Anda di halaman 1dari 5

Keseimbangan Cairan Elektrolit Dan Asam Basa

1. CAIRAN DAN ELEKTOLIT


a. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap
sehat.Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian
dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairandan elektrolit melibatkan komposisi dan
perpindahan berbagai cairan tubuh.Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air( pelarut)
dan zat tertentu (zat terlarut).Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkanpartikel-
partikelbermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit
masuk ke dalam tubuh melalui makanan,minuman,dan cairan intravena (IV) dan di distribusi
ke seluruh bagian tubuh.Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang
normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh.Keseimbangan cairan
dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka
akan berpengaruh pada yang lainnya.
 JUMLAH DAN DISTRIBUSI
1.) Air tubuh total (total body water [TBW]) bergantung pada usia, berat badan,
jenis kelamin, dan derajat obesitas. Kandungan ini secara perlahan berkurang
seiring pertambahan usia.
a. Pada bayi, sekitar 80% berat badannya adalah air. Karena bayi memiliki
area permukaan yang lebih besar dibandingkan berat badannya, bayi
mengalami kehilangan air tak kasat mata (difusi air melalui sel-sel kulit).
Kebutuhan cairannya juga lebih tinggi karena pertumbuhan yang cepat dan
peningkatan metabolism yang mengakibatkan peningkatan produksi urine.
b. Pada orang dewasa, total body water mencapai 60% berat tubuh (sekitar
40L) laki-laki muda dan 50% berat badan (sekitar 30 L) perempuan muda.
1. Total body water pada perempuan lebih sedikit karena lemak
subkutannya sangat banyak. Jaringan adipose mengandung air selular
yang sangat sedikit (hanya sekitar 10 L)
2. Obesitas dapat terjadi pada kandungan total body water yang hanya
berkisar 25% sampai 30% berat tubuh.
c. Pada orang berusia diatas 60 tahun, total body water mungkin hanya
mencapai 40% sampai 50% berat badan.
d. Bayi, lansia, dan orang yang obesitas sangat rentan terhadap kehilangan
air. Kekurangan air (dehidrasi) dapat terjadi dengan cepat selama
berlangsungnya mekanisme kehilangan air seperti berkeringat, demam,
diare, dan muntah.

2.) Distribusi. Total body water tersebar 50% dalam otot, 20% dalam kulit, 20%
dalam organ lain, dan 10% dalam darah.
 KOMPARTEMEN CAIRAN TUBUH
1. Kompartemen cairan intraseluler (CIS) mengacu pada cairan dalam miliaran sel
tubuh. Kurang lebih dua pertiga cairan tubuh adalah cairan intraseluler.
2. Kompartemen cairan ekstraseluler (CES) yang terdiri dari seluruh cairan tubuh
diluar sel, mengandung sepertiga air tubuh.
a. Cairan interstisial adalah cairan disekitar sel tubuh dan limfe adalah cairan
dalam pembuluh limfatik. Gabungan kedua cairan ini mencapai tiga
perempat CES.
b. Plasma darah adalah bagian cair dari darah dan mencapai seperempat CES.
c. Cairan transeluler, sekitar 1% sampai 3% berat badan, meliputi seluruh
cairan tubuh yang dipisahkan dari CES oleh lapisan sel epitel.
Subkompartemen ini meliputi kerinagt; cairan serebrospinal; cairan
synovial; cairan dalam peritoneum, perikardiak, dan rongga pleura; cairan
dalam ruang-ruang mata; dan cairan dalam system pernafasan, pencernaan,
dan urinaria.
3. Komposisi kompartemen cairan
a. CES. Plasma darah dan cairan interstisial memiliki isi yang sama yaitu ion
natrium dan klorida serta ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi sedikit
ion kalium, kalsium, magnesium, fosfat, sulfat, dan asam organic.
Perbedaannya adalah dalam hal protein; plasma lebih banyak protein dan
cairan interstisial mengandung sangat sedikit protein.
b. CIS. Akibat pompa natrium-natrium dependen ATP, konsentrasi ion natrium
dan kalium intraseluler berlawanan dengan yang ada dalam CES. Ion kalium
intraseluler berkonsentrasi tinggi dan ion natrium intraseluler rendah.
Konstentrasi protein dalam sel tinggi, yaitu sekita 4 kali konsentrasi dalam
plasma.
4. Pergerakan cairan antar kompartemen.
a. Antara sel dan CES
1.) Distribusi air di dalam dan diluar sel bergantung pada tekanan osmotic.
2.) Tekanan osmotic berkaitan dengan konsentrasi zat terlarut total
(osmolalitas) di dalam dan di luar sel. Air akan bergerak dan regia
berosmolitas rendah ke regeia berosmolitas tinggi.
3.) Normalnya, osmolalitas di dalam dan di luar sel adalah sama dan tidak
ada penarikan atau pengeluaran air menuju dan keluar sel.
4.) Jika zat terlarut atau tidak bertambah maupun hilang, ekuilibrium
osmotic sementara akan terganggu. Air kemudian akan bergerak masuk
atau keuar sel sampai ekuilibrium baru tercapai.
b. Antara plasma dan cairan interstisial
1.) Pergerakan air menembus membrane sel kapiler diatur oleh tekanan
hidrostatik dan osmotic sesuai tekanan yang dijelaskan daam hipotesis
Starling-Landis. Cairan dan protein berlebih dikeluarkan melalui system
limfatik.
2.) Peningkatan tekanan hidrostatik kapilar atau penurunan tekanan osmotic
koloid plasma mengakibatkan semakin banyak cairan yang bergerak dari
kapilar menuju cairan interstisial. Sebaiknya, penurunan tekanan
hidrostatik kapilar atau peningkatan tekanan osmotic kolois plasma
menyebabkan pergerakan cairan interstisial ke dalam kapilar.

b. Pengaturan faal cairan dan elektrolit sistem cairan tubuh khusus


1. Asupan dan output air harian dari seseorang dengan aktifitas sedang dan
suhu tubuh sedang adalah seimbang, yaitu sekitar 2.500 ml. dalam tubuh
yang sehat, penyesuaian terhadap keseimbangan air terjadi melalui
peningkatan asupan air dalam mekanisme haus atau melalui penurunan
keluaran air oleh ginjal.
a. Asupan aiur dalam 24 jam didapat terutama dari diet.
1.) Makanan yang ditelan mengandung sekitar 700 ml air. Daginga
mengandung 50% sampai 75% air dan beberapa jenis buah dab
sayuran mengandung 95% air.
2.) Air atau minuman lain yang dikonsumsi mencapai sekitar 1.600
ml.
3.) Air metabolic yang dihasilkan melalui katabolisme mencapai
sekitar 300 ml. katabolisme 1 g karbohidrat, 0,55 ml air; dan 1 g
protei, 0,41 ml air.

b. Keluaran air (kehilangan air) terjadi melalui beberapa rute.


1.) Ginjal bertanggung jawab untuk kehilangan air terbesar (sekitar
1.500 ml)
2.) Air juga hilang melalui kulit, yaitu say berkeringat dan melalui
perspirasi tak kasat mata (sekitar 500 ml), melalui eraporasi paru
(300 ml), dan melalui saluran gastrointestinal (200 ml).
2. Haus atau berkeinginan secara sadar untuk mendapatkan air adalah
pengaturan utama asupan air.
a. Pengaturan haus. Mekanisme haus dikendalikan oleh pusat haus dalam
hipotalamus. Pusat ini mengandung saraf spesifik yang disebut
osmoreseptor yang letaknya dekat dengan neuran yang mensekresi
hormone antidiuretic (ADH).
b. Stimulus utama untuk pusat haus adalah peningkatan osmolalitas
plasma dan penurunan volume darah.
1.) Peningkatan osmolalitas CES, seperti yang diakibatkan oleh ingesti
natrium klorida menyebabkan osmoreseptor kehilangan air,
mengecil dan berdepolarisasi. Impuls memberi sinyal korteks
serebral untuk memulai sensasi haus yang dapat dihilangkan
dengan meminum air.
2.) Penurunan volume darah (dan tekanan darah), seperti yang terjadi
akibat hemoragi, dirasakan oleh baroreseptor kardiovaskular, dan
impuls ditransmisi ke osmoreseptor dalam hipotalamus untuk
mengaktivasi mekanisme haus. Juga, pelepasan renin oleh ginjal
mengakibatkan produksi angiotensis yang berlangsung bekerja
pada otak untuk menstimulasi sensasi haus.
3.) Mulut dan kerongkongan kering menyebabkan sensasi haus.
3. Pengaturan hormonal untuk keluaran air
a. ADH diproduksi untuk merespons stimulus osmotic dan nonosmotik
yang sama yang menyebabkan sensasi haus. ADH mengakibatkan
retensi air oleh ginjal dn penurunan keluaran urine.
1.) Peningkatan osmolalitas pasma menstimulasi osmoreseptor
hipotalamus dan menyebabkan reflex sekresi ADH. Peningkatan
konsentrasi ion natrium (hypernatremia) dan glukosa
(hiperglikemia) plasma merupakan stimulus utama untuk
melepaskan ADH.
2.) Penurunan volume darah sekitar 10% sampai 15% dirasakan oleh
osmoreseptor hipotalamus dan mengakibatkan peningkatan
produksi ADH.
b. Mekanisme ranin-angiotensin-aldosteron mengendalikan reabsorpsi
ginjal terhadap ion natrium dan ekskresi ion kalium. Angiotensin
menstimulasi aldosterone yang disekresi oleh korteks adrenal untuk
bekerja pada tubulus kontortus distal agar reabsorpsi natrium
meningkat. Karena air secara osmotic mengikuti natrium, maka terjadi
retensi air. Peningkatan volume CES akibat retensi air akan
menghambat retensi renin.

2. KESEIMBANGAN ASAM BASA


a. Skala ph
b. Skalabuffer
c. Gangguan homeostasis asam basa