Anda di halaman 1dari 12

NAMA : NENI NUR AINI

NPM : 201614501112
KELAS : X5O (EKSTENSI B)
PRODI : PENDIDIKAN EKONOMI

“TUGAS MATA KULIAH BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN


LAINNYA”
Studi Kasus Leasing

Kredit Macet akibat Tawaran Leasing yang Bombastis


Kasus yang berurusan dengan perusahaan leasing konsisten menempati peringkat empat
besar pengaduan yang diterima Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Jumlahnya 66 kasus
pada 2015 dan 57 kasus pada 2016. Kasus-kasus ini termasuk pengaduan soal penagih utang,
kredit macet, serta masalah eksekusi jaminan yang dilakukan mata elang.
Untuk perkara terakhir, Mustafa Aqib Bintoro, staf divisi pengaduan dan hukum YLKI,
mengatakan pelibatan mata elang dalam perkara kredit macet lantaran perusahaan pembiayaan
gampang memberi kredit.
Misalnya, orang bisa kredit kendaraan bermotor dengan uang muka hanya Rp500 ribu tanpa
menghitung kemampuan finansial debitur membayar cicilan per bulan. “Akibatnya, ada masalah
penarikan dan beban biaya tarik,” kata Mustafa.
Namun, Mustafa juga menyoroti bahwa kasus kredit macet terjadi lantaran ada hukum ekonomi
pasar: permintaan tinggi bikin perusahaan pembiayaan itu melonggarkan aturan. Di sisi lain, ada
target-target penjualan tertentu dari para pemangku kepentingan industri otomotif.
Sebagai gambaran, berdasarkan data kepolisian, di Jakarta saja ada 13,9 juta motor dan 3,5
juta mobil pada 2015. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat pernah mengatakan
setiap hari ada penambahan sekitar 1.500 kendaraan bermotor baru. Kementerian Perindustrian
bahkan menargetkan penjualan 5,7 juta hingga 13 juta motor serta 1,25 juta hingga 2,5 juta mobil
pada 2020-2023. Ini tentu bakal menjadi problem serius kemacetan.
Celakanya, pengawasan Otoritas Jasa Keuangan terhadap perusahaan pembiayaan kurang
bertaji. Ia lebih sering berdasarkan laporan dokumen, bukan cek ke lapangan.
Berikut petikan wawancara Mustafa Aqib Bintoro kepada Reja Hidayat dari Tirto, awal Oktober lalu.

1
 Berapa banyak laporan pengaduan terkait perusahaan leasing ke YLKI?
Progres total aduan stabil selama 2015 dan 2016. Maksudnya,
pengaduan leasing paling banyak dikeluhkan, selain perbankan dan perumahan. Aduannya
juga enggak jauh beda dari tahun ke tahun. Tunggakan, masalah penarikan kendaraan,
penghitungan beban bunga, dan biaya yang tidak transparan.
 Mayoritas terkait kasus apa?
Mayoritas tunggakan, biaya tarik, dan eksekusi kendaraan. Memang yang mengadu ke
YLKI meminta perlindungan ketika mereka enggak sanggup melanjutkan angsuran. Dan
seharusnya ketidakmampuan konsumen membayar angsuran ini bisa terdeteksi sejak awal
oleh leasing, seperti memperketat prosedur dan syarat kepada konsumen yang mengajukan
pembiayaan kendaraan bermotor.
 Seperti apa syarat mendapatkan pembiayaan dari leasing?
Sebenarnya masalah syarat sudah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan. Konsumen
harus memberi uang muka 20-30 persen dari jumlah pembiayaan. Beban angsuran tidak boleh
lebih besar 30 persen dari jumlah pendapatan konsumen. Misalnya, pendapatan Rp3 juta,
tidak boleh cicilan melebihi Rp1 juta.
Tetapi, meski peraturan sudah ada, eksekusi yang jadi masalah. Ada banyak kasus.
Dari konsumen memalsukan data pribadi, pihak pembiayaan bermain. Contoh, banyak di
pinggir jalan, dengan modal Rp500 ribu sudah dapat motor. Padahal jika mengikuti aturan
uang muka 20-30 persen dari harga motor, banyak yang tidak memenuhi syarat. Permainan ini
menyebabkan banyak pembiayaan tidak layak tetapi tetap disalurkan. Jadi
pihak leasing sendiri yang subsidi uang muka yang notabene dilarang.
 Apa yang bikin perusahaan pembiayaan memberi subsidi uang muka, betapapun
dilarang?
Pertama, ini enggak lepas dari hukum permintaan dan penawaran. Pihak leasing tidak
akan terlalu seberani ini kalau permintaannya tidak besar. Permintaan masyarakat atas
kendaraan sangat besar.
Kedua, penawaran dari leasing sendiri sangat bombastis. Mereka menawarkan
dengan orientasi profit, dengan menggunakan berbagai macam cara, termasuk melanggar
ketentuan. Dan celakanya pengawasan oleh OJK masih sebatas pengawasan di atas meja
atau dokumen, tapi realitas di lapangan jauh berbeda.

2
 Bagi pelanggar, apa sanksinya?
Uang muka itu jelas harus dibayar konsumen. Kalau DP Rp500 ribu, ya bilang Rp500
ribu, jangan lapor ke OJK Rp3 juta. Sanksi bagi leasing adalah sanksi administrasi: denda,
pembekuan usaha, dan pencabutan izin operasional usaha.
 Berapa persen pembelian kendaraan menggunakan fasilitas kredit?
Mayoritas dari kredit. Sangat kecil masyarakat membayar tunai. Dan mayoritas, 70-80
persen, membeli via leasing. Entah lewat perbankan maupun leasing. Mengapa permintaan
besar? Karena angka kendaraan baru setiap tahun sangat tinggi. Trennya sekarang,
konsumen yang mau beli tunai justru diarahkan oleh dealeruntuk membeli dengan cara
pembiayaan atau leasing. Ini jadi persoalan.
 Itu akhirnya yang melanggengkan praktik jasa debt colletor atau mata elang?
Penggunaan debt collector jadi masalah klasik karena tak hanya digunakan oleh
perusahaan pembiayaan tapi perbankan. Dulu Bank Indonesia sudah sangat terang membuat
aturan tentang tata cara penagihan yang dilakukan debt collector, misalnya dilarang menagih
di luar hari kerja, tidak boleh di bawah jam 7 pagi dan di atas jam 8 malam.
Dari sisi metode, debt collector dilarang menagih selain debitur. Contoh, Anda
menunggak kredit, debt collector tidak boleh menghubungi keluarga atau saudara Anda.
Menagih hanya boleh ke debitur. Tapi faktanya berbeda. Debt collcetor menagih sampai ke
orangtua debitur, saudara, sampai rekan kerja yang mengakibatkan debitur dipecat. Padahal
itu dilarang.
Tata cara bahasanya juga diatur: tidak boleh mengintimidasi baik fisik, psikis, maupun
lisan. Debt collector juga dilarang mengeksekusi secara sepihak—merampas kendaraan tanpa
prosedur. Memang tidak harus pengadilan, tapi sepengetahuan kami, seizin aparat penegak
hukum termasuk dengan RT setempat dan izin konsumen. Tetapi praktik ini sering
dilanggar debt collector.
 Salah satu alasan perusahaan finance enggan memakai polisi karena birokrasinya ribet.
Ini yang bikin mereka memilih debt collector. Tanggapan Anda?
Sebenarnya bukan berarti boleh. Polisi hanya mendampingi, tapi penagihan tetap oleh
mata elang. Kenapa penarikan di depan polisi? Agar menjadi saksi dan menyetujui proses
eksekusi tanpa melanggar hukum. Langkah ini justru menjamin perusahaan pembiayaan
sehingga tidak berimplikasi negatif.
Kalau dilakukan sepihak oleh mata elang, rentan digugat hukum karena keabsahan
hukumnya diragukan. Maka, perlu aparat kepolisian memberi kepastian. Masalah biaya,

3
memang perusahaan pembiayaan memakai mata elang jauh lebih murah. Kenapa? Justru
mata elang mencari uang dengan memeras konsumen. Itu jadi salah satu poin aduan ke YLKI.
Di luar tunggakan kredit, konsumen ditagih biaya lain dengan istilah “biaya tarik”. Padahal,
dalam kontrak, tidak dikenal biaya tarik.
Debt collector secara sepihak memberi harga biaya penarikan. Misalnya: cicilan dua
bulan Rp7 juta untuk roda empat. Ketika ditagih debt colector, seenaknya menembak atau
memeras konsumen sampai puluhan juta. Bahkan melebih dari total tunggakan kredit. Ini, kan,
enggak masuk akal.
Kalau dibilang lebih murah, itu sepihak dari sisi pengusaha. Ini dampak dari
keleluasaan yang diberikan leasing kepada debt collector. Tindakan ini merugikan konsumen,
materi maupun nonmateri.
 Apakah biaya tarik ini diatur OJK?
Kami sudah mempertanyakan kepada OJK, tapi belum ada niat untuk mengaturnya
secara tegas. Jika tidak diatur, rentan penyalahgunaan atau pemerasan. Kami enggak
masalah biaya tarik jika ada dasar hukumnya, sebab penarikan itu atas dasar kesalahan
konsumen. Silakan ada biaya tarik, tapi harus jelas berapa biayanya. Tidak bisa dilepaskan ke
pasar seperti saat ini.
 Perusahaan pembiayaan sudah mengikuti prosedur, dari peringatan sampai akhirnya
memakai jasa mata elang. Klaim mereka: unit kendaraan bermotor sudah berpindah
tangan dan sebagainya. Tanggapan Anda?
Kami mengetahui persoalan di lapangan, tetapi menjadi lebih aman kalau ini diatur
sehingga tidak menjadi masalah hukum. Tidak ada payung hukum, sering jadi sengketa.
Kami memandang sengketa ini merugikan semua pihak, baik pengusaha maupun
konsumen. Menurut kami, buatlah dasar perhitungan. OK, sulit mencari unit, tapi tidak bisa
biaya penarikan dilepaskan ke pasar. Debt collector atau mata elang sering melakukan
pelanggaran: waktu penagihan, cara penagihan, dan etika. Sisi tahapan mungkin sudah benar,
tapi lainnya sering bermasalah. Kompleksitasnya: penagihan oleh mata elang sulit diawasi satu
per satu. Yang bisa dilakukan: perusahaan pembiayaan dan OJK menjaga standar dari mata
elang. Memang ada sebagian mata elang yang sudah mengikuti aturan, tapi ada pula yang
tidak. Masalah waktu penagihan dan cara menagih harus diawasi oleh leasing sebagai
pemberi kerja kepada pihak ketiga (jasa mata elang). Kualitas pelayanan leasingmasih sangat
jauh dan harus diperbaiki.

4
 Siapa yang bertanggung jawab atas kasus pengaduan terkait mata elang?
Jelas bervariasi, tergantung kasus. Semua pihak harus memperbaiki, dari
OJK, leasing, dan konsumen. OJK harus melakukan pengawasan di lapangan dan membuat
regulasi untuk biaya tarik. Acuan harus jelas. Buat aturan biaya terendah dan tertinggi sesuai
kesulitan.
Leasing menggunakan mata elang tanpa memberitahu konsumen. Memanfaatkan
kontrak tapi tidak menjelaskan kepada konsumen. Memanfaatkan mata elang untuk melakukan
penagihan tapi tidak bertanggung jawab atas praktiknya. Seharusnya, leasing berani
bertanggungjawab ketika menunjuk mata elang, bukan melepaskan tanggung jawab.
 Dalam praktik eksekusi kendaraan bermasalah, masih ada debt collector yang tidak
menunjukkan sertifikat jaminan fidusia?
Ada yang sudah dilengkapi dengan fidusia, tapi ada juga yang tidak menunjukkan
fidusia. Ini teknis leasing dan jasa mata elang. Memang konsumen punya hak menanyakan
sertifikat. Kalau tidak dilengkapi surat tugas dan sertifikat fidusia, bisa disuruh pulang. Jika
tidak, itu perampasan karena tidak ada landasan hukum.
 Bisnis mata elang ini menggiurkan, tidak terkecuali oknum tentara. Tanggapan Anda?
Untuk masalah ini, siapa aja berhak untuk mendapatkan pekerjaan dan
mengembangkan usaha selama tidak bertentangan dengan undang-undang dan etika profesi.
Kalau itu tidak dilarang kode etik, ya silahkan. Tapi jika bertentangan, diproseslah secara
tegas, baik kepada oknum tentara dan polisi.

Studi Kasus Pencucian Uang

Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang


Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad
Badaruddin mengungkapkan adanya dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang
dilakukan oleh pasangan pemilik First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan. Hal itu
dia ungkap berdasarkan hasil penelusuran dan analisis aliran dana dari dua rekening milik
perusahaan tersebut. "Kalau ada upaya untuk menyamarkan dana hasil kejahatan ya itu TPPU.
Mestinya ada TPPU-nya," ujar Kiagus saat ditemui di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat,
Senin (28/8/2017). (baca: Kesedihan Supriatin, Tukang Pijat yang Jadi Korban First Travel) Kiagus
mengatakan, hasil penelusuran dan analisis itu telah diserahkan ke penyidik Bareskrim Mabes
Polri. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad
Badaruddin saat ditemui di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin (28/8/2017).

5
Sebagian dana yang ada di rekening digunakan untuk kepentingan bisnis perjalanan umrah
dan haji. Selain itu, ada juga aliran dana yang digunakan untuk investasi bisnis dan kepentingan
pribadi. (baca: Pengusaha Hotel Asal Arab Saudi Laporkan Bos First Travel ke Bareskrim) Meski
demikian, Kiagus tidak bisa menyebutkan besarnya nilai aliran dana yang telah digunakan
tersebut. "Secara tepat saya sulit untuk mengungkapkannya. Namanya tentu nggak hapal. Tapi
penggunaannya itu ada untuk memberangkatkan jemaah. Ada yang untuk investasi. Ada juga
digunakan untuk keperluan pribadi tersangka," tuturnya. Secara terpisah, Pakar hukum Tindak
Pidana Pencucian Uang Yenti Garnasih meminta Polri segera mengenakan pasal pencucian uang
kepada ketiga tersangka, yakni Andika Surachman, Anniesa Hasibuan dan Siti Nuraidah Hasibuan
untuk mempermudah penelusuran aset. (baca: Polri Diminta Segera Jerat Bos First Travel Pasal
Pencucian Uang) Dia meyakini aset bos First Travel sudah menyebar ke mana-mana hingga luar
negeri. "Melacaknya lebih mudah daripada pakai undang-undang penipuan dan penggelapan,"
ujar Yenti. Yenti menduga sebagian dana calon jemaah itu diinvestasikan ke luar negeri. Jika
tersangka telah dikenakan sangkaan mencuci uang, maka akses polisi lebih luas untuk meminta
penelusuran PPATK dan otoritas analisis keuangan di luar negeri. "Harus pakai TPPU ya, karena
dia himpun dana masyarakat banyak banget yang belum dikembaliin. Sampai Rp 1 triliun kan,"
kata Yenti.
Sebelumnya, penyidik menetapkan Direktur Utama First Travel Andika Surachman dan
istrinya, Anniesa Hasibuan, sebagai tersangka. Modusnya, yakni menjanjikan calon jemaah untuk
berangkat umrah dengan target waktu yang ditentukan. Hingga batas waktu tersebut, para calon
jemaah tak kunjung menerima jadwal keberangkatan. Bahkan, sejumlah korban mengaku diminta
menyerahkan biaya tambahan agar bisa berangkat. Dalam pengembangan kasus, polisi juga
menjerat adik Anniesa, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki Hasibuan selaku Direktur Keuangan
sekaligus Komisaris First Travel. Menurut polisi, jumlah korban yang belum diberangkatkan agen
perjalanan First Travel sebanyak 58.682 orang. Mereka adalah calon jemaah yang sudah
membayar paket promo Rp 14,3 juta per orang dalam periode Desember 2016 hingga Mei 2017.
Kalau dihitung kerugiannya, untuk yang paket saja mencapai Rp 839.152.600.000. Selain itu,
sejumlah calon jemaah ada yang masih diminta membayar carter pesawat sebesar Rp 2,5 juta
sehingga jumlah penambahan itu sebesar Rp 9.547.500.000. Jika ditotal menjadi Rp
848.700.100.000. Jumlah tersebut belum termasuk utang-utang yang belum dibayar First Travel
ke sejumlah pihak. First Travel belum membayar provider tiket penerbangan sebesar Rp 85 miliar.
Kedua tersangka juga belum membayar tiga hotel di Mekkah dan Madinah dengan total Rp 24
miliar. Kemudian, utang pada provider visa untuk menyiapkan visa jemaah sebesar Rp 9,7 miliar.

6
Studi Kasus Bank Syariah

Bank Mega Syariah Terseret Kasus Gadai Emas Seret


Bank Mega Syariah terseret kasus gadai emas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah
memanggil manajemen perusahaan tersebut dan menyelidiki kasus tersebut. "Kami akan
menyelidiki kedua belah pihak, bank dan nasabah. Apakah ada oknum yang terlibat dari bank
tersebut," ungkap Ketua Departemen Perbankan Syariah OJK, Edy Setiyadi, Kamis (8/5).
Kasus money game berkedok investasi emas Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) dan
Gold Bullion Indonesia (GBI) ini, berawal dari pengakuan seorang nasabah, yang dibujuk karyawan
Mega Syariah, bernama Fresiyanto Novendi. Ia berperan sebagai agen marketing GTIS dan GBI.
Fresiyanto, merayu nasabah ini agar mau membeli emas dengan skema fisik di GTIS dan GBI.

Sebagai pemanis, Mega Syariah mengucurkan pembiayaan 60 persen dari harga pembelian.
Belakangan, masalah muncul ketika pembayaran bonus dari GTIS dan GBI macet. Saat jatuh
tempo, nasabah tak bisa menebus emas, Mega Syariah lantas melelangnya. Hampir 100 persen
dana hasil lelang dikuasai Mega Syariah.
Nasabah juga menuding, praktik gadai emas di Mega Syariah melanggar aturan Bank
Indonesia tentang batas gadai maksimal Rp250 juta untuk setiap nasabah. Selama tahun 2011-
2013, total nilai gadai emas nasabah itu di Mega Syariah mencapai belasan miliar rupiah, dikutip
dari Kontan, dikutip dari Kontan.
Edy menegaskan, pemberian gadai emas melebihi batas maksimal Rp250 juta per orang jelas
melanggar aturan. Gadai emas secara berulang-ulang dengan nama fiktif juga merupakan
pelanggaran. Namun OJK belum bisa memutuskan apakah kasus gadai emas tersebut merupakan
kesalahan bank atau nasabah.
Otoritas akan menyelidiki kasus ini melalui kelembagaan. Jika prosedur (SOP) sudah benar,
tapi ada oknum yang menyelewengkan, maka hal itu akan terkena internal control. Selain
manajemen bank, OJK akan memeriksa nasabah, terkait alasan melakukan gadai emas lebih dari
batas maksimal yakni Rp250 juta per orang.
Kini, OJK mendesak bank syariah milik pengusaha Chairul Tanjung itu membentuk action plan
penyelesaian kasus sesuai batas waktu. Pejabat Mega Syariah yang kemarin memenuhi panggilan
OJK adalah Direktur Utama Benny Witjaksono. Namun, Benny tak berhasil dikonfrimasi. Ia
meninggalkan kantor OJK saat hendak diwawancarai. Ketika dihubungi via telepon, dia bilang,
"Saya tidak ingin konfirmasi soal itu."

7
Sebelumnya manajemen Mega Syariah membantah keterlibatannya. "Kami tidak ada
kaitannya dengan mereka (GTIS dan GBI)," kata Eko Sukapti, Direktur Bisnis Mega Syariah.
Secara umum, Edy mengklaim, OJK telah menyelesaikan 80 persen hingga 90 persen sengketa
gadai emas yang berakhir pada mediasi atau pengadilan.
"Tinggal 10 persen kasus gadai emas bank syariah yang belum diatasi, itu hanya di Bank
Mega Syariah," ungkap dia.

Studi Kasus Bank Ventura

Penyimpangan Modal Ventura di Indonesia


Istilah ventura berasal dari kata venture, yang berarti sesuatu yang mengandung risiko atau
dapat pula diartikan sebagai usaha. Menurut pasal 1 Keppres 61 tahun 1998 Perusahaan modal
ventura (venture capital company ) yang biasanya disingkat PMV adalah badan usaha yang
melakukan pembiyaan dalam bentuk penyertaan modal kedalam suatu perusahaan yang
menerima bantuan pembiayaan (Invest Company) untuk jangka waktu tertentu. Kemudian
Perusahaan Pasangan Usaha (Investee Company) yang biasa disingkat PPU adalah perusahaan
atau usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang menerima bantuan pembiayaan dan atau
penyertaan dari PMV. Modal Ventura Syariah adalah suatu pembiayaan oleh perusahaan modal
ventura berupa penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan pasangan usaha yang ingin
mengembangkan usahanya untuk jangka waktu tertentu.Investasi modal ventura ini dapat juga
mencakup pemberian bantuan manajerial dan teknikal.Penarikan kembali investasi (divestment)
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh PMV untuk menarik dana investasi dari PPU. Pada
umumnya PMV menyertakan dananya dan memberikan bantuan manajemen pada perusahaan
pasangan usaha tidak untuk menguasai atau memiliki perusahaan yang dibantu tersebut. Dengan
demikian apabila jangka waktu tertentu PPU telah berkembang, dana investasi dapat ditarik
kembali. Penarikan dana investasi dapat pula terjadi apabila telah cukup lama PPU diberikan
bantuan dana sekaligus bantuan manajemen, tetapi perusahaan tersebut tidak
berkembang.Metode pengambilan keuntungan dalam Modal Ventura dilakukan melalui bagi hasil
atas keuntungan yang diperoleh kegiatan usaha yang dibiayai. Begitupun mengenai persentase
bagi hasil yang dilakukan sesuai dengan kesepakan diawal yang terjadi antara PMV dan PPU.
Jika dilihat dari perspektif syariah, Modal Ventura itu sudah otomatis termasuk ke dalam jenis
pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah. Misalnya saja pada early stage of life dari suatu
investee adalah suatu bentuk klasik dari pembiayaan musyarakah atau mudharabah. Lalu
penggunaan equity financing dalam bentuk saham atau penyertaan terbatas dengan bagi hasil

8
adalah suatu bentuk dari aplikasi akad mudharabah, musyarakah ‘inan atau musyarakah ‘inan al-
mutanaqisha. Kemudian hubungan erat yang terjadi antara PMV dan PPU mulai dari penetapan
klausula yang menyangkut penggunaan dana sampai ke adding value, monitoring dan pembagian
hasil dan risiko sesuai dengan semangat musyarakah.Metode pengambilan keuntungan dalam
Modal Ventura dilakukan sudah sesuai dengan prinsip syariah yaitu melalui bagi hasil atas
keuntungan yang diperoleh kegiatan usaha yang dibiayai.Besarnya persentase bagi hasil yang
diterima oleh PMV berdasarkan pada kesepakatan bersama dengan PPU. Persentase bagi hasil
yang diterima oleh PMV dengan ketentuan: a) Persentase bagi hasil tidak melebihi dari 50% laba
usaha, b) Persentase bagi hasil akan dikoreksi setiap tahunnya atau di akhir pembiayaan.Dalam
hal jaminan tentunya pada pembiayaan Modal Ventura tidak diperlukan, karena sifat
pembiayaannya lebih condong ke sebuah bentuk investasi. Walaupun dengan sangat terpaksa
jaminan dapat disertakan dalam transaksi pembiayaan dengan menggunakan akad wakalah.
Berkembangnya modal ventura ini diawali dengan pemerintah Indonesia yang ingin berusaha
memasyarakatkan pola penyertaan modal yang dapat membantu usaha kecil, menengah, dan
koperasi dengan mendirikan perusahaan modal ventura. Sampai dengan akhir tahun 1998,
perusahaan modal ventura berdiri di 27 Provinsi yang ada di Indonesia. Semua perusahaan
tersebut berinduk dengan PT. Bahana Artha Ventura. Hal ini terjadi karena PT Bahana Arta
Ventura sebagai pemilik saham terbesar dan salah satu anak perusahaan dari PT.Bahana
Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI).PMV sebagai sarana pembiayaan memiliki peluang besar
untuk mengembangkan usaha kecil, menengah dan koperasi karena mempunyai karakteristik yang
tidak dimiliki oleh perusahaan lainnya. Contoh nyatanya saja PMV selain menginvestasikan
modalnya atau menyediakan dana, sekaligus juga ikut berperan aktif dalam manajemen
perusahaan yang di bantunya. PMV yang dikelola secara professional, tentunyaakan memberikan
dampak kepada pengusaha kecil yang pada umumnya dikelola secara tradisional, kurang memiliki
pengetahuan serta fasilitas yang minim dalam meningkatkan usahanya berangsur-angsur akan
menjadi professional.Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga September 2014,
ada empat perusahaan modal ventura syariah dari 73 perusahaan modal ventura yang ada di
Indonesia, yakni PT PNM Venture Syariah, PT Amanah Ventura Syariah, Permodalan BMT
Ventura, dan PT Persada Ventura Syariah.
Semakin berkembangnya PMV ini tentu juga semakin banyak masalah-masalah yang dihadapi
baik oleh PMV maupun PPU. Timbulnya permasalahan dalam kerja sama antara PMV dan PPU
yang ditemukan di lapangan disebabkan oleh beberapa faktor yang pada akhirnya mempengaruhi
keberhasilan kerja sama tersebut. Berdasarkan survei ke salah satu PMV di Indonesia terjadi
beberapa penyimpangan yang dilakukan. Contohnya saja pembagian keuntungan yang
9
seharusnya berdasarkan prinsip bagi hasil malah diubah dengan bunga yang harus dibayarkan
PPU ke PMV. Hal ini terjadi karena masalah saling ketidakpercayaan antara mitra yang
bekerjasama. Sebagai contohnya pihak PMV X merasa dirugikan akibat perilaku yang dilakukan
oleh PPU. Misalnya saja dalam hal kerjasama dengan UKMyang bergerak pada pengelolaan ayam
pedaging.Ayam pedaging siap dijual pada hari ke 35, akan tetapi UKM tersebut malah menjual satu
per satu ayam pedaging tersebut sebelum hari ke 35. Sehingga pada hari ke 35 dimana pada saat
pihak PMV X ikut menyaksikan penjualan, jumlah ayam pedaging yang dijual jumlahnya tidak
berdasarkan jumlah yang sebenarnya. Dengan adanya masalah tersebut PMV X memutuskan
untuk mengubah pembagian keuntungan menjadi berdasarkan bunga sebesar 20-21% anuitas
yang harus dibayarkan oleh UKM.Lalu sifat praktis yang diinginkan yaitu lebih baik mengeluarkan
angsuran tetap sehingga dapat diperkirakan pengeluaran tiap periodenya dari pada repot-repot
menghitung pembagian keuntungan. Hal yang dilakukan oleh PMV X tentu merupakan sikap yang
menyimpang. Dimana telah kita ketahui bahwa bunga itu sama dengan riba, dan riba itu hukumnya
haram. Dalam QS Al Baqarah ayat 279, dijelaskan bahwa jika kita tidak meninggalkan riba, maka
perang dari Allah dan Rasul-Nya. Selain itu penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh PMV X
yaitu adanya jangka waktu maksimal, angsuran ringan, dan sertifikat (seperti : BPKB) yang harus
dijaminkan. Tentunya hal-hal tersebut kurang sejalan dengan semangat musyarakah pada
pembiayaan Modal Ventura. Mengenai masalah kesalahan dari pihak PPU, menurut saya pihak
PMV pun ikut bertanggungjawab karena pada pembiayaan Modal Ventura itu sendiri selain
menyediakan dana dan juga menyediakan pengelolaan manajemen untuk PPU. Mungkin dalam
kasus kerjasama dalam UKM dapat diakibatkan oleh adanya keterlibatan pihak manajemen dari
PMV X ataupun lalainya pengelolaan manajemen dari pihak PMV. Oleh karena itu perlu
diadakannya perbaikan mengenai mekanisme PMV. Juga perlu diadakan pengawasan yang tegas
agar penyimpangan yang dilakukan PMV X tidak terulang lagi. Pencabutan izin uuntuk PMV yang
melakukan tindakan yang tidak sesuai aturan rupanya akan menjadi suatu perubahan yang baik
sehingga PMV berjalan sesuai tujuan utamanya sehingga antara PMV dan PPU dapat saling
menikmati keuntungan satu sama lain.

Studi Kasus Bank Indonesia

Bagaimana Bekerjanya Kebijakan Moneter?


Tujuan akhir kebijakan moneter adalah menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang
salah satunya tercermin dari tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Untuk mencapai tujuan itu Bank
Indonesia menetapkan suku bunga kebijakan BI Rate sebagai instrumen kebijakan utama untuk

10
mempengaruhi aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian inflasi. Namun
jalur atau transmisi dari keputusan BI rate sampai dengan pencapaian sasaran inflasi tersebut
sangat kompleks dan memerlukan waktu (time lag).
Mekanisme bekerjanya perubahan BI Rate sampai mempengaruhi inflasi tersebut sering
disebut sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Mekanisme ini menggambarkan tindakan
Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya
mempengaruhi berbagai variable ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ke tujuan
akhir inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan dan sektor
keuangan, serta sektor riil. Perubahan BI Rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur,
diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi.
Pada jalur suku bunga, perubahan BI Rate mempengaruhi suku bunga deposito dan suku
bunga kredit perbankan. Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan, Bank Indonesia
dapat menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif melalui penurunan suku bunga untuk
mendorong aktifitas ekonomi. Penurunan suku bunga BI Rate menurunkan suku bunga kredit
sehingga permintaan akan kredit dari perusahaan dan rumah tangga akan meningkat. Penurunan
suku bunga kredit juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi. Ini
semua akan meningkatkan aktifitas konsumsi dan investasi sehingga aktifitas perekonomian
semakin bergairah. Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, Bank Indonesia
merespon dengan menaikkan suku bunga BI Rate untuk mengerem aktifitas perekonomian yang
terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi.
Perubahan suku bunga BI Rate juga dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme ini sering
disebut jalur nilai tukar. Kenaikan BI Rate, sebagai contoh, akan mendorong kenaikan selisih
antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri. Dengan melebarnya selisih suku
bunga tersebut mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrument-
instrumen keuangan di Indonesia seperti SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat
pengembalian yang lebih tinggi. Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong
apresiasi nilai tukar Rupiah. Apresiasi Rupiah mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan
barang ekspor kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif sehingga akan
mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya net ekspor ini akan berdampak pada
menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian.
Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi perekonomian makro melalui perubahan harga
aset. Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti saham dan obligasi sehingga
mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang pada gilirannya mengurangi kemampuan
mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi.
11
Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi ekspektasi
publik akan inflasi (jalur ekspektasi). Penurunan suku bunga yang diperkirakan akan mendorong
aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong pekerja untuk mengantisipasi kenaikan
inflasi dengan meminta upah yang lebih tinggi. Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh
produsen kepada konsumen melalui kenaikan harga.
Mekanisme transmisi kebijakan moneter ini bekerja memerlukan waktu (time lag). Time lag
masing-masing jalur bisa berbeda dengan yang lain. Jalur nilai tukar biasanya bekerja lebih cepat
karena dampak perubahan suku bunga kepada nilai tukar bekerja sangat cepat. Kondisi sektor
keuangan dan perbankan juga sangat berpengaruh pada kecepatan tarnsmisi kebijakan moneter.
Apabila perbankan melihat risiko perekonomian cukup tinggi, respon perbankan terhadap
penurunan suku bunga BI rate biasanya sangat lambat. Juga, apabila perbankan sedang
melakukan konsolidasi untuk memperbaiki permodalan, penurunan suku bunga kredit dan
meningkatnya permintaan kredit belum tentu direspon dengan menaikkan penyaluran kredit. Di sisi
permintaan, penurunan suku bunga kredit perbankan juga belum tentu direspon oleh meningkatnya
permintaan kredit dari masyarakat apabila prospek perekonomian sedang lesu. Kesimpulannya,
kondisi sektor keuangan, perbankan, dan kondisi sektor riil sangat berperan dalam menentukan
efektif atau tidaknya proses transmisi kebijakan moneter

12