Anda di halaman 1dari 24

TUGAS MAKALAH

BEBERAPA PENGERTIAN HUKUM

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Pengantar Ilmu Hukum


Dosen: Dr. Suherman, S.H., LL.M.

Disusun oleh:

KELOMPOK 9

1. Nada Siti Salsabila (1610611159)


2. Alicia Junisa Esterina (1610611175)
3. Ananda Fiqih Giovany Suradi (1610611177)
4. Heriyanto (1610611202)

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA


FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
2016
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam tercurah pada
junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga
akhir zaman. Alhamdulillah, berkat kemudahan serta petunjuk dari-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum yang berjudul “Beberapa
Pengertian Hukum” dapat selesai seperti waktu yang telah ditentukan. Tersusunnya makalah ini
tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan bantuan secara
materil dan spiritual, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang dapat bermanfaat
bagi penulis maupun pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini mungkin masih jauh dari
kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Seperti
peribahasa “Tak ada gading yang tak retak.” Maka penulis mengharapkan kritik dan saran guna
perbaikan di masa yang akan datang dan dapat membangun kami.

Jakarta, November 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................................2


DAFTAR ISI...................................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................................4
1.3 Tujuan Masalah ......................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sistem Hukum ........................................................................................................................6
2.2 Asas Hukum ...........................................................................................................................8
2.3 Peristiwa Hukum ..................................................................................................................11
2.3.1 Peristiwa hukum karena perbuatan manusia .................................................................12
2.3.2 Perbuatan manusia yang bukan perbuatan hukum ........................................................16
2.3.3 Peristiwa hukum yang bukan karena perbuatan manusia ..............................................16
2.4 Klasifikasi Hukum................................................................................................................17

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................22
3.2 Saran .....................................................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................24

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peraturan hukum memberi kualifikasi terhadap peristiwa-peristiwa konkrit atau peristiwa
alamiah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari menjadi peristiwa hukum. Dengan
perkataan lain peraturan hukum hanya membuat suatu kerangka dari peristiwa-peristiwa
biasa terjadi dalam masyarakat, sehingga menjadi peristiwa hukum.
Selanjutnya peraturan hukum menggunakan pengertian-pengertian atau konsep-konsep
untuk menyampaikan kehendaknya keluar. Pengertian-pengertian ini merupakan abstraksi
dari barang-barang yang pada dasarnya bersifat konkrit individual (Rahardjo, 1982:82).
Pengertian-pengertian tersebut sebenarnya merupakan kumpulan dari arti-arti yang berkaitan
dengan istilah-istilah tertentu.
Dengan bidang ilmu sosial, pengertian-pengertian yang digunakan sebaiknya diambil dari
hasil pengamatan terhadap gejala-gejala dalam kehidupan sehari-hari atau sebagai hasil
bentukan secara teoritis. Demikian juga dengan pengertian-pengertian hukum, banyak juga
yang berasal dari, kehidupan sehari-hari, seperti jual-beli, tukar-menukar, ganti-kerugian,
pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan lain sebagainya. Di samping banyak juga yang
secara khusus diciptakan sebagai pengertian teknis, seperti: eksepsi, putusan sela, putusan
akhir, peninjauan kembali, penanggungan, pertanggungan, perikatan tanggung-menaggung,
dan lain sebagainya.
Pengertian hukum sebenarnya merupakan pengertian ilmiah dan mempunyai batas yang
tegas, sehingga berbeda dengan pengertian sehari-hari. Kalau pengertian hukum tersebut
berasal dari pengertian sehari-hari, misalnya yang digunakan dalam undang-undang atau
dalam putusan hakim, maka pengertian tersebut akan memperoleh batasan yang tegas.
Dengan demikian pengertian dari kehidupan sehari-hari telah menjadi pengertian ilmiah.
Diantara pengertian-pengertian hukum ada yang mempunyai tingkat abstraksi tinggi dan
tidak dapat atau sulit diabstraksikan lebih lanjut, termasuk di sini adalah apa yang biasa
disebut sebagai kategori hukum, seperti: subjek hukum, objek hukum, hubungan hukum,
akibat hukum, klasifikasi hukum, dan kesadaran hukum.
Untuk menyampaikan apa yang dikehendaki oleh peraturan hukum, disamping digunakan
pengertian-pengertian hukum, juga digunakan konsep-konsep lain, misalnya hak dan
kewajiban, penguasaan, pemilikan, orang dan sanksi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah:
1. Bagaimanakah beberapa pengertian hukum?
2. Bagaimanakah asas hukum dan sistem hukum?

4
3. Bagaimnakah peristiwa hukum?
4. Bagaimanakah klasifikasi hukum?

1.3 Tujuan Masalah


Berdasarkan pernyataan masalah maka tujuan yang ingin dicapai oleh penulisan makalah ini
adalah:
1. Untuk dapat mengetahui mengenai beberapa pengertian hukum.
2. Untuk dapat mengetahui mengenai asas hukum dan sistem hukum.
3. Untuk dapat mengetahui mengenaiperistiwa hukum.
4. Untuk dapat mengetahui mengenai klasifikasi hukum.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Hukum


Kumpulan peraturan hukum yang mengatur tentang hubungan antarnegara merdeka dan
berdaulat dalam Bahasa Indonesia diistilahkan sebagai Hukum antarnegara dan juga disebut
Hukum Bangsa bangsa. Istilah hukum bangsa-bangsa itu merupakan terjemahan dari bahasa
Belanda (volkenrecht), bahasa Prancis (droit de gens), bahasa Inggris (law of nations), dan
bahasa Jerman (volkerrecht).
Sistem hukum adalah kesatuan yang bulat dan kompleks, terdiri dari sub-sub sistem atau
bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Adanya pembagian menjadi bagian-
bagian atau sub-sub sistem inilah yang merupakan ciri dari sistem hukum. Hubungan antara
bagian-bagian yang satu dengan yang lain adalah merupakan hubungan fungsional, yang
saling tergantung dan terorganisasi menurut suatu pola tertentu, yang kesemuanya itu untuk
mencapai suatu tujuan. Hal ini berarti dalam usaha untuk mencapai tujuannya, sistem hukum
itu mempunyai struktur tertentu.
Contoh: sistem hukum keluarga di Indonesia yang sebenarnya terdiri dari beberapa unsur,
yaitu: menurut sistem hukum perdata adat, menurut sistem hukum perdata barat dan menurut
sistem hukum perdata Islam. Keluarga terbentuk karena perkawinan. Akibat dari perkawinan
akan lahir anak, dan akan terbentuk hukum harta kekayaan keluarga, jika keluarga tersebut
pecah, misalnya orang tua meninggal dunia akan muncul ahli waris dan harta warisan serta
dilanjutkan dengan pembagian warisan.
Sebagai satu kesatuan yang bulat sistem hukum tidak menghendaki adanya kontradiksi
atau konflik di dalamnya. Kalau ada kontradiksi atau terjadi konflik, maka tidak boleh
dibiarkan, tetapi harus diselesaikan oleh dan di dalam sistem itu sendiri dan tidak dicari di
luar sistem. Ada beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik
dalam sistem hukum, yaitu:
1. Apabila terjadi konflik di antara peraturan perundang-undangan, maka penyelesaiannya
dengan asas-asas peraturan perundang-undangan, yaitu: nullum delictum nulla poena sine
praevia legi poenali, lex superior derogat legi inferiori, lex specialis derogat legi generate;
lex posterior derogat legi anteriori atau lex posteriori derogat legi prici.
2. Apabila terjadi konflik antara perundang-undangan dengan hukum adat atau hukum
kebiasaan, maka penyelesaiannya dengan mendasarkan pada sifat kaidah hukum yang
terkandung dalam peraturan perundang-undangan. Apabila memuat kaidah hukum yang
bersifat imperatif, maka yang dimenangkan adalah peraturan perundang-undangan,
sedangkan apabila memuat kaidah hukum yang bersifat fakultatif, hukum adat atau
hukum kebiasaanlah yang dimenangkan.
3. Apabila terjadi konflik antara peraturan perundang-undangan dengan putusan hakim,
maka penyelesaiannya terhadap kasus bersangkutan yang dimenangkan adalah putusan
hakim.

6
4. Apabila terjadi konflik antara perundang-undangan dengan perjanjian sebagai akibat
berlakunya asas kebebasan berkontrak, maka penyelesaiannya dengan mendasarkan pada
sifat kaidah hukum yang terkandung dalam perundang-undangan.
 Principle of Legality menurut Lon L. Fuller:
Untuk mengukur objektivitas hukum, ada 8 asas dalam sistem hukum yang disebut
principle of legality:
1. Mengandung peraturan-peraturan dan tidak boleh ada keputusan-keputusan yang
bersifat ad hoc/khusus.
2. Peraturan yang dibuat harus diumumkan dan diketahui publik secara luas dan
menyeluruh.
3. Peraturan tidak berlaku surut (retroaktif) kecuali kasus pelanggaran HAM berat.
4. Peraturan disusun dalam rumusan yang mudah dimengerti.
5. Peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang berlebihan.
6. Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan.
7. Tidak boleh terlalu sering mengubah peraturan.
8. Harus ada kecocokan antara peraturan dengan pelaksanaan sehari-hari.
Dalam sistem hukum nasional UUD 1945 merupakan ketentuan hukum positif yang
tertinggi dan merupakan hukum dasar negara, merupakan sumber hukum bagi pembentukkan
peraturan perundang-undangan dibawahnya (Pasal 3 UU No. 10 Tahun 2004). Sedangkan
pancasila yang termuat dalam pembukaan UUD 1945 merupakan sumber dari segala sumber
hukum negara, atau sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa
dan negara, sehingga setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh
bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila (Pasal 2 UU No. 10 Tahun
2004). Pembentukkan hukum positif dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang
turut menentukan isi hukum adalah faktor kemasyarakatan dan idial. Pancasila adalah
termasuk faktor idial langsung, sehingga dalam pembentukkan hukum materi muatannya
harus sesuai dengan jiwa pancasila, atau asas-asas yang mendasari materi muatan
pembentukkan peraturan perundang-undangan harus merupakan penjabaran dari Pancasila.
Sistem hukum sebagai satu kesatuan menganut sistem terbuka, yang selalu tumbuh,
berkembang dan lenyap bersama-sama dengan tumbuh, berkembang, dan lenyapnya
masyarakat. Berkaitan dengan sistem hukum mempunyai hukum timbal balik dengan
lingkungannya, sistem hukum merupakan kesatuan unsur-unsur (yang berupa peraturan dan
penetapan) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kebudayaan, sosial, ekonomi, sejarah dan
sebagainya. Peraturan hukum itu terbuka untuk penafsiran yang berbeda oleh karena itu
selalu terjadi perkembangan (Mertokusumo, 1990:102). Disamping itu, perlu juga dipahami
bahwa pada tiap-tiap sub-sub sistem hukum pengaturannya tidak sama, ada yang menganut
sistem terbuka dan ada pula yang menganut sistem tetutup, sedangkan pengaturan hukum
perikatan menganut sistem terbuka.
Sistem hukum meliputi keseluruhan hukum yang ada dan berlaku baik yang bentuknya
tertulis maupun yang bentuknya tidak tertulis, itu mempunyai unsur-unsur, yaitu:

7
1. Hukum undang-undang, yaitu meliputi hukum yang sengaja dibuat penguasa yang
berwenang (wettenrecht), yang bentuknya tertulis dan tertuang dalam peraturan
perundang-undangan.
2. Hukum kebiasaan atau hukum adat, yaitu meliputi keajegan-keajegan dan keputusan-
keputusan (dari warga masyarakat dan/atau penguasa) yang didasarkan keyakinan sebab
akan menciptakan ketertiban dan kedamaian dalam pergaulan hidup di masyarakat
(gewoonterecht).
3. Hukum yurisprudensi, yaitu meliputi hukum yang diciptakan oleh hakim melalui
putusan-putusannya (jurisprudentierecht) yang dimaksudkan untuk menyelesaikan kasus
hukum yang konkrit.
4. Hukum traktat, yaitu hukum yang terbentuk dalam perjanjian-perjanjian antar negara
(tractatenrecht).
5. Hukum Ilmiah, yaitu hukum hasil konsepsi para ilmuwan hukum atau teoritis hukum
(wetenschapsrecht).

2.2 Asas-asas Hukum


Sistem hukum dilengkapi dengan asas-asas hukum. Adanya asas-asas hukum ini
membuat sistem hukum menjadi lebih hidup, sebab asas-asas hukum mengandung tuntutan
etis. Asas hukum merupakan jembatan antara peraturan-peraturan hukum dan positif dengan
cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat (Raharjo, 1982.86). Asas hukum merupakan
alasan umum yang mendasari lahirnya peraturan hukum. Dengan demikian peraturan-
peraturan hukum yang ada, pada akhirnya dapat dikembalikan kepada asas-asasnya. Asas
hukum yang merupakan landasan dan juga merupakan alasan lahirnya peraturan hukum, dan
itu dianggap merupakan ratio legis dari peraturan hukum. Dalam pembentukan peraturan
perundang-undangan asas-asas yang harus diperhatikan adalah: asas hukum umum sebagai
asas kesusilaan yang tidak terikat tempat dan waktu, seperti asas: tidak boleh mencuri, tidak
boleh korupsi, tidak boleh membunuh, tidak boleh berzina dan lain sebagainya; asas hukum
yang dijadikan dasar kejiwaan suatu bangsa, di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
Pancasila dan terwujudnya masyarakat adil dan makmur, dan asas hukum yang dijadikan
dasar dan alasan umum pembentukan peraturan perundang-undangan atau ratio legis
(Rahardjo, 1982 : 86).
Asas-asas lain yang harus diperhatikan oleh pembentuk peraturan perundang-undangan,
yaitu: asas formal (beginselen van behoorlijke regelgeving), yang berupa asas-asas: tujuan
yang jelas (beginsel van duidelijke doelstelling), organ atau lembaga yang tepat (beginsel van
het juiste orgaan): perlunya peraturan (het beginsel van uitvoerbarheid): konsensus (het
beginsel van den consensus): asas material, antara lain berupa asas-asas: terminologi dan
sistematika yang benar (het beginsel van duidelijke terminologie en duidelijke sistematiek):
dapat dikenali (het beginsel van kenbaarheid), perlakuan yang sama dalam hukum (het
rechtsgelijkehelds beginsel): kepastian hukum (het rechtszekerheids beginsel). Asas-asas

8
tersebut akan menjamin bahwa peraturan perundang-undangan yang dibuat akan berlaku
secara yuridis, sosiologis, dan filosofis.
Pancasila yang merupakan asas hukum yang dijadikan dasar kejiwaan, sebagai dasar
negara, dan sebagai sumber dari sumber hukum, oleh UU No. 10 Tahun 2004 dijabarkan
lebih lanjut sebagai asas-asas yang harus terkandung dalam materi muatan peraturan
perundang-undangan (Pasal 6). Di samping itu, juga telah diuraikan adanya asas-asas yang
harus diperhatikan oleh pihak yang berwenang dalam pembentukan peraturan perundang-
undangan yang baik (Pasal 5).
Walaupun telah melahirkan peraturan-peraturan hukum, asas hukum tidak akan kering,
tetapi masih tetap subur. Adanya asas-asas hukum yang merupakan sarana dengan mana
hukum hidup, tumbuh dan berkembang, itu menunjukkan bahwa hukum bukanlah semata-
mata merupakan kumpulan peraturan. Oleh sebab itu, asas-asas hukum harus memberi
hubungan pada suatu cabang hukum tertentu dengan kemungkinannya untuk menjelaskan
kenyataan yang relevan; dan asas-asas hukum tersebut harus sesuai dengan kebutuhan praktis
serta keinginan-keinginan etis dari masyarakat tertentu dan cukup elastis untuk memberi
kemungkinan perkembangan bagi peraturan-peraturan hukum yang adanya didasarkan pada
asas tersebut (Paton, 1953:204).
Dengan demikian, asas hukum mempunyai peranan yang sangat penting dalam
pembentukan hukum, sebab asas hukum inilah yang memberi petunjuk kepada pembentuk
undang-undang dalam menetapkan hukum. Dengan melihat atau mempelajari asas hukum
dapat diketahui cita-cita yang hendak dicapai, yang adanya mengikuti kaidah hukum. Kaidah
hukum merupakan perumusan nilai tentang apa yang seharusnya dilakukan atau yang
seharusnya tidak dilakukan, yang sifatnya dinamis mengikuti perkembangan masyarakatnya.
Isi dari peraturan perundang-undangan tidak semata-mata dijabarkan secara deduksi dari
asas-asas hukum, tetapi juga ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang sifatnya
dinamis. Hal ini berarti untuk membentuk peraturan perundang-undangan tidak cukup kalau
hanya mendasarkan kepada asas hukum, tetapi juga harus memperhatikan realita dalam
masyarakat.
Isi dari peraturan hukum atau peraturan perundang-undangan tidak semata-mata
dijabarkan secara deduksi dari asas-asas hukum, tetapi juga ditentukan oleh kebutuhan-
kebutuhan masyarakat yang sifatnya dinamis. Hal ini berarti untuk membentuk peraturan
hukum atau peraturan perundang-undangan tidak cukup hanya mendasarkan kepada asas
hukum, tetapi juga harus memperhatikan realita dalam masyarakat.
Mengingat kepentingan nyata yang ada dalam masyarakat tidak tetap, artinya selalu
berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri, jadi sifatnya dinamis terikat
tempat dan waktu, maka kaidah hukum ikut berubah. Perubahan kaidah hukum, membawa
serta perubahan asas hukum. Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa asas hukum mengandung tuntutan etis atau memuat cita-cita hukum yang
menghubungkan kaidah hukum atau peraturan hukum konkrit dengan cita-cita masyarakat.
Kalau masyarakat berubah, maka dapat terjadi cita-cita dan pandangan etis masyarakat juga

9
ikut berubah. Perubahan tersebut juga berakibat perubahan kaidah hukum serta asas-asas
hukum yang ada, hal ini terjadi karena kaidah hukum berfungsi sebagai perlindungan
kepentingan manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan kalau masyarakat berubah tetapi
kaidah hukumnya tidak berubah, maka kaidah hukum tidak dapat melaksanakan fungsinya
dengan baik. Tetapi, sering terjadi perubahan kaidah hukum tidak diikuti dengan perubahan
dari peraturan hukum konkrit yang memuat kaidah hukum tersebut.
Contoh: Pasal 1365 KUH Perdata yang mengatur perbuatan melawan hukum
(onrechtmatigedaad), menurut pembentuk KUH Perdata perbuatan melawan hukum
ditafsirkan sebagai perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang. Kaidah hukumnya
adalah bahwa seseorang tidak boleh melakukan perbuatan yang bertentangan dengan undang-
undang, asas hukum yang menjadi landasan dan alasan pembentukan pasal tersebut adalah
bahwa seseorang tidak boleh merugikan orang lain, kalau merugikan ia harus mengganti
kerugian. Pandangan masyarakat sekarang telah berubah, setelah ada putusan Hoge Raad
tanggal 31 Januari 1919 (Lindenboun Cohen arrest) bahwa perbuatan melawan hukum adalah
tidak hanya bertentangan dengan undang-undang, tetapi meliputi juga berbuat atau tidak
berbuat sesuatu (lalai) yang melanggar hak orang lain, bertentangan dengan kewajiban
hukum dari orang yang melakukan perbuatan tersebut, bertentangan dengan kesusilaan atau
asas-asas kemasyarakatan mengenai kehormatan atau barang milik orang lain. Dengan
demikian, meliputi juga tindakan-tindakan hukum yang sepatutnya dalam masyarakat itu in
casu melanggar kepatutan, ketelitian, dan kehati-hatian.
Asas-asas hukum yang sudah dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan
konkrit atau peraturan hukum konkrit, berarti telah memperoleh bentuk yang jelas, dan
tentunya menjadi lebih mudah menerapkannya dalam kasus yang konkrit. Andai kata
peraturan perundang-undangan konkrit atau peraturan hukum konkrit yang memuat asas
hukum tersebut sudah tidak berlaku lagi, misalnya telah dicabut berlakunya, ini tidak berarti
akan menggoyahkan kedudukan asas hukum yang mempunyai arti umum atau asas hukum
yang sekaligus merupakan asas kesusilaan, contoh yang terakhir ini, misalnya larangan:
kamu tidak boleh mencuri barang, tidak boleh membunuh orang lain, tidak boleh berzina,
tidak boleh menganiaya orang lain.
 Asas-asas hukum mempunyai arti penting bagi:
1. Pembentuk undang-undang, sebab asas hukum memberikan dasar dan sekaligus
alasan pembentukan hukum. Dapat dikatakan bahwa asas hukum menunjukkan garis-
garis besar yang harus diikuti oleh pembentuk undang-undang dalam pembentukan
hukum.
2. Hakim, sebab asas hukum memberi bahan yang sangat bermanfaat dalam
menafsirkan undang-undang secara dogmatis dan juga dalam melaksanakan undang-
undang secara analogis, atau lebih jauh lagi untuk melaksanakan undang-undang
sesuai dengan cita-cita dan pandangan etis masyarakat.
3. Ilmu pengetahuan hukum, sebab asas hukum merupakan hasil peningkatan atau
abstraksi peraturan-peraturan hukum ke tingkat yang lebih tinggi.

10
Asas hukum dapat ditemukan dalam peraturan hukum konkrit atau dalam peraturan
perundang-undangan, artinya secara jelas dirumuskan dalam pasal-pasal atau dalam
penjelasan umum dari suatu peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, misalnya
dalam UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP). Kemungkinan lain asas hukum tidak dimuat secara jelas dalam suatu peraturan
perundang-undangan, namun dari pasal-pasalnya dapat kita simpulkan adanya atau
berlakunya asas hukum, misalnya dari ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUHP tentang asas nullum
delictum nulla poena sine praevia legi poenale; dari ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata, ayat
(1) terkandung asas pacta sunt servanda, ayat (3) asas te goeder trouw. Pasal 44 KUHP yang
dapat disimpulkan berlakunya asas geen straft zonder schuld. Di samping itu, ada asas-asas
hukum yang tidak tertuang dan juga tidak dapat kita simpulkan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan, tetapi ada dalam suatu sistem hukum dan memperkuat suatu sistem
hukum, misalnya: asas iedereen wordt geacht de wet te kennen; asas ignorantia legis excusat
neminem; asas in dubio pro reo. Ada lagi asas hukum yang dimaksudkan untuk
menyelesaikan persoalan yang timbul akibat adanya 2 (dua) atau lebih peraturan perundang-
undangan yang mengatur materi yang sama, tetapi ternyata isinya saling bertentangan seperti
asas: Lex superior derogat legi inferiori, Lex specialis derogat legi generale; Lex posterior
derogat legi anteriori atau lex posteriori derogat legi priori. Peraturan hukum memberi
kualifikasi terhadap peristiwa-peristiwa konkrit atau alamiah yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari menjadi peristiwa hukum. Dengan demikian peraturan hukum hanya membuat
kerangka dari peristiwa-peristiwa yang biasa terjadi dalam masyarakat menjadi peristiwa
hukum.

2.3 Peristiwa Hukum


Peristiwa alamiah atau konkrit yang terjadi, dan selanjutnya diarahkan atau dihubungkan
dengan peraturan hukum, maka akan menjadi peristiwa hukum. Kalau sudah menjadi
peristiwa hukum, maka peraturan hukum dapat diterapkan. Dengan demikian terhadap
peristiwa konkrit atau peristiwa alamiah tidak dapat begitu saja peraturan hukum diterapkan.
Dengan perkataan lain peristiwa alamiah harus dijadikan peristiwa hukum lebih dahulu.
Dalam menerapkan peraturan hukum untuk menyelesaikan kasus harus memperhatikan asas-
asas hukum. Asas hukum ada dalam sistem hukum. Antara asas hukum dan sistem hukum
ada hubungan satu sama lain secara bertimbal balik.
Konkritisasi peraturan hukum sebagai Sollen melalui peristiwa hukum atau Sein.
Mengingat kaidah hukum mempunyai fungsi melindungi kepentingan-kepntingan manusia
yang luas sekali, dengan perlindungan yang lebih tegas, maka untuk mempelajarinya,
sehingga dapat mengetahui, memahami, dan menjelaskannya hukum perlu diklasifikasikan.
Pengetahuan dan pemahaman tentang klasifikasi hukum sangat membantu semua pihak
dalam menetapkan yang dihadapi termasuk bidang hukum publik atau bidang hukum privat.
Peraturan hukum menetapkan peristiwa-peristiwa tertentu dalam masyarakat sebagai
suatu peristiwa hukum, artinya peristiwa-peristiwa tersebut mempunyai akibat hukum atau

11
peristiwa-peristiwa tersebut mengakibatkan timbul dan lenyapnya hak dan kewajiban.
Peristiwa-peristiwa dalam masyarakat dapat berupa perbuatan manusia, kejadian atau
keadaan. Peristiwa hukum pada hakekatnya adalah kejadian, keadaan atau perbuatan orang
yang oleh hukum dihubungkan dengan akibat hukum.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hak dan kewajiban menjadi nyata jika peraturan
hukum bergerak. Selanjutnya agar peraturan hukum yang abstrak (das Sollen) itu bergerak
atau aktif dan terjadilah hak dan kewajiban diperlukan adanya suatu peristiwa konkrit (das
Sein). Sudikno Mertokusumo mengatakan bahwa kaidah hukum sebagai Sollen-Sein. Pada
hakekatnya kaidah hukum merupakan perumusan pandangan tentang bagaimana seseorang
seharusnya berbuat, oleh sebab itu bersifat umum dan pasif, agar aktif diperlukan peristiwa
konkrit. Peristiwa konkrit atau das Sein merupakan activator dari kaidah hukum atau das
Sollen. Kaidah hukum mengkualifisir suatu aspek dari suatu peristiwa menjadi peristiwa
hukum. Dalam kedudukannya kaidah hukum sebagai Sollen-Sein, yang penting bukan apa
yang terjadi, tetapi apa yang seharusnya terjadi (Mertokusumo, 1990:16).
Peristiwa hukum dianggap ada apabila telah ada suatu peraturan hukum yang memberi
kualifikasi sebagai peristiwa hukum, selama belum ada peraturan hukum yang mengkaitkan
dengan suatu akibat hukum, maka peristiwa tersebut bukan peristiwa hukum, hanya
merupakan peristiwa alamiah biasa. Peristiwa-peristiwa yang terjadi itu dapat berupa
perbuatan manusia, kejadian, dan keadaan, maka demikian halnya dengan peristiwa hukum,
juga dapat dibagi menjadi peristiwa hukum karena perbuatan manusia dan peristiwa-
peristiwa hukum lainnya, yang berupa kejadiaan dan keadaan.
2.3.1 Peristiwa hukum karena perbuatan manusia
Peristiwa hukum yang terjadi karena perbuatan manusia dibedakan menjadi dua,
yaitu: peristiwa karena perbuatan manusia yang merupakan perbuatan hukum, dan
peristiwa hukum karena perbuatan manusia yang bukan merupakan perbuatan hukum.
Perbuatan hukum adalah perbuatan yang oleh peraturan hukum dikaitkan dengan
timbul atau lenyapnya hak dan kewajiban, atau yang disebut juga sebagai perbuatan
yang mempunyai akibat hukum. Perbuatan hukum terjadi karena adanya kehendak
dan pernyataan kehendak yang disengaja untuk menimbulkan suatu akibat hukum.
Untuk menentukan apakah suatu perbuatan itu perbuatan hukum atau tidak harus
diperhatikan adanya 2 (dua) unsur perbuatan hukum, yaitu kehendak dan penyataan
kehendak yang sengaja ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum (Mertokusumo,
1990:42). Keterikatan terhadap akibat hukum adalah memang dikehendaki oleh pihak
yang bersangkutan. Agar suatu perbuatan hukum itu mempunyai akibat hukum,
sebenarnya tidak selalu harus adanya kehendak dan pernyataan kehendak dari kedua
belah pihak. Oleh sebab itu perbuatan hukum dibagi menjadi dua, yaitu: perbuatan
hukum sepihak dan perbuatan hukum berpihak dua atau timbal balik.
1) Perbuatan hukum sepihak pada hakekatnya adalah perbuatan hukum yang hanya
memerlukan pernyataan kehendak dari satu pihak saja untuk menimbulkan suatu

12
akibat hukum. Contoh: pembuatan surat wasiat, penerimaan atau penolakan
warisan, penolakan persekutuan harta kekayaan, pemilikan, dan pembayaran.
a. Surat wasiat atau testamen adalah suatu akta yang memuat pernyataan dari
seseorang tentang apa yang ia kehendaki terjadi atas harta kekayaan, apabila
ia meninggal dunia. Dalam pembuatan testamen kemungkinan besar para ahli
warisnya atau orang yang akan mendapatkan harta berdasarkan testamen
belum tahu adanya testamen tersebut, oleh sebab itu selama pembuat masih
hidup yang bersangkutan dapat mencabutnya kembali (Pasal 875 KUH
Perdata).
b. Penerimaan atau penolakan warisan,
Penerimaan wasiat, dapat dilakukan secara tegas atau secara diam-diam.
Terjadi secara tegas, apabila seseorang dengan akta menyebutkan dirinya
sebagai ahli waris atau mengambil kedudukan sebagai ahli waris. Dengan
diam-diam ini apabila seseorang melakukan suatu perbuatan yang dengan
jelas menunjukkan maksudnya untuk menerima warisan, dan memang hanya
dapat dilakukan oleh seseorang dengan kedudukannya sebagai ahli waris
(Pasal 1048 KUH Perdata).
Penolakan warisan, harus dilakukan dengan tegas dan harus dilakukan
dengan suatu pernyataan yang dibuat di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang
di dalm daerah hukumnya telah terbuka warisan tersebut (Pasal 1057 KUH
Perdata). Perbedaanya dengan penerima warisan yang boleh dilakukan dengan
diam-diam, tetapi dalam penolakan harus dilakukan dengan tegas dan
dihadapan pihak yang berwenang.
c. Penolakan persekutuan harta kekayaan, ini dapat diajukan oleh seorang istri
sepanjang perkawinan berlangsung, dengan membuat permohonan kepada
hakim agar ditetapkan pemisahan harta kekayaan, permohonan ini akan
dikabulkan apabila memenuhi syarat-syarat tertentu (Pasal 186 KUH Perdata).
Penolakan persekutuan harta kekayaan juga dapat dilakukan pada waktu atau
sebelum perkawinan dialngsungkan, yaitu dengan membuat perjanjian
perkawinan (Pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974).
d. Pemilikan atau okupasi, ini terjadi apabila seseorang memperoleh dan
menguasai suatu barang yang sebelumnya tidak ada orang lain yang
memilikinya, misalnya menngkap ikan di laut, berburu binatang di hutan
dengan catatan perbuatan tersebut tidak dilarang oleh peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Peristiwa ini adalah sesuai dengan ketentuan Pasal
585 KUH Perdata yang menentukan bahwa “Hak milik atas kebendaan
bergerak yang semula bukan milik siapapun juga, adalah pada orang yang
pertama-tama mengambilnya dalam kepemilikannya”.
e. Pembayaran dilakukan pihak debitur kepada kreditur, atau orang yang
dikuasakan olehnya, atau orang yang dikuasakan hakim atau oleh undang-

13
undang untuk menerima pembayaran (Pasal 1382 KUH Perdata). Pembayaran
kepada kreditur adalah sesuai dengan apa yang telah diperjanjikan, apabila
kreditur tidak bersedia untuk menerimanya, maka debitur dapat melakukan
consignatie (Pasal 1404 KUH Perdata).
Di antara perbuatan hukum sepihak ada yang mensyaratkan bahwa untuk
timbulnya akibat hukum itu memerlukan adanya kehendak dan pernyataan
kehendak dari pihak lain. Berkaitan dengan ini ada sarjana yang membagi
perbuatan hukum sepihak menjadi dua, yaitu: perbuatan hukum sepihak murni,
yaitu cukup adanya kehendak dan pernyataan kehendak dari satu pihak saja untuk
timbulnya akibat hukum dan perbuatan hukum sepihak yang tidak murni, yaitu
masih memerlukan adanya kehendak dan pernyataan kehendak dari pihak lain
untuk timbulnya suatu akibat hukum.
Contoh: Yang termasuk perbuatan hukum sepihak yang tidak murni
adalah pengakuan anak luar kawin, ini dapat dilakukan oleh ayah biologis dengan
persetujuan ibu kandungnya (Pasal 284 KUH Perdata), apabila tidak maka
pengakuan tersebut batal. Di samping mengakibatkan batalnya pengakuan, juga
dapat dianggap melakukan pengakuan palsu yang merupakan perbuatan pidana
(Pasal 278 KUHP).
2) Perbuatan hukum berpihak dua adalah perbuatan hukum yang memerlukan
adanya kehendak dan pernyataan kehendak dari kedua belah pihak untuk
timbulnya suatu akibat hukum. Perbuatan hukum berpihak dua sering juga disebut
perjanjian, sebab untuk timbulnya akibat hukum harus ada kesesuaian kehendak
yang dinyatakan oleh kedua belah pihak. Perjanjian dibagi menjadi empat, yaitu:
perjanjian dalam hukum keluarga, perjanjian dalam hukum benda, perjanjian
obligatoir, dan perjanjian dalam pembuktian.
a. Perjanjian dalam hukum keluarga, misalnya perkawinan yang sekarang
dilakukan berdasarkan UU No. 1 Tahun 1974. Perkawinan ialah ikatan lahir
bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dnegan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal sesuai
dengan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1). Perkawinan harus didasarkan
atas persetujuan kedua mempelai (Pasal 6 ayat 1).
b. Perjanjian dalam hukum benda, yaitu suatu perjanjian yang mengakibatkan
timbul atau lenyapnya hak-hak kebendaan, misalnya perjanjian penyerahan
(traditie). Perjanjian kebendaan yang mengakibatkan penyerahan hak milik
atas sesuatu benda diatur dalam Pasal 612 s/d Pasal 620 KUH Perdata.
Penyerahan hak milik atas sesuatu benda dibedakan menjadi: untuk
penyerahan benda bergerak yang berwujud dilakukan dengan penyerahan
nyata (feitelijke levering) atau penyerahan dari tangan ke tangan, sedangkan
untuk penyerahan benda benda bergerak yang tidak berwujud dibedakan:

14
 Surat piutang kepada si pembawa (aan londer) misalnya uang kertas
dilakukan dengan penyerahan nyata atau penyerahan dari tangan ke
tangan.
 Surat piutang atas tunjuk (aan order) dilakukan dengan penyerahan surat
piutang disertai dengan endossemen, yaitu menuliskan disebalik surat itu,
yang isinya menyatakan kepada siapa piutang tersebut dipindahkan.
 Surat piutang atas nama (op name) dilakukan dengan cessie, yaitu dengan
membuat akta otentik atau akta dibawah tangan, yang didalamnya
diterangkan bahwa piutang tersebut telah dipindahkan kepada seseorang.
Pada penyerahan benda bergerak dibedakan yang bukan surat piutang
dengan yang merupakan surat piutang sedangkan benda tidak bergerak atau benda
tetap dengan satu cara yaitu penyerahan nyata harus diikuti penyerahan hak-hak
milik secara yuridis, yang telah diwajibkan sejak berlakunya
overschrijvingsordonnantie S. 1834 No. 27.
c. Perjanjian obligator adalah perjanjian untuk membentuk perikatan. Perjanjian
obligatoir dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Perjanjian sepihak, yaitu perjanjian yang hanya menimbulkan kewajiban
pada satu pihak saja. Kewajiban ini baru mempunyai akibat hukum,
apabila pihak lain telah menyatakan kehendaknya utnuk menerimanya.
Contoh: Hibah atau pemberian (schenking) sesuatu barang itu baru
dianggap mempunyai akibat hukum dan tidak dapat ditarik kembali
apabila pihak yang diberi itu telah menyatakan kehendaknya untuk
menerimanya. (Pasal 1683 KUH Perdata).
2. Perjanjian timbal balik, yaitu perjanjian yang secara langsung
menimbulkan hak dan kewajiban pada keduabelah pihak, baik pihak
kreditur maupun pihak debitur. Perjanjian obligatoir jenis ini dibagi
menjadi dua, yaitu:
1) Perjanjian timbal balik yang sempurna, yaitu perjanjian yang secara
langsung menimbulkan kewajiban kepada keduabelah pihak baik
debitur maupun kreditur. Misalnya: jual-beli, sewa-menyewa, dan
perjanjian kerja.
2) Perjanjian timbal balik yang tidak sempurna, yaitu yang mula-mula
hanya menimbulkan kewajiban pada salah satu pihak saja, akan tetapi
kemudian dapat menimbulkan kewajiban pada pihak lain berdasarkan
keadaan kemudian yang berhubungan dengan perjanjian tersebut,
misalnya: pemberian kuasa, penitipan barang. Perjanjian jenis ini
pada hakekatnya tanpa imbalan berupa uang, tetapi pada akhirnya di
kemudian ada pemberian imbalan (tegen prestatie).
d. Perjanjian dalam pembuktian adalah perjanjian yang diadakan oleh para pihak
mengenai alat-alat pembuktian yang akan mereka gunakan dalam suatu proses

15
persidangan. Dalam hal ini mereka juga dapat menentukan alat-alat
pembuktian tertentu yang tidak boleh dipergunakan, dan kekuatan alat bukti
yang diajukan.
2.3.2 Perbuatan manusia yang bukan perbuatan hokum
Perbuatan manusia yang bukan perbuatan hukum, yang oleh undang-undang
dihubungkan dengan suatu akibat hukum. Keterikatan seseorang adalah tanpa
disadari, tetapi terjadi karena adanya ketentuan undang-undang yang harus dipatuhi.
Perbuatan jenis ini dibagi menjadi dua, yaitu: yang sah dan yang melawan hukum.
1) Perbuatan yang oleh hukum dihubungkan dengan suatu akibat, yang kemungkinan
akibat tersebut tidak dikehendaki oleh orang yang bersangkutan. Hal ini berarti
suatu perbuatan sah yang bukan merupakan perbuatan hukum, ada akibat yang
diatur oleh hukum yang kemungkinan tidak dikehendaki oleh orang lain tanpa
diminta oleh orang yang kepentingannya diwakili (zaakwaarneming).
Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1354 KUH Perdata.
2) Perbuatan melawan hukum (onrachtmatige daad) adalah suatu perbuatan yang
oleh peraturan hukum diikatkan dengan suatu akibat, yaitu untuk membayar ganti
kerugian yang disebabkan oleh perbuatan tersebut. Kewajiban membayar
kerugian ini tidak dikehendaki oleh orang yang melakukan perbuatan tersebut,
dan semata-mata itu dibebankan karena adanya ketentuan hukum yang harus
dipatuhi. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang menyatakan: Tiap perbuatan
melanggar hukum yang membawa kerugian terhadap orang lain, mewajibkan
orang yang karena kesalahannya menimbulkan kerugian itu, mengganti kerugian
tersebut (Pasal 1365 KUH Perdata).
2.3.3 Peristiwa hukum yang bukan karena perbuatan manusia
Peristiwa hukum lainnya yang bukan karena perbuatan manusia, ada yang
merupakan kejadian, msialnya: kelahiran, kematian, dan ada pula yang merupakan
suatu keadaan, misalnya: umur dan kadaluwarsa.
1) Kelahiran, merupakan peristiwa yang oleh peraturan hukum dihubungkan dengan
timbulnya hak dan kewajiban. Dengan lahirnya seseorang, maka ia akan
memperoleh status sebagai subjek hukum. Selanjutnya dengan kelahiran tersebut
akan menimbulkan hubungan hukum antara anak dengan orang tuanya. Hubungan
hukum ini akan melahirkan kewajiban alimentasi, yaitu kewajiban orang tua
untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya yang belum dewasa sesuai dengan
kemampuannya, dan sebaliknya kalau anak tersebut sudah dewasa ia wajib
memelihara orang tuanya dan keluarganya dalam garis lurus ke atas yang dalam
keadaan tidak mampu.
2) Kematian, merupakan peristiwa yang oleh peraturan hukum dihubungkan dengan
timbul dan lenyapnya hak dan kewajiban. Dengan meninggalnya seseorang, maka
putuslah statusnya sebagi subjek hukum, tetapi sekaligus juga menimbulkan
berpindahnya hak dan kewajiban (khsusunya dalam lapangan hukum harta

16
kekayaan) kepada para ahli warisnya. Hal ini berarti, dengan kematian orang
tuanya semua ahli waris berhak atas harta peninggalan yang ada, dan mereka
wajib membagi sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku terhadapnya.
3) Perubahan umur, keadaan umur seseorang adalah merupakan peristiwa hukum, ini
terutama apabila karena umur terjadi perubahan kualifikasi seseorang.
4) Kadaluwarsa atau lampaunya waktu, dengan lampaunya waktu tertentu oleh
peraturan hukum dihubungkan dengan timbul atau lenyapnya hak dan kewajiban.
Kadaluwarsa adalah suatu upaya untuk memperoleh sesuatu atau untuk
dibebeaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas
syarat-syarat yang telah ditentukan undang-undang (Pasal 1946 KUH Perdata).
Berkaitan dengan ini KUH Perdata membedakan ada dua macam kadaluwarsa
(verjaring), yaitu: akusiitif dan ekstinktif.
a. Kadaluwarsa akuisitif (acquisifitief verjaring)adalah kadaluwarsa sebagai
upaya untuk memperoleh hak milik atau hak-hak lainnya, dengan syarat-
syarat tertentu karena lewatnya waktu (Pasal 1963 KUH Perdata).
b. Kadaluwarsa ekstinktif (extinctief verjaring)adalah kadaluwarsa sebagai
upaya untuk dibebaskan dari suatu kewajiban atau perikatan dengan syarat-
syarat tertentu karena lewatnya waktu (Pasal 1967 dan Pasal 1968 KUH
Perdata).

2.4 Klasifikasi Hukum


Hukum adalah keseluruhan tingkah laku baik yang bentuknya tertulis maupun tidak
tertulis, yang berisi perintah, perkenaan atau larangan yang harus dipatuhi warga masyarakat.
Bersifat mengatur atau memaksa, dan bagi siapa yang melanggarnya dapat dikenakan sanksi
yang tegas dan dapat dipaksakan oleh suatu instansi resmi.
Klasifikasi hukum dipengaruhi oleh unsur-unsur historis dan sosiologis, oleh sebab itu
faktor tempat dan waktu ikut mempengaruhinya. Hal ini berakibat, untuk adanya prinsip
klasifikasi hukum yang sama diantara negara yang satu dengan negara yang lain adalah
sangat sulit terjadinya. Untuk mengadakan klasifikasi hukum perlu ditetapkan terlebih dahulu
ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria tertentu yang akan digunakan. Selanjutnya berdasarkan
kriteria tersebut hukum dapat diklasifikasikan. Adanya klasifikasi hukum itu tidak berarti
antara klasifikasi yang satu menjadi terpisah dengan klasifikasi yang lain. Hal ini berarti
untuk suatu bidang hukum tertentu dan menggunakan kriteria-kriteria tertentu dapat
dimasukkan dalam beberapa klasifikasi hukum. Adapun ukuran atau kriteria yang dapat
digunakan untuk mengadakan klasifikasi hukum antara lain:
1) Berdasarkan sumber berlakunya
2) Berdasarkan bentuknya
3) Berdasarkan saat atau masa berlakunya
4) Berdasarkan tempat berlakunya
5) Berdasarkan sifat atau daya kerjanya

17
6) Berdasarkan luas berlakunya
7) Berdasarkan kerja serta pelaksanaan sanksinya
8) Berdasarkan fungsinya atau bagaimana pertaliannya
9) Berdasarkan isinya atau objeknya atau kepentingan yang dilindungi
10) Berdasarkan hubungan aturan hukum itu satu sama lain
Berikut adalah klasifikasi hukum yang dibedakan menjadi beberapa sub bagian:
1. Klasifikasi hukum berdasarkan sumber berlakunya, hukum dibedakan menjadi:
1) Hukum undang-undang (wettenrecht), yaitu hukum yang tercantum dalam
peraturan perundang-undangan.
2) Hukum kebiasaan dan hukum adat (gewoonte en adatrecht), yaitu hukum yang
tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat dan yang prinsip-prinsipnya dapat
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Hukum traktat (tractatenrecht), yaitu hukum yang ditetapkan negara-negara yang
secara bersama-sama mengadakan perjanjian antar negara.
4) Hukum yurisprudensi (jurisprudentierecht), yaitu hukum yang terbentuk melalui
putusan hakim.
5) Hukum perjanjian (overeekomstrech), yaitu hukum yang ditetapkan sendiri oleh
para pihak yang mengadakan perjanjian.
6) Hukum doktrin (wetenschapsrecht), yaitu hukum yang terdapat dalam pandangan-
pandangan para ahli hukum yang terkenal dan berwibawa, yang banyak
pengikutnya.
2. Klasifikasi hukum berdasarkan bentukhukumnya dibedakan menjadi:
1) Hukum tertulis, yaitu hukum yang dituangkan dalm bentuk peraturan perundang-
undangan. Hukum tertulis ada yang tersusun dalam bentuk kodifikasi dan ada
yang tidak dikodifikasikan.
2) Hukum tidak tertulis, yaitu yang berupa hukum kebiasaan dan hukum adat,
hukum perjanjian, hukum doktrin, dan hukum revolusi (revolusi yang berhasil).
3. Klasifikasi hukum berdasarkan saat atau masa berlakunya, hukum dibedakan
menjadi:
1) Hukum positif (ius constitutum), yaitu hukum yang sekarang berlaku bagi suatu
masyarakat tertentu atau bagi suatu daerah tertentu atau lebih luas lagi bagi suatu
negara tertentu. Berlakunya hukum positif terikat tempat dan waktu.
2) Hukum yang dicita-citakan (ius constituendum), yaitu hukum yang sekarang
belum berlaku, masih dicita-citakan atau masih dalam perencanaan dan
diharapkan akan berlaku dimasa mendatang.
3) Hukum alam, yaitu hukum yang berlakunya tidak terikat tempat dan waktu.
Hukum alam dianggap sebagai hukum yang berlakunya abadi terhadap siapapun
dan diamanapun ia berada hukum alam sering disebut sebagai hukum asasi.
4. Klasifikasi hukum berdasarkan tempat berlakunya, hukum dibedakan menjadi:

18
1) Hukum nasional, yaitu hukum yang berlaku di negara yang bersangkutan.
Misalnya hukum nasional Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan
menempatkan UUD 1945 sebagai ketentuan hukum positif tertinggi.
2) Hukum internasional, yaitu hukum yang mengatur hubungan-hubungan hukum
yang terjadi dalam pergaulan internasional.
3) Hukum asing, yaitu hukum yang berlaku di negara lain. Misalnya bagi bangsa
Indonesia adalah hukum yang berlaku di Malaysia, Amerika Serikat, Australia,
dsb.
4) Hukum gereja, adalah hukum yang ditetapkan oleh gereja dan diperlakukan
terhadap jamaahnya.
5. Klasifikasi hukum berdasarkan sifat atau daya kerjanya, hukum dibedakan menjadi:
1) Hukum yang bersifat mengatur atau fakultatif atau subsidir atau pelengkap atau
dispositif, yaitu hukum yang dalam keadaan konkrit dapat dikesampingkan oleh
perjanjian yang dibuat oleh para pihak.
2) Hukum yang bersifat memaksa atau imperatif (dwingendrecht), yaitu hukum yang
dalam keadaan konkrit dapat dikesampingkan oleh perjanjian yang dibuat oleh
para pihak, yang berarti kaidah hukumnya bersifat mengikat dan memaksa, tidak
memberi wewenang lain, selain apa yang telah ditentukan dalam undang-undang.
6. Klasifikasi hukum berdasarkan luas berlakunya, hukum dibedakan menjadi:
1) Hukum umum (ius generale), yaitu peraturan hukum yang berlaku umum atau
berlaku bagi setiap orang.
2) Hukum khusus yang dibedakan menjadi:
a. Hukum khusus yang berlakunya khusus untuk suatu tempat tertentu, jadi
kekhususannya bertalian tempat (ius particulare), dan
b. Hukum khusus yang berlakunya khusus untuk hal-hal tertentu saja atau yang
bertalian dengan segi tertentu dari kehidupan masyarakat (ius speciale).
7. Klasifikasi hukum berdasarkan kerja serta pelaksanaannya sanksinya, hukum
dibedakan menjadi:
1) Hukum kaidah (normenrecht), peraturan hukum baik publik maupun privat, yang
menyatakan adanya perintah atau larangan tentang sesuatu. Dalam hal ini hukum
dilihat dari segi perturannya sendiri, apakah di dalamnya memuat perintah, atau
larangan, jika memuat maka merupakan hukum kaidah.
2) Hukum sanksi (sanctienrecht), yaitu peraturan hukum yang menetapkan sanksi
yang dapat diterapkan kepada seseorang yang melanggar kaidah hukum. Jadi
hukum sanksi menjelaskan adanya reaksi terhadap pelanggaran hukum, baik
terhadap hukum, pidana, hukum tata usaha negara maupun terhadap hukum
privat.
8. Klasifikasi hukum berdasarkan fungsinya atau bagaimana pertaliannya dengan
hubungan-hubungan hukum atau menurut kedudukannya atau menurut cara
mempertahankannya, hukum dibedakan menjadi:

19
1) Hukum materiil (materieel recht = substantive law), yaitu peraturan hukum yang
mengatur kepentingan-kepentingan dan hubungan-hubungan hukum. Jadi
merupakan peraturan hukum yang menentukan hak dan kewajiban,
memerintahkan dan melarang berbagai perbuatan terhadap orang-orang dalam
masyarakat. Contoh: hukum perdata, hukum dagang, hukum pidana, hukum tata
usaha negara.
2) Hukum formiil (formeel recht = adjective law), yaitu perturan hukum yang
mengatur bagaimana menjamin ditaatinya atau ditegakkannya hukum materiil.
Hukum formiil atau yang sering disebut hukum acara, baru diperlukan apabila
sudah terjadi pelanggaran terhadap hukum materiil, sehingga ada pihak yang
dirugikan atau ketertiban dan keamanan masyarakat terganggu. Contoh: hukum
acara perdata, hukum acara pidana, hukum acara peradilan tata usaha negara.
9. Klasifikasi hukum berdasarkan isinya atau menurut kepentingan yang diaturnya atau
menurut objeknya, hukum dibedakan menjadi:
1) Hukum publik(publiek recht), peraturan hukum yang objeknya kepentingan
umum atau dapat juga dikatakan sebagai peraturan hukum yang mengatur
hubungan antara negara dengan warga negaranya atau hubungan negara dengan
alat perlengkapannya yang satu dengan alat perlengkapan yang lain. Hukum
publik mengatur kepentingan umum, maka pelaksanaannya dilakukan oleh pihak
penguasa. Contoh: hukum tata negara, hukum tata usaha negara, hukum pidana,
hukum acara perdata, hukum acara pidana, hukum acara peradilan tata usaha
negara, hukum internasional.
2) Hukum privat (privaat recht) atau hukum sipil (civiel recht) atau hukum perdata,
yaitu peraturan hukum yang objeknya kepentingan khusus atau kepentingan
perseorangan, hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain, baik
dalam hubungan keluarga, maupun dalam pergaulan masyarakat. Hukum privat
mengatur kepentingan perseorangan, maka pelaksanaannya terserah sepenuhnya
kepada pihak yang berkepentingan.
10. Klasifikasi hukum berdasarkan hubungan aturan hukum satu sama lain.
1) Hukum seragam sebenarnya menggambarkan adanya suatu kesatuan hukum yaitu,
diperlakukannya satu macam hukum terhadap satu persoalan, baik dilihat dari
faktor tempat atau daerah berlakunya, waktu berlakunya maupun dari faktor
orang-orang terhadap siapa hukum itu diperlakukan.
2) Hukum beraneka ragam, yaitu apabila yang berlaku terhadap satu persoalan lebih
dari satu aturan hukum. Aturan hukum yang mempunyai tugas dan fungsi untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul karena hubungan hukum dari dua
hukum yang sistemnya berlainan, disebut hukum antara atau hukum antar tata
hukum.
 Hukum antar tata hukum terdapat lebih dari satu aturan hukum, yang berlakunya
kemungkinan terjadi secara berurutan atau karena perbedaan tempat atau karena

20
perbedaan agama atau golongan orang. Konsekuensi dari hal tersebut, ada beberapa
cabang hukum antara, yaitu: hukum antar waktu, hukum antar daerah, hukum antar
bagian, hukum perdata internasional, hukum antar agama, hukum antar golongan.
1. Hukum antar waktu atau atau hukum intertemporal atau hukum transitoir atau hukum
peralihan, yaitu keseluruhan aturan hukum yang tugas dan fungsinya menyelesaikan
persoalan-persoalan hukum yang terjadi karena silih bergantinya suatu aturan hukum
yang berlaku atau apabila terdapat lebih dari satu aturan hukum selama jangka waktu
tertentu yang secara berurutan menguasai suatu persoalan.
2. Hukum antar daerah atau hukum interlokal atau hukum intergenti, yaitu keseluruhan
aturan hukum yang tugas dan fungsinya menyelesaikan persoalan-persoalan yang
timbul karena adanya hubungan hukum antara orang-orang dari daerah satu dengan
daerah lain dalam satu negara yang sistem hukumnya berbeda, atau tiap-tiap daerah
dalam satu negara mempunyai hukum adat sendiri-sendiri.
3. Hukum antar bagian atau hukum interregional, yaitu keseluruhan aturan hukum yang
tugas dan fungsinya menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang timbul karena
adanya hubungan hukum antara orang-orang dari bagian-bagian dalam satu negara
yang masing-masing mempunyai sistem hukum yang berbeda.
4. Hukum perdata internasional, yaitu keseluruhan aturan hukum yang tugas dan
fungsinya menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang timbul karena adanya
hubungan antar negara, artinya sistem hukum yang berbeda adalah kareana perbedaan
negara dan juga karena perbedaan hukum perdata yang berlaku bagi masing-masing
warga negara dari negara-negara yang bersangkutan.
5. Hukum antar agama atau hukum interreligious, yaitu keseluruhan aturan hukum yang
tugas dan fungsinya menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang timbul karena
adanya hubungan hukum antar orang-orang yang masing-masing mempunyai agama
yang berbeda.
6. Hukum antar golongan atau intergentil, yaitu keseluruhan aturan hukum yang tugas
dan fungsinya menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang timbul karena
terjadinya adanya hubungan hukum antara berbagai golongan warga negara dalam
satu negara, yang masing-masing mempunyai sistem hukum yang berbeda.

21
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Asas hukum itu adalah dasar-dasar umum yang terkandung dalam peraturan hukum,
dasar-dasar umum tersebut merupakan sesuatu yang mengandung nilai-nilai etis.sedangkan
sistem hukum adalah kesatuan utuh dari tatanan-tatanan yang terdiri dari bagian-bagian atau
unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan secara erat. Untuk
mencapai suatu tujuan kesatuan tersebut perlu kerja sama antara bagian-bagian atau unsur-
unsur tersebut menurut rencana dan pola tertentu.
Sistem hukum dilengkapi dengan asas-asas hukum. Adanya asas-asas hukum ini
membuat sistem hukum menjadi lebih hidup, sebab asas-asas hukum mengandung tuntutan
etis. Asas hukum merupakan jembatan antara peraturan-peraturan hukum dan positif dengan
cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat (Raharjo, 1982.86).
Peraturan hukum memberi kualifikasi terhadap peristiwa-peristiwa konkrit atau alamiah
yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari menjadi peristiwa hukum. Dengan demikian
peraturan hukum hanya membuat kerangka dari peristiwa-peristiwa yang biasa terjadi dalam
masyarakat menjadi peristiwa hukum.
Klasifikasi hukum dipengaruhi oleh unsur-unsur historis dan sosiologis, oleh sebab itu
faktor tempat dan waktu ikut mempengaruhinya. Hal ini berakibat, untuk adanya prinsip
klasifikasi hukum yang sama diantara negara yang satu dengan negara yang lain adalah
sangat sulit terjadinya. Untuk mengadakan klasifikasi hukum perlu ditetapkan terlebih dahulu
ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria tertentu yang akan digunakan. Selanjutnya berdasarkan
kriteria tersebut hukum dapat diklasifikasikan. Adanya klasifikasi hukum itu tidak berarti
antara klasifikasi yang satu menjadi terpisah dengan klasifikasi yang lain.

3.2 Saran

22
Agar sistem hukum nasional benar-benar terarah untuk meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat dan pembangunan yang berkelanjutanmaka perlu adanya kesatuan sistem hukum
yang memadai dalam masing-masing sistem dan adanya pengawasan independen yang
berkualitas dan berintegritas dalam rangka menciptakan kekuasaan kehakiman yang bebas
dan mandiri “Demi Keadilan Sosial berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.
Asas hukum itu adalah dasar-dasar umum yang terkandung dalam peraturan hukum,
dasar-dasar umum tersebut merupakan sesuatu yang mengandung nilai-nilai etis.sedangkan
sistem hukum adalah kesatuan utuh dari tatanan-tatanan yang terdiri dari bagian-bagian atau
unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan secara erat. Untuk
mencapai suatu tujuan kesatuan tersebut perlu kerja sama antara bagian-bagian atau unsur-
unsur tersebut menurut rencana dan pola tertentu.

Diharapkan kepada para penegak hukum bahwa di dalam proses pembentukan hukum
dan proses penemuan hukum agar dapat mengkaji dan menggali nilai-nilai hukum yang
hidup di dalam masyarakat, agar dapat tercapai tujuan hukum.

23
DAFTAR PUSTAKA

Duswara, Machmudin Dudu. 2003. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung: PT. Refika Aditama.
Pipin, Syarifin. 1999. Pengantar Ilmu Hukum.Bandung: CV. Pustaka Setia.
Satjipto, Raharjo. 2000. Ilmu Hukum.Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

http://pangeranbocahwordpress.blogspot.co.id/2015/12/makalah-asas-asas-huku.html, diunduh
pada tanggal 6 November 2016, pkl. 16.05 WIB.

24