Anda di halaman 1dari 15

PEMBAHASAN

PENANGKARAN SATWA LIAR


( CARA DAN MODEL SERTA METODE PENANGKARAN SATWA LIAR )

A. PENANGKARAN SATWA LIAR

Penangkaran merupakan kegiatan yang mengandung dua pokok yaitu


pembiakan (breeding) dan pembesaran (rearing). Satwa merupakan sebutan bagi
setiap jenis hewan, sedangkan satwa liar merupakan satwa yang memiliki sifat atau
genetik liar, dan hewan ternak adalah satwa liar yang sudah didomestikasi. Satwa
memiliki banyak manfaat ditinjau dari berbagai nilai baik nilai ekonomi, sosial
budaya, religious, spritiual, kesehatan, ekologis dan sebagainya.
Peraturan-peraturan yang bersangkut paut dengan penangkaran adalah UUD
45 pasal 33, UU No. 8 Tahun 1999 dan UU No.5 Tahun 1990 bab VIII pasal 36
tentang pemanfaatan tumbuhan dan satwaliar. Penangkaran diliihat dari bentuk
pemanfaatannya dibagi menjadi 4 yaitu :
1. Game farming (penangkaran intensif dengan tujuan bisnis),
2. Game ranching (penangkaran semi intensif dengan tujuan bisnis),
3. Game culling (penangkaran dengan memanen satwa yang melebihi kapasitas
daya dukung penangkaran),
4. Game refuging (penangkaran dengan merembeskan satwa ke kebon/taman
buru di dekat penangkaran bagi satwa-satwa yang melebihi daya dukung
habitat).

Penangkaran berdasarkan tujuannya dibagi menjadi dua yaitu :


a. Tujuan konservasi
Penangkaran dengan tujuan konservasi bertujuan untuk menjaga kelestarian
satwa sehingga penangkaran ini bersifat menjaga kemurnian jenis, tak boleh
diubah-ubah kemurnian jenisnya, penangkaran ini bersifat selamanya dan
jumlah satwanya banyak.

1
b. Tujuan sosial budaya
Tujuan social budaya tujuan utamanya adalah komersil, penangkaran ini
berlangsung 1-250 tahun, tidak perlu menjaga kemurnian jenis.

B. PRINSIP DASAR DAN PEMANFAATAN PENANGKARAN SATWA


LIAR

Prinsip dasar penangkaran satwa liar ialah satwa yang ditangkarkan dapat
merasakan animal welfare atau kesejahteraan satwa yaitu :
1. Bebas dari rasa lapar atau haus,
2. Bebas berprilaku alami,
3. Bebas dari luka atau penyakit,
4. Bebas dari rasa stress dan takut.

Satwa liar merupakan kekayaan alam yang perlu dijaga kelstariannya, melalui
upaya konservasi yang dilaksanakan di dalam atau di luar habitat aslinya. Kelestarian
satwa liar atau konservasi satwa liar dapat diusahakan dengan dua cara yaitu
konservasi in-situ dan konservasi ex-situ, dan dalam hal ini penangkaran satwa liar
termasuk ke dalam konservasi ex-situ dimana konservasi ex-situ mempunyai fungsi
utama yaitu sebagai fungsi ekologis serta fungsi sosio-ekonomi dan sosio-budaya.
Selain itu, penangkaran satwa langka atau satwa liar merupakan salah satu aspek
dalam konservasi sumberdaya hayati dimana hal ini diatur dalam undang-undang No.
5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya. Undang-
undang ini memberi batasan pada pengelolaan sumberdaya alam hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan
persediaan sumberdaya alam hayati dengan tetap memelihara dan meningkatkan
kualitas keanekaragaman dan nilainya. Konservasi satwa langka dengan usaha
penangkaran harus dapat memenuhi tiga kegiatan yaitu perlindungan sistem
penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis satwa dan ekosistemnya,
serta pemenfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

2
Manfaat dari penangkaran satwa liar (konservasi ex-situ) adalah memenuhi
kebutuhan jangka panjang cadangan plasma nutfah, sebagai bahan analisis, bahan
penelitian, bahan perkembangbiakan atau persilangan, bahan pemuliaan, sebagai
back up satwa liar terhadap jenis satwa liar yang di alam, sumber bahan reintroduksi,
pengganti populasi liar untuk riset biologi populasi dan sosio biologinya, untuk
pendidikan masyarakat serta untuk obyek rekreasi.
Pemanfaatan dan Penangkaran Satwa langka diatur oleh peraturan pemerintah
No. 8 Tahun 1999 yang berupa pengkajian, penelitian dan pengembangan,
penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran, budidaya tanaman obat-
obatan, serta pemeliharaan untuk kesenangan. Pemanfaatan satwa liar diawali dari
kegiatan penangkapan satwa liar dari alam (habitat alam) ataupun pengambilan satwa
liar dari hasil penangkaran terhadap jenis-jenis yang termasuk dalam Appendiks
CITES maupun Non-Appendiks CITES baik yang dilindungi maupun tidak
dilindungi.
Setiap orang atau badan usaha yang akan melakukan pemanfaatan satwa liar
secara komersial di dalam negeri maka harus mendapat izin pemanfaatan komersial
dalam negeri berupa izin mengedarkan spesimen satwa liar yang tidak dilindungi
undang-undang atau satwa yang dilindungi sebagai hasil penangkaran atau satwa
yang telah ditetapkan sebagai satwa buru di dalam negeri. Sedangkan badan usaha
atau orang yang akan melakukan kegiatan pemanfaatan satwa liar secara komersial ke
luar negeri maka harus mendapat izin pemanfaatan komersial ke luar negeri berupa
izin mengedarkan spesimen satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang atau
satwa yang dilindungi sebagai hasil penangkaran ke luar negeri.

C. PENANGKARAN SATWA LIAR DI INDONESIA

Penangkaran satwa liar di Indonesia yang merupakan suatu bentuk konservasi


ex-situ untuk melindungi kelestarian jenis masih mempunyai banyak permasalahan
yang harus segera diatasi supaya kelestarian dan keseimbangan ekosistem dapat
terwujud.

3
Permasalahan secara umum dalam pengelolaan konservasi ex-situ satwa liar
adalah ukuran populasi yang terbatas, hal ini disebabkan oleh luas area
pengelolaan/pemeliharaan/penangkaran satwa liar sangat terbatas dan tidak terlalu
besar sehingga populasi yang ditampung juga terbatas. Permasalahan umum lainnya
adalah terjadinya penurunan kemampuan adaptasi, daya survive dan keterampilan
belajar satwa, kondisi ini disebabkan oleh keadaan satwa liar di lembaga konservasi
sangat bergantung kepada manusia sehingga sifat alamiahnya semakin lama semakin
menurun. Permasalahan lainnya adalah variabilitas genetik satwa liar yang terbatas
karena di dalam lembaga konservasi ex-situ, satwa liar hanya mendapat pasangan
reproduksi yang sama dalam reproduksinya sehingga akan melemahkan sumberdaya
genetik satwa liar. Selain itu, dana yang besar juga merupakan kendala yang dihadapi
dalam konservasi ex-situ satwa liar, hal ini disebabkan oleh bentuk lembaga
konservasi merupakan suatu bentuk usaha yang padat modal.

D. PENANGKARAN SATWA LIAR PADA RUSA

Rusa merupakan satwa liar yang mempunyai potensi ekonomi karena dapat
menghasilkan daging, kulit, dan velvet (tanduk muda). Populasi rusa di alam
mengalami penurunan karena adanya perburuan liar yang tidak terkendali dan
rusaknya habitat. Untuk menghindari kepunahan dan sekaligus memanfaatkan rusa
secara optimal dan berkelanjutan dapat dilakukan melalui penangkaran (konservasi
ex-situ).
Penangkaran rusa dapat dilakukan dalam skala kecil (sistem/model kandang)
khususnya untuk masyarakat sekitar hutan dalam rangka peningkatan pendapatannya
dan penangkaran skala besar dapat dilakukan dengan sistem ranch. Penangkaran
rusa mempunyai prospek karena rusa mudah beradaptasi dengan lingkungan di luar
habitat alaminya, mempunyai tingkat produksi dan reproduksi yang tinggi. Dalam
pembangunan penangkaran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu komponen
habitat yang terdiri dari pakan, air, naungan (cover), dan ruang. Jenis fauna atau
satwa liar telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan seperti

4
pemanfaatan berupa daging untuk kebutuhan protein hewani, sebagai hewan
peliharaan, obyek wisata serta sebagai hewan percobaan biomedis dan obat-obatan.
Salah satu satwa liar yang mempunyai potensi nilai ekonomi atau komersil
yaitu rusa, karena rusa dapat dimanfaatkan sebagai penghasil daging, kulit, dan
tanduk. Tanduk muda (velvet) yang sudah dikeringkan harganya dapat mencapai
US $ 120 per kg. Rusa di Indonesia yang mempunyai peluang untuk dibudidayakan
terdiri dari beberapa jenis yaitu Cervus timorensis yang terdiri dari delapan sub
spesies, Cervus unicolor dua sub spesies, dan Axis-axis (rusa totol), jenis rusa yang
berasal dari India yang sekarang berkembang baik di Istana Bogor.
Rusa dapat dijadikan alternatif sumber ekonomi masyarakat sekitar hutan
dengan cara pengembangan penangkaran atau budidayanya, karena produk yang
dihasilkan rusa semuanya mempunyai nilai ekonomi dan pasar bagi produk yang
dihasilkan juga tersedia. Rusa juga mempunyai nilai estetika yang dapat dijadikan
satwa peliharaan untuk kesenangan dan sebagai satwa pajangan dalam taman,
terutama untuk rusa totol (A. axis) dan rusa timor (C. timorensis). King (1966) dalam
Bailey (1984) menyatakan bahwa nilai komersial dari satwa liar merupakan nilai
kapital yang diperoleh dari penjualan individu beserta produk-produk yang dihasilkan
termasuk produk wisata (jasa).
Status rusa di Indonesia hingga saat ini masih merupakan satwa liar yang
dilindungi oleh undang-undang. Hal ini disebabkan oleh populasi rusa di alam
semakin menurun sebagai akibat adanya perburuan liar untuk berbagai kepentingan,
karena selama ini pemenuhan kebutuhan satwa termasuk rusa masih dilakukan
dengan cara menangkapnya dari alam (kawasan hutan termasuk kawasan konservasi),
selain itu disebabkan oleh rusaknya habitat sebagai dampak eksploitasi hutan. Dalam
rangka menyelamatkan populasi rusa dari kepunahan perlu dilakukan suatu usaha
melalui konservasi ex-situ dengan tujuan untuk pemanfaatan secara lestari, baik
sebagai satwa konsumsi, obyek wisata maupun satwa percobaan.

5
E. CARA DAN MODEL PENANGKARAN RUSA

1. Cara Tepat Pemilihan Lokasi


Lokasi penangkaran harus berada pada tempat yang tenang, aman dari
gangguan predator, mudah dicapai, baik pada musim hujan maupun pada musim
kemarau, tersedia air sepanjang tahun dan permukaan tanahnya jangan berbatu, akan
lebih baik bila di sekitarnya terdapat lapangan perumputan. Topografi rata sampai
bergelombang ringan, luas lahan minimal 1 ha atau sesuai kebutuhan, tersedia pohon-
pohon peneduh atau semak-semak.

2. Model Kandang
Pengelolaan rusa melalui penangkaran atau budidaya tidak terlalu sulit, sistem
pemeliharaan dapat menggunakan beberapa model kandang. Bila lahan terbatas dapat
digunakan kandang yang menyerupai kandang kambing, dengan model kandang
panggung, ukuran kandang untuk satu individu 1,5 x 2 m. Dinding dan lantai dapat
menggunakan bahan dari bambu dan atap dari alang-alang (Gambar 1).
Sistem pemeliharaan dengan model kandang panggung biasanya digunakan
untuk penangkaran/budidaya skala kecil (2 pasang). Bila lahan, dana, dan tenaga
memungkinkan penangkaran dapat menggunakan sistem ranch (Gambar 2), yaitu
rusa dilepas dalam areal terbuka yang sekelilingnya dipagari, luas areal tergantung
ketersediaan lahan, idealnya untuk 10 individu rusa dibutuhkan 1 ha.

Gambar 1. Sistem Kandang Panggung

6
Gambar 2. Sistem Ranch

Di dalam ranch harus terdapat tempat bernaung, baik secara alami berupa
pohon dan semak maupun naungan buatan seperti selter yang atapnya dapat terbuat
dari injuk, alang-alang atau pun seng. Dengan luasan tersebut biasanya rusa tetap
harus diberi rumput dari luar dan pakan tambahan terutama pada musim rumput dari
luar tetapi pakan tambahan berupa konsentrat seperti jagung dan dedak tetap harus
diberikan. Untuk mencukupi kebutuhan pakan pada musim kemarau harus dibuat
kebun rumput dengan jenis rumput yang unggul dan dipanen secara bergiliran
(rotasi).

Selain kandang pemeliharaan di dalam penangkaran dibutuhkan juga kandang


lain yang biasa disebut yard. Dinding yard terbuat dari bahan berupa papan yang
tertutup rapat, atap terbuat dari seng atau alangalang, dan lantai dari semen. Kandang
ini berbentuk lonjong yang digunakan untuk perawatan rusa sudah benar sebagai
tempat bagi rusa yang sedang bunting atau melahirkan, dan dapat juga digunakan
sebagai kandang adaptasi (Gambar 3).

7
Gambar 3. Yard (Kandang Isolasi dan Adaptasi)

3. Bangunan Peneduh/Selter
Bangunan ini berfungsi sebagai tempat berteduh karena mempunyai atap dan
dinding, dengan maksud untuk menghindari terpaan air hujan. Bangunan ini sangat
diperlukan dalam penangkaran rusa sistem ranch, apalagi bila di dalam ranch
tersebut vegetasi pohonnya tidak rapat atau jarang. Atap bangunan peneduh dapat
menggunakan alang-alang/rumbia atau seng. Sarana dan pra-sarana lain yang harus
diperhatikan dalam suatu penangkaran yaitu :

a. Pagar
Pagar dibuat mengelilingi areal penangkaran, dengan bahan yang terdiri dari
tiang pagar (besi siku, beton, atau pagar hidup) dan kawat (harmonika/ram,
dan kawat duri). Tinggi tiang pagar minimum 2,5 m dari permukaan tanah,
ditanam 50-75 cm dengan pondasi beton dan ujung bagian atas dibengkokkan
sepanjang 0,5 m dan diberi kawat duri sebanyak 3-4 baris. Jarak antar tiang
pagar maksimal 2,0 m. Selain itu, tiang pagar yang berasal dari pohon hidup,
ditanam di sekitar pagar setinggi 2,5 m dari permukaan tanah dengan diameter
batang minimum 10 cm dan ditanam 50-75 cm. Pohon hidup tersebut ditanam
di antara tiang besi siku, untuk membantu penguatan pagar.

8
b. Areal Pengembangan Pakan
Areal pengembangan pakan merupakan salah satu sarana yang sangat penting
di dalam penangkaran karena produktivitas dan perkembangbiakan satwa
sangat tergantung oleh pakan. Luas lahan yang dibutuhkan untuk
memelihara/menangkarkan rusa sebanyak 11 ekor adalah ± 0,3 ha. Kebutuhan
lahan ini didekati dengan cara mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi
oleh seekor rusa dewasa dengan jumlah rata-rata produksi pakan dalam 1 ha.
Sementara 1 ha areal penanaman pakan yang apabila dikelola secara
intensif dan berada pada daerah basah dengan irigasi yang baik, akan
menghasilkan 270.000 kg/ha/tahun (Reksohadiprodjo, 1982). Sedangkan
untuk daerah kering biasanya produksi rumputnya hanya setengahnya. Areal
pengembangan pakan harus dikelola secara intensif untuk menjaga kualitas
dan kuantitas jenis pakan.

c. Tempat Makan
Makanan yang diberikan pada rusa berupa hijauan segar dan makanan
tambahan yakni dedak. Tempat makan yang digunakan berbentuk palungan
berukuran panjang 1,5-2,0 m dan lebar 0,5 m atau dapat pula berbentuk bulat
segi 6 berukuran diameter 50-75 cm dengan tinggi 30 cm dari atas permukaan
tanah. Bahan yang digunakan untuk membuat tempat makan ini terdiri dari
papan, kayu, atau seng polos/licin. Tempat makan diletakkan di tengah atau di
sudut kandang dan diusahakan setiap kandang terdapat 1 buah tempat makan.

d. Tempat Minum
Rusa memerlukan air untuk minum dan berkubang. Oleh karena itu, air
tersebut sebaiknya selalu bersih dan sering diganti. Pada musim kawin, rusa
jantan sangat menyenangi air sebagai tempat berkubang sambil meraung-
raung dan mengejar betina. Tempat minum yang digunakan berbentuk bak
tembok persegi panjang berukuran 1,0 x 0,5 x 30,0 cm yang dibenamkan ke
dalam tanah atau berbentuk kolam dilengkapi dengan pembuangan. Bentuk ini
dapat menghindari rusa jantan yang sering menanduk terutama apabila

9
memasuki musim kawin. Letak tempat minum bisa di tengah atau di sudut
kandang dan setiap kandang diusahakan terdapat 1 tempat minum.

e. Jalan Kontrol
Jalan kontrol berfungsi untuk pengontrolan dan pemberian pakan. Lebar jalan
kontrol adalah 1,5-2,0 m dan sebaiknya terletak di sepanjang pinggir kandang.

f. Saluran Air
Air diperlukan untuk mengairi pakan, pemeliharaan kandang, dan rusa. Suatu
penangkaran sebaiknya mempunyai bak penampung dan menara air lengkap
dengan generator.

g. Gudang dan Peralatan


Bangunan ini berfungsi untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan
penang-karan, pemeliharaan pakan (alat pertanian), pakan, dan obat-obatan.

F. METODE PENANGKARAN RUSA

1. METODE PEMELIHARAAN
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penangkaran rusa antara lain
pengelompokan rusa, penyapihan anak, kesehatan, dan penandaan/pemberian nomor/
tagging.

a. Pengelompokan Rusa
Pemeliharaan rusa harus dikelompokkan berdasarkan status fisiologi yakni
jantan dan betina yang telah siap kawin, jantan yang belum siap kawin (baru
disapih), betina yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang sedang
bunting, betina yang melahirkan, dan rusa yang sakit. Pengelompokan rusa
bermanfaat untuk memudahkan dalam pemberian pakan sesuai kebutuhan,
memudahkan dalam pengaturan perkawinan, menjaga pejantan agar tidak
mengganggu rusa yang lain, keamanan bagi induk yang bunting dalam proses
kelahiran, ketenangan bagi induk yang menyusui dalam merawat anak,
menghindari perkawinan sebelum waktunya, memperoleh kesempatan makan

10
bagi rusa yang baru disapih, dan memudahkan penanganan bagi rusa yang
sakit.

b. Penyapihan Rusa
Penyapihan anak rusa juga perlu diperhatikan yaitu di mana induk betina
harus bersatu dengan anak sampai berumur 4 bulan, agar anak rusa mendapat
air susu lebih banyak. Penyapihan sebelum berumur 4 bulan, misalnya
ditinggal mati oleh induk, diperlukan penambahan air susu dari luar dengan
menggunakan dot atau sendok. Setelah disapih, pemeliharaan tetap terpisah
antara jantan dan betina untuk menghindari kemungkinan terjadi perkawinan
lebih awal.

c. Kesehatan
Kesehatan rusa merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian serius
agar produktivitas rusa semakin meningkat. Berdasarkan pengalaman,
kematian dalam penangkaran lebih banyak terjadi pada musim hujan yakni
pada anak rusa (27 %) dan rusa dewasa (9%). Penyakit yang sering
menyerang pada musim hujan adalah pneumonia (radang paru-paru) sebagai
akibat kandang yang becek dan lembab. Sedangkan kematian pada rusa
dewasa lebih banyak disebabkan oleh faktor makanan, lingkungan, dan stress
akibat penanganan. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain sanitasi lingkungan kandang, pemberian
pakan yang memenuhi standar gizi, memperbaiki teknik penanganan, dan
vaksinasi, serta pemberian obat sesuai jenis penyakit dan anjuran medis.

d. Penandaan (Tagging)
Penandaan atau pemberian nomor pada rusa merupakan hal penting dalam
manajemen penangkaran. Penandaan sebaiknya dilakukan sebelum anak rusa
disapih. Tujuan penandaan atau pemberian nomor adalah untuk mengetahui
silsilah (pedigree), umur, memudahkan dalam pengontrolan, memudahkan
dalam pengenalan individu, dan untuk memudahkan pengaturan perkawinan.
Cara pemberian nomor pada rusa dilakukan dengan cara nomor ditulis pada

11
potongan plastik yang tebal atau papan dengan menggunakan paku/kawat agar
tidak mudah hilang. Kemudian potongan tersebut digunting/dipotong, dan
digantung pada leher rusa dengan menggunakan tali tambang berdiameter
5 mm lalu dimasukkan ke dalam selang berukuran 2 dim. Penulisan nomor
menggunakan 4-5 angka. Angka pertama menunjukkan tahun kelahiran; angka
kedua dan ketiga adalah bulan kelahiran; angka keempat menunjukkan nomor
induk (angka akhir saja); dan angka kelima merupakan nomor urut anak.
Contoh nomor 3223, yaitu 3 menunjukkan rusa lahir pada tahun 2003; 2
menandakan bulan Pebruari; 2 menandakan induk yang melahirkan
mempunyai nomor berakhiran 2; dan 3 berarti induk tersebut telah melahirkan
sebanyak 3 kali.

e. Pemeliharaan Kebun Pakan


Pemeliharaan pakan harus sering dilakukan agar memperoleh pakan yang baik
dan selalu tersedia secara kontinyu sepanjang musim, dengan cara
pembersihan, pengolahan tanah, pemupukan, pendangiran, dan penyiraman.
Pembersihan rumput liar dan pendangiran dilakukan 3 bulan sekali sedangkan
pengolahan tanah dan pemupukan dilakukan 1 tahun sekali.

f. Teknik Pemberian Pakan


Pemberian pakan segar (hijauan) pada rusa didasarkan pada bobot badan rusa,
dengan perhitungan 10 % x bobot badan x 2. Maksud dikalikan 2 yakni
diperhitungkan dengan jumlah hijauan yang tidak dimakan karena sudah tua,
tidak disenangi, kotor karena terinjak-injak, dan telah bercampur dengan
urine/faeces. Contoh : bila bobot badan seekor rusa dewasa 50 kg akan
membutuhkan pakan segar sebanyak 10% x 50 kg x 2 = 10 kg/hari. Pemberian
pakan selalu disertai dengan pemberian garam sebagai perangsang nafsu
makan dan untuk memenuhi kebutuhan mineral. Pemberian pakan dilakukan
dengan cara pengaritan di mana hijauan dipotong lalu diberikan pada rusa
dalam kandang, baik musim hujan maupun musim kemarau. Namun hal ini
tergantung pada sistem penangkaran yang digunakan. Frekuensi pemberian

12
pakan sebanyak 3 kali dalam sehari (pagi, siang, dan sore) sedangkan
pemberian pakan tambahan berupa dedak padi diberikan 3 kali dalam
seminggu, sebanyak 0,5 kg/ekor.

2. METODE PEMINDAHAN

a. Penangkapan Rusa
Cara menangkap rusa agar tidak menimbulkan cedera pada petugas dan rusa
itu sendiri, antara lain dengan menjepit leher dengan tangan kanan, ke dua
mata ditutup menggunakan tangan kiri agar dapat mengurangi stress;
sementara petugas lainnya memegang kedua pangkal paha dari arah samping.
Penangkapan ini membutuhkan tenaga 2-3 orang dan pada rusa jantan yang
mempunyai tanduk kokoh atau sempurna, harus mendapat perhatian yang
lebih serius karena sangat galak dan liar.

b. Pengangkutan Rusa
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan rusa adalah apabila jarak
pengangkutan sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lama, sebaiknya
menggunakan peti/kandang berbentuk persegi empat. Satu buah peti/kandang
berukuran 1,5 x 1,5 x 1,5 m, berisi 1 ekor rusa. Peti/kandang terbuat dari
kayu/papan/triplek yang tertutup rapat agar rusa tidak stress tetapi harus
mempunyai lubang udara. Pembuatan peti/kandang diusahakan agar rusa
dapat berdiri tegak. Selama dalam perjalanan, rusa harus diberi makan dan
minum, bila memungkinkan diberi obat anti stress. Selain itu pengangkutan
rusa dapat juga mengguna-kan bius dengan dosis yang sesuai dengan
ketentuan. Sebaiknya pengangkutan rusa dilakukan pada sore atau malam
hari, agar rusa tidak kepanasan.

13
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Penangkaran merupakan kegiatan yang mengandung dua pokok yaitu
pembiakan (breeding) dan pembesaran (rearing).
2. Satwa merupakan sebutan bagi setiap jenis hewan, sedangkan satwa liar
merupakan satwa yang memiliki sifat atau genetik liar, dan hewan ternak
adalah satwa liar yang sudah didomestikasi.
3. Penangkaran satwa liar di Indonesia merupakan suatu bentuk konservasi ex-
situ. Permasalahan secara umum dalam pengelolaan konservasi ex-situ satwa
liar adalah ukuran populasi yang terbatas, hal ini disebabkan oleh luas area
pengelolaan/pemeliharaan/penangkaran satwa liar sangat terbatas dan tidak
terlalu besar sehingga populasi yang ditampung juga terbatas.
4. Rusa merupakan satwa liar yang mempunyai potensi ekonomi karena dapat
menghasilkan daging, kulit, dan velvet (tanduk muda). Populasi rusa di alam
mengalami penurunan karena adanya perburuan liar yang tidak terkendali dan
rusaknya habitat. Untuk menghindari kepunahan dan sekaligus memanfaatkan
rusa secara optimal dan berkelanjutan dapat dilakukan melalui penangkaran
(konservasi ex-situ).
5. Status rusa di Indonesia hingga saat ini masih merupakan satwa liar yang
dilindungi oleh undang-undang. Hal ini disebabkan oleh populasi rusa di alam
semakin menurun sebagai akibat adanya perburuan liar untuk berbagai
kepentingan, karena selama ini pemenuhan kebutuhan satwa termasuk rusa
masih dilakukan dengan cara menangkapnya dari alam (kawasan hutan
termasuk kawasan konservasi), selain itu disebabkan oleh rusaknya habitat
sebagai dampak eksploitasi hutan. Dalam rangka menyelamatkan populasi
rusa dari kepunahan perlu dilakukan suatu usaha melalui konservasi ex-situ
dengan tujuan untuk pemanfaatan secara lestari, baik sebagai satwa konsumsi,
obyek wisata maupun satwa percobaan.

14
6. Rusa mempunyai adaptasi yang tinggi dengan lingkungannya sehingga mudah
untuk ditangkarkan.
7. Secara ekonomi penangkaran rusa mempunyai prospek yang bagus, karena
rusa dapat menghasilkan daging, kulit, dan tanduk dan pasar bagi produk
tersebut tersedia.
8. Rusa termasuk satwa yang produktif karena dapat bereproduksi setiap tahun
dan mempunyai tingkat produksi yang tinggi dengan persentase karkas yang
lebih tinggi dibanding satwa lain.

B. Saran
Saran saya sebagai penulis makalah ini, agar ada baiknya makalah yang
ditugaskan pada penulis dapat menjadi karya ilmiah yang bisa menjadi salah satu
bagian penunjang atau masukan pembelajaran di dalam pemahaman secara teori mata
kuliah Pengelolaan Satwa Liar.

15