Anda di halaman 1dari 2

SISTEM GASTROINTESTINAL, HEPATOBILIER, & PANKREAS

RUPTUR ESOFAGUS (1)

Overview:
A. Etiologi
- Iatrogenik
- Spontan (Boerhaave’s syndrome)
- Luka tembus dari dalam karena benda asing
- Luka tembus dari dalam (tusukan atau tembakan)
B. Patofisiologi
Penyebab tersering ruptur esofagus adalah iatrogenic yaitu berupa dilatasi striktur, pengambilan benda
asing, dilatasi hidrostatik untuk akalasia, dan perlakuan diagnostic endoskopi. Lokasi tersering terjadinya
perforasi esofagus adalah pada tempat penyempitan anatomis maupun patologis.
Ruptur spontan biasanya terjadi di rongga pleural kiri atau diatas gastroesophageal junction. Rupture
spontan terjadi akibat peningkatan tekanan intraesofageal yang tiba-tiba dan diikuti dengan tekanan
negatif intratoraks yang dapat disebabkan oleh muntah hebat. Sebanyak 50% pasien biasanya juga
mengalami GERD yang menunjukan bahwa resistensi esophagus yang minimal pada penyaluran tekanan
abdominal ke esofagus region toraks merupakan faktor dari patofisiologi terjadinya lesi.
C. Faktor risiko/penularan -
Diagnosis:
A. Anamnesis  gejala khas
B. Pemeriksaan fisik  tanda khas ( bila perlu dapat disertai gambar)
C. Pemeriksaan Penunjang  jenis pemeriksaan dan tanda khas (bila perlu dapat disertai gambar)

NB: bila ada kriteria, pembagian, atau stadium untuk menegakkan diagnosis silahkan dicantumkan di
poin diagnosis

Diagnosis banding: (minimal 4 diagnosis banding dan diurutkan dari diagnosis banding terdekat)

Terapi:
A. Terapi farmakologis (dapat dicantumkan dosis, lini terapi, indikasi, kontraindikasi, efek samping
pengobatan)
B. Terapi nonfarmakologis

Komplikasi:

Rehabilitasi:

Prognosis:

Pencegahan:

Referensi:
1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FK UI.
2. Harrison’s Principle of Internal Medicine, edisi 19, 2015. Mc Grow Hill, New York.
3. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 5 tahun 2014. Available
from: https://peraturan.bkpm.go.id/jdih/userfiles/batang/Permenkes_5_2014.pdf. 2014.

NB:
a. Calibri 10, spasi 1, 1 materi maksimal 3 halaman
b. Apabila ada poin yang tidak ada, silahkan beri tanda “-“
c. Batasan materi yang dibuat berdasarkan kompetensi:
Kompetensi 1: hanya overview
Kompetensi 2: sampai diagnosis dan diagnosis banding
Kompetensi 3: sampai terapi
Kompetensi 4: sampai pencegahan