Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PERBANDINGAN HUKUM PIDANA

PERBANDINGAN SISTEM PEMBUKTIAN YANG DIANUT


INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT

OLEH KELOMPOK 7 :

Irsia Afsari Nur (H1A116661) Muh. Candra R (H1A116714)

Siti Bonita (H1A116840) Wa Ode Asma (H1A116714)

Puspita Sari (H1A116900) Andi Asdar Desriansyah (H1A116899)

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat

menyelesaikan makalah Perbandingan Hukum Pidana dengan judul

“PERBANDINGAN SISTEM PEMBUKTIAN YANG DIANUT INDONESIA

DAN AMERIKA SERIKAT”. Dan kami juga berterima kasih kepada Ibu

Fitriah Faisal, S.H., M.H, selaku dosen mata kuliah Perbandingan Hukum

Pidana yang telah memberikan tugas ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka

menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai sistem

pembuktian yang dianut Indonesia dan Amerika Serikat. Kami juga

menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan

dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik,

saran dan usulan dari pembaca makalah ini. Demikian yang dapat kami

sampaikan, semoga makalah ini dapat dipahami dan dapat berguna bagi

siapapun yang membacanya.

Kendari, 4 November 2018

Penyusun

i
ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................i

DAFTAR ISI................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................1

A. Latar Belakang..............................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................3
C. Tujuan Penulisan..........................................................................3

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................4

A. Sistem Pembuktian Hukum Pidana............................................4


B. Perbandingan Sistem Pembuktian Yang Dianut Indonesia Dan

Amerika Serikat...........................................................................13

BAB III PENUTUP......................................................................................20

A. Kesimpulan................................................................................20
B. Saran.........................................................................................21

Daftar Pustaka...........................................................................................iii

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengembangan ilmu hukum pidana dan usaha pembaharuan

hukum pidana perlu ditunjang dengan pengkajian yang bersifat

komperatif. Studi perbandingan hukum merupakan bagian yang

sangat penting dan diperlukan bagi ilmu hukum serta bermanfaat

untuk dapat lebih memahami dan mengembangkan hukum nasional.

Hukum pidana di Indonesia tidak terlepas dari hukum acara

pembuktian proses pembuktian merupakan salah satu proses yang

paling penting karena tahap tersebut yang membuktikan apakah

seseorang yang diduga melakukan tindak pidana benar atau tidak

melakukan tindak pidana tersebut. maka pengkajian perbandingan

hukum atas pembuktian menurut sistem pembuktian yang dianut

Indonesia dengan Amerika Serikat diperlukan untuk dapat lebih

memahami dan mengembangkan sistem hukum nasional kita.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja sistem pembuktian dalam hukum pidana?
2. Bagaimana perbandingan sistem pembuktian yang dianut

Indonesia dan Amerika Serikat?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui sistem pembuktian hukum pidana.
2. Untuk mengetahui perbandingan sistem pembuktian yang dianut

Indonesia dan Amerika Serikat.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sistem Pembuktian Dalam Hukum Pidana


Sistem pembuktian bertujuan untuk mengetahui bagaimana

cara meletakkan hasil pembuktian terhadap perkara pidana yang

sedang diperiksa. Hasil dan kekuatan pembuktian yang bagaimana

yang dapat dianggap cukup memadai membuktikan kesalahan

terdakwa. Beberapa ajaran yang berhubungan dengan sistem

pembuktian :
1. Conviction-in Time
Sistem pembuktian conviction-in time menentukan salah

tidaknya terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian

“keyakinan” hakim. Keyakinan hakim yang menentukan

keterbuktian kesalahan terdakwa. Darimana hakim menarik dan

menyimpulkan keyakinannya, tidak menjadi masalah dalam sistem

ini. Keyakinan boleh diambil dan disimpulkan hakim dari alat-alat

bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan, bisa juga hasil

pemeriksaan alat-alat bukti itu diabaikan hakim, dan langsung

menarik keyakinan dari keterangan terdakwa. Sistem pembuktian

ini sudah tentu mengandung kelemahan. Hakim dapat saja

menjatuhkan hukuman pada seorang terdakwa semata-mata atas

“dasar keyakinan” belaka tanpa didukung oleh alat bukti yang

cukup. Sebaliknya hakim leluasa membebaskan terdakwa dari

tindak pidana yang dilakukan walaupun kesalahan terdakwa telah

2
cukup terbukti dengan alat-alat bukti yang lengkap, selama hakim

tidak yakin atas kesalahan terdakwa. Jadi, dalam sistem

pembuktian conviction-in time, sekalipun kesalahan terdakwa

sudah cukup terbukti, pembuktian yang cukup itu dapat

dikesampingkan keyakinan hakim. Sebaliknya walaupun kesalahan

terdakwa “tidak terbukti” berdasarkan alat-alat bukti yang sah,

terdakwa bisa dinyatakan bersalah, semata-mata atas “dasar

keyakinan” hakim. keyakinan hakim yang dominan atau yang lebih

menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Keyakinan tanpa alat

bukti yang sah, sudah cukup membuktikan kesalahan terdakwa.

Seolah- olah sistem ini menyerahkan sepenuhnya nasib terdakwa

kepada keyakinan hakimlah yang menetukan wujud kebenaran

sejati dalam sistem pembuktian ini. Sistem pembuktian ini banyak

di pakai oleh Negara-negara yang menggunakan sistem peradilan

juri, misalnya di Amerika serikat. Juri merupakan orang-orang sipil

yang di tunjuk oleh Negara dan mereka adalah pihak yang netral

yang tidak memiliki intrest atapun hubungan kekeluargaan dengan

terdakwa, para juri juga tidak mengetahui sama sekali latar

belakang perkara yang disidangkan. Kedua belah pihak yang

berperkara diperbolehkan untuk mewawancarai dan memilih juri

pilihannya. Para juri ini dipilih dari golongan masyarakat awam,

bukanlah dari golongan ahli hukum ataupun praktisi hukum. Hal ini

dikarenakan adanya harapan bahwa para juri memandang masalah

3
dengan seadil-adilnya. Juri jugalah yang memiliki wewenang untuk

menilai alat bukti yang diajukan dan menentukan salah (guilty) atau

tidaknya (not guilty) seorang terdakwa, dengan kata lain bersalah

atau tidaknya terdakwa tergantung kepada keyakinan para juri.

Sedangkan hakim hanya berperan sebagai pemimpin sidang dan

menjatuhkan vonis kepada terdakwa.


2. Conviction-Raisonee
Dalam sistem ini pun dapat dikatakan “keyakinan hakim”

tetap memegang peran penting dalam menentukan salah tidaknya

terdakwa. Akan tetapi, dalam sistem pembuktian ini, faktor

keyakinan hakim “dibatasi”. Jika dalam sistem pembuktian

conviction-in time peran “keyakinan hakim” leluasa tanpa batas

maka pada sistem conviction raisonee keyakinan hakim harus

didukung dengan alasan- alasan yang jelas. Hakim wajib

menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari

keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Tegasnya, keyakinan

hakim dalam sistem conviction-raisonee, harus dilandasi reasoning

atau alasan- alasan, dan reasoning itu harus “reasonable”, yakni

berdasarkan alasan yang dapat diterima. Keyakinan hakim harus

mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan benar-benar dapat

diterima akal. Tidak semata-mata atas dasar keyakinan yang

tertutup tanpa uraian alasan yang masuk akal.


3. Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif (Positief

Wettelick Bewijs Theorie)

4
Pembuktian menurut undang-undang secara positif

merupakan pembuktian yang bertolak belakang dengan sistem

pembuktian menurut keyakinan atau conviction-in time.


Pembuktian menurut undang-undang secara positif,

“keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian” dalam membuktikan

kesalahan terdakwa. Keyakinan hakim dalam sistem ini tidak ikut

berperan menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Sistem ini

berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang

ditentukan undang-undang. Untuk membuktikan salah atau

tidaknya terdakwa semata-mata “digantungkan pada alat-alat bukti

yang sah”. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan

pembuktian menurut undang-undang, sudah cukup menentukan

kesalahan terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan hakim.

apakah hakim yakin atau tidak tentang kesalahan terdakwa, bukan

menjadi masalah. Apabila sudah terpenuhi cara-cara pembuktian

dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, hakim

tidak lagi menanyakan keyakinan hati nuraninya akan kesalahan

terdakwa. Dalam sistem ini hakim seolah-olah “robot pelaksana”

undang-undang yang tidak memiliki hati nurani. Hati nuraninya tidak

ikut hadir dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa. sistem

ini mempunyai kebaikan. Sistem ini benar-benar menuntut hakim

wajib mencari dan menemukan kebenaran salah atau tidaknya

terdakwa sesuai dengan tata cara pembuktian dengan alat-alat

bukti yang telah ditentukan undang-undang. Dari sejak semula

5
pemeriksaan perkara, hakim harus melemparkan dan

mengesampingkan jauh-jauh faktor keyakinan, tetapi semata-mata

berdiri tegak pada nilai pembuktian objektif tanpa mencampur aduk

hasil pembuktian yang diperoleh di persidangan dengan unsur

subjektif keyakinannya. Sekali majelis hakim memperoleh hasil

pembuktian yang objektif sesuai dengan cara dan alat bukti yang

diatur undang-undang, tidak perlu lagi menanya dan menguji hasil

pembuktian tersebut dengan keyakinan hati nuraninya.


4. Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief

Wettelijk Bewijs Theorie)


Sistem pembukitan menurut undang-undang secara negatif

merupakan teori antara sistem pembuktian menurut undang-

undang secara positif dengan sistem pembuktian menurut

keyakinan atau conviction-in time.


Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negative

merupakan keseimbangan antara kedua sistem yang saling

bertolak belakang secara ekstrim. Dari keseimbangan tersebut,

sistem pembuktian menurut undang-undang secara negative

“menggabungkan” kedalam dirinya secara terpadu sistem

pembuktian menurut keyakinan dengan sistem pembuktian menurut

undang-undang secara positif. Dari hasil penggabungan kedua

sistem dari yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu

“sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif”.

Rumusannya berbunyi: salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan

oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan

6
alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang. Dengan demikian

sistem ini memadukan unsur “objektif” dan “subjektif” dalam

menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Tidak ada yang paling

dominan diantara kedua unsur tersebut. jika salah satu diantara

dua unsur itu tidak ada, tidak cukup mendukung keterbuktian

kesalahan terdakwa misalnya, ditinjau dari sei cara dan dengan

alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, kesalahan

terdakwa cukup terbukti, tetapi sekalipun kesalahan sudah cukup

terbukti, hakim tidak yakin akan kesalahan terdakwa. Dalam hal

seperti ini terdakwa tidak dapat dinyatakan bersalah. Sebaliknya

hakim benar benar yakin terdakwa sungguh-sungguh bersalah

melakukan kejahatan yang didakwakan akan tetapi, keyakinan

tersebut tidak didukung dengan pembuktian yang cukup menurut

cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.

Dalam hal seperti ini pun terdakwa tidak dapat dinyatakan bersalah.

Oleh karena itu, diantara dua komponen tersebut harus saling

mendukung. Sekalipun secara teoritis antara kedua komponen itu

tidak saling dominan, tapi dalam praktek secara terselubung unsur

keyakinan hakim yang paling menentukan dan dapat melmparkan

secara halus unsur pembuktian yang cukup. Terutama bagi seorang

hakim yang kurang hati-hati, atau hakim yang kurang tangguh

banteng iman dan moralnya, gampang sekali memanfaatkan sistem

7
pembuktian ini dengan suatu imbalan yang diberikan oleh

terdakwa.

B. Perbandingan Sistem Pembuktian Yang Dianut Indonesia Dan

Amerika Serikat
1. Sistem pembuktian yang dianut Indonesia
Sistem pembuktian yang dianut oleh Indonesia adalah

sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif

(negatief wettelijk), hal tersebut dapat disimpulkan dari pasal 183

KUHAP.
Pasal 183 KUHAP berbunyi:
“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang

kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang

sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan pidana benar-

benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”


Dari kalimat tersebut nyata bahwa pembuktian harus

didasarkan kepada undang-undang (KUHAP), yaitu alat bukti yang

sah tersebut dalam pasal 184 KUHAP, disertai dengan keyakinan

hakim yang diperoleh dari alat-alat bukti tersebut. dalam sistem

atau teori pembuktian yang berdasar undang-undang secara

negatif ini pemidanaan didasarkan kepada pembuktian yang

berganda, yaitu pada peraturan undang-undang dan pada

keyakinan hakim, dan menurut undang- undang, dasar keyakinan

hakim itu bersumber pada peraturan perundang- undangan.


Sistem ini memadukan unsur objektif dan subjektif dalam

menentukan salah atau tidaknya terdakwa, tidak ada yang paling

dominan dari kedua unsur tersebut. Sepintas ada sisi

8
kelemahannya dari sistem pembuktian negatif, yaitu apabila

menempatkan keyakinan hakim paling berperan dan dominan

dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa, misalnya ada

terdapat motivasi yang tidak terpuji demi keuntungan pribadi

dengan alasan “tidak yakin” sekalipun telah cukup terbukti menurut

cara-cara dan alat-alat bukti yang sah.


Keyakinan Hakim pada tahap pembuktian berperan penting

dalam proses pemeriksaan di persidangan sebab pada tahap inilah

ditentukan nasib terdakwa terbukti bersalah atau tidak. Oleh sebab

itu, para hakim harus berhati-hati, cermat dan matang menilai dan

mempertimbangakan pembuktian tersebut.


Dalam sistem pembuktian menurut undang-undang secara

negatif yang dianut Hukum Acara Pidana di Indonesia, pemidanaan

didasarakan kepada pembuktian yang berganda, yaitu pada

peraturan perundang-undangan dan pada keyakinan hakim. Hal

tersebut sesuai dengan Pasal 183 KUHAP yang mengatur bahwa 2

(dua) alat bukti sah itu diperoleh keyakinan hakim.


Dalam proses pengambilan putusan oleh majelis hakim

diatur dalam pasal 182 ayat (3) sampai ayat (7) KUHAP yaitu

sebagai berikut :
a. Hakim mengadakan musyawarah terakhir untuk mengambil

putusan, dan apabila perlu musyawarah itu diadakan setelah

terdakwa, saksi, penasihat hukum, penuntut umum, dan hadirin

meninggalkan ruangan sidang;


b. Musyawarah tersebut harus didasarkan atas surat dakwaan dan

segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan disidang;

9
c. Dalam musyawarah tersebut hakim ketua majelis mengajukan

pertanyaan di mulai dari hakim termuda sampai hakim yang

tertua, sedangkan yang terakhir mengemukakan pendapatnya

adalah hakim ketua majelis dan semua pendapat harus disertai

pertimbangan dan alasannya;


d. Pada asanya putusan majelis hakim merupakan hasil

permufakatan bulat, kecuali sungguh tidak dapat dicapai, maka

berlaku ketentuan sebagai berikut:


 Putusan diambil dengan suara terbanyak
 Jika dengan suara terbanyak juga tidak dapat diperoleh

putusan yang dipilih adalah pendapat hakim yang

menguntungkan bagi terdakwa;


e. Pelaksanaan pengambilan putusan dicatat dalam buku

himpunan putusan yang disediakan khusus untuk keperluan itu

dan isi buku tersebut bersifat rahasia.


Syarat utama bagi keputusan hakim ialah keputusan yang

harus beralasan sehingga dapat dipertanggungjawabkan, bukan

saja kepada yang berkepentingan langsung, yaitu penuntut umum

dan terdakwa, tetapi juga terhadap masyarakat umumnya. Dengan

keputusannya hakim harus menunjukkan bahwa ia tidak mengambil

keputusan dengan sewenang-wenang, bahwa peradilan yang

ditugaskan kepadanya sebagai anggota dari kekuasaan kehakiman

selalu dijunjung tinggi dan dipelihara sebaik-baiknya sehingga

kepercayaan masyarakat akan penyelenggaraan peradilan layak

dan tidak sia-sia (M.H. Tirtaamidjaja, 1996 : 70).

2. Sistem pembuktian yang dianut Amerika Serikat

10
Sistem pembuktian yang dianut Amerika Serikat yaitu

Conviction in-time. Di Amerika Serikat, setiap orang yang dituduh

melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara

selama lebih dari enam bulan memiliki hak konstitusional untuk

mendapatkan pengadilan oleh juri. Juri di beberapa Negara bagian

dipilih melalui pendaftaran. Sebuah formulir dikirim kejuri calon

untuk melakukan pra-kualifikasi dengan meminta calon untuk

menjawab pertanyaan tentang kewarganegaraan, kemampuan

penyandang cacat, pemahaman bahasa Inggris dan apakah

mereka memiliki kondisi atau alasan untuk mereka menjadi anggota

juri. Jika mereka dianggap memenuhi syarat, panggilan akan

dikeluarkan.
Juri di Amerika Serikat biasanya terdiri dari 12 juri, dan

putusan juri diharapkan untuk mencapai mufakat. Namun, dibanyak

yurisdiksi, jumlah juri seringkali direduksi menjadi jumlah yang lebih

kecil (seperti lima atau enam) berdasarkan ketentuan legislative.

Beberapa yurisdiksi juga mengijinkan vonis harus diputuskan

meskipun terdapat perbedaan pendapat satu,dua atau tiga juri.

Selama persidangan, pengacara menentang sisi pernyataan saksi

yang dipanggil untuk memberikan bukti. Para pengacara juga

membuat pembukaan dan penutup pernyataan kepada juri. Pada

akhirnya, hakim membuat pernyataan akhir kepada juri.


Proses pembuktian pada Common Law tidak terbatas hanya

kepada yang disebut didalam undang-undang. Akan tetapi,

11
menggunakan hukum yang berlaku umum, kebiasaan-kebiasaan

yang hidup ditengah-tengah masyarakat, dan adanya asas the

binding of precedent. Dalam hal ini dapat dikatakan sebagai case

law, karena hukum berasal dari kebiasaan-kebiasaan di

masyarakat.
Jika diliat dari sistem pembuktian pada tradisi hukum

common law, sekilas akan terlihat bahwa sistem ini telah memenuhi

rasa keadilan. Hal ini dapat dilihat dari adanya badan juri yang

terdiri dari orang awam yang tidak paham duduk perkara dan bukan

dari golongan ahli hukum. Sehingga, para juri akan menetukan

salah atau tidaknya terdakwa secara adil. Namun pada prakteknya,

sering juri dimanfaatkan oleh pihak jaksa maupan pengacara.

Artinya, kedua pihak memiliki hak untuk setuju atau tidak setuju

dalam memilih juri, sehingga tentunya jaksa ataupun pengacara

harus pandai dalam memilih juri yang kira-kira akan membantu

argumentasi dan pro terhadap mereka. Selain itu, dari pihak juri

sendiri belum tentu juga mereka akan memberikan putusan yang

seadil-adilnya, karena melihat faktor gaji yang mereka peroleh

tidaklah memadai dibanding jam kerja yang tidak jelas, dan dapat

disimpulkan seperti kualitas kerja mereka.

12
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Sistem pembuktian hukum pidana ada 4 yaitu Conviction In-time,

Conviction Raisonee, Pembuktian Menurut Undang-Undang

Secara Positif (Positief Wettelick Bewijs Theorie), dan Pembuktian

Menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelick

Bewijs Theorie).
2. Perbandingan mengenai peraturan pembuktian di Indonesia dan

di Amerika Serikat dasarnya dibedakan pada sistem

pembuktiannya dimana Indonesia menganut sistem pembuktian

secara negative yaitu pembuktian harus didasarkan kepada

undang-undang (KUHAP), yaitu alat bukti yang sah tersebut

dalam pasal 184 KUHAP, disertai dengan keyakinan hakim yang

diperoleh dari alat-alat bukti tersebut. Sedangkan, Amerika Serikat

menganut sistem pembuktian conviction-in time yaitu

menggunakan keyakinan hakim saja dalam memutus suatu

perkara.

B. SARAN
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan diatas, kami

berpendapat bahwa penerapan sistem pembuktian yang dianut oleh

Indonesia dan Amerika Serikat dapat berjalan sebagaimana

13
mestinya apabila aparat penegak hukum di Indonesia khususnya

dapat menerapkannya dalam mengadili suatu perkara pidana.

14
Daftar Pustaka

Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan

Pengembangan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1998

Reksodiputro, Mardjono, Sistem Peradilan Pidana di Indonesi, Jakarta:

Fakultas Hukum UI, 1993

https://www.scribd.com/document/322123078/Sistem-Pembuktian

https://jurnalsrigunting.wordpress.com/2012/12/22/sistem-pembuktian-

dalam-hukum-pidana/

https://jabar.kemenkumham.go.id/berita-kanwil/berita-utama/eksistensi-

sistem-juri-dalam-sistem-peradilan-pidana-amerika-serikat

iii

Anda mungkin juga menyukai