anda untuk makan sesuai aturan yang dianjurkan oleh
tenaga kesehatan?
4 Apakah keluarga anda memberikan perhatian penuh kepada anda dalam kesehatan atau pun
pola hidup anda?
5 Apakah keluarga anda memberikan makanan dan minuman walaupun melanggar aturan?
6 Apakah keluarga anda memberi pujian ketika ada kemajuan kesehatan?
7 Apakah keluarga anda member pujian atas usaha yang telah anda lakukan untuk menaati
dan menjalani kepatuhan berobat?
8 Apakah keluarga anda marah ketika anda tidak menaati aturan dan tidak menjalani
kepatuhan berobat ?
9 Apakah keluarga anda mengawasi pelaksaan kepatuhan berobat yang sedang anda jalani
sekarang?
10 Apakah keluarga anda memperhatikan kebutuhan anda dalam menjalankan kepatuhan
berobat atau pun sehari-hari anda ?
11 Apakah keluarga anda mengingatkan anda untuk mematuhi aturan dan kepatuhan berobat
yang sedang anda jalani?
12 Apakah keluarga anda memberitahu makanan apa saja yang harus anda hindari?
13 Apakah keluarga anda memberitahu dampak jika saya tidak mengikuti aturan yang sudah
dianjurkan tenaga kesehatan?
14 Apakah keluarga anda mengingatkan anda untuk memeriksa kadar gula darah secara rutin?
15 Apakah keluarga anda memberitahu tentang semua informasi yang ia dapatkan dari
dokter,perawat, atau tim kesehatan lain kepada anda ?
16 Apakah keluarga anda mengantar dan mendampingin anda ketika berobat ke pelayanan
kesehatan?
17 Apakah keluarga anda meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita ataupun keluhan-
keluhan anda?
18 Apakah keluarga anda menyiapkan makanan sesuai dengan aturan makan yang anda jalani?
19 Apakah keluarga anda melayani dan membantu ketika anda membutuhkan sesuatu?