Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 1

KELOMPOK TUTORIAL K

DOSEN TUTOR:

drg. Leni Rokhma Dewi, Sp.OM

BLOK 17 REKAM MEDIK DENTAL

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AJARAN 2018/ 2019
ANGGOTA TUTORIAL K

Dosen Tutor :drg. Leni Rokhma Dewi, Sp.OM.


Ketua :Pintan Qorina D. (161610101102)
Scriber :Aisya Nurrachma (161610101106)
Anggota :Astrid Ganadya N.I (161610101101)
Rizky Kurniawan (161610101103)
Paramadiva Zefina P. (161610101104)
Ajeng N.A (161610101105)
Dhilan Purna Aji (161610101107)
Syeifira Salsabila (161610101108)
M. Bintang Menara (161610101109)
Marisa Icha A (161610101110)
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas laporan tutorial. Laporan ini disusun untuk melaporkan hasil diskusi
kelompok turorial K dalam skenario 1 Blok 17 Rekam Medik Dental Semester Gasal 2018-2019.

Penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin
menyampaikan terimakasih kepada drg. Leni Rokhma Dewi, Sp.OM. selaku tutor yang telah
membimbing jalannya diskusi tutorial kelompok K dan memberi masukan yang membantu bagi
pengembangan ilmu yang telah didapatkan serta semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat berguna bagi pembaca
Jember, 25 Nopember 2018

Penyusun
SKENARIO 1

Seorang anak laki-laki usia 11 tahun datang ke RSGM UNEJ ingin menambalkan gigi belakang
kanan bawah yang berlubang karena sering kemasukan makanan. Hasil pemeriksaan klinik tampak
gigi 46 karies profunda, tes vitalitas positif, tes perkusi dan tekanan negatif, tampak juga gigi 75
tinggal sisa akar dan fistel pada bukal gigi 75. Tidak ada kegoyangan pada gigi 75. Oral Hygiene
pasien sangat jelek karena banyak kalkulus pada rahang atas dan rahang bawah. Hasil anamnesa
tidak ada kelainan sistemik. Apa yang harus dilakukan drg. berdasarkan skenario tersebut

.
STEP 1 (Clarifying unfamiliar terms)
- Fistel: saluran abnormal ( yang berasal dari proses patologis) dari permukaan organ tubuh
yang mengalami keradangan
- Tes vitalitas, tes perkusi, Tes Tekan
Tes vitalitas: tes untuk melihat apakah ada jaringan saraf sensorik yang menghantarkan
impuls, misalnya tes thermal (dingin: chlor etil, panas: gutapercha yg dipanaskan)
Tes perkusi dan tes tekan berfungsi untuk melihat ada/tidaknya kelainan periapikal
- Karies profunda: Karies yg mengenai lebih dari setengah dentin hingga mencapai pulpa

STEP 2 (Identifying problems)

1. Apa interpretasi dari tes pada skenario?


2. Bagaimana cara dokter gigi bisa mendapatkan diagnosis dari skenario (Karies profunda
dan fistel dari sisa akar)?
3. Bagaimana prognosis pada kasus di skenario?
4. Bagaimana rencana perawatan pada kasus di skenario?
5. Apakah selalu dilakukan tes vitalitas setiap ada keluhan gigi?

STEP 3 (Brainstorming)

1. Tes Vitalitas positif: masih ada persarafan gigi artinya pulpa masih vital
Tes tekan dan perkusi negatif: tidak ada kerusakan periapikal
Tes tekan dan perkusi positif:
- Rasa nyeri ringan-sedang, berarti ada inflamasi yang bersifat sedang
- Rasa nyeri tajam, berarti ada inflamasi periapikal yang lebih lanjut dan meluas
- Memeriksa kelainan di periodontal
2. Diagnosa digunakan untuk menentukan rencana perawatan yang ditegakkan melalui
pemeriksaan, yaitu:
a. Pemeriksaan subyektif: melalui anamnesa kepada pasien meliputi keluhan, nyeri
tajam/tidak, obat-obatan yang terakhir digunakan
b. Pemeriksaan objektif yang terdiri dari tes vitalitas, tes tekan, tes perkusi
- Tes vitalitas: tes thermal
- Tes perkusi: mengetahui inflamasi apikal, dengan cara mengetuk2 pada oklusal
gigi
- Tes tekan: mengetahui fraktur pada gigi, dengan cara menggigit ujung dari
instrumen
- Pemeriksaan karies: menggunakan sonde, keluhan pasien
- Cek kedalaman karies: menggunakan Probe
- Cek ketebalan dentin dan enamel untuk menentukan tipe karies

SOAP:
- Subjektif (keluhan utama, identitas pasien, riwayat penyakit keluarga, riwayat
penyakit, riwayat pengobatan, BMI),
- Objektif (gambaran klinis intraoral dan ekstraoral),
- Assesment (penilaian status yang diberikan dokter gigi dan berdasarkan riwayat medis
pasien),
- Planing (rencana perawatan)

Diagnosa pada kasus di skenario: Abses Periapikal dari sisa akar gigi 75, Pulpitis
Reversibel gigi 46

3. Prognosis 75 baik, karena:


- abses mengarah ke luar permukaan
- Apabila pasien bisa menjaga OH rongga mulut
- Gigi masih vital, tidak ada kelainan periapikal
- Gigi 75 akan diganti dengan gigi permanen, tidak ada kelainan sistemik (efektif dalam
rencana perawatannya)
Prognosis gigi 46 baik, karena gigi masih bisa direstorasi/dirawat

4. Perawatan dilakukan pada bidang Pedodonsia meliputi tindakan periodonsia, konservatif,


dan eksodonsia, yaitu:
- Tindakan pencegahan gingivitis dan periodontitis dengan scaling dan root planning
pada kalkulus RA dan RB
- KIE
- Medikasi gigi 75 untuk meminimalkan rasa sakit
- Pulp capping pada gigi 46
- Restorasi gigi 46
- Ekstraksi gigi 75, karena sudah masuk ke masa pergantian gigi geligi permanen

5. Tes vitalitas diperlukan setiap ada keluhan pada gigi, karena digunakan untuk menentukan
rencana perawatan terutama pada kasus karies serta untuk pertimbangan apakah gigi
tersebut masih bisa dipertahankan

STEP 4 (Mapping)

PEMERIKSAAN

SUBYEKTIF OBYEKTIF

DIAGNOSA

PROGNOSIS

RENCANA
PERAWATAN
STEP 5 (Learning Objective):

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prosedur diagnosa


2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prognosis pada kasus di skenario
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan rencana perawatan pada kasus di skenario
STEP 7 (Reporting)

LO 1: Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prosedur diagnosa

Prosedur Diagnosa
1. Pastikan keluhan utama
2. Kemudian setelah keluhan utama, dilanjutkan anamnesis secara sistematis

3. Lakukan pemeriksaan objektif untuk mendapatkan diagnosa tentatif. Apabila ada diagnosa
banding maka harus dilakukan pemeriksaan penunjang
4. Analisa data - data yang diperoleh

5. Tegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang


tepat
A. Pemeriksaan Subyektif
Pemeriksaan subyektif dilakukan dengan cara anamnesis dengan pasien. Anamnesis adalah
kegiatan komunikasi yang dilakukan antara dokter/operator sebagai pemeriksa dan pasien yang
bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penyakit yang diderita dan informasi lainnya yang
berkaitan sehingga dapat mengarahkan diagnosis penyakit pasien. Keluhan yang diajukan seorang
pasien yang diambil dengan teliti akan banyak membantu menentukan diagnosis dari suatu
penyakit. Anamnesa tersebut meliputi beberapa informasi dari pasien mengenai:

1. Riwayat Penyakit Sekarang


Hal ini meliputi keluhan utama dan anamnesis lanjutan. Keluhan utama adalah keluhan yang
membuat seseorang datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk mencari pertolongan,
misalnya : demam, sesak nafas, nyeri pinggang, dll. Keluhan utama ini sebaiknya tidak lebih
dari satu keluhan. Kemudian setelah keluhan utama, dilanjutkan anamnesis secara sistematis
dengan menggunakan tujuh butir mutiara anamnesis, yaitu
- Lokasi (dimana ? menyebar atau tidak ?)
- kronologis(kapan terjadinya?berapa lama?)
- Kuantitas keluhan (ringan atau berat, seberapa sering terjadi ?)
- Kualitas keluhan (rasa seperti apa ?)
- Faktor-faktor yang memperberat keluhan.
- Faktor-faktor yang meringankan keluhan.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Ditanyakan adakah penderita pernah sakit serupa sebelumnya, bila dan kapan terjadinya dan
sudah berapa kali dan telah diberi obat apa saja, serta mencari penyakit yang relevan dengan
keadaan sekarang dan penyakit kronik (hipertensi, diabetes mellitus, dll), perawatan lama,
rawat inap, imunisasi, riwayat pengobatan dan riwayat menstruasi (untuk wanita).
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Anamnesis ini digunakan untuk mencari ada tidaknya penyakit keturunan dari pihak keluarga
(diabetes mellitus, hipertensi, tumor, dll) atau riwayat penyakit yang menular.
4. Riwayat sosial dan ekonomi
Hal ini untuk mengetahui status sosial pasien, yang meliputi pendidikan, pekerjaan
pernikahan, kebiasaan yang sering dilakukan (pola tidur, minum alkohol atau merokok, obat-
obatan, aktivitas seksual, sumber keuangan, asuransi kesehatan dan kepercayaan)
B. Pemeriksaan Objektif
1. Pemeriksaan Ekstroral
Pemeriksaan ekstraoral, meliputi palpasi seluruh elemen wajah, tonus otot, asimetri fasial,
pembengkakan, perubahan warna, dan kepekaan atau nodus jaringan limfe servikal atau
fasial yang membesar. Pemeriksaan ekstraoral akan membantu mengidentifikasi sumber
keluhan pasien serta adanya perluasan inflamasi rongga mulut.
2. Pemeriksaan Intraoral
Memeriksa bibir, mukosa oral, pipi, lidah, palatum, dan otot-otot serta semua
keabnormalan. Periksa pula mukosa alveolar dan gingival-cekatnya untuk memeriksa
apakah ada perubahan warna, terinflamasi mengalami ulserasi, atau mempunyai saluran
sinus. Gigi geligi diperiksa untuk mengetahui adanya perubahan warna, fraktur, abrasi,
erosi, karies, restorasi yang luas, atau abnormalitas lain. Mahkota yang berubah warna
sering merupakan tanda adanya penyakit pulpa atau merupakan akibat perawatan saluran
akar yang telah dilakukan sebelumnya
a. Perkusi
Perkusi dapat menentukan ada tidaknya penyakit periodontal. Respons positif yang
jelas menandakan adanya inflamasi periodontium. Cara melakukan perkusi dengan
cara mengetukkan ujung kaca mulut yang diletakkan parallel atau tegak lurus mahkota
pada bagian insisal atau oklusal.
b. Palpasi
Untuk menentukan seberapa jauh inflamasi menyebar ke mukosa oral. Respon positif
dari palpasi menandakan adanya inflamasi di daerah periradikuler. Bagian-bagian
yang dipalpasi untuk menentukan adanya kelainan yaitu kelenjar saliva
(submandibular), TMJ dan limfa nodi.
c. Tes status periodontal
Dapat dilakukan dengan cara palpasi, perkusi, tes mobilitas gigi dan probing
d. Tes vitalitas pulpa, dengan melakukan tes termal
Tes dingin  menggunakan larutan chlor etil yang dibasahkan pada cotton palate.
Respon nyeri tajam dan sebentar akan timbul baik pada pulpa normal, pulpitis
reversible maupun irreversible. Akan tetapi jika responnya cukup intens dan
berkepanjangan, pulpa biasanya telah mengalami peradangan irreversible. Sebaliknya
jika pulpa nekrosis tidak akan memberikan respon.
Tes panas  menggunakan gutta percha yang dipanaskan dan diaplikasikan pada
permukaan fasial. Seperti halnya pada tes dingin, nyeri tajam dan sebentar
menandakan pulpa vital atau peradangan reversible. Respon hebat dan tidak cepat
hilang adalah pulpitis irreversible. Jika tidak ada respon menandakan pulpanya
nekrosis.
e. Tes jarum miller
Tes ini dilakukan jika kavitas sudah perforasi ke pulpa. Tes ini dilakukan dengan
memasukkan jarum miller ke dalam kavitas. Bila ujung jarum miller belum
menyampai saluran akar/apikal gigi namun sudah terasa sakit berarti gigi masih vital,
namun jika ujung jarum miller sudah mencapai saluran akar/apikal gigi tidak terasa
sakit berarti gigi sudah non vital.

LO 2: Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prognosis pada kasus di skenario

• Pada saat dilakukan perawatan ekstraksi, otomatis akan terjadi luka pada mukosa dan tulang.
Proses penyembuhan luka ini pada pasien anak-anak lebih baik dibandingkan dengan pasien
dewasa maupun lansia hal ini dikarenakan pada anak-anak belum terjadi penurunan fisiologis
tubuh. Selain itu, tingkat produksi kolagen pada pasien muda masih tinggi diikuti dengan
regenerasi sel yang baik juga. Tidak adanya penyakit sistemik juga mendukung proses
penyembuhan luka
• Prognosis dari ekstraksi sisa akar 75: Prognosis Baik , karena belum ada penurunan fisiologis
tubuh, proses penyembuhan luka tidak membentuk jaringan parut, sudah terbentuk fistula
(membentuk saluran ke arah superfisial  infeksi terlokalisir, tidak menyebar)
• Prognosis dari Perawatan Indirect Pulp capping pada gigi 46

⁻ Indikasi indirect pulp capping : lesi karies dalam, karies mendekati jaringan pulpa, karies
tidak melibatkan ruang pulpa, tidak ada mobilitas gigi, tidak ada riwayat nyeri spontan

⁻ Kontraindikasi indirect pulp capping: nyeri spontan berkepanjangan terutama pada malam
hari, mobilitas gigi berlebihan, lesi karies besar dengan paparan jelas pada pulpa

⁻ Untuk apeksogenesis dengan indirect pulp treatment dapat dilakukan dengan indikasi gigi
permanen dengan diagnosa pulpa normal atau pulpitis tanpa keluhan atau dengan diagnosa
pulpitis reversibel. Penegakan diagnosanya dilakukan dengan pemeriksaan radiografi dan
pemeriksaan klinis dan prognosis gigi dapat sembuh dari gangguan karies. Tujuannya
yaitu restorasi akhir harus dapat menjaga bagian interna gigi termasuk dentin dari
kontaminasi lingkungan oral. Kevitalan gigi harus dipertahankan. Tidak ada gambaran
resorpsi interna atau eksterna atau perubahan patologis lainnya. Gigi dengan akar yang
belum sempurna akan melanjutkan perkembangan akarnya dan apeksogenesis. Sedangkan
direct pulp cap diindikasi pada gigi dengan lesi karies kecil atau terpapar karena tindakan
mekanis dengan pulpa yang normal. Tujuannya agar vitalitas gigi dapat dipertahankan.
⁻ Evaluasi dari hasil perawatan apeksogenesis dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama,
setelah dilakukan perawatan dan akar tertutup sempurna, pulpa vital tetap dapat terjaga dan
pulpotomi dengan bahan Ca(OH)2 masih dapat dipertahankan dengan syarat pasien rajin
melakukan kontrol secara berkala setiap 3 atau 6 bulan sekali. Kedua, jika setelah
perawatan dan akar telah tertutup sempurna, maka pulpotomi dengan bahan Ca(OH)2 dapat
dibongkar dan digantikan dengan teknik pulpektomi dengan bahan gutta perca.
• Prognosis perawatan indirect pulp capping: proses penyembuhan mudah, tidak ada kelainan
periapikal dan periodontal (tes tekan dan perkusi negative), riwayat sakit tidak spontan jadi
keberhasilan tinggi
• Perawatan dikatakan berhasil jika:

⁻ vitalitas gigi masih bisa dipertahankan

⁻ tidak ada gambaran patologis pada gambaran radiografi

⁻ tidak ada infeksi berlanjut pada saluran akar gigi

⁻ terdapat gambaran kalsifikasi di ujung apeks pada gigi permanen muda

LO 3: Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan rencana perawatan pada kasus di


skenario

Perawatan dilakukan oleh operator berdasarkan kasus yang telah teridentifikasi


- Melakukan KIE, karena OH pasien buruk dan terdapat kalkulus pada rahang atas dan rahang
bawah, pasien diberikan edukasi mengenai cara menggosok gigi dan waktu gosok gigi yang
tepat.
- Scaling dan root planning pada kalkulus rahang atas dan rahang bawah
- Aplikasi TAF, digunakan untuk mengurangi resiko terjadinya karies
- Pada gigi 75 sisa akar dan terdapat fistula, dilakukan medikasi (tidak perlu diberi
antiinflamasi), dilakukan drainase agar tidak ada abses/pus yang tersisa yang dapat
menghambat anestesi, kemudian dilakukan Ekstraksi (diberi analgesik dan antibiotik setelah
ekstraksi) karena sudah terdapat benih gigi permanen Premolar yang akan mengganti gigi
75. Tidak menggunakan antibiotik karena tidak ada kelainan sistemik, masih terlokalisir ,
tetapi apabila ada kelainan sistemik bisa menggunakan antibiotik.
- Penatalaksanaan gigi dengan kondisi sisa akar harus memperhatikan kemungkinan
terjadi kelainan pada periapikal yang terjadi pada gigi tersebut. Tindakan medis yang
harus dilakukan tergantung dari kelainan periapikal yang ada.
- Gigi dengan kondisi sisa akar yang memiliki kelainan pada periapikal yang bersifat
akut, sebaiknya dilakukan terapi medikasi terlebih dahulu. Ekstraksi gigi yang
memiliki abses di daerah periapikalnya apabila dalam keadaan infeksi akut sebaiknya
dihilangkan dulu infeksinya kemudian dilakukan ekstraksi karena ekstraksi pada
stadium infeksi akut tidak hanya dikuatirkan terjadi penyebaran infeksi tetapi juga kerja
anastesi local yang kurang efektif, sehingga menimbulkan rasa sakit yang menambah
penderitaan pasien, meskipun ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa ekstraksi gigi
pada stadium akut justru akan menyebabkan terjadinya drainase pus dan akan
menyebabkan penyembuhan dini
- Pencabutan gigi secara umum memang harus mengikuti falsafah kehati-hatian, namun
pencabutan gigi dengan kondisi sisa akar seharusnya hal tersebut betul-betul diterapkan
Teknik yang digunakan dalam pencabutan gigi dengan kondisi sisa akar hampir sama
dengan pencabutan gigi geligi biasa, hanya pada pemilihan penggunaan forcep yang
berbeda dimana pada gigi dengan kondisi sisa akar, digunakan forcep yang memiliki
beak yang tertutup dan penggunaan elevator sering kali diterapkan. Penentuan metode
pencabutan gigi sisa akar dengan kelainan periapikal ditentukan setelah dilakukan
diagnostik klinis maupun radiografis (bila memungkinkan), terdapat dua macam
metode pencabutan gigi sisa akar dengan kelainan periapikal dental granuloma maupun
kista radikular dan pilihan metode yang digunakan tergantung ukuran dan lokasi kista
yang terlibat.
- Metode pertama adalah close methode yaitu pencabutan gigi disertai kuretase pada
jaringan periodontal tanpa prosedur pembuatan flap mukosa, metode ini digunakan bila
kelainan periapikal dental granuloma atau kista radikular ukuranya kecil sehingga
biasanya granuloma atau kista tersebut ikut terambil saat dilakukan pencabutan gigi.
Metode kedua adalah open methode yaitu pencabutan gigi disertai pengambilan kista
dengan prosedur pembuatan flap mukosa dan pengambilan sebagian tulang yang
menutupinya, metode ini digunakan bila kista radikular yang terlibat cukup besar
sehingga diperlukan akses yang cukup untuk mengambil kista, metode ini diakhiri
dengan pengembalian flap dan penjahitan.
- Prosedur pencabutan gigi sisa akar sama seperti prosedur pencabutan pada gigi biasa
hanya setelah pencabutan gigi, alveolus diperiksa secara teliti dengan cara visual.
Kondisi alveolus dan tepi oklusal alveolus, serta adanya jaringan lunak patologis
semuanya harus diperhatikan. Kuret yang tersedia dalam berbagai konfigurasi
merupakan alat yang ideal untuk memeriksa alveolus. Alat ini digunakan untuk
melepaskan keping-keping atau potongan-potongan tulang, jaringan granulasi dan juga
dinding granuloma maupun kista
- Pada gigi 46 dengan karies profunda, dilakukan perawatan endodontik seperti indirect pulp
capping kemudian dilakukan restorasi sementara atau permanen
Restorasi merupakan perawatan untuk mengembalikan struktur anatomi dan fungsi pada
gigi, yang disebabkan karies, fraktur, atrisi, abrasi dan erosi. Restorasi dapat dibagi atas dua
bagian yaitu plastis dan rigid. Restorasi plastis adalah teknik restorasi dimana preparasi dan
pengisian tumpatan dikerjakan pada satu kali kunjungan, tidak memerlukan fasilitas
laboratorium dan murah. Tumpatan plastis cenderung digunakan ketika struktur gigi cukup
banyak untuk mempertahankan integritas dengan bahan tumpatan. Restorasi rigid
merupakan restorasi yang dibuat di laboratorium dental dengan menggunakan model cetakan
gigi yang dipreparasi kemudian disemenkan pada gigi. Umumnya restorasi ini membutuhkan
kunjungan berulang dan penempatan tumpatan sementara sehingga lebih mahal untuk
pasien. Gigi pasca perawatan saluran akar menjadi lebih lemah karena adanya pembuangan
jaringan dentin di mahkota dan saluran akar, yang menyebabkan perubahan komposisi
struktur gigi. Hilangnya struktur gigi akibat prosedur perawatan akan mengurangi kekerasan
gigi sebanyak 5%, sementara hilangnya jaringan mahkota menyebabkan kelenturan
berkurang sampai dengan 60%. Kekuatan pada gigi pasca perawatan saluran akar,
tidakdipengaruhi pada prosedur perawatan saluran akar, akan tetapi preparasi yang luas
dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan gigi.
Restorasi akhir gigi pasca perawatan saluran akar merupakan bagian integral kunci
keberhasilan.Berdasarkan kenyataan bahwa kegagalan lebih sering disebabkan restorasi
yang tidak adekuat dibanding hasil perawatan saluran akarnya sendiri. Restorasi yang ideal
harus dapat melindungi permukaan oklusal dan menggantikan tonjol- tonjol yang hilang agar
dapat secara optimal melindungi struktur mahkota gigi dan menambah ketahanan.
- Kontrol periodik dengan penjadwalan Recall, digunakan untuk melihat perkembangan di
apeks gigi 46. Recall dilakukan 3-6 bulan sekali selama 2-3 tahun, kontrol terakhir setelah
4 tahun, kemudian melakukan evaluasi gigi 75
DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on Pulp Therapy for Primary and Immature
Permanent Teeth. http://www.angelofreireendodontia.com. 11 Oktober 2012.

Carranza's Clinical Periodontology Tenth Edition, 2006, Newman et al,Saunders Elsevier, St.
Louis

Budiyanti A. Perawatan Endodontik pada Anak. Jakarta: EGC, 2006: 50-55.

Guo, S. dan L. A. DiPietro. 2010. Factors Affecting Wound Healing. J Dent Res. 89(3): 219-229

Redhono D, Putranto W, & Budiastuti, VI. 2011. Anamnesis. Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret Surakarta

Walton RE. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia. Alih bahasa: Sumawinata N. Jakarta: EGC,
1998: 495-498.

Yuwono, B. 2010. Penatalaksanaan Pencabutan Gigi Dengan Kondisi Sisa Akar (Gangren
Radik). Stomatognatic (J.K.G Unej) Vol. 7 No. 2 2010: 89-95