Anda di halaman 1dari 3

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

TATA LAKSANA KASUS

Bronkopneumonia
1. Pengertian ( Definisi) Bronkopneumonia adalah perdangan pada parenkim paru yang
melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berupa distrubusi
berbentuk bercak-bercak.

2. Anamnesis  Apakah anak mengalami bronkopneumonia didahului


batuk atau tidak?
 Apakah pada bronkopneumonia dapat menimbulkan kejang
demam pada anak?
 Apakah anak mengalami nafas cuping hidung pada
bronkopneumonia?
 Apakah bronopneumonia dapat menimbulkan sesak nafas
yang mengancam jiwa ?
 Apakah pada bronkopneumina mengalami penurunan nafsu
makan terhadap penderita?
 Apakah gejala klinis membaik setelah pemberian
pengobatan bronkopnemonia?

3. Pemeriksaan Fisik  Pada inspeksi terlihat nafas cuping


hidung
 pada palpasi di temukan vokal
fremitus yang simetris
 pada perkusi tidak terdapat kelainan
 Pada auskultasi ditemukan crackles
sedang nyaring

4. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan bila dari 3 dan 5 gejala berikut:


<>Sesak nafas disertai dengan pernapasan cuping hidung dan
tarikan dinding dada.
<>panas badan.
<>Rhonki basah halus-sedang nyaring(crackles)
<>Foto thorak menunjukkan gambaran infiltrate difus
<>Leukositosis(pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3
dengan limfosit predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3
neutrofil yang predominan)

5. Diagnosis Kerja Bronkopneumonia


6. Diagnosis Banding 1. Bronkiolitis

7. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan radiologi misalnya bentuk difus bilateral


dengan peningkatan corakan bronkovaskular dan
infiltratkecil dan halus yang tersebar pinggir lapang paru.
b. Pemeriksaan laboratorium misalnya peningkatan jumlah
leukosist. Hitung leukosist dapat membedakan pneumonia
viral dan bacterial.

8. Tata Laksana Penatalaksanaan umum

 Pemberian oksigen 2-4L/menit.


 Pemasangan infuse untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit
 Asidois diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena
Penatalaksanaan khusus

 Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas


sebaiknya tidak diberikan pada 72 jam pertamakarena
akan mengaburkan intretasi reaksi antibiotic awal
 Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita
dengan suhu tinggi,takikardi, atau kelainan jantung.
 Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme
penyebab dan menifestasi klinis.

9. Edukasi  Pengendalian lingkungan


(Hospital Health  Membiasakan cuci tangan
Promotion)  Menghindarkan anak atau bayi kontak dengan ISPA
 penghindaran makanan berpotensi bakteri,

10. Prognosis Advitam : adbonam


Ad Sanationam : adbonam
Ad Fungsionam : adbonam

11. Tingkat Evidens

12. Tingkat Rekomendasi

13. Penelaah Kritis 1. SMF Ilmu Kesehatan Anak

14. Indikator Klinis dan laboratorium

15. Kepustakaan 1. Pedoman Pelayanan Medis, IDAI. 2010