Anda di halaman 1dari 169

Ikatan Dokter Anak

Indonesia

Hari Kelainan Bawaan


Sedunia

21 Maret 2017

KELAINAN BAWAAN DAN


PENYEBABNYA
Nanis S. Marzuki
Kelainan
Bawaan dan Kelainan
Kematian Bayi bawaan
Terbanyak Penyakit
Di seluruh dunia 3-6%
bayi lahir dengan
Jantung
kelainan bawaan berat Bawaan
Penyebab kematian
2,68 juta bayi di masa
neonatus di seluruh
Defek
dunia (2015) Tabung
Saraf

Sindrom
Down

WHO 2000-2015. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs370/en/


Prevalens Kelainan Bawaan per 1000 kelahiran
Kelainan Bawaan

Sejak dalam
kandungan,

Kelainan Kelainan
kongenital = struktur
malformasi/ atau Saat lahir,
atau
anomali fungsional
kongenital yang terjadi:

Setelah
lahir
Jenis Gangguan Morfologi

Malformasi Disrupsi Deformasi Displasia

• Spina Bifida, Amniotic band Club foot, Akondroplasia,


Defek tabung CTEV, asimetri osteogenesis
saraf
• Celah Bibir/ wajah, telinga imperfekta,
Palatum tertekuk Displasia
Ektodermal
Penyebab

Lingkungan
• Obat-obatan, alkohol,
merokok
• Penyakit ibu: DM,
Infeksi
Genetik • Nutrisi: asam folat
• Defek
Kromosom Genetik dan
• Cacat Gen Lingkungan -
Multifaktorial

Kelainan
Tidak Bawaan
Diketahui
Kelainan Bawaan Diduga bila didapatkan:

Gangguan pertumbuhan dan/ atau proporsi tubuh

Kelainan genitalia dan/ atau pubertas

Keterlambatan psikomotor, bicara, atau retardasi mental

Gangguan fungsi neuromuskular

Kecenderungan perdarahan

Kebutaan atau ketulian

Penyakit metabolik (regressi motorik dan/ atau perilaku, bau badan tidak biasa,
penyakit berat yang tidak diketahui sebabnya).
Kelainan Kromosom

Sindrom Down

Trisomi 21
Turner syndrome
Cacat Gen

Dominan Ressesif

Akondroplasia Thalassemia
Sindrom Crouzon, Hiperplasia Adrenal
Apert Kongenital
Osteogenesis Imperfekta

Terkait Kromosom X:
Kelumpuhan Otot
Duchenne/ Becker
Hemofilia
Akondroplasia Sindrom Crouzon Hiperplasia Adrenal Kongenital

Horton WA. Lancet 2007 http://kemiamusa.blogspot.co.id/2015/01


/crouzon-syndrome.html

Osteogenesis Imperfekta Thalassemia Distrofi Muskular Duchenne


Distribusi Pasien CAH di Indonesia -KAHAKI

Jumlah Pasien
Jumlah Pasien
53
45
34
20 23
16
6 6 10
1 1 2 2 1 1 3 5 1 3
0
10
80

20
30
40
50
60
70
90
Aceh
Sumatra Utara
Sumatra Barat
Sumatra Selatan
Jambi
Lampung
Riau
Banten
Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
DI. Yogyakarta
Bali
Sulawesi Selatan
Jumlah Pasien

Sulawesi Utara
Sulawesi Tenggara
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Kalimantan Timur
Osteogenesis Imperfekta - FOSTEO

Jumlah Pasien
Multifaktorial

Celah Hipospadia Hipotiroid


Bibir/ Kongenital
Langit-
Langit
Distribusi HK tiap Provinsi

Jumlah Kasus HK
143

104 109
93

48 48 46
36
25
5 12 9 8
1 2 1 1 1 1 1
Lingkungan

Obat-obatan: Thalidomide Alkohol Infeksi Nutrisi


Pencegahan

Remaja Perempuan dan Ibu

• Makan sehat, dan menjaga berat badan ideal: Variasi buah-buahan dan sayur, vitamin
dan mineral: asam folat cukup
• Hindari bahan berbahaya: alkohol, merokok

Ibu hamil:

• Travel ke daerah wabah infeksi


• Insektisida, pestisida, logam berat
• Penanganan penyakit sebelum hamil: DM, Tiroid
• Obat-obatan, radiasi
• Skrining Infeksi: Rubella, Syphillis, Cacar Air

Imunisasi

• Rubella

Edukasi tenaga kesehatan


Deteksi Dini

Skrining neonatal:
HK, HAK, gangguan
pendengaran, defek jantung

Skrining pra natal:


USG, CVS, amniosentesis

Skrining pra nikah:


Pembawa sifat, riw keluarga
Pengobatan

Pengobatan HAK: hidrokortison, fludrokortison


Medis
Hipotiroid kongenital: Levotiroksin
Thalassemia: Transfusi, kelasi besi
Penghindaran/
Diet Khusus G6PD, PKU, Galaktosemia

Koreksi Bedah Displasia tulang

Celah Bibir/ Palatum


Kesimpulan

Kelainan bawaan bukan merupakan kelainan


jarang, dan penyebab kematian utama bayi/ anak balita

Terdapat berbagai variasi kelainan bawaan, yang


disebabkan
• Genetik
• Lingkungan
• Multifaktorial
• Tidak diketahui

Penting deteksi dini untuk penanganan optimal dan


dini agar mortalitas dan morbiditas berkurang
Terima Kasih
Empiric Recurrence Risks (%)
for Selected Birth Defects
Condition Affected Relatives(s)

None 1 sib/parent 2 sibs / sib & parent


Cleft lip/palate 0.1 4 10-11
Neural Tube Defect 0.1 3 8
Heart Defect 0.3 4-5 10-11

The risk of having any one major birth defect is less


than 1% but this risk increases significantly if other
relatives have same birth defect
PROGRAM PENCEGAHAN DAN
SURVEILANS KELAINAN BAWAAN
DI INDONESIA

dr. Eni Gustina, MPH


Direktur Kesehatan Keluarga

DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA


KEMENKES RI
1. ANALISIS SITUASI KELAINAN BAWAAN
Penurunan Angka Kematian Balita Sejalan
dengan Berubahnya Sebab Kematian Balita
Kelainan bawaan menjadi penyebab kematian balita yang semakin
besar porsinya dengan membaiknya tatalaksana infeksi dan asfiksia

South East Asia Regional


Neonatal Perinatal Database
(SEAR-NPD: 2007-08)

3
KEMATIAN BALITA (Grafik Garis)
Persentase Kematian karena KELAINAN BAWAAN (grafik batang)
Berdasarkan Regional WHO dan Income Negara
180.0 35.0%

160.0
30.0%
140.0
5 mortality rate (per 1,000 births)

Distribution of causes of deaths (%)


25.0%
120.0

100.0 20.0%

80.0 15.0%
60.0
10.0%
40.0
5.0%
20.0
Under-5

0.0 0.0%

Legend
Countries income: H= High, UM=Upper-Middle, LM=Lower-Middle , L=Low
WHO Regions: AFR=Africa, AM= Americas, EM=Eastern Mediterranean, EUR=Europe, SEA=South East Asia; WP=Western Pacific

World Health Statistics 2010 data


http://apps.who.int/gho/data/view.main.POP2020?lang=en
2013 SEARO Training of Trainers Workshop, Bangkok July 15-18 2013 | 4
Tiga Kondisi Kongenital
(Kelainan Bawaan,
awaan, Prematur/IUGR
Prematur/IUGR dan Asfiksia)
Asfiksia)
Merupakan 35%-
35%-55% dari Penyebab Kematian Balita

90.0 60%
5 mortality rate (per 1,000 births)

Distribution of causes of deaths (%)


80.0
50%
70.0

60.0 40%

50.0
30%
40.0

30.0 20%
Under-5

20.0
10%
10.0

0.0 0%

Birth defects Prematurity Birth asphyxia Under-5 mortality rate

Source:
World Health Statistics 2011 http://www.who.int/whosis/whostat/2011/en/index.html

SEARO , Bangkok March 2012 - Strategies for preventing birth defects Mastroiacovo – Botto | 5
5
AKN/AKB
=57%
AKN/AKB
=56% AKN/AKB
=59%

SDKI

Laporan Rutin F1-F7


2014 (22 prov): KN/KB = 77%, kematian periode neonatal akibat kel bawaan 11%
Sumut KN/KB =72,6% , kematian periode neonatal akibat kel bawaan 2,3%

2013 (26 prov): KN/KB = 78%, kematian periode neonatal akibat kel bawaan 10%
Sumut KN/KB = 73%, kematian periode neonatal akibat kel bawaan 1%
Penyebab Kelainan Bawaan

Sekitar 50% kelainan bawaan tidak diketahui penyebabnya, namun


ada sejumlah penyebab dan faktor risiko yang diketahui yaitu:
faktor sosioekonomi:
faktor genetik: perkawinan antar-saudara (konsanguinitas)
infeksi: sifilis dan rubella
status gizi ibu: defisiensi iodium dan asam folat, obesitas, atau
diabetes mellitus, vitamin A dosis tinggi pada kehamilan muda;
faktor lingkungan: paparan ibu hamil terhadap
pestisida, obat, alkohol, tembakau dan bahan psikoaktif
lainnya, zat kimia tertentu.
Perkembangan Penyebab Kematian Balita
10 Penyakit Penyebab Kematian Balita tahun
Tahun 1992 KELAINAN BAWAAN
diare BELUM TERMASUK 10
PENYEBAB KEMATIAN
infeksi saluran napas
BALITA
0.0% infeksi & parasit lain
2.0%
12.1% campak, difteri & pertusis
3.0%
23.2%
4.0% penyakit sistem syaraf

5.1% malaria

6.1%
Tahun 2007
18.2% gangguan gizi

7.1% penyakit ginjal & saluran


8.1% kemih
11.1% bronkhitis, empisema &
asma
neoplasma

lain-lain
Penyebab Kematian Neonatus
Riskesdas, 2007

Penyebab Kematian 0-6 hari Penyebab Kematian 7-28 hari

18,1%

Riskesdas 2007: Birth defect 5,7% dari total kematian Bayi, 4,8%
dari total kematian Balita
2. KEBIJAKAN
Prevention and control of
birth defects in SEAR

Strategic Framework 2013-


2013-
2017

11
Penyebab dan Faktor Risiko Kelainan Bawaan

Sekitar 50% kelainan bawaan tidak diketahui penyebabnya, namun ada sejumlah penyebab dan faktor risiko
yang diketahui yaitu:
1. Faktor sosioekonomi:
kemiskinan merupakan faktor risiko yang penting. Sekitar 94% kelainan bawaan berat terjadi di negara
berkembang dengan prevalensi malnutrisi yang cukup tinggi dan paparan terhadap zat/faktor yang menambah
risiko terjadinya gangguan pertumbuhan janin, terutama infeksi dan alkohol. Usia ibu hamil yang terlalu tua
juga dapat meningkatkan risiko gangguan kromosom, seperti sindrom Down;
2. Faktor genetik:
perkawinan antar-saudara (konsanguinitas) meningkatkan prevalensi kelainan bawaan yang jarang dan
meningkatkan hampir dua kali risiko kematian pada neonatal dan anak, gangguan intelektual, disabilitas dan
kelainan bawaan berat pada perkawinan dengan sepupu;
3. Infeksi: sifilis dan rubella merupakan penyebab penting kelainan bawaan di negara berkembang;
4. Status gizi ibu:
defisiensi iodium dan asam folat (meningkatkan risiko NTD), obesitas, atau diabetes mellitus berhubungan
dengan beberapa kelainan bawaan;
5. Faktor lingkungan:
paparan ibu hamil terhadap pestisida, obat, alkohol, tembakau dan bahan psikoaktif lainnya, zat kimia
tertentu, vitamin A dosis tinggi pada kehamilan muda, bekerja/tinggal di daerah pembuangan
sampah, tambang atau di daerah dengan dosis tinggi radiasi akan meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan
kelainan bawaan.
PROGRAM PENCEGAHAN KELAINAN BAWAAN

1. Pemberian Tablet Fumarat Ferosus + Asam Folat bagi remaja putri (20%
dari sasaran tahun 2017) dan minimal 90 tablet Fe bagi ibu hamil
2. Imunisasi Rubella bagi bayi usia 9 bulan sd anak 15 tahun. Dimulai pada
September 2017 dilakukan bagi sasaran di pulau Jawa dan tahun 2018 pada
sasaran di luar pulau Jawa.
3. Mempromosikan aktifitas fisik mulai dari balita, anak usia
sekolah, remaja, dewasa termasuk senam ibu hamil dan lansia
4. Mempromosikan makan ikan, buah dan sayur
5. Meminum obat atas indikasi dan saran dokter
6. Teliti dalam mengkonsumsi makanan
7. Mencegah pencemaran lingkungan, baik dalam rumah tangga maupun
penceraran akibat aktifitas produksi pabrik, pertambangan dan pertanian
8. Melakukan pemeriksaan kesehatan minimal 6 bulan sekali. Antenatal
care pada ibu hamil minimal 4 kali selama masa kehamilan.
9. Mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah
Surveilans Kelainan Bawaan Berbasis RS di 28 RS
Sentinel
RSUD dr.
Zainoel Abidin

1. RSUP Dr. H. RSUD Kota


Adam Malik Dumai
RS Pirngadi

RS Kandou
RSUD Kota
RS Mohammad
Balikpapan
Hosein
RS U RSUD
Pariaman Jayapura
RSUD
3. RSUPN Dr. Cipto M Undata
4.RSAB Harapan kita
5.RS Hermina Jatinegara
6.RSIA Budi Kemuliaan
2. RSUP Dr. M. 7.RS Bunda Menteng 13. RSUP Dr
Djamil Wahidin S
RSUD Kab
RSUD dr. Brebes
Adjidarmo RSUP dr.
Kariadi RSUP Sanglah
8.RSUP Dr. Hasan
Sadikin RS Prov
NTB
9. RSUP Dr. RSUD dr.
RSUD Kulon Progo Sardjito 11. RSU Dr. Saiful RSUD Patut
Sutomo Anwar Patuh Patju
Tujuan Surveilans Kelainan Bawaan
Tujuan umum : menyediakan data dan informasi kejadian kelainan
bawaan sebagai masukan dalam pengendalian dan penanggulangan
kelainan bawaan
Tujuan khusus Surveilans Kelainan Bawaan di Indonesia adalah:
1. Mendapatkan data dasar mengenai kejadian kelainan bawaan
2. Mengidentifikasi populasi yang at increased risk terhadap
kelainan bawaan
3. Monitor tren dalam prevalens kelainan bawaan
4. Mengidentifikasi adanya kluster kelainan bawaan di populasi
5. Mengetahui faktor risiko terhadap terjadinya kelainan bawaan
6. Mengestimasi kebutuhan pelayanan terhadap kelainan bawaan
7. Menentukan program atau intervensi yang tepat untuk
menurunkan prevalensi kelainan bawaan dan kematian neonatal
8. Memberikan dasar untuk penelitian epidemiologi dan program
pencegahan
PRIORITAS KELAINAN BAWAAN
PRIORITAS PENCEGAHAN dan PRIORITAS SURVEILANS
TATALAKSANA
1 NTD 1. Spina bifida
2. Anencephaly
3. Meningo/Encephalocele
Meningo/Encephalocele
2 Oro-
Oro-facial clefts 4. Cleft palate
5. Cleft lip
6. Cleft lip and palate
3 Thallasaemia Genital
7. Hypos
Hypospadia
8. Epispadia
4 CRS 9. Congenital Cataract
5 Congenital Syphilis 10. Atreasia ani
6 Club foot Musculo sceletal
11. Talipes equinovarus
12. Omphalocele
13. Gastroschizis
14. Extremitas reduction
7 Congenital Hypothyroid 15. Conjuncted twin
16. Microcephaly
Sebaran Penambang Emas Skala Kecil
di Indonesia
GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT

PENGERTIAN
Suatu tindakan yang sistematis dan terencana
yang dilakukan secara bersama-sama
oleh seluruh komponen bangsa
dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan
berperilaku sehat untuk
meningkatkan kualitas hidup
TUJUAN

AGAR MASYARAKAT BERPERILAKU SEHAT


SEHINGGA BERDAMPAK PADA :

Kesehatan Biaya untuk


Terjaga berobat
Lingkungan berkurang
Produktif Bersih
SIAPA YANG MELAKSANAKAN ?
Seluruh lapisan masyarakat

Mempraktekkan pola
hidup sehat sehari-
hari

Individu Keluarga Masyarakat


Menggerakkan institusi dan
organisasi masing-masing

Menyediakan : kurikulum
pendidikan, fasilitas Akademisi Dunia Usaha Organisasi Masyarakat
olahraga, sayur dan
buah, fasilitas
kesehatan, transportasi, K Pemerintah
awasan Tanpa Pusat dan
Rokok, taman untuk Daerah
beraktivitas, Iklan Layanan
Masyarakat, car free
day, dsb
Pelaksanaan Germas Hidup Sehat

1. Melakukan aktivitas fisik


2. Konsumsi gizi seimbang
3. Tidak merokok
4. Tidak Mengkonsumsi alkohol
5. Mengelola Stress
6. Melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
7. Deteksi risiko penyakit tidak menular/ pemeriksaan
kesehatan berkala (termasuk skrining BBL)
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
berhasil jika...

Melakukan aktivitas Makan buah dan


fisik mininal 30 mnt sayur setiap hari Tidak Merokok
setiap hari
Individu

Tidak Mengonsumsi Alkohol Periksa Kesehatan


dan zat adiktif Istirahat Cukup Rutin
Mempunyai Meluangkan
Jamban Waktu Bersama
Keluarga
Keluarga

Tersedia buah dan


sayur dalam menu
sehari-hari
Olah raga Sayur dan buah
Masyarakat bersama secara selalu tersedia
rutin

Memberlakukan Memeriksa
Kawasan Tanpa kesehatan secara
Rokok rutin
Pendekatan keluarga

Puskesmas

UKBM:
Posyandu, PAUD, UKS, Poskestr
en, Upaya Kes Kerja, Posbindu
PTM, dll

Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga

25
PENDEKATAN KELUARGA
CARA KERJA PUSKESMAS YG TDK HANYA MENYELENGGARAKAN
PELAYANAN KESEHATAN DI DLM GEDUNG, MELAINKAN JUGA
KELUAR GEDUNG DG MENGUNJUNGI KELUARGA2 DI WILAYAH
KERJANYA (TDK HANYA MENGANDALKAN UKBM YG ADA)
PENDEKATAN PELAYANAN YG MENGINTEGRASIKAN UKP & UKM
SECARA BERKESINAMBUNGAN
DG TARGET KELUARGA
DIDASARI DATA & INFORMASI DARI PROFIL KES KELUARGA

DG TUJUAN:
1. MENINGKATKAN AKSES KELUARGA THD PELAYANAN KES YG
KOMPREHENSIF
2. MENDUKUNG PENCAPAIAN SPM KAB/KOTA & SPM PROVINSI
3. MENDUKUNG PELAKSANAAN JKN
4. MENDUKUNG TERCAPAINYA PROGRAM INDONESIA SEHAT

26
Indikator Keluarga Sehat
A Program Gizi, Kesehatan Ibu & Anak:
1 Keluarga mengikuti KB
2 Ibu bersalin di faskes
3 Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap
4 Bayi diberi ASI eksklusif selama 6 bulan
5 Pertumbuhan balita dipantau tiap bulan
B Pengendalian Peny. Menular & Tidak Menular:
6 Penderita TB Paru berobat sesuai standar
7 Penderita hipertensi berobat teratur
8 Gangguan jiwa berat tidak ditelantarkan
C Perilaku dan kesehatan lingkungan:
9 Tidak ada anggota keluarga yang merokok
10 Keluarga memiliki/memakai air bersih
11 Keluarga memiliki/memkai jamban sehat 27

12 Sekeluarga menjadi anggota JKN/askes


TEKNIK PONSETI UNTUK
KELAINAN BAWAAN KAKI BENGKOK
(CLUBFOOT - CTEV)
DR.DR.
DrDr. ARYADI
Aryadi KURNIAWANSpOT
Kurniawan SpOT.KK
Orthopaedi AnakFKUI
FKUI RSCM
RSCM
Orthopaedi Anak
Indonesian Paediatric Orthopaedic Soceity
HARI KELAINAN BAWAAN INDONESIA KEMENKES RI MARET 2017
APAKAH CLUBFOOT – CTEV ITU
(congenital talipes equinovarus)
Congenital = bawaan
Talipes = kaki
Telapak kaki menghadap
ke bawah (equinus) dan ke
dalam (varus)
Kaki menyerupai stick Golf
Club (Clubfoot)
CLUBFOOT – CTEV
(congenital talipes equinovarus)

DEFORMITAS KOMPLEKS PADA


KAKI DEPAN, KAKI TENGAH DAN KAKI BELAKANG
CLUBFOOT ADALAH
MASALAH KESEHATAN DI INDONESIA

Populasi 255 juta pada 20151


Angka kelahiran 192
4,8 juta bayi per tahun

1. National Center Bureau for Statistic. http://www.bps.go.id/eng/tab_sub/view


2. World Bank Data. http://data.worldbank.org/
CLUBFOOT DI INDONESIA
Belum ada data insidens Clubfoot di
Indonesia
Dapat merujuk pada penelitian lain pada
regional sekitar Indonesia
MELANESIA
Aguilar J (nd) Ponseti method for treating clubfoot in older children and children with previous

0.76 Philippines unsuccessful subtalar releases: short term results. Accessed online

at: www.ponseti.info/v1/index.php?option=com_content&task=view&id=66&Itemid=63 on 18/08/2010

Mittal R, Sekhon A, Singh G, Thakral H () The presence of congenital orthopaedic anomalies in a rural
0.9 India
community. International Orthopaedics 17 (1): 11-12

Yamamoto H (1979) A clinical, genetic and epidemiologic study of congenital club foot. Journal of Human
0.87 Japan
Genetics 24 (1): 37-44

AUSTRONESIA
Papua New Culverwell A, Tapping C (2009) Congenital Talipes Equinovarus in Papua New Guinea: a difficult yet
2.7
Guinea potentially manageable situation. International Orthopaedics (SICOT) 33: 521-526

Australia: Carey M, Bower C, Mylvaganam A, Rouse I (2003) Talipes equinovarus in Western Australia. Paediatric
3.49
Aboriginal Perinatal Epidemiology 17 (2): 187-194
INSIDENS CLUBFOOT DI INDONESIA

Antara 0,76 - 3,49 dari 1000 kelahiran hidup


4,8 juta bayi per tahun
3.648 to 16.752 kasus baru Clubfoot di
Indonesia per tahun
“ ”

– –


– –


“ ”

han Surveillance Kelainan Bawaan Kemenkes II (19 RS) Agt 2016 dan pelatihan III (9 RS) Pebruari
sumber dan fasilitator

ospital and other healthcare networks
RSUD Dumai (Riau), RSU Balikpapan (Kaltim), RSUD Lombok Barat (NTB), RSUP DOK II Jayapura
(Papua), RSUD Undata (Sulteng), RSUD Brebes( Jateng),
Jateng RSUP Dr. Zaenal Abidin (Aceh), RS. Saiful
Anwar (Malang), RSUD Lebak (Banten) , RSAB Harapan Kita (Jakarta)
Status Terkini

◦ Sekitar 12110 patients/laporan


laporan telah diproses
di
◦ 1155 laporan diproses dalam setahun
◦ 193 kasus baru per tahun (9,54%)
◦ Prevalennsi kelainan bawaan lahir:: 159/10,000 LB/tahun
LB/
◦ Prevalensi kasus langka
◦ Kelainan kromosom umum 5,92/10.000 LB/tahun
LB/
◦ Kelainan kromosom langka 1,24/10.000 LB/tahun
LB/
DATA JUMLAH
UMLAH BAYI LAHIR DALAM (TOTAL DAN 15 JENIS)
DENGAN KBL TAHUN 2010-2015
2010

Data hasil penelitian periode 2010-2015 menunjukkan bahwa prosentase kelainan bawaan lahir di RSAB Harapan
dalah 14,38% (1.742/12.110).. Jumlah kelainan bawaan lahir terdiri dari 1.157 kasus bayi lahir dalam (9,55%) dan
kasus bayi rujukan (4,85%).
DATA PERBANDINGAN 15 KBL BAYI LAHIR DALAM RS DAN TOTA
KASUS PADA SURVEILANS KEMENKES SEJAK SEPTEMBER 2013

Jumlah kasus KBL di RSAB Harapan Kita lebih tinggi dibandingkan di RS lain (21,92%).
Jumlah 15 KBL dibandingkan dengan seluruh kasus KBL dalam RS sebesar 13,42%.
Distribusi Jenis KBL
HKWCH Birth Defects Team
Leadership:
Dr. dr. Jo Edy Siswanto Sp.A(K),
Sp.A Chairman
Dr. dr. Lydia Pratanu MS, Executive Secretary
dr.
r. Gatot Abdurrazak, SpOG (vice chairman)
dr. Alexandra, SpBA (BDs program services)
drg. Syafrudin Hak, SpBM(K),
SpBM MPH, PhD (Dev/research)

Harapan Kita Birth Defects Registry


R (HKBDR)
Vital Records and Health Data Development Section :
dr. Vinchia (surveillance coord.)

Harapan Kita Birth Defects and Genetics


Comprehensive Treatment (HKBDGCT)
(HKBDGCT
Interdisciplinary team and treatment care


TERIMA KASIH
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA BERACUN (B3)

KONDISI PENCEMARAN LINGKUNGAN DI INDONESIA

SEMINAR HARI KELAINAN BAWAAN


Jakarta, 21 Maret 2017

Direktorat Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun – PB3


OUTLINE

Apa, dan mengapa dengan B3 ?

Pemajanan/paparan Limbah B3 di
Lingkungan

Dampak B3 dan Limbah B3 terhadap


Kesehatan dan Lingkungan
DEFINISI B3 dan LIMBAH B3
Bahan Berbahaya dan Beracun /B3 (UU 32
Limbah/Sampah (WHO) adalah:
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Sesuatu yang tidak digunakan, tidak
Pengelolaan Lingkungan Hidup) adalah
dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu
zat, energi, dan/atau komponen lain yang
yang dibuang yang berasal dari kegiatan
karena sifat, konsentrasi, dan/atau
manusia dan tidak terjadi dengan
jumlahnya, baik secara langsung, maupun
sendirinya.
tidak langsung, dapat mencemarkan
dan/atau merusak lingkungan hidup
Limbah (UU 32 Tahun 2009 tentang
dan/atau, membahayakan lingkungan
PPLH)
hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
Limbah adalah :
manusia serta makhluk hidup lainnya.
Sisa dari suatu usaha/kegiatan.
Limbah B3 adalah:
Pengelolaan B3 (PP 74 Tahun 2001 tentang
Limbah bahan berbahaya dan
PB3), adalah adalah kegiatan yang
beracun adalah sisa suatu usaha
menghasilkan, mengangkut, mengedarkan,
dan/atau kegiatan yang
menyimpan, menggunakan dan atau
mengandung BAHAN BERACUN
membuang B3
DAN BERBAHAYA (B3)
MENGAPA B3 dan LIMBAH B3
HARUS DIKELOLA ?

B3 dan Limbah B3 harus dikelola dengan alasan berpotensi mencemari


lingkungan kehidupan manusia.
B3 dan Limbah B3 harus dikelola dengan proses dan pendekatan untuk
memperkecil dampak melalui upaya memperpanjang nilai tambah sebagai
produk-produk sampingan sebelum nantinya limbah diolah lebih lanjut
Upaya yang dilakukan adalah melalui pendekatan reduce dengan 3R
(Reuse, Recycle dan Recovery)
Dengan bertambahnya nilai manfaat maka pemakaian sumberdaya dapat
diefesiensikan pemanfaatannya
Pengolahan sendiri harus menggunakan proses dan pendekatan teknologi
yang akrab lingkungan
PETA SEBARAN LAHAN TERKONTAMINASI LIMBAH B3 BERDASARKAN SSPLT
DAN SKPLT TAHUN 2016

SSPLT 219.562,87 ton 138.359,67 m2

SKPLT/Lap 927,65 ton (159m2)

SSPLT /SKPLT
NO SEKTOR
Tahun 2016
1 PEM 13
2 MAJA 5
3 NON INSTITUSI 1

PETA SEBARAN LAHAN TERKONTAMINASI LIMBAH B3 DALAM PROSES


PEMULIHAN TAHUN 2017

Dalam proses tahun


NO SEKTOR
2017
1 PEM 18 perusahaan
2 MAJA 17 perusahaan
3 NON INSTITUSI 2 lokasi

SSPLT : Surat Status Penyelesaian Lahan Terkontaminasi


PETA SEBARAN LAHAN TERKONTAMINASI LIMBAH B3 BARU UNTUK PULAU JAWA DAN
PULAU SUMATERA TAHUN 2015 s/d 2016
Berdasarkan temuan baru tahun 2015 dan 2016 (hasil kegiatan Identifikasi dan Inventarisasi Lahan Terkontaminasi Limbah B3 pada Tahun
2015 dan 2016)

ADA PENANGUNG TIDAK ADA PENANGGUNG


NO WILAYAH JUMLAH
JAWABNYA JAWABNYA

1 JAWA 31 TITIK 15 TITIK 16 TITIK

2 SUMATERA 190 TITIK 150 TITIK 40 TITIK


Jenis Limbah Hasil Identifikasi Lahan
Terkontaminasi Limbah B3
Pulau Sumatera
Oli Bekas
1% Limbah Medis
Pulau Jawa, Bali dan Nusra Spent Earth
1%

26%

Sludge Oil
0%

COCS
72%

COCS Sludge Oil Spent Earth Oli Bekas Limbah Medis


Contoh
KONTAMINASI LOGAM BERAT

Save the
Children

Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan – P3KLL


Contoh
KONTAMINASI LOGAM BERAT

Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan – P3KLL


Contoh
KONTAMINASI LOGAM BERAT

Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan – P3KLL


Contoh
Transportasi dan Transformasi Pestisida di
Lingkungan dan manusia
Contoh

Transportasi dan Transformasi Pestisida di Lingkungan


dan manusia
Contoh

INDONESIA SANGAT BERPOTENSI BERMASALAH DENGAN KONDISI DIATAS

Lebong Jambi-
Jambi-Bengkulu, Halmahera Utara, Bombana, Nusa Tenggara
Barat, Banyuwangi, Pongkor, Kalimantan Selatan (Pegunungan
Meratus), Papua
Contoh
Upaya Pemutusan Mata Rantai Peredaran
Merkuri dan Batu Cinnabar
Hasil survey lapangan di Kab. Sukabumi
Pengukuran konsentrasi merkuri di udara menggunakan alat portabel
Jerome J405. Hasil rata-rata: 102,07 µg/m3
Pengukuran kandungan merkuri di tanah menggunakan alat XRF. Hasil
rata-rata: 1.827,64 ppm
Hasil pengukuran kadar merkuri dalam tubuh pelaku pengolahan
batu cinnabar di Kab. Sukabumi
Kadar Merkuri
Sampel
Rambut (mg/l) Kuku (ppm)
Sampel 1 9,57 2,657
Sampel 2 9,31 1,765
Sampel 3 0,70 2,062
Sampel 4 56,18 16,302
Sampel 5 13,39
Sampel 6 4,18
Rata-rata 15,55 5,70
Baku mutu (IPCS) 1 – 2 mikrogram/l
Baku mutu (WHO) 1 – 2 mg/kg
PROGRAM PRIORITAS NASIONAL
TAHUN 2017
“Penghapusan Penggunaan Merkuri untuk Pengolahan
Emas Skala Kecil (Zero Merkuri)”
Pembangunan fasilitas pengolahan emas non merkuri di
3 lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK)
Penghapusan B3 yang dilarang
dipergunakan (PCBs)

Gambar 2. Distribusi
Gambar 1. Distribusi
1033 industri yang
3015 sampel yang
dilakukan inventory
disampling
Kajian Kelayakan Adopsi Mobile Technology
Pemusnahan Polychlorinated Biphenyls (PCBs) di
Indonesia

Kelompok Kerja Teknis (Technical Working Group) yang


terdiri dari perwakilan Kementerian ESDM, BPPT, Direktorat
Verifikasi Limbah B3 dan Limbah Non B3-KLHK, dan
Direktorat Pengelolaan B3

Lahan lokasi yang layak untuk dipergunakan sebagai Main


Shelter Mobile Technology Pengolahan PCBs di Cibuluh Kota
Bogor.
Konsentrasi Efek pada Kesehatan
1o ɥg/dL Sedikit menurunkan IQ, pendengaran dan pertumbuhan
sedikit terganggu
20 ɥg/dL Cukup menurunkan IQ, hiperaktif, kurang teliti, sulit
belajar, mengalami masalah pada bahasa dan bicara, dan
reflek yang lambat
40 ɥg/dL Mengalami perkembangan tulang dan otot yang lambat
kekurangan koordinasi mudah terserang anemia,
penurunan sel darah merah, dan keletihan.

50 ɥg/dL Mengalami sakit perut dan kram, merusak sel darah


merah, kerusakan otak.
>100 ɥg/dL Pengembangan otak, koma dan kematian
HUBUNGAN DOSIS-EFEK
Terima Kasih
KEAMANAN OBAT DAN PANGAN UNTUK
GENERASI SEHAT

Badan Pengawas Obat dan Makanan


Jakarta, Maret 2017

1
AGENDA

I. Pendahuluan
II. Keamanan Obat dan Pangan
III. Penutup

2
BAB 1 : Pendahuluan
Definisi

Obat: Bahan atau paduan bahan termasuk produk biologi yang digunakan untuk
mempengaruhi dan menyelidiki Obat adalah bahan atau paduan bahan,
termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau
menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan
diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi,untuk manusia (UU No 36 th 2009 ttg Kesehatan), Obat
berdasarkan UU Kesehatan mencakup juga kosmetika
Pangan: segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah
maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan
baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan,
pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman
Keamanan Pangan: kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan
dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat
mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.
( UU N0 18 th 2012 ttg Pangan)
3
Bahan kimia adalah semua materi berupa unsur, senyawa tunggal (substance),
campuran (mixture) dan atau sediaan (preparation) yang berasal dari sumber
daya alam atau proses produksi yang berwujud padat, cair atau gas, tidak
termasuk bahan radioaktif, residu bahan kimia, intermediet yang tidak
diisolasi serta bahan kimia dalam organisme hidup yang tidak diisolasi
sudah diubah menjadi, semua materi berupa unsur, senyawa tunggal ,
dan/atau campuran campuran yang berwujud padat, cair atau gas
Sistem Harmonisasi Global tentang Klasifikasi dan Pelabelan Bahan Kimia
(Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals)
adalah sistem global yang diinisiatifkan dan diterbitkan oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa untuk menstandarisasi kriteria dan mengharmonisasikan
sistem klasifikasi bahaya bahan kimia serta mengkomunikasikan informasi
tersebut pada label dan Lembar Data Keselamatan
Bahan berbahaya: zat, bahan kimia dan biologi, baik dalam bentuk tunggal
maupun campuran yang dapat merugikan kesehatan dan lingkungan secara
langsung atau tidak langsung, yang mempunyai sifat racun, karsinogenik,
teratogenik, mutagenik, korosif, iritasi dan sensitisasi (PerMenKes Nomor :
472/ Menkes/ Per/ V/ 1996 tentang Pengamanan Bahan Kimia Berbahaya Bagi
Kesehatan)
Produk berbahaya: produk yang berpotensi menimbulkan bahaya (mis Produk
PKRT) tentative 4
Oxidizers Flammables Explosives
Organic Peroxides Self Reactives Self Reactives
(Type B, C&D, E&F) (Type B, C&D, E&F) (Type A, B)
Pyrophorics Organic Peroxides
Self-Heating (Type A, B)
Emits Flammable Gas
G
H
S
Acute Toxicity (Severe) Corrosives Gases under
pressure pic
to
gram

Carcinogen Environmental Iriitant


Respiratory Sensitizer Toxicity Dermal Sensitizer
Reproductive Acute Toxicity
Specific Target Organ (Harmful)
Systemic Toxicity
(STOST)
Mutagenicity
5
PENGENDALIAN BAHAN KIMIA DI SETIAP
DAUR HIDUPNYA (IPCS 1996)

IMPOR EKSPOR
PENYIMPANAN

PRODUKSI TRANSPORTASI

DAUR ULANG DISTRIBUSI

PEMUSNAHAN PENGGUNAAN
6
KETERANGAN
IPCS : International Programme for Chemical Safety
kerja sama dari berbagai badan dunia spt UNEP, UNITAR,
ILO dll
Daur hidup bahan kimia: mulai dibuat digunakan
dimusnahkan atau di daur ulang
Di tangani oleh berbagai sektor sesuai dengan posisi
bahan kimia tersebut
Di Internasional penanganan bahan kimia
dikelompokkan berdasarkan jenis bahan kimianya dan
dituangkan dalam konvensi dan Indonesia menjadi salah
satu parties (penanda tangan)
Misalkan : konvensi Stockholm senyawa POPs,
konvensi Minamata senyawa merkuri, konvensi
Rotterdam perdagangan bahan kimia dll 7
KETERKAITAN KEAMANAN BAHAN KIMIA
(CHEMICAL SAFETY)
SAFETY) DGN ASPEK LAIN
Misuse bk terlarang dlm pangan
Penggunaan BTP berlebi
Risk assessment migrasi zat
kontak pangan dr kemasan pangan ADI
Residu pestisida TDI
RASFF FOOD Konsep Gizi
SAFETY

ENVIRONMENTAL CHEMICAL 2 NUTRITION


HEALTH
SAFETY

3
Kontaminasi bahan kimia
pestisida dan
ke dalam rantai pangan,
AGRICULTURE residu pestisida
antara lain senyawa
dalam pangan
kimia POPs, logam berat
SKEMA PROSES Pengkajian DAN
PENGELOLAAN RISIKO BAHAN KIMIA

IDENTIFIKASI
BAHAYA

HUB. DOSIS-EFEK Pengkajian


PAPARAN

KARAKTERISASI
Pengkajian RISIKO RISIKO

KLASIFIKASI
RISIKO

ANALISIS RISIKO

PENGELOLAAN RISIKO
PENGURANGAN
RISIKO

PEMANTAUAN
RISIKO

9
Kajian risiko didefinisikan sbg proses yang terdiri dari 4 elemen :
.. Identifikasi bahaya (Hazard identification)
.. Karakterisasi bahaya (Hazard characterisation)
.. Kajian paparan (Exposure assessment)
.. Karakterisasi risiko (Risk characterisation)
Identifikasi bahaya dan karakterisasi bahaya dimulai dari
identifikasi suatu senyawa kimia yg menyebabkan efek
merugikan thd kesehatan dan penterjemahan keparahannya
(dosis-respons) dan mekanisme biologi thd efek tersebut.
Komponen karakerisasi bahaya td studi toksikologi dan
perbedaan efek terhadap kesehatan juga profil menyeluruh dari
bahan termasuk kemungkinan produk degradasinya. Sepanjang
manusia tidak terpapar, baik melalui pangan, udara atau
sumber lainnya risiko tidak akan muncul.
Karakterisasi risiko menggabungkan informasi bahaya
terhadap kesehatan (misalnya toksisitas bahan) yang berasal
dari publikasi ilmiah dan paparannya
Kajian paparan tidak dapat didefinisikan dengan baik tanpa
Inhalasi (terhirup)
Kontak kulit (topikal)
Absorpsi melalui mulut/ saluran
pencernaan (tertelan)

Catatan :
Tingkat bahaya relatif pd konsentrasi dan waktu ttt :
INHALASI > TERTELAN > TOPIKAL
Ko/w besar : penetrasi ke dlm tubuh lbh mudah (Mis.
pestisida organoklorin - DDT dan eldrin)
INHALASI mrpk rute paparan utama di tempat kerja

11
Air, tanah dan udara

Manusia
Bahan berbahaya Tumbuhan dan hewan

Kontak langsung
12
KLASIFIKASI POTENSI PAPARAN BAHAN KIMIA

Bahaya utama
Kecelakaan
Lepas kendali dlm skala kecil

obat
kosmetika
Disengaja
bahan tambahan pangan
pestisida
Dapat diantisipasi di tempat kerja
langsung konsumer
lingkungan
Tidak disengaja

tidak langsung rantai pangan

13
Estimasi paparan
Kondisi penggunaan
Konsentrasi atau dosis
Konsentrasi yg scr
toksikologik tdk
menimbulkan efek R = Risk (Risiko)
merugikan kesehatan H = Hazard (bahaya_
E = Exposure (paparan)
(ADI atau TDI)

14 14
KURVA HUB DOSIS-RESPONS

FEL Functional Impairment


or Increased Susceptibility
Biological Effect to Disease

LOAEL

LOEL Biological Insignificant Effect


NOAEL Normal Biological Variation

LD50 Dose
NOAEL : Dosis tertinggi yg tdk menimbulkan efek merugikan kesehatan secara signifikan yg
teramati pd populasi
LOAEL : Dosis terendah yg menimbulkan efek merugikan kesehatan secara signifikan yg
teramati pd populasi

15
Paradigma Paracelsuss the dose makes the poison
HUBUNGAN DOSIS-RESPONS (2)
Kuantifikasi hub. atr dosis/ paparan BK dgn besarnya
efek/ respons
Data diperoleh dari studi eksperimen di lab, studi
eksperimen di lapangan atau studi epidemiologi pd
manusia/ ekosistem
Dapat menentukan nilai LD50 senyawa kimia
Digunakan untuk menetapkan besarnya NOAEL dan asupan
harian yg dapat diterima (ADI) atau TLV dgn cara
ekstrapolasi
Umumnya berbentuk sigmoidal
Efek toksik yg berbeda dari suatu BK menghasilkan hub.
atr dosis dan respons yg berbeda (Mis. paparan jangka
pendek benzen pd konsentrasi tinggi dpt menimbulkan
efek mematikan (efek akut) dan paparan jangka panjang
pd dosis relatif rendah dapt menginduksi terjadinya
16
kanker (efek kronik)
Dasar pelaksanaan kajian paparan:
Pertama adalah didasarkan pada berapa banyak zat yang dikonsumsi
orang setiap hari selama masa hidupnya
Kedua, berdasarkan studi sientifik yang dapat menunjukan berapa
banyak zat yang dimakan tiap hari adalah dalam jumlah yang aman
Jawaban dari kedua pertanyaan diatas dapat diketahui dari perhitungan
menggunakan paparan harian terestimasi- estimated daily intake (EDI)
dan asupan harian yang dapat diterima - acceptable daily intakes
(ADI)/asupan harian yang dapat ditoleransi - tolerable daily intake (TDI)
Kajian paparan didefinisikan oleh WHO sebagai evaluasi kualitatif
dan/atau kuantitatif yang diasup (dikonsumsi) berupa bahan biologis,
kimiawi atau fisik melalui pangan atau dari paparan lainnya dari sumber
yang relevan - the qualitative and/or quantitative evaluation of the
likely intake of biological, chemical and physical agents via food as
well as exposures from other sources if relevant. (WHO, 1997
Codex 2003)
Risiko bahan kimia yang menimbulkan efek merugikan terhad ap
kesehatan ditetapkan dengan 2 hal yaitu toksisitas dan paparan,
sehingga kajian paparan sering dinyatakan sebagai estimasi kuantitaf
paparan, bersama2 dengan evaluasi kualitatif dari kejadian
supporting. Seringnya atau praktis tidak mungkin mengukur paparan
secara langsung , sehingga estimasi kuantitatif bisanya didasarkan
pada model yang diprediksi
SENYAWA YANG PERLU DIPERHATIKAN
(yang ada dlm kehidupan sehari2)

1. Senyawa pengganggu sistem endokrin


(endocrine disruptor chemicals EDCs)
senyawa ini banyak ditemukan dalam berbagai
produk (misalnya kemasan pangan) dan tidak
sengaja masuk ke dalam makanan kita
2. Logam beracun: senyawa ini banyak
ditemukan sebagai kontaminan
3. POPs: senyawa ini dahulu digunakan sebagai
pestisida yang poten dan saat ini masih
ditemukan di lingkungan, karena sifatnya yang
persisten
18
Kajian paparan zat kontak pangan menjadi perhatian yg
merupakan EDCs
Plasticizer secara luas tersebar di dalam ekosistem dan sangat banyak, sebagai
akibat polusi thd lingkungan. Manusia terpapar bahan kimia tersebut melalui
rute tertelan, inhalasi dan melalui kulit selama masa hidupnya (Latini, 2005).
Diester dari asam ftalat (sering disebut sebagai ftalat) dan pemlastis lainnya
sedang dalam fokus beberapa survey dan kajian paparan
Bisfenol dan derivat epoksi atau klorohidrin diketahui sebagai senyawa
endocrine disruptors pada manusia dan berpotensi karsinogen. Pelepasannya
dari coatings/varnishes kaleng, botol PC dan sealant sedang menjadi perhatian
Lid logam dalam jar gelas juga merupakan sumber kontaminan, semicarbazide
in baby food jars resulting from degradation of azodicarbonamide used as
blowing agent, and epoxidised soybean oil (ESBO) a plasticizer used in the
plastisol gasket. EFSA recommended the decrease of the legal specific
migration limit (SML) for ESBO, for infants food packaging applications, from
60 to 30 mg/kg of food or food simulant (Directive 2005/72).
Primary aromatic amines (PAAs) can be derived from the hydr olysis of
aromatic isocyanates used in adhesives and from azo-dyes. PAAs detected in
kitchen utensils, particularly those made of black nylon, leading to a number of
actions by the European Rapid Alert System for Food and Feed (EU-RASFF,
2004-now)
Table 2. Description of lists (former SCF lists) for
classification of substances evaluated or under evaluation by
EFSA-SCF
0 Substances allowed for plastics in contact, such as food ingredients
and certain substances from intermediate metabolism of man, for which
an ADI need not be established
1 Substances, e.g. food additives, for which an ADI, t-ADI, MTDI, PMTDI
or PTWI has been established
2 Substances for which a TDI or a t-TDI has been established
3 Substances for which an ADI or TDI could not be established, but where
the present use could be accepted self-limiting substances because
their organoleptic properties or volatility substances with a very low
migration without a TDI but with a maximum level of use or a specific
migration limit stated
4 Substances (monomer and additives) for which a TDI or a t-TDI has
been established, but which could be used if migration is non-
detectable by an agreed sensitive method, or if residues (monomers) in
plastics are reduced as much as possible
5 Substances which should not be used
6 Substances for which there exist suspicion about toxicity and for which data
are lacking or are insufficient
Table 1. Toxicological information required by EFSA for
assessment of substances used in materials in contact with
food (2005)

Migration
< 0.05 mg/kg (minimum dossier) :
3 Mutagenicity studies in vitro (test for gene mutations in bacteria; test for
induction of gene mutation in mammalian cells; test for induction of
chromosomal aberrations in mammalian cells)
0.05< Migration < 5 mg/kg (intermediate dossier) :
3 Mutagenicity studies in vitro (as above) : 90-day oral toxicity studies (in 2
species) : Data to demonstrate the absence of potential for accumulation in
man
5 < Migration < 60 mg/kg (full dossier)
3 Mutagenicity studies in vitro (as above) : 90-day oral toxicity studies (in 2
species)
: Studies on absorption, distribution, metabolism and excretion
: Studies on reproduction (1 species) and developmental toxicity (2 species)
: Studies on long-term toxicity
Polimer sisntetis mempunyai BM tinggi (5000-1jt D), sehingga efek
biologisnya dapat diabaikan (inert), tetapi pada pembuatannya menjadi
artikel ditambahkan aditif yang menimbulkan potensi paparan pada manusia.
Bahan yang bermigrasi dari plastik meliputi monomer dan starting
substances, katalis, solven dan aditif (antioxidants, antistatics, antifogging
agents, slip additives, plasticizers, heat stabilisers, dyes and pigments)
Paparan yang berasal dari migrasi dari kemasan pangan, biasanya sangat
rendah yaitu pada kadar < 10 ppb sampai 60 ppm dalam pangan
Syarat uji toksisitas tergantung pada paparan, hubungan struktur dan
aktifitas dan kadang efek terhadap lingkungan. Salah satu evaluasi
berdasarkan toksisitas, tingkat paparan data toksikologi yang ada adalah spt
Tabel 2. Hanya klas 0-4 dalam tabel diijinkan , menjadi bagian dari ECs so-
called positive list.
LOGAM BERACUN

Logam

Logam
Logam Logam dengan
Logam Esensial
Beracun yang Toksisitas
Beracun yang dengan
Kurang berhubungan
Penting Potensi
Penting dengan Terapi
Beracun

Kromium (Cr)
Arsen (As) Besi (Fe)
Aluminium (Al) Barium (Br)
Timbal (Pb) Seng (Zn) Emas (Au)
Merkuri (Hg) Selenium (Se)
Nikel (Ni)

23
BAHAYA LOGAM BERACUN

Logam Organ Sasaran Mekanisme kerja Bahaya Antidotum


beracun

Arsen . Kulit . Mengikat sufhidril fungsi Kulit berwarna, kanker kulit, . British antilewisite,
. Paru enzim terganggu gangrene penisilamin, dmsa,
. Ginjal . Mengikat enzim dlm siklus . Sirosis hati, dmps
. Kandung empedu Kreb Karsinogen klas 1
.nekrosis lambung, saluran
pencernaan

Kadmium . Tulang Ion Cd+2 menghambat ensim Menyebabkan tulang lunak Quinamic acid
. Ginjal metabolik lisosom proteinuria dan gagal ginjal, pada
. Hati anak2 menyebabkan
. Plasenta hilangnya mineral tulang
. Paru dan menjadi rapuh, serta
. Otak gagal ginjal parah
. Kulit
. Paru
. Ginjal
. Kandung kemih
Kromium . Saluran . Cr(VI) merusak ginjal, hati dan . Kanker paru . Ca EDTA.
(VI) pencernaan sel darah melalui reaksi . Iritasi saluran pernafasan .BAL. Sediaan
. Hidung, oksidasi . Merusak hati dan ginjal mengandung
tenggorokan, paru . Cr (IV) dan Cr(V) berikatan (kronis) tiosulfat
. Ginjal langsung dengan DNA .Karsinogenik gol 1
. Hati
Merkuri . Paru Mengganggu pembelahan sel Teratogenik, bayi dengan BAL
(Hg), metil . SSP dengan menghambat fungsi saraf tdk normal, retardasi
merkuri . Ginjal enzimatik mental, autis, gangguan
. Hati jalan , pendengaran
24
Logam Organ Sasaran Mekanisme kerja Bahaya Antidotum
beracun

Timah putih . Kulit Mempengaruhi fungsi mitokondr . Iritasi Dimerkaprol


(Sn) . Mata ia, transfor Na dan Ca, . Dapat menembus
menghambat fosforilasi plasenta
oksidatif, menghambat oksidasi
glukosa, inkorporasi fosfat ke
dlm fosfolipid sel otak

Timbal (Pb) . Gigi . Menghasilkan radikal reaktif yg . Gangguan mental dan - Ca EDTA
.. Tulang merusak DNA kecerdasan pd anak - BAL
. SSP mengganggu ensim yang .Menembus plasenta dan
. Jantung berperan dlm pembuatan gula terdapat dlm asi
. Sistem endokrin . Mengikat sulfhidril . Keracunan timbal
. Sistem imun . Me mimic logam lain .encepalopati timbal
. Ginjal . Mengganggu pelepasan
. Hati glutamat
. Alat reproduksi
.

25
PENGATURAN DI INDONESIA
(SNI Maninan Anak)
Saat ini terdapat SNI 00-0000-2004
Dalam SNI tsb, untuk bahan kimia diatur batas logam berat yaitu

Logam berat Bioavailabilitas Batas maksimum


(ppm) (ppm)
Antimon (Sb) 1,4 0,6

Arsen (As) 0,1 0,25

Barium(Ba) 25 10

Kadmium (Cd) 0,6 0,75

Kromium (Cr) 0,3 0,6

Plumbum (Pb) 0,7 0,9

Raksa (II) (Hg) 0,5 0,6

Selenium (Se) 5,0 5,0

Dalam klausul Istilah 6.3 Toxicology atau bahan-bahan berbahaya dinyatakan


bahwa Bahan yang digunakan untuk mainan harus mengikuti P eraturan
Undang-undang tentang bahan berbahaya yaitu batasan zat-zat/bahan yang 26
mengandung racun, menyebabkan iritasi dan yang mengandung radioaktif
SNI tersebut sebagian mengadopsi European Union (BS EN 71-3:1995) dan standar Internasional
(International Organization for Standardization, ISO 8124-3: 1997 migrasi elemen tertentu).
EU juga mengatur asupan harian maksimum Pb dan Cd. Khusus untuk perlindungan kesehatan anak-
anak bioavailibilitas yang dihasilkan dari penggunaan mainan tidak boleh melebihi 0,6 g untuk Cd dan 0,7
g untuk Pb stiap hari.
Kekurangan dari standar ini adalah tidak adanya hubungan antara elemen bioavailable dan
kandungan yang berarti tetapi sebagai jumlah setiap elemen dalam mainan yang dapat diserap ke dalam
sitotal dalam mainan.
Bioavaiabilitas juga harus didefinisikan bukan sebagai ekstrak yang dapat larut yang mempunyai
toksikologikal stem sirkulasi seorang anak.
Dari berbagai penelitian, diketahui bahwa banyak mainan anak mengandung PVC dan logam berat Pb
atau Cd dalam jumlah bervariasi
Pada studi ini dua standar untuk timbal dalam mainan digunakan sebagai bahan diskusi. Pertama 600
ppm adalah batas timbal dalam mainan bercat yang ditetapkan oleh US EPA (Environmental Protection
Agency) dan yang satu lagi adalah 200 ppm untuk timbal dalam vinyl blinds seperti yang ditetapkan oleh
Consumer Products Safety Commision (CPSC).
Negara bagian Kalifornia nenyatakan Cd sebagai karsinogen pada Proposition 65 pada 1987. tidak
ada risiko signifikan pada debu Cd pada 0,05 μg/hari, yaitu 1/10 dari level yang diset untuk Pb.
lebih dari 30 sampel yang dianalisa konsentrasi total Pb dan Cd dalam mainan
Anak-anak yang bernain dengan mainan yang mengandung baik Pb dan Cd akan terpapar karena
kombinasi kedua logam toksik tersebut. Ini memerlukan perhatian yang lebih dan peraturan mengenai hal ini
harus segera dibuat.
Kadmium dalam sampel mainan Bervariasi dari 0,016 ppm sampai 188 ppm.
Timbal dan Kadmium dalam sampel mainan non-PVC
Timbal dan kadmium juga ditemukan pada plastik non-PVC. Konsentrasi timbal dalam bahan non-
PVC bervariasi dari 22,4 ppm sampai 56,2 ppm pada mainan dan bervariasi dari 11,4 ppm sampai 32,4 ppm
dalam mainan lainnya. Kecelakaan akibat timbal dan kadmium pada mainan non-PVC kemungkinan
disebabkan karena coating permukaan dengan cat yang mengandung timbal dan kadmium. Namun, harus
diakui bahwa konsentrasi timbal yang tinggi hanya ditemukan pada mainan PVC. 27
SENYAWA POPs (Persistent Organic
Polutants)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 20 09
TENTANG PENGESAHAN STOCKHOLM CONVENTION ON PERSISTENT
ORGANIC POLLUTANTS (KONVENSI STOCKHOLM TENTANG BAHAN
PENCEMAR ORGANIK YANG PERSISTEN)
POPs memiliki sifat beracun, sulit terurai, bioaku mulasi dan terangkut, melalui
udara, air, dan spesies berpindah dan melintasi batas internasional serta
tersimpan jauh dari tempat pelepasan, tempat bahan tersebut berakumulasi
dalam ekosistem darat dan air. Sifat-sifat tersebut harus diwaspadai mengingat
dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Sebagian
besar masyarakat Indonesia belum mengetahui dampak negatif bahan
pencemar organik yang persisten terhadap lingkungan hidup dan kesehatan
manusia khususnya kelangsungan hidup generasi yang akan datang.
Menurut Konvensi Stockholm, POPs terdiri atas tiga kategori yaitu:
a. pestisida berupa: Dichloro-diphenyl-trichloroethane (DDT), Aldrin, Endrin,
Dieldrin, Chlordane, Heptachlor, Mirex, dan Toxaphene;
b. bahan kimia industri berupa: Polychlorinated biphenyl (PCB) dan
Hexachlorobenzene (HCB); dan
c. produk yang tidak sengaja dihasilkan berupa Polychlorinated dibenzop
dioxins (PCDD), Polychlorinated dibenzofurans (PCDF), Hexachlorobenzene
28
(HCB) dan Polychlorinated biphenyl (PCB).
Peraturan Kepala Badan POM terkait
senyawa POPs
Ka BPOM No 28 tahun 2013 ttg Pengawasan Pemasukan Bahan Obat, Bahan Obat Tradisional, Bahan Suplemen
Kesehatan dan Bahan Pangan ke dalam wilayah Indonesia yang menyatakan bahwa Lindane tidak termasuk positive
list sbg bahan baku obat sehingga penggunaanya sebagai obat kutu tidak diijinkan lagi

Telah dilakukan pelarangan penggunaan Aldrin, Furan, Heptaklor dan Heksaklorbenzen dalam produk kosmetik dan
tertuang dalam Peraturan Ka BPOM No HK.03.1.23.08.11.07517 tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Bahan
Kosmetika.
Dalam Peraturan Ka BPOM HK 03 1 23 07 11 6664 tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan juga
telah dilakukan pelarangan penggunaan Heksaklorbenzen sebagai pelarut tinta printing

Telah diterbitkan peraturan Ka BPOM NoHK.00.06.1.52.4011 ttg Penetapan batas maksimum cemaran mikroba dan
kimia dalam makanan, menetapkanBatas maksimum Dioksin (2,3,7,8-TCDD) dalam (pg WHO-PCDD/FTEQ/
g lemak)
1. Daging olahan 3
2. Hati olahan 6,1
3. Ikan olahan 3 (pg/g berat basah)
4. Susu olahan, termasuk lemak mentega 3
5. Telur olahan 0,91
6. Minyak dan lemak 1,82
7. Serealia 0,46
III. METODOLOGI KAJIAN PAPARAN
Pemilihan metode untuk melakukan kajian paparan ditentukan
oleh tujuan pelaksanaan, sifat alami bahan kimia dan
sumber data yang tersedia
Ketika mengestimasikan paparan bahan kimia, terdapat 4
petunjuk dasar yang harus diikuti:
Harus ada estimasi untuk mencapai tujuan (the estimate should be
appropriate for the purpose)
Estimasi harus dikaji ketepatannya (the estimate should have an
assessment of accuracy)
Asumsi yang dibuat harus jelas (any underlying assumptions
should be stated clearly and)
Kelompok populasi kritis harus diperhitungkan ketika kelompok
tersebut memeberikan efek yang tidak proporsional terhadap suatu
bahan kimia (critical groups of the population should be taken into
account when these groups are disproportionally affected by the
chemical)