Anda di halaman 1dari 13

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH

SESUDAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA

Oleh :
Istijab 1

Abstract
Since September 24th, 1960, land disputes have floated in respect to the government’s policies
which are inconsistent, overlapping and ambivalent. The UUPA No. 5/1960 has been
emasculated by the released of sector regulations such as mining regulation, forestry
regulation, local government regulation (Autonomy) that each of them has put the land on the
same object, whilst each department has different viewed in understanding the object. The
different understanding of land as the object has opened to conflict of interest that substantially
causes UUPA No. 5/1960 to compartmentalization. Finally, how to identify the land dispute
cases, the causal factor of land dispute and solution of the cases based on the source, principle
and prevailed regulation must be discussed.
Kata Kunci : UUPA, sengketa tanah dan kebijakan pemerintah

PENDAHULUAN Hukum Barat yang diterapkan di Indonesia


adalah hukum kolonial yang sangat
Pada hari Sabtu, tanggal 24 September
merugikan bangsa Indonesia yang bersumber
1960 adalah hari yang sangat penting dalam
pada Burgerlijk Wetboek dan Agrarisch Wet
perkembangan hukum bangsa Indonesia,
tahun 1870 No. 55.
utamanya dalam bidang hukum Agraria.
Tanggal bersejarah ini merupakan hari Dengan diundangkannya UUPA yang
diundangkan Undang-undang No. 5 Tahun berlaku sejak 24 September 1960, maka
1960 ( Lembaran Negara No. 104 tahun 1960) bangsa Indonesia telah mempunyai sendiri
yang dikenal dengan Peraturan Dasar Pokok- hukum agraria yang sudah diunifikasi dan
Pokok Agraria yang dikenal secara luas bersifat nasional yang berdasar Hukum Adat
dengan UUPA. Sebagaimana kita bangsa yang sudah disanir. UUPA memuat Panca
Indonesia maklum dan mengalami sendiri, Program, azas-azas dan ketentuan-ketentuan
bahwa sebelum diundangkan UUPA, pokok agrarian reform Indonesia, UUPA
diberlakukan Hukum Agraria warisan bukan hanya memuat ketentuan-ketentuan
pemerintah kolonial Belanda khususnya tentang perombakan hukum yang lama
dibidang pertanahan yang bersifat dualistis, menjadi hukum agraria yang baru. Sesuai
yaitu Hukum adat dan Hukum Barat. Adapun dengan namanya UUPA, merupakan

1
Dosen tetap Hukum Agraria dan Ilmu Hukum di Fakultas Hkum Unversitas Merdeka Pasuruan

Penyelesaian Sengketa . . . | 11
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
peraturan dasar pokok-pokok agraria, tentu masalah kepastian hukum atau tanda bukti hak
memuat pokok-pokok persoalan agraria di wilayah kuasa pertambangan.
lainnya.
1. Penyelesaian Sengketa Tanah
Kenyataan, dalam empat dekade Seperti halnya sengketa di bidang lain,
terakhir, fenomena sengketa tanah yang tanah dapat diselesaikan melalui 3 (tiga) cara:
muncul ke permukaan begitu luar biasa.
a. Penyelesaian secara langsung dengan jalan
Sengketa-sengketa itu terjadi antara
musyawarah.
masyarakat dengan pemerintah, masyarakat
dengan investor, masyarakat dengan b. Penyelesaian melalui Badan Peradilan,
masyarakat sendiri, bahkan terjadi antara yaitu di ajukan ke pengadilan umum secara
pemerintah dengan pemerintah. Sebagian perdata atau pidana, jika sengketanya
besar permasalahan ini muncul akibat mengenai penyelesaian tanah secara ilegal
pembebasan tanah untuk kepentingan yang dimungkinkan oleh Undang-undang
pembangunan infrastruktur, industri, No. 51/Prp/1960 tentang larangan
perumahan, pariwisata, maupun perkebunan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak
skala besar. Di luar Jawa misalnya, sengketa atau kuasanya atau melalui peradilan tata
tanah terjadi antara masyarakat adat yang usaha negara. Pada umumnya semua seng-
mempertahankan hak adat atas tanah dengan keta pertanahan dapat diajukan ke
pemilik modal besar yang mendapatkan pengadilan, baik dalam lingkup peradilan
konsesi pengusahaan hutan, pertambangan, umum maupunn peradilan tata usaha
termasuk didalamnya pertambangan minyak negara. Namun, bukan rahasia lagi apabila
dan gas bumi, dan pengembangan agribisnis relatif banyak sengketa pertanahan yang
dengan pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat). penyelesaiannya melalui pengadilan
dirasakan kurang efektif di samping
Pembahasan penyelesaian sengketa
memakan waktu dan biaya.
pada tulisan ini dibatasi pada hal yang
berhubungan dengan usaha untuk Di samping itu, dari hasil analisis
memperoleh tanah bagi keperluan proyek terhadap beberapa kasus menyangkut
pembangunan yang meliputi, bagaiman cara sengketa pertanahan yang telah diputuskan
menyelesaian sengketa tanah dan penerapan oleh pengadilan, baik dalam tingkat pertama,
asas-asas serta ketentuan penyelesain banding, maupun kasasi; tanpa bermaksud
sengketa tanah yang dikuasai secara legal untuk menggeneralisasi, tampak bahwa
maupun secara ilegal. Bagaiman cara diperlukan peningkatan pemahaman substansi
menyelesaian sengketa tanah dan penerapan permasalahan berkenaan dengan konsep yang
asas-asas serta ketentuan penyelesain mendasarinya agar keputusan yang diambil
sengketa tanah yang dikuasai antar instansi sungguh-sungguh dapat memberikan keadilan
pemerintah. dan kepastian hukum, sehingga bermanfaat
bagi pencari keadilan.
Pembahasan masalah-masalah di atas,
diharapkan dapat menjawab 4 (empat) Tidak dipungkiri bahwa masalah tanah
permasalahan yang umum terjadi dalam dilihat dari segi yuridisnya saja merupakan hal
masyarakat kita. Secara garis besar dapat yang tidak sederhana pemecahannya dan
diurutkan secara sistematis seperti, masalah dalam suatu kasus, tidak jarang terlibat
tata cara pengadaan tanahnya, masalah beberapa instansi yang langsung atau tidak
tumpang tindih dengan instansi/proyek lain, langsung berkaitan dengan masalah/sengketa
misalnya perkebunan dan kehutanan, masalah yang diajukan di pengadilan. Kesamaan
ganti rugi untuk para “penyerobot” tanah, pemahaman terhadap konsep diperlukan agar

12 | P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . .
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
terdapat kesamaan persepsi yang akan Mahkamah Agung, serta terbuka
menghasilkan keputusan yang solid dan adil kemungkinan untuk dimohonkan
bagi pihak-pihak yang meminta keadilan. Peninjauan Kembali.
Dalam perkembangan sengketa Walaupun secara teoretis pembentukan
pertanahan yang melibatkan sekelompok Pengadilan Pertanahan dimungkinkan, namun
anggota masyarakat, dilandasi oleh sikap masalahnya yang utama adalah: apakah
pesimis terhadap jalur pengadilan, pernah dengan dibentuknya Pengadilan Pertanahan
timbul gagasan untuk membentuk 'Pengadilan efektivitasnya dapat dijamin? Berdasarkan
Pertanahan' di dalam lingkup peradilan pengamatan, berperkara di pengadilan
umum. sungguh tidak ringan biayanya, tidak
sederhana, dan makan waktu. Selain kendala
Secara teoretis, pembentukan
yang bersifat organisatoris, adanya campur
pengadilan pertanahan dapat saja dilakukan.
tangan pihak lain yang bersifat non-yuridis
Sebagai contoh, di masa yang lalu pernah
mengakibatkan bahwa pengadilan terkadang
dibentuk Pengadilan Ekonomi sebagai
diragukan sebagai benteng terakhir untuk
konsekuensi diterbitkannya Undang-undang
menemukan keadilan. Efektivitas Pengadilan
No. 7/Drt/1955 tentang Pengusutan,
Pertanahan yang diusulkan itu dengan
Penuntutan, dan Pengadilan Tindak Pidana
demikian masih merupakan tanda tanya.
Ekonomi (ditetapkan menjadi undang-undang
dengan Undang-undang No. 1 tahun 1961). 2. Melalui Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa (Alternative
Setelah terbitnya Undang-undang No. 2 Dispute Resolution).
tahun 1986 tentang Peradilan Umum, dasar Dengan telah diundangkannya UU No.
hukum pembentukan pengadilan pertanahan 30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
dalam lingkungan peradilan umum dapat Penyelesaian Sengketa, terdapat suatu
dilihat dalam Pasal 8, yang menyebutkan kepastian hukum untuk mengakomodasi cara
bahwa di lingkungan Peradilan Umum dapat penyelesaian sengketa perdata di luar
diadakan pengkhususan yang diatur dengan peradilan umum.
undang-undang.
a. Arbitrase
Ciri pokok Pengadilan Pertanahan yang
diharapkan adalah sebagai berikut: Penyelesaian sengketa melalui arbitrase
yang bersifat informal, tertutup, murah, dan
a. Di setiap Pengadilan Negeri ditempatkan efisien diharapkan mampu menyelesaikan
seorang hakim atau lebih, yang semata- sengketa secara lebih memenuhi harapan para
mata diberi tugas (dengan demikian: pihak.
diangkat) mengadili perkara-perkara
pertanahan. Dengan demikian, hakim Pe- Arbitrase sebagai salah satu alternatif
ngadilan Pertanahan adalah hakim penyelesaian sengketa di luar pengadilan
Pengadilan Negeri dengan penugasan dipilih oleh para pihak dengan memuatnya
khusus. sebagai klausul dalam suatu perjanjian khusus
setelah sengketa terjadi. Jika hal ini yang
b. Hukum acara yang dipergunakan adalah dikehendaki, maka berkenaan dengan
hukum acara perdata yang berlaku bagi strukturnya dapat dipertanyakan arbitrase
pengadilan Negeri. yang mana yang dimaksud, apakah yang di-
c. Bila salah satu pihak berkeberatan adakan secara khusus atas persetujuan para
terhadap putusan dapat banding ke pihak (ad hoc) atau yang merupakan suatu
Pengadilan Tinggi dan kasasi ke lembaga?

P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . . | 13
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam Menurut pendapat Maria S.W.
kaitan dengan gagasan pembentukan lembaga Sumardjono, di samping arbitrase, alternatif
arbitrase. Pertama, penentuan sengketa penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang
pertanahan apa saja yang dapat diserahkan dapat dipilih adalah mediasi. Mediasi menurut
penyelesaiannya pada arbitrase. Kedua, Kirtley (1995) dalam Maria S.W.
penentuan tentang siapa yang berhak menjadi Sumardjono, pada intinya adalah: "a process
arbiter. Seorang arbiter harus mampu bersikap of negotiations facilitated by a third person(s)
independen agar dapat dipercaya oleh kedua who as lists disputants to pursue a mutually
belah pihak, di samping harus memahami agreeable settle ment of their conflict"
ketentuan, baik yang tertulis maupun tidak
Selanjutnya, sebagaimana dikutip oleh
berkenaan dengan masalah tanah. Penguasaan
Maria S.W. Sumardjono sebagai suatu cara
substansi hukum tanah yang rumit itu juga
penyelesaian sengketa alternatif, mediasi
merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh
mempunyai ciri: waktunya singkat, terstruktur
arbiter. Ketiga, penentuan tentang tata cara
berorientasi kepada tugas, dan merupakan
pengangkatan arbiter, tata cara dan syarat-
cara intervensi yang melibatkan peran serta
syarat pengajuan sengketa serta pemberian
para pihak secara aktif (Nolan Haley, 1992).
keputusannya, serta tata cara pelaksanaan
pihak yang bersengketa menunjuk pihak
keputusan. Keempat, penentuan sifat
ketiga sebagai media tor yang membantu
keputusan itu, sebaiknya bersifat final dan
tercapainya hal-hal yang di sepakati bersama.
tidak dapat dimintakan banding. Gagasan
Keberhasilan mediasi ditentukan oleh itikad
membentuk lembaga arbitrase pertanahan
baik kedua belah pihak untuk bersama-sama
masih memerlukan pemikiran yang seksama.
menemukan jalan keluar yang disepakati.
Apabila semua unsur yang perlu
dipertimbangkan untuk terciptanya lembaga Segi positifnya adalah waktunya
arbitrase itu sudah dapat dipenuhi, barangkali singkat, biayanya ringan, dan prosedurnya
gagasan itu dapat terwujud. Namun, dengan sederhana. Pihal yang bersengketa akan
berfungsinya lembaga tersebut, tidak serta merasa lebih berdaya dibandingkan dalam
merta juga dapat diharapkan bahwa proses pengadilan, karena mereka sendirilah
penyelesaian sengketa akan berjalan lebih yang menentukan hasilnya. Di samping itu,
cepat. Tersedianya tenaga ahli yang dalam mediasi para pihak akan lebih terbuka
profesional, tata kerja yang jelas, dan terhadap adanya nilai-nilai lain di samping
tersedianya data pendukung yang diperlukan faktor yuridis. Segi negatifnya adalah hasil
akan berdampak terhadap ketepatan waktu mediasi tidak dapat dimintakan penguatan
penyelesaian sengketa. Badan Arbitrase kepada pengadilan oleh karena itu,
Nasional Indonesia (BANI) yang sudah ada efektivitasnya tergantung pada ketaatan para
saat ini ternyata berdasarkan pengalaman pihak untuk menepati kesepakatan bersama
kami belum memenuhi persyaratan- tersebut.
persyaratan sebagaimana tersebut di atas.
Tugas mediator antara lain:
Diharapkan dengan adanya undang-
undang baru tersebut di atas, penyelesaian 1) menentukan apakah kasus itu sesuai
melalui arbitrase akan memenuhi harapan untuk ditangani melalui mediasi dan
semua pihak. apakah para pihak siap untuk
berpartisipasi;
b. Alternatif penyelesaian sengketa dapat
2) menjelaskan tentang proses mediasi dan
dilakukan dengan cara konsultasi,
para mediator;
negosiasi, mediasi, konsolidasi, atau
penilaian ahli
14 | P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . .
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
3) membantu para pihak untuk saling dalam menyelesaikan sengketasengketa
menukar informasi dan melakukan tawar pertanahan, asas-asas dan ketentuan hukum
menawar; materielnya, yaitu Hukum Tanah Nasional
yaitu UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan
4) membantu para pihak untuk menentukan
Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).
dan merancang kesepakatan.
a. Sumber yang pertama dan utama adalah
Apakah mediasi sesuai untuk
Pancasila;
menyelesaikan sengketa pertanahan? Dalam
praktik mediasi di Amerika Serikat atau b. UUD NRI 1945 karena UUPA merupa-
Inggris, walaupun ada yang beranggapan kan pelaksanaan langsung khususnya
bahwa yang menentukan media, itu adalah pasal 33 ayat 3;
sikap para pihak yang menginginkan untuk
c. Hukum Tanah Nasional disusun
menyelesaikan sengketanya, pada umumnya
berdasarkan Hukum Adat mengenai
mediasi lebih cocok untuk digunakan,
tanah dan bahwa Hukum Tanah Nasional
misalnya dalam kasus dimana hubungan
adalah Hukum Adat (konsiderans UUPA
antara para pihak diharapkan terus berlanjut,
jo pasal 5 UUPA) yang berarti Hukum
kasus-kasus dimana ada keseimbangan antara
Adat mengenai tanah merupakan sumber
kekuatan (power) kedua belah pihak (Bevan,
utama pembangunan Hukum Tanah
1992), sengketanya berjangka waktu singkat
Nasional dan berfungsi pula sebagai
(short-term dispute), dan tidak ada kepastian
pelengkap Hukum Tanah Nasional
tentang hasil akhirnya bila di bawa ke
(khususnya norma-normanya);
pengadilan (Nolan Haley, 1992).
Konsepsi Hukum Adat menjadi konsepsi
Barangkali untuk Indonesia, dimana
Hukum Tanah Nasional yaitu konsepsi
cara-cara musyawarah untuk mencapai
komunalistik religius yang memungkinkan
mufakat merupakan hal yang lazim, untuk
penguasaan tanah secara individual dengan
kasus-kasus pertanahan yang bersifat perdata
hak penguasaan yang bersifat pribadi
dalam arti luas, yakni yang tidak menyangkut
sekaligus mengandung unsur kebersamaan
aspek administrasi dan pidana, sepanjang para
yang dalam pasal 6 UUPA dinyatakan sebagai
pihak menghendaki cara-cara mediasi, maka
fungsi sosial.
hal itu dapat ditempuh. Barangkali dapat
disebutkan bahwa upaya Komnas HAM untuk 2) Asas-asas yang harus diperhatikan
membantu menyelesaikan beberapa kasus dalam menyelesaikan sengketa tanah
tanah adalah dengan menggunakan cara-cara khususnya adalah asas penguasaan
mediasi. dan pemilikan tanah.
2. Sumber Hukum, Asas dan Ketentuan Asas-asas yang berlaku mengenai penguasaan
Penyelesaian Sengketa atas Tanah dan pemilikan tanah dan perlindungan yang
diberikan oleh Hukum Tanah Nasional kita
1) Sumber Hukum
kepada para pemegang hak atas tanah, sebagai
Selain mengetahui cara penyelesaian hukum suatu "negara yang berdasar atas
tanah yang umumnya diatur dalam Hukum hukum", seperti yang ditegaskan dalam
Acara (Hukum Formal), maka bagi para pihak Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945
yang bersengketa, oleh Pemerintah, oleh bahwa:
Badan Arbitrase, maupun oleh Badan-badan
a. Penguasaan dan penggunaan tanah oleh
Peradilan, perlu diperhatikan dan
siapapun dan untuk keperluan apapun,
dipergunakan dan dijadikan sumber pegangan
harus dilandasi hak atas tanah yang

P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . . | 15
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
disediakan oleh Hukum Tanah Nasional apapun dan oleh pihak siapapun kepada
kita; pemegang haknya untuk menyerahkan
tanah kepunyaannya dan atau menerima
b. Penguasaan dan penggunaan tanah tanpa
imbalan yang tidak disetujuinya;
ada landasan haknya, tidak dibenarkan,
bahkan diancam dengan sanksi pidana g. Dalam keadaan yang memaksa, jika tanah
(Undang-undang nomor 51 /Prp tahun yang bersangkutan diperlukan untuk
1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah penyelenggaraan kepentingan umum,
Tanpa Izin yang Berhak Mau Kuasanya); yang tidak mungkin menggunakan tanah
yang lain, dapat dilakukan pe-
c. Penguasaan dan penggunaan tanah yang
ngambilannya secara paksa. Dalam arti
berlandaskan hak yang disediakan oleh
tidak memerlukan persetujuan pemegang
Hukum Tanah Nasional, dilindungi oleh
haknya. Kemungkinannya dibuka oleh
Hukum terhadap gangguan oleh
Undang-undang 20 / 1961 yang disebut di
siapapun, baik oleh sesama anggota
atas, dengan menggunakan apa yang
masyarakat maupun oleh pihak penguasa/
disebut acara pencabutan hak;
pemerintah sekalipun, jika gangguan
tersebut tidak ada landasan hukumnya; h. Dalam perolehan atau pengambilan
tanah, baik atas dasar kesepakatan
d. Oleh Hukum disediakan berbagai sarana
bersama maupun melalui pencabutan
hukum untuk menanggulangi gangguan
hak, pihak pemilik tanah berhak
yang ada:
memperoleh imbalan atau ganti kerugian;
– gangguan oleh sesama anggota
i. Bentuk dan jumlah imbalan atau ganti
masyarakat gugatan perdata melalui
kerugian tersebut haruslah sedemikian
Pengadilan Umum atau meminta
rupa hingga bekas pemilik tanah tidak
perlindungan Bupati/Walikota sebagai
mengalami kemunduran, baik dalam
yang diatur oleh UU No. 51 / Prp /
bidang sosial maupun pada tingkat
1960 di atas;
ekonominya. lni merupakan suatu asas
– gangguan oleh Penguasa: gugatan universal yang dinyatakan secara tegas
melalui Pengadilan Umum atau dalam Penjelasan Umum Peraturan
Pengadilan Tata Usaha Negara; Pemerintah 39 / 1973 tentang Acara Pe-
netapan Ganti Kerugian oleh Pengadilan
e. Dalam keadaan biasa, diperlukan oleh Tinggi Sehubungan dengan Pencabutan
siapapun dan untuk keperluan apapun Hak-hak atas Tanah dan Benda-benda
(juga untuk proyek-proyek kepentingan Lain yang Ada di atasnya. Pernyataan
umum) perolehan tanah yang haknya dalam PP tersebut menunjukkan, bahwa
dimiliki seseorang, haruslah melalui mu- dalam usaha memperoleh tanah untuk
syawarah untuk mencapai kesepakatan penyelenggaraan kepentingan umumpun
bersama. Baik mengenai penyeraliaii berlaku asas tersebut. Dalam penentuan
tanahnya kepada pihak yang memerlukan imbalan sebagai pengganti kerugian tidak
maupun mengenai imbalannya yang ada perbedaan ukuran, apakah tanah yang
merupakan hak pemegang hak atas tanah bersangkutan diperlukan bagi
yang bersangkutan untuk menerimanya; penyelenggaraan kepentingan umum atau
f. Sehubungan dengan apa yang tersebut di bukan.
atas, dalam keadaan biasa, untuk
memperoleh tanah yang diperlukan tidak
dibenarkan adanya paksaan dalam bentuk 3. Penerapan Asas-asas dan Ketentuan

16 | P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . .
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
Penyelesaian Sengketa Tanah yang kemunduran, baik dalam bidang sosial
Dikuasai Secara Legal maupun pada tingkat ekonominya.
Dalam UUPA dinyatakan bahwa
Hukum Tanah Nasional kita merupakan PP 39/1973 tersebut mengatur cara
perwujudan sila-sila Pancasila. penetapan ganti kerugian oleh Pengadilan
Tinggi, yang bentuk atau jumlah ganti
Sila Ketuhanan yang Maha Esa dan kerugiannya yang ditetapkan oleh Presiden
Kerakyatan yang Dipimipin oleh Hikmah tidak disetujui oleh pihak yang hak atas
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan tanahnya dicabut untuk kepentingan umum.
perwakilan menghendaki penyelesaian Asas tersebut wajib dijadikan pedoman bagi
sengketa diusahakan pertama-tama melalui Pengadilan Tinggi dalam menetapkan ganti
musyawarah. Dalam musyawarah itu kerugian yang bersangkutan.
kedudukan para pihak yang bersengketa
sederajat, walaupun salah satu pihaknya Negara kita sebagai negara hukum,
adalah Pemerintah. Kalau yang bersengketa seperti dinyatakan dalam UUD NRI 1945,
meliputi jumlah yang besar, dapat mengakui dan melindungi hak-hak rakyat dan
dilaksanakan melalui perwakilan atau kuasa masyarakat-masyarakat hukum adat atas
yang ditunjuk oleh yang bersangkutan. tanah. Namun, kalau diperlukan untuk proyek
yang mempunyai sifat kepentingan umum
Dalam Keppress 55 /1993 yang atau kepentingan nasional, tanah yang
merupakan salah satu peraturan pelaksanaan dimiliki itu wajib diserahkan. Merupakan asas
UUPA, diberikan penjelasan mengenai hukum umum dalam berkehidupan bersama
hakikat musyawarah itu. "Musyawarah adalah bahwa kepentingan umum dan kepentingan
proses atau kegiatan saling mendengar dengan nasional harus didulukan dari pada
sikap saling menerima pendapat dan kepentingan pribadi dan golongan; apalagi
keinginan yang didasarkan atas kesukarelaan karena tanah yang dimiliki itu adalah tanah
antara pihak pemegang hak atas tanah dan bersama Bangsa Indonesia, seperti dinyatakan
pihak yang memerlukan tanah, untuk mem- dalam Pasal 1 UUPA. Akan tetapi demikian
peroleh kesepakatan mengenai bentuk dan dinyatakan dalam Penjelasan Umum UUPA
besarnya ganti kerugian." hal itu tidaklah berarti, bahwa hak dan
kepentingan mereka diabaikan begitu saja.
Sebenarnya tujuan musyawarah bukan
Hal itu dibuktikan dalan penetapan asas
hanya untuk memperoleh kesepakatan
mengenai bentuk dan besarnya ganti kerugian, penyelesaian sengketa mengenai bentuk dan
tetapi juga untuk mencapai kesepakatan jumlah ganti kerugian, yang wajib, diberikan
mengenai kesediaan pihak yang mempunyai kepada, perserorangan pemegang hak atas
tanah menyerahkan tanahnya kepada pihak tanah, seperti yang dikemukakan di atas.
yang memerlukan dan kesepakatan mengenai Kepada masyarakat-masyarakat
imbalannya. hukum adat yang tanah ulayatnya diperlukan
Mengenai imbalan tersebut terdapat bagi pembangunan wajib diberikan
ketentuan asasnya dalam Pasal 18 UUPA recognitie, seperti juga dinyatakan dalam
yang mengatur kemungkinan pencabutan hak Penjelasan Umum UUPA. Recognitie tidak
atas tanah untuk kepentingan umum, yaitu diberikan dalam bentuk uang, melainkan
dalam bentuk pembangunan fasilitas umum
wajib diberikan ganti kerugian yang layak.
atau bentuk lain yang bermanfaat bagi
Pengertian layak dipedomani oleh asas yang
masyarakat setempat (Keppres 55/1993 Pasal
dinyatakan dalam Penjelasan PP 39/1973,
14).
bahwa dengan tindakan pencabutan hak bekas
pemilik/pemegang hak tidak mengalami
P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . . | 17
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
Sengketa-sengketa dengan masyarakat biaya yang akan diperlukan oleh bekas
hukum ada umumnya timbul karena pihak pemegang hak untuk mencari pengganti
yang memerlukan tanah tidak memperhatikan lokasi usahanya.
ketentuan-ketentuan adat dan Hukum Adat
Sila Persatuan Indonesia tidak
setempat dalam usaha memperolehnya.
menghendaki bahwa penyelesaian sengketa
Mereka hanya bertindak berdasarkan hak
akan mengakibatkan terganggunya kesatuan
yang diberikan dengan Surat keputusan yang
dan persatuan bangsa.
diperolehnya dari Pemerintah dan
mengutamakan sistem target. Setidak- Negara Indonesia, sebagai negara
tidaknya seharusnya dimulai dengan “kulo hukum seperti ditegaskan dalam Penjelasan
nuwun” sebagai layaknya orang memasuki Umum UUD 1945, melindungi hak seseorang
rumah/wilayah pihak lain. Diikuti dengan atas tanah terhadap gangguan dari pihak
melakukan upacara dan kegiatan lain menurut manapun juga dari pihak Penguasa sekalipun,
adat dan Hukum Adat setempat. kalau gangguan itu tidak ada dasar hukumnya.
Untuk itu disediakan oleh Negara lembaga
Asas tersebut bukan hanya wajib
peradilan yang bertugas dan berwenang
dipedomani oleh para hakim Pengadilan,
memberi keputusan dalam hal terjadi
tetapi juga oleh Pemerintah dan pihak-pihak
sengketa.
lain yang memerlukan tanah dalam
menyelesaikan sengketa-sengketa mengenai Dengan dernikian tidak dibenarkan
pembebasan untuk keperluan apapun dan bahwa dalam menyelesaikan sengketa pihak
penentuan imbalannya. yang bersengketa, baik selama warga maupun
Penguasa, bertindak sebagai "hakim sendiri".
Sila Kemanusiaan yang Adil dan
Biarpun mempunyai bukti bahwa dialah pihak
Beradab serta Sila Keadilan Sosial selain
yang berhak atas tanah yang disengketakan,
menghendaki diusahakannya penyelesaian
penyelesaian sengketanya wajib diajukan
yang adil, juga menerapkan asas tepa selira
kepada Pengadilan, kalau tidak dapat
terutama dalam menghadapi pihak yang
diselesaikan melalui musyawarah.
ekonomis lemah, seperti yang terdapat juga
Demikianlah dinyatakan dalam Putusan
pernyataannya dalam berbagai Pasal UUPA
Mahkamah Agung 11 juli 1958 nomor
(Pasal 10, 11, 15, 19, 41, dan 44).
279/K/Sip/ 1957: "Seseorang yang merasa
Dalam Pasal 6 lampiran Inpres 9/1973 dirinya berhak menguasai sebidang sawah,
ditetapkan bahwa jika dalam pemberian yang berada di tangan orang lain, tidak
imbalan dimasukkan juga rencana diperbolehkan begitu saja merebut sawah itu,
penampungan bekas pemegang hak atas melainkan harus menggugat orang lain itu di
tanah, harus diusahakan sedemikian rupa oleh maka Pengadilan. Oleh karenanya, gugatan
pihak yang memperoleh tanah, agar mereka terhadap orang yang merebut sawah itu, agar
yang dipindahkan tetap dapat menjalankan sawah dikembalikan, dikabulkan tanpa
kegiatan usahanya/mencari nafkah kehidupan memeriksa siapakah yang sebenarnya berhak
yang layak seperti semula. Sehubungan de- menguasainya. Bagi tergugat masih
ngan itu, kalau mereka tidak disediakan senantiasa terbuka kemungkinan untuk
penampungan, adalah adil dan manusiawi jika menggugat si penggugat, agar ditentukan
imbalan yang diberikan bukan hanya terbatas siapa ang berhak menguasai tanah tersebut."
pada penggantian harga tanah dan bangunan
Ketentuan hukum lain yang kita
serta tanaman yang ada, seperti ditetapkan
jumpai dalam Hukum Adat adalah bahwa jika
pedomannya dalam Pasal 15 Keppres 55
seseorang yang berhak atas satu bidang tanah
/1993. Namun, perlu diperhitungkan juga

18 | P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . .
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
membiarkan tanah tersebut dikuasai secara dalam PP 24/1997 tentang Pendaftaran
terbuka dengan itikad baik oleh orang lain Tanah).
selama waktu yang cukup lama tanpa
Lembaga yang sama, juga dapat
melakukan kegiatan untuk memintanya
digunakan untuk mengatasi kelemahan sistem
kembali, ia akan kehilangan haknya atas tanah
publikasi negatif yang digunakan sekarang
yang bersangkutan dan tertutup kemungkinan
dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah
baginya untuk menuntutnya kembali. Ini yang
menurut Hukum Tanah Nasional kita. Hukum
dikenal sebagai lembaga "rechtsverwerking",
Tanah kita yang didasarkan pada Hukum Adat
atau ada juga yang menyebutnya sebagai
tidak mengenai lampaunya waktu sebagai
sudah kedaluarsa tuntutannya. Lembaga ini
upaya memperoleh hak pemilikan atas tanah,
kita jumpai dalam berbagai Putusan
yang dikenal dalam Hukum Barat sebagai
Mahkamah Agung. Misalnya dalam:
lembaga "acquisitieve verjaring", karena
1. Putusan tanggal 10 Januari 1957 nomor Hukum Adat tidak mengenalnya (Putusan
210/K/Sip/ 1955 mengenai kasus di Hoog Gerechtshof tanggal 25 Oktober 1934).
Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat
Dengan menerapkan lembaga
(Banten): "Gugat dinyatakan tidak dapat
rechtsverwerking dalam menyelesaikan
diterima, oleh karena para penggugat
sengketa-sengketa tanah untuk melindungi
dengan mendiamkan soalnya 25 tahun,
pihak yang memperoleh dan menguasai tanah
dianggap telah kehilangan haknya
dengan itikad baik dan secara terbuka selama
(rechtsverwerking)";
waktu yang lama dan didaftar dalam buku
2. Putusan tanggal 24 Mei 1958 nomor tanah serta dibuktikan dengan sertifikat
329/K/Sip/1957 mengenai kasus di sebagai pemegang haknya, pernyataan bahwa
Kabupaten Tapanuli Selatan: "Pelepasan sertifikat merupakan alat bukti yang kuat dan
Hak (rechtsverwerkeing). Di Tapanuli Se- bahwa tujuan diselenggarakannya
latan apabila sebidang tanah yang pendaftaran tanah adalah dalam rangka
diperoleh secara merimba selama lima memberikan jaminan kepastian hukum
tahun berturut-turut dibiarkap saja oleh menjadi tampak nyata dan dirasakan anti
yang bersangkutan maka hak atas tanah itu praktisnya, sungguhpun publikasi yang
dianggap telah dilepaskan"; digunakan sekarang ini dasarnya adalah
sistem negatif.
3. Putusan tanggal 7 Maret 1959 nomor 70 K
/ Sip / 1955 mengenai kasus di Kotapraja Penyelesaian sengketa dalam usaha
Malang "Hal Kedaluarsa. Suatu tangkisan memperoleh tanah untuk pelaksanaan
kedaluwarsa dalam perkara perdata tentang pembangunan dengan menggunakan asas-
tanah ditolak dengan alasan, bahwa asas dan ketentuan peraturan-peraturan
penggugat telah berulang-ulang minta dari pelaksanaan UUPA telah dibahas di muka.
tergugat untuk menyerahkan tanah itu
Dalam hal musyawarah tidak dapat
kepada penggugat";
menghasilkan kesepakatan mengenai
Lembaga "rechtsverwerking" tersebut penyerahan bidang tanah yang diperlukan
dapat diterapkan untuk menyelesaikan dan/atau mengenai bentuk dan jumlah
gugatan-gugatan terhadap pihak yang imbalannya, sengketanya dapat diselesaikan
memperoleh dan menguasai tanah dengan dengan menggunakan lembaga pencabutan
itikad baik selama waktu yang lama, tanpa ada hak yang diatur dalam UU 20/ 1961 dan
pihak yang mengganggu ataupun peraturan-peraturan pelaksanaannya, jika
menggugatnya. (lembaga ini telah diadopsi tidak dapat digunakan bidang tanah yang lain

P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . . | 19
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
dan proyeknya mempunyai sifat kepentingan hukum dalam Pasal 6 UU 20 / 1961 yang
umum. Pencabutan hak hanya dapat dilakukan disebut di atas.
dengan Keputusan Presiden dan tanah yang
4. Penyelesaian Sengketa Tanah yang
bersangkutan baru boleh dikuasai setelah
Dikuasai Secara Ilegal
ganti ruginya diterimakan. Oleh karena itu Apa yang dikemukakan di atas adalah
penyelesaiannya memerlukan waktu dan asas-asas dan ketentuan-ketentuan yang harus
dinilai kurang memadai untuk proyek-proyek digunakan dalam menyelesaikan sengketa-
yang terbatas waktu pelaksanaannya atau sengketa yang tanahnya dikuasai secara legal
yang harus segera diselesaikan. oleh pihak yang diminta menyerahkannya.
Sebenarnya untuk proyek-proyek Jika tanah yang diperlukan dikuasai
demikian UU 20/1961 sudah menyediakan secara ilegal, jika tidak dapat diselesaikan
sarana dalam Pasal 6. Dalam mengatasi melalui musyawarah, disediakan
keadaan "darurat" dimungkinkan tanah yang
ketentuannya dalam UU 51/Prp/1960 yang
diperlukan segera dikuasai dan digunakan
telah disebut di atas.
hanya atas dasar Keputusan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Biasanya mereka yang menguasai
Penyelesaian pencabutan haknya oleh tanah tersebut tidak menyadari bahwa
Presiden, jika soalnya tetap tidak dapat penguasaannya adalah ilegal. Mereka
diselesaikan melalui musyawarah, dapat memperolehnya melalui pembayaran kepada
dilakukan kemudian. pihak yang menguasai tanah yang
bersangkutan sebelumnya. Mereka merasa
Sebagaimana dimaklumi untuk mengambil alih "hak garap" secara "legal",
mengatasi "jalan buntu" melalui musyawarah, karena tidak jarang perolehannya dilakukan
digunakan oleh Pemerintah dalam praktik secara tertulis, yang diketahui oleh Kepala
masa lalu dan dibenarkan oleh Pengadilan, Desa/ Kelurahan dan Camat.
lembaga penawaran pembayaran diikuti
dengan konsinyasi pada Pengadilan Negeri. UU 51/Prp/1960 tersebut diberikan
Penggunaan lembaga tersebut untuk kewenangan kepada para Bupati/Walikota
menyelesaikan sengketa dalam acara untuk secara arif dan bijaksana menyelesaikan
memperoleh tanah terang bertentangan sengketa tanah yang dikuasai secara ilegal itu,
dengan hukum. Acara penawaran pembayaran dengan memperhatikan faktor-faktor yang
yang diatur dalam Pasal 1404 KUHPdt adalah menyebabkan terjadinya penguasaan dan
acara untuk menyelesaikan pembayaran utang yang meliputi kasus yang dihadapi. Penyele-
debitor kepada kreditor, dalam hal kreditor saian bisa dicapai melalui musyawarah untuk
karena suatu alasan tidak dapat dihubungi mencapai kesepakatan mengenai pe-
ataupun tidak bersedia menerimanya. Dalam ngosongan tanah yang bersangkutan.
acara memperoleh tanah jika pemilik tanah
Jika musyawarah tidak dapat
tidak bersedia melepaskan tanahnya ataupun
menghasilkan kesepakatan, diberikan
tidak bersedia menerima imbalan yang
kewenangan kepada Bupati/Walikota untuk
ditawarkan, tidak ada hubungan utang piutang
secara sepihak memutuskan penyelesaiannya,
yang dapat diselesaikan dengan menggunakan
tapi wajib mengajukan tanpa wajib
lembaga penawaran pembayaran, yang diikuti
mengadukan soalnya kepada Pengadilan.
dengan konsinyasi.
Dalam hal ini dilakukan pencabutan hak,
Oleh karena itu, selain bertentangan karena penguasaan tanahnya tidak ada
dengan hukum, penggunaan lembaga tersebut landasan haknya.
tidak perlu, dengan telah disediakannya upaya

20 | P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . .
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
Dapat diperintahkan pengosongan, dengan bidang kehutanan, pertambangan
dengan atau tanpa pemberian uang transmigrasi di lingkungan itu, dan ada
"pesangon". Apa yang diberikan itu bukan beberapa kepuasan bersama antara Menteri
imbalan ataupun ganti kerugian, kecuali Pertambangan & Energi dan Menteri
mengenai bangunan dan tanaman yang Kehutanan yang dapat digunakan sebagai
menurut hukum memang merupakan milik pedoman, yaitu:
pihak yang menguasai tanah. pengosongan
1. Keputusan Bersama Menteri
bisa juga disertai penyediaan tempat hunian
Pertambangan & Energi dan Menteri
baru. Akan tetapi baik pesangon maupun Kehutanan RI No. 969.K/05/M.PE /1989 -
penyediaan tempat baru merupakan semata- 419/Kpts-11/1989 tanggal 23 Agustus
mata putusan kebijaksanaan Bupati/Walikota 1989 tentang Pedoman Pengaturan
dalam menyelesaikan kasus yang Pelaksanaan Usaha Pertambangan dan
bersangkutan. Karenanya bukan hak okupan Energi dalam Kawasan Hutan;
yang dapat dituntut pemberiannya. 2. Keputusan Bersama Menteri
Pertambangan & Energi dan Menteri
Mengenai penyelesaian sengketa Kehutanan RI No.
itupun pertimbangan kemanusiaan tetap wajib 1101.K/702/M.PE/1991-436/Kpts-
diperhatikan, karena asas dasar utama yang 11/1991 tertanggal 10 Juli 1991 tentang
bersumber pada Sila Kedua Pancasila juga pembentukan Tim Koordinasi Tetap
berlaku dalam kasus-kasus ini. Departemen Pertambangan dan Energi dan
Departemen Kehutanan dan Perubahan
Seperti telah dikemukakan di atas, Tata Cara Pengajuan Ijin Usaha
menurut UU 51/Prp/1960 terhadap okupan Pertambangan dan Energi dalam Kawasan
dapat diajukan tuntutan pidana. Hutan. Lembaga "Sewa" atau "Pinjam
Penggunaan ketentuan UU Pakai" yang dalam praktik dilakukan oleh
Departemen Kehutanan dapat digunakan
51/Prp/1960 umumnya dilakukan dalam
kalau memang di dalam tubuh bumi yang
usaha menyelesaikan sengketa mengenai berada di kawasan hutan terdapat sumber-
penguasaan tanah negara yang meliputi sumber alam (migas) yang dapat
banyak okupan. Penyelesaian sengketa digunakan untuk sebesarbesarnya
penguasaan tanah perseorangan dilakukan kemakmuran rakyat. Namun, seyogyanya
melalui gugatan perdata pada Pengadilan. pihak kontraktor production sharing harus
memperhatikan ekses pencemaran
5. Penyelesaian Sengketa atas Tanah lingkungan di sekitarnya termasuk bahaya
antar Instansi Pemerintah tanah longsor, banjir, dan sebagainya.
Sengketa antar instansi pemerintah atas
tanah pada umumnya menyangkut PENUTUP
kewenangan. Sebenarnya hal tersebut dapat Dari pokok bahasan tersebut di atas dapat
diselesaikan dengan musyawarah. Kalau disimpulkan bahwa:
musyawarah tidak dicapai kata sepakat, maka
1. Timbulnya sengketa tanah dalam rangka
masalahnya diajukan kepada instansi atasan
pengadaan tanah untuk proyek
untuk diberi keputusan, misalnya melalui
pembangunan disebabkan oleh adanya
Keputusan Presiden dengan melibatkan DPR
benturan-benturan kepentingan antara
atau cukup di tingkat Daerah dengan putusan
pihak yang hendak menguasai tanah dan
Bupati yang melibatkan DPRD.
pihak yang mempunyai hak dan
Selain itu, dapat digunakan sebagai kepentingan atas tanah yang juga
pedoman Inpres 1/1976 tentang Sinkronisasi dipengaruhi oleh peraturan
Pelaksanaan Tugas bidang keagrariaan, perundangannya dan kebijakan

P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . . | 21
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
pemerintah yang tumpang tindih. Cara- penguasaan tanah ilegal dapat diselesai-
cara penyelesaian sengketa pertanahan kan dengan berpedoman pada UU No.
dapat dilaksanakan melalui musyawarah, 56/Prp/1960.
Badan Peradilan, Arbitrase, dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS).
Cara-cara melalui Arbitrase dan APS -o0o-
lebih dianjurkan untuk mencegah konflik
yang berkepanjangan. Penyelesaian
tumpang tindih antara instansi-instansi
DAFTAR PUSTAKA
pemerintah harus diselesaikan secara
musyawarah atau melalui instansi yang Boedi Harsono, 1999, “Hukum Agraria
lebih tinggi. Indonesia”, Bagian pertama, Jilid I, Edisi
Revisi, Penerbit Djambatan, Jakarta.
2. Menyelesaikan sengketa pertanahan yang
......................., 1971, “Undang-undang Pokok
penting adalah bukan caranya, melainkan
Agraria” (Sejarah Pembentukan Undang-
pemahaman tentang sumber hukum, asas
undang Pokok Agraria, Isi dan
ketentuan, serta penerapan asas dan Pelaksanaannya), Bagian pertama, Penerbit
ketentuan tersebut dalam menyelesaikan Djambatan, Jakarta.
sengketa. Dalam hal ini perlu
diperhatikan bahwa Keppres 55/1993 ........................, “Kasus-kasus Pengadaan Tanah
tentang pengadaan Tanah untuk dalam Putusan Pengadilan” (suatu
tinjauan yuridis), disampaikan dalam
Kepentingan Umurn dan peraturan
Seminar Nasional, Fakultas Hukum
pelaksanaannya, sifat hakikatnya adalah
Universitas Trisakti bekerja sama dengan
suatu peraturan intern administratif yang Badan Pertanahan Nasional, 3 Desember
tertuju kepada instansi pemerintah yang 1994.
memerlukan tanah dan instansi-instansi
yang bertugas membantu dan ........................, “Penyelesaian Sengketa
Pertanahan sesuai Ketentuan-ketentuan
melayaninya. Peraturan-peraturan
dalam Undang-undang Pokok Agraria”,
tersebut memberi ketentuan berupa
disampaikan dalam Seminar HUT UUPA
petunjuk dan instruksi mengenai apa XXXVI 1996, Kantor Menteri Negara
yang harus dilakukan oleh instansi yang Agraria/Kepala badan Pertanahan Nasional,
memerlukan tanah dan apa yang harus 22 Oktober 1996.
dilakukan oleh pemerintah Daerah yaitu
Bupati/Walikota dan Gubernur serta Gouw Giok Siong, 1963, “Tafsiran Undang-
undang Pokok Agraria”, Cetakan ke 2,
pejabat-pejabat lain yang bersangkutan
Penerbit PT Kinta, Jakarta.
dalam penyelesaiannya. Karena itu,
ketentuan tersebut tidak mengikat pihak Maria S.W. Sumardjono, Sengketa Pertanahan
yang memiliki tanah, walaupun ada kesan dan Penyelesaiaannya Secara Hukum,
demikian karena bukan undang-undang, disampaikan dalam Seminar Penyelesaiaan
tidak pula dapat dipaksakan berlakunya Konflik Pertanahan, Sigma Conferences, 26
Maret 1996
pada pihak yang mempunyai tanah. Oleh
karenanya, perlu pemahaman asas dan M. Mahfud MD, 2014, Politik Hukum di
ketentuan yang diatur dalam Hukum Indonesia, Cetakan ke 6, Raja Grafindo
Tanah Nasional dan bagaimana Persada, Depok
penerapannya tergantung dari sistem Paulus Effendi Lotulung, Penyelesaian Sengketa
sosial budaya dari daerah. Mengenai Pertanahan melalui PTUN, disampaikan
dalam Seminar Penyelesaian Konflik

22 | P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . .
WIDYA YURIDIKA Jurnal Hukum Volume 1 / Nomor 1 / Juni 2018
Pertanahan, , Sigma Conferences, 26 Maret
1996
Rachmad Safa’at, 2011, Advokasi, dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa, Surya Pena
Gemilang, Malang
Rusmadi Murad, 1991, Penyelesaian Sengketa
Hukum Atas Tanah, Penerbit Alumni,
Bandung.

P e n y e l e s a i a n S e n g k e t a . . . | 23