Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................... 1


BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 2
1.1. Latar Belakang ........................................................................................ 2
1.2. Tujuan ..................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 4
2.1. Klasifikasi Botani ................................................................................... 4
2.2. Morfologi Bunga Telang ......................................................................... 4
2.3. Syarat Tumbuh ........................................................................................ 6
2.4. Faktor Internal dan Eksternal ................................................................. 7
2.5. Cara Perbanyakan dan Teknik Budidaya ................................................ 7
BAB III TANAMAN BUNGA TELANG ........................................................... 10
3.1. Kandungan Kimia Bunga Telang .......................................................... 10
3.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kandungan Kimia Bunga Telang 12
3.3. Analisis SWOT Tanaman Bunga Telang .............................................. 13
3.4. Cara Pemanfaatan Bunga Telang sebagai Tanaman Obat ................... 16
3.5. Upaya Peningkatan Produksi Bunga Telang ......................................... 17
BAB IV KESIMPULAN ..................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar dalam keanekaragaman
hayati di darat maupun di laut dimana banyak diantaranya mengandung obat.
Tumbuhan obat merupakan aset nasional yang perlu digali, diteliti,
dikembangkan, dan dioptimalkan pemanfaatannya. Kecenderungan masyarakat
untuk mengurangi konsumsi obat kimiawi merupakan peluang bagi
pengembangan tanaman obat sebagai obat tradisional. Salah satu tanaman yang
berkhasiat sebagai obat yaitu tanaman bunga telang.
Di Indonesia, bunga telang telah dikenal lama sebagai obat mata untuk
bayi yang baru lahir atau untuk menyegarkan mata pada orang lansia. Selain itu,
bunga telang juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pemberian bunga telang
pada sapi perah dapat meningkatkan kandungan lemak dan total padatan (Aria,
2018). Pada tahun 2018, penggunaan bunga telang meluas hingga menjadi tren
kuliner seperti blue matcha atau teh biru bunga telang yang berkhasiat sebagai
penangkal stres dan bersifat anti depresif.
Menurut Morris (2009) cit. Efrizal et al., (2017), kuntum bunga telang
merupakan salah satu kuntum yang dapat dikonsumsi. Warna biru pada kuntum
bunga telang merupakan warna yang menarik. Kuntum bunga ini mengandung
quersetin flavonoid, delphinidin, petunidin, robinin, dan ternatin. Quersetin
flavonoid bermanfaat untuk mengobati penyakit infeksi saluran pernapasan atas
(ISPA) dan menurunkan tekanan darah, delphinidin bersama dengan petunidin
dapat menghambat pertumbuhan sel kanker pada payudara hingga 53-66%, dan
robinin memiliki potensi antioksidan. Ternatin merupakan antosianin yang
terakumulasi pada kuntum bunga telang. Ternatin juga berfungsi untuk
menurunkan berat badan dan lemak, serta sebagai antiinflamasi meskipun baru
diujikan pada hewan.
Budidaya bunga telang secara intensif di Indonesia diketahui masih jarang
karena bunga ini merupakan tanaman liar yang dapat tumbuh di berbagai tempat
selama memenuhi persyaratan tumbuhnya. Beberapa daerah atau tempat seperti
Kampung Toga di daerah Bogor, Taman Buah Mekarsari, dan Desa

2
Tamanmartani di Yogyakarta telah memulai menekuni budidaya tanaman bunga
telang ini. Meningkatnya pemanfaatan bunga telang baik dalam bidang kuliner,
ternak, terutama pengobatan menujukkan bahwa perlu adanya upaya serius dalam
peningkatan kuantitas dan kualitas dari budidaya tanaman bunga telang ini.
1.2. Tujuan
Menganalisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) tanaman
bunga telang sebagai tanaman obat.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Botani
Bunga telang (Clitoria ternatea) sering disebut juga sebagai butterfly pea
merupakan bunga yang khas dengan kelopak tunggal berwarna ungu. Selain
bunga ungu, bunga telang juga dapat ditemui dengan warna pink, biru muda, dan
putih (Kazuma et al., 2003). Secara rinci, klasifikasi tanaman telang menurut Al
Snafi et al., (2016) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Mangnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabacea
Genus : Clitoria L
Spesies : Clitoria ternatea
Nama Ilmiah : Clitoria ternatea
Nama Simplisia: Clitoriae Radix (akar bunga telang)
Clitoriae Flos (bunga kembang telang)
Nama asing : Die dou (C), winged leaved clitoria, butterfly pea.
Nama Daerah : Bunga biru, bunga kelentitit, bunga telang (Sumatera).
kembang teleng, menteleng (Jawa), Bunga talang, bunga temanraleng (Sulawesi),
bisi, dan saya ma gulele (Maluku).
2.2. Morfologi Bunga Telang
Tanaman C.ternatea yang mempunyai nama umum kembang telang atau
bunga telang merupakan tanaman berbentuk perdu tahunan yang memiliki
perakaran yang dalam dan berkayu, batang agak menanjak atau tegak, berbulu
halus, dan memanjat dengan tinggi antara 20-90 cm. Tanaman ini memiliki anak
daun berbentuk lonjong, berdaun tiga, permukaan atas tidak berbulu, dan
permukaan bawah dengan bulu yang tersebar. Pembungaan tandan di ketiak
dengan 1-2 bunga, panjang tangkai daun hingga 4 cm, dan kelopak daun berwarna
ungu hingga hampir putih. Buah polong berbentuk memintal lonjong tidak

4
berbulu, berbiji 3-7, katup cembung, biji bundar hingga bulat telur, dan berwarna
kecoklatan (Sutedi, 2013). Bunga dapat berkembang pada 4-6 minggu setelah
tanam dan terus berbunga sementara suhu pada kelembaban yang memadai.
Berbunga dapat terjadi sepanjang tahun dengan kelembaban tanah yang memadai
dan kondisi frost-free. Staples (1992) menyatakan dari 58 aksesi yang ditanam
pada bulan Januari di 19°LS, berbunga pertama terjadi 7-11 minggu setelah
tanam.
Bunga telang termasuk tumbuhan monokotil dan mempunyai bunga yang
berwarna biru, putih, dan coklat. Bunga kembang telang merupakan bunga
berkelamin dua (hermaphroditus) karena memiliki benang sari (alat kelamin
jantan) dan putik (alat kelamin betina) sehingga sering disebut dengan bunga
sempurna atau bunga lengkap. Daun kembang telang termasuk daun tidak lengkap
karena tidak memiliki upih daun hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helai
daun (lamina). Akar pada tumbuhan kembang telang termasuk akar tunggang dan
warnanya putih kotor. Bagian-bagian dari akar kembang telang yaitu leher akar
(colum radisi), batang akar atau akar utama (corpus radisi), ujung akar (apeks
radisi), dan serabut akar (fibrila radicalis). Biji kembang telang berbentuk seperti
ginjal, pada saat masih muda berwarna hijau dan setelah tua bijinya berwarna
hitam (Macedo et al., 1992).

Gambar 1. Bunga telang berwarna ungu, putih dan pink

5
Gambar 2. Morfologi C. ternatea (Staples, 1992)
2.3. Syarat Tumbuh
Tabel 1. Kondisi lahan dan karakteristik agronomi Clitora ternatea
Uraian Nilai
pH tanah 6-9
Kesuburan tanah Rata-rata rendah
Drainase Tidak tahan tanah jenuh
Ketinggian di atas permukaan laut 0-1600 m
Pengendapan 800 mm
Top soil < 2 cm
Pemupukan 40 kg N/ha, 80 kg P/ha
Pemeliharaan pemupukan 80 kg N/ha
Manajemen Potong dan penggembalaan
Kebutuhan biji 2-4 kg ha untuk padang rumput
Jarak tanam 15-30 cm
Kedalaman penanaman 2,5-6,5 cm
Hasil penanaman molekuler 25-29 kg/ha
Hasil penanaman campuran dengan rumput 10-15 kg/ha
Sumber : Kalamani dan Gomez (2001)

Tanaman ini secara alami ditemukan pada padang rumput, hutan terbuka,
semak, pinggiran sungai, dan tempat-tempat terbuka lainnya serta merupakan
tanaman merambat pada tanaman pohon atau pun pagar pekarangan. Tanaman ini
tumbuh pada berbagai jenis tanah, terutama pada tanah berpasir dan tanah liat
merah dengan kisaran pH tanah 5,5-8,9. Tanaman ini memerlukan kelembaban
dengan iklim tropis dataran rendah dengan rata-rata curah hujan tahunan sekitar

6
2000 mm. Tanaman ini tumbuh subur di bawah sinar matahari penuh tetapi dapat
tumbuh di bawah naungan seperti di perkebunan karet dan kelapa (Cook et al.
2005). Tumbuh baik pada kisaran suhu 19-28°C namun mentolerir suhu rendah
15°C dan bahkan suhu dingin (di bawah 0°C) karena tanaman ini dapat tumbuh
kembali dari batang atau dari dasar tanaman asalkan batang sudah keras (kayu)
pada saat datang musim dingin. Tanaman ini tahan terhadap kekeringan 5-6 bulan
di daerah tropis. Tanaman kembang telang merupakan tanaman leguminosa yang
cepat pertumbuhannya dan dapat menutupi tanah dalam waktu 30-40 hari setelah
tanam serta menghasilkan biji pada umur 110-150 hari. Persistensi C. ternatea
sangat tinggi terhadap perubahan musim, kondisi lahan, dan sangat cocok
berasosiasi dengan tanaman lain seperti rumput-rumputan ataupun dengan jenis
leguminosa lainnya (Sutedi, 2013).
2.4. Faktor Internal dan Eksternal
Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor
internal yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain umur, keadaan tanaman,
faktor hereditas, dan zat pengatur tumbuh. Faktor eksternal yang mempengaruhi
pertumbuhan adalah iklim, tanah, dan kondisi biologis dari lingkungan (Gardner
et al., 1991). Faktor lingkungan utama yang membatasi pertumbuhan tanaman
adalah faktor iklim dan tanah. Iklim akan menentukan tipe vegetasi tanaman yang
tumbuh dan produksi. Tanah memiliki fungsi primer yaitu memberikan unsur
mineral baik sebagai tempat persediaan maupun media untuk pertukaran.
Disamping itu tanah menyediakan air sebagai cadangan dan tempat tanaman
berpegang serta bertumpu tegak. Pengaruh langsung dari struktur tanah dapat
terlihat pada pertumbuhan akar.
2.5. Cara Perbanyakan dan Teknik Budidaya
Budidaya bunga telang sangat mudah untuk dilakukan karena tanaman ini
tidak memerlukan perawatan khusus. Tanaman ini dianggap sebagai legum
dimana akarnya membentuk simbiosis dengan bakteri rhizobia sehingga mampu
mengubah nitrogen atmosfer yang membantu menyuburkan tanah. Beberapa pakar
menyarankan bunga telang ditanam disekitar kebun untuk memperbaiki kualitas
tanah melalui penguraian nitrogen. Cara menanam bunga telang dapat dilakukan
dengan metode termudah yaitu dengan menabur benih.

7
Perbanyakan tanaman ini menggunakan benih dari biji, biasanya dengan
cara biji ditabur pada awal musim hujan. Pada akhir musim hujan, tanaman
dipotong secara intensif sehingga biji yang ada akan tumbuh kembali sehingga
tanaman dapat bersaing dan mendominasi gulma. Selama masa pertumbuhan
tanaman perlu penyiangan atau dengan penyemprotan herbisida dengan dosis 200-
400 ml/ha dilakukan 2-8 minggu sebelum penanaman sehingga tanaman gulma
akan terkontrol selama pertumbuhan (Conway et al. 2001).
Menurut Almasshabur (2018), beberapa tahapan dalam budidaya bunga
telang diantaranya sebagai berikut:
a. Persiapan bahan tanam
Benih yang digunakan adalah benih bunga telang yang berkualitas dan
memliki kelayakan tanam. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
perendaman benih selama 3 hingga 5 menit. Benih yang mengapung
menandakan benih kurang layak ditanam. Setelah itu, benih direndam
kembali di dalam air selama 12 jam untuk menghentikan proses
dormansi pada benih agar lebih mudah bertunas. Kebutuhan benih
bunga telang yaitu 10 kg/Ha.
b. Persemaian
Media yang dapat digunakan dalam pembibitan yaitu tanah humus dan
pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 2:1. Media
dimasukkan ke dalam wadah berupa tray semai atau polybag kemudian
masukkan benih ke dalam tray atau polibag. Penyiraman dilakukan
hingga benih bertunas dan menjadi bibit dengan ketinggian 5 cm.
c. Penanaman
Bibit yang siap tanam kemudian dipindah tanamkan pada lahan atau
media pot dengan media tanah yang dicampur denga pupuk dan pasir
dengan perbandingan 2:1:1. Setelah itu dilakukan pemasangan pancang
berupa kayu atau besi dengan ketinggian sekitar 30-50 cm. Hal ini
dilakukan untuk menjaga agar bunga telang mampu tumbuh kokoh dan
tidak merusak bentuknya.

8
d. Pemeliharaan
Penyiraman dilakukan satu kali sehari, sedangkan pemupukan lanjutan
dengan pupuk NPK dapat dilakukan setiap 2 hingga 3 minggu sekali.
Selain itu dilakukan pemangkasan dan penyiangan untuk menjaga
kebersihan bunga telang.
e. Panen
Tanaman ini mulai berbunga pada 8-9 minggu setelah tanam dan
pembungaan terjadi sepanjang tahun selama air mencukupi. Umur
panen tanaman ini yaitu sekitar 3 bulan setelah tanam. Adapun panen
berikutnya dapat dilakukan selang 45 hari kemudian.

9
BAB III
TANAMAN BUNGA TELANG

Tanaman telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman polong yang


termasuk dalam famili Fabaceae mengandung senyawa bioaktif yang berguna
untuk pengobatan. Dari sejumlah senyawa flavonoid yang terdapat pada bunga
telang, antosianin adalah senyawa yang paling utama yang bertanggung jawab
untuk kebanyakan warna merah, biru, dan ungu pada buah, sayur, dan tanaman
hias (Djunarko et al., 2016).
3.1. Kandungan Kimia Bunga Telang
Al-Snafi (2016) menyatakan bahwa kembang telang mengandung tannins,
phlobatannin, carbohydrates, saponins, triterpenoids, phenols, flavanoids,
flavonol glycosides, proteins, alkaloids, antharaquinone, anthocyanins, cardiac
glycosides, Stigmast- 4-ene-3,6-dione, volatile oils dan steroids. Beberapa dari
senyawa kimia tersebut diketahui memiliki efek fungisida, contohnya saponin,
flavonoid, dan fenol.
Menurut Barro dan Ribeiro (1983) cit. Heuzé et al., (2012), komposisi
kimia yang terkandung dalam C. ternatea yaitu sebagai berikut:
Tabel 2. Komposisi kimia C. ternatea
Uraian Satuan Hijauan Biji Jerami
Bahan kering - 21,9 95,8 89,04
Protein kasar % BK 21,3 42,5 34,84
Lemak kasar %BK 3,0 10,0 4,24
Serat kasar % BK 25,6 - 28,94
Serat deterjen netral % BK 53,3 - -
Serat deterjen asam % BK 37,5 - -
Lignin % BK 9,1 - -
Abu % BK 9,9 7,2 -
Energi kasar MJ/kg BK 18,6 - -
Gula total % BK - - 8,92
Karotenoid mg/kg BK - - 400-587
Kalsium - 12,7 0,7 -

10
Fosfor g/kg BK 2,9 5,7 -
Kalium g/kg BK 16,9 12,3 -
Natrium g/kg BK 0,7 0,1 -
Magnesium g/kg BK 4,2 2,4 -
Mangan g/kg BK 68 60 -
Seng mg/kg BK 33 58 -
Tembaga mg/kg BK 7 17 -
Besi mg/kg BK - 144 -
Asam amino mg/kg BK - - -
Arginin - - 7,4 -
Sistein % protein 2,1 2,5 -
Glisin % protein - 4,1 -
Histidin % protein - 2,4 -
Isoleusin % protein - 4,2 -
Leusin % protein - 7,4 -
Lisin % protein 4,4 6,1 -
Metionin % protein 1,5 1,0 -
Fenilalanin % protein - 3,6 -
Treonin % protein 4,4 2,2 -
Triptofan % protein 1,7 1,2 -
Tirosin % protein - 3,3 -
Valin % protein - 4,4 -
Senyawa sekunder : g/kg BK 11,1 - -
tannin
Kecernaan bahan % 69,7 - -
organik
Kecernaan energi % 66,6 - -
pada ruminant
Energi tercena pada MJ/kg BK 12,4 - -
ruminant

11
3.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kandungan Kimia Bunga Telang
a. Suhu
Perlakuan pemanasan yang dilakukan merupakan upaya agar pewarna
kembang telang lebih tahan untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Proses pemanasan juga dilakukan untuk meminimalisir adanya mikroorganisme
pada pewarna kembang telang yang akan menurunkan kualitas warna dan
mempercepat waktu penyimpanan. Akan tetapi pengeringan di atas suhu 40°C
akan dapat merusak beberapa jenis senyawa pada bahan yang sensitif terhadap
panas (Efrizal et al., 2017).
Menurut penelitian Mc Lellan dan Cash (1979), penyimpanan antosianin
pada suhu 1,6; 18,3; dan 37,2oC, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
penyimpanan pada suhu 1,6oC merupakan kondisi yang paling baik dibandingkan
dengan suhu 18,3oC dan 37,2oC. Perubahan saat penyimpanan dimungkinkan
disebabkan oleh reaksi kopigmentasi. Diduga ekstrak masih mengandung enzim
polifenolase yang mengkatalis reaksi pencoklatan (Lydia, 2001). Sehingga
penyimpanan pada kondisi kamar mengakibatkan terjadinya perubahan intensitas
zat warna yang cukup besar akibat dua hal tersebut. Dan penyimpanan pada
kondisi dingin dapat menghambat terjadinya reaksi kopigmentasi dan reaksi
pencoklatan.
b. Cahaya
Hasil ekstrak kembang telang yang disimpan dalam kondisi gelap
memberikan nilai absorbansi yang lebih tinggi daripada penyimpanan terpapar
cahaya. Cahaya merupakan faktor yang turut berperan dalam proses degradasi
antosianin. Cahaya memiliki energi tertentu yang mampu menstimulisasi
terjadinya reaksi fitokimia (fotooksidasi) dalam molekul antosianin (Jackman dan
Smith, 1996). Reaksi fotokimia (fotooksidasi) dapat menyebabkan pembukaan
cincin aglikon pada antosianin yang diawali oleh pembukaan cincin karbom no 2.
Pada akhirnya reaksi fotokimia (fotooksidasi) tersebut mampu membentuk
senyawa tidak berwarna seperti kalkon yang menjadi indikator degradasi
antosianin (Wijaya et al., 2001).

12
c. pH
Antosianin umumnya lebih stabil pada larutan asam dibandingkan pada
larutan netral atau alkali. Dalam keadaan asam, struktur dominan antosianin
berada dalam bentuk inti kation flavilum yang terprotonisasi dan kekurangan
electron (Jackman dan Smith, 1996). Peningkatan nilai pH menyebabkan kation
flavilum menjadi tidak stabil dan mudah mengalami transformasi struktural
menjadi senyawa tidak berwarna seperti kalkon. Oleh karena itu, aplikasi
antosianin pada umumnya banyak digunakan pada makanan asam seperti jus,
minuman ringan, pikel, acar, pudding, yogurt, dan sebagainya. Pada kisaran pH 1-
3, pigmen antosianin berada dalam bentuk oksonium (I) yang berwarna merah dan
merupakan bentuk yang paling stabil. Bentuk tersebut dapat mengalami hidrolisis
pada pH yang lebih tinggi membentuk pseudobasa yang mlai kehilangan warna.
Pseudobasa yang terbentuk ini mengalami kesetimbangan tautomerik.
Kesetimbangan antara bentuk keto dan bentuk enol menghasilkan alfa diketon
yang menghasilkan warna biru. Penurunan nilai derajat kemerahan disebabkan
karena terjadinya reaksi transformasi struktural kation flavilum menjadi kalkon,
dan semakin tinggi nilai pH akan menstimulasi hidrasi lanjutan membentuk
senyawa pseudobasa dalam bentuk keto, anhidro basa hingga anhidrobasa
terionisasi (Markakis, 1982).
3.3. Analisis SWOT Tanaman Bunga Telang
a. Strenghts (kekuatan)
Menurut Cook et al., (2015) C. ternatea dapat tumbuh dengan biaya
produksi yang rendah. Tidak hanya dapat tumbuh subur di bawah sinar matahari
penuh tetapi juga dapat tumbuh di bawah naungan seperti di perkebunan karet dan
kelapa. Tumbuh baik pada kisaran suhu 19-28oC, namun juga dapat mentolerir
suhu rendah (15oC) dan bahkan suhu dingin (di bawah 0oC) karena tanaman ini
dapat tumbuh kembali dari batang atau dari dasar tanaman asalkan batang sudah
keras (kayu) pada saat datang musim dingin. Selain itu juga tahan terhadap
kekeringan, 5-6 bulan di daerah tropis. Persistensi C. ternatea sangat tinggi
terhadap perubahan musim, kondisi lahan, dan sangat cocok berasosiasi dengan
tanaman lain, seperti rumput-rumputan ataupun dengan jenis leguminosa lainnya.

13
Biji C. ternatea mengandung kadar protein yang cukup tinggi, bervariasi
dari 15-25% (Staples 1992) hingga 45% (Odeyinka et al. 2004), sehingga bila
digunakan sebagai benih, C. ternatea akan meningkatkan nitrogen dalam tanah.
Jika biji ditanam di lapangan akan setara dalam satu putaran perbaikan tanah.
Setelah dua tahun penanaman C. ternatea, kesuburan tanah akan kembali kepada
posisi aslinya.
b. Weakness (kelemahan)
Biji C. ternatea yang matang bersifat purgative, tidak dapat dipergunakan
sebagai pakan ternak karena mengandung anti nutrisi (trypsin inhibitor) berupa
tanin dan tripsin inhibitor yang menyebabkan ternak mencret (Macedo et al.
1992). Selain itu akar dari bunga telang memiliki sifat beracun yang efek
sampingnya dapat menimbulkan sakit perut dan kolik. Kelebihan dosis
menyebabkan turunnya kesadaran disertai rasa gelisah dan kehilangan daya ingat.
c. Opportunities (peluang)
Tanaman bunga telang memiliki potensi farmakologis yang luas. Potensi
farmakologis bunga telang antara lain adalah sebagai antioksidan, antibakteri, anti
inflamasi dan analgesik, antiparasit dan antisida, antidiabetes, antikanker,
antihistamin, immunomodulator, dan potensi berperan dalam susunan syaraf
pusat, Central Nervous System (CNS). Beberapa potensi farmakologis yang
dibahas dalam artikel ini adalah potensi antioksidan, antimikrobial, antidiabetes,
dan antikanker (Budiasih, 2017).
Menurut Encyclopedia of Herbal Medicinal bahwa tanaman telang dapat
bermanfaat sebagai laxative (pencahar), diuretik, perangsang muntah, pembersih
darah, mempercepat pematangan bisul, obat cacing, dan radang mata. Senyawa
kimia yang berhasil diteliti pada mahkota bunga telang mengandung 14 jenis
flavonol glikosida dan 19 jenis antosianin (Kazuma et al., 2003). Senyawa fenol
dan delfinidin pada bunga telang efektif terhadap Staphylococcus aureus
penyebab radang mata (Hutajulu et al., 2008). Selain sebagai antioksidan yang
berfungsi menangkap radikal bebas, antosianin juga berperan dalam pemeliharaan
jaringan mata, antidiabetes, antiinflamasi, menjaga sistem imun, dan mencegah
agregasi trombosit (Mukherjee et al., 2008). Antosianin dapat menjadi inhibitor

14
enzim siklooksigenase (COX) dan mencegah sintesis prostaglandin (salah satu
mediator inflamasi) (Sandhar et al., 2011).
Ekstrak daun bunga telang (Clitoria ternatea) dapat menjadi solusi
pengobatan herbal bagi penderita diabetes. Ekstrak daun ini dapat menurunkan
kadar gula darah dan meningkatkan kadar insulin pada tubuh manusia.Hal itu
terungkap dari hasil penelitian dari tim peneliti dari Swiss German University
(SGU). Percobaan awal dilakukan pada mencit yang sengaja diinduksi diabetes
dengan memberikan suntikan aloksan. Setelah pemberian ekstrak daun bunga
telang selama 8 pekan, ditemukan bahwa kadar gula darah pada tikus mulai
kembali normal (Budiasih, 2017).
Bunga telang juga berpotensi sebagai anti cancer karena memiliki
flavonoid dengan kandungan kaempferol yang memiliki potensi tersebut. Dalam
pengujian pada sel normal sebanyak 1.000 mg/ml ekstrak bunga telang diuji coba
ke sel T47D. Hasilnya, sel kanker bisa mati hingga 63,8% karena kandungan
flavonoid seperti kaemferol, delphinin, dan quercetin. Uji aktivitas terhadarp
dalton limhoma juga menunjukkan hasil yang positif (Jacob dan Latha, 2012).
Tanaman C. ternatea sebagai pakan ternak di Indonesia Timur tahun 2007
dapat memberikan produksi biomasa sekitar 4-6 ton bahan kering selama kurang
lebih 200 hari setelah tanam (Budisantoso et al. 2006). Tanaman C. ternatea
adalah tanaman yang kaya protein, baik digunakan sebagai pakan itu sendiri
maupun sebagai suplemen pada ternak yang digembalakan. Tanaman kembang
telang dapat diberikan ke ternak berupa hijauan segar, hay ataupun campuran di
dalam konsentrat. Sedangkan pada ternak non-ruminansia diberikan dalam bentuk
tepung daun yang dicampurkan pada pakan sebagai sumber protein dan pengencer
pakan (Sutedi, 2013). Selain sebagai pakan ternak, C.ternatea juga dapat
digunakan sebagai pupuk hijau dan penutup tanah di perkebunan karet dan kopi
dan di sepanjang garis kontur untuk mengendalikan erosi (Reid dan Sinclair
1980).
Menurut Suebkhampet dan Sotthibandhu (2011), warna biru dari bunga
telang menunjukkan keberadaan dari antosianin. Ekstrak kasar dari bunga telang
dapat digunakan sebagai alternatif pewarna untuk pewarnaan preparat sel darah
hewan. Melihat manfaat, sifat dari bunga telang yang mudah tumbuh di Indonesia,

15
dan aman untuk dikonsumsi maka antosianin dari bunga telang berpotensi untuk
dijadikan pewarna alami pada bahan pangan. Warna biru dari bunga telang telah
dimanfaatkan sebagai pewarna biru pada ketan di Malaysia. Bunga telang juga
dimakan sebagai sayuran di Kerala (India) dan di Filipina (Lee et al., 2011).
d. Threats ( Tantangan)
Manfaat yang terdapat pada tanaman bunga telang terbilang cukup banyak.
Sayangnya masyarakat Indonesia belum mengetahui semua manfaat yang ada di
dalam tanaman bunga telang. Tantangan yang ada sampai saat ini untuk
pengembangan tanaman ini adalah, mengenalkan manfaat dan khasiat tanaman
bunga telang pada bidang pengobatan dan bidang kuliner. Sampai saat ini,
masyarakat Indonesia mengetahui manfaat tanaman ini hanya sebatas untuk obat
sakit mata dan pewarna makanan.
3.4. Cara Pemanfaatan Bunga Telang sebagai Tanaman Obat
Pemanfaatan bunga telang dapat dilakukan dengan merendamnya dalam
air panas sehingga dapat diminum sebagai teh untuk mengurangkan sakit akibat
sariawan (ulcer) mulut dan perawatan insomnia (susah tidur). Air rendaman
bunganya dapat digunakan untuk obat tetes mata pada penderita mata merah atau
konjungtivitis (Herman, 2005). Selain itu daun, bunga, dan akar tanaman kembang
telang dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit sebagai berikut:
1. Menjernihkan mata atau obat mata pada bayi
Bunga telang diremas-remas kemudian ditambahkan air matang
secukupnya. Air campuran ekstrak bunga telang digunakan untuk obat
tetes mata.
2. Abses dan bisul
Cara pertama, bunga telang ditumbuk halus secukupnya kemudian
ditambahkan gula jawa secukupnya. Ramuan ini digunakan untuk
menurap bisul atau abses. Cara kedua, minum air rebusan akar
kembang telang putih untuk mencuci darah. Cara ketiga, ½ genggam
daun bunga telang dicuci bersih kemudian digiling halus. Ditambahkan
air garam secukupnya dan setelahnya ditempelkan pada bagian yang
sakit.

16
3. Radang mata merah
Bunga bunga telang berwarna biru direndam sampai airnya menjadi
biru kemudian digunakan untuk mencuci mata.
4. Sakit telinga
Daun bunga telang dicuci bersih secukupnya kemudian lumatkan.
Garam ditambahkan secukupnya pada air perasannya. Selama masih
hangat, ramuan dioleskan di sekitar telinga yang sakit.
5. Menghilangkan dahak pada bronkhitis kronis
Akar bunga telang direbus secukupnya kemudian diminum air
rebusannya.
6. Demam, iritasi kandung kemih, dan saluran kencing
Sebanyak 0,3 g akar bunga telang kering direbus dengan 4 gelas air
sampai tersisa 2 gelas. Setelah dingin, disaring dan ramuan diminum
sebanyak 2 kali sehari masing-masing 1 gelas (Permadi, 2006).
3.5. Upaya Peningkatan Produksi Bunga Telang
Berdasarkan penelitian Sajimin et al., (2015), perlakuan dosis radiasi yang
berbeda memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan cabang
C. ternatea. Rata-rata tanaman tertinggi pada perlakuan radiasi 501-50 Gy dan
rata-rata terendah pada dosis radiasi sinar gamma 200 Gy. Semakin tinggi dosis
radiasi maka semakin menurun tinggi tanaman karena iradiasi dapat merusak
kromosom tanaman sehingga mengakibatkan terganggunya tanaman. Disisi lain
perlakuan radiasi sinar gamma dapat memunculkan bunga sampai 50% dan umur
panen rata-rata lebih lama menghasilkan biji dibandingkan dengan kontrol
berkisar 51-58 hari setelah tanam, sedangkan umur panen 51-56 hari.

Tabel 3. Rata-rata umur berbunga dan umur panen (hari) dengan perlakuan radiasi
sinar gamma C.ternatea.
Dosis radiasi (Gy) Umur berbunga (hari) 50% Umur panen dari bunga mekar (hari)
0 50 49
50 52 52
100 55 51
150 58 56
200 58 54
250 51 52

17
Selain itu pemupukan dan pemangksan juga sangat mempengaruhi
produksi tanaman bunga telang. Untuk tanaman berbunga, pupuk NPK yang
digunakan yaitu dengan kandungan P tinggi. Sementara pupuk NPK dengan
kandungan N dan K tinggi digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar dan
daun pada tanaman. Pemangkasan yang teratur diperlukan agar membatasi
pertumbuhan tanaman bunga telang karena tanaman ini bersifat menjalar.
Pemangkasan dapat dilakukan sebanyak 2-3 minggu sekali.

18
BAB IV
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari uraian diatas yaitu analisis SWOT pada tanaman
bunga telang diantaranya yaitu biaya produksi murah (S), organ akar dan biji yang
telah matang menyebabkan efek samping bagi yang mengonsumsi (W), memiliki
potensi farmakologis yang luas (O), dan pemanfaatan bunga telang masih terbatas
di kalangan masyarakat Indonesia (T).

19
DAFTAR PUSTAKA

Al Snafi, AE. 2016. Pharmacological importance of Clitoria ternatea- a review.


IOSR J. Pharm. 6: 68-83.

Almasshabur. 2018. 3 Cara Menanam Bunga Telang di Rumah.


<https://ilmubudidaya.com/cara-menanam-bunga-telang>. Diakses pada
tanggal 26 Oktober 2018.

Anonim. 2017. Cara Menanam Kembang Telang Agar Berbunga


SepanjangTahun. <https://www.jamuin.com/2017/12/cara-menanam-
kembang-telang-agar.html>. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2018.

Aria. 2018. Kembang Telang (Clitoria ternatea).


<http://tessa.id/2018/05/29/kembang-telang-clitoria-ternatea/>. Diakses
pada tanggal 26 Oktober 2018.

Barro C. and Ribeiro A. 1983. The study of ClitoriaternateaL. hay as a forage


alternative in tropical countries evalution of the chemical composition at
four different growth stages. J Sci Food Agric. 34:780-782.

Budiasih, K.S. 2017. Kajian Potensi Farmakologis Bunga Telang (Clitoria


ternatea). Prosiding Seminar Nasional Kimia UNY, Yogyakarta.

Budisantoso E, Dalgliesh N, Fernandez PTh, Basuki T, Hosang E, Hau DK, and


Nulik J. 2006. The utilization of stored soil moisture for forage legumes
supply in the dry season in West Timor, Indonesia. XXI International
Grassland Congress, VIII International Rangeland Congress, 1-4 July
2008. Multifunctional Grasslands in ChangingWorld. Guandong People’s
Publishing House. p. 90.

Conway MJ, Mc Cosker K, Osten V, Coaker S, and Pengelly BC. 2001. Butterfly
pea-a legume success story in cropping land of Central Queenland.
Proceeding of the 10th Australian Agronomy Conference, Hobart.
<http://www.regional.org.au/au/asa/2001/p/10/conway.htm>. Diakses pada
18 September 2018.

Cook BG, Pengelly BC, Brown SD, Donnelly JL, Eagles D A, Franco MA,
Hanson J, Mullen BF, Partridge IJ, Peters M, and Schultze-Kraft R. 2005.
Tropical forages. Brisbane (Australia): CSIRO, DPI and F (Qld), CIAT
and ILRI.

20
Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Classification of Flowering Plants.
Columbia University Press, New York.

Djunarko, Ipang., D. Yanthre., S. Manurung, and N. Sagala. 2016. Efek Anti


inflamasi Infusa Bunga Telang (Clitoriaternatea L.) dan Kombinasi
dengan Infusia Daun Iler (Coleus atropurpureus L. Benth) Dosis 140
MG/KGBB pada Udema Telapak Kaki Mencit Betina Terinduksi
Karagenin. Prosiding Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan
Apoteker Indonesia.

Efrizal, R.A., U.D. Amanda., N.M Hemelda., and S. Purbaningsih. 2017. Studi
Awal Pemanfaatan Kuntum Clitoriaternatea L. (Kembang Telang) sebagai
Pewarna Alami Makanan. Research Gate.

Gardner FP, Pearce RB, and Mitchell, RL. 1991. Physiology of Crop Plants.
Diterjemahkan oleh H.Susilo. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Herman. 2005. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pengguna Tanaman Obat di Desa
Sukajadi, Kecamatan Tamansari di Kabupaten Bogor dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhinya, Skripsi. Jurusan Gizi Masyarakat dan
Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian IPB, Bogor.

Heuzé V, Tran G, Bastianelli D, Boval M, and Lebas F. 2012. Butterfly Pea


(Clitoriaternatea). Feedipedia.org. A programme by INRA, CIRAD, AFZ
and FAO. <http://www.feedipedia.org/node/318>. Diakses pada tanggal
19 Oktober 2018.

Hutajulu, T. F., Rahma, dan S. Djumarman. 2008, Identifikasi senyawa fenol dan
delfinidin pada kembang telang (ClitoriaternateaL.) serta uji
efektivitasnya terhadap Staphylococcus aureus penyebab radang mata.
Journal of Agro-Based Industry. 25: 35-44.

Jacob L and Latha MS., 2012, Anticancer activity of Clitoriaternatea Linn, agains
dalton limphoma, Int. J. Pharm. Phytochem. Res. 4: 207-212.

Kalamani A, and SM, Gomez. 2001. Genetic variability in Clitoria spp. Ann
Agric Res. 22:243-245.

Kazuma, K., Naonobu, and N., Masahiko, S. 2003. Malonylated flavonol


glycosides from the petals of Clitoriaternatea. Phytochemistry. 62: 229-
237.

21
Lee, M. P., Abdullah, R., and Hung, K. L. 2011.. Thermal degradation of blue
anthocyanin extract of Clitoria ternatea flower. International Conference
on Biotechnology and Food Science IPCBEE. 7: 49-53.
Lydia, S., Wijaya., Simon B Widjanarko., dan T. Susanto. 2001. Ekstraksi dan
karakterisasi pigmen dari kulit buah rambutan (Nepheliumlappaceum). var.
Binjai. Biosain. 1: 42-53.

Macedo MLR, and Xavier-Filho J. 1992. Purification and partial characterisation


of trypsin inhibitors from seeds of Clitoriaternatea. J Sci Food Agric. 58:
55-58.

Markakis, P. 1982. Anthocyanin as Food Colors. Academis Press, New York.

McLellan., M.R and Cash, J.N. 1979. Application of anthocyanins as colorants for
maraschino-type cherries. Journal of Food Science. 44: 483-487.

Mukherjee, P.K., Kumar, V., Kumar, N.S., and Heinrich, M. 2008. The ayurvedic
medicine Clitoriaternatea- from traditional use to scientific assessment. J.
Ethnopharm. 120: 291-301.

Odeyinka SM, Hector BL, Ørskov ER, and Newbold CJ. 2004. Assessment of the
nutritive value of the seeds of some tropical legumes as feeds for
ruminants. Livest Res Rural Dev. 16.

Permadi, A. 2006. Tanaman Obat Pelancar Air Seni. Penebar Swadaya, Bogor.

Sajimin, Fanindi A, dan Purwantari ND. 2015. Pengaruh radiasi sinar gamma
terhadap produksi dan kualitas benih tanaman pakan ternak kembang
telang (Clitoria ternatea M2) di Bogor. Prosiding Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner.

Sandhar, Kumar, Prasher, Tiwari, and S, Sharma. 2011. A Review of


Phytochemistry and Pharmacology of Flavonoids, Internationale
Pharmaceutica Sciencia. Lovely Professional University, India.

Staples. 1992. Clitoriaternatea L. Record from Proseabase. MannetjeL't, Jones,


RM, editors. Bogor (Indonesia): PROSEA (Plant Resources of South-East
Asia) Foundation.

Suebkhampet, A., and Sotthibandhu, P. 2011. Effect of using aqueous crude


extract from butterfly pea flowers (Clitoria ternatea L.) as a dye on animal

22
blood smear staining. suranaree. Journal of Science Technology. 19: 15-
19.

Sutedi, E. 2013. Potensi kembang telang (Clitoria ternatea) sebagai tanaman


pakan ternak. WARTAZOA. 23: 51-62.

Wijaya, S.I., B.S. Widjanarko, dan T. Susanto. 2001. Ekstraksi dan karakterisasi
pigmen dari kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum) var. Binjai.
BIOSAIN. 1.

23