Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS BLOK ELEKTIF

TATALAKSANA KEJANG DEMAM AKUT PADA PASIEN


ANAK DI IGD RSUD PASAR REBO

Disusun Oleh :
Fahira Adipramesti
(1102015068)

Bidang Kepeminatan Kegawatdaruratan Kelompok 1

Dosen Pembimbing :
dr. Yenni Zulhalmidah, MSc.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2018
ABSTRAK
Pendahuluan: Hampir 5% anak umut di bawah 16 tahun minimal pernah
mengalami satu kali kejang dalam hidupnya. Kejang yang berlangsung disebut
status epileptikus yang merupakan kegawatan mengancam jiwa dengan risiko
terjadinya gejala sisa neurologis. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk
mengetahui tatalaksana kejang demam akut pada pasien anak di IGD RSUD Pasar
Rebo.
Deskripsi kasus: Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun datang ke IGD RSUD
Pasar Rebo dengan keluhan kejang sejak empat jam yang lalu. GCS E2V1M1.
Tatalaksana awal diberikan Diazepam per rektal dan memperbaiki keadaan umum
lalu pasien dirawat di PICU.
Diskusi: Tatalaksana awal untuk kejang akut adalah menangani Airway, Breathing,
Circulation pasien dan diberikan antikonvulsan sesuai keadaan pasien.
Kesimpulan: Tatalaksana kejang demam akut pada pasien anak di IGD RSUD
Pasar Rebo sesuai teori yang tampaknya lebih umum digunakan di Indonesia.

Kata Kunci: Kejang demam, Kejang akut, Anak, Tatalaksana

2
PENDAHULUAN

Kejang merupakan kedaruratan neurologis yang sering dijumpai sehari-hari,


hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun minimal pernah mengalami satu kali
kejang dalam hidupnya. Sebanyak 21% mengalaminya pada satu tahun pertama
kehidupan, sedangkan 64% dalam lima tahun pertama (Setyabudhy dan
Mangunatmaja, 2011). Kejang yang berlangsung lama (lebih dari lima menit),
terus-menerus atau berulang tanpa kembalinya kesadaran disebut status epileptikus
(Sasidaran et al., 2012). Keadaan ini merupakan kegawatan yang mengancam jiwa
dengan risiko terjadinya gejala sisa neurologis seperti kematian saraf, cedera saraf,
dan perubahan jaringan saraf (Au et al., 2017 ). Penanganan pasien dilakukan untuk
menghentikan kejang dan mencegah terjadinya komplikasi sistemik yang akan
timbul (Setyabudhy dan Mangunatmaja, 2011).

Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mengetahui tatalaksana kejang demam
akut pada pasien anak di IGD RSUD Pasar Rebo.

DESKRIPSI KASUS

Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun datang ke IGD RSUD Pasar Rebo pada jam
09:34 diantar oleh neneknya dengan keluhan kejang sejak empat jam yang lalu.
Keluhan diawali dengan mata mendelik ke atas lalu seluruh badan kaku sejak satu
jam sebelum masuk rumah sakit. Keadaan umum buruk, GCS E2V1M1, berat
badan 14 Kg, tinggi badan 83 cm, tekanan darah 120/70 mmHg, frekuensi
pernapasan 32 kali/menit, frekuensi nadi 180 kali/menit, suhu 38 oC, dan saturasi
oksigen 84%. Pasien didiagnosis dengan kejang demam.

Saat datang pasien langsung diletakan di atas bed dan diberikan diazepam per rektal
10 mg. tenaga medis memasang Oropharyngeal Airway (OPA) lalu melakukan
suction, memberikan oksigen 2 liter per menit, dan memasang infus KA-EN 1B
melalui metode vena seksi. Secara bersamaan dilakukan pengambilan sampel darah

3
untuk pemeriksaan darah lengkap, KDL, analisa gas darah dan gula darah sewaktu.
Lalu kepala pasien diletakan diatas kain dan dipasang dower cateter. Pada pukul
10:10 pasien mengalami kejang kembali dan diberikan Fenitoin IV 150 mg habis
dalam 15 menit. Pada akhirnya pasien dirawat di PICU.

DISKUSI

Menurut Fetveit (2008), kejang demam (FS) adalah kejang yang dihubungkan
dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intracranial. Kejang demam
dibedakan menjadi kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang
demam sederhana didefinisikan sebagai kejang tonik-klonik berdurasi pendek (<15
menit) yang biasanya tidak berulang dalam 24 jam setelahnya dan umumnya
berhenti sendiri sedangkan kejang demam kompleks setidaknya memiliki satu dari
ciri-ciri di bawah ini:
1. Kejang fokal atau di awali fokal, atau kejang yang diikuti defisit neurologis.
2. Kejang lama (>15 menit).
3. Kejang berulang dengan demam yang sama dalam waktu 24 jam.
4. Kerusakan neurologi sebelumnya, seperti cerebral palsy atau keterlambatan
perkembangan.
Kejang yang berlangsung lebih dari 30 menit atau kejang berulang tanpa pulihnya
kesadaran di antara kejang disebut status epileptikus. Status epileptikus dibagi
menjadi status epileptikus konvulsif yang merupakan kegawatan yang mengancam
jiwa dan status epileptikus non-konvulsif (Setyabudhy dan Mangunatmaja, 2011).

Paroxysmal depolarization shift, potensial pascasinaps yang berlansung berlebihan,


merangsang lepas muatan listrik yang berlebihan pada neuron otak dan merangsang
sel neuron lain untuk melepaskan muatan listrik secara bersama-sama sehingga
timbul hipereksitabilitas neuron otak dan menyebabkan kejang. Paroxysmal
depolarization shift disebabkan karena adanya perlepasan muatan listrik yang
berlebihan, kurangnya inhibisi neurotrannsmiter asam gama amino butrirat

4
(GABA), atau meningkatnya eksitasi sinaptik oleh neurotransmiter glutamat da
aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang (Setyabudhy dan Mangunatmaja,
2011).

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dalam membantu menegakan


diagnosis kejang demam dalah pemeriksaan laboratorium, pungsi lumbal,
elektroensefalografi, dan pemeriksaan radiologi (IDAI, 2006).

Menurut IDAI (2006), apabila pasien datang dalam keadaan kejang, obat yang
paling cepat menghentian kejang adalah diazepam intravena. Dosis yang dapat
diberikan adalah 0,3-0,5/kg perlahan-laham dengan kecepatan 1-2mg/menit atau
dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg. Bila kejang tetap belum
berhenti, fenitoin dapat diberikan secara intravena dengan dosis awal 10-20
mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila
dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat
intensif.

Menurut Fetveit (2008), FS sederhana tidak memerlukan intervensi farmakologis


karena biasanya kejang sudah berhenti saat pasien datang. Penatalaksanaan bagi FS
yang memanjang (>10 menit) adalah diazepam per rektal dengan dosis 2.5 mg
untuk anak usia 6-12 bulan, 5 mg bagi anak usia 1-4 tahun, dan 7.5 mg bagi usia 5-
9 tahun.

Deliana (2002) menyatakan bahwa pengobatan pada fase akut FS adalah menjaga
agar jalan napas tetap terbuka. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen harus
dilakukan teratur, kalau perlu dilakukan intubasi. Keadaan dan kebutuhan cairan,
kalori, dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh dapat diturunkan dengan
kempres air hangat dan pemberian antipiretik. Diazepam dianggap obat pilihan
utama untuk fase akut karena mempunyai masa kerja yang singkat. Pemberiaan bisa
dilakukan secara intravena atau rektal. Pemberian diazepam per rektal dengan dosis

5
5 mg untuk berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg pada berat badan lebih dari
10 kg dapat diberikan jika jalur intravena belum terpasang.

Tahun 2012 Sasidaran et al. menyatakan bahwa semua pasien kejang anak yang
dibawa ke unit gawat darurat harus diperlakukan sebagai keadaan status
epileptikus. Penanganan yang harus diberikan adalah menangani fungsi vital seperti
airway, breathing, dan circulation untuk memastikan otak mendapatkan oksigen
yang adekuat. Untuk menghentikan kejang dapat diberikan lorazepam atau
diazepam intravena. Namun, bila jalur intravena belum tersedia dapat diberikan
diazepam per rektal atau midrazolam intramuskular. Jika tidak ada respon terhadap
penggunaan lorazepam/diazepam, ulangi dan berikan fenitoin dengan dosis 20
mg/kg selama 20 menit.

Gambar 1.1 Algoritma penanganan kejang akut dan status konvulisif (Setyabudhy dan
Mangunatmaja, I, 2011)

6
Diazepam adalah obat golongan benzodiazepin yang meningkatkan kerja GABA
pada sistem saraf pusat. Diazepam bekerja pada semua sinaps GABAA. Karena itu
diazepam dapat digunakan pada spasme otot yang berasal dari mana saja. Tetapi,
obat ini menyebabkan sedasi pada dosis yang diperlukan untuk mengurangi tonus
otot (Utama dan Instiaty, 2016).

Fenitoin merupakan obat antikonvulsan golongan hidantoin yang diindikasikan


terutama untuk bangkitan tonik-klonik dan bangkitan parsial atau fokal. Sifat
antikonvulsi fenitoin didasarkan pada penghambatan penjalaran rangsang dari
fokus ke bagian lain di otak. Fenitoin memengaruhi berbagai sistem fisiologis,
khususnya: konduktasi Na+, K+, dan Ca2+pada neuron; potensial membran; dan
neurotransmitor epinefrin, asetilkolin, serta GABA (Utama dan Instiaty, 2016).

KA-EN 1B digunakan untuk mengganti cairan dan elektroit pada kondisi seperti
dehidrasi pada yang kekurangan karbohidrat, penyakit yang belum diketahui
penyebabnya, dan sebelum dan setelah operasi. Larutan ini terdiri dari Na 28,5
mEq, Cl 38,5 mEq, dan glukosa 37,5 gram. Dosis anak yang berusia lebih dari 3
tahun atau berat badan lebh dari 15 kg adalah 50-100 mL/jam (MIMS, n.d.).

Tatalaksana yang dilakukan di RSUD Pasar Rebo sejalan dengan teori yang
dinyatakan Sasidaran et al. (2012) yaitu menangani airway, breathing, dan
circulation dan mengehentikan kejang dengan pemberian diazepam per rektal.
Tenaga medis mengatasi Airway dengan memasang Oropharyngeal Airway (OPA)
lalu melakukan suction secara berulang sesuai teori yang dinyatakan Deliana
(2002), Breathing dengan memberikan oksigen 2 liter per menit, dan Circulation
dengan memasang infus KA-EN 1B melalui metode venaseksi. Pemberian
diazepam per rektal dilakukan karena akses intravena belum tersedia. Dosis 10 mg
yang diberikan sesuai dengan teori Deliana (2002) karena berat badan pasien 14kg
namun tidak sejalan dengan teori yang dinyatakan Fetveit (2008). Hal ini terjadi
mungkin karena tenaga medis tidak memandang usia pasien melainkan berat
badannya dalam menentukan dosis. Setelah pemberian diazepam dua kali (per

7
rektal dan intravena) ternyata kejang kembali timbul dan diberikan fenitoin
intravena dan pasien dipindahkan dari unit gawat darurat ke ruang rawat intesif
(PICU). Hal ini sesuai dengan panduan yang diberikan IDAI (2006) dan Setyabudhy
dan Mangunatmaja (2011).

PANDANGAN ISLAM TERHADAP PENGOBATAN DAN KEJANG

Pengobatan adalah suatu kebudayaan untuk menyelamatkan diri dari penyakit yang
menggangu hidup manusia.

Rasulullah pernah bersabda di antaranya:

ََ َ‫ل َوالد ََّوا ََء الدَّا ََء أ َ ْنز‬


‫ل تعالى هللا إن‬ َِ ‫بالحرام تداووا وال فتداووا دَ َواءَ دَاءَ ِل ُك‬
ََ ‫ل َو َج َع‬
Artinya:َ“SesungguhnyaَAllahَmenurunkanَpenyakitَdanَobatnyaَdanَmenjadikanَ
bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan kalian
berobatَdenganَyangَharam.”َ(HR.َAbuَDawudَdariَAbuَDarda)

ََّ ‫ل لَ َْم‬
َّ َ‫ّللا‬
َ‫إن‬ َْ ‫إال دَاءَ يُ ْن ِز‬ ََ َ‫ِشفَاءَ لَ َهُ أ َ ْنز‬
َ َّ ‫ل‬
Artinya:َ“SesungguhnyaَAllahَtidakَmenurunkanَsatuَpenyakitَkecualiَ
diturunkanَpulaَbaginyaَobat.”َ(HR Imam Bukhari)

Kedua hadis tersebut menyatakan bahwa segala penyakit pasti ada obatnya dan
manusia dianjurkan untuk berobat. Prinsip pengobatan menurut islam adalah:
1. Tidak berobat dengan zat yang haram
2. Berobat kepada ahlinya
3. Tidak menggunakan mantra (Sihir)

Wanita berkulit hitam pernah menemui Nabi saw sambil berkata;


‫ع إَِنِي‬ ْ ُ ‫ف َوإِنِي أ‬
َُ ‫ص َر‬ َّ ‫ع أَت َ َك‬
َُ ‫ش‬ َُ ‫ّللاَ فَا ْد‬
ََّ ‫ِلي‬
“Sesungguhnya aku menderita epilepsi (penyakit ayan) dan auratku sering
tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah
untukku.” Beliau saw bersabda:

8
َِ ْ‫ت ِشئ‬
َ‫ت ِإ ْن‬ َِ ‫صبَ ْر‬ َِ َ‫ن ْال َجنَّ َةُ َول‬
َ ‫ك‬ َِ ْ‫ع ْوتَُ ِشئ‬
َْ ‫ت َو ِإ‬ ََّ ‫ن‬
َ َ‫ّللاَ د‬ َْ َ ‫ك أ‬
َِ َ‫يُ َعافِي‬
“Jika kamu mau, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu mau, maka aku
akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Wanita tadi
berkata; “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi;
‫ف ِإ ِني‬ َّ ‫ع أَت َ َك‬
َُ ‫ش‬ َُ ‫ّللاَ فَا ْد‬ َْ َ ‫ال أ‬
ََّ ‫ن ِلي‬ ََ ‫ف‬ َّ ‫أَت َ َك‬
ََ ‫ش‬
“Sesungguhnya aku terbuka (aurat ketika kumat), maka berdoalah kepada Allah
agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka beliau mendoakanَuntuknya.”َ(HRَal-
Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan dari hadis ini, anjuran Rasullulah terhadap orang yang sedang kambuh
epilepsinya (kejang akut) adalah berdoa dan berusaha agar auratnya tidak terlihat
dan untuk terus bersabar dalam menghadapi penyakit yang dimilikinya.

KESIMPULAN

Tatalaksana kejang demam akut pada pasien anak di IGD RSUD Pasar Rebo sesuai
teori yang tampaknya lebih umum digunakan di Indonesia.

9
UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih atas bimbingannya dalam pembuatan laporan kasus ini,
kepada :
1. Allah SWT, atas ridho-Nya penyusunan laporan kasus ini dapat terlaksana
2. Rasulullah SAW, karenanya saya dapat mengetahui tentang Islam
3. DR. drh. Hj. Titiek Djannatum selaku Koordinator Penyusun Blok Elektif
4. dr. Hj. RW. Susilowati, M.Kes selaku Koordinator Pelaksana Blok Elektif
5. dr. H. Kamal Anas, SpB selaku Pengampu Kegawatdaruratan
6. dr. Yenni Zulhalmidah, MSc. selaku Tutor Kelompok 1 Kegawatdaruratan
7. Dokter Faiz dan seluruh pihak RSUD Pasar Rebo
8. Seluruh anggota kelompok 1 Kegawatdaruratan
9. Seluruh teman sejawat Universitas YARSI
10. Dan ucapan terima kasih kepada Universitas YARSI

10
DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan hadis. Departemen Agama Republik Indonesia. Pustaka Agung


Harapan 2006.
Au, C., Branco, R., Tasker, R. 2017. Management protocols for status epilepticus
in the pediatric emergency room: systemic review article. Jornal de
Pediatria, 93:84 – 94.
Deliana, M. 2002. Tata Laksana Kejang Demam pada Anak, Sari Pediatri. 4(2):59
– 62.
Fetveit, A. 2008. Assessment of Febrile Seizures in Children. Eur J Pediatr. 167:17
– 27.
Sasidaran, K., Singhi, S., Singhi, P. 2012. Managemet of Acute Seizure and Status
Epilepticus in Pediatric Emergency. Indian J Pediatr. 79(4):510 – 517.
Setyabudhy, Mangunatmaja, I. 2011. Kejang. Dalam Buku Ajar Pediatri Gawat
Darurat, Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. hal 29 –
35.
Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2006.
Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam, Jakarta: Badan Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia. hal. 3 – 5.
Utama, H., Instiaty. 2016. Antiepilepsi dan Antikonvulsi. Dalam Farmakologi dan
Terapi. Jakarta: Badan penerbit FKUI. hal.182 – 199.
MIMS. n.d. KA-EN 1B .Dilihat pada 18 November 2018.
https://www.mims.com/indonesia/drug/info/kaen%201b/?type=full#Descri
ption

11
LAMPIRAN
Lampiran 1

12
Lampiran 2

13