Anda di halaman 1dari 14

AKUNTANSI MANAJEMEN

MANAJAMEN BIAYA LINGKUNGAN

KELOMPOK 9 :

I NYOMAN SUDARSANA (1415351123)

MADE KUMARA DEWI (1607532122)

PUTU MONICA ANJAYANI (1607532145)

I WAYAN SUKARDIKA (1607532148)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
1. Mengukur Biaya Lingkungan
Seperti yang diilustrasikan oleh scenario pembuka, kinerja lingkungan dapat berpengaruh
signifikan terhadap posisi keuangan perusahaan. Hal ini juga menunjukkan perlunya informasi
biaya lingkungan yang memadai. Pada kenyataannya, bagi banyak organisasi, pengelolaan biaya
lingkungan menjadi prioritas utama dan minat yang intens. Sebenarnya terdapat beberapa alasan
atas peningkatan minat tersebut, tetapi alasan utamanya ada dua. Pertama, peraturan lingkungan
di negara-negara telah meningkat secara signifikan, bahkan diperkirakan akan semakin ketat.
Hukum dan peraturan tersebut sering menyebabkan hukuman dan denda yang sangat besar
sehingga menciptakan insentif yang kuat untuk mematuhinya. Kedua, keberhasilan penyelesaian
masalah-masalah lingkungan menjadi isu yang semakin kompetitif. Perusahaan-perusahaan
menemukan pemenuhan tujuan bisnis dan penyelesaian masalah lingkungan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Untuk memahami observasi kritis ini, kita perlu memahami konsep
yang disebut ekoefisiensi

Manfaat Ekoefisiensi
Pada intinya, ekoefisiensi mempertahankan bahwa organisasi dapat memproduksi barang dan
jasa yang lebih bermanfaat sambil mengurangi dampak negative lingkungan, konsumsi sumber
daya, dan biaya secara simultan. Konsep ini mengandung tiga pesan penting. Pertama, perbaikan
kinerja ekologi dan ekonomi dapat dan sudah seharusnya saling melengkapi. Kedua, perbaikan
kinerja lingkungan seharusnya tidak lagi di pandang hanya sebagai amal dan derma, tetapi juga
sebagai persaingan (competitiveness). Ketiga, ekoefisiensi adalah suatu pelengkap dan
pendukung pengembangan yang berkesinambung.
Ekoefisiensi mengimplikasikan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi berasal dari
perbaikan kinerja lingkungan. Beberapa penyebab dan insentif untuk ekoefisiensi
antara lain:

1.Permintaan pelanggan 2.Pegawai yang lebih baik


atas produk yang lebih dan produktivitas yang 3.Biaya modal dan biaya
bersih. lebih besar. asuransi yang lebih rendah.

4.Keuntungan sosial yang


signifikan sehingga citra 6.Pengurangan biaya dan
perusahaan menjadi lebih keunggulan bersaing.
baik. 5.Inovasi dan peluang baru.
Penyediaan informasi keuangan perlu mendefinisikan, mengukur, mengklasifikasikan, dan
membebankan biaya-biaya lingkungan pada proses, produk, dan objek biaya lain. Biaya
lingkungan harus dilaporkan sebagai sebuah klasifikasi terpisah agar manajer dapat menilai
pengaruhnya terhadap profitabilitas perusahaan. Selain itu, dengan membedakan biaya
lingkungan pada produk dan proses, sumber-sumber dari biaya ini akan tampak dan membantu
mengidentifikasi penyebab-penyebab dasarnya agar dapat dikendalikan

Model Biaya Kualitas Lingkungan


Sebelum informasi biaya lingkungan dapat disediakan bagi manajemen, biaya-biaya lingkungan
harus didefinisikan. Ada banyak kemungkinan namun, pendekatan yang menarik adalah
mengadopsi definisi yang konsisten dengan model kualitas lingkungan total, keadaan ideal
adalah tidak adanya kerusakan lingkungan; kerusakan dianggap sebagai degradasi langsung dari
lingkungan (misalnya pencemaran air dan polusi udara) atau degradasi tidak langsung (missal
penggunaan bahan baku dan energi yang tidak perlu).
sebagai biaya-biaya yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau
karena kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Oleh karenanya biaya
lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi:

Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention cost), yaitu biaya-


biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah
dan/atau sampah yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh:
biaya seleksi pemasok, seleksi alat pengendali polusi, desain proses dan
produk, melatih pegawai, mempelajari dampak lingkungan, audit resiko lingkungan, pelaksanaan
penelitian lingkungan, pengembangan sistem manajemen lingkungan, daur ulang produk, serta
pemerolehan sertifikasi ISO.

Biaya deteksi lingkungan (environmental detection cost), adalah biaya-biaya


untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan bahwa produk, proses, dan
aktivitas lainnya telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak.
Contoh: audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses, pengembangan ukuran
kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian pencemaran,verifikasi kinerja lingkungan dari
pemasok, serta pengukuran tingkat pencemaran.

Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure cost),


adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya
limbah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Contoh: aktivitas kegagalan internal adalah
pengopreasian peralatan untuk mengurangi atau penghilang polusi, pengolahan dan pembuangan
limbah beracun, pemeliharaan peralatan polusi, lisensi fasilitas untuk memproduksi limbah, serta
daur ulang sisa bahan.
Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure cost),
adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas
limbah/sampah ke dalam lingkungan.

1. Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure cost),


adalah biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Contoh: biaya
membersihkan danau/tanah yang tercemar atau minyak yang tumpah, pembersihan tanah yang
tercemar, penggunaan bahan baku dan energy secara tidak efesien, penyelesaian klaim
kecelakaan pribadi dari praktik kerja yang tidak ramah lingkungan, penyelesaian klaim
kerusakan properti, pembaruan tanah ke keadaan alaminya, dan hilangnya penjualan karena
reputasi lingkungan yang buruk.

2. Biaya kegagalan ekternal yang tidak direalisasikan (unrealized


external failure cost/social cost), adalah biaya sosial yang disebabkan oleh
perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihak-pihak di luar perusahaan.
Contoh: biaya social mecakup perawatan medis karena udara yang terpolusi (kesejahteraan
individu), hilangnya kegunaan danau sebagai tempat rekreasi karena pencemaran (degredasi),
hilangnya lapangan pekerjaan (karena pencemaran (kesejahteraan individual) dan rusaknya
ekosistem karena pembuangan sampah padat (degredasi)

Biaya social lebih lanjut dapat diklasifikasikan sebagai :

(1) Biaya yang berasal dari degradasi lingkungan


(2) Biaya yang berhubungan dengan dampak buruk terhadap properti atau kesejahteraan
masyarakat
Contohnya, laporan menurut Comprehensive Environmental Response, Compensation, and
liability act tahun 1980 – telah mencapai puluhan milyar dolar dan diproyeksikan akan mencapai
beberapa ratus dolar. Lebih jauh, biaya pembersihan yang harus ditanggung para pembayar pajak
juga akan mencapai ratusan milyar dolar. Pembersih limbah perlindungan saja diperkirakan $500
milyar.
Thamus Corporation

Laporan Biaya Lingkungan

Untuk Tahun yang berakhir 31, Desember 2008

Biaya lingkungan Presentase

Dari biaya operasi

Biaya pencegahan

Pelatihan pegawai $ 600.000

Desain produk 1.800.000

Pemilihan peralatan 400.000 $2.800.000 1.40%

Biaya deteksi

Pemeriksaan proses $2.400.000

Pengembangan ukuran 800.000 3.200.000 1.60

Biaya kegagalan internal

Pengeoprasian peralatan polusi $4.000.000

Pemeliharaan peralatan polusi 2.000.000 6.000.000 3.00

Biaya kegagalan eksternal :

Pembersihan danau $9.000.000

Restorasi tanah 5.000.000

Penyelesaian klaim kerusakan propeeti 4.000.000 18.000.000 9.00

Total $30.000.000 15.00%


Laporan Biaya Lingkungan

Pelaporan biaya lingkungan adalah penting jika sebuah organisasi serius memperbaiki kinerja
lingkungannya dan mengendalikan biaya lingkungan. Langkah pertama yang baik adalah laporan
yang memberikan perincian biaya lingkungan menurut kategori, kategori memberikan dua hasil
penting: (1) dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas perusahaan (2) jumlah relative yang
dihabiskan untuk setiap kategori.

Mengurangi Biaya Lingkungan

Untungnya, ada bukti-bukti yang menunjukkan biaya kegagalan lingkungan dapat dikurangi
dengan menginvestasikan lebih banyak aktivitas pencegahan dan deteksi. Contohnya, Ford
Motor Company telah berkomitmen memperbaiki kinerja lingkungannya.

Model pengurangan biaya lingkungan mungkin akan berperilaku serupa dengan model biaya
kualitas total. Biaya lingkungan terendah yang diperoleh pada titik kerusakan-nol mungkin sama
seperti titik cacat-nol pada model biaya kualitas total. Sudut pandang ini tentu sejalan dengan
pemahaman ekoefisiemsi.

Pada kenyataan, degredasi nol merupakan titik biaya rendah bagi kebanyakan aktivitas
pencemaran. Sebagai contoh, Numar, produsen mentega dan minyak goring dari kostarika,
berhasil mengurangi emisi pembuangan cairan yang tercemar menjadi nol. Tindakan yang di
ambil Numar merupakan respons terhadap hukum lingkungan yang baru dan melarang
pembuangan cairan tersebut ke sungai.

Laporan Keuangan Lingkungan

Ekoefisiensi menyarankan sebuah kemungkinan modifikasi untuk pelaporan biaya lingkungan.


Secara khusus, selain melaporkan biaya lingkungan, mengapa tidak melaporkan keuntungan
lingkungan? Pada suatu periode tertentu, ada tiga jenis keuntungan: pemasukan, penghematan
saat ini, dan penghindaran biaya. Pemasukan mengacu pada pendapatan yang mengalir ke dalam
organisasi karena tindakan lingkungan seperti mendaur ulang kertas, menemukan aplikasi baru
untuk limbah yang tidak berbahaya, dan meningkatkan penjualan karena penguatan citra
lingkungan. Penghindaran biaya mengacu pada penghematan berjalan yang dihasilkan di tahun-
tahun sebelumnya. Saat ini, penghematan mengacu pada pengurangan biaya lingkungan yang
dicapai tahun ini. Dengan membandingkan keuntungan yang didapat dengan biaya lingkungan
yang terjadi pada
2. Membebankan Biaya Lingkungan
Produk dan proses merupakan sumber – sumber biaya lingkungan. Proses yang memproduksi
produk dapat menciptakan residu padat, cair, dan gas yang selanjutnya dilepas ke lingkungan.
Residu ini memiliki potensi mendegradasi lingkungan. Dengan demikian, residu merupakan
penyebab biaya kegagalan lingkungan internal dan eksternal (misalnya : investasi pada peralatan
untuk mencegah penyebaran residu ke lingkungan dan pembersihan residu setelah memasuki
lingkungan).

Thamus Corporation

Laporan Keuangan Lingkungan

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2008

Keuntungan Lingkungan


Pengurangan biaya, pencemaran $ 3.000.000

Pengurangan biaya, pembuangan limbah yang berbahaya 4.000.000

Pemasukan daur ulang 2.000.000

Penghematan biaya konservasi energi 1.000.000

Pengurangan biaya pengemasan 1.500.000

Total keuntungan lingkungan $ 11.500.000

Biaya Lingkungan

Biaya pencegahan $ 2.800.000

Biaya deteksi 3.200.000

Biaya kegagalan internal 6.000.000

Biaya kegagalan eksternal 18.000.000

Total biaya lingkungan $ 30.000.000

Biaya Produk Lingkungan


Biaya lingkungan dari proses produksi, pemasaran, dan pengiriman produk serta biaya
lingkungan pasca pembelian yang disebabkan oleh penggunaan dan pembuangan produk
merupakan contoh-contoh biaya produk lingkungan. Penghitungan biaya lingkungan penuh
adalah pembebanan semua biaya lingkungan, baik yang bersifat privat maupun sosial, ke produk.
Penghitungan biaya privat penuh adalah pembebanan biaya privat ke produk individual. Biaya
privat dapat dibebankan dengan menggunakan data yang dihasilkan di dalam perusahaan,
sedangkan biaya penuh memerlukan pengumpulan data yang dihasilkan di luar perusahaan, yaitu
dari pihak ketiga. Ketika perusahaan mulai berpengalaman dengan perhitungan biaya
lingkungan, pembebanan biaya produk mungkin dapat diperluas dan mengimplementasikan
pendekatan yang disebut penilaian biaya siklus hidup.

Pembebanan Produk Lingkungan Berbasis Fungsi

Dengan menggunakan definisi biaya lingkungan dan kerangka kerja klasifikasi yang baru
dikembangkan, biaya lingkungan harus dipisahkan ke dalam kelompok biaya lingkungan dan
tidak lagi disembunyikan di dalam overhead seperti halnya dalam kebanyakan system akuntansi.
Dalam penghitungan biaya berbasis fungsi, dibentuk suatu kelompok biaya lingkungan dan
tingkat atau tarifnya dihitung dengan menggunakan penggerak tingkat unit seperti jumlah jam
tenaga kerja dan jam mesin. Biaya lingkungan kemudian dibebankan kepada setiap produk
berdasarkan pemakaian jam tenaga kerja langsung atau jam mesin. Pendekatan ini dapat berjalan
baik untuk produk yang homogen. Namun, dalam perusahaan yang memiliki banyak produk
yang bervariasi, pembebanan biaya semacam ini dapat mengakibatkan distorsi biaya.

Pembebanan Biaya Lingkungan Berbasis Aktivitas

Munculnya perhitungan biaya berbasis aktivitas memfasilitasi perhitungan biaya lingkungan.


Penelusuran biaya lingkungan ke produk – produk yang menyebabkan biaya – biaya tersebut
merupakan syarat utama dari sistem akuntansi lingkungan yang baik. Dalam hal ini, diperlukan
pembebanan ini tentu sama persis dengan ABC.

Lihat Kembali Contoh Kadmium di Thamus Emisi kadmium adalah aktivitas lingkungan.
Biaya aktivitas ini adalah biaya denda dan biaya perizinan : $150.000. anggap jumlah emisi
kadmium adalah ukuran output aktivitas dan jumlahnya 20.000 unit. Tariff aktiva adalah $7,50
perunit ($150.000/20.000 unit). Jika jenis A memproduksi 20.000 unit emisi dan jenis B
memproduksi 0 unit, maka pembebanan biaya seharusnya : $150.000 untuk jenis A ($7,50 x
20.000) dan $0 untuk jenis B. Pembebanan ABC ini menghasilkan unit biaya lingkungan sebesar
$3 untuk jenis A ($150.000/$50.000) dan $0 untuk jenis B.

Contoh Dengan Aktivitas Ganda Tampilan berikut menunjukan pembersih B memiliki


masalah lingkungan yang lebih besar daripada pembersih A. Total biaya lingkungan pembersih
B adalah $380.000 ($3,80 x 100.000) dan merupakan 19% dari total biaya manufaktur. Biaya
kegagalan lingkungannya adalah $350.000, besarnya 92,1% dari total biaya lingkungan. Total
biaya lingkungannya adalah $78.000 atau 8% dari total biaya manufaktur, dan biaya
kegagalannya adalah 29,5% dari total biaya lingkungan. Hal ini membuktikan pembersih B
memerlukan perbaikan lingkungan dan ekonomi yang terbesar.

Aktivitas Pembersih A Pembersih B

Mengevaluasi dan memilih pemasok $ 0,20 $ 0,05

Mendesain proses (untuk mengurangi polusi) 0,10 0,10

Memeriksa proses (untuk masalah polusi) 0,25 0,15

Menangkap dan menghilangkan racun kloroflorokarbon 0,05 1.00

Memelihara peralatan lingkungan 0,00 0,50

Membuang limbah beracun 0,10 1,75

Menggunakan bahan baku secara berlebihan 0,08 0,25

Biaya lingkungan perunit $ 0,78 $ 3,80

Biaya manufaktur lainnya (nonlingkungan) 9,02 16,20

Biaya unit $ 9,80 $ 20,00

Unit yang diproduksi 100.000` $ 100.000

3. Penilaian Biaya Siklus Hidup


Biaya produk lingkungan dapat menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan pembenahan
produk perusahaan. Pembenahan produk adalah praktik mendesain, membuat, mengolah, dan
mendaur ulang produk untuk meminimalkan dampak buruknya terhadap lingkungan. Penilaian
siklus hidup adalah sarana meningkatkan pembenahan produk. Penilaian siklus hidup
mengidentifikasi pengaruh lingkungan dari suatu produk di sepanjang siklus hidupnya, kemudian
mencari peluang untuk memperoleh perbaikan lingkungan. Penilaian biaya siklus hidup
membenbankan biaya dan keuntungan pada pengaruh lingkungan dan perbaikan.

Siklus Hidup Produk

EPA mengidentifikasi empat tahap dalam siklus hidup produk: ekstraksi sumber daya,
pembuatan produk, penggunaan produk, serta daur ulang dan pembuangan. Tahap lain yang
mungkin ada tetapi tidak disebutkan dalam garis petunjuk EPA adalah pengemasan produk.
Siklus hidup produk, termasuk pengemasan, diilustrasikan pada gambar dibawah ini. Seperti
yang ditunjukkan, tahapan siklus hidup yang berbeda-beda dapat berada di bawah kendali pihak
lain, selain produsen produk. Perhatikan bahwa sumber bahan baku untuk produk dapat
diperoleh melalui ekstraksi (bahan baku) atau dari daur ulang. Jika semua atau beberapa
komponen produk tidak dapat didaur ulang, maka pembuangan akan diperlukan dan pengelolaan
limbah akan menjadi suatu isu.

Dikendalikan oleh Pemasok


Bahan Baku

Produksi

Pengemasan
Dikendalikan

Oleh Produsen

Penggunaan dan
Daur Ulang Pemeliharaan Pembuangan
Produk

Dikendalikan oleh Pelanggan

Siklus Hidup Produk

EPA mengidentifikasi empat tahap dalam siklus hidup produk: ekstraksi sumber daya,
pembuatan produk, penggunaan produk, serta daur ulang dan pembuangan. Tahap lain yang
mungkin ada tetapi tidak disebutkan dalam garis petunjuk EPA adalah pengemasan produk.
Siklus hidup produk, termasuk pengemasan, diilustrasikan pada gambar dibawah ini. Seperti
yang ditunjukkan, tahapan siklus hidup yang berbeda-beda dapat berada di bawah kendali pihak
lain, selain produsen produk. Perhatikan bahwa sumber bahan baku untuk produk dapat
diperoleh melalui ekstraksi (bahan baku) atau dari daur ulang. Jika semua atau beberapa
komponen produk tidak dapat didaur ulang, maka pembuangan akan diperlukan dan pengelolaan
limbah akan menjadi suatu isu.

Tahapan Penilaian

Penilaian siklus hidup didefinisikan oleh tiga tahapan formal: analisis persediaan, analisis
dampak, dan analasis perbaikan. Analisis persediaan menyebutkan jenis dan jumlah input bahan
baku dan energy yang dibutuhkan serta pelepasan ke lingkungan yang dihasilkan dalam bentuk
residu padat, cair,dan gas. Analisis persediaan mencakup seluruh siklus hidup produk. Analisis
dampak menilai pengaruh dari beberapa desain bersaing dan menyediakan peringkat relative
dari pengaruh-pengaruh tersebut. Analisis perbaikan bertujuan mengurangi dampak lingkungan
yang ditunjukkan oleh tahap persediaan dan dampak.

Analisis Persediaan Untuk mengilustrasikan analysis persediaan, setiap tahap dalam siklus
hidup cangkir menghasilkan pertanyaan kunci tertentu.

 Bahan baku apa yang dibutuhkan untuk setiap jenis cangkir?


 Berapa kebutuhan energy untuk memproduksi setiap produk?
 Jenis pembuangan cairan atau emisi apa yang dihasilkan setiap produk?
 Apa potensi daur ulangnya?
 Sumber daya apa yang dibutuhkan untuk pembuangan akhir?

Jawaban atas pertanyaan tersebut mendefinisikan analisis persediaan.

Analisis Dampak Selanjutnya, analisis dampak menilai makna dari nilai yang disediakan oleh
tahap analisis persediaan. Contohnya, salah satu keunggulan cangkir kertas adalah kertas dibuat
dari sumber daya yang dapat diperbarui (kayu atau ranting), sedangkan cangkir polyfoam
bergantung pada minyak, sumber daya yang tidak dapat diperbarui.

Penilaian Biaya Sampai saat ini, analisis hanya menggunakan ukuran-ukuran nonkeuangan dan
factor-faktor kualitatif. Penilaian biaya siklus hidup menentukan pengaruh keuangan dari
dampak lingkungan yang diidentifikasi pada tahap persediaan dan tahap perbaikan dari penilaian
siklus hidup. Penilaian biaya lingkungan untuk tahap persediaan dapat memfasilitasi analisis
dampak.

Sebagai contoh, anggaplah biaya lingkungan per unit berikut ini telah ditentukan untuk kedua
cangkir tersebut.

Cangkir Cangkir
Kertas Polyfoam

Penggunaan bahan baku $ 0,010 $ 0,004

Utilitas 0,012 0,003

Sumber daya yang berhubungan dengan limbah 0,008 0,005

Total biaya privat $ 0,030 $ 0,012

Keuntungan daur ulang (social) (0,001) (0,004)

Biaya lingkungan per unit $ 0,029 $ 0,008

Biaya siklus hidup per unit menyediakan ukuran ringkasan dari dampak lingkungan relative dari
kedua produk dan disediakan untuk mendukung interpretasi kualitatif dari data lingkungan
operasional dan subjektif .

Analisis Lingkungan Penilaian dampak lingkungan dalam istilah operasional dan keuangan
menetapkan tahap untuk langkah terakhir, yaitu mencari cara mengurangi dampak lingkungan
dari alternative-alternatif yang dipertimbangkan atau dianalisis. Langkah inilah yang
berhubungan dengan sistem pengendalian organisasi. Perbaikan kinerja lingkungan dari produk
dan proses yang ada merupakan tujuan kesuluruhan dari sistem pengendalian lingkungan.

4. Akuntansi Pertanggungjawaban Lingkungan Berbasis Strategi


Tujuan keseluruhan dari perbaikan kinerja lingkungan mengusulkan kinerja perbaikan
berkelanjutan untuk pengendalian lingkungan adalah paling sesuai. Pengendalian biaya
lingkungan bergantung pada system akuntansi pertanggungjawaban berbasis strategi. Systemini
memiliki dua fitur penting : komponen strategi dan komponen operasional. Komponenstrategi
menggunakan kerangka balance scorecard. Penyesuaian untuk pengendalianlingkungan adalah
penambahan perspektif kelima yaitu perspektif lingkungan.
Perspektif Lingkungan
Kita dapat mengidentifikasi sekurang-kurangnya lima tujuaninti dari perspektif lingkungan :
1. meminimalkan penggunaan bahan baku atau bahan yang masih asli
2. meminimalkan penggunaan bahan berbahaya
3. meminimalkan kebutuhan energi untuk produksi dan penggunaan produk
4. meminimalkan pelepasan residu padat, cair, dan gas
5. memaksilkan peluang untuk daur ulang
Ada dua tema lingkungan yang terkait dengan bahan baku dan energi (tiga tujuan inti
yang pertama). Pertama, energi atau bahan baku yang digunakan tidak melebihi energi atau
bahan baku yang dibutuhkan (isu konservasi). Kedua, harus dicari sarana untuk menghilangkan
penggunaan bahan baku atau energi yang merusak lingkungan (isu zat berbahaya). Ukuran
kinerja harus mencerminkan kedua tema ini. Jadi, ukuran-ukuran yang memungkinkan adalah
berapa jumlah kuantitas total dan per unit dari berbagai bahan baku dan energi (misalnya: berat
bahan kimia beracun yang digunakan), ukuran produktivitas (output/bahan baku, output/energi),
dan biaya bahan (energi) berbahaya yang dinyatakan sebagai persentase total biaya bahan baku.
Tujuan inti yang keempat dapat direalisasikan dalam salah satu dari dua cara berikut:
1. menggunakan teknologi dan metode untuck mencegah pelepasan residu ketika diproduksi
2. menghindari produksi residu dengan mengidentifikasi penyebab dasar serta mendesain ulang
produk dan proses untuk menghilangkan penyebab-penyebabnya.
Tujuan kelima menekankan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbarui melalui
penggunaan kembali. Daur ulang mengurangi degradasi permintaan untuk ekstrasi tambahan
pembuangan sampah oleh pemakai akhir. Ukurannya mencakup berat bahan baku yang didaur
ulang, jumlah bahan baku yang berbeda-beda (semakin sedikit, semakin baik), Jumlah komponen
yang berbeda-beda (semakin sedikit, semakin baik untuk didaur ulang), persentase unit yang di
daur ulang, dan energi yang diproduksi dari pembakaran.

Peran Manajemen Aktivitas


Manajemen berbasis aktivitas menyediakan sistem operasional yang menghasilkan
perbaikan lingkungan. Aktivitas lingkungan diklasifikasikan sebagai bernilai tambah (value-
added) dan tak bernilai tambah (nonvalue-added). Aktivitas tak bernilai tambah adalah aktivitas
yang tidak perlu ada jika perusahaan beroperasi secara optimal dan efisien. Penggunaan
paradigma ekoefisiensi mengimplikasikan bahwa selalu ada aktivitas yang secara simultan dapat
menghindari degradasi lingkungan dan menghasilkan keadaan efisiensi ekonomi yang lebih baik
daripada keadaan yang sekarang. Biaya lingkungan tak bernilai tambah adalah biaya aktivitas tak
bernilai tambah. Biaya ini mewakili keuntungan yang dapat ditangkap dengan cara memperbaiki
kinerja lingkungan.
Desain untuk Lingkungan
Merupakan pendekatan khusus yang menyentuh produk, proses, bahan baku, energy, dan
daur ulang. Dengan kata lain, keseluruhan daur hidup produk dan pengaruhnya terhadap
lingkungan harus dipertimbangkan. sebagai contoh, proses manufaktur adalah sumber langsung
dari berbagai residu padat, cair, dan gas. Residu ini banyak yang dilepaskan ke lingkungan.
Desain ulang suatu proses sangat menghilangkan produksi residu tersebut.
Ukuran Keuangan
Dalam konsep ukuran keuangan, perbaikan lingkungan harus menghasilkan keuntungan
keuangan yang signifikan. Jika keputusan ekoefisien dibuat, maka total biaya lingkungan harus
terhapus bersamaan dengan perbaikan kinerja lingkungan. Diperlukan keberhati-hatian dalam
mengukur biaya dan tren. Pengurangan biaya harus terkait dengan perbaikan lingkungan dan
bukan sekadar menghilangkan kewajiban terhadap lingkungan. Jadi, biaya kegagalan eksternal
harus mencerminkan kewajiban tahunan rata-rata yang berasal dari efisiensi lingkungan saat ini.
Kemungkinan penghitungan lain adalah dengan menghitung biaya lingkungan total sebagai
persentase penjualan dan menelusuri nilai tersebut selama beberapa periode. Dalam hal ini maka
dapat disimpulkan bahwa perbaikan ekoefisiensi harus menghasilkan konsekuensi keuangan
yang menguntungkan yang dapat diukur dengan menggunakan tren biaya lingkungan tak bernilai
tambah dan tren total biaya lingkungan.