Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

TRAUMA KIMIA PADA MATA

Disusun Oleh :
Paramitha Fajarcahyaningsih
1102013223

Pembimbing :
dr. Laila Wahyuni, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK MATA Dr. SLAMET GARUT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan referat yang berjudul Trauma Kimia pada Mata.
Referat ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat dalam mengikuti dan
menyelesaikan kepaniteraan klinik SMF Mata di RSUD Dr.Slamet Garut. Dalam
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

1. dr. Laila Wahyuni, Sp.M selaku dokter pembimbing.

2. Para Perawat dan Pegawai di Bagian SMF MATA RSUD Dr.Slamet Garut.

Segala daya upaya telah di optimalkan untuk menghasilkan referat yang baik dan
bermanfaat, dan terbatas sepenuhnya pada kemampuan dan wawasan berpikir penulis.
Pada akhirnya penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk
itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca agar dapat menghasilkan
tulisan yang lebih baik di kemudian hari.

Akhir kata penulis mengharapkan referat ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca, khususnya bagi para dokter muda yang memerlukan panduan dalam
menjalani aplikasi ilmu.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Garut, Oktober 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan


perlukaan pada mata. Trauma kimia pada mata merupakan salah satu keadaan
kedaruratan oftalmologi karena dapat menyebabkan cedera pada mata, baik ringan,
berat bahkan sampai kehilangan penglihatan. Trauma kimia pada mata merupakan
trauma yang mengenai bola mata akibat terpaparnya bahan kimia baik yang bersifat
asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata tersebut. Trauma kimia
diakibatkan oleh zat asam dengan pH <7 ataupun zat basa pH >7 yang dapat
menyebabkan kerusakan struktur bola mata. Tingkat keparahan trauma dikaitkan
dengan jenis, volume, konsentrasi, durasi pajanan, dan derajat penetrasi dari zat kimia
tersebut. Mekanisme cedera antara asam dan basa sedikit berbeda. Trauma bahan kimia
dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi dalam laboratorium, industri, pekerjaan yang
memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian dan peperangan memakai bahan kimia,
serta paparan bahan kimia dari alat-alat rumah tangga. Setiap trauma kimia pada mata
memerlukan tindakan segera. Irigasi daerah yang terkena trauma kimia merupakan
tindakan yang harus segera dilakukan.1
Berdasarkan data CDC tahun 2000, sekitar 1 juta orang di Amerika Serikat
mengalami gangguan penglihatan akibat trauma. 75% dari kelompok tersebut buta
pada satu mata, dan sekitar 50.000 orang menderita cedera serius yang mengancam
penglihatan setiap tahunnya. Setiap hari lebih dari 2000 pekerja di Amerika Serikat
menerima pengobatan medis karena trauma mata pada saat bekerja. Lebih dari 800.000
kasus trauma mata yang berhubungan dengan pekerjaan terjadi setiap tahunnya.
Dibandingkan dengan wanita, laki-laki memiliki rasio terkena trauma mata 4 kali lebih
besar. Dari data WHO tahun 1998, trauma okular berakibat kebutaan unilateral
sebanyak 19 juta orang, 2,3 juta orang mengalami penurunan visus bilateral, dan 1,6
juta orang mengalami kebutaan bilateral akibat trauma mata. Sebagian besar (84%)
merupakan trauma kimia. Rasio frekuensi trauma kimia asam berbanding basa
bervariasi, yaitu berkisar antara 1:1 sampai 1:4. Secara international, 80% dari trauma
kimia dikarenakan oleh pajanan karena pekerjaan. Menurut United States Eye Injury
Registry (USEIR), frekuensi kasus trauma kimia di Amerika Serikat mencapai 16 %
dan meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak pada laki-
laki (93 %) dengan umur rata-rata 31 tahun.2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan Fisiologi Mata

Gambar 1. Anatomi mata1


Mata merupakan alat indra yang terdapat pada manusia. Secara konstan mata
menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek
yang dekat dan jauh, serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan
segera dihantarkan ke otak.1
Mata terdiri dari bermacam-macam struktur sekaligus dengan fungsinya
masing-masing. Struktur dari mata meliputi sklera, konjungtiva, kornea, pupil,
iris, lensa, retina, saraf optikus, humor aqueus, serta humor vitreus yang masing-
masingnya memiliki fungsi atau kerjanya sendiri (Gambar 1).1
Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan yaitu:
1. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan dan memberikan bentuk pada
mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan
sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk
ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar dibanding sklera.1
2. Uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan uvea dan sklera dibatasi oleh
ruang yang potensial dimasuki darah apabila terjadi trauma yang disebut
perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea terdiri atas iris, corpus siliar dan koroid.
Corpus siliar yang terletak dibelakang iris menghasilkan humor aqueous.1
3. Retina merupakan lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semi
transparan yang terletak paling dalam dan berbatas dengan koroid. Retina
terdiri atas 10 lapisan (dari dalam keluar): (1) membran limitans interna; (2)
lapisan serat saraf yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan
menuju N II; (3) lapisan sel ganglion; (4) lapisan pleksiform dalam yang
mengandung sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar; (5)
lapisan nukleus dalam badan-badan sel bipolar, amakrin dan horizontal; (6)
lapisan pleksiform luar yang mengandung sambungan sel bipolar dan sel
horisontal dengan fotoreseptor; (7) lapisan nukleus luar sel fotoreseptor; (8)
membran limitans eksterna; (9) lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar
batang dan kerucut; (10) epitel pigmen retina.1
Sel batang merupakan sel yang sangat peka terhadap cahaya dengan intensitas
rendah. Sel batang berperan dalam proses penglihatan di malam hari atau
tempat-tempat gelap untuk menghasilkan ketajaman pengelihatan yang rendah.
Sayangnya, sel batang tidak mampu mendeteksi warna. Sel ini tersebar di
seluruh retina, kecuali di fovea. Di dalam sel batang terdapat pigmen
fotosensitif rodopsin (warna merah muda atau ungu). Rodopsin hanya 1 jenis,
sehingga hanya ada 1 jenis sel batang. Jika rodopsin terpapar atau menyerap
cahaya, rodopsin akan terurai menjadi opsin dan retinal. Sebaliknya, jika tidak
ada cahaya atau gelap, rodopsin akan terbentuk kembali.
Kornea atau dalam bahasa latin disebut cornum yang berarti seperti tanduk
adalah jaringan transparan pada mata yang tembus cahaya. Transparansi kornea
disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitas dan deturgensinya. Dari
anterior ke posterior, kornea terdiri atas 5 lapisan: lapisan epitel (berbatasan
langsung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran
Descement dan lapisan endotel. Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh darah
limbus, humor aqueous dan air mata.1
Mata mempunyai otot, saraf, serta pembuluh darah. Beberapa otot bekerja
sama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf kranial tertentu.
Tulang orbita yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf lainnya,3
yaitu:
 Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke
otak,
 Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata, dan
 Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan
merangsang otot pada tulang orbita.
Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan
mata kanan, sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena
retinalis. Pembuluh darah ini masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.1

2.2. Definisi Trauma Kimia pada Mata


Trauma kimia pada mata merupakan salah satu keadaan kedaruratan
oftalmologi karena dapat menyebabkan cedera pada mata, baik ringan, berat
bahkan sampai kehilangan penglihatan. Trauma kimia pada mata merupakan
trauma yang mengenai bola mata akibat terpaparnya bahan kimia baik yang
bersifat asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata tersebut.1
Trauma kimia diakibatkan oleh zat asam dengan pH < 7 ataupun zat basa
pH > 7 yang dapat menyebabkan kerusakan struktur bola mata. Tingkat keparahan
trauma dikaitkan dengan jenis, volume, konsentrasi, durasi pajanan, dan derajat
penetrasi dari zat kimia tersebut. Mekanisme cedera antara asam dan basa sedikit
berbeda.1
Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi dalam
laboratorium, industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian,
dan peperangan memakai bahan kimia serta paparan bahan kimia dari alat-alat
rumah tangga. Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan segera. Irigasi
daerah yang terkena trauma kimia merupakan tindakan yang harus segera
dilakukan.2

2.3. Epidemiologi Trauma Kimia pada Mata


Berdasarkan data dari Center of Disease Contol and Prevention (CDC)
tahun 2000, sekitar 1 juta orang di Amerika Serikat mengalami gangguan
pengelihatan akibat trauma mata. 75% dari kelompok tersebut buta pada satu mata,
dan sekitar 50.000 orang menderita cedera serius yang mengancam pengelihatan
setiap tahunnya. Setiap hari lebih dari 2000 pekerja di Amerika Serikat menerima
pengobatan medis akibat trauma mata pada saat bekerja. Lebih dari 800.000 kasus
trauma mata yang berhubungan dengan pekerjaan terjadi setiap tahunnya.2,3
Dibandingkan dengan wanita, laki-laki memiliki rasio terkena trauma mata
4 kali lebih besar. Dari data World Health Organization (WHO) tahun 1998,
trauma okular berakibat kebutaan unilateral terjadi pada 19 juta orang, 2,3 juta
orang mengalami penurunan visus bilateral, dan 1,6 juta orang mengalami
kebutaan bilateral akibat trauma mata. Sebagian besar kasus (84%) merupakan
trauma kimia. Rasio frekuensi trauma kimia asam berbanding basa bervariasi,
yaitu berkisar antara 1:1 sampai 1:4. Secara international, 80% dari trauma kimia
dikarenakan oleh pajanan karena pekerjaan. Menurut United States Eye Injury
Registry (USEIR), frekuensi kasus trauma kimia di Amerika Serikat mencapai 16
% dan meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak
pada laki-laki (93 %) dengan umur rata-rata 31 tahun.2,3
2.3. Etiologi Trauma Kimia pada Mata
Trauma kimia biasanya disebabkan bahan-bahan yang tersemprot atau
terpercik pada wajah. Trauma pada mata yang disebabkan oleh bahan kimia
disebabkan oleh 2 macam bahan yaitu bahan kimia yang bersifat asam dan bahan
kimia yang bersifat basa. Bahan kimia dikatakan bersifat asam bila mempunyai pH
< 7 dan dikatakan bersifat basa bila mempunyai pH > 7.4

Trauma Asam
Asam dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion dalam
kornea. Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH,
sementara anion merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan
koagulasi. Koagulasi protein umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari
zat asam, dan menyebabkan tampilan ground glass dari stroma korneal yang
mengikuti trauma akibat asam. Sehingga trauma pada mata yang disebabkan oleh
zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh zat
kimia basa.2
Asam hidroflorida adalah satu pengecualian. Asam lemah ini secara cepat
melewati membran sel, seperti alkali. Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel, dan
memungkinkan menghambat enzim glikolitik dan bergabung dengan kalsium dan
magnesium membentuk insoluble complexes. Nyeri local yang ekstrim bisa terjadi
sebagai hasil dari immobilisasi ion kalsium, yang berujung pada stimulasi saraf
dengan pemindahan ion potassium. Fluorinosis akut bisa terjadi ketika ion fluoride
memasuki sistem sirkulasi, dan memberikan gambaran gejala pada jantung,
pernafasan, gastrointestinal, dan neurologik.2
Bahan kimia asam yang mengenai jaringan akan mengadakan denaturasi dan
presipitasi dengan jaringan protein disekitarnya, karena adanya daya buffer dari
jaringan terhadap bahan asam serta adanya presipitasi protein maka kerusakannya
cenderung terlokalisir. Bahan asam yang mengenai kornea juga mengadakan
presipitasi sehingga terjadi koagulasi, kadang-kadang seluruh epitel kornea
terlepas. Bahan asam tidak menyebabkan hilangnya bahan proteoglikan di kornea.
Bila trauma diakibatkan asam keras maka reaksinya mirip dengan trauma basa.5
Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi koagulasi protein
epitel kornea yang mengakibatkan kekeruhan pada kornea, sehingga bila
konsentrasi tidak tinggi maka tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali.
Biasanya kerusakan hanya pada bagian superfisial saja. Koagulasi protein ini
terbatas pada daerah kontak bahan asam dengan jaringan. Koagulasi protein ini
dapat mengenai jaringan yang lebih dalam.6

Gambar 2 Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Asam6

Bahan kimia bersifat asam : asam sulfat, air accu, asam sulfit, asam
hidrklorida, zat pemutih, asam asetat, asam nitrat, asam kromat, asam hidroflorida.
Akibat ledakan baterai mobil, yang menyebabkan luka bakar asam sulfat, mungkin
merupakan penyebab tersering dari luka bakar kimia pada mata. Asam
Hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat, pengkilap
aluminum, dan cairan pembersih yang kuat.4,7

Trauma Basa
Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan
basa memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat
untuk penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina.
Trauma basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar.
Namun, apabila dilihat pada bagian dalam mata, trauma basa ini mengakibatkan
suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, kamera okuli anterior
sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa
akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat
koagulasi sel dan terjadi proses safonifikasi, disertai dengan dehidrasi.2

Gambar 3 Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Basa/Alkali9

Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan.
Pada pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan safonifikasi disertai dengan
disosiasi asam lemak membrane sel. Akibat safonifikasi membran sel akan
mempermudah penetrasi lebih lanjut zat alkali. Mukopolisakarida jaringan oleh
basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea atau keratosis. Serat
kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat edema kornea
akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan sel
ini cenderung disertai dengan pembentukan pembuluh darah baru atau
neovaskularisasi. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan
sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru terbentuk akan berhubungan
langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen aktivator. Bersamaan
dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas juga kolagenase yang akan
merusak kolagen kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan penyembuhan epitel
yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat terjadi perforasi kornea.
Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya terdapat pada
hari ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah
trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap
atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke
dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan
mata susunannya akan berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang
berkurang. Kedua unsur ini memegang peranan penting dalam pembentukan
jaringan kornea.2
Bahan kimia bersifat basa: NaOH, CaOH, amoniak, Freon/bahan pendingin
lemari es, sabun, shampo, kapur gamping, semen, tiner, lem, cairan pembersih
dalam rumah tangga, soda kuat.4,7

2.4. Patofisiologi Trauma Kimia pada Mata


Proses perjalanan penyakit pada trauma kimia ditandai oleh 2 fase, yaitu
fase kerusakan yang timbul setelah terpapar bahan kimia serta fase penyembuhan:8
1. Kerusakan yang terjadi pada trauma kimia yang berat dapat diikuti oleh hal-
hal sebagai berikut:
 Terjadi nekrosis pada epitel kornea dan konjungtiva disertai gangguan
dan oklusi pembuluh darah pada limbus.
 Hilangnya stem cell limbus dapat berdampak pada vaskularisasi dan
konjungtivalisasi permukaan kornea atau menyebabkan kerusakan
persisten pada epitel kornea dengan perforasi dan ulkus kornea bersih.
 Penetrasi yang dalam dari suatu zat kimia dapat menyebabkan
kerusakan dan presipitasi glikosaminoglikan dan opasifikasi kornea.
 Penetrasi zat kimia sampai ke kamera okuli anterior dapat menyebabkan
kerusakan iris dan lensa
 Kerusakan epitel siliar dapat mengganggu sekresi askorbat yang
dibutuhkan untuk memproduksi kolagen dan memperbaiki kornea.
 Hipotoni dan phthisis bulbi sangat mungkin terjadi.
2. Penyembuhan epitel kornea dan stroma diikuti oleh proses-proses berikut:
 Terjadi penyembuhan jaringan epitelium berupa migrasi atau
pergeseran dari sel-sel epitelial yang berasal dari stem cell limbus
 Kerusakan kolagen stroma akan difagositosis oleh keratosit terjadi
sintesis kolagen yang baru.8

2.5. Klasifikasi Trauma Kimia pada Mata


Trauma kimia pada mata dapat diklasifikasikan sesuai dengan derajat
keparahan yang ditimbulkan akibat bahan kimia penyebab trauma. Klasifikasi ini
juga bertujuan untuk penatalaksaan yang sesuai dengan kerusakan yang muncul
serta indikasi penentuan prognosis. Klasifikasi ditetapkan berdasarkan tingkat
kejernihan kornea dan keparahan iskemik limbus. Selain itu klasifikasi ini juga
untuk menilai patensi dari pembuluh darah limbus (superfisial dan profunda).8
1. Derajat 1: kornea jernih dan tidak ada iskemik limbus (prognosis sangat
baik)
2. Derajat 2: kornea berkabut dengan gambaran iris yang masih terlihat dan
terdapat kurang dari 1/3 iskemik limbus (prognosis baik)
3. Derajat 3: epitel kornea hilang total, stroma berkabut dengan gambaran iris
tidak jelas dan sudah terdapat ½ iskemik limbus (prognosis kurang)
4. Derajat 4: kornea opak dan sudah terdapat iskemik lebih dari ½ limbus
(prognosis sangat buruk)11
Kriteria lain yang perlu dinilai adalah seberapa luas hilangnya epitel pada
kornea dan konjungtiva, perubahan iris, keberadaan lensa dan tekanan intra okular.
Gambar 4 Klasifikasi Trauma Kimia, (a) derajat 1, (b) derajat 2, (c) derajat 3, (d) derajat 4 8

2.6. Diagnosis Trauma Kimia pada Mata


Diagnosis pada trauma mata dapat ditegakkan melalui gejala klinis,
anamnesis dan pemeriksaan fisik dan penunjang. Namun hal ini tidaklah mutlak
dilakukan dikarenakan trauma kimia pada mata merupakan kasus gawat darurat
sehingga hanya diperlukan anamnesa singkat.1
Gejala Klinis
Terdapat gejala klinis utama yang muncul pada trauma kimia, yaitu
epifora, blefarospasme, dan nyeri berat. Trauma akibat bahan yang bersifat
asam biasanya dapat segera terjadi penurunan penglihatan akibat nekrosis
superfisial kornea. Sedangkan pada trauma basa, kehilangan penglihatan
sering bermanifestasi beberapa hari sesudah kejadian. Namun sebenarnya
kerusakan yang terjadi pada trauma basa lebih berat dibanding trauma
asam.1

Anamnesis
Pada anamnesis, sering sekali pasien menceritakan telah tersiram
cairan atau tersemprot gas pada mata atau partikel-partikelnya masuk ke
dalam mata. Perlu diketahui apa persisnya zat kimia dan bagaimana
terjadinya trauma tersebut (misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan
dengan kecepatan tinggi) serta kapan terjadinya trauma tersebut.1
Perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau
saat cedera terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara
progresif atau terjadi secara tiba-tiba. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan
kabur merupakan gambaran umum trauma. Harus pula dicurigai adanya
benda asing intraokular apabila terdapat riwayat trauma akibat ledakan.1

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang
terkena zat kimia sudah terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata
sudah netral. Obat anestesi topikal atau lokal sangat membantu agar pasien
tenang, lebih nyaman, dan kooperatif sebelum dilakukan pemeriksaan.
Setelah dilakukan irigasi, pemeriksaan dilakukan dengan perhatian khusus
untuk memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea, derajat iskemik limbus,
tekanan intra okular, konjungtivalisasi pada kornea, neovaskularisasi,
peradangan kronik, dan defek epitel yang menetap dan berulang.1
Hasil pemeriksaan fisik yang sering muncul adalah:
a) Defek epitel kornea
Kerusakan epitel kornea dapat bervariasi mulai keratitis epitel
punctata yang ringan sampai defek kornea yang menyeluruh.
Apabila dicurigai ada defek epitel namun tidak ditemukan pada
pemeriksaan awal, mata tersebut harus di periksa ulang setelah
beberapa menit.
b) Stroma yang kabur
Kekaburan stroma bervariasi, mulai dari ringan sampai opasifikasi
menyeluruh sehingga tidak bisa melihat kamera okuli anterior
(KOA).
c) Perforasi kornea
Perforasi kornea lebih sering dijumpai beberapa hari sampai
minggu setelah trauma kimia yang berat.
d) Reaksi inflamasi KOA
Tampak gambaran flare dan sel di KOA. Reaksi inflamasi KOA
lebih sering terjadi pada trauma alkali / basa.
e) Peningkatan TIO
Terjadi peningkatan TIO tergantung kepada tingkat inflamasi
pada segmen anterior dan deformitas jaringan kolagen kornea. Kedua
hal tersebut menyebabkan penurunan outflow uveoscleral dan
peningkatan TIO.
f) Kerusakan kelopak mata
Jika kerusakan kelopak mata menyebabkan mata tidak bisa ditutup
maka akan mudah iritasi.
g) Inflamasi konjungtiva
Dapat terjadi hiperemi konjungtiva.
h) Penurunan ketajaman penglihatan
Terjadi karena defek epitel atau kekeruhan kornea, meningkatnya
lakrimasi atau ketidaknyamanan pasien.
Gambar 5. Trauma kimia karena jeruk lemon. Vaskularisasi kornea terlihat jelas, dan mata menjadi
kering akibat kehilangan sebagian besar sel goblet.1

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dalam kasus trauma kimia mata adalah
pemeriksaan pH bola mata secara berkala dengan kertas lakmus. Irigasi
pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH normal. Pemeriksaan bagian
anterior mata dengan lup atau slit lamp bertujuan untuk mengetahui lokasi
luka. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga dapat dilakukan.
Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri untuk mengetahui
tekanan intraokular.1

Diagnosa Banding
Beberapa penyakit yang menjadi diagnosis banding trauma kimia
pada mata, terutama yang disebabkan oleh basa atau alkali antara lain
konjungtivitis, konjugtivitis hemoragik akut, keratokunjugtivitis sicca,
ulkus kornea, dan lain-lain.1
2.7. Penatalaksanaan Trauma Kimia pada Mata
Penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya
trauma ataupun jenis trauma itu sendiri. Namun demikian ada empat tujuan utama
dalam mengatasi kasus trauma okular adalah memperbaiki penglihatan, mencegah
terjadinya infeksi, mempertahankan struktur dan anatomi mata, mencegah sekuele
jangka panjang. Trauma kimia merupakan satu-satunya jenis trauma yang tidak
membutuhkan anamnesa dan pemeriksaan secara teliti. Tatalaksana trauma kimia
mencakup:8

Penatalaksanaan Emergency
1. Irigasi merupakan hal yang krusial untuk meminimalkan durasi kontak mata
dengan bahan kimia dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva
yang harus dilakukan sesegera mungkin. Larutan normal saline (atau yang
setara) harus digunakan untuk mengirigasi mata selama 15-30 menit samapi
pH mata menjadi normal (7,3). Pada trauma basa hendaknya dilakukan
irigasi lebih lama, paling sedikit 2000 ml dalam 30 menit. Makin lama makin
baik. Jika perlu dapat diberikan anastesi topikal, larutan natrium bikarbonat
3%, dan antibiotik. Irigasi dalam waktu yang lama lebih baik menggunakan
irigasi dengan kontak lensa (lensa yang terhubung dengan sebuah kanul
untuk mengirigasi mata dengan aliran yang konstan.8
2. Double eversi pada kelopak mata dilakukan untuk memindahkan material
yang terdapat pada bola mata. Selain itu tindakan ini dapat menghindarkan
terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi, dan
konjungtiva forniks.8
3. Debridemen pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga
dapat terjadi re-epitelisasi pada kornea.8
Selanjutnya diberikan bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek dan
artificial tear (air mata buatan).
Gambar 6 Irigasi dan Pembebatan pada Mata8

Gambar 8 Irigasi dengan Lensa Morgan6,7


Gambar 7 Irigasi dengan Kanul6

Penatalaksanaan Medikamentosa
Trauma kimia ringan (derajat 1 dan 2) dapat diterapi dengan pemberian
obat-obatan seperti steroid topikal, sikloplegik, dan antibiotik profilaksis selama 7
hari. Sedangkan pada trauma kimia berat, pemberian obat-obatan bertujuan untuk
mengurangi inflamasi, membantu regenerasi epitel dan mencegah terjadinya ulkus
kornea.8
1. Steroid bertujuan untuk mengurangi inflamasi dan infiltrasi neutofil. Namun
pemberian steroid dapat menghambat penyembuhan stroma dengan
menurunkan sintesis kolagen dan menghambat migrasi fibroblas. Untuk itu
steroid hanya diberikan secara inisial dan di tappering off setelah 7-10 hari.
Dexametason 0,1% ED dan Prednisolon 0,1% ED diberikan setiap 2 jam.
Bila diperlukan dapat diberikan Prednisolon IV 50-200 mg
2. Sikloplegik untuk mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan sinekia
posterior. Atropin 1% ED atau Scopolamin 0,25% diberikan 2 kali sehari.
3. Asam askorbat mengembalikan keadaan jaringan scorbutik dan
meningkatkan penyembuhan luka dengan membantu pembentukan kolagen
matur oleh fibroblas kornea. Natrium askorbat 10% topikal diberikan setiap
2 jam. Untuk dosis sitemik dapat diberikan sampai dosis 2 gr.
4. Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor untuk menurunkan tekanan
intra okular dan mengurangi resiko terjadinya glaukoma sekunder.
Diberikan secara oral asetazolamid (diamox) 500 mg.
5. Antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis.
Tetrasiklin efektif untuk menghambat kolagenase, menghambat aktifitas
netrofil dan mengurangi pembentukan ulkus. Dapat diberikan bersamaan
antara topikal dan sistemik (doksisiklin 100 mg).
6. Asam hyaluronik untuk membantu proses re-epitelisasi kornea dan
menstabilkan barier fisiologis. Asam Sitrat menghambat aktivitas netrofil
dan mengurangi respon inflamasi. Natrium sitrat 10% topikal diberikan
setiap 2 jam selama 10 hari. Tujuannya untuk mengeliminasi fagosit fase
kedua yang terjadi 7 hari setelah trauma.

Pembedahan
1. Segera. Pembedahan yang sifatnya segera dibutuhkan untuk revaskularisasi
limbus, mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan
forniks. Prosedur berikut dapat digunakan untuk pembedahan:8
 Pengembangan kapsul Tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk
mengembalikan vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan
ulkus kornea.
 Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau
dar donor (allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea
menjadi normal.
 Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan
fibrosis
2. Lanjut. Penanganan bedah pada tahap lanjut dapat menggunakan metode
berikut:8
 Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands
dan simblefaron.
 Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva.
 Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata.
 Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan. Makin lama makin baik, hal
ini untuk memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi.
 Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat
dikarenakan hasil dari graft konvensional sangat buruk.

2.8. Komplikasi Trauma Kimia pada Mata


Komplikasi dari trauma mata bergantung pada berat ringannya trauma,
dan jenis trauma yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma
basa pada mata antara lain:1
1. Simblefaron (Gambar 9), adalah gejala gerak mata terganggu,
diplopia, lagoftalmus, sehingga kornea dan penglihatan terganggu,
2. Kornea keruh, edema, neovaskuler,
3. Sindroma mata kering,
4. Katarak traumatik, trauma basa pada permukaan mata sering
menyebabkan katarak. Komponen basa yang mengenai mata
menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan menurunkan kadar
glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi akut ataupun perlahan-
lahan. Trauma kimia asam sukar masuk ke bagian dalam mata maka
jarang terjadi katarak traumatik.
5. Glaukoma sudut tertutup, atau
6. Entropion dan ptisis bulbi (Gambar 10).

Gambar 9. Simblefaron.1

Gambar 10. Ptisis bulbi.1


2.9. Prognosis Trauma Kimia pada Mata
Prognosis trauma kimia pada mata sangat ditentukan oleh bahan penyebab
trauma tersebut. Derajat iskemik pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva
merupakan salah satu indikator keparahan trauma dan prognosis penyembuhan.
Iskemik yang paling luas pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva
memberikan prognosa yang buruk. Bentuk paling berat pada trauma kimia
ditunjukkan dengan gambaran “cooked fish eye” dimana prognosisnya adalah yang
paling buruk, dapat terjadi kebutaan.6
Trauma kimia sedang samapai berat pada konjungtiva bulbi dan palpebra
dapat menyebabkan simblefaron (adhesi anatara palpebra dan konjungtiva bulbi).
Reaksi inflamasi pada kamera okuli anterior dapat menyebabkan terjadinya
glaukoma sekunder.6

Gambar 11 Cooked Fish Eye Appearance6


BAB III
KESIMPULAN

Trauma kimia pada mata dapat berasal dari bahan yang bersifat asam dengan
pH < 7 atau bahan yang bersifat basa dengan pH > 7. Trauma basa biasanya
memberikan dampak yang lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa
memiliki dua sifat, yaitu hidrofilik dan lipolifik, sehingga zat basa dapat masuk secara
cepat untuk penetrasi ke sel membran dan masuk ke sudut mata depan, bahkan sampai
retina. Sementara trauma asam akan menimbulkan koagulasi protein permukaan yang
merupakan suatu pelindung, sehingga zat asam tidak dapat penetrasi lebih dalam
lagi. Gejala utama yang muncul pada trauma mata adalah epifora, blefarospasme, dan
nyeri yang hebat. Trauma kimia merupakan satu-satunya jenis trauma yang tidak
memerlukan anamnesa dan pemeriksaan yang lengkap.
Penatalaksanaan yang terpenting pada trauma kimia adalah irigasi mata dengan
segera sampai pH mata kembali normal dan diikuti dengan pemberian obat terutama
antibiotik, multivitamin, dan antiglaukoma. Selain itu dilakukan juga upaya promotif
dan preventif kepada pasien. Menurut data statistik, 90% kasus trauma dapat dicegah
apabila dalam menjalankan suatu pekerjaan menggunakan pelindung yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2008.
2. Randleman, J.B. Bansal, A. S. Burns Chemical. eMedicine Journal. 2009.
3. Center of Disease contol and prevention. Work related eye injuries. Diakses
dari http://www.cdc.gov/feature/dsworksplaceeye/
4. American College of Emergency Phycisians. Management of Ocular
Complaints. Diakses dari .http://www.acep.org/content.aspx?id=26712

5. Eye Teachers of American Foundation. Eye Trauma. Diakses dari


http://www.ophthobook.com/videos/eye-trauma-video

6. Gerhard K. Lang. Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas 2nd. Stuttgart ·


New York. 2006.

7. American Academy of Ophthalmology. Chemical Burn. Diakses dari.


http://www.aao.org/theeyeshaveit/trauma/chemical-burn.cfm

8. Kanski, JJ. Chemical Injuries. Clinical Opthalmology. Edisi keenam.


Philadelphia: Elseiver Limited. 2000.