Anda di halaman 1dari 3

SISTEM GASTROINTESTINAL, HEPATOBILIER, & PANKREAS

PERDARAHAN GASTROINTESTINAL (3B)

Overview:
Perdarahan gastrointestinal dapat disebabkan oleh beberapa sebab, tergantung dari lokasi
perdarahannya. Perdarahan gastrointestinal dibagi menjadi 2 berdasarkan lokasinya, yaitu :
- Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA), perdarahan saluran cerna proksimal ligamentum
treitz. Secara klinis dibagi lagi menjadi perdarahan varises esophagus dan non-varises.
- Perdarahan saluran cerna bagian bawah (SCBB), perdarahan yang berasal dari usus disebelah
bawah ligamentum treitz.
A. Etiologi
1. Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA), perdarahan saluran cerna proksimal ligamentum
treitz. Secara klinis dibagi lagi menjadi perdarahan varises esophagus dan non-varises. Disebabkan
oleh :
- Pecahnya varises esophagus
- Gastritis erosive hemoragik
- Ulkus peptikum
- Sebab lain (Mallory-weiss tears, neoplasma)
2. Perdarahan saluran cerna bagian bawah (SCBB), perdarahan yang berasal dari usus sebelah bawah
ligamentum treitz. Disebabkan oleh :
- Divertikulosis
- Angiodisplasia
- Colitis iskemia
- Penyakit perianal (hemoroid, fisura ani, polip)
- Neoplasia kolon
- Kolitis (IBD)
B. Faktor risiko/penularan
1. Perdarahan SCBA
- Riwayat sering mengkonsumsi jamu-jamuan dan obat NSAID.
2. Perdarahan SCBB
- Usia tua

Diagnosis:
A. Anamnesis
1. Perdarahan SCBA:
- Riwayat konsumsi jamu, obat NSAID, riwayat penyakit hati kronis, dyspepsia, dan penyakit
jantung.
- Muntah darah berwarna hitam (hematemesis)
- BAB berwarna hitam (melena)
- Gejala klinis sesuai dengan penyakit komorbid seperti penyakit hati kronis.
2. Perdarahan SCBB
- Keluar darah segar melalui anus (hematokezia)
- Dapat terjadi melena pada perdarahan SCBB bila perdarahan berasal perdarahan kolon sebelah
kanan dengan perlambatan motilitas. Obatan-obatan (bismuth, sarcol, lycorine, preparat besi)
juga dapat menyebabkan feses berwarna kehitaman.
- Keluhan anemia pada pasien dengan perdarahan samar saluran cerna kronik
B. Pemeriksaan fisik
1. Perdarahan SCBA
- Penilaian hemodinamik
- Pemeriksaan fisik penyakit komorbid misalnya pada penyakit hati kronis dapat ditemukan
icterus, spider nevi, asites, splenomegaly, eritema palmaris.
- Rectal toucher, warna feses kehitaman.
- Aspirat dari nasogastric tube (NGT) untuk melihat apakah perdarahan aktif (aspirat berwarna
merah marun) atau tidak (aspirat berwarna jernih).
2. Perdarahan SCBB
- Penilaian hemodinamik
- Sesuai penyebab perdarahan. Dapat ditemukan nyeri abdomen, terabanya massa di abdomen
(neoplasma), fissure ani.
- Rectal toucher : adanya darah segar, adanya masa berupa hemoroid ataupun tumor rectum.
C. Pemeriksaan Penunjang
1.Perdarahan SCBA
- Laboratorium darah lengkap, faal hemostasis, faal hati, faal ginjal, gula darah, petanda hepatitis
B dan C.
- Pemeriksaan endoskopi (gold standar)
2.Perdarahan SCBB
- Pemeriksaan daarah perifer lengkap, hemostasis, tes darah samar, pemeriksaan defisiensi besi
- Kolonoskopi
- Scintigraphy dan angiografi
- Pemeriksaan radiologi dengan barium enema.

Diagnosis banding:
1. Perdarahan SCBA :
- Hemoptosis
- Hematokezia
2. Perdarahan SCBB:
- Haemorhoid
- Infeksi usus
- Diverikulosis
- Angiodisplasia
- Tumor kolon

Terapi:
A. Terapi farmakologis
1. Terapi untuk menghentikan perdarahan :
a. Perdarahan SCBA :
- Injeksi ARH2 atau PPI (omeprazole bolus 80mg dan dilanjutkan perinfus 8mg/kgBB/jam selama
72 jam)
- Sitoprotektor : Sukralfat 3-4 x 1gram
- Antasida
- Injeksi Vit K pada pasien dengan penyakit hati kronis
- Pada pasien dengan pecahnya varises esophagus diberikan : somatostatin bolus 250mcg + drip
250 mcg/jam selama 12-24 jam atau sampai perdarahan berhenti ; atau okreotid bolus 100mcg
dan dilanjutkan 25mcg perjam selam 8-24 jam atau sampai perdarahan berhenti.
b. Perdarahan SCBB :
- Bulk forming agent, sitz bath pada perdarahan dengan hemoroid,fisura ani.
- Kombinasi estrogen dan progesterone untuk mengurangi perdarahan yang timbul pada
angiodisplasia.
- Suplementasi ferrosulfat pada anemia yang disebabkan perdarahan samar.
2. Konsultasi ke dokter spesialis terkait dengan penyebab perdarahan
3. Terapi endoskopi
4. Terapi radiologi
5. Terapi pembedahan
B. Terapi nonfarmakologis
- Stabilisasi hemodinamik dan transfusi bila perlu.
- Tirah baring.
- Kumbah lambung melalui NGT dengan air suhu kamar.

Komplikasi:
- Syok hipovolemik

Rehabilitasi:

Prognosis:

Pencegahan:

Referensi:
1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 6, tahun 2014. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FK UI.
2. Harrison’s Principle of Internal Medicine, edisi 19, 2015. Mc Grow Hill, New York.
3. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 5 tahun 2014. Available
from: https://peraturan.bkpm.go.id/jdih/userfiles/batang/Permenkes_5_2014.pdf. 2014.

NB:
a. Calibri 10, spasi 1, 1 materi maksimal 3 halaman
b. Apabila ada poin yang tidak ada, silahkan beri tanda “-“
c. Batasan materi yang dibuat berdasarkan kompetensi:
Kompetensi 1: hanya overview
Kompetensi 2: sampai diagnosis dan diagnosis banding
Kompetensi 3: sampai terapi
Kompetensi 4: sampai pencegahan