Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PENDEKATAN POSITIF, PERATAAN LABA, DAN MANAJEMEN LABA

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi

Nama Dosen:
Hj. Siti Jubaedah, SE.,M.Si.,Ak.,CA

Disusun Oleh :

Niko Anugerah Putera (115040132)


Ipung Purnama Zakariya (115040134)
Nuraisah (115040140)
Ma’rifah (115040155)

4E - Akuntansi

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan
yang diberikan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
memiliki judul “PENDEKATAN POSITIF, PERATAAN LABA, DAN
MANAJEMEN LABA” sesuai dengan yang kami harapkan. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada dosen matakuliah Teori Akuntansi yaitu ibu Hj.
Siti Jubaedah, SE., M. Si., Ak, CA atas bimbingan beliau kami dapat menyelesaikan
tugas ini dengan baik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.


Untuk itu, sudilah kiranya para pembaca untuk memberikan masukan dan saran
sehingga isi makalah ini dapat lebih sempurna. Sebelumnya penulis mohon maaf
jika ada kesalahan cetak atau bahasa yang kurang baku di dalam makalah ini.

Akhir kata berharap semoga isi makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi semua pembaca pada umumnya yang memerlukan di masa sekarang ataupun
di masa yang akan datang, khususnya bagi penulis. Kami berharap semoga makalah
ini berguna bagi para pengajar, mahasiswa, dan pembaca pada umumnya.

Cirebon, Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................... ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah......................................................................................2

1.3 Tujuan........................................................................................................2

1.4 Manfaat......................................................................................................3

1.5 Sistematika Penulisan ............................................................................ ..3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Positif.....................................................................................4

2.2 Hipotesis Perataan Laba............................................................................8

2.3 Manajemen Laba.....................................................................................12

2.4 Status Akuntansi yang Bersifat Paradigma..............................................16

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan..............................................................................................18

3.2 Saran....................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... iv

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perubahan informasi atas laba bersih suatu perusahaan melalui berbagai


cara akan memberikan dampak yang cukup berpengaruh terhadap tindak lanjut para
pengguna informasi yang bersangkutan.
Earnings Management atau manajemen laba merupakan suatu fenomena
baru yang telah menambah wacana perkembangan teori akuntansi. Istilah
manajemen laba muncul sebagai konsekuensi langsung dari upaya-upaya manajer
atau pembuat laporan keuangan untuk melakukan manajemen informasi akuntansi,
khususnya laba (earnings), demi kepentingan pribadi dan atau perusahaan.
Manajemen laba itu sendiri tidak dapat diartikan sebagai upaya negatif yang
merugiakan karena tidak selamanya manajemen laba berorientasi pada manipulasi
laba.
Secara teoritis ada banyak cara atau metode yang dapat di tempuh oleh
manajer (pembuat laporan keuangan) untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan
(reported earnings) yang memang memungkinkan ditinjau dari teori akuntansi
positif (positive accounting theory). Teori akuntansi positif menjelaskan bahwa
manajer memiliki insentif atau dorongan untuk dapat memaksimalkan
kesejahteraannya. Bukti-bukti empiris menunjukan bahwa praktek manajemen laba
ditemui dalam banyak konteks.
Dari penjelasan diatas, tersirat jelas bahwa topik perataan laba (income
smoothing) terkait erat dengan konsep manajemen laba (earnings management).
Seperti halnya manajemen laba penjelasan konsep perataan laba juga
menggunakan pendekatan teori keagenan (agency teory). Teori ini menyatakan
bahwa manajemen laba dipengaruhi oleh konflik kepentingan antara manajemen
(agent) dengan pemilik (principal) yang timbul ketika setiap pihak berusaha untuk
mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmurannya. Sejalan dengan konsep

1
2

manajemen laba, pembahasan konsep perataan laba ini juga menggunakan


kerangka pikir teori keagenan artinya bahwa perataan laba timbul ketika terjadi
konflik kepentingan antara manajemen dengan pemilik. Kesenjangan informasi
diantara kedua pihak memicu manajemen untuk melakukan perilaku tidak
semestinya (disfunctional behaviour), yaitu dengan melakukan perataan laba untuk
mengatasi berbagai konflik yang timbul antara manajemen dengan berbagai pihak
yang berkepentingan dengan perusahaan. Disfunctional behaviour tersebut
dipengaruhi oleh adanya asimetri informasi (information asymetry) dalam konsep
teori keagenan (agency theory). Teori keagenan (agency theory) menyatakan
manajemen memiliki informasi yang lebih banyak mengenai perusahaan
dibandingkan pemilik perusahaan yang sering terdorong untuk melakukan
tindakan yang dapat memaksimalkan keuntungan dirinya sendiri (disfunctional
behaviour) dan atau perusahaannya. Kesenjangan informasi antara pihak
manajemen dengan pihak yang berkepentingan lain menyebabkan memicu
munculnya perataan laba (income smoothing).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pendekatan positif.


2. Apa yang dimaksud dengan perataan laba, serta bagaimana hakikat,
motivasi, objek, dimensi, variabel dari perataan laba.
3. Apa yang dimaksud dengan manajemen laba.
4. Apa yang dimaksud dengan status akuntansi yang bersifat paradigma.

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui dan memahami pendekatan positif.


2. Untuk mengetahui dan memahami perataan laba, serta memahami
hakikat, motivasi, objek, dimensi, variabel dari perataan laba.
3. Untuk mengetahui dan memahami manajemen laba.
4. Untuk mengetahui dan memahami status akuntansi yang bersifat
paradigma.

2
3

1.4 Manfaat

Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :

1. Agar mahasiswa dapat lebih memahami mengenai pendekatan positif


pada teori akuntansi.
2. Agar mahasiswa dapat lebih memahami mengenai perataan laba serta
memahami hakikat, motivasi, objek, dimensi, variabel dari perataan
laba.
3. Agar mahasiswa mengetahui dan dapat lebih memahami mengenai
manajemen laba.
4. Agar mahasiswa mengetahui dan dapat lebih memahami mengenai
status akuntansi yang bersifat paradigma.

1.5 Sistematika Penulisan

Guna memahami lebih jelas makalah ini, dapat dilakukan dengan cara
mengelompokkan materi menjadi beberapa sub bab dengan sistematika penulisan
sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang informasi umum yaitu latar belakang, rumusan
masalah, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan.

BAB II : PEMBAHASAN

Bab ini berisikan penjelasan mengenai tujuan dari rumusan masalah yang terdapat
pada bab pendahuluan agar mahasiswa dapat memahami mengenai pendekatan
positif, perataan laba, dan manajemen laba.

BAB III : PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan perlindungan terhadap
hak pemegang saham berdasarkan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Positif

Bagi pihak-pihak yang mengadopsi paradigma positif antropologis


(induktif), pokok masalah yang mendasar adalah :

1. Praktik akuntansi yang sudah ada


2. Sikap manajemen terhadap praktik tersebut

Para pendukung pandangan ini, secara umum berpendapat bahwa teknik-


teknik dapat diperoleh dan dijustifikasi berdasarkan hasil pengunaan yang telah
teruji atau manajemen ikut memainkan peran yang penting dalam menentukan
teknik-teknik yang hendak diterapkan. Konsekuensinya, tujuan dari penelitian
akuntansi yang berkaitan dengan paradigm antropologis (induktif) adalah untuk
memahami, menjelaskan, dan meramalkan praktik akuntansi yang sudah ada.

2.1.1 Paradigma Informasi Atau Ekonomi

Bagi mereka yang menerapkan informasi (ekonomi), pokok masalah


mendasar adalah :

1. Informasi adalah suatu komoditas


2. Akuisisi atas informasi menjadi suatu masalah pilihan ekonomi

Nilai informasi akan dilihat dari segi kriteria biaya-manfaat dalam struktur
formal dari teori keputusan dan teori ekonomi. Informasi akuntansi akan dievaluasi
dari segi kemampuannya dalam membuktikan kualitas pilihan optimal suatu
masalah pilihan mendasar yang harus diselesaikan oleh seorang individu atau
sejumlah individu yang berbeda.
Paradigma informasi (ekonomi) mengambil pandangannya melalui
berbagai disiplin ilmu, termasuk teori keputusan, teori permainan, teori informasi
dan ekonomi. Beberapa dari model analitis yang diusulkan memasukkan model

4
5

teori keputusan, model teori sindikat, model evaluasi informasi pengambil


keputusan, model teori tim, dan model pengumuman permintaan.

1. Model Teori Keputusan


Model ini menyajikan suatu kerangka untuk menentukan nilai suatu
perubahan di dalam sistem informasi sebagai suatu perbedaan antara
ekspetasi pengembalian dari dua sistem alternatif. Kegunaannya dibatasi
hanya pada revisi keyakinan karena model tersebut tidak termasuk evaluasi
kerja.
2. Model Teori Sindikat
Model ini mengikutsertakan perusahaan multianggota yang secara bersama-
sama memilih serangkaian tindakan akibat adanya suatu aturan pembagian
untuk dampak hasil yang tidak pasti.
3. Model Evaluasi Informasi Pengambil Keputusan
Model ini menjaga karakteristik multianggota dan mengikutsertakan
pemilik atau pengevaluasi informasi dalam mendelegasikan pilihan
tindakan terhadap satu atau lebih agen.
4. Model Teori Tim
Model ini mencakup suatu konteks multianggota dan suatu aturan
pembagian dalam model teori sindikat. Para individu diasumsikan bertindak
atas dasar ketertarikan terbaiknya sendiri dengan menggunakan informasi
yang ada khusus bagi mereka dan tetap ingat untuk menjaga kesejahteraan
tim.
5. Model Pengumuman Permintaan
Model ini sama dengan model teori tim dengan tambahan permasalahan
mengenai bagaimana mendorong agen untuk mengumumkan informasi
pribadinya secara jujur dan menggunakannya untuk memaksimalkan
keuntungan dari organisasi.

2.1.2 Paradigma Agensi - Analitis

Awal dari paradigma agensi-analitis mengacu pada contoh yang disajikan


dalam makalah seminar Coase, di mana ia pertama kali disebut sebagai hakekat
6

perusahaan dan gabungan antara prinsipal dan agen. Coase juga memberikan
penekanan pada kontrak sukarela yang muncul antara berbagai pihak organisasi
sebagai penyelesaian yan efisien terhadap berbagai konflik kepentingan. Paradigma
ini kemudian mengalami perubahan dengan memandang perusahaan sebagai suatu
“nexus (penghubungan) kontrak” dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Jensen
dan Meckling bahwa perusahaan adalah “cerita fiksi legal yang berfungsi sebagai
nexus dari serangkaian hubungan kontrak antara para individu.”
Hubungan agensi dikatakan telah terjadi ketika suatu kontrak antara
seseorang (atau lebih), seorang prinsipal, dan orang lainnya, seorang agen, untuk
memberikan jasa demi kepentingan prinsipal termasuk melibatkan adanya
pemberian delegasi kekuasaan pengambilan keputusannya kepada agen. Baik
prinsipal maupun agen diasumsikan untuk termotivasi hanya oleh kepentingan
dirinya sendiri yaitu, untuk memaksimalkan kegunaan subjektif mereka, dan juga
menyadari kepentingan bersama mereka.
Seleksi yang merugikan, sebagai suatu masalah informasi yang timbul
ketika agen menggunakan informasi khusus yang tidak dapat diverifikasi oleh
prinsipal untuk mengimplementasikan dengan sukses suatu aturan input-tindakan
yang berbeda dengan yang diinginkan oleh prinsipal dan karena nya menyebabkan
principal tidak mampu menentukan apakah agen telah membuat pilihan yang tepat.
Masalah risiko moral sebagai salah satu masalah informasi ex-post, timbul ketika
terdapat masalah motivasional dan konflik sebagai akibat dari kontrak kesepakatan
pada perilaku pengganti yang tidak sempurna.

2.1.3 Teori Akuntansi Positif

Tuntutan atas adanya pendekatan positif terhadap akuntansi terjadi ketika


Jensen menyatakan bahwa pekembangan suatu teori akuntansi positif yang akan
menjelaskan mengapa akuntansi seperti apa adanya dan mengapa akuntan
melakukan apa yang mereka lakukan, dan apa pengaruh yang dimiliki fenomena
terhadap penggunaan orang dan sumber daya. Menurut Kelompok Akuntansi
Rochester, hampir semua teori akuntansi tidak bersifat ilmiah karena mereka
bersifat normatif dan seharusnya diganti dengan teori positif yang menjelaskan
7

praktik akuntansi aktual dilihat dari segi manajemen secara sukarela terhadap
prosedur akuntansi dan bagaimana standar peraturan telah berubah dari waktu ke
waktu.
Dorongan terbesar bagi pendekatan positif dalam akuntansi adalah untuk
menjelaskan dan meramalkan pilihan standar manajemen melalui analisis atas biaya
dan manfaat dari pengungkapan keuangan tertentu dalam hubungannya dengan
berbagai individu dan pengalokasian sumber daya ekonomi. Teori positif
didasarkan pada adanya dalil bahwa manajer, pemegang saham, dan aparat
pengatur atau politisi adalah rasional dan bahwa mereka berusaha untuk
memaksimalkan kegunaan mereka, yang secara langsung berhubungan dengan
kompensasi mereka, dan oleh karena itu, kesejahteraan mereka pula. Sebenarnya,
ide utama dari pendekatan positif adalah untuk mengembangkan hipotesis atas
faktor-faktor yang mempengaruhi dunia praktik akuntansi dan untuk menguji
validitas dari hipotesis ini secara empiris:

1. Untuk meningkatkan keandalan dari peramalan berdasarkan atas


pengamatan perataan serangkaian angka akuntansi sejalan dengan suatu
kecenderungan yang dianggap terbaik atau normal oleh manajemen.
2. Untuk menurunkan tingkat ketidakpastian yang dihasilkan dari fluktuasi
angka pendapatan secara umum dan penurunan resiko sistematis khususnya
dengan menurunkan kovarian pengambilan perusahaan dengan
pengembalian pasar.

Tujuan utama pendekatan akuntansi positif adalah untuk menjelaskan,


memprediksi pilihan standar oleh manajemen dengan mengalisis biaya dan manfaat
ungkapan keuangan tertentu dalam hubungannya dengan berbagai individu dan
alokasi sumber daya dalam perekonomian. Teori positif didasarkan pada proposisi
bahwa manajer, pemegang saham, dan regulator/politisi adalah rasional dan mereka
berusaha untuk memaksimumkan utilitas mereka, yang secara langsung terkait
dengan kompensasi mereka, sehingga, terkait dengan kemakmuran mereka. Pilihan
kebijakan akuntansi oleh kelompok-kelompok ini didasarkan pada perbandingan
8

biaya dan manfaat relatif prosedur akuntansi altematif dalam suatu cara yang
memaksimumkan utilitas mereka.

2.1.4 Evaluasi Pendekatan Positif

Pendekatan positif melihat pada “mengapa” praktik dan atau teori


dikembangkan dengan cara tertentu dalam rangka untuk menjelaskan memprediksi
peristiwa akuntansi. Dengan cara seperti itu, pendekatan positif berusaha untuk
menentukan berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi faktor-faktor rasional
dalam bidang akuntansi.
Secara mendasar pendekatan tersebut berusaha untuk menentukan sebuah
teori yang menjelaskan fenomena observasian. Pendekatan positif secara umum
dibedakan dari pendekatan normatif, yang berusaha untuk menentukan sebuah teori
yang menjelaskan “apa yang seharusnya” dan bukan “apa yang sesungguhnya”.

2.2 Hipotesis Perataan Laba

2.2.1 Hakikat Perataan Laba

Perataan laba dapat dipandang sebagai proses normalisasi laba yang


disengaja guna meraih ataupun tingkat yang diinginkan. Gordon memberikan teori
pada perataan laba sebagai berikut :

 Dalil 1 : Kriteria yang dipakai oleh manajemen perusahaan dalam memilih


di antara prinsip akuntansi guna memaksimalkan kegunaan dan
kesejahteraannya.
 Dalil 2 : Kegunaan manajemen akan meningkat seiring dengan (1)
keamanan pekerjaannya, (2) tingkat laba dan tingkat pertumbuhan
laba manajemen, dan (3) besarya perusahaan dan tingkat
pertumbuhan besamya perusahaan.
 Dalil 3 : Pencapaian tujuan manajemen yang dinyatakan dalam Dalil 2
bergantung pada kepuasan pemegang saham terhadap kinerja
perusahaan; yaitu, jika hal lain dianggap sama, semakin bahagia
9

pemegang saham, semakin tinggi keamanan pekerjaan manaemen,


pendapatan, dan sebagainya dari manajemen
 Dalil 4 : Kepuasan pemegang saham terhadap sebuah perusahaan
meningkat bersama dengan rata-rata tingkat pertumbuhan dalam laba
perusahaan (atau rata - rata tingkat return atas modaInya) dan
stabilitas laba nya. Dalil ini telah di verifikasi dalam Dalil 2.

Teorema : Jika dianggap bahwa keempat dalil diatas diterima atau diketahui benar,
selanjutnya akan diikuti bahwa manajemen yang berada dalam batas kekuatannya
yaitu, batasan yang diatur dalam aturan akuntansi, untuk (1) meratakan laporan
laba, dan (2) meratakan tingkat pertumbuhan laba. Melalui “perataan tingkat
pertumbuhan laba”, kami mengartikan sebagai berikut : jika tingkat pertumbuhan
tinggi, praktik akuntansi yang menurunkan pertumbuhan itu harus diterapkan, dan
begitu pula sebaliknya.
Definisi terbaik perataan laba disajikan oleh beidleman sebagai berikut:
Perataan dari laba yang dilaporkan dapat didefinisikan sebagai pengurangan atau
fluktuasi yang disengaja terhadap beberapa tingkatan laba yang saat ini dianggap
normal oleh perusahaan. Dengan pengertian ini mencerminkan suatu usaha dari
manajemen perusahaan untuk menurunkan variasi yang abnormal dalam laba
sejauh yang diizinkan oleh prinsip akuntansi dan manajemen yang baik.

2.2.2 Motivasi Perataan

Beidelman mempertimbangkan dua alasan bagi manajemen untuk


meratakan eamings yang dilaporkan yaitu:

1. Argumen pertama didasarkan pada asumsi bahwa sebuah arus laba yang
stabil merupakan pendukung yang kapabel bagi sebuah tingkat dividen yang
lebih tinggi daripada sebuah arus laba yang lebih variabel, memiliki sebuah
pengaruh menguntungkan terhadap nilai saham perusahaan karena turunnya
risiko total perusahaan.
10

Dia menyatakan: “Sampai tingkat di mana variabilitas yang


diobservasi tentang sebuah tren eamings yang dilaporkan
mempengaruhi ekspektasi subjektif investor atas hasil dari laba dan
dividen yang mungkin di masa depan, manajemen dapat
mempengaruhi secara menguntungkan nilai saham perusahaan
dengan meratakan eamings”.

2. Argumen kedua untuk perataan adalah kemampuan untuk mengatasi sifat


siklus laba yang dilaporkan dan mengurangi korelasi antara return
perusahaan dengan retum portofolio pasar.

Dia menyatakan: “Sampai tingkat di mana auto-normalisasi eamings


berhasil, dan bahwa pengurangan kovariansi retum dengan pasar
diakui oleh investor dan dimasukkan dalam proses evaluasi mereka
perataan akan menambah pengaruh yang bermanfaat pada nilai
saham”.

2.2.3 Objek Perataan

Pada dasarnya objek perataan seharusnya didasarkan pada indikasi


keuangan yang paling mungkin dan paling digunakan, yaitu laba. Karena perataan
laba bukanlah suatu fenomena yang terlihat, literatur memperkirakan berbagai
bentuk pernyataan keuntungan sebagai objek perataan yang paling memungkinkan.
Para peneliti memilih indikator laba bersih atau laba per saham sebagai
objek perataan karena keyakinan bahwa perhatian jangka panjang manajemen
adalah terhadap laba bersih dan para pengguna laporan keuangan biasanya melihat
pada angka paling akhir, baik laba maupun laba per saham.

2.2.4 Dimensi Perataan

Dimensi-dimensi perataan pada dasarnya adalah alat untuk menyelesaikan


perataan angka pendapatan. Dascher dan Malcolm membedakan antara perataan riil
dan perataan artifisial sebagai berikut:
11

Perataan riil menunjuk pada transaksi aktual yang terjadi maupun yang tidak
terjadi dalam hal pengaruh perataannya terhadap pendapatan, sedangkan
perataan artifisial mengacu pada prosedur akuntansi yang
diimplementasikan terhadap pergeseran biaya dan atau pendapatan dari satu
periode ke periode yang lain.

Di samping perataan riil dan artifisial, terdapat beberapa dimensi lain yang
disebutkan dalam literatur, dimensi nya tersebut terdiri dari :

1. Perataan Melalui Adanya Kejadian Dan Atau Pengakuan


Manajemen dapat menentukan waktu transaksi aktual terjadi sehingga
pengaruhnya terhadap pelaporan pendapatan akan cenderung mengurangi
variasinya dari waktu ke waktu.
2. Perataan Alokasi Terhadap Waktu
Melalui kejadian dan pengakuan atas suatu peristiwa manajemen memiliki
kendali yang lebih bebas terhadap determinasi atas periode-periode yang
dipengaruhi oleh kuantifikasi dari peristiwa.
3. Perataan Melalui Klasifikasi
Ketika angka statistik laporan laba rugi selain laba bersih menjadi objek
perataan, manajemen dapat mengklasifikasikan pos-pos intralaba untuk
menurunkan variasi yang terjadi dari waktu ke waktu dalam statistik.

Pada dasarnya, perataan riil berkaitan dengan perataan melalui terjadinya


peristiwa dan atau pengakuan, sementara perataan artifisial berkaitan dengan
perataan melalui alokasi dari waktu ke waktu.

2.2.5 Variabel Perataan

Alat atau instrumen perataan adalah variabel-variabel yang digunakan untuk


meratakan indikator kinerja yang dipilih. Copeland menguraikan lima kondisi yang
diperlukan untuk suatu instrumen pertaan sebagai berikut:

1. Sekali digunakan, instrumen tersebut tidak harus membuat perusahaan


memiliki komitmen untuk melakukan tindakan tertentu apa pun di masa
depan.
12

2. Instrumen perataan harus didasarkan pada penerapan pertimbangan


profesional dan diperkirakan dalam wilayah “Prinsip-Prinsip Akuntansi
Yang Berlaku Umum”
3. Instrumen perataan harus mengarah pada pergerakan yang material secara
relatif terhadap perbedaan pendapatan dari tahun ke tahun.
4. Instrumen perataan tidak memerlukan suatu transaksi riil dengan pihak
kedua, tetapi hanya suatu reklasifikasi atau saldo akun internal.
5. Instrumen perataan harus digunakan, secara sendirian atau bersama-sama
dengan praktik lainnya, selama suatu periode waktu tertentu.

2.3 Manajemen Laba

2.3.1 Manajemen Laba Sebagai Manajemen Akrual

Pada dasarnya, definisi operasional dari manajemen laba adalah potensi


penggunaan manajemen akrual dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi.
Hubungan berikut ini adalah hal yang sangat penting untuk dapat memahami
manajemen laba sebagai manajemen akrual.

1. Total Akrual = Laporan Laba Bersih – Arus Kas Operasional


2. Total Akrual = Akrual Bukan Pilihan + Akrual Pilihan

Pendekatan umum untuk mengestimasi akrual pilihan adalah dengan


meregresikan total akrual dari variabel-variabel yang merupakan wakil dari akrual
normal. Akrual yang tidak diharapakan atau akrual pilihan dianggap sebagai
komponen yang tidak dapat dijelaskan (residual) dari total akrual.

2.3.2 Model Akrual

Model akrual pilihan pertama-tama melibatkan perhitungan total akrual.


Untuk itu model akrual total disajikan terlebih dahulu, selanjutnya diikuti oleh
model akrual pilihan.

1. Model Total Akrual


Pendekatan neraca untuk perhitungan total, adalah sebagai berikut
13

𝑇𝐴1 = ∆𝐶𝐴𝑡 − ∆𝐶asht − ∆𝐶𝐿𝑡 + ∆𝐷𝐶𝐿𝑡 − 𝐷𝐸𝑃𝑡

2. Model Akrual Pilihan


Terdapat enam model akrual pilihan yang terpilih yang dipertimbangkan
dalam literatur. Model tersebut adalah sebagai berikut
a. Model De Angelo
Adalah perbedaan antara akrual total di tahun peristiwa t disimbolkan
dalam aktiva total dan akrual bukan pilihan.

NDAt = TAt-1

b. Model Healy
Akrual bukan pilihan adalah nilai rata-rata dari akrual total yang
dilambangkan dengan aktiva keseluruhan pada periode estimasi.

ACCt= -DEPt – (XIt x D1) + ∆ ARt + ∆INVt - ∆APt – {(∆TPt + Dt) x D2}

c. Model Jones
Tujuan utama dari model ini adalah untuk mengendalikan pengaruh
perubahan dalam kondisi perusahaan pada akrual bukan pilihan.

NDAt = α1 (1 / At-l) + α2 (∆REVt) + α3 (PPEt)

d. Model Jones Yang Dimodifikasi


Untuk dapat mengeliminasi kecenderungan asumsi dalam model Jones
guna mengukur akrual pilihan dengan kesalahan pada saat pilihan
dipergunakan terhadap pengakuan pendapatan, model yang di
modifikasi memperhitungkan akrual bukan pilihan selama periode
peristiwa.

TAt = a1 (1 / At-l) + a2 (∆REVt) + a3 (PPEt) + υt

e. Model Industri
Model ini berasumsi bahwa variasi dalam penentuan akrual bukan
pilihan yang umumnya terjadi diantara perusahaan di industri yang
sama.
14

NDAt = γ1 + γ2medianI(TAt)

f. Model Kang Dan Sivaramakrishnan


Model ini bergantung pada pendekatan alternatif dimana mengestimasi
akrual yang dikelola dengan menggunakan tingkatan daripada
menggunakan perubahan dalam aktiva lancar dan utang lancar,
mencakup harga pokok penjualan dan juga beban lain-lain, dan tidak
membutuhkan regresi menjadi tidak terkontaminasi.

𝐴𝐵𝑖, 𝑡 = ∅0 + ∅1 [𝛿1, 𝑖𝑅𝐸𝑉𝑖, 𝑡] + ∅2[𝛿2, 𝑖𝐸𝑋𝑃𝑖, 𝑡] + ∅3[𝛿3, 𝑖𝐺𝑃𝑃𝐸𝑖, 𝑡] + 𝑢𝑖, 𝑡

2.3.3 Kesalahan Penetapan Harga Atau Akrual Pilihan

Terdapat cukup bukti yang menunjukkan bahwa para investor


mempergunakan dengan benar informasi yang ada dalam memperkirakan kinerja
laba di masa mendatang. Hal ini mencerminkan niat perbaikan investor dalam
laporan laba, dibandingkan kemampuan laba dalam merangkum informasi yang
memiliki nilai relevan. Kenyataannya, hampir semua analis akan berpendapat
bahwa para investor cenderung terfiksasi pada laba yang dilaporkan, pemeriksaan
akrual dan komponen arus kas dari laba berjalan dapat digunakan untuk mendeteksi
saham-saham yang salah penilaian, pemikirannya adalah akrual dan komponen arus
kas memiliki beberapa pengaruh terhadap beberapa perhitungan di masa yang akan
datang.
Persistensi kinerja laba ternyata bergantung pada besaran relatif dari kas dan
komponen akrual dari laba. Akan tetapi, harga saham bertindak seakan-akan para
investor gagal dalam mengidentifikasi secara benar sifat-sifat yang berbeda dari dua
komponen laba. Pasar dengan salah menilai terlalu tinggi penentuan komponen arus
kas dari akrual laba sekaligus pula menilai terlalu rendah persistensi dari komponen
arus kas. Akrual juga menunjukkan serangkaian hubungan negatif atau
kecenderungan reversi rata-rata. Hasil akhirnya adalah bahwa pasar merespon
seakan-akan terkejut pada saat pembalikan laba yang sepertinya dapat diramalkan
terjadi di tahun berikutnya.
15

2.3.4 Isu-Isu Dalam Manajemen Laba

1. Adalah sangat mudah menduga bahwa manajemen laba bertujuan untuk


memenuhi harapan dari analis keuangan atau manajemen (yang diwakili
oleh peramalan laba oleh publik).
2. Terdapat alasan yang baik untuk memiliki kecurigaan bahwa
manajemen laba bertujuan untuk mempengaruhi kinerja harga jangka
pendek dengan berbagai cara
3. Manajemen laba berakhir dan bertahan karena informasi asimetris,
suatu kondisi yang disebabkan oleh informasi yang diketahui manaemen
namun tidak ingin mereka ungkapkan. Persistensi ini adalah akibat dari
dibatasinya komunikasi dimana para manajer tidak dapat membicarakan
seluruh informasi pribadi mereka kecuali jika prinsipa secara kontrak
memberikan prakomitmen untuk tidak menggunakan informasi untuk
melawan manajer.
4. Manajemen laba terjadi dalam konteks suatu kumpulan pelaporan yang
fleksibel dan seperangkat kontrak tertentu yang menentukan pembagian
aturan pemegang kepentingan.
5. Strategi perusahaan bagi manajemen laba mengikuti satu atau lebih dari
tiga pendekatan: (1) memilih pilihan-pilihan yang fleksibel di dalam
IFRS atau GAAP, (2) bergantung pada perkiraan subjektif dan pilihan
aplikasi yang ada dalam opsi, dan (3) menggunakan akuisisi serta
disposisi aktiva dan waktu untuk melaporkannya.
6. Permainan laba, atau lebih tepat sebagai permainan laporan laba
triwulanan, mungkin menjadi alasan utama dalam manajemen laba.
7. Manajemen laba merupakan suatu hasil usaha untuk melewati ambang
batas. Tiga ambang batas penting bagi para eksekutif adalah: (1)
melaporkan laba positif, yaitu melaporkan laba diatas nol, (2) untuk
menjaga kinerja saat ini, yaitu membuat paling tidak sama dengan
kinerja tahun lalu, dan (3) untuk memenuhi harapan analis, khususnya
untuk peramalan laba
16

8. Manajemen laba dapat berasal dari hasil pemenuhan perjanjian dari


kontrak kompensasi implisit.
9. Manajemen laba tumbuh dari ancaman dua bentuk aturan: aturan
industri yang spesifik dan aturan antitrust.
10. Karna adanya kebutuhan akan subsidi dan perlindungan pemerintah
sekaligus pula dengan ketakutan akan investigasi antitrust atau
konsekuensi politik lainnya, para manajer mungkin mencari jalan keluar
dalam hal manajemen laba.
11. Penilaian perusahaan secara umum diasumsikan menjadi salah satu
sasaran manajemen laba.
12. Laba negatif secara tiba-tiba umumnya lebih merugikan daripada revisi
ramalan negatif.

2.4 Status Akuntansi Yang Bersifat Paradigma

2.4.1 Evolusi Atau Revolusi Di Dalam Akuntansi?

Berbagai pendekatan digunakan untuk memformulasi sebuah teori


akuntansi. Berdasarkan kelebihan dan kelemahan masing-masing pendekatan, kita
dapat mengharapkan bahwa situasi tersebut akan membawa pada sebuah
perdebatan yang bermanfaat dan sebuah teori akuntansi yang terpadu. Pandangan
ini mungkin akan dilajuntukan oleh semua orang yang percaya bahwa kemajuan
dalam akuntansi akan terjadi melalui akumulasi gagasan-gagasan atau evolusi.
Pandangan seperti itu mensyaratkan penerimaan sebagian besar pendekatan yang
diusulkan sebagai penyumbang potensial bagi sebuah teori akuntansi yang final,
terpadu, atau komprehensif.
Namun begitu, pandangan yang kuat dan lebih logis, adalah bahwa
akuntansi, seperti sebagian besar ilmu sosial dan ilmu alami, mencapai kemajuan
melalui revolusi bukan evolusi. Gagasan tentang revolusi dalam akuntansi diambil
dari karya Kuhn "The Structure of Scientific Revolutions dan diusulkan, secara
berhasil, dalam Statament of Accounting Theory and Theory Acceptance (SATTA)
yang diterbitkan oleh American Accounting Association (AAA).
17

2.4.2 Akuntansi: Suatu Ilmu Yang Multiparadigma

Jika akuntansi berada dalam tahap krisis, maka menjadi mungkin untuk
mengidentifikasi berbagai paradigma yang sating bersaing. Dengan kata lain,
akuntansi adalah sebuah sains multiparadigmatik, yang masing-masing saling
bersaing untuk menguasai disiplin akuntansi. Mengikuti definisi Ritzer tentang
paradigma, masing-masing paradigma akuntansi yang ada akan berisi contoh, teori,
dan metodenya sendiri. Secara lebih spesifik, “masing-masing paradigma akuntansi
yang saling bersaing saat ini cenderung untuk menspesifikasi domain empiris di
mana sebuah teori akuntansi harus berada”.
BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Pendekatan positif dalam akuntansi adalah untuk menjelaskan dan
meramalkan pilihan standar manajemen melalui analisis atas biaya dan
manfaat dari pengungkapan keuangan tertantu dalam hubungannya dengan
berbagai individu dan pengalokasian sumber daya ekonomi. Perataan laba
dapat dipandang sebagai proses normalisasi laba yang disengaja guna
meraih suatu tren ataupun tingkat yang diinginkan. manajemen laba dalah
potensi penggunaan manajemen akrual dengan tujuan memperoleh
keuntungan pribadi.
Perataan laba dapat dipandang sebagai proses normalisasi laba yang
disengaja guna meraih suatu tren ataupun tingkat yang diinginkan. Perataan
dari laba yang dilaporkan dapat didefinisikan sebagai pengurangan atau
fluktuasi yang disengaja terhadap beber apa tingkatan laba yang saat ini
dianggap normal oleh perusahaan. Dengan pengertian ini, perataan
mencerminkan suatu usaha dari manajemen perusahaan untuk menurunkan
variasi yang abnormal dalam laba sejauh yang diizinkan oleh prinsip-prinsip
akuntansi dan manajemen yang baik.
Terdapat cukup bukti yang menunjukkan bahwa para investor
mempergunakan dengan benar informasi yang ada dalam memperkirakan
kinerja laba di masa mendatang. Hal ini mencerminkan niat perbaikan para
investor dalam laporan laba, dibandingkan dengan kemampuan laba dalam
merangkum informasi yang memiliki nilai relevan.
Isu-isu dalam manajemen laba meliputi:
1. Terdapat alasan yang baik untuk memiliki kecurigaan bahwa
manajemen laba bertujuan untuk memengaruhi kinerja harga jangka
pendek dengan berbagai cara.

18
19

 Terdapat bukti dari akrual negative yang tidak diharapkan


(penurunan laba) sebelum terjadi tindakan pembelian kepemilikan
perusahaan oleh manajemen.
 Terdapat bukti dari akrual positif yang tidak diharapkan (kenaikan
laba) sebelum terjadi penawaran ekuitas sewaktu-waktu, penawaran
saham perdana, dan akusisi melalui saham. Pembalikan akrual yang
tidak diharapkan terlihat seperti mengikuti penawaran saham
perdana dan akusisi melalui saham.
2. Manajemen laba berakhir dan dapat bertahan karena informasi yang
asimetris, suatu kondisi yang disebabkan oleh informasi yang diketahui
manajemen namun tidak ingin untuk mereka ungkapkan.
3. Strategi perusahaan bagi manajemen laba mengikuti satu atau lebih dari
tiga pendekatan:
 Memilih dari pilihan-pilihan fleksibel yang tersedia dalam GAAP,
 Bergantung pada perkiraan subjektif dan pilihan aplikasi yang ada
dalam opsi, dan
 Menggunakan akuisisi serta disposisi aktiva dan wakt
melaporkannya.
3.2.Saran
Pendekatan positif merupakan salah satu dari dua pendekatan/teori
akuntansi yang masih mendominasi saat ini selain pendekatan normatif.
Pendekatan positif biasanya terkenal teori agensi, praktek terlebih dahulu
baru kemudian teori, dan untuk permasalahan-permasalahan baru yang
didapat dalam praktek biasanya atau untuk tahu akar permasalahannya
dengan cara berdiakusi, dialog, presentasi, mengajukan pertanyaan, dan
sebagainya. Sedangkan perataan dan manajemen laba merupakan kegiatan
atau keputusan yang dibuat oleh manajemen dalam hal memperoleh laba
dalam suatu perusahaan.
Penulis menyadari bahwa penulisan dalam makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam
menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih
20

banyak yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan. Penulis harapkan


makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam hal bidang keilmuan,
penelitian, dan referensi.
DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui, Ahmed Riahi. 2006. Teori Akuntansi, Edisi 5 Buku 2, terj.Ali Akbar
Yulianto dan Risnawati Dermauli. Jakarta: Salemba Empat. Komite Nasional

Permanasari, Elisabet Dian. 2009. Pendekatan positif, Perataan Laba, dan


Manajemen Laba. (http://leezhacheezy.blogspot.com/2009/05/pendekatan-
postif-perataan-laba-dan.html). Diakses pada 1 Oktober 2018

Puspitasari, Citra. 2012. Pendekatan positif, Perataan Laba, dan Manajemen


Laba. (http :// cit ramin c yz a.bl o gsp o t.com/2 012/0 4/teo ri -
akuntansipendekatan-positif.html). Diakses pada 1 Oktober 2018

Suwardjono. 2010. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Edisi


Ketiga, Cetakan Keempat. Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA.

iv

Anda mungkin juga menyukai