Anda di halaman 1dari 18

PERKECAMBAHAN DAN DORMANSI

Laporan Praktikum
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Fisiologi Tumbuhan
Yang dibina oleh Ibu Prof. Dra.Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D dan Ibu Rahmi Masita, S.Si.,M.Sc

Oleh:
Kelompok 2 / Offering A
1. Adelia Dwinta P. (170341615071)
2. Ike Safitri (170341615072)
3. Mahdiyani Nur F. (170341615008)
4. Muhammad Nur Wais A. (170341615109)
5. Noviansyah Kusmahardhika (170341615112)
6. Prianka Delvina P. (170341615069)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
November 2018
A. TOPIK
Perkecambahan dan dormansi

B. TUJUAN
1. Memahami bahwa tidak semua biji dapat langsung tumbuh bila dikecambahkan
2. Menduga kondisi dormansi dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik luar maupun
dalam
3. Dormansi dapat dipecahjkan dengan beberapa perlakuan

C. DASAR TEORI

Dormansi merupakan kondisi fisik dan fisiologis pada biji yang mencegah
perkecambahan pada waktu yang tidak tepat atau tidak sesuai. Dormansi membantu biji
mempertahankan diri terhadap kondisi yang tidak sesuai seperti kondisi lingkungan yang
panas, dingin, kekeringan dan lain-lain. Dormansi pada benih berlangsung selama beberapa
hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari
dormansinya. Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak
berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum telah memenuhi
persyaratan bagi suatu perkecambahan (Sutopo, 2002).
Menurut Campbell (2008: 365), “dorman” artinya tidur atau istirahat. Para ahli
biologi menggunakan istilah itu sebagai tahapan dari siklus hidup, biji yang dorman memiliki
laju metabolisme yang sangat lamban dan tidak bertumbuh ataupun berkembang. Dormansi
pada biji meningkatkan peluang bahwa perkecambahan akan terjadi pada waktu dan tempat
yang paling mengguntungkan bagi pertumbuhan biji. Berakhirnya dormansi membutuhkan
kondisi lingkungan tertentu yang sesuai . Biji tumbuhan gurun misalnya, hanya akan
berkecambah setelah curah hujan yang memadai.
Dormansi dapat disebabkan karena tidak mampunya benih secara total untuk
berkecambah atau hanya karena bertambahnya kebutuhan yang khusus untuk
perkecambahannya. Dormansi benih dapat disebabkan keadaan fisik dari kulit biji dan keadaan
fisiologis embrio, atau kombinasi dari keduanya (Tamin , 2007).
Hormon yang berperan dalam dormansi biji adalah hormon asam absisat (ABA).
Hormon ini dihasilkan pada tunas terminal dan berperan dalam memperlambat pertumbuhan
dan mengarahkan bagian primordia daun untuk mengalami perkembangan menjadi sisik yang
nantinya berfungsi untuk melindungi tunas yang mengalami dormansi pada musim dingin.
Hormon asam absisat juga berperan dalam menghambat pembelahan sel pada kambium
pembuluh. Biji akan melakukan perkecambahan ketika asam absisat dihambat dengan cara
membuatnya tidak aktif. Biji memerlukan cahaya atau stimulus lain untuk memicu
perombakan asam absisat. Untuk mematahkan dormansi biji dapat juga dilakukan dengan
meningkatkan hormon giberelin, sehingga rasio asam absisat terhadap giberelin dapat
menentukan apakah biji tersebut akan tetap dorman atau mengalami perkecambahan
(Campbell, 2000: 386).
Keadaan dormansi pada biji apabila dipandang dari segi ekonomis
tidak menguntungkan, oleh karena itu diperlukan cara untuk dapat mempersingkat dormansi
tersebut. Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang ideal sangat perlu untuk
memenuhi proses perkecambahan. Berbagai perlakuan dapat diberikan pada biji, baik mekanis
maupun kimia. Benih yang mempunyai kulit biji tidak permeable dapat dirangsang dengan
mengubah kulit biji untuk membuat permeable terhadap gas–gas dan air. Perkecambahan
benih dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor dari dalam (faktor genetic) berupa tingkat
pemasakan benih dan kulit benih dari luar (faktor lingkungan) yaitu pengaruh suhu, cahaya,
air dan media tumbuh (Haryuni, 2007).
Dormansi dapat diatasi dengan perlakuan-perlakuan dengan pemarutan atau
penggoresan (skarifikasi), yaitu dengan cara menghaluskan kulit benih agar dapat dilalui air
dan udara ; melemaskan kulit benih dari sifat kerasnya ; memasukkan benih ke dalam botol
yang disumbat dan secara periodik mengguncang-guncangnya ; stratifikasi terhadap benih
dengan suhu rendah ataupun suhu tinggi ; perubahan suhu ; dan zat kimia. Pematahan dormansi
dapat diganti dengan zat kimia seperti KNO3, thiorea dan asam giberalin. Pada kenyataannya,
24 pada organ secara visual disebut dormansi, sesungguhnya masih berlangsung perubahan-
perubahan biokimia dan struktur mikroskopiknya (Kartasapoetra, 2003).
F. HASIL PENGAMATAN
a. Biji Cabai

Jumlah Biji yang Berkecambah Jumlah Biji yang Tidak Berkecambah

Hari Suhu Dingin


Suhu Ruang Suhu Dingin Suhu Ruang
ke-
A B A B A B A B

1 6 0 0 0 54 60 60 60

2 8 0 0 0 52 60 60 60

3 9 0 0 0 51 60 60 60

4 12 5 0 4 48 55 60 56

5 12 6 0 7 48 54 60 53

6 14 14 0 10 46 46 60 50

7 15 20 0 14 45 40 60 46

8 18 26 0 21 42 34 60 39

9 20 33 0 29 40 27 60 31

10 23 39 0 33 37 21 60 27

11 25 43 0 39 35 17 60 21

12 25 43 0 39 35 17 60 21

13 28 43 0 39 32 17 60 21

14 30 43 0 39 30 17 60 21

Rata- 40
18 23 0 20 42 37 60
rata
b. Biji Salak

Jumlah Biji yang Berkecambah Jumlah Biji yang Tidak Berkecambah

Hari Pengamplasan
Pemberian HCl Pengamplasan Pemberian HCl
ke-
A B A B A B A B

1 0 0 0 0 3 3 3 3

2 0 0 0 1 3 3 3 2

3 0 0 0 1 3 3 3 2

4 1 1 1 1 2 2 2 2

5 1 1 1 1 2 2 2 2

6 1 1 1 1 2 2 2 2

7 1 1 1 1 2 2 2 2

8 1 1 1 1 2 2 2 2

9 1 1 1 1 2 2 2 2

10 1 1 1 1 2 2 2 2

11 1 1 1 1 2 2 2 2

12 1 1 1 1 2 2 2 2

13 1 1 1 1 2 2 2 2

14 1 1 1 1 2 2 2 2
c. Biji Jeruk

Jumlah Biji yang Berkecambah Jumlah Biji yang Tidak Berkecambah

Hari Pengelupasan Pemberian Pengelupasan Pemberian

ke- Kulit Ari Giberelin Kulit Ari Giberelin

A B A B A B A B

1 0 0 0 0 3 3 3 3

2 0 0 0 0 3 3 3 3

3 0 3 0 0 3 0 3 3

4 3 3 2 0 0 0 1 3

5 3 3 2 0 0 0 1 3

6 3 3 2 0 0 0 1 3

7 3 3 2 0 0 0 1 3

8 3 3 2 0 0 0 1 3

9 3 3 2 0 0 0 1 3

10 3 3 2 0 0 0 1 3

11 3 3 2 0 0 0 1 3

12 3 3 2 0 0 0 1 3

13 3 3 2 0 0 0 1 3

14 3 3 2 0 0 0 1 3
d. Umbi Bawang Putih

Jumlah Umbi yang Tumbuh Tunas Jumlah Umbi yang Tidak Berkecambah

Hari Suhu Dingin


Suhu Ruang Suhu Dingin Suhu Ruang
ke-
A B A B A B A B

1 0 0 0 0 3 3 3 3

2 0 1 0 0 3 2 3 3

3 0 1 0 0 3 2 3 3

4 0 1 0 0 3 2 3 3

5 0 1 0 0 3 2 3 3

6 0 1 0 0 3 2 3 3

7 0 2 0 0 3 1 3 3

8 0 2 0 0 3 1 3 3

9 0 2 0 1 3 1 3 2

10 0 2 0 1 3 1 3 2

11 0 2 0 2 3 1 3 1

12 1 2 0 2 2 1 3 1

13 1 2 0 2 2 1 3 1

14 1 2 1 2 2 1 2 1

Keterangan
A = ulangan 1
B = ulangan 2
G. ANALISIS DATA

Pada praktikum ini dilakukan pengamatan mengenai “Perkecambahan dan


Dormansi” dilakukan terhadap 4 bahan amatan yaitu biji cabai, biji salak, biji jeruk,
dan umbi bawang putih. Pada setiap bahan digunakan perlakuan yang berbeda. Pada
biji cabai dan umbi bawang putih digunakan perlakuan suhu, pada biji salak
menggunakan perlakuan pemberian larutan HCl dan pengamplasan, pada biji jeruk
menggunakan perlakuan pengelupasan kulit ari dan pemberian hormon giberelin.
Jumlah biji yang digunakan juga berbeda. Jumlah biji cabai yang digunakan sebanyak
60 biji untuk setiap perlakuan, jumlah biji salak yang digunakan sebanyak 3 biji untuk
setiap perlakuan, jumlah biji jeruk yang digunakan sebanyak 3 biji, dan jumlah umbi
bawang putih yang digunakan sebanyak 3 biji. Pada masing-masing perlakuan
digunakan dua kali ulangan. Setelah biji diberi perlakuan selanjutnya biji diletakkan
dalam media kapas dan diberi air yang berada di dalam gelas air mineral. Untuk
mengetahui pengaruh setiap perlakuan terhadap perkecambahan dan dormansi pada
biji tersebut, percobaan dilakukan selama 14 hari dengan pengamatan setiap hari
mengenai kondisi biji.
Pada percobaan 1 ialah biji cabai yang diberi perlakuan suhu. Perlakuan suhu yang
digunakan berupa biji diletakkan pada suhu ruang dan suhu dingin. Berdasarkan hasil
pengamatan selama 14 hari diperoleh hasil sebagai berikut. Pada perlakuan suhu ruang,
rata-rata biji cabai yang berkecambah sebanyak 18 biji pada ulangan pertama dan 23
biji pada ulangan kedua. Pada perlakuan suhu dingin, biji cabai tidak ada yang
berkecambah pada ulangan pertama dan 20 biji pada ulangan kedua. Total biji yang
digunakan sebanyak 60 biji, sehingga dapat diketahui bahwa rata-rata biji yang tidak
berkecambah untuk perlakuan suhu ruang terdapat rata-rata sebanyak 42 biji yang
untuk ulangan pertama dan 37 biji untuk ulangan kedua. Pada perlakuan suhu dingin,
semua biji cabai pada ulangan pertama sebanyak 60 biji tidak ada yang berkecambah,
dan pada ulangan kedua rata-rata biji yang tidak berkecambah sebanyak 40 biji.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut dapat diketahui bahwa pada perlakuan suhu
ruang lebih banyak biji cabai yang dapat berkecambah daripada perlakuan suhu dingin.
Grafik Perkecambahan Biji Cabai
40

35

30

25

20

15

10

Suhu Ruang Suhu Dingin

Percobaan 2 ialah biji salak yang diberi perlakuan fisika berupa pengamplasan dan
perlakuan kimia berupa pemberian larutan HCl. Hasil yang diperoleh yaitu pada
perlakuan pemberian larutan HCl biji belum berkecambah hingga hari ketiga, baik itu
pada ulangan 1 maupun ulangan 2. Biji mulai berkecambah pada hari keempat dan
terdapat 1 biji yang berkecambah pada masing-masing ulangan. Namun, kondisi biji
berjamur mulai hari ke-4 pada ulangan pertama dan hari ke-7 pada ulangan kedua.
Hasil yang diperoleh dari perlakuan pengamplasan yaitu biji belum ada yang
berkecambah hingga hari ketiga pada ulangan 1. Pada ulangan 2, biji sudah pecah dan
mulai berkecambah pada hari kedua. Berdasarkan jumlah biji yang berkecambah
tersebut dapat dihitung jumlah biji yang tidak berkecambah untuk perlakuan
pemberian HCl hingga hari ketiga semua biji atau dengan jumlah 3 tidak ada yang
berkecambah untuk ulangan 1 dan ulangan 2. Mulai hari ke-4 sampai hari ke-14
terdapat 2 biji yang tidak berkecambah. Sementara itu, pada perlakuan pengamplasan
diperoleh hasil hingga hari ketiga terdapat 3 biji salak yang tidak berkecambah pada
ulangan 1 dan 3 biji salak tidak berkecambah pada ulangan 2 hari pertama. Pada hari
ke-4 hingga hari ke-14 terdapat 2 biji yang tidak berkecambah untuk ulangan 1 dan
pada hari ke-2 hingga hari ke-14 terdapat 2 biji yang tidak berkecambah untuk ulangan
2. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa dengan perlakuan pengamplasan
pada hari kedua sudah terdapat biji salak yang pecah dan mulai berkecambah pada
ulangan kedua, sehingga perlakuan pengamplasan lebih cepat membuat biji salak
berkecambah daripada pemberian dengan larutan HCl.

Grafik Perkecambahan Biji Salak


1.2

0.8

0.6

0.4

0.2

Pemberian HCl Pengamplasan

Pada percobaan 3 bahan yang digunakan ialah biji jeruk dengan diberikan dua
perlakuan yaitu pengelupasan kulit ari dan pemberian giberelin. Pada masing-masing
media tanam terdapat 3 biji jeruk yang dikecambahkan dan dilakukan dua kali ulangan.
Hasil yang diperoleh yaitu pada perlakuan pengelupasan kulit ari ulangan pertama
sampai hari ke-3 biji jeruk belum berkecambah, biji baru tumbuh pada hari ke-4.
Sementara itu pada ulangan kedua hari ke-3 biji jeruk sudah mulai menunjukkan tanda-
tanda akan tumbuh. Namun, perkecambahan hanya terjadi pada dua biji jeruk dari tiga
biji yang berada dalam media tanam. Pada perlakuan biji diberi hormon giberelin biji
mulai menunjukkan tanda-tanda akan tumbuh dengan pecahnya biji pada hari ke-3 di
ulangan pertama, sedangkan pada ulangan kedua semua biji tidak ada yang
berkecambah sampai hari ke-14. Berdasarkan data yang diperoleh tersebut dapat
diketahui bahwa pemberian perlakuan pada biji jeruk dengan dikelupas kulit ari bijinya
lebih efektif dalam pematahan dormansi yang terjadi pada biji.
Grafik Perkecambahan Biji Jeruk
3.5

2.5

1.5

0.5

Pengelupasan Kulit Ari Pemberian Giberelin

Pada percobaan ke 4 bahan yang digunakan ialah umbi bawang putih. Pada umbi
tersebut diberi dua perlakuan yaitu diletakkan pada suhu ruang dan suhu dingin dengan
diletakkan di dalam kulkas. Terdapat 3 biji dalam masing-masing media tanam.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama 14 hari didapatkan hasil sebagai
berikut. Pada perlakuan suhu ruang, umbi baru berkecambah pada hari ke 12 pada
ulangan pertama. Sedangkan pada ulangan ke-2 terdapat satu umbi yang sudah mulai
tumbuh pada hari kedua dan terdapat 2 biji yang berkecambah pada hari ke-7. Pada
perlakuan suhu dingin, terdapat satu umbi yang berkecambah setelah hari ke-14 pada
ulangan pertama sedangkan pada ulangan kedua hari ke-9 terdapat satu umbi yang
mulai berkecambah dan dua pada hari ke-11. Dengan demikian diketahui bahwa tidak
semua umbi yang dapat berkecambah setelah diberi perlakuan. Berdasarkan hasil
pengamatan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa umbi tumbuh lebih baik pada
suhu ruang daripada suhu dingin.
Grafik Perkecambahan Umbi Bawang Putih
2.5

1.5

0.5

Suhu Ruang Suhu dingin

H. PEMBAHASAN
1. Biji Salak
Pada biji salak dilakukan perlakuan fisik yaitu dengan menghilangkan kulit biji
salak dengan diamplas atau skarifikasi serta perendaman pada larutan Asam Klorida
(HCL). Proses pengamplasan dan perendaman larutan kimia bertujuan agar dapat
mematahkan dormansi dari biji salak. Berdasarkan data pengamatan diperoleh bahwa
perkecambahan tercepat terjadi pada perlakuan pengamplasan yaitu dengan pertumbuhan
perkecambahan pada hari ke-2 pada pengulangan 2. Hasil ini sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa dormansi dapat diatasi dengan melakukan pemarutan atau penggoresan
yaitu dengan menghaluskan kulit benih agar dapat dilalui air dan udara (Kartasapoetra,
2003). Kemudian pernyataan tersebut juga didukung oleh Saleh (2004) yang menyatakan
bahwa perlakuan skarifikasi dengan kertas amplas memungkinkan terjadinya masuknya air
ke dalam benih lebih mudah sehingga imbibisi sebagai proses awal perkecambahan benih
dapat terjadi. Imbibisi dapat mengaktifkan enzim-enzim perombakan yang menjadikan
karbohidrat, protein dan lemak menjadi senyawa-senyawa aktif.
Kemudian pada perlakuan perendaman larutan HCL diperoleh bahwa biji salak
berkecambah pada hari ke-4. Perendaman dalam larutan HCL cukup efektif memecahkan
dormansi biji salak. HCL efektif digunakan untuk jenis-jenis legum yang berkulit keras.
Pencelupan benih dalam larutan HCL akan mengakibatkan rusaknya kulit benih sehingga
biji menjadi lebih lunak. Kerusakan kulit benih ini diikuti dengan membukanya lumen sel
macrosclereid yang menyalurkan air ke dalam jaringan benih yang akan merangsang
perkecambahan benih lebih cepat (Delvin, 1979).
Arifin (1993) mengemukakan bahwa asam pada umumnya adalah senyawa
molekuler dan tergolong elektrolit kovalen. Kekuatan asam ditentukan oleh besarnya
jumlah ion H+ yang dihasilkan asam dalam larutan dan kekuatannya diukur dengan
tendensi asam dalam melepaskan proton. Asam Klorida (HCL) mempunyai kekuatan yang
lebih besar jika dibandingkan dengan asam nitrat, sebab HCL membentuk ion H+ yang
lebih banyak, sehingga lebih cepat menghidrolisis kulit biji dan meningkatkan
permeabilitas kulit biji terhadap air dan gas (Panjaitan, 2002).

2. Biji Jeruk
Pada biji jeruk dilakukan dua perlakuan yaitu pengupasan kulit ari dan perendaman
biji dengan hormon giberelin. Pemecahan dormansi tercepat terjadi pada perlakuan
pengupasan kulit ari. Kulit biji yang keras merupakan mekanisme utama dormansi pada
biji yang bersifat kedap air. Beberapa kulit biji memiliki lapisan skleroid dan sel-sel
malpighi yang padat dan kompak dengan sudut tegak lurus terhadap permukaan kulit biji
(testa) ditambah dengan fenolik, atau senyawa penolak air. Faktor utama yang bertanggung
jawab atas kerasnya biji adalah tertutupnya pleurogram. Struktur ini tertutup apabila tingkat
kelembapan di dalam biji lebih rendah daripada tingkat kelembapan di dalam biji yang
memungkinkan uap air keluar tetapi tidak dapat masuk. Ketika kulit biji dihilangkan, secara
tidak langsung menghilangkan komponen pelindung biji. Biji dengan segera mendapatkan
uap air dan proses pengaktifan biji dapat segera dimulai. Proses ini dapat dengan cepat
mengaktifkan berbagai komponen dalam biji seperti pengaktifan endosperm dalam
penyedia nutrisi saat pertumbuhan berlangsung serta dapat menghilangkan sumbat hilum
dan meningkatkan permeabilitas biji (Gardner, 1991).
Pemecahan dormansi juga terjadi pada biji dengan rendaman hormon giberelin. Zat
pengatur tumbuh tanaman (plant regulator) adalah senyawa organik yang bukan hara
dalam jumlah sedikit tetapi dapat mendukung (promote), menghambat (inhibit) dan dapat
merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat pengatur tumbuh adalah zat kimia yang dibuat
dalam suatu bagian tanaman tertentu, tetapi mempengaruhi bagian lain dari tanaman
tersebut (Gardner, 1991). Zat pengatur tumbuh di dalam tanaman terdiri dari lima
kelompok yaitu auksin, giberelin, sitokinin, etilen dan inhibitor dengan ciri khas dan
pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis (Abidin 1993). Zat pengatur tumbuh
giberelin fungsinya untuk merangsang pembesaran dan pembelahan sel. Terutama untuk
merangsang pertumbuhan primer. Ketika sitokinin meningkat mengakibatkan hormon
GA3 (giberelin) masuk ke dalam endosperm dan terjadi proses transkripsi dari DNA
template menjadi mRNA yang membawa kodon kemudian terjadi translasi yang mengkode
kodon yang di bawa oleh mRNA tadi menjadi asam amino tertentu. Giberelin (GA3) yang
terdapat pada lapisan sel aleuron dapat memacu siintesis enzim α-amilase untuk mengubah
karbohidrat menjadi glukosa yang nantinya berfungsi sebagai energi bagi sel. Sehingga
proses perkecambahan dapat segera dimulai. Dari pernyataan tersebut sesuai dengan hasil
yang kami peroleh dimana biji jeruk yang diberi hormon Giberelin dapat dengan tumbuh
normal dan lebih cepat, karena hormon Giberelin merupakan hormon perangsang
tumbuhan untuk terus tumbuh an berkembag.

3. Biji Cabai dan Umbi Bawang Putih


Pada biji cabai dan umbi bawang putih dilakukan dua perlakuan suhu yaitu suhu
ruang dan suhu dingin. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa pematahan dormansi
biji cabai dan umbi bawang putih terjadi pada suhu ruang. Penelitian-penelitian tentang
dormansi benih khususnya dari famili Solanaceae telah banyak dilakukan. Benih cabai
(Capsicum annuum) mengalami dormansi yang disebabkan oleh after ripening (Radle &
Honman, 1981). After ripening merupakan perubahan kondisi fisiologis benih selama
penyimpanan yang mengubah benih menjadi mampu berkecambah dengan jangka waktu
tertentu. Pada perkecambahan biji cabai diperoleh data bahwa suhu optimum dalam
pemecahan dormansi cabai adalah suhu ruang dengan perkecambahan benih sebanyak 30
dan 45 biji. Kegagalan biji cabai pada suhu dingin untuk berkecambah dikarenakan suhu
yang diberikan pada refrigerator terlalu rendah sehingga tidak dapat mendukung terjadinya
perkecambahan. Hal ini sesuai dengan Radle & Honman (1981) yang menyatakan bahwa
temperatur paling efektif untuk mempertahankan keadaan dormansi berada dalam
rentangan suhu 1-10ο C sedangkan untuk memecah dormansi pada suhu ruangan.
Pada perkecambahan umbi bawang putih juga menunjukkan hasil yang serupa
dengan biji cabai yaitu pemecahan dormansi pada bawang putih terjadi pada suhu ruang.
Umbi bawang yang diletakkan pada refrigator, cenderung mendapatkan hasil
perkecambahan yang lambat jika dibandingkan dengan suhu ruang. Metode yang
digunakan dalam perkecambahan dengan cara memberi temperatur rendah pada keadaan
lembab dinamakan pre-chiling atau Stratifikasi. Pada bawang akan terjadi sejumlah
perubahan dalam benih akibat adanya suhu rendah yang akan berdampak pada
penghilangan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-
bahan yang merangsang pertumbuhan. Selain itu bawang termasuk dalam tanaman berjenis
fall buds dimana tanaman ini akan ditanam saat musim gugur dan akan mengalami masa
pertahanan keadaan dormansi oleh pendinginan selama musim dingin dan akan tumbuh
serta berkecambah pada musim semi berikutnya (Hopkins, 2008).

I. KESIMPULAN
1. Tidak semua biji dapat langsung tumbuh bila dikecambahkan. Beberapa biji
mengalami dormansi sehingga proses perkecambahan terhambat.
2. Dormnasi disebabkan oleh faktor luar dan dalam. Faktor luar yang menyebabkan
dormansi adalah kondisi lingkungan (air, cahaya, suhu) tidak mendukung. Faktor
dalam yang menyebabkan dormansi adalah kulit biji yang keras sehingga imbibisi sulit
terjadi.
3. Dormansi biji dapat dipecahkan dengan memberikan perlakuan pengelupasan kulit dan
pengamplasan
DAFTAR RUJUKAN

Abdi. 2008. Dormansi Pada Benih Tanaman Pangan Dan Cara Praktis Membangkitkannya.
Diakses dari http://www.tanindo.com/abdi5/hal040.htm. Pada tanggal 14 November 2018
pukul 19.00 WIB.
Abidin, Z. 1993. Dasar-Dasar Pengetahuan tentang Zat Pengatur Tumbuh. Bandung: Penerbit
Angkasa
Campbell, Neil A, et al. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Campbell, Reece., 2008. Biologi Jilid 2 Edisi 8. Jakarta: Erlangga

Delvin, R. M. 1975. Plant Physiology. Edition III. D. Van Nostrad Company : New York

Gardner, F. P. ; R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: UI


Press
Hopkins, W; Hurner, N. 2008. Introduction to Plant Physiology. John Wiley and Sons, Inc.
Haryuni dan Harjanto. 2007. Pengaruh Skarifikasi Sistem Oven Terhadap Perkecambahan dan
Pertumbuhan Awal Benih Tanaman Jati (Tectona grandis L.F). ISSN: 0854-2813 VOL. 7
NO. 1 JANUARI 2007.

Kartasapoetra A.G., 2003. Teknologi Benih : Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum.
Jakarta: Rineka Cipta

Panjaitan, Sudin. 2002. Pengaruh Pemberian Asam Sulfat Dan Gibberelin Terhadap
Data Berkecambah Benih Rotan.
Randle, W.M and S. Honman. 1981. Dormancy in pepper. Scientiae Horticulturae 14:19-
25
Saleh,M.S.,2004. Pematahan Dormansi Benih Aren Secara Fisik Pada Berbagi Lama Ekstrasi
Buah. Dalam Industri Benih di Indonesia Aspek Penunjangan Pengembangan. Jurusan
Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian. UNTAD.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Tamin, R. P. 2007. Teknik perkecambahan benih jati (Tectona grandis Linn. F.). Jurnal
Agronomi. Vol 1 : Halaman 7-14
LAMPIRAN

Gambar 1. KOndisi biji salak setelah beberapa hari

Gambar 2. Kondisi Biji Jeruk setelah beberapa hari

Gambar 3. Kondisi Biji Jeruk setelah beberapa hari


Gambar 4. Kndisi Biji jeruk dan salak

Gambar 5. Kondisi Biji salak hari ke 0

Gambar 6. Kondisi Biji Jeruk Hari ke 0

Anda mungkin juga menyukai